Tuesday, October 6, 2026
Ustadz Firanda Andirja Official
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • AL QURAN
  • AQIDAH
  • BANTAHAN
  • EBOOK
  • APLIKASI
    • BEKAL ISLAM
    • QURAN TADABBUR
  • BERANDA
  • AL QURAN
  • AQIDAH
  • BANTAHAN
  • EBOOK
  • APLIKASI
    • BEKAL ISLAM
    • QURAN TADABBUR
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja Official
No Result
View All Result
Home QURAN TADABBUR

Cukupkah Memahami Al-Qur’an Dengan Terjemahan?

October 6, 2026
in QURAN TADABBUR
0
Cukupkah Memahami Al-Qur’an Dengan Terjemahan?
540
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kita menyadari bahwa setiap orang memiliki keadaan yang berbeda-beda dalam hidupnya. Ada yang fokus bekerja, berdagang, mengurus keluarga, mengurus anak, dan ada juga yang fokus menuntut ilmu dan berdakwah. Meskipun demikian, kewajiban untuk membaca dan memahami Al-Qur’an tidak hilang begitu saja. Seseorang tetap diwajibkan untuk mengetahui apa yang Tuhannya inginkan darinya, dan Dia menurunkan Al-Qur’an untuk menyampaikan pesan-Nya.

Selain memiliki waktu dan kesempatan yang berbeda-beda, setiap orang juga memiliki kapasitas ilmu yang berbeda-beda dan tidak mungkin disamakan. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi diri. Seberapa besar perhatian kita terhadap Al-Qur’an? Seberapa banyak waktu yang kita luangkan untuk Al-Qur’an? Apakah kita memperlakukan Al-Qur’an hanya sebatas bacaan dengan target tertentu tanpa pemahaman? Apakah Allah akan meminta pertanggungjawaban atas perlakuan kita terhadap Al-Qur’an? Apakah bacaan Al-Qur’an kita bisa membela kita saat menghadapi beratnya Hari Kiamat?

Ada fakta pahit yang mengejutkan di negeri kita tercinta, yaitu 65% masyarakat kita tidak mampu membaca Al-Qur’an [1]. Itu baru yang tidak bisa membaca, bagaimana dengan memahaminya? Tentunya lebih banyak lagi. Berita ini seharusnya menjadi renungan bagi kita. Apakah kita termasuk dalam persentase tersebut? Sedangkan Al-Qur’an kelak pada Hari Kiamat akan menjadi hujah yang membuat kita selamat atau celaka.

Bolehkah memahami Al-Qur’an hanya dengan terjemahan?

Ternyata, untuk memahami Al-Qur’an, terjemahan saja tidak cukup karena berbagai alasan.

Pertama, terjemahan tidak mampu mengakomodasi luasnya makna bahasa Arab.

Bayangkan, kosakata bahasa Arab kurang lebih 12 juta, sedangkan bahasa Indonesia hanya sekitar 200 ribu lebih. Tentu perbedaannya sangat jomplang. Inilah yang menyebabkan kosakata yang berbeda diterjemahkan dengan kata yang sama dalam bahasa Indonesia. Misalnya, Al-Qari’ah, Al-Qiyamah, Al-Waqi’ah, Al-Haqqah, Al-Ghasyiyah, dan lain-lain sama-sama diterjemahkan menjadi “Hari Kiamat”. Padahal masing-masing kata memiliki makna yang sangat dalam yang membuat orang yang memahaminya lebih bisa membayangkan beratnya keadaan hari tersebut.

Kedua, meskipun makna umumnya benar, namun orang memahaminya keluar dari maksud yang benar.

Misalnya surat An-Nur ayat 26:

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang baik) itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.“

Jika sekilas melihat terjemahannya, seolah-olah ayat itu berkaitan dengan jodoh. Padahal, ayat tersebut sedang membela kehormatan ibunda kita, Aisyah radiyallahu ‘anha. Para mufasir menafsirkan bahwa maksudnya adalah perkataan yang baik cocok untuk orang yang baik.

Jika ayat tersebut ditafsirkan sebagai ayat tentang jodoh, kita akan kesulitan menjawab beberapa pertanyaan: Mengapa istri Nabi Nuh kafir? Mengapa istri Fir’aun beriman? Mengapa ada wanita baik-baik, tetapi suaminya zalim dan berbuat fasik?

Ar-Rahman ayat 33:

“Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan shultan (kekuatan dari Allah).”

Banyak orang mengartikan bahwa shultan adalah ilmu pengetahuan seperti fisika, astronomi, cara membuat roket, dll. Padahal ayat itu bercerita tentang dahsyatnya hari kiamat dimana orang-orang tidak bisa melarikan diri.

Ketiga, banyak perumpamaan di dalam Al-Qur’an yang tidak dijelaskan secara lengkap oleh terjemahan.

Misalnya Al-Baqarah ayat 20:

“Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Tentunya orang awam akan kesulitan apa yang dimaksud kilat menyinari, mereka berjalan, mereka diam ketika gelap. Perumpamaan ini tidak lazim di dalam bahasa Indonesia, namun itulah makna literal terjemahan dari bahasa Arab.

Contoh lain: Al-Adiyat ayat 1-6:

“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang memercikkan bunga api dengan pukulan kukunya, dan kuda yang menyerang pada waktu pagi, sehingga menerbangkan debu, lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Tentu orang awam juga akan kebingungan: apa hubungannya kuda perang, lalu tiba-tiba Allah membicarakan manusia yang ingkar?

Para mufassir menjelaskan bahwa kuda yang dirawat seadanya, diberi makan seadanya, dan ditempatkan di kandang seadanya, tetap rela berlari, menerjang musuh, serta mengorbankan dirinya demi tuannya ketika berperang, tanpa menunjukkan pembangkangan dan keluh kesah. Akan tetapi, manusia yang Allah beri jauh lebih banyak karunia justru banyak mengeluh dan ingkar terhadap nikmat-nikmat Tuhannya.

Keempat, terjemahan tidak menjelaskan konteks ayat secara jelas.

Misalnya Al-Baqarah 191:

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.”

Ayat ini sering dijadikan dalil oleh orang-orang berpemahaman menyimpang untuk membunuh orang kafir tanpa mengikuti petunjuk syar’i. Ayat itu berlaku saat keadaan perang, namun orang-orang berpemahaman menyimpang menggunakannya hampir di setiap keadaan.

Kelima, terjemahan terkadang dipengaruhi pemahaman penerjemahnya.

Inilah yang menyebabkan satu terjemahan dengan terjemahan lain terkadang berbeda-beda. Contohnya terkait ayat-ayat sifat, ada terjemahan yang banyak menggunakan takwil, ada juga terjemahan yang minim takwil. Jika orang awam membaca terjemahan tersebut, otomatis mereka tergiring ke pemahaman tertentu. Jika penerjemahnya berakidah Asy-Ariyyah, maka mereka ingin agar pembaca juga sama-sama berakidah seperti mereka.

Contohnya sangat populer, terjemahan surat Thaha ayat 5:

“(Dialah Allah) Yang Maha Pengasih (dan) berkuasa atas ʻArasy.“

Mengganti istawa‘ (berada di atas) dengan istaula (menguasai) adalah pemahaman Mu’tazilah yang diwarisi oleh Asy-Ariyyah, namun terjemahan seperti ini tersebar luas di negeri kita.

Meskipun banyak alasan terkait kurang sempurnanya terjemahan, bukan berarti kita memaksakan diri untuk membedah kitab-kitab tafsir layaknya ulama, dai dan penuntut ilmu. Terjemahan tetap boleh dibaca secara pribadi sebatas untuk mendekatkan pemahaman terhadap bahasa Arab. Tentunya jika seseorang ingin berdakwah, menentukan suatu hukum, menjawab persoalan orang lain, dia harus membekali dirinya terlebih dahulu dengan ilmu agar tidak menyesatkan.

Mengapa Tafsir Penting Di Dalam Al-Qur’an?

Karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang fasih lebih dari 14 abad yang lalu, tentu pemahaman terhadap bahasa dan maksud ayat harus dijaga agar tidak terlepas dari bagaimana Al-Qur’an dipahami ketika pertama kali diturunkan. Semakin bertambahnya zaman, penggunaan bahasa dapat mengalami perubahan, istilah-istilah berkembang, dan pemikiran manusia semakin beragam. Karena itu, ilmu tafsir memiliki peranan penting dalam menjaga pemahaman terhadap Al-Qur’an agar tidak ditafsirkan semata-mata berdasarkan perasaan, pemikiran pribadi, atau hawa nafsu manusia.

Tafsir yang sahih memiliki beberapa ciri penting:

  1. Mengutamakan pemahaman salaf, terutama para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, karena mereka adalah generasi yang paling dekat dengan masa turunnya Al-Qur’an, paling memahami bahasa Arab ketika wahyu diturunkan, serta mengetahui berbagai keadaan yang melatarbelakangi turunnya ayat.
  2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Sebuah ayat terkadang dijelaskan atau diperinci oleh ayat lain sehingga pemahaman terhadap satu ayat tidak boleh dilepaskan dari keseluruhan penjelasan Al-Qur’an.
  3. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Sunnah Nabi ﷺ, karena Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling mengetahui maksud wahyu dan beliau menjelaskan banyak ayat kepada para sahabatnya.
  4. Merujuk kepada penjelasan para sahabat dan salaf, terutama dalam ayat-ayat yang telah dinukil penafsirannya dari mereka. Pendapat generasi belakangan tidak seharusnya didahulukan apabila bertentangan dengan penjelasan yang sahih dari generasi awal.
  5. Menggunakan hadis dan atsar yang dapat dipertanggungjawabkan. Riwayat yang lemah, palsu, atau kisah Israiliyyat tidak boleh dijadikan landasan utama untuk menetapkan makna suatu ayat tanpa penjelasan mengenai kedudukannya.
  6. Memperhatikan kaidah bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, balaghah, penggunaan kosakata Arab pada masa turunnya Al-Qur’an, serta berbagai kemungkinan makna yang memang dikenal dalam bahasa Arab. Sebab, seseorang tidak mungkin memahami Al-Qur’an dengan benar apabila memaksakan pengertian modern kepada lafaz yang pada masa turunnya memiliki penggunaan tertentu.
  7. Memperhatikan konteks ayat dan sebab turunnya, apabila terdapat riwayat yang sahih mengenainya. Mengetahui siapa yang sedang dibicarakan, dalam keadaan apa ayat tersebut turun, serta hubungan ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya dapat mencegah seseorang mengambil kesimpulan yang terlepas dari konteks.
  8. Tidak mendahulukan akal di atas nash. Akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk mengubah makna wahyu agar sesuai dengan suatu filsafat, ideologi, atau pandangan manusia yang telah ditentukan sebelumnya.

Metode seperti inilah yang banyak terlihat dalam tafsir para ulama seperti Ath-Thabari, Al-Baghawi, Ibnu Katsir, dan As-Sa’di. Mereka berbeda dalam keluasan pembahasan dan gaya penyampaian, tetapi sama-sama memberikan perhatian besar kepada Al-Qur’an, Sunnah, bahasa Arab, dan penjelasan para salaf.

Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap penafsiran yang lebih mendahulukan spekulasi akal dan filsafat dibandingkan penjelasan wahyu dan pemahaman salaf. Demikian pula terhadap sebagian pendekatan hermeneutika yang menjadikan makna Al-Qur’an sangat bergantung kepada pengalaman pembaca, konteks zaman, atau pandangan manusia sehingga makna yang telah dipahami sejak generasi awal dapat dianggap berubah mengikuti perkembangan masyarakat. Yang perlu dikritik bukan semata-mata penggunaan istilah “hermeneutika”, tetapi prinsip penafsirannya apabila bertentangan dengan kaidah-kaidah tafsir yang sahih.

Melalui kitab tafsir, kita dapat mengetahui bagaimana para salaf memahami suatu ayat, hubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya, konteks pembicaraannya, sebab turunnya, kandungan hukum dan hikmahnya, keindahan bahasa yang terkandung di dalamnya, serta maksud berbagai perumpamaan yang terkadang sulit dipahami hanya dengan membaca terjemahan.

Terjemahan membantu kita mengetahui arti secara umum, tetapi terjemahan tidak mampu memuat seluruh kedalaman makna Al-Qur’an. Satu kata dalam bahasa Arab terkadang memiliki nuansa, konteks, dan kandungan makna yang tidak mungkin dipindahkan seluruhnya ke dalam satu kata bahasa Indonesia. Karena itulah membaca terjemahan sebaiknya menjadi pintu masuk untuk memahami Al-Qur’an, sedangkan tafsir membantu kita memahami maksudnya dengan lebih utuh dan lebih dekat kepada pemahaman generasi yang pertama kali menerima wahyu.

Apa Tafsir Terbaik Untuk Saya?

Karena kitab tafsir sangat banyak dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda, kita tidak harus membaca semuanya sekaligus. Pilihlah tafsir yang sesuai dengan kapasitas ilmu, kemampuan bahasa, waktu yang tersedia, dan tujuan kita dalam membaca Al-Qur’an.

Untuk orang awam, cobalah mulai dengan Tafsir Al-Muyassar karena bahasanya sangat ringkas dan langsung menjelaskan makna ayat. Setelah itu, kita bisa membaca Tafsir As-Sa’di untuk mendapatkan penjelasan yang lebih luas, terutama mengenai pelajaran, hikmah, dan kandungan ayat. Tafsir Ibnu Katsir juga sangat bermanfaat ketika kita ingin mengetahui hadis, atsar, sebab turunnya ayat, atau penjelasan para salaf yang berkaitan dengan ayat tersebut.

Tidak harus setiap hari membaca tafsir yang panjang. Untuk sebagian ayat, memahami makna globalnya sudah cukup. Namun ketika menemukan ayat yang sulit, menimbulkan pertanyaan, atau memiliki kandungan yang sangat dalam, luangkan waktu untuk membuka beberapa kitab tafsir. Setelah memahami maknanya, cobalah mencari pelajaran dan refleksi: apa yang Allah kehendaki dari kita melalui ayat tersebut, apa yang harus diperbaiki, dan bagaimana ayat itu dapat diamalkan dalam kehidupan.

Untuk penuntut ilmu, pembacaan tafsir sebaiknya mulai lebih luas dan komparatif. Di antara kitab yang sangat penting adalah Tafsir Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Baghawi, dan Al-Qurthubi. Penuntut ilmu tidak hanya membaca kesimpulan makna ayat, tetapi mulai mempelajari mengapa para mufassir berbeda pendapat, apa dalil masing-masing pendapat, bagaimana penggunaan bahasa Arab dalam ayat tersebut, bagaimana penjelasan sahabat dan tabi’in, apa sebab turunnya, serta bagaimana hubungan ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

Pada tahap ini, penting pula mempelajari ilmu-ilmu pendukung seperti bahasa Arab, ushul tafsir, ulumul Qur’an, ushul fikih, ilmu hadis, nasikh dan mansukh, sebab-sebab turunnya ayat, serta kaidah dalam menilai riwayat-riwayat tafsir. Sebab, semakin dalam seseorang memasuki kitab tafsir, semakin banyak pula pendapat, riwayat, dan persoalan ilmiah yang harus ia timbang.

Adapun untuk para dai dan orang yang mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat, tanggung jawabnya tentu lebih besar. Seorang dai tidak cukup hanya mengetahui kesimpulan sebuah tafsir, tetapi perlu mengetahui dasar kesimpulan tersebut. Ia harus mampu membedakan riwayat yang sahih dan lemah, pendapat yang kuat dan lemah, tafsir berdasarkan atsar dan tafsir berdasarkan ijtihad, serta memahami batas-batas penggunaan akal dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Penguasaan bahasa Arab pada tingkat yang lebih tinggi juga sangat penting, termasuk nahwu, sharaf, balaghah, kosakata Arab klasik, dan jika memungkinkan ilmu qira’at serta pengaruh perbedaan qira’at terhadap makna ayat. Seorang dai juga perlu mengetahui pendapat-pendapat yang menyimpang agar mampu menjelaskan kesalahannya dengan ilmu, bukan sekadar mengatakan bahwa suatu tafsir salah.

Pada tingkat yang lebih lanjut, seseorang dapat membaca kitab-kitab yang lebih luas seperti Tafsir Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Fathul Qadir, At-Tahrir wat-Tanwir karya Ibnu Asyur, kitab-kitab I’rab Al-Qur’an, serta tafsir dan karya ulumul Qur’an lainnya. Namun kitab-kitab seperti ini sebaiknya dibaca setelah memiliki dasar yang cukup kuat, karena di dalamnya terdapat pembahasan bahasa, fikih, qira’at, balaghah, perbedaan pendapat, bahkan pembahasan teologis dan filsafat yang membutuhkan kemampuan untuk memilah dan menimbang.

Pada akhirnya, tujuan membaca tafsir bukan sekadar mengetahui sebanyak mungkin pendapat para ulama. Tujuannya adalah agar kita semakin memahami firman Allah dengan benar, semakin mengenal apa yang Allah cintai dan benci, semakin tunduk kepada-Nya, serta mampu mengubah ilmu tersebut menjadi amal.

Tidak semua orang harus menjadi mufassir, tetapi setiap muslim seharusnya berusaha memahami Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan kepadanya.



  1. https://news.detik.com/berita/d-5910768/waketum-dmi-ungkap-65-umat-islam-di-ri-tak-bisa-baca-al-quran.

Previous Post

Siksaan Batin Penghuni Neraka

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ABOUT US

Suspendisse mollis interdum magna eget laoreet. Quisque vitae accumsan lacus. Vivamus auctor, nibh in cursus faucibus, tortor felis gravida sem, at fringilla mi felis eget justo.

Follow us

RECENT NEWS

  • Cukupkah Memahami Al-Qur’an Dengan Terjemahan?
  • Siksaan Batin Penghuni Neraka
  • Perjanjian Antara Manusia Dengan Allah
  • Tadabbur Surat Al-Ikhlas

CATEGORIES

  • ADAB DAN AKHLAK
  • AQIDAH
  • INFO
  • KELUARGA
  • KHUTBAH
  • MANHAJ
  • NASIHAT
  • QURAN TADABBUR
  • STATUS FACEBOOK
  • TEMATIK
  • Uncategorized
  • uncategory
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • AL QURAN
  • AQIDAH
  • BANTAHAN
  • EBOOK
  • APLIKASI
    • BEKAL ISLAM
    • QURAN TADABBUR

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.