Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
Home MANHAJ

Ngaji Next Level

Admin UFA by Admin UFA
April 29, 2026
in MANHAJ, TARBIYAH
Reading Time: 32 mins read
0
Ngaji Next Level

Transkrip: https://www.youtube.com/watch?v=paSaW_xIFOE&t=2992s

Pembuka

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ دَلِيلًا رِضْوَانًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

Related Post

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

Ternyata Syaikh –hafidzohulloh- Bisa Salah Vonis !!

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 10)? – Tanggapan untuk Al-Ustadz bag 2

Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah Subhānahu wa Ta’ālā.


Mukadimah: Mengapa Metode Ini Penting untuk Orang Awam

InsyaAllah pada kesempatan kali ini kita akan membahas suatu pembahasan yang dikenal di kalangan para ulama dengan:

اَلْمَنْهَجِيَّةُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ

Al-manhajiyyah fī ṭalab al-‘ilm — yaitu tentang metode dalam menuntut ilmu.

Sebenarnya pembahasan ini makruf di kalangan para ulama, tetapi biasanya dibahas untuk para penuntut ilmu yang benar-benar menuntut ilmu — bukan untuk orang awam. Yaitu mereka harus belajar bahasa Arab, kemudian belajar ini, belajar itu, tahapan pertama harus belajar bahasa Arab. Sementara antum — tahapan pertama sudah gugur.

Oleh karenanya kita ingin membahas manhajiyyah — metode — untuk orang awam. Para ustaz punya metode sendiri, orang awam juga punya metode sendiri. Kita berusaha men-taqrīb — mendekatkan — bagaimana metode menuntut ilmu bagi orang awam.

Adapun kalau metode menuntut ilmu bagi penuntut ilmu sejati, itu mudah untuk kita jelaskan karena mereka siap. Rata-rata mereka sudah bisa bahasa Arab, sudah punya ilmu alat — ilmu muṣṭalaḥ misalnya. Tapi ketika seperti saya sekarang tugasnya menyampaikan metode menuntut ilmu bagi orang awam — ini agak berat. Kita harus cari metode yang pas, silabus yang pas untuk orang awam.

Karena yang wajib menuntut ilmu bukan cuma para ustaz — orang awam juga wajib menuntut ilmu.


Problematika yang Sudah Ada Sejak Dahulu

Dahulu ada seorang ulama bernama Burhānuddīn Al-Zarnūjī — salah seorang dari mazhab Hanafi yang hidup sekitar abad ke-6 Hijriah. Dia pernah menyampaikan problematika yang dihadapi oleh para penuntut ilmu. Mereka sudah berusaha bersungguh-sungguh, waktu yang panjang, namun hasilnya minim. Saya bacakan, beliau berkata:

“Tatkala aku melihat banyak dari para penuntut ilmu di zamanku yang mereka bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan semangat, tetapi tidak sampai pada tujuan — مَنَافِعَ الْعِلْمِ وَثَمَرَتَهُ مِنَ الْعَمَلِ بِهِ وَنَشْرِهِ — bahkan mereka tidak berhasil mendapatkan buah dari menuntut ilmu yaitu berupa amal dan dakwah. Mereka terhalangi dari buah menuntut ilmu.

Lima — kenapa? Karena mereka salah dalam metode menuntut ilmu dan mereka meninggalkan syarat-syarat menuntut ilmu. Dan siapa yang salah dalam menempuh jalan, dia akan tersesat, maka dia tidak akan meraih tujuan sedikit atau banyak. Maka aku berusaha untuk menjelaskan kepada mereka bagaimana manhajiyyah atau metode atau urutan dalam menuntut ilmu yang saya dapati dalam buku-buku para ulama.”1

Jadi apa yang kita rasakan sekarang juga telah dirasakan oleh para ulama terdahulu. Tapi beliau berbicara dalam kondisi pembicaraan tentang para penuntut ilmu yang benar-benar mau jadi ustaz atau menjadi pendakwah.

Namun yang dihadapi oleh para penuntut ilmu yang sesungguhnya juga dialami oleh orang-orang awam. Banyak orang awam tidak berhasil mendapatkan buah ilmu. Di antara mereka ada yang menuntut ilmu namun tidak melaksanakannya. Di antara mereka menuntut ilmu malah semakin duniawi. Di antara mereka menuntut ilmu hanya perhatian kepada casing, tidak perhatian terhadap hakikat dari ilmu itu sendiri. Dan itu sekarang adalah fenomena yang terjadi di tengah-tengah orang-orang yang mengaji.

Inilah yang mau kita sebutkan — problematikanya apa, dan bagaimana solusi yang mungkin bisa kita tawarkan.


Bagian I: Kelezatan Ilmu — Lażżah Ma’rifiyyah

Sebelum masuk ke problematika, perlu kita pahami tentang kelezatan ilmu — karena ini menjadi kunci mengapa seseorang seharusnya tidak terputus dalam menuntut ilmu.

Al-Ilbīrī — salah seorang ulama yang berada di Andalus, hidup di abad kelima — ketika menasihati seseorang, beliau berkata:

“Seandainya kau benar-benar merasakan bagaimana manisnya ilmu, maka kau akan mendahulukan menuntut ilmu dan kau akan bersungguh-sungguh. Maka kalau kau benar-benar menuntut ilmu, hawa nafsu tidak akan memalingkan engkau dari lezatnya ilmu dan kau tidak akan terfitnah dengan dunia. Bahkan indahnya pemandangan tidak akan membuatmu lalai karena kau sibuk dengan suatu kelezatan yang melebihi itu semua.”2

Ibnu al-Jawzī dalam kitabnya Ṣayd al-Khāṭir berkata:

“Demi Allah, aku tidak mengetahui ada orang yang hidup dengan tinggi kedudukannya dan mencapai kelezatan yang tidak dicapai oleh selainnya — seperti para ulama yang ikhlas. Mereka telah merasakan kelezatan yang luar biasa yang tidak diraih oleh orang-orang lain.”3

Ibnu Taimiyah pernah berkata dalam Majmū’ al-Fatāwā: “Tidak diragukan bahwasanya kelezatan ilmu adalah kelezatan yang paling agung.”4

Ibnu al-Qayyim pernah berkata: “Adapun orang yang gandrung dengan ilmu, candu dengan ilmu — maka dia lebih candu, lebih sibuk dari semua kecanduan. Dan banyak di antara pecandu ilmu tidak tersibukkan dengan keindahan pemandangan.” Kemudian beliau berkata: “Seandainya ilmu itu bisa difisikkan — dijadikan konkrit dari abstrak menjadi konkrit — maka dia akan menjadi fisik yang terindah yang ada.”5


Dalil Kuat: Nabi Musa Mencari Nabi Khidir

Di antara dalil yang kuat tentang kelezatan ilmu adalah kisah Nabi Musa ‘alaihissalām ketika mencari Nabi Khidir.

Suatu hari Nabi Musa ‘alaihissalām berkhotbah dengan khotbah yang indah sampai masuk ke dalam hati-hati Bani Israil. Mereka terpukau. Maka ada yang bertanya: “Wahai Musa, adakah yang lebih berilmu dari engkau?” Maka Musa — bukan karena sombong, tapi sebatas ilmu yang dia miliki — menjawab: “Tidak ada.”

مَا سَمَّاهُ اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ فَأَدَّبَهُ اللهُ

Maka Allah pun menegur Nabi Musa karena dia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Harusnya Nabi Musa menjawab: “Allāhu a’lam.” Maka Allah kabarkan: “Ada yang lebih berilmu dari engkau — yaitu Khidir.”

Maka Nabi Musa pun semangat untuk mencari Khidir. Padahal para ulama menjelaskan: ilmu yang dimiliki Nabi Musa sudah cukup. Dia mau masuk surga sudah cukup. Dia sudah termasuk ulul ‘azmi minar rusul — lima nabi terbaik: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad ﷺ. Nabi Khidir dengan kesepakatan para ulama lebih rendah kedudukannya daripada Nabi Musa. Dan Allah telah memberikan Nabi Musa ilmu yang cukup untuk menjadi orang saleh dan mengatur Bani Israil.

Tetapi ada ilmu lain yang sebenarnya tidak begitu dia butuhkan. Namun begitu Nabi Musa tahu ada orang yang punya ilmu — dia ingin memiliki ilmu itu. Allah abadikan dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Ketika Musa berkata kepada pembantunya — yaitu Yūsya’ bin Nūn yang kelak akan menjadi nabi juga: ‘Aku akan terus berjalan mencari Khidir sampai aku bertemu dengan tempat pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan meskipun puluhan tahun — yang penting bertemu dengan Khidir.'”6

Kenapa? Karena ada kelezatan. Namanya lażżah ma’rifiyyah — kelezatan ilmu.

Dan itu Allah berikan pada masing-masing bidang ilmu. Bahkan ilmu dunia: orang yang bergelut dengan fisika — dia senang: “Oh, ternyata ada atom. Dalam atom ternyata ada yang lebih kecil lagi.” Dia kelezatan. Sampai dia masuk lab berhari-hari, penasaran, penasaran, penasaran — sampai istrinya dia tinggal, anaknya dia tinggal — gara-gara ada kelezatan yang membuatnya senang. Itu ilmu dunia. Bagaimana dengan ilmu agama? Kelezatannya lebih dari itu semua.

Kelezatan itu masalah hati. Ada kelezatan fisik: makan, minum — tapi ada kelezatan hati. Di antara kelezatan hati adalah kelezatan ilmu. Dan itu Allah sudah berikan lezat dalam beribadah — karena menuntut ilmu adalah ibadah.

Maka seharusnya orang kalau sudah menuntut ilmu dengan benar — niatnya sudah benar, jalannya sudah benar — harusnya dia merasakan kelezatan. Maka harusnya dia tidak terputus. Kalau pun futur, dia akan kembali lagi. Tapi ada yang futur terus-terusan, tidak balik-balik lagi. Ini menunjukkan ada yang salah.

Sebagaimana dikatakan Al-Zarnūjī: “Saya dapati di zaman saya banyak orang semangat menuntut ilmu, namun tidak sampai pada ilmu yang dia harapkan — mereka terhalangi dari buah ilmu tersebut.” Fenomena yang beliau lihat di zaman tersebut juga kita rasakan di zaman sekarang.


Bagian II: Problematika dalam Menuntut Ilmu

Problematika 1: Tidak Kontinyu dalam Mengikuti Kajian

Tidak kontinyu — sehingga mengaji ramai-ramai putus di tengah jalan. Kajian pertama ramai, kemudian berkurang, berkurang, berkurang, akhirnya tinggal ustaz dan dua orang.

Saya kemarin mengunjungi satu daerah — ada kawan yang bahkan sudah bergelar doktor. Saya tanya: “Berapa yang hadir?” Dua atau tiga orang. Subhanallah. Dia sudah punya ilmu yang tinggi tapi tidak ada yang mau hadir. Tapi kalau ada kajian tertentu dengan ustaz datang dari luar — ramai. Ada pembahasan tentang cinta — ramai. Padahal para ulama menjelaskan ilmu itu ada kelezatan — lażżah ma’rifiyyah — yang seharusnya membuat seorang semangat dan tidak terputus. Ini di antara problematika pertama.


Problematika 2: Sudah Lama Mengaji tapi Ilmu Tidak Runut

Bertahun-tahun mengaji tapi hanya global, tematik, dan tidak runut.

Sebenarnya tematik bukan celaan. Tematik itu bagus — tematik tentang akidah, tentang adab, tentang fikih, tidak apa-apa. Itu memberikan pengetahuan global. Meskipun tidak runut, kita ada pengetahuan global. Meskipun kita mengaji satu jam dan kesimpulannya cuma satu menit — tidak ada masalah. Kita ada ilmu global. Ini dalam rangka membentuk pola berpikir. Orang kuliah misalnya di teknik kimia — kuliah lama, yang dia gunakan untuk kerja cuma sedikit dari ilmunya, tapi cara berpikir dia dapatkan ketika kuliah.

Tapi untuk runut ilmu — tematik tidak cukup. Yang jadi masalah: tematik pun dia pilih-pilih. Yang tentang cinta saja yang dia pilih. Adapun tematik yang menambah wawasan — dia malas.

Sehingga bertahun-tahun mengaji, ketika ditanya misalnya tentang akidah yang sederhana:

“Apa itu tauhid rububiyyah?” — Tidak tahu. “Apa itu ulūhiyyah?” — Tidak tahu. “Apa itu Asmā’ wa al-Ṣifāt?” — Tidak ngerti. “Apa itu syirik?” — Tidak ngerti.

Padahal perkara yang sangat sederhana, dasar dalam belajar ilmu akidah. Sudah mengaji lama, sudah penampilan oke, sudah keren, sudah macam-macam, bahkan sudah dekat dengan ustaz — tapi ditanya hal dasar tidak tahu. Ini berarti salah metode.


Problematika 3: Mudah Terkena Syubhat

Kita tidak bisa pungkiri zaman sekarang syubhat menyambar-nyambar dan datang kapan saja. Kalau zaman dahulu mudah — seorang tidak ingin dengar syubhat, tinggal menjauh. Tapi zaman sekarang syubhat masuk lewat gadget — dan orang kepo ingin mengklik. Terkadang dia tidak mengklik pun muncul di berandanya.

Dengan keterbatasan ilmunya — ngajinya tidak runut — maka begitu terkena syubhat dia mudah terpengaruh. Yang tadinya membela tauhid, akhirnya terpengaruh malah membela-bela kesyirikan misalnya. Yang tadinya sudah yakin bahwasanya itu bidah, itu syirik — akhirnya dia ikut-ikutan. Kenapa? Karena dia tidak punya landasan ilmu yang kuat dan runut.


Problematika 4: Tidak Bisa Membedakan Mana yang Uṣūl, Mana yang Furū’

Menganggap pembahasan tentang sifat-sifat Allah tidak perlu — padahal ini masalah uṣūl: tauhid ulūhiyyah, Asmā’ wa al-Ṣifāt, tauhid rubūbiyyah — ini uṣūl, rukun iman. Harusnya kalau mau habiskan umurmu, habiskan umurmu dalam perkara-perkara yang uṣūl.

Sebaliknya, pembahasan yang furū’ terlalu banyak. Misalnya bahas fikih terlalu panjang dan berlebihan, sementara akidah dia kurang. Beda kalau yang spesialis — tapi kita bicara orang awam secara umum. Orang awam harus punya takaran bahwasanya ilmu uṣūl itu penting.

Misalnya: sebagian orang terlalu dalam membahas masalah fikih keluarga terus — fikih cinta, fikih rindu, fikih keluarga terus — tapi akidah tidak pernah dipelajari. Ini salah dalam prioritas.

Atau seorang yang sibuk belajar adab, belajar adab, belajar adab — tapi ternyata akidah tidak pernah dipelajari, fikih tidak tahu. Adab memang perlu, tapi bukan berarti adab kemudian mengambil waktu yang banyak sehingga lupa bahwasanya kita perlu belajar fikih ibadah, fikih muamalah, fikih akidah.


Problematika 5: Menganggap Khilaf Akidah adalah Perkara Biasa

Ini muncul dari orang-orang yang tidak mengerti akidah. Sehingga ketika misalnya terjadi perang antara Syiah dengan Yahudi atau dengan nonmuslim — ada yang menganggap: “Tidak masalah, masalah apa sih masalah Syiah? Sesama muslim.” Sehingga menganggap khilaf akidah antara Sunnah dengan Syiah adalah perkara sepele seperti masalah qunut Subuh.

Kenapa bisa seperti itu? Karena landasan akidah tidak kuat — sehingga tidak tahu bahwasanya ini perkara besar dalam masalah Islam. Mengkafirkan para sahabat, menuduh Aisyah berzina, mengatakan Al-Qur’an tidak sempurna, tafsiran yang ngacau, masalah Imamah, masalah Imam Mahdi — banyak masalah akidah Syiah yang tidak akan nyambung dengan akidah Islam.

Ini ibarat ketika terjadi perang antara Romawi dengan Persia di zaman dahulu. Ketika itu kaum muslimin senang ketika Romawi mengalahkan Persia — meskipun keduanya nonmuslim. Kenapa? Karena Romawi Nasrani lebih dekat kepada Islam daripada Majusi. Allah abadikan dalam Al-Qur’an:

الم ﴿١﴾ غُلِبَتِ الرُّومُ ﴿٢﴾ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ

“Romawi telah dikalahkan di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang kembali.”7

Ketika itu kaum mukminin senang. Artinya: berpihak itu ada. Tapi jangan lupa — ini tetap Nasrani. Jangan karena Nasrani menang, lalu kita katakan: “Ah, khilaf biasa saja.” Tidak. Masalah dukung urusan belakangan. Tapi kau harus mengerti prinsip akidah Islam dan komparasi dengan akidah Syiah — kau akan tahu perbedaannya.

Maka ketika orang membela secara berlebihan sehingga akhirnya menganggap khilaf akidah perkara biasa — sampai ada yang meninggal dibilang mati syahid. Ini menunjukkan bahwasanya ada kesalahan dalam belajar — porsi untuk akidah kurang.

Padahal ketika kita bicara perbedaan Sunnah dan Syiah — ini bukan akidah yang sulit-sulit. Ini akidah dasar: bahwasanya akidah kita dibangun di atas Al-Qur’an dan sunnah. Yang menyampaikan Al-Qur’an adalah para sahabat. Yang menyampaikan sunnah kepada kita adalah para sahabat. Dan sunnah itu sunnah Nabi ﷺ. Syiah berbeda: Al-Qur’an — sahabat dianggap kafir. Sunnah — bukan hanya sunnah Nabi Muhammad saja tapi ada sunnah para imam. Sehingga hadis bukan cuma hadis Rasulullah tapi hadis para imam. Ini sudah berbeda. Tidak akan nyambung.


Problematika 6: Lebih Perhatian kepada Casing daripada Materi

Casing maksudnya: kajian tempatnya keren, materinya tidak begitu diperhatikan. Yang penting tempatnya keren, suasananya indah, macam-macam.

Itu tidak apa-apa — itu dukungan. Bisa membantu orang awam tertarik. Tapi bukan itu yang paling penting. Jangan itu yang menjadi pusat perhatian. Yang penting isinya — itu yang lebih utama.

Jadi jangan sampai kita terlalu fokus pada casing sehingga kita lupa dengan konten. Ketika sibuk dengan casing — akhirnya yang dipikirkan: bagaimana biar ramai, bagaimana keren, bagaimana lampu sorot. Yang penting ramai-ramai — isinya apa? Kosong. Maka casing oke, tapi konten lebih penting. Lebih penting.


Problematika 7: Semakin Mengaji tapi Semakin Duniawi

Ini banyak terjadi terutama di Jakarta.

Maunya mengaji dengan yang keren-keren saja. “Oh, kenapa mengaji di situ? Ada artis yang ikut. Oh, di hotel bintang tujuh. Oh, semangat.”

Padahal Nabi ﷺ — disebutkan oleh Al-Rāzī dalam Arba’īn — adalah orang yang komitmen dalam zuhud. Beliau selama hidupnya tidak pernah tidak zuhud. Selalu zuhud. Dan beliau kalau ketemu orang miskin semakin tawadu. Berbeda ketika ketemu orang kaya — biasa-biasa saja.

Coba kita bandingkan diri kita. Kalau ketemu orang miskin semakin perhatian, atau justru ketemu orang kaya baru terpukau, terpesona, seakan-akan rendah di hadapan orang-orang yang berduit?

Ibnu Hajar rahimahullāh ketika membahas tentang bab sombong dalam Kitābul Adab kemudian membahas hadis:

أَنَّ أَمَةً مِنْ إِمَاءِ الْمَدِينَةِ أَخَذَتْ بِيَدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَانْطَلَقَتْ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ

“Sungguh ada seorang budak perempuan dari budak-budak yang ada di kota Madinah mengambil tangan Nabi ﷺ kemudian membawa Nabi ke mana pun yang dia sukai.”

Dalam riwayat, kata Nabi: “Kau bawa saya ke mana saja dari jalan-jalan Madinah, terserah engkau.”8

Ibnu Hajar mengatakan: inilah menunjukkan puncak tawadu Nabi. Kenapa? Karena ini:

  • Seorang budak, bukan seorang yang merdeka.
  • Budak wanita, bukan budak lelaki.
  • Budak mana pun — amatun min imā’il madīnah.

Rasulullah ﷺ malah semakin perhatian pada budak-budak ini. Justru Nabi ﷺ ketika ketemu orang-orang susah malah semakin perhatian — bukan malah keren-kerenan.

Kalau kita malah perhatian kepada yang keren-keren — ada sesuatu yang salah. Kalau semakin lama mengaji semakin duniawi, berarti salah mengaji. Kita harus introspeksi: apa benar mengaji seperti ini output-nya begini? Kok semakin duniawi?


Problematika 8: Semakin Mengaji tapi Urusannya Barang-Barang Mewah

Sudah lama mengaji malah bicaranya ini branded, itu branded. Bahkan di masjid pun bicara barang branded.

Saya pernah ditegur seseorang: “Ustaz-ustaz ini bicara zuhud, tapi ustaz ternyata bawa koper bermerek.” Saya bilang: “Lain kali saya hapus mereknya — ternyata barang branded. Dapat hadiah.”

Maksud saya: kalau barang itu perlu dan mahal pun tidak ada masalah. Tapi jangan jadikan itu bahan pembicaraan. Bangga-banggaan merek ini, merek itu — apa gunanya bicara seperti itu di tengah-tengah pengajian? Tujuan pengajian itu mengingatkan akhirat. Semakin mengaji harusnya semakin zuhud.

Bahkan ada yang menggunakan dalil untuk membenarkan kemewahan:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun nikmat Rabbmu, maka sebut-sebutlah.”9

Ini kalau kita baca tafsiran — maksudnya tentang kenabian, tentang nikmat wahyu. Bukan untuk ajang pamer. Apakah Nabi ﷺ tidak mengamalkan ayat itu? Nabi mengamalkannya — tapi bukan dengan bermewah-mewahan.

Bahkan ada yang berkata: “Unta Nabi yang paling laju — berarti harus beli motor Harley 2 miliar.”

Ketika Imam Bukhari membawakan bab tentang bagaimana unta Nabi dikalahkan — beliau membawakan dalam bab tawadu, bukan bab bangga-banggaan. Silakan buka dalam Ṣaḥīḥ Bukhārī dalam Kitābur Riqāq dalam bab tawadu. Ada unta Nabi kalah dari unta orang biasa. Rasulullah ﷺ mengatakan: “Tidaklah suatu duniawi melainkan berhak bagi Allah untuk menjatuhkannya.”10

Unta Nabi itu untuk perang. Makanya ada lomba unta, ada lomba kuda — untuk apa? Untuk perang. Tapi motor 2 miliar untuk apa?

Kalau mau beli, beli silakan — itu urusan masing-masing dan akan dihisab masing-masing. Tapi jangan bilang ini sunnah.


Problematika 9: Dakwah Dijadikan Orientasi Bisnis

Bukannya kita berkorban, kita malah mengorbankan audiens. Jadikan bahwasanya kalau berdakwah — untuk akhirat, bukan untuk dunia.


Problematika 10: Semakin Mengaji Semakin Ingin Tampil

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, yang merasa cukup (qana’ah), yang bersembunyi — yaitu tidak ingin tampil.”11

Orang yang tidak ingin tampil dicintai oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Karena orang yang tidak ingin tampil:

  • Pertama, dia lebih selamat.
  • Kedua, dia lebih ikhlas.
  • Ketiga, dia lebih bisa menjalankan privasinya.

Tapi kalau dia tampilkan, dia jadi pusat perhatian — kesibukan berlebihan sehingga privasinya jadi korban.

Sekarang muncul fenomena: semakin mengaji semakin ingin tampil. Saya sering sampaikan kepada kawan-kawan para da’i: “Jangan cuma pikir diri kita saja. Perhatikan audiens — jangan sampai kita korbankan audiens.”

Saya pernah marah kepada seorang yang membangun villa, kemudian diwawancara: “Akhi, antum bangun villa ini untuk ustaz-ustaz kalau ke sini.” Itu menjadikan dia terkenal — dan rawan untuk riya’. Kita saja yang sudah jadi ustaz susah untuk menghindari riya’. Apalagi yang baru mengaji.

Harusnya kita care sama audiens: “Sudah, kamu nanti insyaAllah saya yang iklankan. Kamu tidak usah tampil — biar lebih ikhlas.” Harusnya begitu. Bukan malah kita suruh dia tampil.

Orang yang tadinya misalnya artis tampil — dia harus berusaha menghilangkan itu semua pelan-pelan sehingga dia tidak lagi hobi popularitas. Popularitas itu bahaya. Bukan sejak awal malah diajarkan popularitas.

Kita saja — ustaz — tidak gampang untuk ikhlas. Tidak gampang. Kalau saya kajian dan yang hadir ribuan orang — ada saja keinginan untuk diketahui. Kalau saya mengisi kajian bersama seorang gubernur atau pejabat — ada keinginan untuk di-shooting agar orang tahu saya dekat dengan pejabat.

Kita lemah. Kita awam. Ustaz pun lemah. Maka potensi yang bisa menimbulkan riya’ harusnya kita jauhi — bukan malah kita buka. Kalau orang baru mengaji malah kita tampil-tampilkan, bagaimana hatinya? Akan mudah terjerumus dalam riya’.

Makanya apa yang disebut dengan riya’:

طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ

Ṭalabul manzilah fī qulūbin nās — mencari kedudukan di hati manusia.12

Menunjukkan amalan agar orang mengakui: “Orang-orang kaya mengaji sama saya, artis-artis mengaji sama saya, pejabat-pejabat mengaji sama saya.” Ini bisa menimpa ustaz — bahkan ustaz yang sering menjelaskan tentang bahaya riya’. Bagaimana dengan orang awam?


Problematika 11: Fanatik pada Satu Guru Saja

Ketika seorang mengaji kepada satu guru saja — akan timbul fanatisme.

Di antara nikmat dari Allah kepada teman-teman di Madinah adalah mereka mengaji kepada banyak syekh — syekh ini, syekh itu, banyak. Sehingga mereka tahu bahwasanya syekh ini tidak sempurna — kekurangannya dilengkapi oleh syekh yang lain. Sehingga mereka sering melihat ada pendapat lain — tidak jadi katak dalam tempurung.

Tapi ketika seorang mengaji kepada satu orang terus — seakan-akan ini yang paling hebat, yang lain kurang hebat. Sehingga akhirnya dia fanatik — disengaja atau tidak disengaja.

Apalagi kalau gurunya memang benar-benar pintar dan karismatik — potensi fanatik semakin besar. Apalagi kalau gurunya men-setting agar dia terlihat karismatik, luar biasa — semakin mudah untuk menjadikan orang fanatik.

Maka masing-masing da’i bertakwa kepada Allah. Jangan mem-branding dirinya agar difanatiki orang. Kita ini siapa? Kita banyak kekurangan. Ilmu juga cetek. Kita mengaji kepada siapa pun yang penting bermanfaat.

Ada contoh: ada pengajian, ketika dia tidak hadir tidak boleh digantikan orang lain — padahal yang menggantikan mungkin setara atau lebih dari dia. Kenapa? Supaya orang hanya dari dia. Ini ustaz men-setting agar difanatisi.

Maka di antara fenomena yang salah: mengaji hanya kepada satu orang sehingga dia seperti katak dalam tempurung, akhirnya timbul fanatisme.


Problematika 12: Mengaji Cari Kenyamanan bukan Kebutuhan

Sebagian orang mengaji karena nyaman — “Ah, mengaji susah. Saya tidak mau. Ini enak sama ustaz ini — pembahasannya nyaman, tenang, yang mudah-mudah, yang ringan-ringan.”

Kita mengaji bukan masalah nyaman. Kita mengaji untuk beribadah kepada Allah. Kita mengaji ilmu yang kita butuhkan.

Di antara bentuk kenyamanan juga: ketika kita membuat sistem pengajian dengan model tertentu — orang tidak mau mengaji kecuali seperti itu. Kalau tidak ada event tertentu, tidak mengaji.

Ini dibahas oleh Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmū’ Fatāwā — ada seseorang yang sudah mendakwahi para pelaku maksiat dengan cara biasa, tidak berhasil. Akhirnya dia punya ide: bikin nasyid, kumpulin orang, nasyid-nasyid islami. Dan hukum nasyid boleh. Dijadikanlah nasyid ini metode dakwah — sebagian orang pun sadar.

Maka ditanyakan kepada Syekh Islam Ibnu Taimiyah: “Apakah metode begini sudah benar?”

Maka jawab Ibnu Taimiyah: meskipun hukum mendengar qasidah-qasidah hukumnya boleh sesekali, tapi ketika dijadikan metode dakwah — ini jadi permasalahan. Ibnu Taimiyah mengatakan: ini cara yang bidah. Yang dihadapi oleh Nabi lebih parah daripada mereka. Orang ini tidak tahu metode Nabi. Nabi dan para sahabat menghadapi orang yang lebih parah, namun mereka bisa bertobat dan menjadi audiens yang sukses dengan metode Nabi dan para sahabat.

Karena kalau kita menggunakan metode tertentu yang bukan dari ajaran salaf, akhirnya audiens mungkin bertobat tapi dia nyaman dengan metode itu saja — itu jadi problem. Dia tidak akan upgrade, bahkan cenderung menjauh dari metode yang benar-benar sesuai dengan yang dianjurkan.

Ini juga berlaku pada Al-Ḥārith Al-Muḥāsibī — seorang ulama zuhud — yang menulis buku berjudul Tawahhum (artinya: Bayangkan). Isinya bagus:

“Bayangkan ketika kau akan mati. Bayangkan ketika datang malaikat maut. Bayangkan ketika datang malaikat Munkar dan Nakir.”

Semua ada dalilnya tapi metodenya: bayangkan. Ternyata gara-gara buku ini, Al-Ḥārith Al-Muḥāsibī ditahdīr — diperingatkan — oleh Imam Ahmad dan Abu Zur’ah Al-Rāzī.

Kenapa? Kata Abu Zur’ah Al-Rāzī: “Buku ini memang bermanfaat. Tapi para ulama tidak pernah menulis dengan metode seperti itu. Cukuplah Al-Qur’an dan sunnah. Kalau tidak bisa memberi pelajaran bagimu, maka ini tidak perlu.”

Di antara efeknya: muncul audiens yang hanya nyaman dengan metode tertentu. Sehingga dia hanya mau mengaji kalau enjoy — kalau jalan-jalan, kalau kuliner. Kalau tidak seperti itu, tidak mengaji.


Problematika 13: Adab yang Parsial, Bukan Totalitas

Benar bahwasanya belajar adab perlu. “Pelajarilah adab sebelum belajar ilmu.” Adab bisa dipelajari secara khusus sebelum belajar ilmu, atau sambil belajar ilmu. Tapi kalau hanya berkutat pada adab bertahun-tahun sementara ilmu yang lain tidak dipelajari — itu salah.

Dahulu para ulama ketika belajar kepada Imam Malik — mereka belajar adab sekaligus. Seperti diriwayatkan:

كَانَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُ يَرْحَلُونَ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَيَرَوْنَ هَدْيَهُ وَيَتَشَبَّهُونَ بِهِ

“Dahulu murid-muridnya Ibnu Mas’ud bersafar untuk bertemu dengan Umar — sehingga mereka belajar adab dari Umar.”13

Bukan belajar kitab adab, tapi melihat langsung bagaimana perilaku Umar. Karena ini orang yang dijamin masuk surga. Contoh belajar adab terkadang bukan berupa tulisan atau ceramah, tapi melihat langsung bagaimana praktik orang tersebut.

Demikian juga Imam Malik bin Anas berkata: “Ibuku memakaikan aku sorban kemudian menyuruhku mengaji kepada Rabī’ah guruku. Dan ibuku berkata: ‘Wahai anakku, datanglah ke majelis Malik — pelajarilah adabnya sebelum kau pelajari hadisnya‘.”14

Jadi cara belajar adab banyak. Boleh belajar kitab adab khusus baru kemudian lanjut yang lain — atau sambil belajar kitab adab sambil belajar yang lain.

Seperti kita mengaji kepada Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad — beliau tidak mengajar kitab adab, beliau mengajar kitab hadis. Tapi kita bisa belajar adab dari tingkah laku beliau — bagaimana ketika beliau menjawab pertanyaan, bagaimana jawaban-jawaban beliau.

Masalah terjadi ketika seorang hanya belajar adab pada satu poin tertentu sehingga yang lain tidak dia pelajari. Bahkan mengesankan adab lebih penting daripada akidah — ini sudah salah.

Adab itu mukadimah — bukan berarti mukadimah lebih penting daripada inti. Kau belajar mukadimah jangan mukadimah melulu. Belajar inti, pelajari pasal-pasalnya.

Dinukil oleh Al-Zarnūjī — dikatakan kepada Muhammad bin Ḥasan Al-Syaibānī (salah satu murid Imam Abu Hanifah):

لِمَ لَا تُصَنِّفُ كِتَابًا فِي الزُّهْدِ؟

“Kenapa kau tidak menulis buku tentang zuhud?”

Kata dia:

قَدْ صَنَّفْتُ كِتَابًا فِي الْبُيُوعِ

“Saya telah menulis tentang fikih jual beli.”

Maksudnya Muhammad bin Ḥasan Al-Syaibānī ingin menjelaskan bahwasanya adab atau zuhud bukan cuma dalam kehidupan sehari-hari tapi dalam muamalah juga butuh zuhud, juga butuh adab.15 Percuma kita belajar adab tapi ketika muamalah ngacau, tidak mengikuti aturan syariat.

Yang terjadi: orang hanya beradab kepada gurunya, tapi tidak beradab kepada guru yang lain. Dia beradab dalam majelis ilmu, tapi tidak beradab kepada orang tuanya. Bahkan sampai ada orang di pengajian yang malah membantah orang tuanya: “Belum ada izin dari ustaz.” Ini gimana belajar adab?

Atau adab dalam pengajian tapi muamalah kacau — utang tidak dibayar, nomor HP ganti.

Adab itu harus totalitas, bukan parsial. Dan jangan mengeksploitasi dalil agar orang berlebihan kepada kita. Kita lihat ulama-ulama kita — Syekh ‘Abdur Razzāq, Syekh ‘Abdul Muhsin — tidak suka kalau diagung-agungkan. Itu yang ilmunya luar biasa, takwanya luar biasa. Kemudian datang seorang yang biasa-biasa lalu ingin diperlakukan seperti itu — tidak pas.

Jangan bawa hadis-hadis tentang para ulama kemudian pengagungan kepada Ibnu ‘Abbās dijadikan seperti pengagungan kepadamu. Kita ini siapa?


Bagian III: Solusi — Metode yang Tepat

Solusi 1: Memetakan Ilmu Berdasarkan Hukumnya

Di antara solusi adalah memetakan ilmu dari sisi:

  • Farḍu ‘ain — wajib bagi setiap individu
  • Farḍu kifāyah — wajib bagi sebagian
  • Sunah — dianjurkan tapi tidak wajib

Apa itu Ilmu Farḍu ‘Ain?

Secara umum dan mudahnya: semua amal yang mau kita kerjakan, harus di atas ilmu. Harus di atas ilmu.

Di antara amal yang mau kita kerjakan:

A. Amalan Hati:

Harus belajar rukun iman yang enam. Harus belajar. Tidak harus buku tebal-tebal — belajar yang tipis-tipis seperti syarahnya Syekh ‘Utsaimīn: Syarḥ Uṣūlil Īmān — sederhana. Ini wajib kita tahu secara sederhana: malaikat itu macam-macamnya apa, iman bil yaumil ākhir maksudnya bagaimana, iman kepada Allah maksudnya sederhana.

Buku Syarḥ Uṣūlil Īmān Syekh ‘Utsaimīn yang tipis sudah cukup — sudah melebihi kadar wajib. Kecuali ingin lebih mendalam — silakan.

B. Amalan Tubuh — Ibadah:

Contoh: salat. Antum mau salat tiap hari — antum harus belajar fikih salat. Tidak harus detail-detail. Secara umum percaya kepada seorang ustaz yang menyebutkan dalil — sudah cukup untuk ḥadd al-adnā (minimal). Yang penting: waktu masuk dan akhir salat, lima waktu seperti apa, rukunnya apa, bedanya rukun dengan wajib, bedanya wajib dengan sunnah, makruh salat, yang membatalkan salat. Harus mengerti — karena itu keseharian.

Contoh: zakat. Ketika ingin bayar zakat — harus belajar. Ada zakat harta, zakat fitrah, zakat perdagangan. Kalau kamu berdagang — harus belajar zakat perdagangan. Tidak ada alasan tidak tahu. Wajib baginya karena akan dia lakukan.

C. Amalan Tubuh — Muamalah:

Contoh: nikah. Mau menikah — harus belajar fikih nikah. Syarat-syaratnya, rukunnya, hak istri, hak suami. Bahkan di Arab Saudi diadakan daurah untuk calon suami dan calon istri — karena itu ilmu yang terkadang terlupakan. Semangat-semangat menikah tapi tidak belajar.

Apalagi poligami — hanya semangat doang. Punya ilmu saja tidak berani, apalagi tidak punya ilmu lalu semangat — akhirnya kacau, tidak adil, terjerumus dalam neraka. Maka sebagian ulama mengatakan poligami hukumnya makruh — karena mengantarkan dirinya pada ketidakadilan. Kalau tidak belajar, bagaimana dia mau adil?

Contoh: cerai. Ketika mau menceraikan — harus belajar fikih talak. Kalau tidak, dia akan terjerumus dalam keharaman. Begitu emosi: “Cerai! Talak tiga haid!” Padahal wanita haid tidak boleh dicerai. Talak pada wanita yang haid disebut talak bid’ah — haram hukumnya, dosa. Kemudian harus hitung masa idah. Talak satu, talak dua, talak bain, rujuk — ini semua harus dipelajari.

Mungkin terjadi pada orang saleh sekalipun: Zubayr bin ‘Awwām menceraikan Asmā’ binti Abi Bakar — sama-sama saleh dan salehah. Perceraian tidak harus berarti salah satunya buruk. Tapi harus paham hukumnya.

Contoh: bank syariah. Ketika mau bermuamalah dengan bank syariah — harus belajar: ini benar syar’i atau tidak? Karena ada yang syar’i, ada yang tidak syar’i — meskipun atas nama bank syariah. Ada yang datang kepada saya: “Ustaz, saya pinjam 500 juta di bank syariah suruh bayar 700 juta. Prosesnya? Tinggal terima uang, suruh bayar 700.” Ya itu riba. Beda kalau banknya yang memegang proyek kemudian menjual kepada kita — itu lain cerita. Tapi kalau hanya terima uang suruh bayar lebih — itu riba murni.

Jadi secara sederhana: apa yang akan kita lakukan — baik amalan hati maupun amalan jawarih — apa yang akan kita geluti, hukumnya wajib dipelajari. Selain itu — tidak wajib.


Farḍu Kifāyah

Banyak ilmu-ilmu yang dipelajari oleh para ustaz: ilmu uṣūl fikih, ilmu muṣṭalaḥ hadis, dan banyak lagi. Ini ilmu-ilmu yang dipelajari oleh para penuntut ilmu sejati. Antum sejati juga — cuma sejati tingkat KW.


Sunnah

Di luar daripada ini — kalau kita ingin ada kelezatan ilmu, ingin lebih mendalam: akidah lebih dalam, tauhid lebih dalam, fikih lebih dalam. Ini sunnah.


Solusi 2: Pemetaan Ilmu secara Komprehensif

Dari pemetaan hukum tadi, kita perlu tahu mapping ilmu — apa yang harus kita pelajari. Agar kita tidak berkutat pada satu saja. “Oh ternyata ilmu itu luas. Saya jangan berkutat pada akidah saja — ternyata ada ilmu lain juga yang perlu saya pelajari.”

Karena semakin tambah ilmu, semakin dicintai oleh Allah. Semakin tambah ilmu — menuntut ilmu adalah ibadah. Baik yang farḍu ‘ain, farḍu kifāyah, maupun yang sunnah — semuanya ibadah.

Makanya Allah menamakan mendengar ilmu agama sebagai zikir:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Kalau kalian tidak punya ilmu, tanyalah kepada ahli zikir” — maksudnya kepada para ulama.16

Ketika mereka menyebut tentang agama Allah, mereka sedang berzikir karena sedang mengingat ajaran Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Demikian juga Allah berfirman tentang salat Jumat:

فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ

“Maka bersegeralah menuju żikrillāh.”17

Żikrillāh di sini disebutkan sebagai khutbah Jumat — karena isinya ilmu. Kita mendengar khotbah, kita sedang berzikir kepada Allah.


Secara umum, ilmu agama terbagi:

1. Ilmu Akidah:

Yang inti: Rukun Iman — iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, qada dan qadar. Harus dipelajari. Termasuk: tauhid ulūhiyyah, tauhid rubūbiyyah, Asmā’ wa al-Ṣifāt, macam-macam syirik (syirik akbar dan syirik kecil).

Yang pelengkap: tentang firaq (aliran-aliran), tentang mazhab fikriyah kontemporer — liberalisme, pluralisme, ateisme, Darwinisme. Ini kalau ingin tambahan. Juga ilmu perbandingan agama seperti yang dikuasai Zakir Naik — tambahan, tidak harus bagi orang awam.

2. Ilmu Fikih:

Fikih ibadah (salat, puasa, zakat, haji, umrah) dan fikih muamalah (jual beli, sewa-menyewa, utang-piutang, nikah, talak, dan seterusnya). Bahkan fikih jinayat dan hudud — kalau bisa kita lewati dengan singkat-singkat bagus, tapi tidak harus.

3. Ilmu Tarikh (Sejarah):

  • Sirah Nabi ﷺ — dari awal sampai akhir. Alhamdulillah sekarang banyak ceramah sirah tersedia. Dengarkan satu per hari — dalam 90 hari selesai.
  • Sirah Khulafā’ Rasyidīn — Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali.
  • Sirah para sahabat — para teladan.
  • Tarikh Islami secara umum — Bani Umayyah, Bani ‘Abbasiyyah, dinasti-dinasti di Mesir (Ṭūlūniyyah, Ikhsyīdiyyah), dinasti yang menyimpang seperti Fāṭimiyyah Syiah. Kita tahu sejarah: oh Rāfiḍah pernah muncul begini, muncul Qarāmiṭah, muncul Fāṭimiyyah — bagaimana mereka membasmi kaum muslimin. Sejarah berdarah Rāfiḍah sejak dulu sudah ada.
  • Hingga Daulah ‘Utsmaniyyah, kerajaan Arab Saudi.

4. Ilmu Al-Qur’an:

  • Tajwid — wajib belajar. Sudah dekat sama ustaz, baca Quran masih belepotan — itu tidak bisa dijadikan alasan “biar ikhlas”. Itu bukan ikhlas — itu tidak bisa baca. Panggil ustazah, kumpul 20 orang, setoran — berkembang, berkembang.
  • Tafsir — minimal Juz ‘Amma. Al-Qur’an tidak kita tadaburi, tidak kita baca tafsirnya — tidak harus baca seluruh tafsir, tapi ada yang kita pelajari.

5. Ilmu Adab:

Adab kepada Allah, adab kepada Rasulullah ﷺ, adab kepada orang tua, kepada guru, kepada tetangga, kepada teman — jangan parsial. Jangan belajar adab hanya kepada guru doang. Adab itu luas dan totalitas. Termasuk adab dalam muamalah.


Solusi 3: Belajar Secara Runut (Tartīb)

Kalau antum sudah pemetaan ilmu, berikutnya belajar secara runut.

Misalnya ilmu akidah — ambil buku tipis dulu:

  • Syarḥ Uṣūlil Īmān Syekh ‘Utsaimīn
  • Uṣūlus Sunnah Imam Ahmad — sederhana
  • Kemudian Al-‘Aqīdah Al-Wāsiṭiyyah — akidah yang lebih lengkap
  • Kitābut Tawḥīd

Buku-buku penting harus dilewati — bagaimana antum mengatakan dirinya salaf kalau tidak pernah melewati buku-buku yang membimbing dalam kehidupan keseharian?

Belajar fikih — antum belajar mazhab apapun yang penting belajar dari awal sampai akhir. Atau Fiqhus Sunnah silakan. Tapi belajar secara runut.

Prinsipnya: dari buku kecil — global — kemudian naik mendalam sedikit demi sedikit. Ibarat orang kuliah yang mempelajari suatu subjek dari dasar sampai mahir.


Solusi 4: Diulang — Murajaah

Yang penting setelah belajar: diulang — murāja’ah.

اَلْعِلْمُ بِالْمُرَاجَعَةِ

“Ilmu itu dengan murajaah.”

Ketika kita membaca kitab kecil kemudian kita ulang lagi dengan kitab yang lebih besar — secara tidak langsung kita sudah murajaah. Jadi ada progres yang terasa.


Solusi 5: Luruskan Niat

Niat diperhatikan. Saya mengaji untuk bertakwa kepada Allah — bukan untuk bangga bisa mengundang ustaz ini, bukan untuk bisa duduk bersama ustaz, bukan untuk popularitas, bukan untuk duniawi.

Kalau ternyata kita melakukan pengajian kemudian tambah duniawi, tambah jauh dari Allah — pengajian itu pasti tidak benar. Mundurlah, cari yang lain.


PR untuk Para Ustaz: Menyusun Silabus untuk Orang Awam

Ini tugas para ustaz — saya PR-kan bagi saya dan bagi ustaz yang lain: buatlah silabus menuntut ilmu untuk orang awam. Silabus yang pas — sehingga tidak harus detail-detail tapi mereka mengerti secara global tentang ilmu agama.

Ini tugas yang sampai sekarang mungkin belum ada. Yang ada silabus tapi untuk menuntut ilmu sejati — pertama harus belajar bahasa Arab. Sudah gugur banyak orang.

Maka harus ada silabus khusus buat orang-orang awam — baik ikhwan maupun akhwat.


Penutup

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.

Ini sekedar unek-unek dan problematika yang kita hadapi dalam dunia pengajian — baik yang saya lihat langsung maupun yang orang-orang sampaikan kepada saya. Tidak ada tujuan kecuali untuk membenahi agar lebih baik.

Semoga menjadi perenungan bagi kita semua dan semoga antum bisa upgrade dalam menuntut ilmu. Tujuan kita agar kita lebih bertakwa kepada Allah dan agar kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Catatan Kaki

Footnotes

  1. Al-Zarnūjī, Burhānuddīn. Ta’līm al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta’allum. Beliau hidup sekitar abad ke-6 Hijriah (w. 591 H / 620 H, terdapat khilaf). Kitab ini adalah karya utamanya tentang metode menuntut ilmu dalam mazhab Hanafi. ↩
  2. Al-Ilbīrī, Abu Isḥāq Ibrāhīm bin Mas’ūd (w. 458 H). Ulama Andalus yang terkenal dengan syair-syair nasihatnya. Perkataan ini terdapat dalam Dīwān Al-Ilbīrī atau dalam karya-karya yang menukil nasihatnya. ↩
  3. Ibnu al-Jawzī, Abul Faraj ‘Abdurrahmān (w. 597 H). Ṣayd al-Khāṭir. Ini adalah kitab renungan dan nasihat yang terkenal dari beliau. ↩
  4. Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddīn Aḥmad (w. 728 H). Majmū’ al-Fatāwā. Pernyataan tentang kelezatan ilmu tersebar dalam beberapa jilid karya beliau. ↩
  5. Ibnu al-Qayyim, Muḥammad bin Abī Bakr (w. 751 H). Penukilan ini terdapat dalam beberapa karyanya seperti Miftāḥ Dār al-Sa’ādah atau Al-Fawā’id, di mana beliau membahas tentang keutamaan ilmu. ↩
  6. QS. Al-Kahf (18): 60. ↩
  7. QS. Al-Rūm (30): 1–4. ↩
  8. HR. Bukhāri (no. 6072) dalam Kitābul Adab, Bab al-Tawāḍu’, dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu. Lafaz: “Kānat amatun min imā’il madīnati ta’khużu biyadir Rasūlillāhi ﷺ fataḍhabu bihi ḥaythu shā’at.” ↩
  9. QS. Al-Ḍuḥā (93): 11. ↩
  10. HR. Bukhāri, Kitābur Riqāq, Bab at-Tawāḍu’. Dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu — kisah unta Nabi yang dikalahkan. Lafaz Nabi ﷺ: “Ḥaqqun ‘alallāhi an lā yarfa’a shay’an min ad-dunyā illā waḍa’ah.” ↩
  11. HR. Muslim (no. 2965), dari Sa’d bin Abī Waqqāṣ radhiyallāhu ‘anhu. Lafaz: “Innallāha yuḥibbul ‘abdal taqiyyul ghaniyyyal khafiyy.” ↩
  12. Definisi riya’ ini disebutkan oleh para ulama. Lihat: Ibnu al-Qayyim, Madārij al-Sālikīn, II/334. “Ṭalabul manzilah fī qulūbin nās bi ibāzatil ‘amal.” ↩
  13. Disebutkan oleh Al-Khaṭīb Al-Baghdādī dalam Al-Jāmi’ li Akhlāq al-Rāwī wa Ādāb al-Sāmi’. Murid-muridnya Ibnu Mas’ud bersafar kepada Umar bin al-Khaṭṭāb untuk mempelajari hady (perilaku) beliau. ↩
  14. Disebutkan oleh Al-Khaṭīb Al-Baghdādī dalam Al-Jāmi’ li Akhlāq al-Rāwī wa Ādāb al-Sāmi’ (no. 1138). Ibunya Imam Malik berkata: “Yā bunayya, ijlis ilā hādhar Rabī’ah fata’allam min adabihi qabla ‘ilmihi.” ↩
  15. Al-Zarnūjī dalam Ta’līm al-Muta’allim menukil percakapan antara Muhammad bin Ḥasan Al-Syaibānī (w. 189 H, murid Imam Abu Hanifah) dan seseorang yang memintanya menulis kitab tentang zuhud. ↩
  16. QS. Al-Naḥl (16): 43 dan QS. Al-Anbiyā’ (21): 7. ↩
  17. QS. Al-Jumu’ah (62): 9. ↩
Share214Tweet134Send

Related Posts

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan
TARBIYAH

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=IdnhpCxHAUs&t=2952s Perhatian, artikel ditranskrip otomatis masih dalam tahap review oleh ustadz dan tim UFA. Harap terus melakukan cross-check...

by Admin UFA
April 15, 2026
Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat
MANHAJ

Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=IVg54Hf70ow&t=837s Pembuka بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Bismillāhirraḥmānirraḥīm. اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى...

by Admin UFA
April 15, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Ngaji Next Level

Ngaji Next Level

April 29, 2026
Menjaga Keistiqamahan Ibadah Pasca Ramadhan

Menjaga Keistiqamahan Ibadah Pasca Ramadhan

April 24, 2026
Istiqomah Dalam Ketaatan

Istiqomah Dalam Ketaatan

April 24, 2026
Khutbah Jum’at – Anakmu Butuh Doamu

Khutbah Jum’at – Anakmu Butuh Doamu

April 18, 2026

Website resmi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Dikelola oleh tim IT resmi Ustadz Firanda Official.

About

  • About Us
  • Site Map
  • Contact Us
  • Career

Policies

  • Help Center
  • Privacy Policy
  • Cookie Setting
  • Term Of Use

Join Our Newsletter

Copyright © 2025 by UFA Official.

Facebook-f Twitter Youtube Instagram

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Support Forum
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2025 Firanda Andirja - Menebarkan cahaya tauhid & sunnah.