Ketahuilah, wahai saudaraku, dosa adalah sumber segala malapetaka. Begitu berbahaya, ia tak hanya menimpa manusia biasa, para nabi pun terkena dampaknya. Lihatlah Nabi Adam ‘alaihissalâm. Beliau terpaksa keluar dari pintu surga karena satu dosa. Namun ingatlah, dosa itu Allah ﷻ takdirkan atas dasar ilmu-Nya yang luas dan hikmah-Nya yang Dia kehendaki.
Allah ﷻ berfirman,
﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syûrâ: 30)
Allah ﷻ juga berfirman,
﴿مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا﴾
“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (QS. An-Nisâ’: 79)
Andai dampaknya hanya di dunia, tentu perkaranya lebih ringan. Tetapi nyatanya tidak. Dosa juga membekas di akhirat. Seseorang bisa terhalang masuk surga gara-gara dosa. Karena itu, kelak setiap amal akan ditimbang. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ, فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ, وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ, نَارٌ حَامِيَةٌ﴾
“Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qâri’ah: 8-11)
Bila timbangan dosa seseorang jauh lebih berat daripada kebaikannya, ia masuk neraka lebih dulu, untuk dibersihkan dari seluruh dosanya, barulah kemudian dimasukkan ke surga. Namun ini khusus bagi orang yang bertauhid, yang bersih dari syirik dan kufur. Adapun pelaku kekafiran dan kesyirikan, mereka tak akan masuk surga sama sekali. Allah ﷻ berfirman,
﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ﴾
“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.” (QS. Al-Mâ`idah: 72)
Karena dampak dosa begitu berbahaya, kita perlu mengenali hal-hal yang dapat menggugurkannya. Dengan begitu, kita berusaha menjalankannya, hingga kelak kita berjumpa dengan Allah ﷻ dalam keadaan dosa-dosa telah rontok, dan Dia memasukkan kita ke surga secara langsung. Semoga Allah ﷻ memasukkan kita semua ke dalam surga-Nya.
Pembahasan ini sejatinya bersumber dari tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh dalam Majmû‘ al-Fatâwâ jilid ketujuh. Di sana, beliau membantah satu pemahaman menyimpang, yang menyangka dosa hanya bisa gugur dengan tobat. Padahal ada sebab-sebab lain yang juga menggugurkannya. Beliau menyebut, sebab gugurnya dosa ada sepuluh. Ibnu Taimiyyah rahimahullâh berkata,
((قَدْ دَلَّتْ نُصُوصُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ: عَلَى أَنَّ عُقُوبَةَ الذُّنُوبِ تَزُولُ عَنْ الْعَبْدِ بِنَحْوِ عَشَرَةِ أَسْبَابٍ))
“Telah ditunjukkan oleh al-Qur`an dan sunah-sunah Nabi Muhammad ﷺ bahwa hukuman terhadap dosa bisa hilang dari seorang hamba dengan sekitar sepuluh sebab.” ([1])
Kesepuluh sebab itu sebagai berikut.
- Tobat.
Tobat, inilah satu-satunya yang disepakati kaum muslimin dapat menggugurkan dosa. Allah ﷻ berfirman,
﴿قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Tak ada hidup yang berlalu tanpa noda dosa. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,
((اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا))
“Istikamahlah kalian, dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya.” ([2])
Maksudnya, sekuat apa pun seseorang beristikamah, ia tetap akan tergelincir. Sebab ia bukan malaikat, bukan pula nabi. Banyak atau sedikitnya, itu bergantung pada masing-masing. Apalagi kita yang hidup di zaman ini. Siapa yang benar-benar selamat dari dosa? Dosa mata, dosa telinga, dan dosa lisan, mungkin setiap hari kita lakukan. Sampai-sampai penulis berani berkata, bila ada seorang pemuda yang selamat dari dosa pandangan di zaman ini, sungguh ia salah seorang wali Allah ﷻ. Sebab di hari ini, lolos dari dosa-dosa itu sungguh berat.
Maka, ketika seseorang terjatuh dalam dosa, hendaklah ia bertobat kepada Allah ﷻ. Dan hendaklah ia berbaik sangka, yakin bahwa Allah ﷻ pasti mengampuninya. Ingatlah sebuah hadis yang menuturkan,
Suatu hari, datang rombongan tawanan perang kepada Nabi Muhammad ﷺ. Di tengah mereka, seorang ibu hilir mudik mencari bayinya. Begitu ia menemukannya, ia rengkuh erat ke dadanya, lalu ia susui. Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Menurut kalian, sanggupkah ibu ini melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Mereka menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah ﷻ, selama ia mampu mencegahnya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
((لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا))
“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”([3])
Hadis ini menyingkap puncak kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, kasih sayang saat ia menemukan kembali buah hatinya yang sempat hilang. Tak ada kasih di muka bumi ini yang melampauinya. Namun, kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada itu. Maka, ketika seseorang berbuat dosa, bersegeralah kembali kepada Allah ﷻ.
Bayangkan seorang anak berbuat salah. Orang tuanya marah, memukulnya, bahkan mungkin mengusirnya. Tetapi setelah itu, diam-diam hatinya pedih. Ia rindu, ia ingin anaknya pulang. Maka begitu sang anak kembali meminta maaf, pasti ia terima. Begitulah Allah ﷻ terhadap hamba-Nya. Saat hamba berdosa, lalu Allah ﷻ menegurnya dengan musibah, kemudian ia bertobat dan kembali, pasti Allah ﷻ mengampuninya. Sebab kasih sayang-Nya melampaui kasih seorang ibu kepada anaknya. Karena itu, dalam bermuamalah dengan Allah ﷻ, berbaik sangkalah selalu. Allah ﷻ berfirman dalam hadis qudsi,
((أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ))
“Sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, jika ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkannya, dan jika ia berprasangka buruk maka ia akan mendapatkannya.” ([4])
Maka, saat berbuat dosa, bersegeralah bertobat sebelum setan membisikkan keraguan untuk menunda. Jika bisikan itu telanjur datang, tepislah, dan tetaplah kembali kepada Allah ﷻ. Pun bila kau khawatir akan mengulang dosa yang sama kelak, tepislah waswas itu. Sebab tobat hanyalah untuk dosa yang telah lalu.
Orang yang paling beruntung kelak adalah yang Allah ﷻ beri taufik untuk bertobat sebelum ajal. Bisa jadi seseorang menumpuk begitu banyak dosa, namun di ujung hidupnya ia bertobat, lalu seluruh dosanya rontok. Lihatlah para penyihir Firaun. Bertahun-tahun mereka menggeluti sihir dan kesyirikan. Lalu saat berduel melawan Nabi Musa ‘alaihissalâm, mereka kalah, mereka sadar, dan mereka beriman kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
﴿فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى﴾
“Lalu para penyihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, ‘Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa’.” (QS. Thâhâ: 70)
Begitu mereka beriman kepada Allah ﷻ dan Nabi Musa ‘alaihissalâm, Firaun pun murka, lalu membunuh mereka. Iman yang hanya seumur jagung, tetapi iman itu menghapus dosa bertahun-tahun, hingga akhirnya Allah ﷻ memasukkan mereka ke surga.
Tengoklah pula kisah seorang pembunuh sembilan puluh sembilan nyawa. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad ﷺ menceritakan,
“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ‘Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah tobatnya diterima?’ Rahib pun menjawabnya, ‘Orang seperti itu tidak diterima tobatnya.’ Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang alim. Lantas ia bertanya pada alim tersebut, ‘Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah tobatnya masih diterima?’ Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah ﷻ, maka sembahlah Allah ﷻ bersama mereka. Janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.’
Lelaki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini datang dalam keadaan bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah’. Namun malaikat azab berkata, ‘Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun’. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini’. Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.”([5])
Lihatlah, seseorang yang belum pernah berbuat satu kebaikan pun, lalu Allah ﷻ beri ia taufik untuk bertobat, kemudian Dia ampuni dosa-dosanya. Maka, jangan pernah putus dari bertobat kepada Allah ﷻ. Di mana pun kita berada, bertobatlah, perbanyaklah doa. Bukankah Allah ﷻ telah berfirman,
﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ﴾
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222)
Di antara nama Allah ﷻ adalah at-Tawwâb, yaitu Zat Yang Maha menerima tobat hamba-Nya. Begitu banyak dalil yang menegaskannya. Di antaranya firman Allah ﷻ,
﴿أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ﴾
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang?” (QS. At-Taubah: 104)
Allah ﷻ juga berfirman,
﴿وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾
“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syûrâ: 25)
Ayat-ayat semacam ini sungguh banyak. Maka, sering-seringlah bertobat. Sebab tak seorang pun tahu kapan ia dipanggil kembali kepada Allah ﷻ. Betapa banyak orang menunda tobat, lalu umurnya tak sampai pada waktu yang ia rencanakan.
- Istigfar.
Istigfar berasal dari kata اِسْتَغْفَرَ, yang berarti طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ, memohon ampunan. Sebab pola istaf‘ala dalam bahasa Arab bermakna meminta sesuatu. Jadi, istigfar berarti seorang hamba memohon ampunan.
Lalu apa itu magfirah? Ia berasal dari kata mighfar, sejenis pelindung kepala yang dipakai dalam peperangan. Fungsinya dua, menutup kepala sekaligus melindunginya dari tebasan pedang. Maka tak semua penutup kepala disebut mighfar. Peci dan sorban, misalnya, hanya menutup, tak melindungi.
Ibnul Qayyim rahimahullâh menjelaskan, ketika seseorang mengucap “Astaghfirullâh”, makna pertamanya, ia memohon kepada Allah ﷻ agar aibnya ditutup di dunia. Karena itu, dalam zikir pagi dan petang kita kerap membaca doa agar Allah ﷻ menutupi aib kita,
((اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي))
“Ya Allah, tutupilah auratku, amankanlah apa-apa yang menjadi pemeliharaanku, lindungilah kami dari bahaya yang datang dari hadapanku, dari belakangku, dari samping kananku, dari samping kiriku dan dari atasku dan aku berlindung kepada-Mu dari bahaya yang datang tak disangka dari bawahku.” ([6])
Maksud menutup aurat dalam doa ini, kita memohon kepada Allah ﷻ agar menutupi aib-aib kita. Sebab bila Allah ﷻ menyingkapnya, tak ada lagi yang sudi berteman, bahkan duduk bersama kita. Muhammad bin Wasi’ rahimahullâh berkata,
((لَوْ كَانَ لِلذُّنُوبِ رِيحٌ، مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ))
“Kalau sekiranya dosa itu memiliki aroma (bisa tercium), tidak seorang pun mau duduk dengan saya.”([7])
Maka, ketika orang menghargai dan menyegani kita, itu bukan karena kita mulia. Itu karena Allah ﷻ menutup dosa-dosa kita. Karena itu, perbanyaklah istigfar.
Makna yang kedua dari istigfar adalah perlindungan.([8]) Yaitu seseorang meminta kepada Allah ﷻ agar dosa yang ia lakukan tidak memberikan dampak buruk kepada dirinya. Sebagaimana diketahui bahwa dosa pasti memiliki dampak buruk. Dengan seseorang memperbanyak istigfar maka ia akan dijauhkan dari dampak buruk dosa. Sebagian salaf mengatakan, “Demi Allah saya mengetahui dampak dari maksiatku pada kendaraanku, keluargaku, pembantuku”. Seakan-akan dia tahu bahwa dampak buruk yang dia alami adalah buah dari maksiat yang dia lakukan.
Jadi, makna istigfar adalah memohon kepada Allah ﷻ agar aib ditutup, dan agar kita dilindungi dari dampak buruk dosa. Sungguh beruntung orang yang banyak beristigfar kepada Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا))
“Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan di dalam catatan amalnya istigfar yang banyak.” ([9])
Sayang sekali, betapa banyak waktu kita terbuang tanpa zikir, malah terisi dosa demi mengikuti yang haram di media sosial. Melihat yang haram, menyebar hoaks, mengorek kesalahan orang, larut dalam gibah. Maka biasakanlah diri memperbanyak istigfar, di waktu luang maupun di sela kesibukan. Saat menyetir, berzikirlah. Saat mengantre, berzikirlah. Memang, sebagian kita malu berzikir di tempat umum. Padahal itu hanya soal kebiasaan.
Ketahuilah, orang yang banyak beristigfar akan Allah ﷻ limpahi kebaikan, di dunia dan di akhirat. Lihatlah balasan dunianya dalam firman Allah ﷻ tentang seruan Nabi Nûh ‘alaihissalâm,
﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إنَّهُ كانَ غَفّارًا ١٠ يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْرارًا ١١ ويُمْدِدْكُمْ بِأمْوالٍ وبَنِينَ ويَجْعَلْ لَكُمْ جَنّاتٍ ويَجْعَلْ لَكُمْ أنْهارًا ١٢ ما لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وقارًا﴾
“Maka aku (Nûh) berkata (kepada kaumnya), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu. Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?’” (QS. Nûh: 10-13)
Adapun balasan di akhirat, Allah ﷻ sebutkan dalam ayat yang lain,
﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu’.” (QS. At-Tahrîm: 8)
Adakah yang lebih baik daripada Allah ﷻ? Saat manusia meminta maaf kepada sesamanya, ia hanya memperoleh maaf. Tetapi saat seorang hamba berbuat dosa dan bermaksiat terang-terangan, lalu ia kembali dan bertobat, Allah ﷻ tak sekadar mengampuni. Dia melimpahkan balasan, di dunia berupa rezeki, hujan rahmat, dan keturunan, di akhirat berupa surga yang dialiri sungai-sungai. Lalu apa yang membuat kita masih enggan beristigfar?
Lalu apa beda istigfar dan tobat? Istigfar bisa tetap ada pada seseorang meski ia belum bertobat, bahkan masih bermaksiat. Dalam sebuah hadis disebutkan,
Dahulu, ada seorang yang telah berbuat dosa. Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosaku!”. Kemudian Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi siksa karena dosa.” Kemudian orang tersebut berbuat dosa lagi dan ia berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosaku!”. Kemudian Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi siksa karena dosa.” Kemudian orang tersebut berbuat dosa lagi dan ia berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosaku!”. Maka Allah ﷻ berfirman, “Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa hamba-Nya karena dosa. Oleh karena itu, berbuatlah sekehendakmu, karena Aku pasti akan mengampunimu (jika kamu bertobat).” ([10])
Dari hadis ini dapat dipahami, tobat adalah pintu yang berbeda dari istigfar, walau keduanya sama-sama menggugurkan dosa. Sebab pada dasarnya istigfar adalah doa. Dan istigfar yang sempurna adalah yang dibarengi tobat. Sebab ketika beristigfar disertai tobat, lahirlah rasa takut kepada Allah ﷻ, lahir inabah, dan amalan hati lain yang turut menggugurkan dosa. Nabi Muhammad ﷺ pun sering menggabungkan keduanya dalam doa,
((أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ))
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepadanya.”
Namun, terkadang seseorang belum mampu bertobat, hingga ia masih tenggelam dalam maksiat. Salah satu pengakuan jujur akan keadaan itu terucap dalam doa zikir pagi dan petang,
((اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ))
“ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU`U LAKA BIDZANBI FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu).” ([11])
Dalam doa ini, seseorang mengakui bahwa ia belum sanggup meninggalkan dosanya. Hal seperti ini sering kita jumpai. Ia ingin berhenti, tetapi pada satu keadaan ia belum bisa. Misalnya, orang yang bekerja di tempat riba. Ia tahu itu dosa, tetapi karena suatu sebab ia belum mampu melepaskannya. Semoga Allah ﷻ memberinya taufik untuk meninggalkannya.
Maka, jangan lupa beristigfar kepada Allah ﷻ, terutama di waktu yang paling utama, yakni waktu sahur. Allah ﷻ berfirman,
﴿الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ﴾
“Orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sahur (sebelum fajar).” (QS. Âli ‘Imrân: 17)
Allah ﷻ juga berfirman,
﴿وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴾
“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzâriyât: 18)
Sempatkanlah bangun di tengah malam, dirikan salat, dan perbanyak istigfar, meski hanya sepuluh atau lima belas menit.
- Amal Saleh.
Kebaikan dan amal saleh termasuk penggugur dosa. Di antara dalilnya, firman Allah ﷻ,
﴿وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ﴾
“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Hûd: 114)
Hadis-hadis sahih menyebutkan, ayat ini turun berkaitan dengan seorang yang berbuat maksiat. Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu berkata,
“Aku berada di dekat Nabi Muhammad ﷺ, kemudian seorang laki-laki mendatangi beliau ﷺ dan berujar: ‘Ya Rasulullah ﷺ, Saya telah melanggar hukum had, maka tegakkanlah atasku!’ Nabi Muhammad ﷺ tidak menanyainya. Ketika tiba waktu salat, ia pun ikut salat bersama Nabi Muhammad ﷺ. Selesai Nabi Muhammad ﷺ mendirikan salat, laki-laki itu menemui Nabi Muhammad ﷺ dan berkata, ‘Ya Rasulullah ﷺ, aku telah melanggar had, maka tegakkanlah atasku sesuai kitabullah.’ Nabi Muhammad ﷺ bersabda, ‘Bukankah engkau salat bersama kami?’ ‘Benar’ Jawabnya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ ذَنْبَكَ، أَوْ قَالَ: حَدَّكَ))
“Allah ﷻ telah mengampuni dosamu -atau dengan redaksi-mengampuni hukuman had (yang menimpa) mu.” ([12])
Dalam riwayat lain, Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu menuturkan,
Ada seorang lelaki pernah mencium seorang wanita, lalu dia menemui Nabi Muhammad ﷺ dan mengabarkannya kepada Nabi Muhammad ﷺ. Maka turunlah ayat (yang artinya), “Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hûd: 114). Abdullah bin Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu kemudian berkata, “Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ayat ini hanya khusus untukku?” Nabi Muhammad ﷺ menjawab,
((لِمَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ أُمَّتِي))
“Ayat tersebut adalah untuk orang-orang yang melakukannya dari umatku.”([13])
Perlu ditegaskan, ini bukan berarti seseorang bebas bermaksiat lalu cukup salat dan rontoklah dosanya. Pemahaman yang benar, ketika ia berbuat dosa, lahir rasa takut di hatinya, lalu ia bertobat dan inabah kepada Allah ﷻ, kemudian menyibukkan diri dengan amal kebaikan dan ibadah. Di saat itulah Allah ﷻ menghapus dosa-dosanya, berkat ibadah dan amal saleh yang ia kerjakan.
Adapun dalil dari hadis bahwa amal kebaikan menggugurkan dosa, di antaranya sabda Nabi Muhammad ﷺ,
((الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ))
“Salat lima waktu dan salat Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.” ([14])
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ))
“Barang siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” ([15])
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ))
“Umrah demi ‘Umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” ([16])
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ))
“Barang siapa melaksanakan haji karena Allah lalu dia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik maka dia kembali seperti hari saat dilahirkan oleh ibunya.” ([17])
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ، تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ، وَالصَّدَقَةُ، وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ المُنْكَرِ))
“Fitnahnya seseorang di dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya, bisa dihapus (diampuni) dengan salat, sedekah, amar makruf dan nahi munkar.” ([18])
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُسْلِمَةً، أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّارِ، حَتَّى فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ))
“Barang siapa membebaskan budak muslim, Allah membebaskan setiap anggota tubuhnya karena anggota tubuh yang dibebaskannya dari neraka, hingga Allah membebaskan kemaluannya dari neraka, karena kemaluannya.” ([19])
Inilah sebagian dalil yang menunjukkan, hendaknya seseorang memperbanyak amal saleh. Sebab dengannya Allah ﷻ menghapus dosa. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ))
“Jika air itu mencapai dua kulah (tempat menyimpan air) maka ia tidak akan najis karena sesuatu.” ([20])
Dari hadis ini para ulama berkata, bila najis kecil jatuh ke air yang banyak, ia tak teranggap. Begitu pula dosa. Bila amal seseorang melimpah, dosanya yang sedikit tak lagi teranggap. Sebab amal diumpamakan air yang bersih, sedangkan dosa seperti najis. Maka Allah ﷻ tak menganggap dosa seseorang yang amalnya berlimpah.
Penguat hal ini adalah kisah Hathib bin Abu Balta’ah radhiyallâhu ‘anhu, sahabat yang ikut Perang Badar pada tahun kedua hijriah. Beliau bukan panglima, bukan pula tokoh berpengaruh. Karena itu, dalam catatan sejarah, nama beliau tak menonjol dalam kisah Badar.
Lalu pada tahun kedelapan, beliau tergelincir. Beliau mengirim surat kepada kerabatnya di Makkah, mengabarkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ hendak menyerang mereka dalam Fathu Makkah. Ini langkah berbahaya. Musuh bisa mengetahui rencana, lalu bersiap, padahal Nabi Muhammad ﷺ menghendaki serangan yang tiba-tiba. Maka ketika Hathib radhiyallâhu ‘anhu mengutus seorang wanita membawa surat itu, Allah ﷻ mewahyukan kejadian ini kepada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau pun mengutus ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu untuk mengejar sang utusan. ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu menuturkan,
“Rasulullah ﷺ pernah menugaskan saya, Zubair, dan Miqdad. Sebelum berangkat, Rasulullah ﷺ berkata, ‘Berangkatlah ke taman Khakh dan di sana ada seorang wanita yang membawa surat, lalu rebutlah surat tersebut darinya!’ Kemudian kami berangkat dengan mengendarai kuda dan di sana kami menjumpai seorang wanita. Lalu kami berkata kepadanya, ‘Keluarkanlah surat yang kamu bawa itu!‘ Wanita itu menjawab, ‘Aku tidak membawa surat.’ Kami berkata kepadanya sambil memberi ultimatum, ‘Kamu keluarkan surat tersebut atau kami akan menelanjangimu dengan paksa.’ Maka ia keluarkan surat itu dari balik sanggul rambutnya. Lalu kami bawa surat tersebut kepada Rasulullah ﷺ dan ternyata di dalamnya tertulis,
‘Dari Hathib bin Abu Balta’ah untuk kaum kafir Quraisy Makkah tentang beberapa urusan Rasulullah.’
Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Hai Hathib, ada apa ini?’ Hathib menjawab, ‘Ya Rasulullah, janganlah engkau tergesa-gesa marah kepada saya! Sebenarnya saya dulu pernah akrab dengan kaum kafir Quraisy Makkah (Kata Abu Sufyan, ‘Hathib adalah sekutu kaum kafir Quraisy, tetapi dia sendiri bukan orang Quraisy). Saya juga dulu pernah turut serta berhijrah bersama engkau meninggalkan keluarga di kota Makkah yang mereka dipelihara oleh kerabat mereka. Ketika kerabat mereka sudah tidak ada lagi, maka saya ingin ada jaminan dari mereka untuk melindungi keluarga saya. Tentunya, saya melakukan hal ini bukan karena kafir ataupun murtad dari agama saya. Karena, bagaimana pun juga saya tidak rela menjadi kafir setelah masuk Islam.’ Mendengar penjelasan Hathib, Rasulullah pun bersabda: ‘Kamu benar hai Hathib.’ Tiba-tiba ‘Umar bin al-Khaththab berkata, ‘Ya Rasulullah, izinkanlah saya untuk memenggal leher orang munafik ini!’ Rasulullah ﷺ berkata,
((إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ﴾))
‘Tahukah bahwasanya Hathib turut juga dalam perang Badr. Tidakkah engkau mengetahui sesungguhnya Allah ﷻ telah memberikan keringanan bagi orang-orang yang turut dalam perang Badr dan berfirman (yang artinya), ‘Silakanlah kalian berbuat sesuka kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian!’ Kemudian Allah ﷻ menurunkan ayat yang berbunyi (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia’. (QS. Al-Mumtahanah: 1).” ([21])
Lihatlah Hathib radhiyallâhu ‘anhu, yang Allah ﷻ ampuni kesalahannya karena satu amal yang luar biasa, keikutsertaannya dalam Perang Badar. Pahala Badar itu ibarat lautan air, dan dosa yang ia perbuat ibarat setitik kotoran yang dijatuhkan ke dalamnya. Tentu kotoran itu sirna, melebur dalam air.
Karena itu, perbanyaklah amal saleh semampumu. Perbanyak salat, sebab akan tiba masa ketika tubuh tak lagi kuat berdiri. Perbanyak baca al-Qur’an, sebab akan tiba masa ketika mata tak lagi mampu membaca. Perbanyak sedekah, sebelum harta yang ada tak lagi cukup bahkan untuk diri sendiri. Kumpulkan amal sebanyak dan sebaik mungkin, sebab dengannya dosa-dosa kita tak lagi teranggap di sisi Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,
((لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ))
“Tidak akan masuk neraka orang yang ikut berbaiat (kepadaku) di bawah pohon.” ([22])
Sabda ini beliau ﷺ tujukan kepada sekitar seribu empat ratus, atau seribu enam ratus orang, yang berbaiat dan siap membela beliau hingga tetes darah terakhir. Ini menunjukkan, amal mereka begitu luar biasa, sehingga andai pun mereka punya dosa, Allah ﷻ tak menganggapnya, dan mereka tak akan dimasukkan ke neraka.
Hadis-hadis juga menyebutkan, salat sunah akan menambal kekurangan salat fardu. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ أَكْمَلَهَا كُتِبَتْ لَهُ نَافِلَةً، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَكْمَلَهَا، قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِمَلَائِكَتِهِ: انْظُرُوا، هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَأَكْمِلُوا بِهَا مَا ضَيَّعَ مِنْ فَرِيضَتِهِ، ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ))
“Pertama yang akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya, jika ia menyempurnakannya maka akan ditulis baginya pahala nafilah (sunah). Jika tidak menyempurnakannya, Allah ﷻ berkata kepada malaikat-Nya, ‘Lihatlah, apakah kalian mendapati ia mempunyai ibadah tathawu’ (sunah)? dengannya sempurnakanlah ibadah wajibnya yang kurang,’ kemudian semua amalan akan diperlakukan seperti itu.” ([23])
Karena itu, saat berbuat dosa, segeralah berbuat kebaikan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ))
“Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” ([24])
- Doa Kaum Mukminin untuknya.
Doa kaum mukminin untuk seseorang dapat menggugurkan dosanya. Contoh nyatanya adalah doa mereka dalam salat jenazah. Salah satu doa yang Nabi Muhammad ﷺ ajarkan untuk dibaca saat salat jenazah adalah,
((اللهُمَّ، اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ – أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ))
“ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA ‘AAFIHI WA’FU ‘ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI’ MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A’IDZHU MIN ‘ADZAABIL QABRI AU MIN ‘ADZAABIN NAAR (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).” ([25])
Inti salat jenazah adalah doa. Karena itu, di dalamnya tak ada rukuk maupun sujud. Ia dibuka dengan al-Fatihah, lalu selawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, kemudian doa. Sama persis dengan adab seorang yang hendak berdoa, memuji Allah ﷻ, berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, barulah memohon hajatnya.
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa doa kaum mukminin dapat menggugurkan dosa adalah hadis Nabi Muhammad ﷺ,
((مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ، فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا، لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللهُ فِيهِ))
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan disalatkan oleh lebih dari empat puluh orang,([26]) yang mana mereka tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doa mereka untuknya.” ([27])
Karena itu, bila kita ingin dosa kita diampuni, mohonlah agar yang kelak menyalatkan jenazah kita adalah orang-orang yang bertauhid, yang tak menyekutukan Allah ﷻ. Dan karena itu pula, jangan lupa mendoakan kedua orang tua yang telah tiada. Mereka tak lagi bisa kita bahagiakan dengan kebaikan duniawi. Yang mereka butuhkan kini hanya satu, doa dari anak-anaknya. Sebab di antara ciri anak yang saleh adalah yang tak henti mendoakan orang tuanya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ))
“Apabila salah seorang manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” ([28])
- Amal Orang Lain untuknya Setelah Ia Wafat.
Pada asalnya, seseorang hanya menuai pahala dari amal yang ia kerjakan sendiri. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى﴾
“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Terlebih bagi yang telah wafat, amalnya pun terputus. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ))
“Apabila salah seorang manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” ([29])
Namun ternyata, ada amalan orang lain yang tetap bermanfaat bagi yang telah wafat, yaitu haji dan umrah yang diniatkan untuknya, sedekah atas namanya, dan doa untuknya. Dalam hal ini para ulama telah sepakat. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullâh berkata dalam kitabnya al-Umm,
((يَلْحَقُ الْمَيِّتَ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ وَعَمَلِهِ ثَلَاثٌ حَجٌّ يُؤَدَّى عَنْهُ وَمَالٌ يُتَصَدَّقُ بِهِ عَنْهُ، أَوْ يُقْضَى وَدُعَاءٌ))
“Ada tiga perkara yang seorang mayat diikutkan pahalanya dari perbuatan orang lain; haji yang ditunaikan untuk mayat (badal haji), harta yang disedekahkan atas namanya atau yang dibayarkan dan doa.” ([30])
Karena itu, bila seorang anak berhaji dengan niat untuk orang tuanya yang telah wafat, pahala haji itu sampai kepadanya. Begitu pula bila ia membangun masjid atau amal lain dengan niat untuk mereka, pahalanya pun sampai. Amal-amal seperti ini sungguh bermanfaat bagi yang telah tiada, sebab ia menggugurkan dosa-dosanya.
- Syafaat Nabi Muhammad ﷺ.
Begitu banyak dalil yang menunjukkan Nabi Muhammad ﷺ memberi syafaat kepada umatnya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي))
“Syafaatku untuk umatku yang berbuat dosa besar.” ([31])
Perlu diketahui, ada syarat untuk meraih syafaat Nabi Muhammad ﷺ, yaitu bersih dari syirik. Dalam sebuah hadis, Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
“Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling beruntung dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Nabi Muhammad ﷺ menjawab,
((لَقَدْ ظَنَنْتُ، يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَنْ لاَ يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ))
“Hai Abu Hurairah, saya sudah beranggapan bahwa tak seorang pun lebih dahulu menanyakan masalah ini kepadaku daripada dirimu, dikarenakan kulihat semangatmu mencari hadis. Manusia yang paling beruntung dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan laa-ilaaha-illa-llaah, dengan tulus dari lubuk hatinya.”([32])
Dalam hadis lain Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا))
“Setiap Nabi memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi menyegerakan doanya, dan sesungguhnya aku menyembunyikan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. Dan insya Allah syafaatku akan mencakup orang yang mati dari kalangan umatku yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun.” ([33])
Dari sini dapat dipahami, orang yang beramal ikhlas karena Allah ﷻ, yang tak mengharap pujian dan pengakuan, yang menyembunyikan amalnya, dialah yang paling beruntung meraih syafaat Nabi Muhammad ﷺ kelak, hingga dosa-dosanya rontok. Sebaliknya, orang yang berbuat syirik, ujub, ria`, dan gemar memamerkan amalnya, tipis harapannya meraih syafaat itu. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kita semua syafaat Nabi Muhammad ﷺ.
- Musibah Penggugur Dosa.
Begitu banyak dalil yang menunjukkan, musibah yang menimpa seseorang dapat menggugurkan dosanya. Di antaranya firman Allah ﷻ,
﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syûrâ: 30)
Ayat ini menunjukkan, Allah ﷻ mengampuni dosa pada setiap musibah yang menimpa hamba. Sebab andai Allah ﷻ menurunkan musibah atas setiap dosa, niscaya kita binasa. Tetapi Dia hanya menimpakan musibah atas sebagian dosa, dan mengampuni sebagian yang lain.
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ))
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” ([34])
Di antara sunah Nabi Muhammad ﷺ saat menjenguk orang sakit adalah mendoakannya, “Semoga sakit ini menggugurkan dosa-dosamu, InsyaÂllah.” Ini bukti, sakit yang kita anggap musibah pun bisa menggugurkan dosa. Bahkan musibah sekecil rasa sedih atau cemas. Maka, saat tertimpa musibah sekecil apa pun, hadapilah dengan baik dan sabar. Sebab terkadang Allah ﷻ sengaja menetapkannya untuk merontokkan dosa-dosa kita. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ))
“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat.” ([35])
Bahkan, bila seseorang ditimpa musibah demi musibah, kelak ia berjalan di akhirat tanpa menyandang dosa sedikit pun. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ))
“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya maka Allah menahan dosanya sehingga dia terima kelak di hari kiamat.”([36])
Dalam hadis lain Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ))
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barang siapa rida (menerima cobaan tersebut) maka baginya keridaan, dan barang siapa murka maka baginya kemurkaan.”([37])
Maka, saat seseorang menghadapi musibah sekecil apa pun dengan sabar, ia menghapus dosa sekaligus mengangkat derajatnya. Sebaliknya, bila ia menyambut musibah dengan marah dan benci kepada Allah ﷻ, musibah itu tak menghapus dosa, justru menurunkan derajatnya. Maka hadapilah setiap musibah dengan baik dan sabar.
Namun perlu dipahami, ini bukan berarti kita boleh meminta musibah kepada Allah ﷻ demi menggugurkan dosa. Sebab Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,
((أَيُّهَا النَّاسُ، لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ العَدُوِّ، وَسَلُوا اللَّهَ العَافِيَةَ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ الجَنَّةَ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوفِ))
“Wahai sekalian manusia, janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh, tapi mintalah kepada Allah keselamatan. Dan apabila kalian telah bertemu musuh, maka bersabarlah. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya surga itu terletak di bawah naungan pedang-pedang.” ([38])
Maksudnya, jangan meminta musibah kepada Allah ﷻ. Tetapi bila ia datang, hadapilah dengan sabar. Sungguh, lebih baik Allah ﷻ mengampuni dosa kita lewat istigfar daripada lewat musibah. Hanya saja, terkadang ada dosa yang tak terampuni dengan istigfar, karena istigfar kita yang kurang sempurna, sehingga Allah ﷻ menghapusnya dengan musibah.
- Himpitan Kubur Penggugur Dosa.
Ketika seseorang telah masuk ke liang kuburnya, ia akan mengalami dhagthah, himpitan kubur. Pahamilah, dhagthah ini bukan azab kubur. Ia adalah sesuatu yang pasti dialami setiap mukmin di alam kubur, sebagaimana sakratulmaut yang pasti dialami setiap manusia. Dan peristiwa ini menggugurkan dosa-dosa seorang mukmin. Dalam salah satu hadis Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً، وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ))
“Sesungguhnya di dalam kubur ada tekanan, dan jika seseorang bisa selamat darinya maka dia adalah Sa’ad bin Mu’adz.” ([39])
Sa’ad bin Mu’adz radhiyallâhu ‘anhu adalah sahabat yang gugur terkena anak panah saat Perang Khandaq. Begitu mengetahuinya, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((اهْتَزَّ العَرْشُ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ))
“Arsy bergetar sebab meninggalnya Sa’adz bin Mu’adz.” ([40])
Hadis ini menjelaskan, Sa’ad bin Mu’adz radhiyallâhu ‘anhu adalah orang yang sangat saleh. Namun, beliau pun tetap mengalami himpitan kubur. Ini menunjukkan, setiap manusia, saleh atau tidak, pasti merasakannya.
Sesudah dhagthah, seseorang menghadapi fitnah kubur, pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir yang datang dengan rupa hitam dan biru. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ))
“Apabila mayat atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat berwarna hitam dan biru, salah satunya bernama Munkar dan yang lainnya bernama Nakir.” ([41])
Bila di alam kubur ia mampu menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir dengan benar, ia memperoleh nikmat kubur. Di antaranya, kuburnya diluaskan, hingga ia tak lagi merasakan himpitan. Namun bila ia tak mampu menjawab, azab kuburlah yang menantinya.
- Beratnya Hari Kiamat Penggugur Dosa.
Ketika dibangkitkan pada hari kiamat, seseorang menghadapi keadaan yang teramat berat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا “ قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ))
“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat –atau bersabda dengan redaksi para hamba- dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak buhman” Lalu kami bertanya, “Apakah buhman itu?” Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang kalian bawa.” ([42])
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ، فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا))
“Pada hari kiamat, matahari di dekatkan ke manusia hingga sebatas satu mil. Lalu mereka bercucuran keringat sesuai amal perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” ([43])
Lalu, saat tiba masa persidangan dan hisab, sungguh berat yang ia rasakan. Saat itu, terpampang jelas di hadapannya aib-aib yang dulu ia sembunyikan di dunia. Berat pula saat ia harus meniti sirath. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda tentang sifat-sifatnya,
((دَحْضٌ مَزِلَّةٌ فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ السَّعْدَانُ… أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنْ الشَّعْرَةِ وَأَحَدُّ مِنْ السَّيْفِ))
“Licin (lagi) menggelincirkan, di atasnya ada besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan…Jembatannya lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” ([44])
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh menjelaskan, seluruh keadaan ini turut mengurangi dosa seorang hamba. Karena itu, saat meniti sirath, ada di antara kaum muslimin yang tubuhnya tercabik-cabik, sampai ia tak mampu berjalan kecuali dengan merangkak di atas perutnya. Namun itu tak menjerumuskannya ke neraka. Ia tetap sampai ke surga. Hanya saja, apa yang ia alami di atas sirath itu menjadi penggugur dosa-dosanya.
- Rahmat dan Ampunan Allah ﷻ Tanpa Sebab dari Hamba.
Sungguh mudah bagi Allah ﷻ untuk menggugurkan dosa seorang hamba secara tiba-tiba, semata karena kasih sayang-Nya. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS.Asy-Syûrâ: 30)
Ini menunjukkan, tak selalu ada sebab khusus bagi Allah ﷻ untuk mengampuni kesalahan hamba. Ampunan itu Dia berikan murni karena kasih sayang-Nya.
Demikianlah sepuluh sebab yang dapat menggugurkan dosa. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang dirontokkan dosa-dosanya.
([1]) Majmû’ al-Fatâwâ (7/487).
([2]) Ibnu Majah, No. 278, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([3]) HR. Al-Bukhari, No. 5999.
([4]) HR. Ahmad, No. 9076, dinyatakan sahih oleh al-Arnauth.
([6]) HR. Ibnu Majah, No. 3871, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([7]) Muhâsabah an-Nafsi (1/82).
([8]) Lihat: Madârij as-Sâlikîn (1/315).
([9]) HR. Ibnu Majah, No. 3818, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([11]) HR. Al-Bukhari, No. 6306.
([12]) HR. Al-Bukhari, No. 6823.
([13]) HR. Al-Bukhari, No. 4687.
([15]) HR. Al-Bukhari, No. 38.
([16]) HR. Al-Bukhari, No. 1773.
([17]) HR. Al-Bukhari, No. 1521.
([18]) HR. Al-Bukhari, No. 3586.
([19]) HR. Al-Bukhari, No. 6715.
([20]) HR. Ibnu Majah, No. 517, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([21]) HR. Muslim, No. 2494 dan HR. Al-Bukhari, No. 3983.
([22]) HR. Abu Daud, No. 4653, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([23]) HR. Ibnu Majah, No. 1426, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([24]) HR. At-Tirmidzi, No. 1987, dinyatakan hasan oleh al-Albani.
([26]) Dalam riwayat lain, “Tidaklah seseorang meninggal, kemudian disalatkan oleh kaum muslimin yang mencapai seratus orang, kemudian mereka memohon syafaat untuknya melainkan ia akan diberi syafaat karena mereka.” (Lihat: HR. Ahmad, No. 13830, dinyatakan sahih oleh al-Arnauth).
([31]) HR. At-Tirmidzi, No. 2436, dinyatakan hasan oleh Al-Albani.
([32]) HR. Al-Bukhari, No. 6570.
([34]) HR. Al-Bukhari, No. 5641.
([36]) HR. At-Tirmidzi, No. 2396, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([37]) HR. Ibnu Majah, No. 4021, dinyatakan hasan oleh al-Albani.
([38]) HR. Al-Bukhari, No. 1966..
([39]) HR. Ahmad, No. 24328, dinyatakan sahih oleh al-Arnauth.
([40]) HR. Al-Bukhari, No. 3803.
([41]) HR. At-Tirmidzi, No. 1071, dinyatakan hasan oleh al-Albani.
([42]) HR. Ahmad, No. 16085, dinyatakan hasan oleh al-Albani.




