Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
Home NASIHAT

Dahsyatnya Ujub dan Riya

Admin UFA by Admin UFA
April 17, 2026
in NASIHAT
Reading Time: 32 mins read
0
Dahsyatnya Ujub dan Riya

Silhouettes of photographer

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=N7xHvd9yy_U

Perhatian, artikel ditranskrip otomatis masih dalam tahap review oleh ustadz dan tim UFA. Harap terus melakukan cross-check khususnya referensi dari hadist, Al-Qur’an maupun kitab.

Pembuka

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ

Related Post

Hati-hati Penyakit Ujub dengan Jumlah yang Banyak!!

Akhir Perjalanan Hidup Ini

AMPUNI DAN SAYANGILAH KAMI YA GHOFUUR YA RAHIIM

Lockdown Perdebatan

Para ikhwan, akhwat, para dokter yang dirahmati Allah Subhānahu wa Ta’ālā — pada kesempatan kali ini kita sama-sama membahas dua penyakit yang berbahaya yang justru menyerang orang-orang yang saleh, yang memiliki amal ibadah dan ketaatan.

Dua penyakit itu adalah: riya’ dan ujub.


Bagian I: Mengapa Riya’ dan Ujub Sangat Berbahaya

Penyakit ini tidak berbicara kepada orang-orang pelaku kemaksiatan yang suka mabuk, suka zina, suka bermaksiat. Justru penyakit ujub dan riya’ ini adalah penyakit yang rawan mengenai orang-orang yang sibuk beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā — baik orang yang rajin salat, haji, umrah, maupun yang berdakwah di jalan Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Mereka inilah yang rentan terkena penyakit ujub dan riya’.

Perlu bagi kita untuk saling mengingatkan — karena bahayanya penyakit ini. Dimana Nabi ﷺ pernah melewati para sahabat sementara mereka sedang berbicara tentang Dajjal yang lebih mengerikan. Maka Nabi ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيَّ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟

“Wahai para sahabatku, maukah kukabarkan kepada kalian tentang fitnah yang lebih aku takutkan daripada fitnah Dajjal?”

Para sahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda:

اَلشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ إِلَيْهِ

“Syirik yang samar — yaitu seorang yang berdiri kemudian salat, kemudian dia memperindah salatnya karena dia tahu ada orang yang sedang melihatnya.”1

Ini dikatakan bisa lebih dikhawatirkan daripada fitnah Dajjal. Padahal kita tahu fitnah Dajjal sangat dahsyat — tidak ada fitnah yang lebih besar. Tetapi fitnah riya’ lebih dikhawatirkan ditinjau dari dua sisi:

Pertama: Kalau Dajjal sudah datang, insyaAllah orang-orang saleh bisa selamat dari fitnahnya. Justru penyakit riya’ menyerang orang-orang saleh itu sendiri.

Kedua: Kalau fitnah Dajjal belum tentu kita temui karena dia muncul di akhir zaman — adapun riya’ bisa muncul setiap saat. Bukan seorang bisa jadi selamat hari ini, tetapi bisa jadi diserang riya’ pada kesempatan yang lain.

Dari dua sisi inilah Nabi ﷺ mengatakan fitnah riya’ lebih dahsyat daripada fitnah Dajjal.

Catatan penyampaian: Yang berbicara — yaitu saya sendiri — belum tentu selamat dari riya’ dan ujub. Tetapi saya menyampaikan ini agar saya memperingatkan diri saya sendiri lebih dahulu, sebelum mengingatkan ikhwan dan rekan-rekan yang hadir dalam pengajian ini.


Bagian II: Ikhlas — Syarat Diterimanya Amal

A. Pentingnya Ikhlas

Kita sudah sama-sama tahu bahwasanya ibadah — sehebat apapun — tidak akan diterima kecuali dengan ikhlas. Kalau tidak ikhlas maka tidak akan diterima. Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk mengikhlaskan agama mereka kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.”2

Dan Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya.”3

Kemudian juga dalam hadis Qudsi, Allah berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah yang paling tidak butuh dengan persekutuan. Barangsiapa mengamalkan suatu amalan kemudian dia berbuat kesyirikan di dalamnya, maka Aku akan meninggalkan dia dan amalannya tersebut.”4

Jadi seorang melakukan amalan sehebat apapun — membangun masjid seharga 20 atau 50 miliar, berdakwah dengan follower jutaan, haji setiap tahun atau umrah setiap bulan, berbakti kepada orang tua — apapun amal yang hebat, jika dia tidak ikhlas maka tidak diterima oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā.


B. Definisi Ikhlas

Secara Bahasa

Ikhlas secara bahasa diambil dari kata:

خَلَصَ — خَلُصَ

khaluṣa — yang artinya murni.

Kemudian dengan tambahan huruf hamzah menjadi:

أَخْلَصَ

akhlasa — artinya memurnikan.

Dalam Al-Qur’an, Allah sering menggunakan kata khaluṣa, seperti dalam firman-Nya:

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِن بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِّلشَّارِبِينَ

“Sesungguhnya bagi kalian pada binatang ternak ada pelajaran. Kami memberi kalian minum dari apa yang Kami keluarkan dari perut hewan ternak tersebut — susu yang murni (labanan khāliṣan) — yang sifat susu tersebut berada di antara kotoran dan darah, dan lezat bagi orang-orang yang meminumnya.”5

Jadi Allah menggambarkan tentang susu yang murni — yaitu susu yang tidak terkontaminasi dengan kotoran maupun darah. Susu itu keluar di antara darah dan kotoran. Kalau semurni itu, tidak boleh terkotori dengan satu titik kotoran pun dan tidak boleh ternoda dengan satu tetes darah pun.

Inilah gambaran dari ikhlas.

Secara Istilah

إِخْلَاصٌ هُوَ تَصْفِيَةُ الْعِبَادَةِ لِوَجْهِ اللهِ وَحْدَهُ

Ikhlas adalah memurnikan tujuan ibadah hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Inilah ikhlas. Kapan keikhlasan ini terkontaminasi dengan kotoran-kotoran penyakit, maka dia tidak jadi ikhlas lagi.


C. Kotoran yang Merusak Ikhlas

Kotoran yang merusak keikhlasan di antaranya ada dua — dan inilah yang sedang akan kita bahas — yaitu riya’ dan ujub.

Inilah dua kotoran yang kalau masuk dalam niat seseorang, maka merusak keikhlasan — menjadikan amalan tersebut tidak diterima oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Karena Allah mensyaratkan kalau mau diterima amalannya: harus murni karena Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Allah Subhānahu wa Ta’ālā tidak mau ternoda meskipun sedikit pun. Ada orang berkata: “Saya ikhlas, Ustaz. Saya beribadah kepada Allah 90% untuk Allah, 10% untuk dipuji.” Tidak diterima. Karena Allah mau murni.

“Saya beribadah kepada Allah 95%, tapi lima persennya supaya dihormati.” Tetap tidak diterima oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Karena Allah hanya menerima ibadah yang ikhlas — yang bersih dari riya’ maupun ujub.

Di sini kita tahu urgensinya kita belajar tentang bahaya riya’ dan ujub — tidak lain adalah agar kita bisa menjaga keikhlasan kita ketika beramal kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Kapan ikhlas kita ternoda dengan riya’ ataupun ujub — maka tidak diterima. Tidak peduli anda beramal saleh sebesar apapun, tidak peduli berapa besar anda sedekahkan — kalau anda riya’, selesai. Kalau anda ujub, selesai. Tidak diterima oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Maka ini semestinya membuat kita semakin harus waspada.


Bagian III: Faedah-Faedah Keikhlasan

Sebelum masuk ke pembahasan riya’ dan ujub, perlu bagi kita motivasi tentang faedah-faedah keikhlasan. Di antara keutamaan ikhlas:


1. Amal yang Ringan Bisa Jadi Berat di Sisi Allah

Ibnu Mubārak rahimahullāh Ta’ālā berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُكَبِّرُهُ النِّيَّةُ وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Betapa banyak amalan kecil dibesarkan oleh niat. Dan betapa banyak amalan besar dijadikan kecil karena niat.”6

Dia menyumbang 1 miliar tapi niatnya macam-macam — amal tersebut jadi kecil di sisi Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Sebaliknya mungkin amal sederhana tapi dia ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā — luar biasa keikhlasannya, murni karena Allah — menjadi besar di sisi Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Dalil yang paling kuat tentang ini adalah kisah seorang wanita pezina yang diampuni oleh Allah — karena dia ikhlas. Kata Nabi ﷺ:

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَاسْتَقَتْ لَهُ فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ

“Ketika seekor anjing berputar-putar di sekitar sumur, kehausan sampai menjulurkan lidahnya ke pasir — tiba-tiba ada seorang wanita pezina dari Bani Israil yang melihat anjing tersebut. Maka dia pun kasihan, dia turun ke sumur, dia lepas sepatunya atau sandalnya, diisi air, lalu dia minumkan anjing tersebut. Maka Allah pun mengampuni dosa-dosanya karena perbuatannya tersebut.”7

Ibnu al-Qayyim rahimahullāh Ta’ālā menjelaskan: amalan dia bukan amalan yang sangat hebat-hebat — tinggal ambil air kemudian diminumkan kepada anjing. Tapi yang membuatnya hebat adalah keikhlasan wanita ini.

Wanita ini ketika melakukan amalan tersebut, dia butuh kepayahan — turun ke sumur itu bukan pekerjaan ringan bagi seorang perempuan. Dia mengambil air, kemudian diminumkan kepada anjing tersebut. Dia tidak berharap pamrih dari anjing tersebut sama sekali. Dan tidak ada yang melihatnya melakukannya. Anjing dikasih minum kemudian pergi — anjing tidak mengucapkan syukron, anjing tidak mengucapkan jazākillah khayran. Tidak ada yang melihatnya — menunjukkan dia melakukannya murni semata-mata karena Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Karena keikhlasan dalam hatinya tersebut, menjadikan dia diampuni oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Kata Ibnu Rajab: “Bisa dua orang salat berdampingan — kanan dan kiri — di saf yang sama, mungkin cara shalatnya sama, tapi pahalanya berbeda antara langit dan bumi. Kenapa? Karena amalan hatinya berbeda.”

Dari sini saya ingin mengingatkan dengan kuat: betapa pentingnya kita memperhatikan amalan hati. Karena banyak orang hanya memperhatikan amalan zahir — memperhatikan penampilannya. Itu bagus, tapi jangan lupa yang paling penting adalah amalan hati.

Makanya seorang Salaf mengatakan:

مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صَلَاتِهِ وَلَا صِيَامِهِ وَلَا صَدَقَتِهِ وَلَكِنْ بِمَا وَقَرَ فِي قَلْبِهِ

“Tidaklah Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu mengungguli para sahabat yang lainnya dengan banyak salatnya, banyak puasanya, banyak sedekahnya — tetapi dia mengungguli para sahabat karena apa yang ada di hatinya.”8

Abu Bakar tidak disiksa seperti Bilal, tidak disiksa seperti Khabbab bin al-Aratt, tidak disiksa seperti Ammār bin Yāsir. Abu Bakar pun tidak terluka dalam jihadnya seperti apa yang menimpa Ṭalḥah, Khālid bin Walid, dan sahabat-sahabat pejuang lainnya. Abu Bakar pun tidak meninggal syahid sebagaimana terbunuhnya Umar bin Khaṭṭāb radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu — yang dibunuh ketika menjadi imam salat Subuh. Abu Bakar pun tidak mati syahid seperti Utsmān bin ‘Affān yang dikeroyok orang banyak sambil membaca Quran — tapi Abu Bakar lebih baik daripada Umar dan Utsman.

Apa yang membuat Abu Bakar unggul? Karena hatinya. Hatinya yang luar biasa.

Umar berkata:

لَوْ وُزِنَ إِيمَانُ أَبِي بَكْرٍ بِإِيمَانِ الْأُمَّةِ لَرَجَحَ إِيمَانُ أَبِي بَكْرٍ

“Kalau iman Abu Bakar ditimbang dengan iman seluruh umat, niscaya lebih berat imannya Abu Bakar radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu.”9

Yang jadi masalah kita: di akhirat nanti yang Allah tampakkan adalah isi hati. Allah berfirman:

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Hari-hari di mana rahasia-rahasia dahsyat akan dibongkar.”10

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ

“Dan pada hari kiamat kelak akan dikeluarkan apa yang tersembunyi dalam hati.”11

Apa yang akan dinilai oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā pada hari kiamat kelak?

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Hari di mana tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali yang bertemu dengan Allah dengan hati yang bersih, hati yang selamat.”12

Maka ketika kita membahas masalah ikhlas, ujub, dan riya’ — ini bukan perkara sepele. Ini perkara bagaimana membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang perlu perjuangan untuk terus melawannya. Karena namanya ujub dan riya’ itu datang setiap saat. Semakin anda dikenal orang, semakin anda rajin beribadah, semakin anda banyak bersedekah — maka setan terus menggoda agar anda terjerumus dalam setitik riya’ dan setitik ujub yang bisa merusak amal ibadah anda.

Maka kita serius memperhatikan masalah hati — di antaranya kita bahas masalah ikhlas, dan kita bahas tentang lawannya: riya’ dan ujub.


2. Ikhlas Membantu Mewujudkan Cita-Cita

Dalam suatu hari, ada seorang Arab Badui datang menemui Nabi ﷺ. Kemudian dia ikut perang bersama Nabi di jalan Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Kemudian Nabi mendapatkan harta rampasan untuk dia — bagaimana Si Fulan ini? Kata dia: “Ya Rasulullah, aku datang ikut perang bersamamu bukan untuk ini.” Rasulullah bertanya: “Lalu untuk apa?” Kata dia:

أَنَا أُقَاتِلُ وَأَبْتَغِي أَنْ أُرْمَى هَاهُنَا — وَأَشَارَ إِلَى حَلْقِهِ — بِسَهْمٍ فَأَمُوتَ

“Aku berperang dan menginginkan agar aku tertusuk anak panah di sini — sambil menunjuk ke lehernya — lalu aku mati syahid.”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

إِنْ تَصْدُقِ اللهَ يَصْدُقْكَ

“Jika kau tulus ikhlas kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan doamu.”

Kemudian terjadilah peperangan — ternyata benar, dia meninggal, anak panah masuk ke lehernya kemudian tembus ke sebelah. Maka Nabi ﷺ bersabda:

صَدَقَ اللهَ فَصَدَقَهُ

“Dia tulus kepada Allah, maka Allah pun mengabulkan permohonannya.”13

Kadang-kadang kita banyak proyek dakwah kurang berhasil — mungkin ada masalah dengan niat kita. Kalau kita terus ikhlas karena Allah, Allah Maha Tahu yang lebih baik bagi kita, insyaAllah Dia akan mudahkan.

Makanya di antara sabda Nabi ﷺ:

اِسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ حَوَائِجِكُمْ بِالْكِتْمَانِ

“Carilah bantuan agar kalian bisa berhasil dalam mewujudkan tujuan kalian dengan cara menyembunyikannya.”14

Karena orang yang punya suatu kelebihan biasanya akan dicemburui oleh orang lain. Kalau kita sembunyikan, kita lebih ikhlas. Oleh karenanya perbaiki niat agar kita diwujudkan cita-citanya.


3. Ikhlas Memudahkan Doa Dikabulkan

Seperti kisah tiga orang yang masuk ke dalam gua — hadis yang masyhur. Kemudian hujan, ada batu besar jatuh menutup pintu gua. Akhirnya mereka berkata: “Kita tidak mungkin selamat kecuali kita berdoa kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.”

Maka ketiganya berdoa kepada Allah. Masing-masing memiliki amalan-amalan yang hebat: yang satu berbakti kepada orang tuanya, yang satu meninggalkan zina, yang satu amanahnya luar biasa. Tetapi ketiganya membuka doa dengan:

اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ

“Ya Allah, kalau Kau tahu aku melakukan ini karena Engkau, maka bukakanlah pintu gua ini dari kami.”

Semuanya berbuat demikian — bertawasul dengan keikhlasannya kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Maka akhirnya Allah pun membukakan pintu gua, dan mereka pun keluar.15


4. Ikhlas Memudahkan Seseorang Selamat dari Fitnah

Di antaranya dengan kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalām yang luar biasa — sudah sering kita sampaikan dalam pengajian-pengajian kita. Wanita cantik, dalam kamar, tidak ada yang melihat. Sampai syahwat sudah tergerak — tapi kemudian Allah selamatkan. Allah berfirman:

كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya keburukan dan perbuatan keji. Sesungguhnya dia adalah hamba Kami yang terpilih.”16

Dalam sebagian qirā’at: minal mukhliṣīn — karena dia adalah hamba yang ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Kalau dia ikhlas, maka Allah selamatkan dia di waktu-waktu genting. Kenapa? Karena selama ini selalu ingat Allah — dia beribadah ingat Allah, dia sedekah ingat Allah, semuanya karena Allah. Dia menulis karena Allah, dia berkomentar karena Allah. Maka ketika dalam kondisi genting, Allah selamatkan dia:

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.”16


5. Syiar Orang-Orang Ikhlas

Inilah syiar orang-orang ikhlas — apa yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an berupa perkataan mereka:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanya karena Allah. Kami tidak minta dari kalian balasan dan kami tidak minta dari kalian terima kasih.”17

Jadikanlah ini syiar dalam kehidupan kita — agar kita benar-benar beribadah dengan tulus. Anda berbuat baik kepada orang tua, kepada kerabat, kepada kawan, kepada tetangga — syaa Allah mereka berterima kasih. Tapi kalau seandainya mereka tidak berterima kasih, bersabar.

Bisa jadi seorang berbuat baik kepada kerabatnya, malah dituduh macam-macam. Saya pernah punya teman yang cerita: “Ustaz, saya gimana — berbuat baik sama kakak atau adik saya. Ada yang bilang saya sombong. Kalau saya tidak berbuat baik dibilang pelit.” Itulah ujian ketika berbuat baik — tidak dihargai. Mungkin Allah ingin pahala anda sempurna. Supaya anda belajar tidak berharap dari pujian dan terima kasih dari orang lain.

Sehingga seorang tatkala dia berbuat kebaikan — dia bermuamalah bukan dengan orang tersebut, tapi dengan Allah. “Ya Allah, saya sudah kasih kepada tetanggaku, kepada kawanku — semuanya saya serahkan kepada-Mu.” Berterima kasih atau tidak, itu urusan dia dengan Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Orang-orang yang ikhlas mengatakan:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Kami memberi makan kepada kalian karena Allah. Kami tidak butuh balas budi dari kalian dan kami tidak butuh syukuran terima kasih dari kalian.”17


Bagian IV: Riya’ — Definisi dan Bahayanya

A. Definisi Riya’

Riya’ secara bahasa diambil dari:

رُؤْيَةٌ — رَأَى — رَاءَى — مُرَاءَاةٌ — رِيَاءٌ

ru’yah artinya melihat. Kemudian rā’ā artinya memperlihatkan.

Jadi riya’ artinya memperlihatkan amal saleh — yaitu beramal saleh untuk pencitraan, agar diakui, agar dihormati.

Temannya riya’ namanya sum’ah (سُمْعَةٌ) — yaitu memperdengarkan amal saleh. Hukumnya sama antara riya’ dengan sum’ah — jadi seorang beramal saleh untuk pencitraan agar dia diakui dan dihormati, itulah riya’.


B. Mengapa Orang Sulit Terhindar dari Riya’

Kenapa orang sulit terhindar dari riya’ atau kenapa orang suka riya’? Karena riya’ itu mendatangkan kelezatan. Membayangkan kalau dihormati orang, kemudian disanjung-sanjung orang, diketahui dan dikagumi orang. Makanya kenapa kita ingin cerita amal saleh kita? Agar orang tahu kita ini orang hebat, agar dia hormat kepada kita, agar dia mengagumi kita.

Disebut oleh sebagian Salaf sebagai:

اَلشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ

syahwat khafiyyah — syahwat tersembunyi — yaitu keinginan untuk terkenal, keinginan untuk diakui.

Sebagaimana lelaki punya syahwat kepada wanita, sebagaimana orang lapar punya syahwat terhadap makanan — demikian juga orang punya syahwat untuk dikenal, untuk diakui, untuk dihormati. Sampai seseorang bisa mengorbankan jiwanya demi untuk diakui.

Sebagaimana dalam hadis tentang tiga orang pertama kali yang diazab di neraka Jahannam — di antaranya: orang yang berperang karena riya’, orang yang jadi ustaz karena riya’, dan orang yang berderma karena riya’. Ketika dia dihadirkan, Allah bertanya:

مَاذَا عَمِلْتَ فِيهَا؟

“Apa yang kau lakukan dengan amal dan kenikmatan-kenikmatan yang Aku berikan kepadamu?”

Kata dia: “Aku berperang karena Engkaulah sampai aku mati syahid.” Kata Allah:

كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ

“Kau dusta. Kau berperang agar dikatakan pemberani — dan itu telah dikatakan.”18

Menakjubkan hadis ini — bagaimana seorang rela mati asal dia terkenal, asal dia dihormati.

Ketika ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

رَجُلٌ قَاتَلَ شَجَاعَةً وَرَجُلٌ قَاتَلَ حَمِيَّةً وَرَجُلٌ قَاتَلَ رِيَاءً وَرَجُلٌ قَاتَلَ لِيُرَى مَكَانُهُ أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

“Ada seorang berperang karena keberaniannya, ada yang berperang karena ngamuk atau marah-marah, ada yang berperang karena ingin membela sukunya, ada yang berperang supaya dikenang, ada yang berperang supaya orang tahu kedudukannya — mana di antara mereka yang fisabilillah?”

Kata Nabi ﷺ:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Siapa yang berperang agar meninggikan kalimat Allah, itulah yang fisabilillah.”19

Ini semua — untuk ini, untuk itu, untuk ini — semuanya bukan fisabilillah.

Dalam sebagian riwayat:

وَاللهُ أَعْلَمُ بِنِيَّاتِهِمْ

“Dan Allah lebih tahu tentang niat-niat mereka.”

Menggambarkan betapa syahwat orang untuk riya’ — syahwat tersembunyi ini. Dia merasa puas kalau terkenal, kalau orang kagum, orang rebutan cium tangannya — dia bahagia sekali. Ini syahwat tersembunyi yang membuat orang terjebak dengan riya’.


Bagian V: Cara Melawan Riya’

Cara melawan riya’ adalah dengan perenungan (murāqabah). Ada empat perenungan:


Renungan Pertama: Nasib Orang yang Riya’ di Dunia

Orang yang riya’ di dunia — dia menderita. Kenapa? Karena kebahagiaannya dia gantungkan kepada netizen. Kapan netizen banyak dia bahagia, kapan netizen tidak banyak dia sangat sedih. Kapan netizen mencelanya dia sedih, kapan netizen memujinya maka dia pun bahagia luar biasa.

Bayangkan: kalau sudah bikin ceramah, atau nulis status, atau posting sesuatu — dia ingin lihat bagaimana komentar orang-orang. Kalau banyak yang like dia bahagia, kalau ternyata tidak ada yang like — “Waduh, diulang lagi postingannya siapa tahu.” Jadi kalau ada yang like, dia bahagia. Kalau pujiannya kurang banyak — dia pun menderita.

Adapun orang yang ikhlas — dia paling bahagia. Dia tidak perlu dengan komentar manusia.

Makanya di antara definisi ikhlas, sebagian Salaf mengatakan:

اَلْإِخْلَاصُ نِسْيَانُ رُؤْيَةِ الْخَلْقِ بِدَوَامِ النَّظَرِ إِلَى الْخَالِقِ

“Ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk karena terlalu sering memandang kepada Allah — sering mengingat Allah Subhānahu wa Ta’ālā, sehingga lupa dengan komentar manusia.”20

Yang dipikirkan: “Ya Allah, apakah amalan saya sudah baik? Ya Allah, apakah Kau menerima amalanku? Ya Allah, apakah sudah kujalankan sunnah-sunnah? Apakah sudah sesuai prosedur dalam beramal saleh?” Sampai dia selalu sibuk memikirkan Allah Subhānahu wa Ta’ālā — dia sampai lupa dengan komentar-komentar manusia.

Adapun orang yang riya’ — yang dipikirkan adalah komentar manusia. Selalu komentar manusia.

Seorang: jangan kau tertipu dengan komentar manusia. Kebahagiaan anda bukan pada netizen, tapi kebahagiaan di tangan Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Orang yang riya’ menderita — untuk pencitraan harus siapkan tim, sewa wartawan, ternyata tidak ada yang memuji, follower tidak bertambah, rating tidak naik. Sakit hati luar biasa.

Adapun orang yang ikhlas: “Yang terbaik yang penting saya bermanfaat bagi bangsa dan negara, yang penting saya ini karena Allah.” Apapun komentar orang — kalau memang komentar orang bukan untuk mencari pujian tapi untuk menilai apakah pekerjaan saya sudah tepat dan bermanfaat bagi mereka atau tidak — bukan untuk cari pujian.

Jadi orang yang riya’ sengsara di dunia.


Renungan Kedua: Nasib Orang yang Riya’ di Akhirat

Bagaimana nasib mereka di akhirat? Lebih mengerikan lagi.

Di akhirat Allah akan mempermalukan mereka. Kata Nabi ﷺ:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ رَايَا رَايَا اللهُ بِهِ

“Barangsiapa yang riya’ di dunia, Allah akan mempermalukan dia di akhirat. Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya, Allah akan mempermalukan dia di akhirat.”21

Di antara tafsiran para ulama: kalau dia salat karena riya’, kalau dia haji karena riya’ — pada hari kiamat kelak ditampakkan pahala salatnya, ditampakkan pahala hajinya — dan dia begitu bahagia — tiba-tiba pahala tersebut hancur lebur. Kenapa? Karena selama di dunia dia riya’.

Di antara bentuk mempermalukan mereka: Allah berkata kepada mereka:

اِذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا

“Pergilah kalian ke orang-orang yang kalian cari muka di hadapan mereka di dunia — cari pahala kepada mereka.”22

Dulu cari muka kepada pejabat, kepada bupati, kepada orang-orang kaya, kepada netizen — sana cari pahala kepada netizen. Tidak ada.

Kemudian — setelah dipermalukan — Allah mengajak mereka untuk disalakan api bagi mereka. Tiga orang yang pertama kali dinyalakan api bagi mereka menurut Nabi ﷺ:

Pertama: Mujahid.

Dihadirkan orang yang mati syahid. Diingatkan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya — jago pedang, jago naik kuda, jagoan. Allah bertanya: “Apa yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?” Kata dia: “Aku berperang sampai aku mati syahid.” Kata Allah:

كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ

“Kau dusta. Kau berperang agar dikatakan jagoan — dan itu telah dikabulkan.”18

Kemudian diperintahkan: lempar ke dalam neraka Jahannam.

Kedua: Ustaz.

Yang belajar ilmu agama, mengajarkannya, pandai baca Quran. Dihadirkan di hadapan Allah, diingatkan nikmat yang Allah berikan — kecerdasan, kuatnya hafalan, mungkin suara indah. Allah bertanya: “Apa yang kau lakukan?” Kata dia: “Ya Allah, aku membaca Quran karena Engkau dan aku mengajarkan Quran karena Engkau.” Kata Allah:

كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ

“Kau dusta. Kau belajar ilmu agar dikatakan orang alim dan kau membaca Quran agar dikatakan ahli baca Quran — dan itu telah dikabulkan.”18

Maka saya ingatkan kepada ikhwan dan kepada para da’i: jumlah follower yang banyak dan orang tabzir dengan anda bukan berarti anda benar — belum tentu. Allah berkata: “Telah dikatakan kau benar-benar orang alim, orang berpengetahuan — semua puji suara indahmu.” Tapi itu tidak menjamin kau pasti masuk surga. Banyaknya pengikut tidak ada jaminan. Banyaknya orang mengagumi tidak ada jaminan.

Kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.

Ketiga: Dermawan.

Allah berikan dia segala harta — rumah, emas, perak, mobil mewah, properti, segala macam dia punya. Ditanya: “Apa yang kau lakukan?” Kata dia: “Tidak ada satu jalan pun yang Kau sukai kecuali aku sumbang — untuk anak yatim, untuk dakwah, untuk masjid, untuk janda.” Semuanya dikasih sampai sumbangan sampai ke Papua, sampai ke luar negeri. “Semuanya yang saya punya saya kasih karena Engkau ya Allah.” Kata Allah:

كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ

“Kau dusta. Kau melakukan semua itu supaya dikatakan seorang dermawan — dan kau telah terkenal sebagai orang beriman, seorang tokoh, dermawan. Itu yang kau cari — dan itu telah dikabulkan.”18

Kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.

Ini beda ya — kalau kita tidak mencari itu kemudian orang mengakui, tidak ada masalah. Seorang alim tidak ingin dikatakan alim tapi orang bilang dia alim — tidak ada masalah. Tapi kalau sengaja dia cari, sengaja dia tunjukkan: “Saya jagoan, saya ini, saya ini, hafalan saya ini” — itu pamer. Kalau dia dermawan, “Saya sumbang sana, saya bangun masjid itu, Alhamdulillah Allah mudahkan saya bangun pondok itu.” — itu riya’. Ini yang lempar masuk neraka.

Nasib orang yang riya’ di akhirat — apakah anda ingin menjadi seperti orang tersebut? Tentunya tidak.


Renungan Ketiga: Hakekat Manusia yang Kau Harapkan Pujiannya

Kau harapkan pujian dari siapa? Dari Si Fulan, dari pejabat, dari manusia. Padahal manusia-manusia itu — makhluk yang kalau meninggal baunya busuk, kalau ditaruh di kampungnya tidak dikuburkan bikin bau satu kampung.

Itu yang engkau harapkan pujiannya? Engkau kotarkan kepalamu di tanah untuk sujud kepada Allah — ternyata kau hanya mencari pujian dari manusia seperti ini?

Kau mencari pujian dari seorang yang kaya — bisa jadi di akhiratnya gagal. Apa yang diharapkan dari orang seperti itu?

Manusia-manusia: coba, kalau mood manusia sekarang bujuk habis-habisan — kalau punya salah, dia mati, kau juga bisa kehilangan. Betapa sering manusia tidak bersyukur kepadamu.

Mengharapkan pujian manusia buat apa? Rugi. Rugi. Kita sudah capek-capek ceramah sana-sini kemudian hanya mencari pujian — merugi. Kita sudah kumpulkan uang setengah mati, sumbang 100 juta, capek — apalagi 1 miliar — nyata-nyata mencari pujian manusia. Rugi-rugi.


Renungan Keempat: Hakekat Dirimu Sendiri

Percuma kau dipuji orang. Apa kata Muhammad bin Wāsi’:

لَوْ كَانَ لِلذُّنُوبِ رِيحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ

“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada aromanya, tidak seorang pun akan duduk bersama saya.”23

Orang memuji-muji kita — percuma, tidak akan mengubah hakekat diri kita.

اَلْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ

“Manusia itu lebih tahu tentang dirinya sendiri.”24

Mau dipuji orang satu dunia — tidak akan merubah hakekat dirinya. Dia tahu dia malas salat malam. Dia tahu dia tidak menjaga pandangannya. Dia tahu dia masih juga mengghibah orang. Dia tahu dia masih kurang berbakti kepada orang tuanya. Dia tahu dia tidak begitu sayang kepada istrinya. Dia tahu dia tidak perhatian kepada anaknya. Banyak kekurangannya — tapi orang satu dunia puji, percuma.

Apakah pujian itu menaikkan derajat di sisi Allah? Tidak sama sekali. Sudah, jangan cari pujian orang. Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri.


Cara Lain Melawan Riya’

Pertama: Berdoa.

Jangan lupa berdoa. Di antara doa yang diajarkan:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku sadari — dan aku memohon ampun kepada-Mu dari kesyirikan yang aku tidak sadari.”25

Karena kita — kalau kita mau benar-benar memeriksa diri tatkala beramal dan ingin dipuji — kita tahu ada sinyal kasih tahu bahwa kita sudah riya’. Tapi kita nekat saja terus. Kenapa? Ada syahwat yang ingin kita lampiaskan — syahwat dikenal, syahwat dihormati, syahwat disanjung.

Akhirnya kita labrak sinyal yang ada dalam hati kita. Dan betapa sering kita sadar kita sudah riya’. Terkadang kita terjerumus dalam riya’ tanpa kita sadari — maka semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dari riya’ yang tidak kita sadari.

Juga ketika dipuji, berdoa sebagaimana doanya para sahabat:

اَللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ وَاجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ

“Ya Allah, jangan Kau siksa aku atas perkataan mereka. Ampunilah aku atas apa yang mereka tidak tahu — mereka memuji-muji aku tapi mereka tidak tahu siapa saya. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka percakapkan.”26

Dengan ucapan doa itu kita jadi tahu diri — siapa kita. Kita bersyukur: alhamdulillah Allah memberi kita kesempatan untuk bisa punya sumbangsih untuk Islam — untuk kita sendiri sebenarnya. Maka kita bersyukur, bukan untuk riya’.

Kedua: Berusaha Menyembunyikan Amalan.

Latih diri kita menyembunyikan amalan. Lakukan, proses berlalu, sama orang diam. Mungkin setan gatal ingin bercerita — “Gak usah cerita. Sudah, pernah Begini, saya pernah Begini, saya pernah begitu.” Penyakit ya.

Mungkin kita bercerita untuk memotivasi — oke. Tapi lama-lama jadi riya’. Oh, “Bukannya saya sombong, oh bukannya saya ini.” Kita tidak sadar kita sudah riya’. Kalau hati kita dibuka celahnya untuk setan — setan akan menggoda hati kita. Di antara celah: kita bercerita. Itu yang membuat hati kita diserang oleh setan, akhirnya kita riya’.

Kita semoga amal saleh kita — orang tidak tahu — kita sudah alhamdulillah. Yang tahu cuma Allah. Melatih diri kita — kata Nabi ﷺ:

إِنْ كُنتُمْ قَادِرِينَ عَلَى ذَلِكَ فَافْعَلُوا

“Kalau kalian mampu melakukan itu — maka lakukanlah.”27


Bagian VI: Ujub — Definisi dan Bahayanya

A. Perbedaan Riya’ dan Ujub

Kalau riya’: mensekutukan Allah dengan orang lain — yang kita harapkan pujiannya, yang kita harap tampilannya, itu orang lain. Namanya riya’.

Kalau ujub: mensekutukan Allah dengan diri sendiri.

Maksudnya: kita merasa keberhasilan kita itu karena andil diri kita. Kita punya andil dalam keberhasilan kita — itulah namanya ujub.

Seharusnya seorang kalau berhasil, dia tahu semuanya karena Allah.

Gampangnya agar kita tidak ujub: kita tahu — kita cerdas, kita berhasil, kita ini punya uang, kita ini maju, kita bisa berdakwah — semata-mata karena Allah. Karena yang lebih pintar dari kita banyak, yang punya pengalaman lebih dari kita banyak, yang lebih cerdas dari kita banyak, yang hafalannya lebih kuat dari kita banyak — tapi mereka tidak diberi kesempatan seperti kita.

Lagipula: kecerdasan adalah Allah yang berikan. Uang adalah Allah yang berikan. Pengalaman banyak adalah Allah yang buat kita pakai mengalami pengalaman-pengalaman itu. Bukan kita yang mewujudkan sendiri.

Maka tatkala kita merasa kita punya andil — berarti kita seakan-akan mensekutukan Allah dengan diri sendiri. Seakan-akan keberhasilan saya itu karena peran Allah dan peran diri saya. Itulah namanya ujub.


B. Bahaya Ujub

Kata sebagian ulama:

اِتَّقُوا الْعُجْبَ فَإِنَّ الْعُجْبَ يُحْبِطُ الْأَعْمَالَ

“Hati-hatilah kalian dengan ujub, karena ujub itu akan menggelar amalan kalian ke dalam sampah — terbuang dalam banjir, tidak ada nilainya.”

Siapa yang ujub, amalnya gugur.

Kata Nabi ﷺ — tiga perkara yang membinasakan:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan: pertama, sifat pelit yang diikuti; kedua, hawa nafsu yang diikuti; ketiga, seorang yang ujub dengan dirinya sendiri.”28

Dan ujub — kalau orang ujub lama-lama naik kepada sombong. Ujub itu derajat di bawah sombong. Merasa sehebat itu: “Karena saya begini, karena saya dakwah berhasil, karena saya, karena saya.” Ini bahaya. Bahaya. Bahaya.

Oleh karenanya:

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ: الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Kalau kalian tidak berdosa, Aku khawatir kalian tertimpa dengan penyakit yang lebih berbahaya dari itu — yaitu ujub, ujub.”29

Ini paling berbahaya. Karena kalau orang berdosa, dia masih mau memohon ampun karena dia tahu dia bersalah. Tapi orang ujub tidak merasa bersalah — dia justru merasa dia orang saleh yang tidak seperti orang-orang lain.

Makanya di antara hikmah: terkadang Allah menjatuhkan kita dalam sebagian dosa — agar kita tidak ujub, agar kita tahu kita ini tidak bisa apa-apa di hadapan godaan setan kecuali dengan pertolongan Allah.

Setan tidak peduli — menghancurkan amal saleh anda dengan riya’ atau menghancurkan amal saleh anda dengan ujub.


C. Model-Model Ujub

Al-Ghazali dalam Iḥyā’ Ulūmiddīn menyebutkan banyak model-model ujub:

Ujub dengan tubuh, ujub dengan nasab — seperti kata Al-Ghazali: sebagian orang dari Bani Hasyim yang merupakan keturunan Nabi ﷺ, ujub dengan nasabnya, sampai ada yang berkata: “Nasab kita adalah emas — mau ditaruh di comberan pun tetap emas, mau ditaruh di mana pun tetap emas.”

Ini dibantah oleh Al-Ghazali: seorang kalau dari Bani Hasyim, dari ahlul bait — maka harusnya berakhlak seperti akhlak leluhur mereka yaitu Rasulullah ﷺ — yang tidak ujub, yang menghormati yang lain. Sebagaimana kita dapati sebagian orang-orang dari ahlul bait yang Masya Allah sangat luar biasa.

Ada juga ujub dengan ilmu, ujub dengan dakwah — macam-macam model. Maka hati-hati.


D. Cara Melawan Ujub

Kalau ujub — tentunya kita renungkan: betapa banyak orang lebih pintar dari saya, kemudian tidak berhasil. Betapa banyak orang lebih detailnya, lebih tinggi nilainya, tetapi tidak berhasil seperti saya. Betapa banyak orang yang IPnya lebih tinggi tetapi tidak berhasil seperti saya.

Ada kawan Masya Allah — satu sekolah dulu, teman-temannya banyak yang nilainya 10, 12, 13. Dia mungkin akhirnya pas-pasan. Ternyata mereka menjadi anak buahnya, dia jadi bos. Bagaimana itu terjadi? Karena Allah.

Oleh karenanya seorang senantiasa bersyukur kepada Allah. Dia melakukan usaha — tapi hasilnya murni dari Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Di antara yang terakhir disampaikan — kata Ibnu Taimiyah rahimahullāhu Ta’ālā: barangsiapa yang mewujudkan firman Allah Subhānahu wa Ta’ālā:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”30

— maka dia akan selamat dari ujub dan riya’.

Iyyāka na’budu — hanya kepada Engkaulah ya Allah aku beribadah. Kalau dia mau ini, berarti selamat dari riya’. Karena dia tahu ibadahnya semuanya karena Allah. Aku tidak beribadah karena mencari pujian, aku tidak beribadah untuk diakui dan dihormati. Tidak. Aku beribadah karena Engkau.

Wa iyyāka nasta’īn — hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Selamat dari ujub. Karena dia tahu semua keberhasilan adalah karena pertolongan Allah — semua keberhasilan karena pertolongan Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Jadi jangan sampai terbetik dalam benak kita: “Saya berhasil karena saya.” Itu benih-benih ujub. Lawanlah — agar amalan kita selamat di sisi Allah Subhānahu wa Ta’ālā.


Penutup

Demikianlah ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhānahu wa Ta’ālā — kajian singkat yang disampaikan tentang bahaya yang paling dahsyat yang wajib dilihat.

Semoga Allah Subhānahu wa Ta’ālā mewafatkan kita di atas keikhlasan dan membuat kita selalu bisa berjuang melawan ujub dan riya’.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keikhlasan dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Catatan Kaki

Footnotes

  1. HR. Ahmad (no. 23630) dan Ibnu Majah (no. 4204), dari Abi Sa’id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah al-Aḥādīth al-Ṣaḥīḥah (no. 951). Lafaz lain dalam riwayat lain: “Al-syirkul khafiyy.” ↩
  2. QS. Al-Bayyinah (98): 5. ↩
  3. HR. Bukhari (no. 1) dan Muslim (no. 1907), dari Umar bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu. ↩
  4. HR. Muslim (no. 2985), dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. ↩
  5. QS. Al-Naḥl (16): 66. ↩
  6. Dinisbatkan kepada Ibnu al-Mubārak. Lihat: Ibnu Rajab al-Ḥanbalī, Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, syarh hadis ke-1. ↩
  7. HR. Bukhari (no. 3467) dan Muslim (no. 2245), dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. ↩
  8. Disebutkan oleh beberapa ulama Salaf. Dinisbatkan kepada Abu Bakar bin ‘Ayyāsy. Lihat: Ibnu Rajab, Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. ↩
  9. Disebutkan oleh Umar bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Ḥilyah al-Awliyā’ (I/30) dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Īmān. ↩
  10. QS. Al-Ṭāriq (86): 9. ↩
  11. QS. Al-‘Ādiyāt (100): 10. ↩
  12. QS. Al-Syu’arā’ (26): 88–89. ↩
  13. HR. Muslim (no. 1900), dari Jabir bin Abdillah radhiyallāhu ‘anhu, dengan kisah serupa. Juga diriwayatkan oleh An-Nasā’i dan Ahmad. ↩
  14. HR. Al-Ṭabarāni dalam al-Mu’jam al-Awsaṭ (no. 5241) dan Abu Nu’aim dalam Ḥilyah al-Awliyā’. Dihasankan oleh sebagian ulama. ↩
  15. HR. Bukhari (no. 2272) dan Muslim (no. 2743), dari Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā. ↩
  16. QS. Yūsuf (12): 24. Qirā’at al-mukhlaṣīn (dengan fataḥ) bermakna yang dipilih/terpilih oleh Allah; qirā’at al-mukhliṣīn (dengan kasrah) bermakna yang ikhlas kepada Allah. Keduanya sahih. ↩ ↩2
  17. QS. Al-Insān (76): 9. ↩ ↩2
  18. HR. Muslim (no. 1905), dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu — hadis panjang tentang tiga orang pertama yang diazab di neraka. ↩ ↩2 ↩3 ↩4
  19. HR. Bukhari (no. 2810) dan Muslim (no. 1904), dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallāhu ‘anhu. ↩
  20. Disebutkan oleh sebagian ulama dalam definisi ikhlas. Lihat: Al-Jurjānī, al-Ta’rifāt; Ibnu al-Qayyim, Madārij al-Sālikīn. ↩
  21. HR. Bukhari (no. 6499) dan Muslim (no. 2986), dari Jundab radhiyallāhu ‘anhu, dengan redaksi sum’ah dan riyā’. ↩
  22. HR. Ahmad (no. 17212) dan Al-Tirmiżi (no. 2381) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, mengenai tafsir QS. Al-Kahf (18): 110. ↩
  23. Perkataan Muhammad bin Wāsi’ al-Azdi, seorang tabi’in yang zuhud. Disebutkan dalam Ḥilyah al-Awliyā’ (II/345) karya Abu Nu’aim. ↩
  24. QS. Al-Qiyāmah (75): 14. ↩
  25. HR. Ahmad (no. 19606), dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallāhu ‘anhu. Dishahihkan Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi’ (no. 3731). ↩
  26. Disebutkan oleh Al-Bukhāri dalam al-Adab al-Mufrad (no. 761) sebagai doa yang diucapkan ketika dipuji. ↩
  27. Diisyaratkan dari hadis tentang menyembunyikan amal. Lihat: HR. Al-Ṭabarāni dalam al-Mu’jam al-Awsaṭ (no. 5241). ↩
  28. HR. Al-Bazzār. Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah al-Aḥādīth al-Ṣaḥīḥah (no. 1802). Juga diriwayatkan dengan lafaz berbeda oleh Abu Dawud. ↩
  29. Disebutkan oleh sebagian ulama. Lihat: Al-Ghazālī, Iḥyā’ Ulūmiddīn, Bab al-‘Ujb; juga dinisbatkan kepada sebagian Salaf. ↩
  30. QS. Al-Fātiḥah (1): 5. Penjelasan Ibnu Taimiyah ini terdapat dalam Majmū’ al-Fatāwā, juz X. ↩
Share214Tweet134Send

Related Posts

kenapa ujub
NASIHAT

Hati-hati Penyakit Ujub dengan Jumlah yang Banyak!!

Ujub dengan Jumlah yang Banyak Al-Ghozali rahimahullah berkata : "Ujub dengan jumlah yang banyak, baik banyaknya anak, atau banyaknya pembantu,...

by admin
October 7, 2021
Akhir Perjalanan Hidup Ini
NASIHAT

Akhir Perjalanan Hidup Ini

Untaian Syair Zainal Abidin Rahimahullah لَيْس الغرِيبُ غرِيبَ الشَّامِ وَالْيَمَنِ           إنَّ الغَرِيْبَ غَرِيْبُ اللَّحْدِ وَالكَفَنِ Orang asing bukanlah orang yang...

by admin
August 31, 2020

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Dahsyatnya Ujub dan Riya

Dahsyatnya Ujub dan Riya

April 17, 2026
Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak: Membangun Kedekatan dan Ketaatan

April 15, 2026
Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

Inilah Jalannya Rasulullah Dan Para Sahabat

April 15, 2026
Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

March 2, 2026

Website resmi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Dikelola oleh tim IT resmi Ustadz Firanda Official.

About

  • About Us
  • Site Map
  • Contact Us
  • Career

Policies

  • Help Center
  • Privacy Policy
  • Cookie Setting
  • Term Of Use

Join Our Newsletter

Copyright © 2025 by UFA Official.

Facebook-f Twitter Youtube Instagram

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Support Forum
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2025 Firanda Andirja - Menebarkan cahaya tauhid & sunnah.