Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
Home KHUTBAH

Khutbah Jum’at – Anakmu Butuh Doamu

Admin UFA by Admin UFA
April 18, 2026
in KHUTBAH
Reading Time: 16 mins read
0
Khutbah Jum’at – Anakmu Butuh Doamu

Pembuka Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”1

أَمَّا بَعْدُ، فَقَالَ الْمُتَّقُونَ…

Related Post

Praktik Harta Haram Yang Tidak Disadari (Khutbah Jumat)

Khutbah Jumat – Kemuliaan Shalat Malam

Khutbah Jumat – Jangan Suka Merendahkan Orang Lain

Khutbah Jumat – Ihsan Derajat Tertinggi


Bagian I: Ciri Ibādurrahmān — Mendoakan Anak dan Keturunan

Sesungguhnya di antara ciri-ciri penghuni surga yang Allah sebutkan ketika menyebutkan tentang ibādurrahmān — hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih — kata Allah Subhānahu wa Ta’ālā:

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا

“Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan surga yang tinggi atas kesabaran mereka.”2

Allah sebutkan ciri-ciri mereka. Di antaranya firman Allah:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang bermunajat memohon kepada Allah dengan berkata: ‘Ya Rabb kami, jadikanlah dari istri-istri kami dan anak-anak kami qurrata a’yun — penyejuk pandangan kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.'”3

Yaitu jadikanlah istri-istri kami istri-istri yang salehah, dan jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang saleh.

Oleh karenanya, orang yang saleh selalu mendoakan anaknya. Jika dia sering mendoakan anaknya, maka dia termasuk orang-orang yang saleh dan telah memiliki salah satu dari sifat-sifat ibādurrahmān.


Bagian II: Teladan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalām dalam Mendoakan Anak dan Keturunan

Allah Subhānahu wa Ta’ālā menyebutkan contoh yang menakjubkan dalam Al-Qur’an tentang bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalām yang begitu perhatian terhadap anaknya — bahkan kepada anak keturunannya. Di antara bentuk perhatian Nabi Ibrahim adalah mendoakan mereka.

A. Doa Meminta Anak yang Saleh

Allah sebutkan ketika Nabi Ibrahim diusir dari Babilonia, maka dia berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh.”4

Dia diusir dan dia ingin punya keluarga yang saleh. Maka Allah kabulkan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Allah berikan anak-anak yang saleh — di antaranya Ismail ‘alaihissalām dan juga Ishaq ‘alaihissalām.


B. Doa Ketika Meninggalkan Ismail di Makkah

Kemudian ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalām diperintahkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā untuk membawa istrinya Hajar dan putranya Ismail yang masih kecil, yang masih menyusui — untuk diletakkan:

بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

“Di lembah yang tidak ada tetumbuhan, tempat dibangunnya Ka’bah.”5

Maka dia pun meletakkan anaknya di sana, dan dia mendoakan untuk anaknya tersebut — yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an:

Doa 1: Agar Negeri Ini Aman

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ibrahim berdoa: ‘Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini — kota Makkah — sebagai negeri yang aman. Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.'”6

Yaitu dia mendoakan agar anaknya bisa hidup di negeri yang aman. Kalau kita perhatikan doa-doa Nabi Ibrahim, dia mendoakan kebaikan agama untuk anaknya dan juga mendoakan kebaikan duniawi untuk anaknya — agar anaknya bisa beribadah dengan baik dan bisa bersyukur kepada Allah.

Doa 2: Agar Dijauhkan dari Syirik

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Rabbku, jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.”6

Yaitu jauhkanlah kami dari perbuatan syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Dia mendoakan agar anaknya dijauhkan dari dosa yang sangat besar — yaitu dosa syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Kemudian dia berkata:

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ

“Sesungguhnya berhala-berhala, sembahan-sembahan telah menyesatkan banyak manusia.”6

Doa 3: Agar Menegakkan Salat dan Hati Manusia Condong kepada Mereka

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

“Ya Allah, aku meletakkan anak keturunanku di suatu lembah yang tidak ada tetumbuhan — agar mereka bisa mendirikan salat. Jadikanlah hati-hati manusia condong kepada mereka.”7

Condong kepada mereka. Sehingga sekarang buktinya — orang-orang senantiasa condong hati mereka ke kota Makkah. Tidak pernah bosan mereka ke kota Makkah. Meskipun lelah, meskipun menghabiskan uang yang begitu banyak, orang tidak pernah bosan untuk pergi ke kota Makkah — tempat Nabi Ismail yang pernah didoakan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalām.

Doa 4: Agar Diberi Rezeki — Doa Duniawi untuk Anak

وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Allah, berikanlah kepada mereka buah-buahan — agar mereka bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.”7

Padahal ketika itu tempat tersebut tidak ada buah-buahan, tidak ada tetumbuhan. Tapi Ibrahim ‘alaihissalām mendoakan agar diberikan kepada mereka buah-buahan. Buat apa? La’allahum yasykurun — agar mereka bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Maka perlu kita mendoakan agar anak-anak kita dimudahkan rezekinya — supaya rezeki tersebut digunakan oleh mereka untuk beribadah kepada Allah, untuk bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Bukan untuk membangkang dan bermaksiat kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Doa 5: Agar Menegakkan Salat dengan Baik dan Benar

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Allah, jadikanlah aku dan keturunanku penegak salat. Ya Allah, terimalah doa kami.”8

Di antara perkara yang difokuskan oleh Ibrahim adalah berdoa agar anaknya menegakkan salat — bukan hanya salat, tapi menegakkan salat: iqāmatus salāt — salat dengan baik dan benar.


C. Ibrahim dan Ismail Membangun Ka’bah

Allah sebutkan juga dalam kesempatan yang lain — ketika Ismail ‘alaihissalām sudah tumbuh besar, sudah dewasa — maka Ibrahim ‘alaihissalām datang kepada Ismail kemudian mengatakan:

“Wahai Ismail, إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ هَلْ تُعِينُنِي — Allah telah memerintahkan aku dengan suatu perintah. Apakah engkau akan bantu aku?”

Ismail mengatakan: “Tentu, wahai ayahanda.”

Kata Ibrahim: “Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membangun Baitullah di tempat ini.”

Maka mereka berdua pun membangun Ka’bah — ayah dibantu oleh anaknya. Allah abadikan dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka Ibrahim dan Ismail bekerja sama membangun Ka’bah — seraya berdoa: ‘Ya Rabb kami, terimalah amal ibadah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar permohonan kami dan Maha Mengetahui isi hati kami.'”9

Pekerjaan yang sangat berat — mereka harus memotong batu yang besar kemudian dijadikan dalam bentuk kubus, dipikul, kemudian disusun. Maka anak dan ayah bekerja sama. Ketika Ka’bah semakin meninggi, Ibrahim harus bertumpu kepada suatu pijakan — itulah Maqam Ibrahim. Maka Ismail ‘alaihissalām mengoper bongkahan batu kepada Ibrahim, maka Ibrahim kemudian menyusunnya. Mereka berdua bekerja sama.

Dan ketika setiap mereka meletakkan satu batu, mereka berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Rabb kami, terimalah amal ibadah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui isi hati kami — bahwasanya kami melakukan ibadah ini ikhlas kepada Engkau ya Allah.”9

Ini dalil bahwasanya jika seorang melakukan ibadah yang agung, maka hendaknya dia susul dengan doa. Di antara ibadah yang agung adalah membangun Ka’bah. Jika seorang bersedekah dengan sedekah yang besar, hendaknya dia berdoa kepada Allah agar diterima.


D. Doa Agar Tetap Istikamah dan Keturunan Menjadi Umat Muslim

Maka Ibrahim dan Ismail melanjutkan doa:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ

“Ya Allah, jadikanlah kami dua orang yang Islam kepada Engkau — maksudnya: istikamahkanlah kami dan tambahkanlah keimanan kami. Dan dari keturunan kami berdua, jadikanlah umat Islam yang tunduk kepada-Mu.”10

Kata para ulama: doa Nabi Ibrahim dan Ismail dikabulkan. Maka muncullah umat Islam — umat yang besar.

Lihatlah bagaimana Ibrahim tidak hanya mendoakan dirinya dan anaknya — dia juga mendoakan anak, cucu, dan seluruh keturunannya.

وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا

“Dan dari keturunan kami berdua jadikanlah umat Islam yang tunduk kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara beribadah kami. Dan terimalah tobat kami.”10

Sebagian ahli tafsir mengatakan: Ibrahim dan Ismail tidak sedang berdosa — bahkan mereka sedang membangun Ka’bah, sedang melakukan ibadah yang sangat agung. Tapi mereka minta diterima tobat mereka. Ini sebagai perwakilan bagi anak cucu mereka. Nabi Ibrahim dan Ismail tahu bahwasanya anak cucu mereka akan ada yang membangkang. Maka mereka mewakili anak cucu mereka: “Ya Allah, terimalah tobat kami.”


E. Doa Agar Diutus Seorang Rasul dari Keturunan Mereka

Kemudian bukan cuma itu — Ibrahim ‘alaihissalām berdoa:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Rabb kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Mu, mengajarkan Al-Kitab dan hikmah, dan mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”11

Kata para ulama: Ibrahim tahu bahwasanya anak keturunannya tidak semuanya beriman, tidak semuanya bertakwa. Maka Ibrahim minta agar di antara keturunannya ada yang sangat saleh yang bisa mendakwahi mereka dan membimbing mereka. Dan Allah kabulkan. Maka lahirlah Nabi Muhammad ﷺ.

Maka Nabi Muhammad ﷺ berkata:

أَنَا دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى

“Aku adalah hasil dari doa nenek moyangku Ibrahim ‘alaihissalām. Dan aku adalah kabar gembira yang telah pernah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihissalām — akan datang Nabi setelah Nabi Isa itu namanya Ahmad, yaitu Muhammad ﷺ.”12


F. Ibrahim Dijadikan Imam dan Mendoakan Anaknya Pula

Demikian juga dalam ayat yang lain — ketika Allah berkata kepada Ibrahim karena beliau luar biasa menjalankan segala perintah Allah:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

“Ketika Rabb Ibrahim menguji Ibrahim dengan perintah-perintah dan larangan-larangan — maka Ibrahim ‘alaihissalām menjalankan semuanya dengan sempurna.”13

Allah mengatakan:

إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Aku akan menjadikan engkau sebagai imam, pemimpin, teladan bagi umat manusia.”13

Ibrahim langsung memikirkan anaknya. Dia berkata:

وَمِن ذُرِّيَّتِي

“Ya Allah, anak-anakku juga — jadikanlah mereka pemimpin.”

Allah berkata:

لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Tidak. Tidak semua anakmu akan jadi pemimpin. Orang-orang zalim dari anak-anakmu tidak akan jadi pemimpin.”13

Tetapi yang menjadi perhatian kita: Ibrahim ‘alaihissalām banyak berdoa bukan cuma kepada anak-anaknya yang sedang hadir seperti Ismail dan Ishaq — bahkan kepada seluruh keturunannya.

Oleh karenanya, di antara doa yang hendaknya kita panjatkan kepada Allah adalah bukan cuma kepada anak-anak kita yang ada sekarang, bahkan kepada cucu dan keturunan kita hendaknya kita berdoa. Karena jika anak-anak kita saleh, jika cucu-cucu kita saleh, maka kita yang beruntung. Pahala akan mengalir juga kepada kita.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنسَانُ انقَطَعَ عَنهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثٍ … وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali dari tiga perkara. Di antaranya: anak saleh yang mendoakannya.”14

Semoga Allah memberikan kita anugerah anak-anak yang saleh, cucu-cucu yang saleh, zuriyyah salehah yang bertakwa kepada Allah dan mendoakan kakek-kakek mereka dan bapak-bapak mereka.


أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Pembuka Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ … وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ


Bagian III: Tantangan Zaman dan Urgensi Mendoakan Anak

Sesungguhnya kita hidup di zaman di mana cobaan yang dihadapi oleh anak-anak kita dan godaan yang menghadang mereka tidak seperti yang kita hadapi di zaman kita ketika masih muda.

Anak-anak kita menghadapi ujian yang sangat berat. Hal-hal yang bisa menjauhkan mereka dari Islam begitu banyak di hadapan mereka — menjauhkan mereka dari akhirat, membuat mereka tenggelam dengan dunia, menjadikan mereka materialistis. Sehingga mereka sangat-sangat butuh bimbingan orang tuanya — dan terlebih lagi butuh kepada doa orang tuanya.

Oleh karena itulah — sebagaimana sudah saya sampaikan di awal khutbah — ciri orang-orang saleh adalah orang-orang yang sering mendoakan anaknya. Allah sebutkan dalam Al-Qur’an bagaimana orang-orang saleh mendoakan anak-anak mereka:

Zakaria berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً

“Ya Allah, anugerahkanlah dari sisi Engkau kepadaku keturunan yang baik.”15

Maka Allah berikan kepadanya Yahya ‘alaihissalām.

Hannah, ibunya Maryam — istri Imran — ketika melahirkan Maryam, maka dia berdoa:

وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau ya Allah agar Engkau melindungi Maryam dan juga anak keturunannya dari godaan setan.”16

Lihat bagaimana Hannah tidak hanya mendoakan Maryam anaknya saja — bahkan kepada cucunya. Dan akhirnya dikabulkan: Isa ‘alaihissalām dilindungi oleh Allah dari setan.

Maka seorang hendaknya berusaha mendoakan anak-anaknya — dalam salatnya, dalam salat malamnya, ketika berbuka puasa — agar Allah menjaga anak-anak, membimbing mereka, dan menjadi penyejuk pandangan di dunia apalagi di akhirat kelak.


Bagian IV: Ketika Doa Belum Dikabulkan — Hiburan dari Kisah Nabi Nuh

Tentunya mendoakan anak hanyalah sebab agar anak-anak menjadi saleh. Tetapi yang menentukan hidayah hanyalah hak Allah semata.

Bisa jadi seorang sudah berdoa, tetapi Allah tidak kabulkan. Allah sebutkan bagaimana ada orang-orang saleh yang diuji dengan anak-anak yang tidak saleh. Di antaranya adalah Nabi Nuh ‘alaihissalām.

Nabi Nuh ‘alaihissalām mendakwahi anaknya — anaknya terus membangkang sampai bahkan di akhir kesempatan pun anaknya tetap membangkang. Ketika bumi sudah dipenuhi dengan air, banjir yang luar biasa, maka anaknya tetap tidak beriman. Nabi Nuh berkata:

يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

“Wahai putraku, kemarilah — naik bersamaku, naik bersama ayahmu. Jangan kau termasuk orang-orang kafir.”17

Anaknya menjawab:

سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

“Aku akan pergi menuju gunung yang akan menyelamatkan aku dari air banjir ini.”17

Nabi Nuh mengingatkan lagi:

لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ

“Tidak ada yang bisa selamat hari ini dari perintah Allah kecuali yang dirahmati oleh Allah.”17

Anaknya tetap ngeyel. Maka Nabi Nuh terus mendakwahi anaknya — tahu-tahu kemudian ombak menghalangi mereka berdua. Akhirnya ombak pun menenggelamkan anaknya tersebut.

Namun begitu sayangnya Nabi Nuh kepada anaknya. Setelah anaknya tenggelam, dia masih berdoa kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā:

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

“Ya Rabbku, sesungguhnya putraku adalah anakku, dari keluargaku. Dan Engkau telah menjanjikan bahwasanya Engkau akan menyelamatkan keluargaku. Namun Engkau adalah Zat yang paling bijak dari semua yang bijak.”18

Sebagian ulama mengatakan: Nabi Nuh ingin meminta kepada Allah — sebagaimana perkataan Al-Ṭabarī — an turji’a ibnī: “Ya Allah, kembalikan anakku hidup lagi. Aku ingin dakwahi dia lagi.” Sebagian ulama seperti Ṭāhir bin ‘Āsyūr mengatakan: “Ya Allah, jika Kau tidak selamatkan dia di dunia, selamatkanlah dia di akhirat.”

Maka Allah menegur Nabi Nuh:

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Nuh, sesungguhnya anakmu bukan dari keluargamu — dia tidak Islam, dia kafir. Sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan kekufuran. Maka jangan kau minta kepada-Ku apa yang kau tidak punya ilmu tentangnya. Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”19

Sebagian ulama mengatakan: Allah menegur Nabi Nuh bahwasanya semua ini ada hikmahnya. Meskipun Nuh ‘alaihissalām ratusan tahun — atau waktu yang sangat panjang — mendakwahi anaknya, tapi Allah mentakdirkan anaknya tetap meninggal dalam kekufuran. Karena ada hikmah yang Allah ketahui yang tidak diketahui oleh Nabi Nuh ‘alaihissalām.


Maka ayat seperti ini adalah hiburan bagi sebagian kita yang mungkin sudah berusaha membimbing anaknya, sudah berdoa dengan maksimal — tetapi Allah uji dengan anak yang mungkin membangkang, anak yang nakal, anak yang malas beribadah.

Maka terus dakwahi dia, terus mendoakannya.

Kita tidak tahu bagaimana penghujung seseorang. Kalaupun ternyata Allah mentakdirkan anaknya menjadi anak yang bejat — doa kita tidak ada yang sia-sia. Semua doa pasti dikabulkan. Kalau tidak dikabulkan di dunia, maka Allah akan ganti dengan pengkabulan yang besar di akhirat kelak.

Semoga Allah Subhānahu wa Ta’ālā memudahkan kita banyak mendoakan anak-anak kita di bulan suci Ramadan ini. Dan semoga Allah Subhānahu wa Ta’ālā mengabulkan doa-doa kita. Sesungguhnya bulan Ramadan adalah syahrud du’ā’ — bulan yang Allah mudahkan dikabulkan doa-doa dari para hamba-Nya.


Doa Penutup

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِي الْحَاجَاتِ

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَمْرَنَا كُلَّهُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


Catatan Kaki

Footnotes

  1. QS. Āli ‘Imrān (3): 102. ↩
  2. QS. Al-Furqān (25): 75. ↩
  3. QS. Al-Furqān (25): 74. ↩
  4. QS. Al-Ṣāffāt (37): 100. ↩
  5. QS. Ibrāhīm (14): 37. ↩
  6. QS. Ibrāhīm (14): 35–36. ↩ ↩2 ↩3
  7. QS. Ibrāhīm (14): 37. ↩ ↩2
  8. QS. Ibrāhīm (14): 40. ↩
  9. QS. Al-Baqarah (2): 127. ↩ ↩2
  10. QS. Al-Baqarah (2): 128. ↩ ↩2
  11. QS. Al-Baqarah (2): 129. ↩
  12. HR. Ahmad (no. 17163) dan Al-Ḥākim dalam al-Mustadrak (II/600), dari Abu Umamah radhiyallāhu ‘anhu. Dihasankan oleh sebagian ulama. Juga diriwayatkan dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā. Lafaz lengkap: “Anā da’watu abī Ibrāhīm wa busyrā ‘Īsā.” ↩
  13. QS. Al-Baqarah (2): 124. ↩ ↩2 ↩3
  14. HR. Muslim (no. 1631), dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Lafaz lengkap: “Idzā māta al-insānu inqaṭa’a ‘amaluhu illā min tsalāts: ṣadaqatun jāriyah, aw ‘ilmun yuntafa’u bih, aw waladun ṣāliḥun yad’ū lah.” ↩
  15. QS. Āli ‘Imrān (3): 38. ↩
  16. QS. Āli ‘Imrān (3): 36. ↩
  17. QS. Hūd (11): 42–43. ↩ ↩2 ↩3
  18. QS. Hūd (11): 45. ↩
  19. QS. Hūd (11): 46. ↩
Share212Tweet133Send

Related Posts

khotbah jumat harta haram
KHUTBAH

Praktik Harta Haram Yang Tidak Disadari (Khutbah Jumat)

Praktik Harta Haram Yang Tidak Disadari (Khutbah Jumat) Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA. Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ...

by admin
June 3, 2021
Khutbah Jumat – Kemuliaan Shalat Malam
KHUTBAH

Khutbah Jumat – Kemuliaan Shalat Malam

Khutbah Jumat – Kemuliaan Shalat Malam Oleh DR. Firanda Andirja, Lc, MA Khubah Pertama إن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه...

by admin
February 13, 2020

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Khutbah Jum’at – Anakmu Butuh Doamu

Khutbah Jum’at – Anakmu Butuh Doamu

April 18, 2026
Dahsyatnya Ujub dan Riya

Dahsyatnya Ujub dan Riya

April 17, 2026
Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

April 15, 2026
Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

April 15, 2026

Website resmi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Dikelola oleh tim IT resmi Ustadz Firanda Official.

About

  • About Us
  • Site Map
  • Contact Us
  • Career

Policies

  • Help Center
  • Privacy Policy
  • Cookie Setting
  • Term Of Use

Join Our Newsletter

Copyright © 2025 by UFA Official.

Facebook-f Twitter Youtube Instagram

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Support Forum
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2025 Firanda Andirja - Menebarkan cahaya tauhid & sunnah.