Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
Home MANHAJ

Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

Admin UFA by Admin UFA
April 15, 2026
in MANHAJ
Reading Time: 28 mins read
0
Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=IVg54Hf70ow&t=837s

Pembuka

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Related Post

Ternyata Syaikh –hafidzohulloh- Bisa Salah Vonis !!

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 10)? – Tanggapan untuk Al-Ustadz bag 2

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 9)? – Tanggapan Buat Al-Ustadz Dzulqornain hafizohulloh

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 8)? – Gelaran-Gelaran Indah Ustadz Dzulqarnain

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

Hadirin hadirat yang dirahmati oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang jalan Nabi dan jalan para sahabat yang Allah Subhānahu wa Ta’ālā isyaratkan dalam firman-Nya:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas ilmu, aku beserta orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”1

Orang-orang yang mengikuti Nabi yang dimaksud dalam ayat ini adalah para sahabat — mereka juga berdakwah bersama Nabi ﷺ.


Bagian I: Hadis Iftiraq al-Ummah dan Golongan yang Selamat

Jalan Nabi dan para sahabat inilah yang datang dalam hadis tentang iftirāq al-ummah — tentang terpecah-pecahnya umat ini. Kata Nabi ﷺ:

تَفْتَرِقُ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفْتَرِقُ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan — semuanya di neraka kecuali satu.”2

Maka para sahabat bertanya:

مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ / مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟

“Siapa kelompok yang selamat itu, wahai Rasulullah?”

Dalam riwayat, Nabi ﷺ menjawab:

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Yaitu orang-orang yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini.”3

Inilah jalan keselamatan — jalan yang ditempuh oleh Nabi, dan diperinci lebih jelas lagi oleh para sahabat. Jalan inilah yang dikenal dengan Manhaj al-Salaf, yang kemudian diikuti oleh generasi berikutnya yang dikenal dengan al-qurūn al-mufaḍḍalah — generasi yang dimuliakan oleh Nabi ﷺ:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian yang setelah mereka (tabi’in), kemudian yang setelah mereka (tabi’ al-tābi’in).”4


Bagian II: Pujian Ibnu Mas’ud terhadap Para Sahabat

Ibnu Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu memuji para sahabat dengan perkataan yang indah. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, beliau berkata:

إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ ﷺ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ. ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ

“Sungguhnya Allah memandang hati-hati para hamba. Maka Allah mendapati hati Muhammad adalah hati yang terbaik dari seluruh manusia. Maka Allah pilih Muhammad untuk diri-Nya dan Allah utus dia dengan mengemban risalah-Nya. Kemudian Allah melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Rasulullah. Maka Allah mendapati hati para sahabat adalah hati yang terbaik di antara hamba-hamba Allah. Maka Allah jadikan mereka sebagai penolong-penolong Nabi-Nya.”5

“Para sahabat berperang dalam rangka membela agama Muhammad ﷺ. Maka apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin — yaitu apa yang dipandang baik oleh para sahabat — maka di sisi Allah juga baik. Dan jika sesuatu dipandang buruk oleh sahabat, maka itu juga buruk di sisi Allah. Kenapa? Karena Allah telah memilih mereka.”

Ini adalah pujian Ibnu Mas’ud terhadap para sahabat Nabi — bahwasanya mereka adalah orang-orang terpilih. Allah telah memilih Nabi Muhammad sebagai manusia terbaik, dan Allah memilih sahabat-sahabat terbaik untuk menyertai beliau.

Demikian juga Ibnu Mas’ud berkata:

مَنْ كَانَ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ

“Siapa yang ingin mencontoh, maka contohilah yang sudah meninggal dunia. Karena yang masih hidup tidak aman terkena fitnah.”

Tidak ada yang aman — mau ustaz, mau ulama, apalagi ustaz. Ulāika aṣḥābu Muḥammadin ﷺ — siapa yang hendaknya kita contohi? Merekalah para sahabat Nabi ﷺ yang kondisi meninggalnya sudah ditazkiyah dan direkomendasikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

كَانُوا أَفْضَلَ هَذِهِ الْأُمَّةِ، أَبَرَّهَا قُلُوبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا

“Mereka adalah generasi terbaik umat ini. Hatinya paling baik, ilmunya paling dalam, dan paling sedikit membebani diri — tidak membuat-buat ibadah baru.”

Allah telah memilih mereka untuk menegakkan agama Muhammad ﷺ.

فَاعْرِفُوا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوهُمْ، وَتَمَسَّكُوا بِمَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ أَخْلَاقِهِمْ وَسِيَرِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيمِ

“Maka kenalilah kemuliaan mereka. Dan ikutilah para sahabat, tapaki jejak mereka. Hendaknya kalian berpegang teguh semampu kalian dari akhlak mereka dan perjalanan mereka. Sesungguhnya mereka di atas petunjuk yang lurus.”6


Bagian III: Definisi Sahabat dan Tabi’in

Siapakah Sahabat? Definisi sahabat adalah:

مَنْ لَقِيَ النَّبِيَّ ﷺ وَهُوَ مُسْلِمٌ وَمَاتَ عَلَى الْإِسْلَامِ، سَوَاءٌ طَالَتْ صُحْبَتُهُ أَمْ قَلَّتْ

“Orang yang pernah bertemu dengan Nabi ﷺ dalam kondisi muslim, dan kemudian meninggal dalam kondisi muslim — baik bersahabat dengan Nabi dalam waktu yang panjang ataupun sebentar.”

Disebutkan “bertemu” dan bukan “melihat” agar orang-orang yang tidak bisa melihat pun bisa masuk dalam kategori sahabat. Sebagian sahabat ada yang tidak bisa melihat Nabi ﷺ, seperti Abdullah bin Ummi Maktum — muadzin Rasulullah yang buta — namun beliau tetap disebut sahabat karena pernah bertemu dengan Nabi ﷺ.

Adapun Tabi’in adalah orang yang bertemu dengan sahabat dalam kondisi beriman dan meninggal dalam kondisi beriman. Ada yang di zaman Nabi ﷺ pernah bertemu Nabi tetapi tidak beriman — setelah Nabi meninggal baru beriman — ini bukan sahabat. Ada pula yang disebut Mukhadram: orang yang beriman di zaman Nabi namun tidak pernah bertemu secara fisik dengan beliau — ini juga bukan sahabat.

Kemudian beliau menyampaikan sebuah ilustrasi: “Saya pernah di kapal bertemu seseorang yang mengaku nabi. Dia bilang, ‘Sudah lama saya sembunyikan. Sekarang turun wahyu. Jibril telah datang kepada saya.’ Subhanallah — hampir jadi nabi, dan saya hampir jadi sahabat.”


Bagian IV: Pengorbanan Para Sahabat

A. Berhadapan dengan Kerabat

Para sahabat — terutama kaum Muhajirin — meninggalkan agama nenek moyang mereka. Akibatnya terjadi permusuhan dengan kerabat: ribut dengan bapak, ribut dengan anak, ribut dengan paman, ribut dengan kabilah mereka.

Di antaranya adalah Sa’d bin Abi Waqqash — ibunya mengancam akan bunuh diri jika Sa’d tetap memeluk Islam.7 Demikian pula Mush’ab bin Umair yang dimusuhi oleh ayah dan ibunya. Bahkan Nabi ﷺ sendiri berhadapan dengan permusuhan kaumnya, kaum Quraisy.

Allah berfirman kepada Nabi ﷺ:

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ

“Jangan kau bersedih atas kekufuran mereka.”8

Rasulullah ﷺ sangat ingin mereka beriman. Jangan kita sangka Rasulullah senang Abu Lahab kafir — tidak. Rasulullah sedih, karena Abu Lahab adalah pamannya. Jangan kita sangka Rasulullah senang orang Quraisy kafir — Rasulullah menginginkan mereka beriman. Makanya Rasulullah bertahan mendakwahi mereka. Kenapa? Karena mereka adalah kerabat Rasulullah ﷺ.

B. Meninggalkan Kampung Halaman dan Harta

Kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan harta — berpindah dari Makkah menuju Madinah. Yang tadinya punya rumah, yang tadinya punya harta, yang tadinya punya anak — harus ditinggalkan. Banyak di antara mereka jadi miskin mendadak.

Mereka tinggal di Shuffah — mulhaq atau tambahan di bagian belakang Masjid Nabawi. Cuma dikasih atasan tapi tidak ada sampingnya, sehingga mereka tidur di tanah, baju mereka kotor, mereka harus makan dengan jatah.

Sampai ketika Fatimah radhiyallāhu ‘anhā meminta pembantu dari Nabi ﷺ, beliau berkata: “Bagaimana saya mau kasih engkau pembantu wahai Fatimah, sementara Ashhāb al-Shuffah kelaparan? Lebih baik budaknya saya jual, uangnya saya belikan makanan untuk penduduk Shuffah.”

Sampai di antara mereka ada yang bajunya hanya satu, tidak berganti-ganti. Mereka benar-benar berkorban meninggalkan harta demi berhijrah di jalan Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

C. Berjihad Bersama Nabi ﷺ

Para sahabat berjuang bersama Nabi ﷺ melawan seluruh kaum musyrikin — bukan hanya Quraisy. Seluruh kabilah Arab memusuhi kaum muslimin: kabilah Ghaṭafān, Arab Badui, kabilah Hawāzin. Bahkan Romawi dan Persia ingin menghabiskan kaum muslimin.

Kalau kita baca kisah mereka, mereka berjalan sampai ratusan kilo. Sampai ada yang mengikat kakinya dengan kain — itulah sebabnya perang itu disebut Żāt al-Riqā’ — karena mereka mengambil kain untuk membungkus kaki mereka yang kukunya terlepas akibat berjalan di atas bebatuan cadas.

Bayangkan bagaimana Khālid bin Walid dalam perang Mu’tah, berjalan sekitar 1.000 km dari Madinah ke Mu’tah, membawa 3.000 orang — ternyata musuhnya 200.000 orang.

Pernah ada seseorang berkata: “Kalau kami hidup di zaman Muhammad, kami tidak akan membiarkan Muhammad berjalan — kami akan gendong beliau di pundak kami.” Maka dijawab: “Kau tidak tahu bagaimana kondisi zaman Nabi.” Lalu dikisahkan tentang perang Khandaq yang sangat mengerikan:

إِذْ جَاءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ

“Ketika musuh datang dari atas kalian dan dari bawah kalian.”9

Kaum muslimin hanya sekitar 1.500 orang, dikepung oleh 10.000 pasukan, ditambah kaum Yahudi sekitar 700 orang di dalam kota Madinah. Sampai kata Allah:

وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ

“Dan hati-hati (kalian) telah sampai ke kerongkongan.”10

Saking ketakutan dan deg-degannya. Maka jangan berkata: “Coba kalau saya di zaman Nabi, saya akan jadi pembela Nabi mengalahkan sahabat.” Jangankan zaman Nabi, zaman sekarang saja — sedikit saja ada masalah langsung buat status.

Lihatlah kisah Ja’far bin Abi Ṭālib dalam perang Mu’tah: beliau bertahan sampai ketika bendera jatuh, beliau pegang dengan tangan kirinya. Ketika terpotong, beliau pegang dengan kedua lengan atasnya sampai meninggal — dan ditemukan 80 bekas luka tombak, panah, dan pedang, semuanya di bagian depan. Tidak mundur satu jengkal pun sampai meninggal.

Juga kisah seorang sahabat dalam perang Badar — tangannya kena pedang hingga hampir lepas, hanya tergantung di kulitnya. Kata dia: “Ketika saya mulai kesakitan, saya injak tangan saya sendiri untuk melepaskannya.” Al-Dzahabi mengomentari kisah ini: “Inilah jagoan yang sesungguhnya.”

Belum kalau kita bicara tentang sedekah mereka, keikhlasan mereka, ketulusan mereka, keberanian mereka. Jangan heran — karena guru mereka adalah Rasulullah ﷺ.

D. Kesabaran dalam Kesulitan

Bagaimana mereka menggali Khandaq dalam kondisi kelaparan sampai mereka mengikat perut mereka dengan batu. Ternyata Nabi ﷺ pun mengikat perutnya dengan batu — kelaparan juga. Sampai Rasulullah melihat mereka kelaparan, lalu beliau bersabda:

اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ، فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَةِ

“Ya Allah, tidak ada kehidupan sungguhnya kecuali kehidupan akhirat. Ya Allah, rahmatilah kaum Ansar dan kaum Muhajirin.”11

E. Berinfak di Jalan Allah

Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq berinfak seluruh hartanya berkali-kali. Umar bin Khaṭṭāb berinfak setengah hartanya. Ketika Abu Bakar berinfak seluruh hartanya saat hijrah, datang bapaknya Abu Quhafah dan berkata kepada Asma’: “Bagaimana bapak kalian meninggalkan kalian tanpa harta sama sekali?” Maka Asma’ mengambil batu, melilit dengan kain, dan meletakkannya di tempat emas. “Masih ada, Kakek.” Padahal batu. Maksudnya ketika Abu Bakar berinfak, dia didukung oleh istrinya dan anak-anaknya.

Pada perang Tabuk, berkata Utsman radhiyallāhu ‘anhu:

عَلَيَّ بِمِائَةِ بَعِيرٍ بِأَحْلَاسِهَا وَأَقْتَابِهَا

“Saya yang tanggung 100 ekor unta dengan pelananya dan perlengkapannya.”

Kemudian berkata lagi: “Saya tanggung 100 lagi.” Dan berkata lagi: “Saya tanggung 300 unta dengan seluruh perlengkapannya.”

Maka kata Nabi ﷺ:

مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

“Setelah ini, Utsman mau berbuat apa pun, tidak ada masalah.”12

Bukan hanya yang kaya — yang miskin pun berusaha berinfak. Allah berfirman tentang orang-orang munafik yang mengejek sahabat yang berinfak sedikit:

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ

“Orang-orang munafik yang mencela kaum mukmin yang bersedekah dengan sukarela dan orang-orang yang tidak mendapati (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan mereka.”13

Para sahabat dalam kondisi susah tetap berusaha berinfak.

Rasulullah ﷺ pernah memuji Abu Bakar di depannya sampai Abu Bakar menangis. Kata beliau:

مَا نَفَعَنِي مَالٌ قَطُّ مَا نَفَعَنِي مَالُ أَبِي بَكْرٍ

“Tidak ada harta yang paling bermanfaat kepadaku seperti hartanya Abu Bakar.”

Maka Abu Bakar pun menangis dan berkata:

مَالِي وَلَا نَفْسِي إِلَّا لَكَ يَا رَسُولَ اللهِ

“Tidaklah hartaku dan bahkan jiwaku kecuali untuk engkau wahai Rasulullah.”14

Makanya Rasulullah menegur Khālid bin Walid yang mencela Abdurrahman bin ‘Auf. Padahal Khālid bin Walid adalah Saifullāh — pedang Allah. Namun Khālid masuk Islam tahun ke-8 Hijriah, sedangkan Abdurrahman bin ‘Auf masuk Islam sejak awal — beda 21 tahun. Maka Rasulullah menegur:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي

“Jangan kalian cela sahabatku.”

“Kalau salah seorang dari kalian punya emas sebesar Gunung Uhud — yang panjangnya 7–8 km, lebarnya 2–3 km, tingginya 100 m — kemudian dia infakkan di jalan Allah, tidak akan sama dengan infak sahabat yang hanya dua genggam gandum. Kenapa? Karena infak sahabat di awal Islam terkait langsung dengan berlangsungnya dakwah atau berhentinya dakwah.”15


Bagian V: Keutamaan Para Sahabat

A. Dalil dari Al-Qur’an

1. QS. Al-Anfāl: 64

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Wahai Nabi, cukuplah Allah bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.”16

Allah cukup bagi Nabi, dan Allah cukup juga bagi kaum mukminin — para sahabat. Ini janji bahwasanya Allah akan menolong para sahabat.

2. QS. Al-Anfāl: 62

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ

“Dialah yang menguatkan engkau wahai Muhammad dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum mukminin.”17

Di sini Allah menyebutkan imtinān — anugerah-Nya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, yang menolong engkau siapa? Aku langsung menolong engkau, dan Aku jadikan pula para sahabat untuk menolongmu.” Jadi para sahabat disediakan oleh Allah untuk menolong Rasulullah ﷺ.

3. QS. Al-Anfāl: 63

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ

“Dan Allah menyatukan hati mereka (kaum Muhajirin dan Ansar). Wahai Muhammad, kalau kau infakkan seluruh harta di muka bumi, kau tidak bisa menyatukan hati mereka. Akan tetapi Allah yang menyatukan mereka.”18

Ini di antara anugerah Allah kepada para sahabat — Allah jadikan hati mereka satu di atas kebenaran untuk menolong Rasulullah ﷺ.

4. QS. At-Tawbah: 20

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan diri mereka, mereka tinggi derajatnya di sisi Allah Subhānahu wa Ta’ālā.”19

5. QS. Al-Anfāl: 74

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad — demikian juga orang-orang yang mengayomi dan menolong (kaum Ansar) — mereka itulah orang-orang yang benar-benar imannya. Bagi mereka ampunan Allah dan rezeki yang mulia.”20

6. QS. Al-Anfāl: 75

وَالَّذِينَ آمَنُوا مِن بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنكُمْ

“Dan orang-orang yang beriman setelahnya dan berhijrah serta berjihad bersama kalian, maka mereka sama dengan kalian.”21

Allah memuji baik yang hijrah dan jihad di awal maupun yang hijrah dan jihad belakangan — seperti Abu Musa al-Asy’ari yang datang dari Yaman belakangan kemudian ikut berjihad.

7. QS. At-Tawbah: 88

لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Akan tetapi Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya berjihad dengan harta mereka dan diri mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kebaikan-kebaikan yang banyak dan mereka orang-orang yang beruntung.”22

8. QS. At-Tawbah: 100

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara kaum Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik — Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang agung.”23

Makanya menjadi syiar: kalau kita menyebut sahabat, kita ucapkan رَضِيَ اللهُ عَنْهُ — karena Allah sendiri yang mengatakan raḍiya Allāhu ‘anhum. Mereka juga dijamin masuk surga.

9. QS. Al-Fatḥ: 18

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ

“Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka membaiatmu di bawah pohon (Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka.”24

Di sini Allah tidak hanya merekomendasi fisik dan zahir mereka — Allah juga merekomendasi batin mereka. Allah tahu ketulusan hati mereka. Dan semua yang membaiat Nabi di bawah pohon Ridwan (Asḥāb al-Syajarah) dijamin masuk surga oleh Nabi ﷺ.

10. QS. Al-Fatḥ: 29

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang di antara sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud. Mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.”25

Allah memuji zahir mereka: kegiatan mereka rukuk sujud, ibadah. Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullāh pernah berkata — dan ini 26 tahun yang lalu: “Sekarang orang bicara dunia bukan cuma orang awam. Bahkan penuntut ilmu pun kalau ketemu, bicaranya tentang dunia.” Beda dengan sahabat — tarāhum rukka’an sujjadā.

Allah juga memuji keikhlasan mereka: yabtaghūna faḍlan minallāhi wa riḍwānā — mereka rukuk dan sujud bukan karena riya, tapi dalam rangka mencari karunia Allah dan keridhaan Allah.

Kemudian kata Allah: “Itulah perumpamaan mereka dalam Taurat” — menunjukkan sahabat bukan hanya dipuji di Al-Qur’an, tapi juga dipuji di Taurat. Dan dalam Injil:

كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ

“Seperti biji yang ditanam kemudian tumbuh, kemudian menguat, kemudian kokoh berdiri di atas batangnya, menyenangkan penanamnya.”26

Para ulama berkata: ini adalah perumpamaan tentang Rasulullah yang mendidik para sahabat — seperti seorang petani yang merawat bijinya pelan-pelan hingga berbuah. Sehingga ketika Nabi meninggal, para sahabat siap menguasai dunia dengan keimanan mereka.

Itulah mengapa ketika Khālid bin Walid ditawari oleh Persia atau Romawi: “Pulanglah, nanti setiap anak buahmu kuberi sekian dinar” — Khālid menjawab: “Saya datang dengan kaum yang mencintai kematian seperti kalian mencintai khamar.”

11. QS. Al-Ḥasyr: 8–10

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“(Harta fai’ itu) untuk orang-orang fakir di kalangan kaum Muhajirin yang terusir dari negeri mereka dan dari harta mereka, mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” 27

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada (Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesulitan.”28

Kemudian Allah memuji orang-orang yang datang setelah Muhajirin dan Ansar — yang mendoakan mereka:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami’.”29

Maka di antara amal yang diperintahkan Allah adalah kita mendoakan kaum Muhajirin dan kaum Ansar.

12. QS. At-Taḥrīm: 8

يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ

“Hari di mana Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersamanya (para sahabat). Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”30

Sahabat dijanjikan cahaya oleh Allah pada hari kiamat kelak.


B. Dalil dari Hadis Nabi ﷺ

  1. Hadis khair al-nās: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي — “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat).”4
  2. Hadis lā tasubbū aṣḥābī: لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي — “Jangan kalian cela sahabatku.” Dan tidak ada seorang pun yang menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud yang menyamai infak sahabat meski hanya dua genggam gandum.15
  3. Hadis golongan yang selamat: مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي — “Orang-orang yang berada di atas jalanku dan jalan sahabatku hari ini.”3
  4. Hadis cinta Ansar: حُبُّ الْأَنْصَارِ مِنَ الْإِيمَانِ وَبُغْضُ الْأَنْصَارِ مِنَ النِّفَاقِ — “Cinta kaum Ansar termasuk iman, benci kepada kaum Ansar termasuk kemunafikan.”31

Di antara keindahan yang dirasakan oleh Nabi ﷺ sebelum meninggal adalah salat Subuh para sahabat. Di hari terakhir beliau sebelum wafat — tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriah — para sahabat sedang salat Subuh berjamaah. Maka beliau membuka tirai dan tersenyum melihat didikan dan murid-muridnya salat. Kata Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu:

كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ

“Seakan-akan wajahnya (bercahaya) seperti lembaran Al-Qur’an.”32


Bagian VI: Kewajiban Mengikuti Jalan Para Sahabat

A. Mereka adalah Golongan Pertama

Ibnu Taimiyah dalam Minhāj al-Sunnah al-Nabawiyyah berkata:

وَذَلِكَ أَنَّ أَوَّلَ هَذِهِ الْأُمَّةِ هُمُ الَّذِينَ أَقَامُوا الدِّينَ تَصْدِيقًا وَأَمَانَةً وَعَمَلًا وَدَعْوَةً

“Hal ini karena generasi pertama umat ini merekalah yang telah menegakkan agama — mereka yang pertama kali membenarkan, pertama kali berilmu, pertama kali mengamalkan, dan pertama kali mendakwahi.”33

Yang pertama beriman — para sahabat. Yang pertama berilmu — para sahabat. Yang pertama mengamalkan — para sahabat. Yang pertama berdakwah — para sahabat. Mereka adalah perintis dalam segala hal.

Maka mencela sahabat berarti mencela agama. Karena yang paling pertama dalam semuanya adalah sahabat.

B. Mereka Paling Paham tentang Agama

Pertama: Guru mereka langsung Rasulullah ﷺ. Kalau kita melihat bagaimana kehebatan Syekh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad — zuhudnya dalam pakaian, dermawan kepada murid-muridnya — jangan heran, karena gurunya Syekh Bin Baz rahimahullāh. Maka kalau kita lihat sahabat begitu hebat, jangan heran — karena gurunya siapa? Rasulullah ﷺ.

Contoh: Abbad bin Bisyr radhiyallāhu ‘anhu ketika sedang salat malam terkena anak panah pertama — beliau teruskan salat. Anak panah kedua kena lagi — teruskan salat. Anak panah ketiga kena lagi — baru beliau selesaikan salat. Lalu berkata kepada Ammār bin Yāsir: “Saya sedang membaca surah Al-Kahfi. Saya tidak ingin berhenti di tengah jalan.” Kita kalau digigit semut saja langsung buyar karena tidak hafal.

Kedua: Para sahabat lebih tahu tujuan Nabi dan lebih tahu tentang syariat — karena mereka menemani Nabi sampai belasan bahkan puluhan tahun. Mereka tahu ayat ini turun kenapa. Ayat turun tentang mereka. Berarti mereka lebih tahu maksud ayat tersebut daripada kita. Kita hanya mereka-reka.

Ketiga: Kata Ibnu al-Qayyim — tidak ada generasi yang bisa menyamai para sahabat dalam hal mengenal keburukan secara terperinci. Sebelum Nabi datang, kaum Arab membunuh anak perempuan hidup-hidup, mencampakkan wanita, berzina, minum khamar, berjudi. Sampai-sampai ada bulan-bulan haram karena mereka sudah terlalu lama tidak berperang.

Ketika Najasyi memanggil Ja’far bin Abi Ṭālib, beliau berkata:

كُنَّا فِي الْجَاهِلِيَّةِ نَأْكُلُ الْمَيْتَةَ، وَنُسِيءُ إِلَى الْجِيرَانِ، وَيَأْكُلُ الْقَوِيُّ الضَّعِيفَ وَنَأْتِي الْفَوَاحِشَ

“Wahai sang raja, kami dulu di zaman jahiliah makan mayit, berbuat buruk kepada tetangga, hukum rimba — yang kuat mengalahkan yang lemah, dan kami melakukan perbuatan-perbuatan keji.”

Kata Ibnu al-Qayyim: jika berkumpul pengetahuan tentang keburukan secara detail dan pengetahuan tentang kebaikan secara detail, maka ilmunya sempurna. Dan tidak ada yang seperti itu kecuali para sahabat — mereka dulu adalah praktisinya.

C. Dibimbing Langsung oleh Nabi dan Allah

Para sahabat tidak hanya dibimbing oleh Nabi — bahkan dibimbing langsung oleh Allah. Ayat terus turun terkait mereka: kalau mereka salah, Allah tegur. Kalau mereka benar, Allah puji.

Jabir bin Abdillah radhiyallāhu ‘anhu ketika ditanya tentang hukum ‘azl (mengeluarkan air mani di luar rahim), beliau berkata:

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ

“Kami dulu melakukan azl sementara Al-Qur’an sedang turun.”34

Maksudnya: seandainya haram pasti Allah tegur. Ini menunjukkan mereka dibimbing oleh Allah — kalau mereka melakukan yang haram pasti Allah tegur.

D. Perintah Allah untuk Mengikuti Para Sahabat

1. QS. Al-Baqarah: 137

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوا

“Kalau mereka beriman seperti keimanan kalian (para sahabat), sungguh mereka telah mendapat hidayah.”35

Jika tidak beriman seperti iman sahabat — tidak dapat hidayah. Ini dalil perintah agar kita ikuti imannya para sahabat. Akidah sahabat — bukan akidah yang dikarang belakangan dengan logika, pakai ilmu kalam, Plato dan Aristoteles.

2. QS. An-Nisā’: 115

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam. Dan sungguh, itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”36

Ayat ini jelas: harus ikut jalan Nabi, dan harus ikut jalan para sahabat.

3. QS. At-Tawbah: 100 (syarat mendapatkan ridha Allah)

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Dan orang-orang yang mengikuti mereka (Muhajirin dan Ansar) dengan baik — Allah ridha kepada mereka.”23

Syarat agar diridhai Allah: harus ikut jalan para sahabat.

4. QS. Āli ‘Imrān: 110

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah umat terbaik yang pernah dikeluarkan bagi manusia.”37

Umat terbaik yang paling pertama adalah para sahabat. Mereka lebih afdal dari sahabat Musa alaihissalām, lebih afdal dari sahabat Isa alaihissalām. Allah mensyaratkan: kalau imannya benar, harus beriman seperti para sahabat.

Secara logika sederhana: mana lebih tahu, kita yang mereka-reka atau mereka yang mengalami langsung dan bahkan ayat turun tentang mereka? Dan secara logika pula — Allah itu Maha Bijak dan Maha Berilmu. Mustahil Allah memilih Nabi yang terbaik tapi murid-muridnya yang terburuk.

Itulah mengapa orang Syiah ketika ditanya, “Siapa manusia terbaik di zaman Musa?” mereka menjawab: “Sahabat Nabi Musa.” Ditanya, “Siapa manusia terbaik di zaman Isa?” menjawab: “Hawariyyun — sahabat Nabi Isa.” Namun ketika ditanya, “Siapa manusia terburuk di zaman Muhammad?” mereka menjawab: “Sahabat Muhammad.” Ini tidak logis. Berarti Muhammad gagal dalam mendidik sahabat selama 23 tahun.

Kata Ibnu Taimiyah: mencela mereka berarti mencela isi agama — karena merekalah yang menukil Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau yang menukil bermasalah, maka kita tidak bisa percaya dengan Al-Qur’an dan tidak bisa percaya dengan hadis-hadis Nabi.

E. Perintah Nabi ﷺ untuk Mengikuti Para Sahabat

1. Hadis Irbāḍ bin Sāriyah radhiyallāhu ‘anhu:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ

“Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin. Gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara baru (bid’ah).”38

2. Hadis tentang golongan yang selamat:

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Golongan yang berada di atas jalanku dan jalannya para sahabatku pada hari ini.”3

3. Hadis tentang Abu Bakar dan Umar:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِن بَعْدِي: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Ikutilah dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar.”39

Secara umum diperintahkan ikuti Khulafaur Rasyidin, dan secara khusus diperintahkan ikuti Abu Bakar dan Umar.


Bagian VII: Para Sahabat Mengingkari Bid’ah

Para sahabat sangat ketat terhadap perkara-perkara baru dalam agama. Contoh:

Ibnu Mas’ud mengingkari zikir berjamaah. Ada orang-orang yang berkumpul dengan seorang pemimpin, lalu berzikir ramai-ramai: “Halilumiah, 100 kali lailahaillallah.” Ibnu Mas’ud langsung mengingkari dan berkata: “Kalian telah membuka pintu kesesatan, atau kalian lebih unggul dari sahabat? Sahabat tidak pernah berbuat demikian.” Kata mereka: “Ya Aba Abdurrahman, kami melakukan ini tidak lain untuk kebaikan.” Kata Ibnu Mas’ud:

كَمْ مِن مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya.”40

Ibnu Umar mengingkari bid’ah Qadariyah yang muncul di zamannya.

Ali bin Abi Ṭālib memerangi Khawarij — yang sudah muncul di zaman para sahabat.

Kasus Majlis al-Qaṣaṣ (Pendakwah Kisah)

Di zaman salaf muncul al-Qaṣṣāṣ — orang yang berdakwah dengan cara bercerita kisah ini, kisah itu. Secara satu kejadian, bercerita itu boleh. Namun ketika dijadikan suatu rangkaian dan metode dalam berdakwah dengan mengumpulkan orang-orang, maka salaf mengingkarinya — karena para sahabat tidak pernah melakukannya.

Kasus Majlis al-Samā’ (Mendengar Qasidah)

Ada majlis samā’ — orang-orang berkumpul mendengar qasidah-kasidah tentang raqā’iq (pelembut hati), akhirat, dan zuhud. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmū’ al-Fatāwā jilid 11 halaman 620 membahas kasus ini secara panjang lebar: ada seorang syekh ingin mendakwahi pelaku maksiat — pezina, peminum khamar — tidak berhasil dengan cara biasa. Maka dia punya ide: kumpulkan mereka, lalu perdengarkan qasidah-kasidah tentang akhirat dan zuhud dengan rebana tanpa musik atau seruling, sehingga banyak di antara mereka yang bertobat. Ibnu Taimiyah ditanya: bolehkah cara seperti ini?

Hukum asalnya: qasidah tentang akhirat boleh. Rebana tanpa musik boleh. Tapi Ibnu Taimiyah menjelaskan:

“Sesungguhnya Rasulullah diutus dengan agama yang lengkap. Agama sudah sempurna. Yang dihadapi oleh Nabi dan para sahabat lebih buruk daripada yang syekh itu hadapi — lebih gila, lebih hancur, lebih rusak. Namun dengan Al-Qur’an dan metode Nabi, mereka dapat hidayah. Maka kalau syekh tidak menemukan cara agar mereka dapat hidayah, bukan karena agama yang kurang — tapi karena dia belum menguasai cara berdakwah yang baik.”

Ibnu Taimiyah juga mengingatkan bahwa cara seperti itu justru memalingkan orang dari Al-Qur’an. Beliau menukil perkataan Imam Syafi’i:

خَلَّفْتُ بِبَغْدَادَ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّنَادِقَةُ

“Aku meninggalkan Baghdad sebuah perkara yang dibuat-buat oleh orang-orang zindik (yaitu majlis samā’ itu).”

Orang yang sudah terbiasa menangis dengan qasidah, ketika mendengar Al-Qur’an terasa hambar. Karena tidak pernah diisi dengan ilmu.

Kasus Kitab Tawahhum karya Al-Ḥārith al-Muḥāsibī

Al-Ḥārith al-Muḥāsibī — seorang ulama zuhud — menulis sebuah buku berjudul Tawahhum (Bayangkan). Isinya: “Bayangkan ketika kau akan mati. Maka nyawamu akan keluar… datang malaikat maut… bayangkan ketika didatangi malaikat Munkar dan Nakir…” — isinya indah dan menyentuh.

Namun Imam Ahmad mentahdirnya karena dua hal: pertama, beliau berbicara ilmu kalam. Kedua, beliau menulis buku dengan metode yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf sebelumnya.

Abu Zur’ah al-Razi menyebut buku-buku itu:

كُتُبُ بِدْعَةٍ وَضَلَالَةٍ

“Kitab-kitab bid’ah dan kesesatan.”

Kata beliau: “Cukup orang mendapat ibrah dengan atsar dan dalil. Tidak perlu dengan cara seperti ini. Apakah Imam Malik, Imam ini, Imam itu pernah menulis buku-buku tentang was-was dan khayalan seperti itu? Tidak pernah.”

Maksudnya: para salaf sangat berhati-hati sampai perkara yang asalnya boleh pun mereka ingkari ketika dijadikan sarana atau metode dalam dakwah yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat.


Penutup

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.

Demikian saja yang dapat disampaikan. Maka hendaknya seseorang berusaha mengikuti Manhaj al-Salaf — baik secara akidah, secara iman, secara akhlak — dan membaca perjalanan serta sirah para sahabat agar kita bisa meniru-meniru mereka.

Sebagaimana wasiat Ibnu Mas’ud radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu:

وَاتَّبِعُوهُمْ وَتَمَسَّكُوا بِمَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ أَخْلَاقِهِمْ وَسِيَرِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيمِ

“Ikutilah mereka dan berpegang teguhlah semampu kalian dari akhlak dan perjalanan mereka. Sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.”6

وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Catatan Kaki

Footnotes

Diriwayatkan oleh Al-Darimi (no. 210). Lihat: Ibnu Waḍḍāḥ, al-Bida’ wa al-Nahy ‘anhā. ↩

QS. Yūsuf (12): 108. ↩

HR. Abu Dawud (no. 4597), Tirmidzi (no. 2641), dan Ibnu Majah (no. 3991), dari Abi Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah al-Aḥādīth al-Ṣaḥīḥah (no. 203). ↩

Tambahan “wa aṣḥābī” diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi (no. 2641) dengan lafaz “mā anā ‘alayhi wa aṣḥābī” dan dinilai hasan oleh sebagian ulama. Lihat: Silsilah al-Aḥādīth al-Ṣaḥīḥah Al-Albani (no. 1492). ↩ ↩2 ↩3

HR. Bukhari (no. 3651) dan Muslim (no. 2533), dari Ibnu Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu. ↩ ↩2

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 3600). Dishahihkan oleh Al-Hakim dalam al-Mustadrak dan disetujui oleh Al-Dzahabi. ↩

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdul Bar dalam Jāmi’ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih (no. 1810). ↩ ↩2

HR. Muslim (no. 1748), dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallāhu ‘anhu. ↩

QS. Al-Māidah (5): 41. Kata “wa lā taḥzan ‘alayhim” juga terdapat di QS. An-Naml (27): 70 dan QS. Yāsīn (36): 76. ↩

QS. Al-Aḥzāb (33): 10. ↩

QS. Al-Aḥzāb (33): 10. ↩

HR. Bukhari (no. 4099) dan Muslim (no. 1805), dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu. ↩

HR. Abu Dawud (no. 2778) dan Tirmidzi (no. 3701), dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan Al-Albani. ↩

QS. At-Tawbah (9): 79. ↩

HR. Ahmad (no. 7930) dan Ibnu Majah (no. 94), dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah. ↩

HR. Bukhari (no. 3673) dan Muslim (no. 2541), dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu. ↩ ↩2

QS. Al-Anfāl (8): 64. ↩

QS. Al-Anfāl (8): 62. ↩

QS. Al-Anfāl (8): 63. ↩

QS. At-Tawbah (9): 20. ↩

QS. Al-Anfāl (8): 74. ↩

QS. Al-Anfāl (8): 75. ↩

QS. At-Tawbah (9): 88. ↩

QS. At-Tawbah (9): 100. ↩ ↩2

QS. Al-Fatḥ (48): 18. ↩

QS. Al-Fatḥ (48): 29. ↩

QS. Al-Fatḥ (48): 29 (lanjutan). ↩

QS. Al-Ḥasyr (59): 8. ↩

QS. Al-Ḥasyr (59): 9. ↩

QS. Al-Ḥasyr (59): 10. ↩

QS. At-Taḥrīm (66): 8. ↩

HR. Bukhari (no. 17) dan Muslim (no. 74), dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu. ↩

HR. Bukhari (no. 680) dan Muslim (no. 419), dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu. ↩

Ibnu Taimiyah, Minhāj al-Sunnah al-Nabawiyyah, Juz IV. ↩

HR. Bukhari (no. 5209) dan Muslim (no. 1440), dari Jabir bin Abdillah radhiyallāhu ‘anhu. ↩

QS. Al-Baqarah (2): 137. ↩

QS. An-Nisā’ (4): 115. ↩

QS. Āli ‘Imrān (3): 110. ↩

HR. Abu Dawud (no. 4607), Tirmidzi (no. 2676), dan Ibnu Majah (no. 42), dari ‘Irbāḍ bin Sāriyah radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan Al-Albani. ↩

HR. Tirmidzi (no. 3662) dan Ibnu Majah (no. 97), dari Ḥudzaifah bin al-Yamān radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi’ (no. 1234). ↩

Share219Tweet137Send

Related Posts

Ternyata Syaikh –hafidzohulloh- Bisa Salah Vonis !!
MANHAJ

Ternyata Syaikh –hafidzohulloh- Bisa Salah Vonis !!

          Sungguh menyedihkan tatkala para da'i sunnah dipermainkan oleh syaitan untuk saling bermusuhan dan saling menjatuhkan....

by admin
June 11, 2015
Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 10)? – Tanggapan untuk Al-Ustadz bag 2
MANHAJ

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 10)? – Tanggapan untuk Al-Ustadz bag 2

Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah...

by admin
November 7, 2013
Next Post
Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Dahsyatnya Ujub dan Riya

Dahsyatnya Ujub dan Riya

April 17, 2026
Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

April 15, 2026
Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

April 15, 2026
Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

March 2, 2026

Website resmi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Dikelola oleh tim IT resmi Ustadz Firanda Official.

About

  • About Us
  • Site Map
  • Contact Us
  • Career

Policies

  • Help Center
  • Privacy Policy
  • Cookie Setting
  • Term Of Use

Join Our Newsletter

Copyright © 2025 by UFA Official.

Facebook-f Twitter Youtube Instagram

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Support Forum
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2025 Firanda Andirja - Menebarkan cahaya tauhid & sunnah.