Mengenal Allah dan Membantah Segala Bentuk Kesyirikan
Surat Al-Ikhlas adalah surat yang pendek, tetapi kandungannya sangat agung. Hanya dengan empat ayat, Allah menjelaskan siapa diri-Nya, bagaimana kesempurnaan-Nya, dan apa saja keyakinan batil yang wajib disucikan dari-Nya.
Surat ini bukan hanya berbicara kepada orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Kandungannya juga membantah siapa pun yang menisbatkan anak, pasangan, keturunan, tandingan, atau kesetaraan kepada Allah.
Dalam Tafsir Ibn Kathir disebutkan riwayat bahwa kaum musyrikin meminta Nabi ﷺ menjelaskan “nasab” Tuhannya. Ibn Kathir juga mencantumkan riwayat dari Ikrimah bahwa orang Yahudi mengatakan Uzair adalah anak Allah, orang Nasrani mengatakan Al-Masih adalah anak Allah, kaum Majusi menyembah matahari dan bulan, sedangkan kaum musyrikin menyembah berhala. Kemudian Allah menurunkan:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Surat ini datang untuk memutus seluruh anggapan bahwa Allah dapat disamakan dengan makhluk.
1. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
Ayat ini dimulai dengan perintah:
قُلْ — “Katakanlah.”
Tauhid bukan sekadar perasaan yang tersembunyi di dalam hati. Ia adalah keyakinan yang harus diketahui, diucapkan, dibela, dan dijadikan dasar seluruh kehidupan.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatakan dengan tegas bahwa Allah adalah Ahad—Maha Esa.
Menurut Tafsir As-Sa‘di, keesaan itu hanya dimiliki oleh Allah. Dia sendiri yang memiliki kesempurnaan mutlak, nama-nama yang paling indah, sifat-sifat yang paling tinggi, dan perbuatan-perbuatan yang suci. Tidak ada tandingan dan tidak ada yang menyerupai-Nya.
Allah bukan satu karena menjadi bagian dari suatu bilangan. Allah bukan satu unsur di antara beberapa unsur. Allah juga bukan kesatuan yang tersusun dari beberapa pribadi atau bagian.
Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Dia tidak terbagi.
Dia tidak tersusun.
Dia tidak berbilang.
Dia tidak memiliki sekutu dalam ketuhanan.
Bantahan terhadap konsep tiga
Ayat ini membantah keyakinan yang menyebut Tuhan sebagai tiga atau salah satu dari tiga.
Allah berfirman kepada Ahli Kitab:
“Janganlah kamu mengatakan, ‘Tuhan itu tiga.’ Berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.”
—An-Nisa ayat 171
Allah juga berfirman:
“Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Tuhan Yang Esa.”
—Al-Ma’idah ayat 73
Dari sudut pandang tauhid Islam, mengatakan bahwa Tuhan adalah tiga pribadi tetapi tetap satu hakikat tidak mengubah penolakan Al-Qur’an terhadap bilangan tiga dalam ketuhanan.
Surat Al-Ikhlas tidak mengatakan:
“Allah adalah tiga dalam satu.”
Surat ini mengatakan dengan sangat terang:
Allah adalah Ahad.
Bukan Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Bukan tiga pribadi yang berbagi satu ketuhanan.
Bukan Tuhan yang menjelma menjadi manusia.
Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan semua selain-Nya adalah makhluk.
Renungan bagi hati
Kita mungkin tidak mengucapkan bahwa Tuhan ada tiga. Namun dalam praktik kehidupan, hati kita terkadang memiliki terlalu banyak “tuan”.
Kita takut kehilangan pekerjaan seolah-olah pekerjaan itulah pemberi rezeki. Kita takut kepada manusia seolah-olah manusia dapat menentukan nasib kita. Kita mengejar pujian seolah-olah penilaian manusia menentukan harga diri kita.
Padahal hanya Allah yang menguasai rezeki, kehidupan, kematian, kemuliaan, dan kehinaan.
Tauhid menuntut agar hati tidak memberikan sesuatu yang menjadi hak Allah kepada selain-Nya.
2. اللَّهُ الصَّمَدُ
اللَّهُ الصَّمَدُ
Allah tempat meminta segala sesuatu.
Menurut Tafsir As-Sa‘di, Ash-Shamad adalah Dia yang dituju oleh seluruh makhluk untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Seluruh penghuni langit dan bumi sangat membutuhkan-Nya, sedangkan Allah sama sekali tidak membutuhkan mereka.
Allah sempurna dalam ilmu-Nya.
Sempurna dalam kekuasaan-Nya.
Sempurna dalam rahmat-Nya.
Sempurna dalam kehidupan-Nya.
Sempurna dalam seluruh sifat-Nya.
Semua makhluk bergantung kepada Allah, sedangkan Allah tidak bergantung kepada apa pun.
Kita membutuhkan udara, makanan, minuman, tidur, kesehatan, perlindungan, dan pertolongan. Allah tidak membutuhkan semua itu.
Kita lahir dalam keadaan lemah. Kita tumbuh dengan pertolongan orang lain. Kita dapat sakit, lapar, haus, dan meninggal. Allah tidak mengalami satu pun dari kelemahan tersebut.
Bantahan terhadap ketuhanan Al-Masih
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Al-Masih Isa putra Maryam adalah seorang rasul. Allah berfirman:
“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun telah berlalu beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan.”
—Al-Ma’idah ayat 75
Penyebutan bahwa Isa dan Maryam memakan makanan bukanlah penghinaan. Itu adalah penjelasan tentang hakikat keduanya sebagai manusia dan hamba Allah.
Orang yang membutuhkan makanan berarti bergantung kepada sesuatu di luar dirinya. Jika tidak makan, tubuhnya melemah. Ini adalah sifat makhluk, bukan sifat Allah yang Ash-Shamad.
Allah tidak masuk ke dalam rahim.
Allah tidak dilahirkan.
Allah tidak menyusu.
Allah tidak lapar.
Allah tidak tidur karena kelelahan.
Allah tidak membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupan-Nya.
Karena itu, menurut neraca Surat Al-Ikhlas, makhluk yang membutuhkan makanan tidak mungkin menjadi Allah Yang Mahakaya dan menjadi tempat bergantung seluruh makhluk.
Isa melakukan mukjizat dengan izin Allah. Kelahirannya tanpa ayah merupakan tanda kekuasaan Allah, bukan bukti bahwa Isa adalah anak Allah atau Allah yang menjelma menjadi manusia.
Renungan bagi hati
Ketika kita memahami bahwa Allah adalah Ash-Shamad, kita tidak lagi merasa bahwa hidup telah berakhir hanya karena manusia meninggalkan kita.
Manusia bisa tidak memahami keadaan kita.
Manusia bisa bosan mendengar keluhan kita.
Manusia bisa ingin menolong, tetapi tidak mampu.
Manusia juga bisa memiliki kemampuan, tetapi tidak mau membantu.
Allah mengetahui kebutuhan yang tidak mampu kita ucapkan. Dia mengetahui ketakutan yang kita sembunyikan, air mata yang kita tahan, dan harapan yang bahkan tidak berani kita ceritakan kepada orang lain.
Kita boleh meminta bantuan kepada manusia. Kita juga wajib menempuh sebab. Namun hati harus memahami bahwa manusia hanyalah perantara.
Tempat bergantung yang sebenarnya tetap Allah.
3. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Ayat ini merupakan bantahan yang sangat jelas terhadap siapa pun yang menisbatkan anak kepada Allah.
Menurut Tafsir Ibn Kathir, maknanya adalah Allah tidak memiliki anak, orang tua, ataupun pasangan. Tafsir As-Sa‘di menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari kesempurnaan dan kekayaan Allah.
Allah tidak beranak karena Dia tidak membutuhkan keturunan.
Manusia menginginkan keturunan karena berbagai sebab. Manusia membutuhkan penerus, penolong, pewaris, atau seseorang yang melanjutkan namanya setelah ia meninggal.
Allah tidak membutuhkan semua itu.
Allah tidak mati sehingga memerlukan penerus.
Allah tidak lemah sehingga memerlukan penolong.
Allah tidak kesepian sehingga memerlukan pendamping.
Allah tidak kehilangan kerajaan-Nya sehingga memerlukan pewaris.
Bantahan terhadap ucapan “Al-Masih anak Allah”
Ucapan bahwa Al-Masih adalah anak Allah bertentangan secara langsung dengan firman:
لَمْ يَلِدْ — Allah tidak beranak.
Allah tidak mengatakan bahwa Dia memiliki anak secara ruhani, anak dalam ketuhanan, atau anak yang satu hakikat dengan-Nya. Allah menafikan penisbatan anak kepada-Nya secara tegas.
Dalam An-Nisa ayat 171, Allah menyebut Isa dengan kedudukan yang mulia dan benar:
“Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan roh dari-Nya.”
Namun dalam ayat yang sama Allah melarang mengatakan Tuhan itu tiga dan menegaskan:
“Mahasuci Dia dari anggapan mempunyai anak.”
Isa adalah putra Maryam, bukan putra Allah.
Dia adalah Rasul Allah, bukan Allah.
Dia diciptakan dengan kalimat Allah, yaitu dengan perintah-Nya, bukan bagian dari zat Allah yang turun ke bumi.
Ketika Allah menciptakan Isa tanpa ayah, itu tidak menjadikan Isa sebagai anak Allah. Adam bahkan diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu, tetapi tidak ada alasan untuk menyebut Adam sebagai Tuhan.
Kelahiran yang menakjubkan membuktikan keagungan Sang Pencipta, bukan ketuhanan makhluk yang diciptakan.
“Tidak diperanakkan”
Allah juga berfirman:
وَلَمْ يُولَدْ — dan Dia tidak diperanakkan.
Semua yang dilahirkan sebelumnya tidak ada, kemudian menjadi ada. Ia menempati rahim, mengalami tahapan pertumbuhan, keluar dalam keadaan lemah, lalu berkembang sedikit demi sedikit.
Allah tidak demikian.
Allah tidak bermula.
Allah tidak diciptakan.
Allah tidak berasal dari siapa pun.
Keberadaan-Nya tidak didahului oleh ketiadaan.
Karena itu, keyakinan bahwa Tuhan masuk ke dalam rahim seorang perempuan lalu lahir sebagai seorang bayi bertentangan dengan sifat Allah yang tidak diperanakkan.
Maryam adalah perempuan yang sangat mulia dan menjaga kehormatannya. Isa adalah rasul yang agung. Namun kemuliaan seorang nabi tidak mengubahnya menjadi Tuhan.
Renungan bagi hati
Jika Allah tidak memiliki anak, tidak dilahirkan, dan tidak mempunyai hubungan keturunan dengan siapa pun, maka kedekatan seorang hamba kepada Allah tidak diperoleh melalui hubungan darah.
Kita mendekat kepada-Nya melalui iman, tauhid, ibadah, doa, ketaatan, dan ketakwaan.
Tidak ada bangsa yang menjadi keluarga biologis Tuhan. Tidak ada manusia yang membawa darah ketuhanan. Di hadapan Allah, kita semua adalah hamba.
4. وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
Menurut Tafsir Al-Muyassar, tidak ada satu pun makhluk yang serupa dengan Allah dalam nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, ataupun perbuatan-perbuatan-Nya.
Menurut Tafsir As-Sa‘di, tidak ada yang sebanding dengan Allah dalam nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.
Ayat ini menghancurkan seluruh usaha untuk menyamakan makhluk dengan Sang Pencipta.
Tidak ada nabi yang setara dengan Allah.
Tidak ada malaikat yang setara dengan Allah.
Tidak ada orang saleh yang setara dengan Allah.
Tidak ada ruh yang menjadi bagian dari Allah.
Tidak ada makhluk yang berbagi ketuhanan dengan-Nya.
Bantahan terhadap kesetaraan Al-Masih dengan Allah
Sebagian keyakinan menempatkan Al-Masih sebagai Tuhan atau sebagai pribadi ilahi yang setara dalam ketuhanan. Akan tetapi, Surat Al-Ikhlas menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang setara dengan Allah.
Al-Qur’an menyampaikan perkataan Al-Masih:
“Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.”
—Al-Ma’idah ayat 72
Isa menyebut Allah sebagai Tuhannya dan Tuhan Bani Israil. Yang memiliki Tuhan adalah hamba, bukan Tuhan lain yang setara dengan-Nya.
Dalam akidah Islam, Isa tidak pernah mengajak manusia untuk menyembah dirinya. Dia mengajak manusia menyembah Allah.
Tidak pantas seorang rasul yang datang membawa tauhid kemudian dijadikan sesembahan bersama Allah.
Mengapa Allah tidak mungkin menjelma menjadi manusia?
Allah tidak membutuhkan tubuh manusia untuk menampakkan kasih sayang-Nya. Dia tidak membutuhkan darah untuk mengampuni dosa. Dia tidak membutuhkan kematian untuk mengalahkan kematian.
Allah cukup berfirman dan berkehendak.
Menjelma menjadi manusia berarti menerima sifat-sifat tubuh: berada dalam ruang, mengalami pertumbuhan, lapar, haus, lelah, tidur, terluka, dan mengalami kematian.
Semua itu adalah sifat makhluk.
Adapun Allah adalah Ahad, Ash-Shamad, tidak dilahirkan, dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya.
Karena itu, konsep Tuhan menjelma menjadi makhluk bertentangan dengan empat dasar yang disebutkan dalam Surat Al-Ikhlas.
Islam Memuliakan Isa, tetapi Tidak Menyembahnya
Membantah ketuhanan Isa bukan berarti menghina Isa.
Seorang Muslim tidak boleh merendahkan Nabi Isa. Kita mengimani bahwa beliau adalah:
- Al-Masih.
- Putra Maryam yang suci.
- Rasul Allah.
- Salah satu nabi yang agung.
- Diciptakan dengan kalimat Allah.
- Dilahirkan secara ajaib tanpa ayah.
- Diberi berbagai mukjizat dengan izin Allah.
Namun semua kemuliaan itu tidak menjadikannya Tuhan.
Mencintai Isa dengan benar adalah menerima ajarannya untuk menyembah Allah, Tuhannya dan Tuhan seluruh manusia.
Islam menempatkan Isa pada kedudukan yang mulia tanpa merendahkannya sebagai pendusta dan tanpa mengangkatnya melampaui batas sebagai Tuhan.
Inilah jalan pertengahan yang adil: memuliakan rasul, tetapi hanya menyembah Tuhan yang mengutusnya.
Bantahan yang Disertai Ajakan Bertobat
Ketegasan Al-Qur’an terhadap doktrin ketuhanan Al-Masih dan Trinitas tidak menutup pintu ampunan.
Setelah membantah keyakinan tersebut, Allah berfirman:
“Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
—Al-Ma’idah ayat 74
Perhatikan kelembutan ayat ini.
Setelah menyebut beratnya kesalahan mereka, Allah masih mengajak mereka kembali. Pintu tauhid masih terbuka. Pintu ampunan belum tertutup.
Tujuan bantahan bukanlah memenangkan pertengkaran atau menghina manusia. Tujuannya adalah menyelamatkan manusia dari menyembah makhluk dan mengembalikan mereka kepada penyembahan terhadap Pencipta.
Seorang Muslim membantah akidah Nasrani karena mencintai kebenaran, bukan karena berlaku zalim kepada pemeluknya.
Kita bersikap tegas terhadap keyakinan, tetapi tetap adil dan berakhlak kepada manusianya.
Surat Al-Ikhlas dan Kehidupan Kita
Surat Al-Ikhlas tidak hanya membantah kesalahan umat lain. Surat ini juga mengoreksi kesyirikan kecil yang dapat tumbuh di dalam hati kita.
Kita mungkin tidak menyembah Isa, berhala, atau patung. Namun apakah hati kita telah benar-benar ikhlas hanya kepada Allah?
Apakah kita lebih takut kepada komentar manusia daripada murka Allah?
Apakah kita lebih berharap kepada atasan daripada kepada Allah?
Apakah kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung pada uang, pekerjaan, pasangan, kesehatan, atau pujian?
Apakah kita beribadah agar dilihat manusia?
Tauhid bukan hanya mengucapkan bahwa Allah itu satu. Tauhid adalah menjadikan Allah satu-satunya tujuan ibadah, sumber harapan tertinggi, tempat bergantung, dan Zat yang paling kita cintai dan takuti.
Ketika seluruh sandaran dunia runtuh, seorang mukmin masih memiliki Allah.
Ketika manusia tidak dapat membantu, Allah tetap Ash-Shamad.
Ketika hati merasa sendirian, Allah tetap dekat dan mendengar.
Ketika masa depan tampak gelap, kekuasaan Allah tidak pernah berkurang.
Penutup
Surat Al-Ikhlas menjelaskan empat kebenaran besar:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Allah Maha Esa. Ini membantah segala bentuk pembagian dan bilangan dalam ketuhanan.
اللَّهُ الصَّمَدُ
Semua makhluk membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan siapa pun. Ini membantah ketuhanan makhluk yang lapar, makan, tidur, dan bergantung kepada yang lain.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
Allah tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan. Ini membantah penisbatan Al-Masih sebagai anak Allah serta konsep Tuhan yang dilahirkan sebagai manusia.
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Tidak ada yang setara dengan Allah. Ini membantah keyakinan bahwa seorang nabi, malaikat, ruh, atau makhluk apa pun berbagi ketuhanan dengan-Nya.
Surat ini mengajarkan kita untuk mengenal Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, dan melepaskan hati dari ketergantungan mutlak kepada selain-Nya.
Ketika membaca Surat Al-Ikhlas, jangan hanya mengejar selesainya bacaan. Hadirkan keyakinan di dalam hati:
Tuhanku hanya satu.
Dia tidak membutuhkan siapa pun.
Dia tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan.
Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
Hanya kepada-Nya aku beribadah, berharap, memohon, dan berserah diri.