Alhamdulillah, dengan izin Allah saya telah berkomunikasi dengan al-Ustadz al-Fadil Dzulqornain hafizohulloh, dan agar lebih menuju mashlahat dan ishlah maka setelah meminta izin beliau, berikut ini tanggapan tulisan beliau terhadap ana. Selanjutnya ana telah bersepakat dengan beliau untuk bertemu dan bermusyawarah. Semoga Allah mempersatukan ahlus sunnah di bumi pertiwi ini. Baarokallahu fiikum.
Ada Apa dengan Radio Rodja dan Rodja TV? (Siapkah Anda Mendengar Jawaban?)
oleh:al-Ustadz al-Fadil Dzulqornain hafidhohulloh
Semenjak sore tadi hingga di sela-sela penulisan tulisan ini, Saya disibukkan dengan berbagai sms, bbm, dan media lain -sebagian pengirim pesan berasal dari negeri tetangga- yang intinya menanyakan, menyampaikan, atau mengarahkan ke sebuah artikel dengan judul “ADA APA DENGAN RADIO RODJA & RODJA TV? (Nasehat Syaikh Al-’Allaamah Sholeh Al-Fauzaan hafizohullah agar para dai ahlus sunnah bersatu)”. Demikian judul tersebut Saya kopi dari tulisan Al-Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja -semoga Allah membimbing beliau dan kita semua di atas hidayah dan taufiq-Nya- di link https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv.
Setelah membaca tulisan di atas, mungkin Saya perlu menyampaikan jawaban singkat terhadap tulisan tersebut pada hal yang berkaitan khusus dengan Saya.
Juga, Saya bermaksud mengingatkan inti nasihat guru kami, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, yang dinukilkan oleh Ustadz Firanda dalam tulisannya, tetapi dilupakan oleh Ustadz Firanda sendiri.
Mungkin ada beberapa hal yang perlu Saya sampaikan:
Pertama, pada tanggal 25 Rabiul Awal/6 Februari, melalui kawan-kawan admin situs Saya, www.dzulqarnain.net, Saya mendapat sebuah pesan dari Ustadz Firanda, yang kemudian pesan itu diteruskan oleh kawan-kawan admin ke e-mail pribadi Saya. Bunyi pesan itu adalah,
“assalaamu’alaikum wr wb. akhi admin hafidzohullah, tolong sampaikan salam ana kepada ustadz Dzulqornain hafizohullah. Alhamdulillah kemarin ana dan beberapa teman dari somalia, mali, dan singapura sempat mengunjungi syaikh Soleh AL-Fauzaan di Daarul Iftaa’ di Riyadh. sempat ada beberapa permasalahan yang ana tanyakan berkaitan dengan fatwa terakhir ustadz Dzulqornain tentang Ihyaa At-Turoots dan RodjaTV. alhamdulillah syaikh Sholeh Al-Fauzan mengenal ust Dzulqornain, bahkan meminta ana untuk bekerja sama dengan ustadz. akan tetapi syaikh minta agar ustadz Dzulqronain menghubungi syaikh Sholeh hafizohullah perihal permasalahan rodjaTV dan yayasan Ihyaa At-Turots. tolong kabari ana jika ustadz telah menerima pesan ana ini. karena ini adalah amanah dari syaikh Fauzan yang harus ana sampaikan kepada ustadz hafizohullah. semoga Allah memberkahi dakwah ustadz Dzulqornain dan memperbanyak pahala bagi beliau dan juga bagi antum akhi admin, semoga antum berdua senantiasa dijaga oleh Allah.”
Kawan-kawan telah memberi balasan kepada Ustadz Firanda bahwa pesan tersebut telah sampai kepada Saya sekaligus memberi e-mail pribadi Saya kepada beliau kalau memang ada hal yang perlu beliau sampaikan.
Pada sore harinya, Saya segera menelepon nomor Al-Akh Zuman Alu Zuman, salah seorang seorang pegawai kantor Syaikh Shalih Al-Fauzan yang sekarang bertugas menemani Syaikh pada acara-acara perjalanan Syaikh. Hanya saja beliau tidak menjawab panggilan Saya. Saya juga berkirim pesan bahwa “Katanya ada sebagian orang Indonesia yang datang kepada Syaikh dan membicarakan suatu permasalahan kepada Syaikh, lalu Syaikh berpesan agar Saya menelpon beliau. Kapan saja Syaikh punya waktu, tolong beri info kepada Saya melalui sms atau miscall.” Namun, hingga hari ini, Saya belum mendapat jawaban. Saya sangat memaklumi kondisi dan kesibukan Syaikh. Oleh karena itu, Saya lebih memilih untuk menanti dan akan menulis tulisan kepada beliau tentang sikap Saya terhadap Rodja dan Yayasan Ihyâ` At-Turâts.
Selanjutnya, tiga atau empat hari lalu, kawan-kawan di ruang kerja Saya menyampaikan bahwa Ustadz Firanda kembali mengirim pesan dan mempertanyakan apakah Saya sudah menelepon Syaikh Shalih atau belum?
Saya meminta kepada kawan-kawan untuk menyampaikan yang semakna dengan apa yang Saya sebutkan di atas.
Akan tetapi, pada hari ini, Saya kaget membaca bahwa Ustadz Firanda telah mengeluarkan tulisan tentang hasil pertemuan tersebut. Padahal, menurut Saya, kalau memang menginginkan putusan masalah dari Syaikh tentang permasalahan ini, seharusnya Ustadz Firanda menanti hingga Saya menghubungi Syaikh. Setelah Syaikh mendengar dari Saya (sebagai pihak kedua), tentu putusan permasalahan akan lebih bagus.
Kedua, ada nasihat yang indah dari Syaikh Shalih Al-Fauzan yang Ustadz Firanda lupakan. Saya ingin mengingatkannya di sini mengikuti nukilannya,
السائل : مثل هذا، الشيخ، ما نفعل بزميلنا هذا
الشيخ :أصلحوه واستصلحوا وتألفوا
Ustadz Firanda menerjemahkannya,
“Firanda : Ya Syeikh, pada kondisi demikian, apa yang harus kami lakukan terhadap sahabat kami ini (Dzulqornain)?
Syaikh : Berdamailah dengannya… Saling berdamailah dan saling bersatulah.”
Saya tidak melihat bahwa Ustadz Firanda mengamalkan nasihat Syaikh di atas. Bahkan, dalam tulisannya, Ustadz Firanda telah menyulut api baru setelah Syaikh Shalih memberi nasihat kepadanya. Berikut beberapa pernyataan yang tidak terpuji dari Ustadz Firanda.
Pertama, beliau berkata,
“Namun akhir-akhir ini pula mulai muncul pernyataan-pernyataan kebencian terhadap RodjaTV dan Radio Rodja…
Jikalau para ahlul bid’ah semakin menunjukkan ketidaksukaannya dan kebencian bahkan permusuhan mereka -dan apa yang tersimpan dalam hati-hati mereka mungkin lebih parah-, maka ini adalah hal yang biasa dalam medan dakwah.
Akan tetapi yang menyedihkan jika kebencian dan permusuhan tersebut muncul dari sebagian dai yang dikenal sebagai dai ahlus sunnah ??!!!”
Tanggapan
Arah pembicaraan Ustadz Firanda memang umum, tetapi beliau memasukkan Saya ke dalam kategori di atas dengan menyebut Saya di deretan orang-orang yang men-tahdzir Rodja.
Perlu diketahui bahwa seorang dai yang berjiwa besar harus siap menerima kritikan, sedang sebuah kritikan jangan selalu dipandang sebagai “kebencian dan permusuhan”.
Perlu diketahui bahwa beberapa tokoh, yang memiliki jasa dan manfaat di tengah masyarakat, justru diperbincangkan oleh Imam Ahmad dan para imam Islam yang lain lantaran kesalahan-kesalahan yang terjadi di tengah mereka. Akan tetapi, tidak seorang pun ulama kita yang memandang hal tersebut sebagai kebencian dan permusuhan, bahkan hal tersebut dipandang sebagai nasihat bagi umat.
Seharusnya, yang menjadi titik permasalahan adalah bahwa apakah sikap Saya terhadap Rodja dibangun di atas pijakan yang haq atau tidak?
Anda ingin membahasnya? Saya siap mengemukakan argumen dan alasan Saya kepada siapapun ulama yang Ustadz Firanda sukai.
Saya berharap Ustadz Firanda tidak membuka front baru dengan kalimat tersebut.
Kedua, Ustadz Firanda berkata,
“Diantara alasan/hujjah para sahabat kita yang mentahdzir Radio/TV Rodja adalah :
PERTAMA : Alasan/hujjah yang menarik dan sepertinya meyakinkan, akan tetapi sesungguhnya merupakan dalil yang sangat aneh.
Dalil tersebut adalah bahwasanya Radiorodja itu jangan cuma bisa menyampaikan rojaa’ (harapan) saja, akan tetapi harus diseimbangkan dengan khouf (rasa takut), karena dakwah dan Islam itu dibangun diatas roja’ dan khouf.
…
KEDUA : Larangan Dai Untuk Muncul Di TV, karena video hukumnya haram…”
Tanggapan
Ustadz Firanda telah mengesankan bahwa dua hal di atas merupakan ucapan Saya, yakni beliau menyebut nama Saya dan memperpanjang bantahan untuk Saya di alasan ketiga.
Saya memberi waktu kepada Ustadz Firanda untuk menunjukkan bahwa dua hal tersebut merupakan alasan Saya dalam men-tahdzir Rodja, baik dari kaset maupun dari tulisan Saya, agar orang-orang yang membaca tulisan Ustadz Firanda bisa menilai kejujuran nukilan tersebut.
Kemudian, tentang masalah mengisi acara TV, perlu diketahui bahwa Saya sudah berulang kali ditawari untuk mengisi sebagian acara TV Nasional guna memberi pencerahan seputar terorisme dan solusi penyelesaian terorisme. Saya sendiri telah meminta pertimbangan guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzan, secara tertulis untuk hal itu, dan beliau telah mengizinkan pula secara tertulis dengan surat resmi dari kantor beliau. Demikian pula Saya meminta pertimbangan kepada sebagian ulama besar yang lain.
Sekali lagi, Saya meminta kepada Ustadz Firanda agar jangan membuka front baru, dan jangan mengesankan hal yang tidak benar kepada manusia.
Ketiga, berkaitan dengan masalah Ihyâ` At-Turâts.
Ustadz Firanda telah menyulut api front baru dengan beberapa hal yang beliau kesankan atau beliau nisbahkan kepada Saya seputar Ihyâ` At-Turâts. Hal tersebut adalah pada beberapa perkara:
- Ustadz Firanda mengesankan bahwa seakan-akan Saya tidak memiliki alasan dalam men-tahdzir Rodja, kecuali dari pembahasan Ihyâ` At-Turâts.
Tanggapan
Kesan di atas adalah hal keliru. Saya memiliki beberapa alasan lain yang Saya pandang lebih dari cukup dan bisa Saya pertanggungjawabkan di depan Allah pada hari kiamat.
Insya Allah, Saya sangat mampu menjelaskan dan memaparkan alasan tersebut.
- Ustadz Firanda mengesankan bahwa Saya men-tahdzir Rodja karena alasan mengambil dana dari Ihyâ` At-Turâts.
Tanggapan
Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.
Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.
Guru kami, Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy, memperbolehkan hal tersebut sebagaimana yang Saya dengar dan Saya tanyakan langsung kepada beliau tentang masalah ini. Walaupun, belakangan ini, Saya mendengar -dari sebagian murid beliau- bahwa beliau tidak memperbolehkan hal itu secara mutlak karena kenyataan yang terjadi bahwa mereka pasti akan memberi syarat, meskipun syarat itu datang belakangan.
Demikian pula guru kami, Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbiry. Dahulu, beliau memperbolehkan jika pemberian itu tanpa syarat, tetapi kemudian beliau melarang pengambilan tersebut secara mutlak.
Saya Perlu menegaskan kepada Ustadz Firanda bahwa Saya mengikuti para ulama yang men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts karena kerusakan manhaj Ihyâ` At-Turâts dan berbagai kesalahan besar yang terjadi pada Ihyâ` At-Turâts.
Kami punya fakta-fakta tentang kerusakan dan bahaya Ihyâ` At-Turâts terhadap dakwah Salafiyah di Indonesia. Fakta-fakta tersebut tidak berkaitan dengan dana, tetapi punya keterkaitan dengan sebagian ustadz yang menjadi pemateri di Rodja.
Saya masih memiliki banyak pembahasan terhadap Ustadz Firanda dalam tuduhannya ini. Namun, di sini Saya hanya sebatas mengingatkan Ustadz Firanda untuk kembali kepada nasihat Syaikh Shalih Al-Fauzan di atas.
- Ustadz Firanda berkata,
“Mengingat kedekatan Al-Ustadz Al-Fadil Dzulqornain dengan Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan maka kami sangat berharap Al-Ustadz Al-Faadil Dzulqornain mau bertanya langsung kepada Asy-Syaikh Sholeh Fauzan perihal berikut ini :
– Apakah Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaiti adalah yayasan hizbi dan yayasan mubtadi’ah?. Dan kalau Asy-Syaikh tidak mengetahui hakekat kesesatan Yayasan Ihyaa At-Turoots maka hendaknya Al-Ustadz Al-Fadil menjelaskan kepada beliau agar tidak ada tuduhan bahwasanya Asy-Syaikh berfatwa tanpa ilmu, memuji Ihyaa At-Turots karena Asy-Syaikh jahil tentang yayasan tersebut…”
Tanggapan
Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”.
Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian. Telah berlalu keterangan bahwa dahulu Syaikh Muqbil dan Syaikh ‘Ubaid memperbolehkan mengambil dana tanpa syarat, sedang dimaklumi bahwa beliau berdua merupakan ulama yang banyak berbicara mengingatkan manusia akan bahaya dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.
Oleh karena itu, Saya berharap agar Ustadz Firanda tidak berbicara atas nama Syaikh tentang hal yang tidak Syaikh ucapkan.
- Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:
“Tanya:
Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?
Jawab:
“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.
Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”
Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,
“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”
Tanggapan
Dalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?
Kemudian saya hanya menjawab sesuai dengan pertanyaan.
Juga, pada jawaban Saya, terdapat penegasan tentang tiga sifat yang kita sepakat untuk jauhi: ahlul bid’ah, berada di atas pemikiran mereka (at-tabanny ‘alal manhaj), dan tidak berjalan di atas sunnah.
Kalau tiga sifat ini tidak terdapat pada majalah kawannya, saya kira Ustadz Firanda tidak perlu berlebihan.
Dalam beberapa tulisannya, Ustadz Firanda menyarankan untuk berbaik sangka terhadap siapa saja yang kita bantah.
Semoga kaidah itu tidak hanya beliau berlakukan terhadap orang lain yang membantah beliau, tetapi juga beliau terapkan kepada diri sendiri bila membantah orang lain.
Keempat, Ustadz Firanda berkata,
“Tolong pertanyaan dan jawaban di transkrip secara lengkap, dan jangan jawabannya saja. Dan kami sangat menantikan hal ini, karena janga
n sampai seperti sikap salah seorang dari sebagian antum yang telah bertanya panjang lebar kepada Asy-Syaikh al-’Utsaimin rahimahullah tentang hukum jihad di Ambon lantas pertanyaan dan fatwa Asy-Syaikh disembunyikan dan tidak disebarkan !!!”
Tanggapan
Saya menganggap bahwa kedustaan tentang menyembunyikan fatwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin telah berlalu bersama masa. Ternyata, setelah nasihat Syaikh Shalih Al-Fauzan diterima oleh Ustadz Firanda, masih saja Ustadz Firanda mengangkat masalah tuduhan penyembunyian fatwa itu.
Andaikata tidak khawatir keluar dari arah nasihat Syaikh Shalih Al-Fauzan, insya Allah akan Saya jawab dengan lengkap untuk Ustadz Firanda dan Ustadz seniornya yang menuduhkan hal tersebut.
Kelima, pada akhir pembahasannya, Ustadz Firanda menyebutkan sejumlah nasihat yang sebagian nasihat tersebut bagus, tetapi sebagian lain ‘berasap’. Sumber ‘asap’nya berasal dari kekeliruan Ustadz Firanda dalam memahami ucapan ulama.
Saya memang mengamati bahwa ada beberapa hal aneh dalam diri Ustadz Firanda. Beliau kadang bersendirian di dalam hal itu, berbeda dengan kawan-kawannya, mahasiswa pascasarjana lainnya.
Beberapa tahun silam di Madinah, terjadi pertemuan antara Saya dan Ustadz Arifin Badri, Ustadz Nur Ihsan, Ustadz Abdullah Zain, dan selainnya, untuk membahas beberapa masalah dakwah, termasuk masalah Ihyâ` At-Turâts, dan rencana mendatangkan masyaikh untuk mendamaikan perselisihan yang terjadi. Pada kesempatan itu, Saya sempat mempermasalahkan dua hal tentang Ustadz Firanda kepada mereka,
– Tentang pembelaan terhadap Ihyâ` At-Turâts yang Ustadz Firanda tuangkan dalam bukunya, Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan, Menyikapi Fenomena Hajr di Indonesia, mereka menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami semua men-tahdzir Ihyâ At-Turâts.”
– Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”
Keenam, perlu diketahui bahwa di antara kaidah Ahlus Sunnah:
- Men-tahdzir bid’ah dan Ahlul bid’ah.
- Menimbang antara maslahat dan mafsadat.
- Tidak mengubah kemungkaran yang akan melahirkan kemungkaran yang lebih besar.
- Menjalani bahaya kecil untuk menolak bahaya yang lebih besar.
- Semangat mengajak manusia kepada hidayah.
- Amar ma’ruf nahi mungkar.
Semuanya adalah kaidah-kaidah yang kedudukan dan urgensinya telah dimaklumi di tengah umat.
Mengambil satu kaidah, tetapi menelantarkan kaidah yang lain, tentunya akan menyeret kepada ketimpangan dan penyimpangan.
Ketika membicarakan dan men-tahdzir Rodja, Saya menyampaikannya pada kondisi yang Saya ketahui. Alhamdulillah, Saya telah terdidik untuk memberi obat sesuai dengan porsi dan keadaannya.
Saya sendiri tidak berbicara tentang Rodja kecuali belakangan ini, yakni saat Saya melihat bahwa ada mashlahat dalam hal tersebut. Oleh karena itu, pembicaraan Saya tertuju kepada para penuntut ilmu, yang sudah bisa menimbang antara yang hak dan yang batil.
Banyak orang, dari kalangan awam atau orang-orang yang baru belajar, menanyakan kepada Saya secara pribadi tentang mendengar Radio Rodja dan melihat Rodja TV, dan Saya tidak melarangnya.
Ini adalah data yang Saya kira belum Ustadz Firanda ketahui sehingga beliau luput sampaikan kepada Syaikh Shalih Al-Fauzan.
Ketujuh, pada tulisan Ustadz Firanda, metode “mengkritik sebuah kesalahan” dipandang sebagai perkara yang mengaburkan. Terkesan bahwa pengkritik suatu kesalahan ditampilkan sebagai orang yang keras, tidak berada di atas hikmah dakwah.
Berikut saya berikan beberapa hadits dan sebuah atsar yang menggambarkan sikap Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat terhadap suatu kesalahan.
- Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, beliau bercerita tentang keputusan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang perempuan yang melempar perempuan lain dengan batu sehingga membunuh janin dalam perut perempuan lain itu. Maka, terhadap perempuan pelempar, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menetapkan pembayaran ghurrah berupa budak laki-laki atau budak perempuan.
Ternyata wali dari perempuan pelempar berkata,
كَيْفَ أَغْرَمُ، يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ لاَ شَرِبَ وَلاَ أَكَلَ، وَلاَ نَطَقَ وَلاَ اسْتَهَلَّ، فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ
“Wahai Rasulullah, bagaimana Saya menanggung gharâmah (denda, bayaran) terhadap (janin) yang belum makan, belum minum, belum berbicara, dan belum sempat menangis. Seharusnya yang seperti itu dibatalkan?”
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab,
إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الكُهَّانِ
“Sesungguhnya orang ini merupakan saudara-saudara para dukun.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]
Perhatikanlah ketegasan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan menyebut orang itu sebagai saudara-saudara para dukun hanya lantaran orang tersebut menyampaikan keberatannya dengan sajak pembicaraan yang mirip dengan sajak para dukun.
- Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallâhu ‘anhu, beliau menyampaikan hadits kepada seorang lelaki bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang untuk berbuat hadzaf ‘melempar musuh atau hewan buruan dengan batu kecil’, tetapi orang-orang tetap saja melakukan hadzaf. Maka Abdullah bin Mughaffal berkata,
لَا أُكَلِّمُكَ أَبَدًا
“Saya tidak akan berbicara denganmu selama-lamanya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim. Lafazh hadits adalah milik Muslim]
Perhatikanlah shahabat ini. Hanya karena satu permasalahan, beliau tidak berbicara dengan lelaki tersebut selama-lamanya.
- Dari Mu’âdzah bintu Abdillah Al-‘Adawiyyah, beliau bertanya kepada Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, “Mengapa perempuan haidh mengqadha puasa, tetapi tidak mengqadha shalat?”
Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ berkata,
أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟
“Apakah engkau seorang harûriyyah ‘perempuan beraliran Khawarij’?”
Mu’adzah menjawab, “Saya bukan seorang harûriyyah, melainkan Saya hanya bertanya.”
Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ menjawab,
كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ
“Haid tersebut menimpa kami (pada masa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam), tetapi kami hanya diperintah untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha shalat.”
Perhatikan ucapan tegas Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, pada Mu’adzah hanya sekadar bertanya.
Kedelapan, ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,
الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شوي
Oleh Ustadz Firanda diterjemah,
“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”
Seharusnya diterjemah,
“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzul
qarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”
Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.
Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.
Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras.
Yang kami ketahui adalah bahwa ulama kami, Syaikh Shalih Al-Fauzan dan selainnya, tidak sembarangan dalam menerima laporan, apalagi terhadap orang yang beliau kenal baik.
Akan tetapi, Saya memberi selaksa udzur untuk Ustadz Firanda dalam kesalahan di atas.
Saya masih mengingat pesan Syaikh Shalih Al-Fauzan tatkala Saya berkata, “Ya Syaikh, sebagian orang memandang bahwa Saya keras/berlebihan, tetapi sebagian lagi memandang bahwa Saya bergampangan?” Beliau berpetuah, “Laksanakanlah apa-apa yang engkau yakini benar, dan janganlah memedulikan ucapan manusia.”
Kesembilan, kalau mengikuti sulutan api yang Ustadz Firanda kobarkan setelah menerima nasihat Syaikh Shalih Al-Fauzan, Saya pasti akan melakukan beberapa hal:
- Menjawab tulisan Ustadz Firanda ini secara detail, yang Saya hanya meringkas jawaban pada poin-poin yang telah berlalu.
- Saya harus merinci kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan Saya men-tahdzir Rodja.
- Saya akan menyingkap kesalahan-kesalahan pemahaman Ustadz Firanda dalam banyak tulisannya.
Saya sendiri belum memandang perlu untuk mentahdzir Rodja lebih dari apa-apa yang telah Saya terangkan di atas. Hal ini karena pertimbangan kaidah-kaidah yang telah Saya singgung, dan Saya memandang telah memberi obat sesuai keperluan.
Saya juga kurang bersemangat mengurusi Ustadz Firanda karena Saya punya kesibukan yang Saya pandang lebih bermanfaat untuk diri Saya dan kaum muslimin.
Namun, semua hal ini kembali kepada Ustadz Firanda,
Apakah beliau masih mau melanjutkan nasihat Syaikh Shalih Al-Fauzan atau tidak?
Apakah beliau sudah memandang bahwa Saya perlu menguraikan kesalahan-kesalahan Rodja secara detail?
Apakah beliau siap membaca detail jawaban terhadap tulisannya?
Tulisan ini hanyalah sedikit jawaban. Kalau Ustadz Firanda mencabut tulisannya untuk melanjutkan nasihat Syaikh Shalih Al-Fauzan, insya Allah tulisan ini juga akan Saya cabut.
Insya Allah, bila kesibukan sudah mereda, Saya akan mengirim surat kepada Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullâh.
Semoga Allah memberi taufiq, hidayah, dan rahmat-Nya kepada kita semua menuju jalan yang lurus. Wallahu A’lam.
http://dzulqarnain.net/ada-apa-dengan-radio-rodja-dan-rodja-tv-siapkan-anda-mendengar-jawaban.html

Bismillah,
Ana mencintai antum berdua karena Alloh yaa Ustadz Firanda – Ustadz Dzulqarnain hafizhakumullah
semoga Alloh Ta’ala mempermudah langkah antum berdua dlm mewujudkan ishlah dan persatuan ahlussunnah salafiyyun di negeri ini…
Barakallohu fiikum
al akh bambang…. yang benar adalah persatuan ahlusuunnah waljama’ah bukan ahlussunnah salafiyun…
BISMILLAH,semogah kita di satukan diatas jalan yang hak ini dan ustadz dzulqarnain mau mintak maaf kepada radio rodja,dan kita dijadikan umat yang selalu iklas dalam berdakwa,barakallhufikum.
[quote name=”abukhonsah”]BISMILLAH,semogah kita di satukan diatas jalan yang hak ini dan ustadz dzulqarnain mau mintak maaf kepada radio rodja,dan kita dijadikan umat yang selalu iklas dalam berdakwa,barakallhufikum.[/quote]
Knapa yang jadi titik kritisnya ustadz zulqornain harus minta ma’af pada radio rodja… emangnya radio rodja yang benar dan ustadz zul yang salah… tolong ‘adil donk akh…. liat dulu bener ga apa yang dituduhkan oleh ustadz zul? jangan membela secara buta. kalo rodja yang salah dan dikritis oleh ustdz zul ya terima dan berubahlah…. mosok iya rodja tak pernah salah…
Antum pernah tidak dengar kajian ustad dzulkarnaen dan tahu siapa beliau? dengarlah annash radio, beliau sering mengisi disana, tak kenal maka tak sayang.
antum seharusnya yg minta maaf kepada ust, Dzulqarnain
Catatan Kecil Terhadap Tulisan al-Ustâdz Dzûlqornain hafizhahullâh
http://abusalma.net/?p=1268
Telah lama blog ini Saya tinggalkan… Qoddarollôhu, ini semua tidaklah lepas dari kesibukan yang sangat luar biasa. Posisi Saya sekarang di daerah “cukup terpencil”, 5 jam (perjalanan darat) dari kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tepatnya di kota Batulicin, kota yang diserbu dengan eksploitasi tambang dls. Alhamdulillâh, dengan nikmat Allâh Saya dan rekan-rekan masih bisa menikmati indahnya ilmu melalui Rodja TV di Guest House (dengan parabola), dan masih bisa berhubungan dengan para ikhwah dan asâtidzah via handphone.
Koneksi internet di sini tidak sekencang di Jakarta, karena itu saya jarang membuka internet via laptop. Biasanya saya hanya sesekali mengupdate informasi via handphone dan bertegur sapa dengan para ikhwah dan asatidzah melalui email dan whatsapp. Kesibukan ini lah diantara penyebab Saya cukup lama “menghilang” dari dunia “maya”. Saya juga meminta udzur dan maaf kepada rekan-rekan sekalian yang sudah lama menghubungi saya via blog ini dan hampir tidak pernah Saya jawab.
Beberapa hari lalu, sahabat baik dan juga guru saya, al-Ustâdz al-Fâdhil Abû ‘Abdil Muhsin Firanda nafa’allâhu bihi al-Islâm wal Muslimîn, mengirimkan sebuah link yang sangat menarik kepada saya. Yaitu jawaban yang sangat memuaskan –menurut Saya- terhadap para pencela Radio Rodja dan Rodja TV. Bagaimana tidak? Radio Rodja dan Rodja TV, atas izin Allôh Azza wa Jalla banyak sekali memberikan faidah kepada umat. Kakak sepupu saya di Jakarta yang awalnya tidak berjilbab, alhamdulillâh wa bi-idznillâh, akhirnya menggunakan jilbab. Paman isteri Saya -yang sekarang dengan Saya berada di Batulicin-, alhamdulillâh, adalah diantara yang menemani saya dengan kemuliaan lihyah (jenggot)¸ tidak isbâl dan menghidupkan sholat jamâ’ah. Rekan-rekan saya pun mulai tertarik dengan materi-materi yang disampaikan di Rodja TV, dan mereka sering menontonnya di Guest House di Plajau, Simpang Empat, Batulicin.
Jujur saja, saya merasa sangat bergembira dengan tulisan al-Ustâdz Firanda hafizhahullâhu. Saya yakin, bahwa tiada keinginan dan maksud beliau menuliskan hal ini melainkan hanyalah untuk kebaikan –dan hanya Allôh semata yang mengetahui apa yang ada di dalam hati-. Beliau ingin agar ahlus sunnah di tanah air bisa bersatu dan bekerja sama di dalam hal yang disepakati, namun di dalam hal yang diperselisihkan… hendaknya kita mengedepankan sikap saling menasehati, mengingatkan, meluruskan dengan cara yang baik. Bukannya dengan cara memberikan udzur terhadap segala perselisihan, dan bukan pula dengan cara mengingkari secara membabi buta, langsung dengan menvonis bid’ah, sesat, dan mudah mengeluarkan dari lingkaran ahlus sunnah, dst…
Namun saya kembali terhenyak dengan link yang diberikan oleh seorang sahabat, yang berisi bantahan al-Ustâdz Dzûlqornain hafizhahullâhu terhadap risalah al-Ustâdz Firanda. Jujur saja, Saya mengenal Ustâdz Dzûlqornain hanya melalui rekaman ceramah dan membaca tulisan-tulisan beliau. Saya sangat takjub dengan kecerdasan dan kepandaian beliau. Beliau adalah manusia langka yang Allôh anugerahi kecerdasan, kuatnya hafalan dan kepandaian di dalam menyampaikan. Namun sebagaimana manusia biasa, beliau tidaklah lepas dari alpa dan salah. Beliau tidaklah bebas dari hawa nafsu, -demikian pula al-Ustâdz Firanda, Saya sendiri dan lainnya, kecuali al-Ma’shûm Shallâllahu ‘alaihi wa Sallam-.
Pada awalnya, saya melihat bahwa al-Ustâdz Dzûlqornain ini adalah da’i dan ustâdz yang berbeda dengan du’at lainnya –yang ber’seberangan’ dengan kita-. Beliau Saya lihat memiliki sifat yang bijak, obyektif dan lemah lembut. Walau dalam beberapa hal beliau tetap tegas dan keras. Beliau bisa melihat timbangan mashlahat dan madharat di dalam menyampaikan materi dakwah, ber-‘amar ma’rûf nâhi munkar, dan di dalam mengkritik. Namun saya –dan beberapa rekan saya juga berpendapat yang sama dengan saya- melihat bahwa “seakan-akan” ada perubahan dengan al-Ustâdz Dzûlqornain sekarang, baik di dalam menyampaikan dakwah apalagi di dalam mengkritik.
Pertama yang cukup mengagetkan saya adalah ketika al-Ustâdz Dzûlqornain ditanya tentang Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabî hafizhahullâhu di salah satu pengajiannya. Dan saya cukup terperanjat dengan jawaban beliau –waffaqohullâhu wa iyanâ ila sabîlil Haqq-. Sebenarnya apabila beliau hanya menunjukkan ketidaksepakatan beliau dengan Syaikh ‘Alî dan mengutip fatwa Lajnah Dâ`imah atau selainnya, maka masih bisa dimaklumi. Namun, tatkala beliau juga merendahkan keilmuan Syaikh ‘Alî –saya katakan merendahkan bukan sekedar mengkritik-, maka jujur saja… Saya merasa ada hal yang berbeda dengan al-Ustâdz sekarang. Sebenarnya saya ada beberapa mulâhadhât (catatan) bagi jawaban al-Ustâdz namun bukan di sini kiranya tempatnya, insya Allôh jika memungkinkan –dengan izin Allôh- akan saya turunkan di lain waktu.
Yang juga mengagetkan Saya adalah tahdzîr al-Ustâdz kepada Radio Rodja dan Rodja TV yang terkesan kurang hikmah dan inshâf. Kemudian, ditambah lagi dengan jawaban al-Ustâdz terhadap risalah al-Ustâdz Firanda berkaitan dengan Radio Rodja dan Rodja TV, yang saya dapati sangat tidak substansial dan terkesan lebih kepada pembelaan diri. Inilah yang akhirnya menggelitik Saya untuk sedikit memberikan catatan sekaligus memohon kepada beliau untuk lebih memberikan detail/perincian agar thullabatul ‘ilm khususnya dan umat bisa mengambil faidah darinya.
Setelah membaca risalah al-Ustâdz Dzûlqornain yang berjudul “Ada Apa dengan Radio Rodja dan Rodja TV (Siapkah Anda Mendengar Jawaban)?”, Intinya Saya tidak menemukan bantahan permasalahan ilmiyah secara substansif oleh al-Ustâdz Dzûlqornain, namun malah yang Saya dapati hanya berburuk sangka kepada al-Ustâdz Firanda.
Berikut adalah catatan ringan terhadap risalah al-Ustâdz Dzûlqornain :
(1) Ustâdz Dzûlqornain mengesankan bahwa Ustâdz Firanda lah yang menyulut api…padahal justru Ustâdz Dzûlqornain-lah yang pertama kali “menyulut api”, dengan men-tahdzîr Radio Rodja dan Rodja TV, dan rekamannya menyebar kemana-mana sehingga menimbulkan kebingungan dan keresahan umat… Dari sinilah al-Ustâdz Firanda, bermusyawarah dengan para masyaikh dan ulama. Dan beliaupun berkesempatan bermusyawarah dengan Syaikh Shâlih al-Fauzân…
(2) Ustâdz Dzûlqornain menuduh Ustâdz Firanda berburuk sangka, ternyata justru Ustâdz Dzûlqornain-lah yang lebih tampak berburuk sangka –Dan Allâh lah yang lebih mengetahui apa yang ada di hati-.
Jika kita perhatikan risalah al-Ustâdz Firanda yang mengemukakan hujjah para pentahdzîr, Hujjah yang pertama dan kedua, Ustâdz Firanda sama sekali tidak menyinggung apalagi menyebutkan Ustâdz Dzûlqornain taupun qarînah ini kepada beliau, dan hal ini telah saya konfirmasi langsung kepada al-Ustâdz Firanda, dan beliau menyatakan bahwa ini adalah asumsi Ustâdz Dzûlqornain sendiri.
Saya dapati bahwa beliau –Ustâdz Firanda- hanya mengkaitkan Ustâdz Dzûlqornain kepada hujjah yang ketiga. Saya rasa terlalu “bodoh” kiranya apabila Ustâdz Firanda menuduh Ustâdz Dzûlqornain berhujjah dengan hujjah yang pertama. Karena awwâmus salafî saja tidak berhujjah dengan hujjah “yang memaksakan” tersebut.
(2) Perkataan Ustâdz Dzûlqornain, “Saya sangat mampu menjelaskan dan memaparkan alasan tersebut”; Nah inilah yang sangat kita harapkan dari sang Ustâdz –semoga Allôh memuliakannya-, bukan sekedar tahdzîr secara global tanpa memperincinya secara detail berdasarkan fakta-fakta yang beliau klaim.
Dan amat disayangkan, al-Ustâdz Dzûlqornain sekarang lebih banyak menyibukkan dengan tahdzîr terhadap sesama ahlus sunnah dalam hal yang sejatinya masih khilâfiyah ijtihâdiyah –apabila ini bukan khilâfiyah ijtihâdiyah tolong berikan penjelasan kepada kami-.
(3) Adapun mengenai keabsahan apakah Syaikh Shôlih Al-Fauzân memuji Ihy
â` At-Turâts ataukah tidak? Sebenarnya al-Ustâdz Firanda sendiri telah memberikan link-nya. Silahkan lihat kembali di http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13,
Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :
فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .
“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”
اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .
“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.”
(4) Setahu saya, Ustâdz Firanda tidak menyangkutpautkan dalil Ustâdz Dzûlqornain terhadap Rodja dengan hujjah ke 3 dan pembahasan tentang Ustâdz Dzûlqornain datang setelah hujjah yang ketiga. Ustâdz Firanda hanya mempermasalahkan 2 permasalahan “fatwa” Ustâdz Dzûlqornain. Fatwa pertama tentang Rodja TV, dan fatwa kedua tentang Ihyâ` at-Turâts.
Setahu saya juga, Ustâdz firanda tidak menuduh Ustâdz Dzûlqornain menuduh Rodja mengambil dana dari at-Turâts dsb. Tapi Ustâdz Firanda hanya menuduh Ustâdz Dzûlqornain melakukan tabdi’ dan tahdzîr membabi buta karena link-link dengan Ihyâ` at-Turâts. Dari sini sebenarnya justru Ustâdz Dzûlqornain yang berburuk sangka kepada Ustâdz firanda. Demikianlah yang tampak kepada kami.
(5) Ustâdz Dzûlqornain menyatakan tidak tahu tentang perihal bahwa yang dimaksud oleh penanya adalah majalah “Pengusaha Muslim.”
Saya tidak tahu, apakah ini benar atau tidak? atau hanya mengelak? –Wallâhu a’lâm- . Sangat jelas sekali, bahwa di Indonesia tidak ada majalah yang khusus mengusung pembahasan ekonomi (syarî’ah) yang ditulis oleh salafî -atau yang tertuduh sûrûrî- kecuali majalah Pengusaha Muslim –ini sejauh pengetahuan Saya, jika ada yang lain tolong ditunjukkan.-. Saya hanya bertanya-tanya…apakah sekelas Ustâdz Dzûlqornain tidak tahu akan hal ini?!
Baiklah, Saya sekarang ingin bertanya kepada al-Ustâdz Dzûlqornain hafizhahullâhu secara tegas, “Bolehkah membaca majalah pengusaha muslim?” Saya menunggu jawaban dan penjelasan al-Ustâdz Dzûlqornain.
(6) Ustâdz Dzûlqornain menuduh Ustâdz Firanda salah menerjemahkan perkataan Syaikh al-Fauzân, padahal setahu Saya malah justru Ustâdz Dzûlqornain yang kurang tepat di dalam menerjemahkan. Semua orang yang mahir bahasa arab tentu mengerti hal ini. Apabila kita perhatikan kembali ucapan Syaikh Fauzân hafizhahullâhu :
الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شوي
Oleh al-Ustâdz Firanda diterjemahkan :
“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornain, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”
Menurut al-Ustâdz Dzûlqornain sebagai berikut :
“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”
Sejauh pengetahuan Saya, apabila berdasarkan tafsiran al-Ustâdz Dzûlqornain, maka seharusnya ada tambahan huruf fâ` dan menjadi فإنه متشدد
(7) Al-Ustâdz Dzûlqornain mengklaim mengetahui kesalahan Radio Rodja secara detail…maka ini harus disampaikan kepada umat jika memang benar, bukan malah disembunyikan. Ini yang ditunggu-tunggu, dan Saya rasa asâtidzah Radio Rodja juga menunggu-nunggu, karena tidak ada orang yang luput dari kesalahan.
(8) Ustâdz Dzûlqornain mengaku mengetahui banyak kesalahan-kesalahan Ustâdz Firanda. Saya rasa demikianlah Ustâdz Firanda, karena beliau banyak nulis dan ceramah tentu tidak lepas dari kesalahan. Kalau tidak pernah ceramah dan menulis tentu tidak tampak salahnya. Manusia tidak lepas dari kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Dan saya yakin, kesalahan yang tidak disengaja lebih dominan.
Dan saya rasa, apabila Ustâdz Firanda juga mau tatabbu’ al-Akhtha` (mencari-cari kesalahan), Saya yakin beliau juga mampu mencari-cari kesalahan Ustâdz Dzûlqornain. Namun, beliau bukanlah karakter yang seperti itu, sejauh pengetahuan Saya.
(9) Apabila Ustâdz Dzûlqornain beralasan dengan kesibukan, Saya rasa Ustâdz Firanda juga tidak kalah sibuknya. Akan tetapi “fatwa” Ustâdz Dzûlqornain tentang Rodja sudah tersebar ke mana-mana, dan telah membuat perpecahan di kalangan kaum muslimin… Ustâdz Dzûlqornain bisa saja mengeluarkan fatwa namun imbasnya yang ribut masyarakat awam yang baru ngaji.
(10) Ustâdz Dzûlqornain mengaku tidak pernah mengharamkan mendengarkan Radio Rodja atau menonton Rodja TV kepada orang awam, akan tetapi hanya kepada para penuntut ilmu. Menurut Saya, ini sungguh aneh :
Apakah memang demikian, apabila penuntut ilmu maka haram hukumnya, tapi kalau orang awam maka boleh?? Bukankah yang benar malah sebaliknya, justru penuntut ilmu yang tidak mengapa karena bisa membedakan antara yang haq dan bâthil, sedangkan orang awam tidak begitu mengerti dan tidak bisa membedakan yang benar dan salah
Apakah kajian Ustâdz Dzûlqornain tersebut (tatkala beliau mentahdzir dari mendengarkan Radio Rodja) itu hanya dihadiri khusus para penuntut ilmu, ataukah juga dihadiri orang awam??
Jika memang hanya dihadiri orang khusus, bukankah rekamannya tersebar kemana-mana bahkan turut disebarkan oleh ahlul bid’ah pembenci dakwah salafiyah?!!
(11) Kita kembali kepada permasalahan ilmiyah yang dipaparkan oleh al-Ustâdz Firanda, Apakah semua orang yang bermuamalah dengan Ihyâ` at-Turâts otomatis jadi sururî sebagaimana praktek rekan-rekan al-Ustâdz Dzûlqornain? Jelaskan kepada kami wahai al-Ustâdz yang mulia, dengan penjelasan yang terang dan tegas…
(12) Adapun cerita tentang Ustâdz Firanda yang menerjemahkan ceramah Syaikh Sururî… maka setahu Saya, ini tidak benar. Apa benar syaikh tersebut sururi?? Bisakah Ustâdz menjelaskan siapakah syaikh tersebut?! Hal ini semakin memperkuat kalau manhaj Ustâdz Dzûlqornain sekarang memang lebih mudah mentahdzîr saudaranya sesama ahlus sunnah dan mencari-cari kesalahan. Semoga Allâh melindungi kita dari hawa nafsu.
Saya masih mencintai al-Ustâdz Dzûlqornain di dalam hal yang beliau berada di atas kebenaran, demikian pula dengan al-Ustâdz Firanda. Saya menuliskan hal ini bukanlah untuk membela al-Ustâdz Firanda sebagai individu, atau karena Saya memiliki kedekatan dengan beliau. Namun, ini murni karena Saya mencintai ahlus sunnah dan persaudaraan di atasnya. Al-Ustâdz Dzûlqornain banyak memberikan faidah bagi umat terutama muslim di Indonesia yang tidak bisa dipungkiri. Namun, janganlah sampai faidah ini rusak disebabkan oleh sikap-sikap kurang bijaksana dan adil di dalam menyikapi perbedaan khilâfiyah ijtihâdiyah.
‘Ala kulli hâl… Saya menunggu dari al-Ustâdz Dzûlqornain sebagaimana judul beliau dalam risalahnya, “Ada Apa Dengan Radio Rodja dan Rodja TV (Siapkah Anda Mendengar Jawaban?”. Iya, kita siap dan inilah yang kita tunggu-tunggu… bukan untuk memecah belah ahlus sunnah tapi untuk menjel
askan al-Haq dan agar ahlus sunnah bisa bersatu di atasnya.
Semoga Al-Ustâdz Dzûlqornain bisa segera menghubungi Syaikh Fauzân dan bermusyawarah dengan beliau, dan menjelaskan hasil liqo’ beliau tersebut kepada umat secara transparan. Semoga Allâh memberkahi dua ustadz kita yang mulia, Dzûlqornain dan Firanda –serta Saya dan seluruh kaum muslimin-, dan mempersatukan mereka di atas al-Haq dan mentautkan hati mereka di atas Islam dan sunnah. Âmîn ya Robbal ‘Âlamîn.
kita semua menginginkan ishlah demikian juga ustadz dzul, oleh sebab itu ust. dzul sengaja tidak menjawab secara ilmiyah dan lengkap tentang masalah ini, karena sedang ingin menjalankan nasehat syaikh, bukan ingin berbantah bantahan, ustadz firanda yang ditujukan tulisan tersebut saja, tidak memberikan mulahadzot, padahal beliau lebih sangat pantas untuk melakukannya. Jadi kembali kepada tujuan awal dan mengusahakan semua jalan perbaikan, cukuplah asatidzah dengan para masyaikh, jangan yang dibawah malah memperkeruh yang memperlambat usaha itu.
Namun, tatkala beliau juga merendahkan keilmuan Syaikh ‘Alî –saya katakan merendahkan bukan sekedar mengkritik-,
[kalau syaikh Ali merendahkan para ulama ahlussunnah, maka dia pantas direndahkan, terlebih lagi memiliki aqidah yang menyimpang dari aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Tapi sekali lagi, mungkin karena keterbatasan info tentang syaikh Ali,sehingga kita tidak mengetahui detail sepak terjang syaikh Ali dalam penghinaannya terhadap ulama ahlussunnah dan penyimpangan Aqidahnya. Yang kita ketahui sebatas dia pernah sebagai murid syaikh Al albani rohimahulloh]
Yang juga mengagetkan Saya adalah tahdzîr al-Ustâdz kepada Radio Rodja dan Rodja TV yang terkesan kurang hikmah dan inshâf.
[bukan tahdzir yang dipahami kita, tapi itu jawaban terhadap si penanya (tholibul ilmi). Dan sudah dijelaskan oleh Dzulqornain bahwa jika orang awam yang bertanya, beliau tidak melarang dari melihat Rodja TV. Maka Dzulqornain memberi jawaban sesuai dgn kondisi si penanya.]
Ustâdz Dzûlqornain mengesankan bahwa Ustâdz Firanda lah yang menyulut api…padahal justru Ustâdz Dzûlqornain-lah yang pertama kali “menyulut api”
[iya, karena tidak menjalankan fatwa syaikh Sholih Alfauzan, yaitu berdamailah, dengan adanya tulisan Firanda, itu menunjukkan dia belum benar-benar ingin berdamai dengan Dzulqornain, padahal sejak awal Dzulqornain tidak pernah menyerang/menuduh Firanda sama sekali. Tiba2 Firanda yang memunculkan nama Dzulqornain didalam tulisannya dan disebar secara nasional]
Ustâdz Dzûlqornain menuduh Ustâdz Firanda berburuk sangka, ternyata justru Ustâdz Dzûlqornain-lah yang lebih tampak berburuk sangka
[semua orang bisa demikian, dan ucapan tersebut tidaklah keluar, kalau Firanda mau menahan diri dari penyebaran tulisannya, penyebaran tulisan Firanda, sudah cukup menunjukan siapa yang mengawali berburuk sangka terhadap Dzulqornain]
Saya sangat mampu menjelaskan dan memaparkan alasan tersebut”; Nah inilah yang sangat kita harapkan dari sang Ustâdz
[semua penjelasan, tidak harus disampaikan ke khalayak, silakan minta nasehat ke syaikh Fauzan, apakah paparan dan rincian Dzulqornain harus disampaikan ke ummat atau tidak,
ini berkaitan dengan mashlahat dakwah juga. Mungkin Anda akan mengatakan bahwa ini harus disampaikan ke khayalak, karena semua sudah tahu tentang “tahdzir” Anda thd Rodja TV ? Nah, siapa yang membantu memperkenalkan “tahdzir” tersebut sehingga diketahui oleh khalayak ?? Firanda.com ?? Sekali lagi, Dzulqornain telah tegaskan, dia tidak melarang orang awam yang hendak belajar islam dari RodjaTV]
Dan amat disayangkan, al-Ustâdz Dzûlqornain sekarang lebih banyak menyibukkan dengan tahdzîr terhadap sesama ahlus sunnah dalam hal yang sejatinya masih khilâfiyah ijtihâdiyah
[benar, amat disayangkan, harusnya tulisan Firanda.com tidak perlu disebar, silakan dia berkoordinasi dan menghubungi Dzulqornain, jika memang itu permasalahan antara dia]
Baiklah, Saya sekarang ingin bertanya kepada al-Ustâdz Dzûlqornain hafizhahullâhu secara tegas, “Bolehkah membaca majalah pengusaha muslim?” Saya menunggu jawaban dan penjelasan al-Ustâdz Dzûlqornain.
[ya, silakan bertanya, dan bertanyalah langsung ke orangnya, bukan di ruang comment]
Al-Ustâdz Dzûlqornain mengklaim mengetahui kesalahan Radio Rodja secara detail…maka ini harus disampaikan kepada umat jika memang benar
[siapa yang mengharuskan ?? bukankah Dzulqornain sudah jelaskan, kalau dia ditanya orang awwam tentang Rodja TV, diapun tidak melarangnya ??, lalu kalau Anda suruh menyampaikan hal tersebut ke ummat, maka sama dengan melarang orang awam dari Rodja TV]
Intinya, mari kembali kepada Fatwa Syaikh Sholih AlFauzan, berdamailah, bersatulah,
kalau yang satu menantang bantahan, jawaban, yang satunya kembali membantah dan menjawab tuduhan, maka belum berdamai, damai, dan silakan dibicarakan antar personal diantara kalian, semua tulisan di website didelete/dicabut. Selesai
ana setuju. semua tulisan di website didelete/dicabut, silahkan ust firanda dan ust dzulqornain yang menyelesaikannya secara personal
Barokallahu fiek, kangen dengan artikel-artikel antum, semoga Allah menjaga kita semua..
أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Alhamdulillah…
— Langsung saja saya menanggapi tulisan Abu salma al-atsary.
Sepertinya anda tidak perlu berlebihan dalam masalah ini. Biarlah 2 belah pihak yg sama-sama kompeten dalam permasalahan ini yg menyelesaikan.
Saya hanya ingin kita sama2 adil dalam permasalahan ini –
1. berkaitan dengan RadioRodja – jika anda mengutip harusnya anda juga mengutip ini (ustadz Dzul sampaikan pada point “ketujuh”) Saya sendiri tidak berbicara tentang Rodja kecuali belakangan ini, yakni saat Saya melihat bahwa ada mashlahat dalam hal tersebut. Oleh karena itu, pembicaraan Saya tertuju kepada para penuntut ilmu, yang sudah bisa menimbang antara yang hak dan yang batil.
Banyak orang, dari kalangan awam atau orang-orang yang baru belajar, menanyakan kepada Saya secara pribadi tentang mendengar Radio Rodja dan melihat Rodja TV, dan Saya tidak melarangnya . —
Tambahan saya – silahkan lihat fatwa Syaikh bin Baz untuk masalah ini
2. berkaitan dengan permasalahan pengertian الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شوي
Saya hanya ingin mengatakan :: siapakah yg lebih mengerti perkataan Syaikh dalam hal ini ?? anda ?? atau Murid2nya ? — karena sudah biasa jika apa yg dimaksud seseorang lebih dimengerti oleh orang yg sering bicara dengan orang tersebut.
————————————
Nasihat saya – kita tempatkan TVRODJA pada tempatnya – Orang2 yg mendapat hidayah lewat TVRodja – di syukuri saja – karena masih banyak hal lain yg Allah bisa jadikan perantara atas izinya untuk orang kembali kepada Agama ISLAM – jangan lantas dijadikan TV RODJA lebih tinggi dari kata “IZIN ALLAH”
Mudah2an kita semua yg ingin segera terselesaikannya API masalah ini – mengambil posisi dengan baik – jangan terlalu dekat apalagi sambil membawa “MINYAK”
Lho, ustadz Firanda -hafidhohullah- yang punya tulisan dan diklarifikasi oleh ustadz Dzulqornain -hafidhohullah- beliau tidak memberikan ta’liq, kenapa anda yang tiba-tiba memberikan ta’liq? Allahul Musta’an.
Barokallahu Fikum, semoga antum berdua segera Ishlah, dan semua permasalahan yang juga terkait Media yg diusung Rodja, segera di selesaikan, agar kami penuntut ilmu tidak ikut terpengaruh dengan argument asatidz yang ada di dunia maya.
Alhamdulillah, ana merasa pintu2 persatuan semakin dekat saja, semoga dengan artikel ini kita semakin bersatu, amiin.
Assalamu’alakum yaa ustadz….ana merinding baca ini smua….antum termasuk orang faqih dalam agama…ana sering dengar kajian antum….ana berharap antum berdua selalu dalam lindunga Alloh jalla wa ‘alaa…amiin….ana yakin antum berdua bisa menyelesaikan masalah ini sesuai syari’…ana sedih bacanya….afwan…ana beharap antum selalu dalam lindungan Alloh jalla wa ‘alaa
Assalaamu’alaikum,
afwan ustadz, kalau boleh memberi saran, agar menyelesaikan masalah ini secara langsung supaya tidak berlarut-larut.
sedikit saja salah berasumsi, akan semakin memperlebar permasalahan..
barakallaahu fiik ya ustadz..
ana uhibbuka fillaah
Wassalaamu’alaikum
bismillah..
rasa sedih yang dirasa oleh ana ini.. mungkin dirasa juga oleh ikhwan-ikhwan salafy sekalian,. sebagai awam mungkin hanya bisa berharap semoga Alloh Ta’ala memudahkan urusan ini dan menyatukan ahlussunnah wal jama’ah .. dan semakin tersebar luas dakwahnya>>Aamiin
Alhamduillah, semoga permasalahan ini tidak berlarut-larut yang menjadikan celah bagi ahlu hawa dan ahlu bid’ah semakin membenci dan menjauhkan dakwah sunnah di masyarakat awam. Mereka senang dengan pepecahan yg ada di kalangan ahlul sunnah.
Assalaamu’alaikum
afwan ustadz kalau boleh ana memberi saran, sebaiknya masalah ini dibicarakan nanti saja secara langsung agar tidak berlarut-larut, sedikit saja terjatuh dalam argumen yang salah akan membuka pintu permasalahan baru.
Ana uhibbukum fillah
jazakumullaahu khairan
Alhamdulillahirabbil ‘alamin,
Segala puji berpulang kepada Mu ya Allah.
Ya Rabbi kuatkan persatuan para asatidzah kami menuju ke ridhoanmu.
asal jangan seperti kasus ustadz yg dulu diajak damai aja malah … ajakan tersebut jadi bahan serangan thd ustadz firanda …
demi Allah dulu saya bahagia mendengar ketika ada rencana islah dihadapan syaikh abdulmuhsin dan syaikh ubaid .. tpi apa nyatanya ? malah ada bahan permusuhan baru dari rencana tersebut
bismillaah
afwan, apakah pertemuan tersebut dilakukan secara tertutup kalangan asatidzah atau terbuka untuk thulabul ‘ilmu ya ustadz ?
dan apakah pertemuan tersebut ditengahi oleh masyaikh seperti syaikh Sholeh Al Fauzan atau Syaikh Abdurrozzaq ?
jazaakallaahu khayron
barokallaahu fiykum
Innalillahi wa innailaihi rojiun…
Mudahkan ya Allooh, mudahkan ya Allooh
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
Mudahkan ya Allooh…mudahkan ya Alloh
Ustadz Firanda dengan berbesar hati mau menampilkan kritikan dan sanggahan terhadap dirinya di situs beliau dan tidak mau memberikan tanggapan lanjutan. Beliau mau berjumpa dan bermusyawarah untuk mewujudkan persatuan ahlussunnah di tanah air. Semoga Allah memberkahi diri dan keluarganya. Amin
sebaiknya para asatidz itu saling silaturahim dan saling mengunjungi…
Alhamdulillaah sedikit ada secercah harapan akan terealisasinya persatuan salafiyyun di negeri ini.
MUdah2an ini sebagai tonggak awal, dan mudah2an syaikh sholeh fauzan yang akan mampu menjadi penengah terhadap perselisihan ini
aamiin
Benar akhi,ini adalah dorongan hawa nafsu dzulqarnain,ana dengar dari rekaman pengajian,ada seorang bertanya kepada dzulqarnain tentang mendengar cerama shyeik Abdul rozak di radio rodja maka dengan lantang dia melarang hal tersebut,apakah hal seperti ini ada ajarannya dari ulama salaf,zaman sekarang kok aneh saya dengan dzulqarnain ini,berilmu tapi jahil ditanya begitu aja jawabnya ngawur bagaimana kalau yang nanya yahudi atau nasrari,bisa lebih ngawur lagi,bukannya mintak maaf tapi malah membelah diri lihat sendiri tulisanya,ini benar2 musibah buat kita semua,kalau dai2 sudah seperti ini bagaimana dengan yang awam,saya sarankan cepatlah mintak maaf kepada radio rodja,karena semua orang tau siapa2 yang mengisi di radio rodja semua ustadz yang makruf dan sudah di akui ilmunya,saya saja yang tinggal di jubail saudi arabia rutin dengar radiorodja,dan saya semua tahu ustad,seperti abdulah taslim,abdulah zain,arifin badri,firanda semua mereka sering ngisi kajian di jubail dan damam semua masarakat indonesia yang ada di damam dan jubail tidak ada yang membenci ustad2 tersebut apalagi mencelah radio rodja mala kami bershukur di indo ada radio yang mendakwahkan sunnah,tapi dicelah oleh saudara kita sendiri,sadarlah saudaRA DZULQARNAIN,ZAMAN SEKARANG kita harus hikma dalam berdakwa mungkin antum lebih faham dari pada saya tentang hikma,maka ishlahlah sebelum terlambat mumpung nyawa ada dikandung badan kita ngak tahu kapan ajal menjemput kita,barakallhufikum,
ya akhi hikmahlah dalam berkomentar, ustadz Dzulqornain itu ditanya, dan beliau menjawab sesuai dengan apa yang beliau tahu.. Beliau ahli ilmu ya akhi.. sudahlah, mari kita doakan semoga islah lekas terlaksana, lebih bermanfaat, daripada celaan yang antum lontarkan…Baarokallahufik…
@abu Muhammad : ant taqlid buta sm seseorang..sdh jelas bgt info dari abu khonsah ..ente masi bela…naif ente
Taqlid buta ant…parah ni…dah jelas salah masi di bela…dimana derajat ust ente sama syaikh abd rozaak…
[quote name=”Abu Muhammad Mubarok”]ya akhi hikmahlah dalam berkomentar, ustadz Dzulqornain itu ditanya, dan beliau menjawab sesuai dengan apa yang beliau tahu.. Beliau ahli ilmu ya akhi.. sudahlah, mari kita doakan semoga islah lekas terlaksana, lebih bermanfaat, daripada celaan yang antum lontarkan…Baarokallahufik…[/quote]
Ant taqlid Buta…Parah..
Hai, pahlawan kesiangan.
[quote name=”abukhonsah”]Benar akhi,ini adalah dorongan hawa nafsu dzulqarnain,ana dengar dari rekaman pengajian,ada seorang bertanya kepada dzulqarnain tentang mendengar cerama shyeik Abdul rozak di radio rodja maka dengan lantang dia melarang hal tersebut,apakah hal seperti ini ada ajarannya dari ulama salaf,zaman sekarang kok aneh saya dengan dzulqarnain ini,berilmu tapi jahil ditanya begitu aja jawabnya ngawur ,sadarlah saudaRA DZULQARNAIN,ZAMAN SEKARANG kita harus hikma dalam berdakwa mungkin antum lebih faham dari pada saya tentang hikma,maka ishlahlah sebelum terlambat mumpung nyawa ada dikandung badan kita ngak tahu kapan ajal menjemput kita,barakallhufikum,[/quote]
[quote name=”Yang Sedih”]Bismillah…
Dengan keawaman ini ana hanya bisa menyatakan sedih.sedih.sedih…Hati terasa tercabik cabik,kalau ahlul bid’ah memusuhi salafi itu sudah biasa tapi pahit ketika sesama salafi bertikai dan terumbar didunia yang sangat transparan ini.Seakan akan menelanjangi diri sendiri,Bukankah Rasulullah menyuruh kita meninggalkan perdebatan.Sekalipun itu adalah benar…Kalau sekarang sudah tidak memikirkan apa kata yahudi & nasrani juga ahlul bid’ah.Sebaiknya kita memikirkan apa kata Allah Subhanahu Wa Ta’ala…melihat pertikaian ini.Bukankah diam itu lebih baik??? Semakin banyak bicara semakin taulah orang tentang kita [/quote]
Yang Benarnya,Tulisan inilah adalah dorongan hawa nafsu. Sebaiknya nyimak aj. nyadar dirilah, kita ini kapasitasnya apa kq ikut nimbrung..
Ana rasa ucapan abukhonsah dapat dimaklumi, walaupun agak kasar. Ustadz tetaplah manusia, dan jikalau hawa nafsu ikut serta, kelihatan pula ditulisannya atau lisannya. Ustadz tetaplah manusia dan semua manusia secara dasarnya mempunyai hak yang sama.
betul akh kenapa Ustad Dzulqarnain melarang orang mengambil ilmu dari Radio Rodja dan TV Rodja…berarti beliau menghambat dan menghalang orang dalam mencari kebenaran..membuat penuntut ilmu menjadi bingung
lihat teks ini ukh
ustadz Dzul sampaikan pada point “ketujuh”–> Saya sendiri tidak berbicara tentang Rodja kecuali belakangan ini, yakni saat Saya melihat bahwa ada mashlahat dalam hal tersebut. Oleh karena itu, pembicaraan Saya tertuju kepada para penuntut ilmu, yang sudah bisa menimbang antara yang hak dan yang batil.
Banyak orang, dari kalangan awam atau orang-orang yang baru belajar, menanyakan kepada Saya secara pribadi tentang mendengar Radio Rodja dan melihat Rodja TV, dan Saya tidak melarangnya . —
Ya Ust Dzul kalau di kajian mentahdzir, tapi kalau kayak gini bilangnya nggak mentahdzir, maka gimana maunya ? mau tahdzir kok sungkan-sungkan ?
kok rodja halal buat orang awam tapi haram bagi penuntut ilmu yang udah ngelontok ?
maka katakanlah apa khamr itu halal bagimu dan haram bagiku ? atau katakanlah khamr itu halal bagi ulama dan haram bagi juhala ?
kalau antum bilang rodja salah, ya memang kita semua memang salah namanya juga manusia, manhaj salafush shaleh tidak pernah menuntut maksumnya seseorang.
Tapi bukankah Ust Dzul juga manusia sebagaimana halnya dengan kami yang bisa salah dan bisa kami koreksi dan bisa kami kritik manhaj dakwahnya, dsb.
Barakallahufiik…
Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan urusanya. Barakallahu fiikuma
koq ribut lagi.. yo bersatu.. biar setannya kecewa melihat kita bersatu..
Semoga Allah mempersatukan ahlus sunnah di bumi pertiwi ini. Baarokallahu fiikum.
Jazaakumallahu Khoiron Wabaarokallahu fikuma….Nuhibbukuma fillah
ana sangat berharap ustadz firanda dan ustadz Dzulqarnain bisa islah dengan bimbingan para ulama ahlussunnah, semisal : Syaikh Shaleh Al-Fauzan, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Robi bin Hadi, Syaikh Muhammad bin Hadi, Syaikh Ubaid Al-Jabiri,dll, dikalangan masyaikh ahlussunah/salafiyyun. dan juga ustadz2 ahlussunnah/salafy yang berselisih bisa bersatu lagi, saling berjabat tangan penuh senyum persaudaraan. ana sangat merindukan itu.
semoga Allah Azza wa jalla menjaga ustadz firanda dan ustadz Dzulqarnain dan juga ustadz2 salafy lainny.
Bismillah,
Kenapa ya masih saja ada ikhwah yang lancang, sok tahu dengan apa yang ada dalam pikiran beliau berdua… Kenapa antum sekalian tidak membiarkan Ustadz Al-Fadhil berdua yang menyelesaikan.. Atau antum menganggap diri antum “ustadz juga”.. husnudzon ya Akhi.. Berlapang dadalah… Semoga islah segera terwujud mereka berdua adalah ustadz yang harus kit hormati, jangan memancing di air yang keruh ya ikhwan…
Subhanallah, keindahan diantara jalinan ukhuwah ikhwan salaf, ucapan takbir, tasbih dan tasmid atas ishlah yang akan dicapai. Semoga barokah, lindungan dan penjagaan اللّه untuk kita umat muslim semuanya.
bismillah
semoga kita semua di berikan yang terbaik dan di berikan kekuatan untuk menjalaninya,kami berharaf adanya persatuan dan menghindari perpecahan ,semoga kita semua di berikan petunjuk penyelesaiyan dan rahmat oleh Allah.
Ya Allah jadikanlah negeri kami negeri yang damai dan menyejukkan
Bismillah…
Dengan keawaman ini ana hanya bisa menyatakan sedih.sedih.sedih…Hati terasa tercabik cabik,kalau ahlul bid’ah memusuhi salafi itu sudah biasa tapi pahit ketika sesama salafi bertikai dan terumbar didunia yang sangat transparan ini.Seakan akan menelanjangi diri sendiri,Bukankah Rasulullah menyuruh kita meninggalkan perdebatan.Sekalipun itu adalah benar…Kalau sekarang sudah tidak memikirkan apa kata yahudi & nasrani juga ahlul bid’ah.Sebaiknya kita memikirkan apa kata Allah Subhanahu Wa Ta’ala…melihat pertikaian ini.Bukankah diam itu lebih baik??? Semakin banyak bicara semakin taulah orang tentang kita Biarkanlah orang berkata apa Allah jualah yang Maha Tahu.Barakallahu fiikum ustadz.Semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni kita semua…
Sebaiknya memang permasalahan seperti ini tidak perlu di angkat pada media (website/blog). Lebih baik di klarfikasikan langsung dgn yang bersangkutan. Sambil bersilaturrahim dan bermusyawarah.
Seperti kutipan ustadz dzulqarnain atas perkataan Syaikh Shalih Al-Fauzan “Laksanakanlah apa-apa yang engkau yakini benar, dan janganlah memedulikan ucapan manusia.”
Kata orang sunda mah jangan di waro’ terus aja sibuk dalam berdakwah.
Mudah2an hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi lagi di masa-masa mendatang. Sehingga kami sebagai penuntut ilmu tidak terganggu lagi dalam permasalahan-permasalahan yang sebetulnya tidak perlu dibahas.
Alhamdulillah jika sudah islah
Bismillah.. Alhamdulillah..Barakallaahu fiykum. semoga menjadi ibrah yg baik insya Allah
Smoga Allah Memberikan kemudahan untuk menyelasaikan masalah ini tanpa ada buntutnya
Alhamdulillah, Mudah2an setelah ada ishlah,
ustadz Dzulqarnain diberi juga kesempatan
berdakwah di radio rodja dan rodja tv.
barakallahu fiikum
Kami rakyat jelata mengharap Ahlussunnah di Indonesia bersatu, jangan ada lagi perselisihan, karena semua bisa selesai dengan komunikasi dan musyawarah. Saya harap salafy Indonesia seperti dahulu yang sangat solid. Bid’ah di Indonesia masih mengakar rumput dan menggelora, mari bersama-sama ber amar ma’ruh nahi munkar…
Alhamdulillah, mudah2an setelah ishlah
Ustadz Dzulqarnain diberi kesempatan dan mau mengisi dakwah via radio rodja dan rodja tv, jadzakalkhair barakallahu fiikum
Ya Allah persatukanlah para ‘asatidzah kami…smoga dakwah ini tetap berjalan di atas ilmu..
semoga Allah mempersatukan hati2 para dai salafiyyin dimanapun mereka berada, terlebih yg berada di bumi indonesia. Semoga kita semua dilapangkan dada untuk menerima ikhtilaf mu’tabar. Dulu ‘Ali dan Mu’awiyah radhiyallahu’anhuma berseteru tapi ana mencintai keduanya kendati Ali radhiyallahu’anhu lebih mendekati kebenaran. Begitupula dengan ustadz Firanda dan ustadz Dzulqornain hafizhahumallah ana cinta ustadz berdua..
Bismillah
Wahai kedua ustadz yang ana cintai karena ALLAH.
Sungguh janganlah antum sekalian saling berdebat di kejauhan.
Saling bertemulah dengan menghadirkan hakim yg adil agar dapat mendapatkan nasihat yg berada diatas kebenaran.
Janganlah hal ini sampai berlarut-larut
Ana yakin antum sekalian mempunyai ilmu yang baik untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Jangan sampai MEREKA bertepuk tangan atas terjadinya permasalahan ini.
Barakallahu fiikum
Semoga Allahu ta’ala senantiasa menjaga kalian berdulia dan memberikan kita semua hidayahnya,,,,Afwan jiddan,,saran ana lebih baik ustadz berdua bertemu langsung dan di antara kalian ada seorang penengah yg tdk memihak satu kubu pun
#semoga bermanfaat(ana mohon maaf bukan berarti ana lbh pintar dr ustadz berdua)
Selain Ustadz Firanda dan Ustadz Dzulkarnaen..Mending Pada Diem dehh…
JANGAN SOK TAW,SOK PINTER!!!
KITA DOAKAN AJA BWT YANG TERBAIK UNTUK AGAMA INI….PAKAI IKUTAN NGOMENTARI
DENGAN ARTIKEL SEGALA……
INTINYA IHYAUT TUROTS
Sebaiknya dalam hal ini Pihak Radio Rodja yang mengalah untuk rujuk sehingga para ustadz bisa nyaman untuk berdamai.
Mengalah sedikit dan mengaku salah -apapun kesalahannya walaupun tidak ada kesalahan- akan sangat membawa perubahan yang besar bagi dakwah salaf ini.
Tidak ada yang dirugikan dengan keterangan ruju’ bermuamalah dengan Ihyaut Turots (IT) walaupun IT sendiri masih dalam perdebatan IJTIHADIYAH akan tetapi mengingat DAYA RUSAK-nya cukup besar maka tak ada salahnya MENGAMBIL KERUSAKAN YANG LEBIH KECIL UNTUK MENCEGAH KERUSAKAN YANG LEBIH BESAR..
Singkat kata, walaupun banyak para ustadz TIDAK MENGAMBIL DANA IT, maka sebaiknya para ustadz mengambil langkah kompromi demi PERSATUAN dengan mengambil sikap antara lain yang berbunyi
FATWA ASATIDZ RADIO RODJA UNTUK PARA ASATIDZ SELURUH INDONESIA AGAR MENGHENTIKAN ALIRAN DANA IT DAN MELARANG KERJASAMA DALAM BENTUK APAPUN
mari berkhusnudzon 🙂
Komentar di web ini perlu disetujui.. namun saya melihat kenapa komentar2 negatifnya disetujui ya? lebih baik 2 artikel terkait hal ini ditutup saja komentarnya.
benar2 sangat disayangkan, website ini dikotori oleh komentar2 yang tidak baik.
tolong diseleksi komentar2 yang tidak bermanfaat dan cenderung membela salah satu fihak. antum sebagai admin yg menyeleksi malah menerima komentar2 tersebut. Terlihat sekali penyudutannya
Yang diskusi Ust. Firanda dan Ust. Dzulqarnain, kenapa yg komentar malah pihak ke-3? Selalu saja ada tuduhan berburuk sangka atau “Benar akhi,ini adalah dorongan hawa nafsu dzulqarnain”!!?? Anda mencela orang yg suka mencap seseorang sbgai sururi serampangan, tapi anda sendiri suka mencap seseorang mengikuti hawa nafsunya!? Kapan selesainya kalau begini?
Alhamdulillah ust. Firanda dgn besar hati tidak berkomentar, dan Ust. Firanda membiarkan dalam jawaban ust. Dzul ada hal yg kurang tepat demi tercapainya mashlahat yg jauh lebih besar dibanding sekedar pembelaan diri -sebagaimana dalam catatan kecil di atas yg seharusnya tidak ditulis dan disebarkan karena tidak akan menambah kecuali kekeruhan saja-.
Bukankah sudah jelas bahwa beliau berdua akan bertemu dan bermusyawarah? Kenapa kita -sebagai pihak ketiga- tidak diam saja dan berdo’a saja agar Allah memberi jalan keluar? Waffaqallahu al jamii’.
-saking tidak tahannya lihat komentar pihak ke-3, sampai terseret ikut2an komentar segala. Hasbunallah wa ni’mal wakiil-
Lanjutkan dakwah Rodja TV dan Radio Rodja..kami banyak merasakan manfaat dengan keberadaan Rodja TV..menembus pelosok tanah air sampai ke pelosok desa-desa, pegunungan bahkan merambah ke luar negeri sampai wilayah Asia Tenggara..sebab pengguna parabola mencapai 30 juta orang..Jika ada orang yang menghalang kami mengambil ilmu yang bermanfaat dari ustad2 di Rodja TV, berarti orang tersebut menghalang kami mengambil manfaat dan kebaikan
Bissmillah,
Mohon maaf kalo saya (msh awam) keliru,
saya kira akan menjadi polemik baru apabila kedua Ustad baik (tersohor) ini berdua membuat tulisan (jawaban/hujjah/pembelaan/bukti2 lain) menyangkut Radio/TV Rodja… sudahlah menurut saya berdua saja menyelesaikan persoalan ini (mungkin ada masalah pribadi yg perlu diselesaikan) tanpa mempublikasikan kesalahan Organisasi yang intinya sebenarnya ke pribadi kr orang awam bisa menebak2 yg mana yg tidak baik pdhl keduanya InsyaAllah baik.
Kalo memang Ust. Dzulqarnein punya niat baik dari awal (konsep baik berdakwah atau cara berdakwah yg benar) sebenarnya mudah toh.. bisa disampaikan secara pribadi via hp atau face to face… dan kalo memang tidak sanggup buatlah radio yang sejenis dengan bbrp perubahan2… toh nanti orang awam bisa mengambil faedah yg sahih dari kedua belah pihak… jgn terlalu lama berpolemik karena orang awam (masyarakat umum) bisa macam2 menilai kedua Ustadz… dari pada semaikin buruk penilaiannya… mending berdua aja.. InsyaAllah bisa kepala dingin… amiin
Bismillahirrahmaanirrahim…
Afwan, ana hanya seorang penuntut ilmu biasa dan baru belajar tentang manhaj yang HAQ ini, saya pernah mengikuti daurahnya kedua Ustadz ini (semoga Allah menjaga keduanya,pent), dan mengetahui bahwa keduanya memiliki keilmuan yang mumpuni dalam agama yang HAQ ini, dan insya Allah mereka selalu berlemah lembut dalam berdakwah. Maka, ketika membaca tulisan ini maka saya merasa sedih, “Kenapa sih pertikaian kembali muncul”…
Kami berharap semoga kedua Ustadz (Ustadz Firanda & Ustadz Dzulqornain, Hafidhahullahu ta’ala) cepat ber-Ishlah sehingga persatuan diantara Ahlus Sunnah cepat terwujud dan menutup pinta celaan untuk golongan tersesat…Amiiin
Jazakumullahu Khoir wa Barakallahu Fiikum…
Semoga kedua ustadz dan ustadz2 yang lain dimudahkan Alloh untuk bertemu dan membahas masalah tersebut.
Semoga Alloh selalu menunjukkan jalan yang lurus kepada kita semua,,,
Semoga Alloh Azza wa Jalla mempertemukan ust Dzulqornain dan ust Firanda hafidhahumallah dalam suasana mahabbah fillah.. rojulani tahabbani..
Diamond Cut Diamond
intan itu keras tp bisa rusak oleh sesamanya
jgn sampai dakwah yg berkah ini rusak sesama ahlussunnah
semoga Ahlusunnah bisa bersatu dan kuat di negeri ini
Radio Rodja lanjutkan terus dakwah yang haq ini/ahlu sunnah waljamah,jangan pedulikan komentar2 miring terhadpamu, karena umat banyak mengambil manfaat terhadap kehadiran engkau di medan dakwah.
Semoga Radio Rodja menjadi wasilah berkembangnya dakwah tauhid di Indonesia.
Amin.
tidak perlu dijelaskan lebih rinci tidak juga perlu juga dipertanyakan..yang sangat perlu dikhawatirkan jika terjadi sesama muslim menimbulkan fitnah bagi saudaranya
Sebagai referensi, mungkin bisa dibaca ini ustadz, tolong dihentikan balas-balasnya. Bisa-bisa kalau dilanjutkan akan jadi cikal bakal perpecahan ahlus sunnah lagi
http://abusalma.wordpress.com/2013/02/20/catatan-kecil-terhadap-tulisan-al-ustadz-dzulqornain-hafizhahullah/
smg kaum muslimin terutama para da’i bisa bersatu dalam dakwah islam ini,aamiin…
Perlu kita ketahui bersama, Ustadz Dzulqornain bukanlah seorang yang tidak pandai menulis bantahan ilmiyyah. Pernahkan antum membaca buku bantahan Ustadz Dzulqarnain yang berjudul “Meraih Kemuliaan Melalui Jihad Bukan Kenistaan” berisi 439 halaman dengan hujjah yang sangat meyakinkan. Namun beliau sangat menghormati nasehat Syaikh Shalih Al Fauzan dalam hal ini sehingga tidak memperpanjang pembicaraan.
Apakah antum semua menginginkan Ustadz Dzulqarnain menulis bantahan terhadap Ustadz Firanda seperti bantahan beliau dalam kitab tersebut. Bantahan yang terperinci dan memuaskan??
Kami berharap semoga kedua Ustadz (Ustadz Firanda & Ustadz Dzulqornain, Hafidhahullahu ta’ala) cepat ber-Ishlah sehingga persatuan diantara Ahlus Sunnah cepat terwujud dan menutup pinta celaan untuk golongan tersesat…Amiiin
Jazakumullahu Khoir wa Barakallahu Fiikum…[/quote]
Kepada admin website Ustd Firanda terhormat alangkah bijak dan baiknya jika masalah ini di tutup saja sampai ada kejelasan dari Sheikh Sholih Al Fauzan tentang masalah ini sudah cukup jelas penjelasan Ustd Dzul tentang masalah ini.
Barokallohufiekum
bismillah,saudaraku?kita harus membuka hati baru pendengaran dan mata,kita jangan takut dengan manusia tapi tidak takut dengan ALLAH,biar dunia luar tahu bahwa ahlag kita belum beres,ustad firanda cuma mau meluruskan permasalahan,kalau mau jelas dengar rekaman kajian ustad firanda di http://www.kajian.net hikma berdakwa yang beliu sampaikan di batam,bagaimana berdakwa dengan hikma.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kepada Al Ustadz Firanda hafidzahullahu yang kami sayangi, ada seseorang hamba Allah Ta’ala yang meminta kepada saya untuk menitipkan amanah ini. Kami berharap Al Ustadz untuk membaca surat ini atau admin untuk menyampaikan kepada Al Ustadz.
Kami memandang ustadz mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahullahu. Beliau menyarankan jika ustadz bertemu kembali dengan As Syaikh dan tolong menyampaikan permintaan kami berikut.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahullahu yang kami hormati. Kami meminta syaikh untuk datang ke Indonesia dan langsung menemui ustadz Dzulqornain dan kawan-kawan (dkk) dan ustadz Firanda dkk di rumah ustadz Dzulqornain. Kami kira Syaikh tidak perlu untuk menunggu surat yang dikirim dari ustadz Dzulqornain. Kami berharap agar Syaikh menjadi penengah dan menasihati para Salafiyun di Indonesia yang telah lama hidup dalam fitnah yang berkepanjangan dalam masalah tahdzir mentahdzir. Kami memandang anda wahai Syaikh adalah seorang yang dihormati dan disegani baik dari ustadz Dzulqornain dkk dan ustadz Firanda dkk. Kami melihat tidak ada penyelesaian dari dahulu sampai dengan sekarang, padahal sudah banyak cara-cara yang dilakukan agar hal ini bisa selesai. Kami memandang bahwa Syaikh harus datang dan hadir di Indonesia sebagai solusi.
Kami kira ini mudah-mudahan ini suatu kebaikan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja pernah keluar untuk menemui para Shahabat dari Muhajirin dan Anshar yang sedang bertikai tanpa menunggu orang yang bertikai untuk datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ketika kami berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ikut pula bersama beliau orang-orang dari kaum Muhajirin sehingga (jumlah) mereka sangat banyak. Di antara kaum Muhajirin itu ada seorang laki-laki yang senang bergurau, terus dia memukul pantat seorang laki-laki Anshar dengan tangannya, maka orang Anshar itu sangat marah sehingga memanggil teman-temannya, ia mengatakan, “Wahai kaum Anshar.” Sementara orang Muhajir pun memanggil, “Wahai kaum muhajirin.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan berkata, “Kenapa ada seruan ahli jahiliyah?”, kemudian beliau bertanya, “Kenapa mereka?” Beliau pun diberitahu tentang apa yang dilakukan orang Muhajir itu terhadap orang Anshar tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tinggalkan itu karena itu sungguh buruk.” (Hadits Bukhari 3258 Bab “Bukan dari golongan kami siapa yg memukul-mukul pipi, merobek baju & menyeru dgn seruan jahiliyyah (meratap kematian) .”)
Mungkin saja anda wahai syaikh sedang dalam keadaan sibuk tetapi bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan para Shabatnya Ridwanallahu alaihim jamian adalah orang lebih sibuk daripada kita? Akan tetapi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan para Shabatnya Ridwanallahu alaihim jamian senantiasa menyempatkan waktunya dari hal-hal yang kecil sampai dengan yang besar. Apalagi menyatukan barisan kaum muslimin merupakan perkara yang diwajibkan Allah Jalla Jala Luhu sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” [Ali-Imran ; 103]
Sekiranya Syaikh dapat mempertimbangkan permintaan kami agar insyaallah mudah-mudahan jalan kebaikan akan Allah Ta’ala buka untuk kaum muslimin di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya.”
Sekian surat yang kami titipkan untuk Syaikh lewat ustadz Firanda. Sebaiknya kunjungan Syaikh ke Indonesia juga ditemani oleh ulama yang lain yang dihormati dan disegani di antara dua pihak (yang mentahdzir radio Rodja dan yang ditahdzir) seperti Syaikh Abdul Muhsin atau yang lainnya.
Jika ada kendala pada biaya, saya menyarankan agar dibuka penggalangan dana melalui radio Rodja dan Rodja TV kepada para muhsinin yang mau untuk berinfaq dijalan Allah Ta’ala untuk persatuan kaum muslimin dan sekaligus sebagai undangan kepada seluruh asatidzah di antara kedua kubu di wilayah Indonesia.
Jika ada kegiatan yang kelak menyibukkan kepada pihak asatidzah di Indonesia, sebaiknya membatalkan semua kegiatan tersebut demi untuk hal ini. Karena banyak manfaat yang kita bisa petik insyaallah dari kunjungan Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang lainnya.
Mari kita sambut dengan tangan terbuka As-Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama lainnya yang insyaallah jika permintaan ini dipenuhi.
Atas perhatiannya, kami mengharapkan agar al ustadz Firanda mau menanggapi surat ini.
Terima kasih banyak, Barakallahu fiikum.
Hamba Allah Azza wa Jalla
Afwan, kepada para penuntut ilmu dan ikhwan yang baru ngaji sunnah, ana hanya mengingatkan kembali tentang sikap para sahabat ketika terjadi perselisihan di antara sahabat, sahabat yg lainnya diam. Jadi masalah ini sangat perlu dukungan kita, tolong ketika salah satu Al-Ustadz melakukan kesalahan kata atau khilaf dalam penyampaian JANGAN DI SEBARKAN REKAMANNYA!
Justru awal bencana ini karena kita yg di bawah terlalu gampang menyebarluaskan kesalahan2 para Asatidzah sehingga para ikhwan yg lain banyak juga yg tersulut emosi nya.
Wallohu’alam