Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
Home TARBIYAH

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Admin UFA by Admin UFA
April 15, 2026
in TARBIYAH
Reading Time: 37 mins read
0
Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=IdnhpCxHAUs&t=2952s

Perhatian, artikel ditranskrip otomatis masih dalam tahap review oleh ustadz dan tim UFA. Harap terus melakukan cross-check khususnya referensi dari hadist, Al-Qur’an maupun kitab.

Pembuka

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِيمَانًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ دَلِيلًا رِضْوَانًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

Related Post

No Content Available

Hadirin hadirat, para wali-wali murid, para ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā.


Mukadimah: Kedudukan Anak dalam Islam

Sebagaimana kita ketahui, anak-anak adalah buah hati orang tua. Sebagaimana datang dalam hadis: ketika ada anak dari seorang hamba mukmin meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat:

هَلْ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟

“Apakah kalian telah mencabut nyawa anak dari hamba-Ku?”

Maka malaikat berkata, “Iya.” Allah bertanya lagi:

هَلْ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟

“Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?”1

Di sini Allah menamakan anak-anak sebagai buah hati — karena memang seorang sangat sayang kepada anaknya sehingga disebut dengan buah hati.

Demikian juga Allah berfirman:

اَلْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Bahwasanya harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia.”2

Jika seorang telah memiliki harta dan memiliki anak-anak, seakan-akan perhiasan dunia telah sempurna. Betapa bahagianya anugerah anak-anak dari Allah Subhānahu wa Ta’ālā.


Manfaat Anak Saleh di Dunia dan Akhirat

Anak-anak ini, kalau mereka saleh, tentunya bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan juga bermanfaat bagi kedua orang tua — di dunia maupun di akhirat.

Ketika anak-anak menjadi saleh dan salehah di dunia, maka orang tua akan bahagia. Makanya disebut dengan qurrata a’yun — penyejuk pandangan — sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh orang-orang saleh:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Wahai Rabb kami, jadikanlah istri-istri kami dan anak-anak kami sebagai penyejuk pandangan (kami).”3

Anak saleh adalah sebab utama kebahagiaan orang tua — terutama ketika mereka di masa tua. Kalau sudah tua dan anak-anaknya saleh, maka mereka merasakan kebahagiaan yang luar biasa dari bakti anak-anak tersebut.

Kemudian manfaat berlanjut — bukan cuma di dunia. Di alam barzakh pun mereka mendapatkan manfaat dari anak-anak saleh yang selalu mendoakan orang tua. Kata Nabi ﷺ:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ … وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

“Kalau seorang meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali tiga. (Salah satunya adalah) anak saleh yang senantiasa mendoakannya.”4

Sehingga orang tua dalam kuburan pun mendapat manfaat dari kesalehan anaknya.

Kemudian juga di akhirat, sebagaimana Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Hari akhirat di mana tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang bertemu Allah dengan hati yang bersih.”5

Artinya: kalau seorang bertemu dengan Allah dengan hati yang bersih, hati yang saleh, maka hartanya dan anak-anaknya bermanfaat bagi dia di akhirat kelak. Dan kita tahu anak-anak bisa memberi syafaat kepada kedua orang tuanya di hari kiamat kelak.


Perlunya Kesabaran dalam Mendidik Anak

Oleh karenanya, perhatian kita untuk mendidik anak-anak memang harus mendapat porsi yang besar. Mendapat porsi yang besar. Butuh kesabaran yang luar biasa. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu untuk salat dan bersabarlah.”6

Bersabar untuk salat, bersabar untuk memerintah mereka. Makanya dalam mendidik anak-anak, tidak boleh ada kata bosan, tidak boleh ada kata capek — karena kita disuruh waṣṭabir. Waṣṭabir itu bukan waṣbir — lebih tinggi lagi daripada sekadar waṣbir, yaitu tambahlah kesabaranmu.

Karena sebagaimana kita ketahui, jika pahalanya besar maka pengorbanan juga besar. Keuntungan sesuai dengan besarnya modal, sesuai dengan pengorbanan. Kita tahu bahwasanya kalau anak saleh ini adalah hasil yang luar biasa dan anugerah yang luar biasa — maka menuju kepada hal tersebut butuh perjuangan yang luar biasa, sabar yang kontinyu terus-menerus, tidak boleh mengenal kata bosan atau lelah. Kalau kita bosan dan lelah, kita perbaharui semangat kita. Karena Allah mengatakan: waṣṭabir ‘alayhā — bersabarlah untuk salat, bersabarlah untuk mendidik, untuk menyuruh mereka salat.

Maka ini membuat kita selalu berusaha dan berusaha dengan keras untuk bisa mendidik anak-anak — karena hasilnya, dampaknya luar biasa di dunia maupun di akhirat.


Pentingnya Komunikasi dan Kedekatan Orang Tua-Anak

Ini mukadimah agar kita perhatian terhadap apa yang akan disampaikan pada kesempatan kali ini. Sebagaimana tadi disebutkan — judulnya cukup panjang dan akademisi. Intinya: komunikasi efektif orang tua dan anak — membangun kedekatan dan ketaatan. Bagaimana agar anak bisa dekat dengan orang tua, orang tua bisa dekat dengan anak, dan ada komunikasi di antara mereka.

Ini pembahasan yang sangat penting. Sangat penting. Karena jika telah berhasil terbangun komunikasi dan kedekatan orang tua dengan anak, maka akan membuat banyak masalah selesai. Membuat banyak masalah selesai.

Kebanyakan permasalahan yang timbul dalam tarbiyah — kenakalan remaja, kenakalan anak-anak — semuanya terjadi karena tidak ada komunikasi antara orang tua dengan anak-anak. Ini kenyataan yang ada. Ketika komunikasi putus, tidak ada kedekatan orang tua dan anak, hilang kepercayaan — apalagi kepercayaan anak kepada orang tua, apalagi orang tua kepada anak. Maka ini sumber malapetaka dalam mendidik anak-anak. Betapa banyak permasalahan yang timbul karena hal ini.


Ilustrasi Nyata: Kasus Sekolah Islam

Saya sering menyampaikan ada kasus di sekolah Islam terkenal — terjadi perkelahian, ada geng-geng dalam sekolah tersebut. Kemudian akhirnya ada salah seorang kawan yang juga alumni dari sekolah tersebut dipanggil. Dia kumpulkan anak-anak yang bergeng-geng dan bertempur tersebut. Dia panggil anak yang paling baik dari geng-geng tersebut, disuruh duduk. Kemudian dia tanya:

“Kapan terakhir kamu makan bareng sama kedua orang tua?”

Maka dia berusaha ingat, berusaha ingat. Dia bilang — kalau tidak salah — 3 tahun yang lalu baru sempat makan bareng sama ayah dan ibu. Karena ayahnya sudah sangat kaya raya dan super sibuk. Ibunya juga ibu sosialita super sibuk. Sehingga kesempatan untuk bisa makan bareng, ngobrol bareng bersama kedua orang tua adalah kesempatan yang langka.

Ini di antara sebab utama yang menjadikan anak-anak liar — karena mereka tidak punya kepercayaan kepada kedua orang tua. Maka ini kelihatannya sepele, tapi merupakan sebab utama terjadinya kerusakan pada anak-anak.


Bahaya Ketika Anak Mencari “Tempat Curhat” Lain

Kalau anak-anak tidak dekat dengan orang tua, dia ingin mencari orang yang dekat dengannya. Kalau dia mendapatkan orang yang baik — alhamdulillah — misalnya ada seorang guru yang dia percaya dan bisa mengarahkan, seorang musyrif atau musyrifah yang bisa mengarahkan, alhamdulillah. Tapi kalau yang dia dapati adalah teman di media sosial atau teman yang nakal yang sesuai dengan kesenangan dan hawa nafsunya, maka anak ini akan menjadi rusak.

Kenapa dia mencari orang lain? Karena dia tidak percaya sama kedua orang tuanya. Bagaimana dia percaya sama kedua orang tuanya? Dia tidak pernah dekat dengan kedua orang tuanya. Hubungan terputus. Ini problem besar.


Kedekatan Orang Tua sebagai Benteng Moral Anak

Banyak anak-anak yang ketika diajak untuk melakukan kenakalan, mereka tidak melakukannya karena dekat dengan kedua orang tua. Bisa jadi seorang tidak melakukan maksiat karena dua sebab:

Pertama: Takut kepada Allah.

Kedua: Tidak ingin menyedihkan kedua orang tua.

Tidak semua anak takut kepada Allah — mungkin pelajaran agama mereka kurang. Tapi kalau dia dekat sama orang tua, ketika diajak misalnya minum khamar, dia berpikir: “Waduh, nanti kalau ibu saya tahu gimana? Kalau bapak saya tahu gimana? Kasihan, mereka bakalan sedih. Saya sudah dikasih biaya, sering makan bareng — ternyata saya berkhianat.”

Ini akan timbul sendirinya ketika dia dekat dengan orang tua. Jadi selain ada wāzi’ pertama yaitu penghalang karena takut kepada Allah — yang kadang melemah karena kekuatan agama kurang — ada penghalang berikutnya: dia tidak ingin menyakiti hati kedua orang tuanya. Ini juga sebab utama yang menjadikan anak-anak tidak nakal.

Kita dapati ada seorang anak bergaul dengan teman-temannya yang tukang minum bir dan tukang zina — tapi dia tidak. Kenapa? Karena dia memikirkan orang tuanya, memikirkan ibunya, memikirkan bapaknya. Kenapa? Karena dekat. Karena dekat.

Kedekatan dengan orang tua ini adalah sebab yang mengontrol akhlak anak-anak — baik mereka di marhalah SMP maupun sudah dewasa di SMA. Karena dekat, mereka tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.


Manfaat Lain Kedekatan Orang Tua-Anak

Di antara manfaat lainnya ketika orang tua dekat dengan anak-anak — dan ini sangat penting juga — adalah ketika menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Hidup kita tidak selalu nyaman. Ada tantangan-tantangan kehidupan tentang ekonomi, tantangan rumah tangga — bisa jadi suami istri bermasalah di kemudian hari. Maka anak-anak yang dekat sama orang tua bisa tegar menghadapi tantangan kehidupan.

Banyak hal. Dan dengan kedekatan tersebut, anak-anak bisa kuat, sabar, dan tegar dalam menghadapi problem-problem kehidupan. Bahkan saking dekatnya hubungan orang tua dengan anak-anak, betapa sering orang tua mengajak anak untuk berdiskusi menghadapi permasalahan: “Bagaimana menurut kamu? Bagaimana?” — sehingga terjadi diskusi antara orang tua dan anak. Ini semua bisa terjadi kalau ada kedekatan. Kalau tidak ada kedekatan, semua ini hilang. Semua ini hilang.

Kecuali — sebagaimana saya bilang tadi — memang Allah kasih taufik kepada anak tersebut. Dia tidak dekat sama orang tua, tapi dia rajin belajar agama, kemudian dia bisa menimbang dengan dalil sehingga dia bisa menghadapi permasalahan. Bisa saja. Tapi itu sulit. Kecuali Allah kehendaki.

Jadi kita melakukan semua sebab agar bisa mendidik anak menjadi anak yang baik. Tentu kita usahakan anak kita dekat dengan Allah — dan itu yang paling utama. Yang kedua, kita juga berusaha untuk dekat dengan anak-anak, membangun komunikasi antara kita orang tua dengan anak-anak.


Cara Membangun Kedekatan dengan Anak-Anak

Mukadimah Dua Hal Penting

Sebelum membahas cara-cara membangun kedekatan, para ahli tarbiyah menyebutkan dua hal yang harus kita pahami terlebih dahulu:


1. Memahami Perbedaan Kondisi Zaman

Kondisi anak-anak zaman sekarang tidak seperti kondisi kita ketika kita masih remaja. Remaja sekarang tidak seperti remaja dulu. Saya sekarang umur 46. Kalau saya remaja berarti umur 16 tahun — berarti 30 tahun yang lalu. Zaman bahela. Kalau sekarang zaman Gen Z.

Coba kita bandingkan antara remaja kita dulu dengan sekarang. Sekarang anak-anak lebih berpengetahuan daripada kita. Iya, mereka lebih tahu. Saya saja sama anak apa-apa saya suruh dia — karena dia lebih tahu. Entah dia pakai AI, entah dia pakai Google. Mereka lebih ngerti dalam banyak hal karena mereka punya banyak waktu untuk tahu dan mereka cepat dalam menangkap. Bahkan ada anak-anak yang bisa bahasa Rusia, bisa bahasa Inggris, tidak perlu sekolah — mereka bisa karena interaksi yang luar biasa.

Maka jangan sekali-sekali kita menganalogikan zaman kita dengan zaman mereka. Ini di antara hal yang fatal — ketika kita menganggap mereka seperti kita:

“Abi dulu begini bisa, kok kamu tidak bisa?”

Oh, beda zamannya. Zaman sekarang berbeda. Zaman dulu kita remaja, mau nakal saja susah. Mau nonton video saja susah. Sekarang mau apa saja bisa. Dulu mau ke mana-mana pesawat mahal, sekarang pesawat murah. Dulu sarana maksiat sedikit. Sekarang mau penyimpangan seksual juga mudah. Sekarang mudah. Dan terkait dengan akses penyimpangan pemikiran — tentang syubhat, tentang ateis — sekarang mudah.

Kondisi berbeda. Maka ini harus kita sadari. Apa yang di zaman dahulu mungkin aib bagi kita, zaman sekarang mungkin biasa — bahkan sangat biasa. Bahkan kalau kita mau, orang yang tidak melakukannya dianggap aneh.

Ini harus kita pahami: zaman berbeda, kondisi berbeda. Ketika berbeda kondisi dan situasi, tentu cara menghadapi permasalahan pun berbeda antara satu dengan yang lainnya.


2. Memahami Perbedaan Karakter Tiap Anak

Anak-anak satu dengan yang lainnya punya sifat yang berbeda. Tidak semua anak sama. Meskipun lahir dari rahim yang sama, dari bapak yang sama, dari ibu yang sama. Bahkan kembar pun sifatnya bisa beda.

Yang satu bisa tegar, yang satu bisa cengeng. Yang satu bisa berani, yang satu bisa jadi penakut. Yang satu tahan banting jarang sakit, yang satu sakit-sakitan. Yang satu manja, yang satu tidak mau dimanja — kalau dimanja dia malah tidak suka. Yang satu senangnya memeluk dan mencium kita, yang satu mau dicium malah kabur. [tertawa]

Anak-anak ya, bukan istri-istri. Anak-anak.

Jadi anak-anak berbeda satu dengan yang lainnya. Dari situ kita harus paham — dalam istilah Arabnya:

اَلْفُرُوقُ الْفَرْدِيَّةُ

al-furūq al-fardiyyah — masing-masing punya sifat-sifat tersendiri yang berbeda dengan yang lainnya.

Orang tua harus paham hal ini dalam menghadapi anak-anak, karena satu dengan lain berbeda. Tentunya kita lebih mengenal anak kita daripada orang lain.


Metode Pertama: Seni Mendengar

Sekarang kita bahas bagaimana cara agar kita dekat dengan anak-anak.

Yang pertama — untuk bisa dekat dengan anak-anak — adalah seni mendengar. Seni mendengar.

Kita orang tua seringnya berbicara dan anak disuruh mendengarkan — secara umum seperti itu:

“Dengerin Abi ngomong apa? Dengerin! Jangan ngomong sendiri, dengerin.”

“Kalau Umi lagi ngomong, dengerin. Sudah, kamu jangan banyak ngomong. Masih kecil, enggak ngerti apa-apa.”

Cara itu mungkin bermanfaat zaman dulu. Zaman sekarang belum tentu. Zaman sekarang anak-anak pengin dia yang berbicara dan kita yang mendengar. Nah, kita orang tua harus punya seni mendengar. Banyak mendengar dari anak-anak. Karena dengan kita mendengar anak-anak, akan timbul apa? Kedekatan.


Tingkatan Mendengar

Dalam tingkatan mendengar ada:

Pertama: Samā’ — mendengar (sekadar suara masuk).

Kedua: Istimā’ — menyimak dengan lebih fokus.

Ketiga: Inṣāt — lebih fokus lagi, mendengar dengan menghayati apa yang didengarkan. Sebagaimana Allah sebut dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا

“Kalau dibacakan Al-Qur’an, maka bukan hanya dengar saja — simak dan tenangkanlah (diri dalam mendengar).”7

Kita terkadang sama anak-anak bukan cuma dengar saja — tapi mendengar dengan benar-benar mendengar. Bukan anak-anak ngomong, kita sambil:

“Eh iya, tadi gimana, gimana? Coba ulang, tadi maksudnya gimana?”

Itu namanya mendengar tapi tidak istimā’. Mendengar itu: suara masuk. Saya mendengar tapi saya tidak tahu apa yang kau bicarakan — itu namanya mendengar tapi tidak istimā’.

Nah, bagaimana kualitas kita dalam mendengar anak-anak? Apakah sampai tahapan sekadar samā’ saja — mendengar doang? Ataukah istimā’ — menyimak? Apalagi inṣāt — kita diam sambil mendengar, benar-benar menghayati maksudnya, berusaha meresapi isi hatinya. Tentu ini berbeda.

Kita sudah bisa mendengar saja sudah bagus. Banyak orang tua yang tidak mendengar anak-anak sama sekali. Pokoknya saya ngomong, kamu diam. Kalau sudah tidak mendengar — repot. Kenapa anak-anak jauh dari kita? Karena dia tidak mendapati kita mendengar isi hatinya. Sehingga dia mencari sosok lain yang mau mendengar — dan itu berbahaya, sebagaimana telah disebutkan tadi.

Kalau dia mendapatkan sosok yang lebih baik dari kita, alhamdulillah — ada anak yang orang tuanya tidak mendengar, tapi didengar oleh ustaznya. Ini alhamdulillah — ustaz lebih baik dari kita ya. Dan banyak anak seperti itu. Tapi yang jadi masalah adalah ketika dia tidak mendengar kepada orang yang baik — dia mendengar kepada orang yang bisa mengakomodir hawa nafsunya. Di mana dia dapatkan? Dari temannya yang kasih ide macam-macam, atau dari medsos, atau dia menjadi sendiri. Sehingga akhirnya anak-anak menjauh dari kita.

Siapa yang menyebabkan anak-anak jauh dari kita? Kita sendiri. Karena kita tidak punya seni mendengar.


Teladan Nabi ﷺ dalam Seni Mendengar

Makanya sebagian ulama menyebutkan bagaimana Nabi ﷺ punya seni mendengar. Bahkan dalam sebagian riwayat, Rasulullah ﷺ pernah didatangi oleh seorang wanita fī ‘aqliha syai’ — akalnya terganggu — kemudian dia ngobrol sama Nabi di depan umum. Nabi mendengar curhatan dia. Nabi mendengar. Padahal fī ‘aqliha syai’ — otaknya terganggu. Tapi Nabi mendengar.

Yang kita hadapi bukan orang gila — tapi anak kita sendiri, yang meskipun terkadang saking nakalnya kita bilang: “Gila kamu.” [tertawa]

Nabi mendengar. Sampai ada seorang budak yang datang membawa tangan Nabi. Kata Nabi: “Silakan, pergi ke mana saja dari jalan-jalan Madinah” — Nabi mengakomodir curhatan dia. Nabi mendengar.

Bahkan bukan cuma mendengar kepada manusia. Nabi ﷺ — seni mendengar beliau — sampai mendengar kepada unta. Dalam hadis, suatu saat Rasulullah ﷺ sedang berjalan, tahu-tahu ada unta yang mengeluh kepada Nabi — datang kepada Nabi, kemudian Nabi mengusap-usap kepalanya. Mungkin dia menangis dalam bahasa unta, dia mengadu kepada Nabi. Nabi mendengar. Kata Nabi:

“Siapa pemilik unta ini?”

Ada seorang pemuda kaum Anshar: “Saya, wahai Rasulullah.” Kata Nabi:

أَمَا إِنَّهُ قَدِ اشْتَكَى إِلَيَّ، فَإِنَّكَ تُجِيعُهُ وَتُتْعِبُهُ

“Sesungguhnya dia telah mengadu kepada saya — bahwasanya engkau membuat dia lapar dan membuat dia kerja terus-terusan tanpa ada istirahatnya.”8

Nabi mendengar unta curhat. Jadi seni mendengar ini luar biasa.


Praktik Seni Mendengar

Kalau kita orang tua, zaman sekarang tidak sama seperti zaman dulu. Zaman dulu kita bilang “kamu begini, kamu begini” — mungkin mereka tidak punya alternatif untuk mencari penyimak, karena sarana informasi kurang, sarana bermedia sosial juga kurang. Kalau sekarang kita tidak mau mendengar mereka, mereka cari alternatif yang lain — sehingga akhirnya kita semakin jauh. Dan ketika mereka menemukan alternatif yang nyaman, kita semakin terjauhkan. Semakin terjauhkan.

Maka ini penting bagi kita orang tua: mendengar anak-anak, dan biarkan mereka ngomong sampai selesai. Iya nak, bicarakan begini begini — dengarin saja. Satu lagi datang begini begini — dengarin saja sampai selesai. Kita dengar, kita berusaha paham, kita sambut — sehingga anak-anak itu senang dengan kita, dekat dengan kita.

Omongan mereka macam-macam. Ada yang cerita tentang sekolahnya, ada yang gibah gurunya [tertawa] — macam-macam:

“Musyrifah ini begini, guru ini begini, sekolah begini…”

Dengerin saja. Nanti urusan kita mengomentari, memberikan nasihat — itu urusan belakang. Dengerin dulu, sehingga mereka tahu ada tempat untuk curhat yaitu kedua orang tuanya.


Peran Ayah dan Ibu dalam Mendengar

Dan ini tidak berlaku pada ibu-ibu saja ya — karena terkadang kita berharap ibu-ibu jadi pendengar, ternyata ibu-ibu lebih sibuk daripada bapak-bapak. Itu masalahnya. Sosialita. Sehingga sibuk main HP, sibuk ini, sibuk itu — tidak sempat mendengar.

Jadi kedua orang tua — baik ibu maupun bapak — harus siap. Karena kecenderungan anak-anak: ada yang lebih senang ngobrol sama ibunya, ada yang lebih senang ngobrol sama bapaknya. Jangan kita bilang:

“Sudahlah, Abi sibuk, Papa sibuk, Mami saja yang dengar.”

Tidak mesti. Anak-anak punya kecenderungan masing-masing. Kata orang, anak perempuan lebih dekat dengan bapaknya, anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya. Tapi tidak selalu seperti itu. Ada yang semua dekat dengan ibunya, ada yang semua dekat dengan bapaknya. Mengapa dekat sama bapaknya? Karena bapaknya dimintai uang selalu kasih. Kalau ibunya tidak pernah kasih. Ada sebaliknya — dekat sama ibunya karena ibunya yang mengasih terus, bapaknya tidak.

Oleh karenanya, baik ayah maupun ibu harus siap untuk mendengar — dan pendengaran yang berkualitas.

Ingat, saya sebut pendengaran ada tiga: ada samā’ — cuma mendengar suara masuk; ada istimā’ — menyimak; dan ada inṣāt — mendengar sambil berusaha memahami apa makna yang disampaikan oleh anak-anak.

Ini penting. Apapun topik yang mereka sampaikan — sehingga mereka selalu rindu untuk berbicara dengan kita, karena kita menanggapi dan kita tidak meremehkan:

“Ah, gitu aja ngomong kayak gitu sama Abi? Ngapain ngomong gitu sama Abi? Ini sibuk, tahu tidak? Ini lagi baca Quran!”

Kalau begitu, dia tidak bakalan ngomong lagi. Karena setiap dia ngomong, dianggap tidak penting.

Bagi dia penting. Dia ngomongin tentang sekolahnya — bagi dia itu penting. Dia ngomongin tentang temannya, tentang gurunya — bagi kita tidak penting. Bagi kita: “Gimana bisa bayar SPP-nya? Itu yang penting.” Tapi bagi dia, ngobrol tentang temannya, tentang gurunya, tentang sekolahnya, tentang gibah temannya — itu penting.

Kita dengarin. Soal mengarahkan — belakangan. Yang penting dengar.

Apalagi anak-anak sudah sampai tahapan remaja — ini sangat-sangat rawan. Kapan hubungan kita putus? Berbahaya. Sangat berbahaya. Dan anak-anak remaja penginnya coba-coba. Kalau kita dulu juga remaja ingin coba-coba — tapi tidak ada yang bisa dicobain, uang tidak ada, sarana tidak ada. Sekarang anak-anak mau coba-coba mudah. Mau coba apa saja mudah.

Karenanya waspada — penting namanya seni mendengar.


Metode Kedua: Punya Banyak Waktu Bersama Anak

Yang kedua, harus punya banyak waktu bersama anak-anak. Semua ini berkelanjutan.

Bagaimana dekat dengan anak-anak? Ya harus ada waktu. Kalau tidak ada waktu, kapan kita mau mendengar? Kapan kita mau jalan bareng? Kapan ada kedekatan? Harus ada waktu kunjungan, ada waktu kita telepon, ada waktu kita libur bareng, ada waktu kita makan bersama.

Bagi kita tidak penting — tapi bagi anak-anak penting:

“Eh, jangan dulu makan! Tunggu Abi belum datang. Jangan makan dulu ya. Abi sudah lapar nih — sebentar, tunggu Abi mau datang.”

Jadi dia tahu ada kedekatan. Harus ada kebersamaan. Kebersamaan. Dan harus diulang-ulang. Kalau tidak diulang-ulang, tidak bakalan dekat. Kita pandai mendengar, tapi kalau tidak ada waktu untuk mendengar — percuma saja. Percuma saja.


Bahaya “Sok Sibuk” Karena Duniawi

Maka yang jadi problem dalam hidup kita ini adalah sok sibuk. Itu saja. Sok sibuk kenapa? Karena duniawi — kita berusaha mencari kebahagiaan dengan cari uang banyak, yang kita sangka dengan uang banyak tersebut akan membuat kita bahagia. Tapi kalau kita punya uang banyak dan anak kita jauh dari kita — kita sengsara.

Betapa banyak orang ketika di masa tua dengan harta yang banyak dia sengsara. Kenapa? Dia jauh dari anak-anaknya.

Saya pernah satu pesawat dengan orang kaya — dia developer, pengusaha, orang-orang kafir waktu itu ya. Saya ngobrol-ngobrol sama dia. Saya tanya intinya: “Apa yang buat kau sedih dalam hidup ini?” Dia cerita: “Yang buat saya sedih adalah saya jauh dari anak-anak. Anak-anak sudah saya sekolahkan, sudah saya fasilitasi. Mereka sekarang tidak telepon saya, tidak kunjungi saya. Masing-masing sibuk dengan dunianya, sibuk dengan keluarganya, sibuk dengan bisnisnya.”

Itu adalah penderitaan tersendiri bagi orang ketika sudah tua. Nah, kita ingin cari kebahagiaan. Di antara kebahagiaan kita cari uang — karena uang adalah sebab kebahagiaan, benar atau tidak? Ya, meskipun bukan sebab utama, tapi salah satu sebab. Rumah besar juga sebab kebahagiaan. Kata Rasulullah ﷺ:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ… بَيْتٌ وَاسِعٌ… وَمَرْكَبٌ هَنِيٌّ

“Empat sebab kebahagiaan — di antaranya: rumah yang luas, dan di antaranya: kendaraan yang menyenangkan.”9

Sebab kebahagiaan — tapi bukan yang utama. Makanya Nabi ﷺ meskipun menyatakan demikian, ternyata rumahnya kecil. Meskipun Nabi mengatakan tunggangan yang nyaman adalah sebab kebahagiaan, ternyata beliau juga naik himar, naik begol.

Kalaupun kita pandai mendengar, kita harus punya waktu untuk bersama anak-anak. Harus ada waktu — dan harus dijadwalkan.

Di antara sebab kebahagiaan yang paling besar adalah salehnya anak-anak, dekatnya anak-anak dengan kita. Bahagia ketika kita pulang ke rumah ditunggu sama anak-anak, ngobrol sama anak-anak — itu kebahagiaan. Kita harus berusaha mewujudkan kebahagiaan tersebut. Maka selain kita cari rezeki, kita juga cari kebahagiaan dari sisi lain yaitu dekat sama anak-anak.


Ilustrasi Nyata

Banyak di antara kita, karena sibuk cari rezeki, tidak punya waktu dengan anak-anak. Terkadang dia menjebak dirinya dengan berbagai macam kegiatan sehingga tidak punya waktu. Hari Sabtu, hari Ahad pun sibuk.

Sampai ada kawan saya yang kaya raya — rumahnya luas sekali, mobilnya banyak dan mewah-mewah. Dia ngomong sama teman saya yang secara harta di bawahnya: “Lebih enak kamu. Saya tidak ada waktu. Sabtu pun saya kerja, Ahad pun saya sibuk. Jadi tidak ada waktu buat anak-anak.”

Nah, kita jangan seperti itu. Kita harus punya waktu buat anak-anak. Kalau kita punya jadwal bisa makan bareng, itu alhamdulillah. Kebersamaan anak-anak itu perlu. Perlu.

Bahkan kalaupun anak-anak main, kita duduk saja misalnya — anak-anak main apa saja di depan kita. Kita mungkin tidak ngobrol sama mereka, duduk saja bersama mereka — itu mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Bahwasanya papi atau abi sedang bersama kita. Mereka main-main. Kita duduk saja di kursi, nonton mereka. Mereka sudah bahagia. Tidak usah komentar — komentar bikin masalah. Nonton saja. Nonton saja. Mereka ribut sana, lempar sana, lempar sini — nonton saja. Itu sudah membuat mereka bahagia.


Kebersamaan Fisik Sangat Penting

Maka apalagi kalau anak kita di pondok — tiap hari kita berusaha ketemu. Betapa banyak anak — apalagi ketika mereka masih di marhalah 10 tahun ke bawah — mereka rindu ciuman orang tua. Ketika ayahnya pulang sore hari, mereka menunggu:

“Abi!”

Saatnya kita bilang: “Iya, Nak.” Kita peluk sebentar, 5 menit, 10 menit — selesai. Tapi kalau kita sudah pulang jam 5 sore, ditunggu anak-anak, terus:

“Eh, Abi sibuk. Abi sibuk, sebentar — belum selesai ada WhatsApp ada…”

Benar-benar anak-anak jadi kecewa — sehingga tidak ada waktu kebersamaan.

Jadi selain kita harus pandai untuk mendengar, kita harus punya waktu untuk dekat secara fisik. Secara fisik ya. Memanfaatkan hari libur seperti Sabtu Ahad, terutama libur semesteran, libur kuliah, libur ketika pondok. Ini kesempatan. Ramadan misalnya ada kesempatan buka bersama — kita sisihkan waktu untuk bisa bersama mereka. Bahkan kalaupun mereka sudah menikah, ada waktu kumpul bareng-bareng ya.

Sebagian ulama — saya beberapa kali berkunjung ke rumah mereka — selalu kumpul anak-anaknya, cucu-cucunya datang semua. Jadi ada waktu kebersamaan — sehingga anak-anak merasa dekat dengan kita.


Metode Ketiga: Diskusi

Yang ketiga, di antara metode agar kita dekat dengan anak-anak — yaitu metode diskusi. Diskusi.

Kita berusaha menghidupkan diskusi. Jadi kita bukan sekadar mendidik mereka secara satu arah, tapi kita juga berusaha menjadi kawan bagi mereka. Ini terutama sangat penting ketika marhalah dewasa. Kita diskusi dengan mereka.

Anak-anak ketika remaja ingin menunjukkan jati dirinya di hadapan orang tuanya. Dan kita berusaha menghargai hal tersebut — maka kita berusaha bisa menumbuhkan hubungan diskusi dengan anak-anak, dan itu terkadang sangat bermanfaat.

Jangan sangka anak-anak itu bodoh seperti bapaknya. Tidak. Anak-anak sekarang pintar-pintar. Mereka punya pandangan-pandangan yang terkadang kita tidak tahu. Bahkan saya sendiri sering diskusi sama anak saya. Mereka punya ide-ide, mereka punya pandangan.

Misalnya saya bicara tentang sesuatu — anak saya bilang: “Enggak, kita tidak begitu Abi, atau anak sekarang tidak begitu.” Kita tidak ngerti. Dia ngerti tentang kondisi remaja zaman sekarang, kondisi adik-adiknya, kondisi akhwat remaja zaman sekarang, kondisi ikhwan remaja zaman sekarang — yang kita tidak bisa kiaskan dengan zaman dahulu. Dengan diskusi tersebut membuka cakrawala dengan anak-anak.


Teladan dari Al-Qur’an: Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Bahkan kalau kita lihat contoh dalam Al-Qur’an, ada tanya jawab antara nabi dan anaknya — seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya, dia tidak langsung datang menyembelih. Dia diskusi terlebih dahulu:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“Wahai putraku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu — dan sebagaimana kita ketahui, mimpi Nabi adalah wahyu — bagaimana menurutmu?”10

Padahal Ibrahim tetap harus menyembelih Ismail tanpa perlu persetujuan dari Ismail ‘alaihissalām. Tetap Ibrahim harus menyembelih. Tapi dia tidak begitu. Ibrahim ‘alaihissalām tetap mengajak diskusi.

Di antara faedah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullāh: Ibrahim ‘alaihissalām pernah diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan putranya di Makkah — dia harus berpisah. Dan ini membuat jarak antara ayah dan anak. Makanya ketika Ibrahim pergi, Hajar berkata: “Apakah kau diperintahkan Allah untuk ini?” Kata Ibrahim: “Ya.” Ya, saya harus menaruh Ismail di sini — ternyata agar keluar dari keturunannya Nabi Muhammad ﷺ, dari keturunan Nabi Ismail.

Tetapi Ibnu Hajar menyebutkan dalam sebagian riwayat — Ibrahim ‘alaihissalām sering menjenguk Ismail semampunya. Ada yang mengatakan beliau naik Buraq bolak-balik dari Syam ke Hijaz. Syam ke Hijaz — ada waktu untuk menjenguk anaknya. Sehingga timbul kedekatan, meskipun dia tinggal jauh. Sebisanya beliau bertemu. Maka saking dekatnya dengan anaknya — meskipun jarang bertemu — ketika ada perintah, beliau pun berdiskusi kepada putranya.

Maka Ismail menjawab:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahanda, lakukanlah yang Allah perintahkan padamu. Engkau akan mendapatiku insyaAllah termasuk orang-orang yang sabar.”11

Jadi anak merasa dihargai. Dan saya katakan tadi — anak ketika remaja ingin diakui, ingin menunjukkan jati dirinya. Dia tidak mau lagi seakan-akan dipenjara oleh ayah dan ibunya. Saatnya dia ingin memberontak. Ketika dia ingin memberontak, saatnya kita diskusi — sehingga dia merasa kita menghargai dia:

“Kau sudah besar. Makanya Abi ajak kau diskusi.”

Ajak dia berpikir. Kalau dia ada salah berpikir, kita arahkan. Kalau kita salah, dia bisa arahkan. Ketika dia merasa dihargai, dia akan mengerahkan akal pikirannya untuk mencari solusi yang terbaik.

Jangan sepelekan anak-anak. Apalagi mereka sudah remaja umur 20-an — mereka punya kemampuan untuk mencari solusi sesuai kondisi remaja zaman sekarang. Ayo diskusi, ngobrol, diskusi.


Teladan dari Al-Qur’an: Nabi Yakub

Bahkan dalam Al-Qur’an, ketika Nabi Yakub ‘alaihissalām mau meninggal, dia pun berdiskusi dengan anak-anaknya:

مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي

“Apa yang kalian sembah setelahku?”12

Diskusi, tanya. Maka mereka mengatakan:

نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail, dan Ishak — Tuhan Yang Maha Esa. Dan kami tunduk kepada-Nya.”13

Jadi ini diskusi ya. Diskusi.


Diskusi Tentang Hal-Hal yang Aneh Sekalipun

Bahkan ketika sang anak sudah tertarik untuk berdiskusi — kalau sudah dekat — anak-anak terkadang mengajak diskusi tentang perkara yang aneh-aneh. Misalnya:

“Bi, Bi, ada konser — gimana menurut Abi?”

Diskusi aneh-aneh. Tapi ya, dengar saja.

Lihat bagaimana dalam hadis: ada seorang pemuda datang kepada Nabi meminta izin untuk berzina. Kenapa dia bisa tanya kepada Nabi tentang maksiat? Karena dia merasa Nabi dekat. Dia tahu Nabi adalah sosok yang bukan pemarah. Makanya dia datang dan berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا

“Ya Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina.”

Kalau Nabi pemarah, mungkinkah dia meminta izin kepada Nabi? Tidak mungkin. Kenapa dia berani datang? Karena dia tahu Nabi adalah murabbi, adalah pendidik yang mau mendengar, yang siap untuk diajak diskusi.

Maka orang-orang sekitar berteriak kaget. Rasulullah mengatakan:

ادْنُهْ

“Dekat sini.”

Subhanallah. Rasulullah menyuruh mendekat. “Jangan jauh-jauh, sini ngobrol. Tidak usah peduli orang teriak-teriak — sini sini.”

Kalau Nabi adalah orang yang temperamental, tentu pemuda itu takut. Tetapi dia malah mendekat. Jadi harus ada kedekatan — sehingga timbul diskusi. Kalau dia takut sama kita, dia tidak bisa mengutarakan isi hatinya. Tapi kalau dia merasa dekat, dia akan menyampaikan — terserah nanti kita arahkan, mau kita salahkan, mau kita benarkan.

Maka anak muda itu berkata: “Izinkanlah aku untuk berzina.” Rasulullah mengatakan: “Dekatlah.”

Maka Rasulullah mengatakan:

أَتُحِبُّهُ لِبِنْتِكَ؟

“Apakah kau suka kalau zina dilakukan kepada putrimu?”

Kata dia: “Tentu saya tidak.” Kata Nabi:

كَذَلِكَ النَّاسُ لَا يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ

“Orang-orang pun tidak mau kalau putri mereka dizinai.”

Kemudian Rasulullah menanya:

أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟

“Apakah kau suka kalau zina dilakukan kepada ibumu?”

Kata dia: “Tidak.” Demikian juga orang-orang tidak suka kalau ibu mereka dizinai.

“Apakah kau suka kalau zina dilakukan kepada adik perempuanmu, kakak perempuanmu?” Kata dia: “Tidak.” Demikian juga orang-orang tidak suka kalau kakak atau adik perempuan mereka dizinai.

“Apakah kau suka kalau zina dilakukan kepada tanteemu?” Kata dia: “Tidak.” Orang-orang pun tidak suka jika tante mereka dizinai.

“Apakah kau suka kalau zina dilakukan kepada bibimu?” Kata dia: “Tidak.” Demikian juga orang-orang tidak suka jika bibi mereka dizinai.

Maka dia pun sadar. Rasulullah bahkan ketika berdiskusi dengan pemuda ini — tidak mengajak ngobrol secara syar’i. Rasulullah tidak berkata: “Bukankah Allah berfirman

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

‘janganlah kalian mendekati zina’?” Tidak. Rasulullah tidak berbicara tentang siksa di alam barzakh. Kenapa? Karena pemuda beda. Dia harus diajak bicara dari sisi yang lain — diajak berpikir. Karena dalil syar’i haramnya zina sudah jelas. Berarti dia harus diajak diskusi dari sisi lain.

“Ajak berpikir: gimana kalau zina itu terjadi pada ibumu? Karena yang akan kau zinai tentu wanita. Dan wanita itu pasti — kalau bukan ibunya orang, ya putrinya orang, adiknya orang, kakaknya orang, tantenya orang, bibinya orang.”

Kalau kau tidak rida hal itu terjadi pada kakakmu, adikmu, ibumu, putrimu — maka jangan lakukan pada orang lain.

Maka akhirnya dia pun berhenti. Maka Rasulullah ﷺ meletakkan tangan di dadanya dan mendoakannya:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

“Ya Allah, bersihkanlah hatinya dan jagalah kemaluannya.”14

Maka jadilah zina adalah perkara yang paling dia benci — selain didoakan oleh Nabi, dia punya pandangan bahwa perbuatan ini efeknya bisa menzalimi ibunya orang, putrinya orang, tantenya orang. Nabi mengajak berpikir.


Pelajaran dari Kisah Pemuda Tersebut

Terkadang namanya anak muda — dia tidak mengerti kenapa sesuatu dilarang. Nah, itu kita yang kasih pengertian kenapanya — itu yang penting. Bukan kita marah, kita hantam, kita pukul, kita belenggu, kita ikat. Dia perlu dipahamkan.

Terkadang kita tidak perlu bicara secara agama. Rasulullah ketika bicara sama pemuda ini tidak menggunakan dalil syar’i. Rasulullah menggunakan pembahasan dari sisi yang lain — diajak berpikir.

Nah, diskusi ini sangat penting. Dalam hidup ada tantangan-tantangan kehidupan. Kalau kita mengajak anak diskusi, mereka merasa dihargai dan dihormati. Dan kalau ada masalah, mereka akan diskusi dengan kita: “Bi, bagaimana begini?”

Bahkan saya katakan tadi — bisa jadi dia mengajak diskusi pada perkara yang buruk:

“Bi, ini ada konser namanya Kpop. Ini jarang-jarang di Cilegon, di Serang jarang-jarang. Gimana Bi, ada tiket 1 juta — saya beli atau tidak?”

Nah, ah. Kita bilang: “Ngawur kamu!” [tertawa]

Tapi kita tetap diskusi apa saja. Diskusi. Pokoknya diskusi. Artinya sampai pada perkara yang mungkin buruk pun dia tanya kepada kita — berarti dia dekat dengan kita. Ini membuka kedekatan yang luar biasa antara orang tua dengan anak.

Sangat penting, sangat luar biasa. Harus kita latih meskipun mereka masih kecil. Mulai dari SD — kapan anak sudah bisa diajak ngobrol, kita mulai biasakan dia diskusi sehingga dia ingin tahu pendapat kita. Ngobrol, diskusi, diskusi — dan kita kasih arahan-arahan.

Apalagi mereka sampai kuliah. Sampai kalau mereka ingin menikah, mereka akan diskusi: “Bi, gimana ini ada calon begini-begini?” — diskusi ya. “Coba tanya ibumu gimana.” Kita diskusi. Kalau sudah seperti itu, itu sangat luar biasa. Sangat luar biasa.

Dan saya katakan — jangan sepelekan anak-anak dalam diskusi tersebut. Terkadang mereka menyampaikan solusi-solusi yang di luar nalar kita. Kenapa? Karena kita tidak ngerti kondisi sekarang. Mereka ngerti kondisi anak-anak muda ya.


Contoh Nyata: Anak yang Lebih Ngerti

Saya mau menyampaikan satu contoh diskusi kecil tapi luar biasa — menunjukkan bahwa anak-anak lebih ngerti tentang anak muda.

Ketika terjadi pemilihan presiden, saya ngobrol sama anak saya Abdul Muhsin:

“Cin, menurut Ucin siapa yang menang?”

“Ya Pak Jokowi lah.”

“Ah, Pak Jokowi ngapain naik-naik motor?” — saya bilang begitu. “Naik motor itu kayak apaan?”

“Itu menurut Abi. Menurut anak-anak muda, itu menyenangkan, Bi.”

Benar juga katanya. Mungkin bagi kita — perbuatan seperti itu, Pak Jokowi naik motor Harley bikin video — bagi kita mungkin konyol. Tapi bagi anak saya yang masih muda, itu top, itu cara yang tepat. Karena anak-anak muda suka seperti itu. Ternyata benar.

Ternyata pikiran orang yang lebih tua bisa kalah sama pikiran anak SMA. [tertawa]

Kenapa? Oh, hal-hal sepele kadang-kadang banyak terjadi. Dalam hal-hal kita tanya tentang adik-adiknya, tentang macam-macam.

Jadi jangan tutup pintu diskusi — apalagi anak itu sudah remaja. Dia akan punya pandangan-pandangan. Kalau dia salah, kita perbaiki. Kalau kita salah, dia bisa luruskan: “Enggak begitu, Bi. Tidak begitu — begini. Kayaknya begini ya.”

Karena bukan kita bodoh — tapi ada banyak perkara yang tidak kita ketahui. Tadi sudah disebutkan: ada perbedaan zaman antara zaman dulu dengan zaman sekarang. Itu harus kita ngerti.


Metode Keempat: Menghadapi Masa Pembangkangan Remaja

Nah, ini sangat berat. Sangat berat. Ketika menghadapi anak-anak yang tiba-tiba menunjukkan jati dirinya dengan pembangkangan. Sebagian anak muda seperti itu — membangkang. Kenapa? Karena dia ingin menunjukkan jati dirinya.

Maka dia pakai baju yang mungkin tidak lazim ya. Seperti zaman dahulu mungkin kalau pakai celana sampai di lutut itu kurang layak. Tapi zaman sekarang sudah biasa. Dia ingin bergaya. Dia ingin begini, pengin begitu. Selama tidak melanggar syariat — bagi kita mungkin aneh, tapi sudah, kita harus ngerti: zaman berubah.

Terkadang dia ingin membuktikan kepada teman-temannya: “Saya berani merokok.” “Saya berani begini.” Ah, ini marhalah yang sangat berbahaya — di mana anak-anak ingin menunjukkan jati diri, tapi dengan hal-hal yang menyimpang dan melanggar.

Maka kita harus menghadapinya dengan benar-benar ekstra hati-hati dan banyak doa. Banyak doa. Banyak doa.


Jangan Perangi Anak-Anak

Saran saya: jangan angkat perang dengan anak-anak. Jangan perangi anak-anak. Jangan angkat senjata untuk menembak anak-anak. Anak-anak ini kalau kita tembak — bisa mati, atau bisa tambah amburadul, tambah kacau, tambah hancur-hancuran.

Maka saat itu kita harus banyak doa. Kemudian yang kedua: kita harus banyak mengalah. Harus banyak mengalah. Tidak bisa sempurna kita dapatkan.

Ada seorang syekh yang berilmu — tahu-tahu dia mendapati anaknya malam-malam nonton bola. Namanya syekh — aduh, nonton bola ya. Tapi bagi mereka itu hal biasa. Mau dimarahi gimana ya? Syekh tersebut akhirnya duduk bareng sama anaknya nonton bola — diskusi, ngobrol — bagaimana, yang mana ya — terpaksa. Sehingga tetap kedekatan dijaga. Kedekatan dijaga.

Kalau dia pakai baju yang dianggap aib, kita marah — dia malah tambah memberontak:

“Ah, mama nyuruh-nyuruh. Emangnya semua orang juga?”

Ah, itu dia mulai membangkang. Kita harus tahu: dia sedang menunjukkan dan membuktikan bahwa dia sudah dewasa. Ini sangat berbahaya.

Mudah-mudahan anak-anak tidak begitu. Mudah-mudahan. Tetapi ada anak-anak yang begitu. Maka tidak semua harus kita hadapi dengan membentak dan marah. Ada hal-hal yang harus kita toleransi.

Di sinilah kita menggunakan kaidah:

اِرْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ لِدَفْعِ الضَّرَرِ الْأَكْبَرِ

“Kita menempuh kemudaratan yang lebih ringan dalam rangka untuk menolak kemudaratan yang lebih besar.”15


Jangan Awasi 24 Jam

Terkadang ada hal yang kita pura-pura tidak tahu. Pura-pura tidak tahu. Anak-anak tidak suka kalau merasa diawasi 24 jam. Apalagi kita pasang CCTV: “Nak, CCTV ya.”

Anak-anak seperti ini — kapan dia merasa bebas dari CCTV, dia akan rusak serusak-rusaknya.

Maka di antara fenomena yang buruk yang muncul akhir-akhir ini: anak-anak keluaran pondok kemudian kuliah — lalu serusak-rusaknya. Karena selama ini di pondok diawasi seperti penjara 24 jam. Sehingga dia mengatakan: “Pondok adalah penjara suci.” Sekarang dia baru keluar dari penjara — sehingga dia ingin merdeka.

Ini hati-hati. Fenomena ini banyak terjadi. Saya beberapa kali didatangi oleh orang tua atau ada yang menceritakan: “Ustaz, kemarin di pondok luar biasa, sekarang tahu-tahu begini, tahu-tahu begini.” Ada yang buka jilbab, ada yang nakal, ada yang pacaran — macam-macam.

Ada pula yang pondoknya ikut terbawa — masuk ke kamar sebelah yang ternyata penghuninya berbuat zina, berteriak-teriak, dia dengar. Tidak biasa. Akhirnya dia pulang. Ada yang kepo ingin tahu — malah ngeri.

Maka anak-anak tidak bisa kita kamerain 24 jam. Kita serahkan mereka kepada Allah:

“Sudah, kamu sama Allah ya.”

Jadi kadang-kadang kita pura-pura tidak tahu. Anak-anak punya marhalah. Sampai terkadang mereka ketika pernah menghadapi masalah-masalah seperti kenakalan, kemudian mereka lewati — mereka lebih tegar, mereka lebih kuat.


Melatih Anak Menghadapi Godaan

Ada kawan yang protes: “Ustaz, saya mau keluarkan anak saya dari sekolah tertentu. Karena sekolah tersebut santri-santrinya bawa HP.”

Saya bilang: “Benar, itu salah satu tindakan preventif — kau jauhkan anakmu dari kondisi seperti itu.” Tapi ada alternatif yang kedua: “Kau latih anakmu untuk bisa menghadapi orang seperti itu tanpa harus keluar dari pondok. Karena kalau dia tidak menghadapi tantangan sekarang, dia akan menghadapi tantangan di luar pondok nanti. Tapi kalau dia bisa menghadapi tantangan sekarang, insyaAllah nanti dia tidak terpengaruh — meskipun teman-temannya nakal, dia bisa tegar.”

Akhirnya dia pilih alternatif yang kedua. Kasih tahu anaknya: “Sabar, itu godaan. Ini godaan.”

Tentunya anak beda-beda dan kondisi sekolah juga beda-beda. Tapi maksud saya: kalau anak-anak lagi ingin menunjukkan ini begitu — kita harus pandai-pandai. Kadang-kadang kalau kita terlalu keras, dia pun akan kabur — sehingga terputuslah komunikasi kita dengan dia dan dia mencari alternatif lain. Itu sangat berbahaya.

Maka kalau bahasa kita: “Anaknya ada masa remajanya.” Masa remajanya kita arahkan — tapi bukan jadi kamera CCTV 24 jam. Ada saatnya kita serahkan mereka antara mereka dengan Allah. Kita hanya banyak doa. Karena kalau kita terus menekan, mereka akan meledak. Wallahu a’lam biṣ-ṣawāb.


Metode Kelima: Mengajak Anak Memikirkan Problematika Bersama

Berikutnya — yang bisa menumbuhkan kedekatan antara kita dan anak-anak — adalah bersama-sama memikirkan perkara-perkara kehidupan dengan anak-anak.

Ada masalah apa, ayo kita pikirkan bersama. Misalnya masalah ekonomi — kita panggil anak: “Ini Abi lagi tidak ada penghasilan. Bagaimana kira-kira ya?” Dengan dekat begitu, dia mengerti kondisi kita, dia mengerti kondisi ibunya. “Solusinya gimana ya?” Mereka mungkin bilang: “Sabar ya Bi, sabar…”

Jadi ada masalah-masalah, kita ajak anak-anak berdiskusi. Itu penting. Penting. Misalnya kita panggil: “Adik kalian nomor ini ada masalah di sekolah, bagaimana menurut kalian?” Jadi ada kedekatan. Dia tahu ada masalah-masalah — selalu diajak untuk diskusi.

Jadi kita yang mengajak mereka diskusi — tidak hanya menunggu mereka yang mengajak kita. Kita yang mengajak mereka untuk diskusi dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Efeknya luar biasa. Kedekatan kita dengan anak-anak sangat cepat dan sangat kuat — karena merasa kebersamaan. Istilahnya: senang bareng, susah bareng, bersama-sama memikul beban yang sama.

Jadi mereka ikut memikirkan, merenungkan. Sebagian orang tua berkata: “Anak-anak tidak usah mikir tentang kesusahan saya.” Itu oke dalam satu sisi. Dalam sisi yang lain — perlu juga anak-anak dididik sejak kecil tentang adanya problematika kehidupan. Sehingga mereka sejak remaja sudah tahu namanya problematika kehidupan — agar mereka tangguh dan tegar ketika mereka sendiri yang menghadapinya di kemudian hari: dalam rumah tangga mereka, dalam ekonomi mereka.


Manfaat Mengajak Anak Berpikir

Jadi menurut saya di antara sebab utama kita dekat dengan anak-anak adalah kita mengajak mereka ikut berpikir.

Tentunya ada hal-hal yang mungkin tidak bisa mereka pikirkan — dan ada yang bisa kita ajak mereka untuk ikut memikirkan. Tentunya ketika umur mereka sudah cukup. Jangan masih SD kita sudah bilang: “Nak, Abi lagi tidak ada penghasilan.” Mereka tidak mengerti. Tapi kalau sudah SMP sudah ngerti, SMA sudah ngerti.

Sehingga dia tahu ayahnya ada masalah. Suatu saat ayahnya tidak bisa membelikan hadiah, tidak bisa mengajak jalan-jalan — dia ngerti. Bahkan mungkin dia yang bisa mengatakan: “Ayah, sabar. Kami tidak apa-apa kok.”

Mengajak anak-anak untuk berpikir dalam menghadapi permasalahan — bahkan permasalahan terkait adiknya, permasalahan terkait neneknya. Kadang timbul masalah antara kita dengan orang tua kita — sehingga kita ajak dia berpikir menghadapi neneknya. Bisa jadi. Atau terkadang ayahnya yang ada masalah, ibunya ajak ngobrol: “Nak, bapakmu sekarang begini-begini, menyimpang — bagaimana?” Dia pun ikut memikirkan. Atau sebaliknya.

Dan itu sangat membuat kita dekat dengan anak-anak. Sangat membuat kita dekat. Mengajak mereka ikut memikirkan hal-hal yang penting dalam kehidupan — sehingga sama-sama berpikir, mereka juga ikut memikul beban problematika kehidupan, mereka juga terlatih dan terbiasa.


Hikmah di Balik Ujian Keluarga

Saya katakan — terkadang Allah mentakdirkan suatu rumah tangga ada permasalahan, dan ada kebaikan di balik itu: anak-anak menjadi dewasa. Anak-anak dewasa karena sudah terbiasa menghadapi masalah. Ada yang permasalahan rumah tangga justru membuat mereka hancur — kalau orang tua tidak pandai menanganinya. Tapi kalau orang tua pandai menanganinya dengan izin Allah, dengan taufik dari Allah — justru anak-anak itu kuat. Mereka malah bisa terdidik, sudah terbiasa dengan kondisi berat. Sehingga nanti di kemudian hari, kalau ada masalah — bagi mereka ringan, karena mereka sudah terbiasa.

Makanya saya dapati sebagian orang — ketika keluarganya broken home — justru tidak menjadi anak nakal. Ada yang ketika mendapat pendidik yang baik, justru dia tegar menghadapi masalah yang dihadapi orang tuanya. Dia malah dewasa sebelum waktunya. Sehingga di kemudian hari dia kuat menghadapi masalah. Kenapa? Karena dia sudah terlatih sejak masih kecil. Ada yang seperti itu — itu hikmah Allah. Kita tidak tahu.


Penutup

Ini mungkin di antara hal-hal yang bisa saya sampaikan.

Intinya ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhānahu wa Ta’ālā — kedekatan kita dengan anak-anak harus kita pupuk dan kita jaga. Dan itu manfaatnya besar bagi kita dan bagi mereka, di dunia maupun di akhirat.

Wallāhu Ta’ālā a’lam biṣ-ṣawāb.

Demikian saja yang saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf.

وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Catatan Kaki

Footnotes

  1. HR. Bukhari (no. 6424), dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Allah menamakan anak sebagai tsamaratu fu’ād (buah hati) — karena cinta orang tua kepada anaknya. ↩
  2. QS. Al-Kahf (18): 46. ↩
  3. QS. Al-Furqān (25): 74. ↩
  4. HR. Muslim (no. 1631), dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Hadis lengkapnya: “Idza māta al-insānu inqaṭa’a ‘amaluhu illā min tsalāts: ṣadaqatin jāriyah, aw ‘ilmin yuntafa’u bih, aw waladin ṣāliḥin yad’ū lah.” — “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” ↩
  5. QS. Al-Syu’arā’ (26): 88–89. ↩
  6. QS. Ṭāhā (20): 132. ↩
  7. QS. Al-A’rāf (7): 204. ↩
  8. HR. Abu Dawud (no. 2549) dan Ahmad (no. 12613), dari Abdullah bin Ja’far radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Abi Dāwūd. ↩
  9. HR. Ahmad (no. 17330) dan Ibnu Hibban (no. 4032), dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallāhu ‘anhu, dengan lafaz lengkap: “Arba’un minas sa’ādah: al-mar’atus ṣāliḥah, wal maskanus wāsi’, wal jāruṣ-ṣāliḥ, wal markabus hanī’. Wa arba’un minas syaqāwah: al-jar al-sū’, wal mar’atus sū’, wal maskanud dayyiq, wal markabus sū’.” Dishahihkan Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi’ (no. 887). ↩
  10. QS. Al-Ṣāffāt (37): 102. ↩
  11. QS. Al-Ṣāffāt (37): 102. ↩
  12. QS. Al-Baqarah (2): 133. ↩
  13. QS. Al-Baqarah (2): 133. ↩
  14. HR. Ahmad (no. 22211), dari Abu Umamah radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah al-Aḥādīth al-Ṣaḥīḥah (no. 370). ↩
  15. Kaidah fikih: “Idzā ta’āraḍa mafsadatāni rū’iya a’ẓamuhumā ḍararan bi irtikābi akhaffihimā” — “Jika dua kemudaratan bertentangan, maka perhatikanlah yang lebih besar bahayanya dengan mengambil yang lebih ringan.” Lihat: Al-Suyuṭī, al-Asybāh wa al-Naẓā’ir, hal. 87. ↩
Share214Tweet134Send

Related Posts

No Content Available

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

April 15, 2026
Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

April 15, 2026
Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

March 2, 2026
Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

SIFAT-SIFAT ISTRI SALIHAH

March 2, 2026

Website resmi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Dikelola oleh tim IT resmi Ustadz Firanda Official.

About

  • About Us
  • Site Map
  • Contact Us
  • Career

Policies

  • Help Center
  • Privacy Policy
  • Cookie Setting
  • Term Of Use

Join Our Newsletter

Copyright © 2025 by UFA Official.

Facebook-f Twitter Youtube Instagram

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Support Forum
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2025 Firanda Andirja - Menebarkan cahaya tauhid & sunnah.