Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • AQIDAH
  • BANTAHAN
  • FIQIH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • AQIDAH
  • BANTAHAN
  • FIQIH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
Home TEMATIK

Bekal Seorang Muslim

Admin UFA by Admin UFA
February 13, 2026
in TEMATIK
Reading Time: 23 mins read
0

Bekal Seorang Mukmin

Pembahasan tentang ‘Bekal Seorang Mukmin’ mengingatkan kita akan namanya perjalanan. Namanya perjalanan, butuh dengan bekal. Dalam kehidupan ini, kita punya dua perjalanan yang panjang. Yang pertama, perjalanan di dunia. Mengarungi kehidupan dunia sampai selesai, yang kemudian kita lanjutkan lagi menuju perjalanan berikutnya. Yang kedua, yaitu perjalanan di akhirat yang jauh lebih panjang.

Dua perjalanan ini diisyaratkan di antaranya dalam firman Allah ﷻ,

﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰۚ وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ﴾

Related Post

KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ketika Allah berbicara tentang haji, Allah ﷻ berfirman, ﴿وَتَزَوَّدُوا﴾ “Berbekallah”. Karena orang haji harus punya bekal. Jika tidak punya bekal, maka dia tidak akan bisa berhaji, dan justru hanya merepotkan orang lain. Setelah itu Allah ﷻ berfirman, ﴿فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ﴾ “Dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”.

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullâh menyebutkan bahwa firman Allah ﷻ, “Dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” adalah isyarat pada perjalanan setelah kematian, yaitu perjalanan di hari akhirat. Sehingga haji butuh bekal, dan kehidupan setelah kematian juga butuh bekal, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.([2])

Demikian juga seperti dalam hadis, Rasulullah ﷺ mengisyaratkan tentang dua perjalanan tersebut dalam sabda beliau ﷺ:

))كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ((

“Jadilah kau di dunia seperti orang asing atau hanya orang yang numpang lewat.” ([3])

Orang yang hidup di dunia ini seperti orang yang numpang lewat. Berarti dunia harus dilewati, tetapi hanya sebentar, seperti orang yang numpang lewat. Karena akan melanjutkan perjalanan yang lebih panjang, yaitu perjalanan setelah kematian.

Demikian juga ketika Rasulullah ﷺ didatangi oleh Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu, sementara Nabi Muhammad ﷺ sedang tidur di atas tikar yang tipis yang terbuat dari daun kurma yang dipilin. Sehingga terlihat bekas di lambung Nabi Muhammad ﷺ. Maka Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Tidakkah kami siapkan bagi engkau kasur yang empuk, wahai Rasulullah?”  Maka Rasulullah ﷺ bersabda,

))مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا((

“Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia seperti seorang pengembara yang sedang bersafar, kemudian mampir sebentar di bawah sebuah pohon, tidur sebentar, kemudian dia pergi meninggalkan pohon tersebut.” ([4])

Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan bahwa dunia ibarat tempat istirahat sebentar di bawah sebuah pohon, yang tidak perlu terlalu nyaman karena cuma sebentar. Masih ada perjalanan yang panjang setelah itu. Tentunya hanya orang yang bodoh yang menempuh perjalanan tanpa bekal. Dia tidak akan bisa sampai pada tujuan.

Pembahasan tentang bekal seorang mukmin adalah pembahasan yang panjang. Makanya Ibnul Qayyim rahimahullâh menulis sebuah buku yang berjudul Zâd al-Ma’âd Fî Hadyi Khair al-Ibâd, Bekal Perjalanan Hari Kebangkitan. Buku yang berjilid-jilid tersebut berisi tentang sunah dan sirah Nabi Muhammad ﷺ. Dari perkara-perkara yang sepele hingga perkara-perkara yang agung. Sehingga Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan bahwa bekal terbaik adalah meniti sunah Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karenanya, jika berbicara tentang bekal dalam agama Islam, maka semua ajaran Islam adalah bekal.

Namun ada perkara-perkara yang penting untuk direnungkan kembali agar perjalanan setiap muslim menjadi lebih baik, baik perjalanan di dunia maupun perjalanan di akhirat, semoga menjadi lebih baik.

Pertama: Perjalanan di Alam Dunia

Perjalanan di dunia tidak ada manusia yang mengetahui ujung dari perjalanannya. Perjalanan kita akan sampai pada titik yang sama, sampai pada tujuan. Kita semua mengantre dalam rel kematian dan tidak ada yang keluar dari rel tersebut. Hanya saja kita tidak tahu siapa yang depan, siapa yang belakang. Tetapi Allah ﷻ berfirman,

﴿قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ﴾

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu’. (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Kematian itu mengejar kita. Allah ﷻ juga berfirman,

﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ﴾

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisâ`: 78)

Tanpa kita sadari kematian yang sering kali kita lari darinya, ternyata justru kematian itu yang telah menunggu kita. Sebagian orang menjaga kesehatannya dengan berolahraga, akan tetapi ia tidak mengetahui ternyata pada saat olahraga tersebut ia justru menemui ajalnya. Ikhtiar atau usaha apa pun yang kita lakukan, namun ajal ada di tangan Allah ﷻ. Sehingga perjalanan di dunia ini bisa saja berhenti kapan saja.

            Perjalanan di dunia yang pendek ini menjadi penentu untuk perjalanan berikutnya. Bekal untuk perjalanan berikutnya itu yang harus kita kumpulkan sekarang ini, dalam kehidupan ini. Bekal perjalanan yang panjang itu, hanya bisa kita kumpulkan di dalam perjalanan yang pendek ini, yaitu di dunia. Sehingga kita harus sungguh-sungguh dalam mempersiapkannya.

Di antara hal yang mungkin perlu kita renungkan dalam perjalanan di dunia ini adalah:

  1. Tujuan penciptaan manusia

Kita perlu merenungkan kembali tentang kenapa kita diciptakan. Kita diciptakan untuk apa? Jawabannya adalah untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Salah satu tujuan di antara bentuk ibadah yang paling agung adalah mengenali Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât: 56)

Ada seseorang merenungkan tentang penciptaan. Tidaklah Allah menciptakan apa pun kecuali ada tujuannya. Allah ﷻ tidak menciptakan sesuatu yang batil (sia-sia). Allah ﷻ berfirman,

﴿رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Âli ‘Imrân: 191)

Ada tujuan tersendiri kenapa matahari diciptakan. Allah ﷻ menciptakan benda-benda langit dengan tujuannya masing-masing. Allah ﷻ menciptakan bumi dan segala isinya dengan tujuan tersendiri. Semua memiliki tujuan dan fungsinya. Bahkan kita diciptakan pun ada tujuannya. Tujuannya adalah untuk beribadah kepada Allah ﷻ.

Maka sudah seharusnya ini menjadi renungan kita. Sudahkah kita hidup di atas muka bumi ini mewujudkan tujuan tersebut? Seharusnya seluruh aktivitas kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Seharusnya kita melakukan sebagaimana firman Allah ﷻ:

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’âm: 162)

Seharusnya setiap aktivitas kita bernilai ibadah. Seharusnya setiap waktu yang kita lewati bernilai ibadah kepada Allah ﷻ. Maka sudah sepatutnya kita renungkan kembali, ternyata banyak sekali waktu-waktu yang terbuang yang tidak bernilai ibadah.

Semua tergantung niat. Oleh karenanya, hendak kita berusaha menjadi seluruh aktivitas adalah untuk mencari pahala. Bahkan ketika seseorang meniatkan minum kopi agar kuat dalam beribadah, maka akan menjadi pahala. Atau ketika ia ingin berlezat-lezat minum kopi yang pahit dari pada minum khamar, maka yang demikian juga dicatat pahala. Ketika seseorang berolahraga dengan niat agar kuat dalam beribadah, maka akan dicatat pahala. Semua tergantung niat. Rasulullah ﷺ bersabda,

))إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ((

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.” ([5])

Hendaknya kita selalu berusaha segala aktivitas kita dilakukan karena Allah ﷻ. Ini merupakan bekal kehidupan kita di dalam perjalanan di dunia. Usahakan setiap aktivitas kita bernilai pahala. Sampai perkara-perkara yang menunjukkan seakan-akan jauh daripada ibadah, seperti kemesraan antara suami-istri, juga bernilai pahala. Sebagaimana firman Allah ﷻ:

﴿نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ﴾

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223)

Kemudian setelah itu Allah ﷻ berfirman,

﴿وَقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُمْ﴾

“Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 223)

Bayangkan, setelah Allah ﷻ menyebutkan ayat tentang anjuran untuk mendatangi istri, setelah itu Allah ﷻ menyebutkan, “Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu.”. Maka para ulama membahas apa amal saleh yang bisa diraih di balik berhubungan dengan istri? Maka para ulama menjelaskan bahwa dengan niat untuk mendapatkan anak yang saleh, maka mendapatkan pahala. Agar bisa menghindarkan diri dari zina, maka dapat pahala. Agar bisa bertambah mesra dan menyenangkan istri, maka dia dapat pahala([6]). Makanya Rasulullah ﷺ mengatakan,

))وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ((

“Engkau menggauli istrimu, kau dapat pahala.” ([7])

Sampai sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seorang melampiaskan syahwatnya kepada istrinya kemudian dia dapat pahala?”

Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

))أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا((

“Bagaimana menurut kalian kalau dia melampiaskan syahwatnya di tempat yang haram (dia berzina), bukankah dapat dosa? Begitu juga jika dia melampiaskannya di tempat yang halal (pada istrinya), maka ia dapat pahala.” ([8])

            Demikianlah agungnya niat. Amalan tergantung niat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّهُ لَا عَمَلَ لِمَنْ لَا نِيَّةَ لَهُ، وَلَا أَجْرَ لِمَنْ لَا حِسْبَةَ لَهُ

“Sesungguhnya tidak ada amal kecuali bagi orang yang meniatkannya dan tidak ada pahala kecuali bagi orang yang meniatkannya (untuk mendapatkan pahala) karena Allah ﷻ.” ([9])

Tidak perlu waktu panjang untuk merenungi perkara ini karena Allah ﷻ, akan tetapi memiliki pengaruh yang luar biasa. Sehingga menjadikan seseorang untuk selalu ingat kepada Allah ﷻ dan setiap aktivitas yang dikerjakan bernilai pahala di sisi Allah ﷻ.

            Di antara fungsi meniatkan sesuatu karena Allah ﷻ adalah kita akan mampu mengontrol aktivitas kita. Jika hal ini tidak dikerjakan karena Allah ﷻ, maka tidak akan membawa kebaikan. Jika kita selalu mengontrol hati kita karena Allah ﷻ, maka banyak hal yang bisa kita saring. Oleh karenanya dengan karena Allah ﷻ hidup bertambah menjadi berkah, aktivitas terkontrol dan akan lebih jauh dari kemaksiatan. Maka hendaknya kita sering-sering meniatkan perbuatan kita karena Allah ﷻ. Banyak perkara sepele yang apabila kita mengerjakannya dan meniatkannya karena Allah ﷻ maka akan dicatat sebagai pahala, di antaranya, seperti: bertemu dan mengajak bercengkerama teman, berolahraga, menyenangkan hati orang lain, bertemu dengan teman atau tetangga, saling bersapa dan memberi senyum dan salam dan seterusnya.

Dengan demikian, maka kita tidak lari daripada tujuan kita diciptakan. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât: 56)

Apakah orang-orang mengira mereka diciptakan begitu saja tanpa ada tujuannya? Padahal seluruh manusia akan dihisab. Allah ﷻ berfirman,

﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ﴾

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu`minûn: 115)

Tentu jawabannya tidak benar. Kalian diciptakan karena ada tujuan, kalian akan dikembalikan dan akan dihisab oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ juga berfirman,

﴿أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَىٰ﴾

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim).” (QS. Al-Qiyamah: 36-37)

Setiap manusia diciptakan ada tujuannya. Maka pastikan semua aktivitas kita adalah untuk ibadah. Jika kita terjatuh ke dalam kesalahan atau dosa, maka hendaknya bertobat dan beristigfar. Jika kita mendapatkan kenikmatan maka hendaknya bersyukur dengan nikmat tersebut. Jika semua aktivitasnya adalah ibadah, maka seseorang senantiasa berputar pada ibadah kepada Allah ﷻ. Sahabat mulia Mu’adz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallâhu ‘anhu,

فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي

“Aku berharap dapat pahala dari tidurku sebagaimana aku berharap dapat pahala dari salat malamku.” ([10])

Ini adalah perbuatan yang sepele namun signifikan dalam hisab nanti pada hari kiamat kelak. Ketika seseorang telah terbiasa dalam kebaikan dan aktivitasnya karena Allah ﷻ, maka akan menjadi sebuah perangai.

Berpikir dan beraktivitas karena Allah ﷻ, maka akan mendapatkan pahala. Sebaliknya berpikir untuk perkara-perkara yang buruk, maka akan mendapatkan dosa. Allah ﷻ mencela al-Walid bin al-Mughirah yang berpikir buruk. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah ﷻ:

﴿إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ١٨ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ١٩ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ٢٠ ثُمَّ نَظَرَ ٢١ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ٢٢ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ٢٣ فَقَالَ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ٢٤ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ٢٥ إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ٢٧ سَأُصْلِيهِ سَقَرَ﴾

“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: ‘(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia’. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 18-28)

Orang yang cerdas hanya memikirkan tentang akhiratnya dan dia berusaha berpikir karena Allah ﷻ. Tidak mengapa seseorang memikirkan dagangannya atau jualannya agar berhasil dan sukses karena Allah ﷻ. Janganlah seseorang menyangka bahwa aktivitas hanya lisan dan perbuatan saja, akan tetapi berpikir juga termasuk aktivitas. Bukankah Allah ﷻ memuji orang-orang yang berpikir tentang keagungan Allah ﷻ. Allah ﷻ telah menjelaskannya di dalam firman-Nya:

﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ١٩٠ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Âli-‘Imrân: 190-191)

Allah ﷻ memuji mereka karena telah berpikir yang benar. Begitu juga ketika seseorang bertadabur membaca Al-Qur`an, maka ia dicatat pahala.

﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ﴾

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran?” (QS. An-Nisa`: 82)

Oleh karenanya, hendak setiap muslim berusaha mengerjakan semua aktivitasnya karena Allah ﷻ. Jangan sampai tersenyum tanpa tercatat pahala. Usahakan senyuman tersebut tercatat sebagai pahala.

  • Menuntut Ilmu dengan Sungguh-sungguh

Menuntut ilmu memerlukan keseriusan dan kesungguh-sungguhan. Mencatat, mengulang dan membaca kembali catatan tersebut. Termasuk ujian yang diadakan setelah sekian lama belajar itu sangat penting. Di antara faedahnya adalah akan menambah semangat menuntut ilmu, mengulas kembali, murajaah dan ilmu yang dipelajari akan lebih melekat. Jika ilmu tidak pernah dimurajaah, maka akan hilang. Mencatat ilmu juga mempengaruhi daya tangkap pikir dalam menerima ilmu.

Di antara doa yang pertama Rasulullah ﷺ ucapkan ketika selesai salat Subuh adalah meminta ilmu yang bermanfaat. Dalam hadis Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhâ meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ membaca setelah salat Subuh ketika salam:

))اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا((

“Ya Allah, aku mohon kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal (baik), dan amal yang diterima.” ([11])

Ini adalah modal kehidupan dunia. Makanya doa ini diucapkan saat pertama kali kita hendak memulai aktivitas. Kita memohon ilmu yang bermanfaat, supaya dapat rezeki yang halal dan amal diterima. Ketika Nabi Muhammad ﷺ memohon ilmu yang bermanfaat maka ini menjadi isyarat bahwa ada ilmu yang tidak bermanfaat. Ketika beliau ﷺ meminta rezeki yang halal, maka terdapat isyarat bahwa ada rezeki yang tidak halal. Ketika beliau ﷺ meminta amal yang diterima maka ada amal yang tidak diterima. Maka ketika seseorang meminta rezeki yang halal, maka dengan ilmu yang bermanfaat ia akan mengetahui rezeki yang haram. Ketika seseorang meminta amalnya diterima, maka dengan ilmu ia akan mengetahui amal yang tidak diterima. Oleh karenanya, hendaknya seseorang serius  dan sungguh-sungguh ketika membaca doa ini.

Seseorang yang berjalan di atas ilmu akan memperoleh keselamatan, maka hendaknya setiap orang berusaha agar tidak terlepas dari majelis ilmu. Menuntut ilmu tidak harus setiap hari. Minimal sepekan sekali berusaha menghadiri majelis ilmu. Jangan sampai ia tidak pernah hadir di majelis ilmu sama sekali. Hendaknya ada satu ilmu yang ia pelajari. Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

))الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ((

“Dunia ini terlaknat dan terlaknat seluruh isi dunia, kecuali zikir kepada Allah dan apa yang dicintai oleh Allah, dan orang alim (berilmu) dan orang yang belajar.” ([12])

Orang yang belajar, maka ia akan selalu ingat agama Allah ﷻ. Agar ia terlepas dari laknat maka hendaknya ia belajar. Hanya dengan ilmu yang mampu menjaga seseorang dan memberikan keselamatan dengan izin Allah ﷻ. Ketika ia belajar, maka ia akan mengetahui mana rezeki yang halal dan mana rezeki yang haram. Ketika ia belajar, maka ia akan mengetahui maka amal yang diterima dan mana rezeki yang tidak diterima. Maka hendaknya kita menyempatkan diri untuk menuntut ilmu. Mencari tempat menuntut ilmu yang mengajarkan ilmu dan agama Islam secara terstruktur dan lebih kuat untuk memberikan bekalnya menuju perjalanan di akhirat.

Ilmu itu sangat banyak. Ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Apalagi saat ini munculnya wawasan yang begitu banyak, ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Di antaranya melalui internet, maka seseorang akan mendapati ledakan wawasan apa pun yang begitu luas dan banyak. Tidak jarang banyak orang yang hanya menukil apa pun seenaknya sendiri, padahal mereka tidak memiliki keahlian. Tentu saja ini adalah musibah. Banyak wawasan yang dinukil akan tetapi sejatinya tidak diperlukan. Sehingga yang demikian ini dianggap tidak memberikan manfaat. Hanya mengisi otak dan pikiran tetapi tidak memberikan faedah. Maka di tengah ledakan wawasan dan ilmu, maka hendaknya ia berusaha untuk menyaring semua maklumat yang ia dapatkan. Di antara doa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah:

))اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا((

“Ya Allah, jadikan ilmu yang kau ajarkan kepadaku bermanfaat, dan ajarkanlah aku ilmu yang bermanfaat (bagiku), dan tambahkanlah bagiku ilmu.” ([13])

Seorang yang mengetahui suatu ilmu tentang biografi seorang bintang pemain bola atau artis –misalnya, maka sejatinya ini bukan sesuatu yang terlarang akan tetapi tidak ada faedah manfaatnya. Karena setiap seseorang mengilmui tentang sesuatu maka akan ada ilmu yang ditumbalkan yang justru ilmu tersebut lebih bermanfaat baginya jika dipelajari. Maka agar seseorang memiliki bekal yang baik dalam hidup ini, maka hendaknya ia selalu berusaha belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Hendaknya seseorang berusaha mempelajari ilmu tentang akhirat atau ilmu tentang dunia. Jika itu adalah ilmu dunia yang bermanfaat, maka hendaknya ia mempelajarinya. Misalnya ia mengajarkan anak-anaknya ilmu berdagang atau cara berhubungan yang baik dengan orang lain. Jangan sampai ia mengajarkan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, yang akibatnya menumbalkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Semua ilmu yang dipelajari –baik yang bermanfaat atau tidak bermanfaat akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.

Dengan demikian seseorang jangan sampai lepas dari pada menuntut ilmu. Begitu agungnya ilmu sampai Rasulullah ﷺ bersabda,

))وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ((

“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya karena suka dan rida dengan perbuatan orang yang menuntut ilmu.” ([14])

Sebagian ulama berpendapat bahwasanya maksud malaikat meletakkan sayapnya adalah malaikat turun untuk menghormatinya. Ada juga yang berpendapat bahwasanya malaikat meletakkan sayapnya kepada para penuntut ilmu, karena sayang kepada mereka. Bahkan disebutkan dalam riwayat lain terdapat sebagian orang yang mengejek hadis ini, yang akibatnya kakinya lumpuh([15]). Demikianlah penghargaan yang diberikan malaikat kepada para penuntut ilmu karena rida terhadap mereka. Oleh karenanya, maka hendaknya menuntut ilmu dengan baik dan benar, memilih guru yang berkompeten di bidangnya, dan yang dipelajari adalah pada perkara-perkara yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Janganlah seseorang sibuk mempelajari masalah duniawi yang tidak ada manfaatnya. Jangan sampai menuntut ilmu akan tetapi yang dicari adalah popularitas. Tentu saja ini adalah kesalahan. Hendaknya seseorang yang menuntut ilmu membuat ia semakin bertakwa kepada Allah ﷻ, semakin rajin salat malam, khusyuk ketika salat dan semakin jauh dari syubhat dan haram.

Majelis ilmu adalah majelis yang penuh keberkahan. Di dalamnya diturunkan rahmat, diliputi ketenangan dan ketenteraman bagi orang-orang yang hadir dalam majelis ilmu tersebut. Dengan ilmu seseorang akan dimudahkan dan ditunjukkan mana rezeki yang halal dan mana yang haram. Sehingga ketika seseorang mencari rezeki, membuatnya selalu waspada. Jika ada perkara yang haram dan syubhat, maka segera ia tinggalkan. Ia cukup mencari rezeki yang halal. Rezeki setiap orang telah tercatat. Entah ia mengambil dengan cara yang halal atau haram, maka hasil dan kadar rezekinya sama. Maka jangan ragu-ragu untuk meninggalkan yang haram. Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

))إِنَّ رَوْحَ الْقُدُسِ (جبريل) نَفَثَ فِي رُوعِي، أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ((

“Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku bahwasanya seorang tidak akan meninggal dunia sampai sempurna ajalnya dan diberikan semua rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.” ([16])

Dalam riwayat Jabir bin Abdullah radhiyallâhu ‘anhu disebutkan:

))أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا ((

“Wahai manusia, carilah rezeki dengan cara yang baik. Sesungguhnya seorang tidak akan meninggal dunia sampai rezekinya sempurna.” ([17])

Dalam hadis tersebut sangat jelas bahwa Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan untuk mencari rezeki, tapi jangan sampai terlalu ambisius dan memaksa diri terlalu keras. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

))وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ((

“Carilah rezeki dengan cara yang baik. Ambil yang halal, tinggalkan yang haram.” ([18])

Dengan ilmu seseorang akan mengetahui mana amal yang diterima dan mana amal yang tidak diterima. Amal yang tidak diterima, seperti orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang sesat dan mengada-adakan kebidahan. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَا ٱلضَّآلِّينَ﴾

“Dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7)

﴿وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا﴾

“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah.” (QS. Al-Hâdid: 27)

Mereka membuat ajaran-ajaran yang sesat, seperti pendeta-pendeta mereka yang tidak menikah dan mengharamkan diri mereka untuk tidak menikah. Tentu saja amalan mereka ini tidak diterima oleh Allah ﷻ. Begitu juga dengan kaum-kaum yang mengada-adakan ajaran baru di dalam agama, maka amalan mereka tidak diterima oleh Allah ﷻ. Sebagaimana orang-orang Syiah yang merangkak menuju kuburan Husain, bahkan sebagian mereka melakukannya hingga setengah mati, maka amalan mereka tidak diterima oleh Allah ﷻ. Ada juga yang berselawat dengan berjoget-joget. Tentu ini bukan ajaran yang berasal dari agama Islam.

Hendaknya seseorang mempelajari amal-amal apa saja yang diterima oleh Allah ﷻ sebagai bekal kehidupan. Jangan sampai seseorang berspekulasi untuk amal saleh. Untuk perkara duniawi seperti perdagangan, boleh saja ia berspekulasi. Namun tidak untuk amal saleh. Ini adalah pedoman hidup. Syariat telah menjelaskan banyak tentang ibadah dan amal saleh yang jelas dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

  • Hubungan dengan kerabat harus baik.

Setiap muslim harus memiliki perhatian terhadap kerabat-kerabatnya. Hubungan kekerabatan harus terjalin dengan baik. Inilah di antara perkara yang urgen yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, yaitu silaturahmi. Sebagaimana disebutkan di dalam banyak ayat yang menjelaskan tentang perhatian terhadap kerabat, di antaranya firman Allah ﷻ:

﴿وَءَاتِ ذَا ٱلۡقُرۡبَىٰ حَقَّهُ﴾

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya.” (QS. Al-Isrâ`: 26)

﴿وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ﴾

“Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya.” (QS. Al-Baqarah: 177)

﴿وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيْئًاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ﴾

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim.” (QS. An-Nisâ`: 36)

Setiap kita hidup di dunia ini tidak secara tiba-tiba muncul seorang diri, akan tetapi didahului dengan sebab-akibat. Orang tua kita yang telah melahirkan kita. Kita juga memiliki saudara dan kerabat. Maka pastikan kita memiliki hubungan yang baik dengan saudara dan kerabat kita. Begitu pentingnya hubungan ini, sampai Allah ﷻ mendahulukan penyebutan karib-kerabat sebelum anak-anak yatim dan orang-orang miskin, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas. Maka tidak mengherankan di antara ibadah yang agung adalah menyambung silaturahmi.

Allah ﷻ menyebutkan di antara sebab masuk surga adalah silaturahmi. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ﴾

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.” (QS. Ar-Ra’d: 21)

Setelah itu Allah ﷻ menyebutkan di akhir ayat:

﴿جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ﴾

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra’d: 23)

Ketika Nabi Muhammad ﷺ pertama kali memasuki kota Madinah, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Salam radhiyallâhu ‘anhu, “Awal pertama kali perkataan yang aku dengar dari Nabi Muhammad ﷺ adalah:

))يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ((

“Wahai manusia sekalian, tebarkanlah salam, bagi-bagilah makanan, sambunglah silaturahmi, dan salatlah di waktu malam saat manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” ([19])

Ketika Abu Sufyan ditanya oleh Heraklius, “Apa yang diperintahkan Muhammad kepada kalian?” Maka Abu Sufyan berkata:

يَقُولُ)): اعْبُدُوا اللهَ وَحْدَهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ ((

“Dia (Nabi Muhammad ﷺ) berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang dikatakan nenek moyang kalian. Dia juga menyuruh kami untuk salat, berkata jujur, berakhlak mulia, dan menyambung silaturahmi’.”([20])

Hendaknya kita memastikan diri kita tidak memiliki masalah dengan saudara dan karib kerabat, apalagi kepada orang tua. Jika ada masalah maka hendaknya kita menyelesaikannya dengan segera sebelum meninggal dunia. Jangan sampai kita memiliki masalah dengan keluarga. Kita hidup di dunia ini bukan untuk mempertahankan ego. Maka hendaknya kita mengalah ketika menghadapi masalah dengan orang lain. Jika mereka tidak terima dengan sikap kita mengalah dan ingin mempermasalahkan, maka yang tersisa hanya mengadu kepada Allah ﷻ.

Di antara hal yang mampu menjalin hubungan silaturahmi adalah ketika kita memiliki uang, maka janganlah kita pelit terhadap kerabat. Jika kita tidak pelit kepada kerabat, maka inilah sejatinya sedekah pada tempatnya dan inilah yang Allah ﷻ perintahkan. Bersedekah kepada saudara dan kerabat lebih didahulukan dari pada bersedekah kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Sangat menyedihkan ketika kita melihat ada dua orang saudara yang saling bertikai. Termasuk masalah besar ketika ada dua saudara yang saling berselisih. Konsentrasi dakwah Nabi Muhammad ﷺ adalah menyambung silaturahmi. Dalam menyambung silaturahmi tidak hanya membutuhkan kesabaran, pengorbanan perasaan dan harta. Inilah salah satu bekal utama di dalam kehidupan.

  • Jangan Pernah Menzalimi Orang Lain

Menzalimi orang lain berarti mengganggunya atau mengambil haknya. Setiap muslim hendaknya berhati-hati dengan segala bentuk kezaliman. Di antara bentuk kezaliman adalah mengganggu dan tidak menunaikan hak orang lain.

Yang pertama: mengganggu orang lain. Contoh hal sepele di antara bentuk kezaliman ini adalah menggunakan jalanan umum untuk ajang balap motor. Tentu saja ini mengganggu banyak orang, karena telah mengganggu fasilitas umum. Janganlah berbuat kezaliman sedikit pun.

Di antara hal yang mengganggu orang lain adalah membangun rumah sehingga ada bagian rumah yang menjorok dan mengambil bagian dari jalan umum, maka hal ini diharamkan di dalam agama Islam. Menyalakan kendaraan dengan durasi yang lama hingga asapnya masuk ke dalam rumah tetangga sampai mengganggu, maka ini juga tidak diperbolehkan. Demikian juga merokok, dapat mengganggu orang-orang di sekitarnya, bahkan mungkin anak dan istrinya. Menyetel musik dengan suara yang keras hingga bising dan mengganggu tetangga, tentu saja ini sangat mengganggu. Islam mengajarkan untuk tidak berbuat zalim, tidak mengganggu dan membahayakan orang lain, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

))لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ((

“Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh (pula) membahayakan (orang lain).” ([21])

Jangan biarkan sampah yang ada di depan rumah masuk ke halaman rumah orang lain. Jangan sampai menyiram halaman rumah tetapi membuat becek halaman rumah orang lain. Jangan sampai kita membiarkan anak kita bermain sembarangan hingga membuat goresan di mobil orang lain. Janganlah seseorang menzalimi orang lain. Jangan membuat masalah dengan orang lain dan berusahalah untuk tidak berbuat masalah dengan orang lain.

Lihatlah bagaimana sikap Umar bin al-Khaththab radhiyallâhu ‘anhu ketika ditikam, beliau bertanya, “Siapa yang menikam saya?”

Maka dijawablah, “Seorang Majusi.”

Umar radhiyallâhu ‘anhu pun berkata, “Alhamdulillah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang muslim.”

Seorang Umar bin al-Khaththab radhiyallâhu ‘anhu tidak ingin memiliki masalah dengan seorang muslim. Beda dengan zaman sekarang yang ketika seorang muslim memiliki masalah dengan muslim lainnya, maka ia akan menyewa pengacara untuk memenangkan masalahnya, meskipun sebenarnya dialah yang bersalah.

            Yang kedua: tidak menunaikan hak orang lain. Contoh bentuk kezaliman ini adalah di antara hak suami terhadap istrinya adalah jika istri hendak keluar rumah maka hendaknya ia meminta ijin kepada suaminya. Jika ada tamu hendak masuk rumah harus dengan ijin suaminya, meskipun itu adalah saudara atau kerabatnya sendiri. Yang demikian perlu dilakukan karena suami perlu penghormatan dan ini merupakan hak suami yang tidak boleh dilalaikan.

Demikian juga, jika suami meminta berhubungan badan dengan istrinya, maka istri tidak boleh menolak dan tidak boleh menunda. Jika ada seorang laki-laki mengajak istrinya untuk berhubungan badan, kemudian istrinya tidak mau tanpa ada alasan syar’i, sehingga membuat suaminya jengkel dan tidur dalam keadaan marah, maka malaikat melaknat wanita tersebut. Nabi Muhammad ﷺ,

))إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ((

“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya (untuk berhubungan) lalu ia menolak, kemudian suaminya tidur dalam keadaan marah padanya, maka para malaikat melaknatnya sampai pagi hari.” ([22])

Ini adalah hak suami yang paling ditekankan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Hak yang paling urgen. Sampai beliau ﷺ bersabda,

))إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ((

“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk (memenuhi) hajatnya, maka hendaklah ia mendatanginya, meskipun ia sedang berada di depan tungku api (memasak).” ([23])

Selain menjaga hak suaminya, istri juga harus menjaga hak anak-anaknya. Dia harus menyayangi mereka, sabar dengan tingkahnya, dan tidak memukuli mereka. Dia harus mengajarkan salat, memberikan nasihat, memberikan pendidikan, mengajaknya mengobrol, memberikan kehangatan dan kasih sayang. Sebaliknya, sebagai seorang suami juga harus menjaga dan menunaikan hak istrinya.

Setiap muslim harus menjaga hak-hak orang-orang yang ada di sekitarnya. Suami mempunyai hak, istrinya, anaknya, orang tuanya, saudaranya, kerabatnya, temannya, tetangganya, gurunya dan semua orang di sekitarnya masing-masing memiliki hak. Jangan sampai hak mereka tidak ditunaikan. Jika hak orang lain tidak kita tunaikan maka kita akan binasa pada hari kiamat.

Hendaknya setiap dari kita merenungkan hal ini, hak apa saja yang belum kita tunaikan. Karena kita mempunyai hak terhadap orang lain dan orang lain juga mempunyai hak terhadap kita. Pastikan hak orang lain telah kita tunaikan. Pastikan kita tidak mengganggu orang lain. Ini adalah modal paling besar pada hari kiamat kelak, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat kelak. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

))الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَومَ القِيَامَةِ ((

“Kezaliman adalah kegelapan yang bertubi-tubi pada hari kiamat kelak.” ([24])

Kita akan binasa, kita akan sengsara, kita akan mendapati kesusahan yang besar jika kita menzalimi orang lain.


([1]) .

([2]) Lihat: Tafsîr al-Qurthubî, (2/412).

([3]) HR. Al-Bukhari, No. 26.

([4]) HR. At-Tirmidzi, No. 2377 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([5]) HR. Al-Bukhari, No. 1.

([6]) Lihat: Fath al-Bârî, Ibnu Hajar al-Asqalani, (1/140).

([7]) HR. Muslim, No. 1006.

([8]) HR. Muslim, No. 1006.

([9]) HR. Al-Baihaqi, No. 179 di dalam as-Sunan al-Kubrâ.

([10]) HR. Al-Bukhari, No. 4344 dan 4345.

([11]) HR. Ibnu Majah, No. 925 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([12]) HR. At-Tirmidzi, No. 2322 dan dinyatakan hasan oleh al-Albani.

([13]) HR. At-Tirmidzi, No. 3599 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([14]) HR. Ibnu Majah, No. 223 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([15]) Lihat: Bustân al-‘Arifîn, an-Nawawi, (1/50).

([16]) HR. Ath-Thabrani, (166/8). Hadis sahih.

([17]) HR. Ibnu Majah No. 2144 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([18]) HR. Ibnu Majah No. 2144 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([19]) HR. Ibnu Majah, No. 3251, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([20]) HR. Al-Bukhari, No. 100.

([21]) HR. Ibnu Majah, No. 2340 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([22]) HR. Al-Bukhari, No. 3237.

([23]) HR. At-Tirmidzi, No. 1160 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([24]) HR. Al-Bukhari, No. 2447.

Share216Tweet135Send

Related Posts

KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA
TEMATIK

KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

https://www.youtube.com/watch?v=N_vQ1B2Fzdo Pembahasan tentang “Membangun Istana di Surga” adalah salah satu dari pembahasan tentang al-Imân bil Yaumil-Âkhir, beriman kepada hari kiamat....

by Admin UFA
February 13, 2026
Next Post
KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

February 13, 2026

Bekal Seorang Muslim

February 13, 2026
mendamaikan sengketa

Anjuran Mendamaikan yang Bersengketa

January 14, 2022
sesajen untuk berhala dan jin

Allah Tidak Menerima Sesajen yang Mengandung Kesyirikan – Faidah Tafsir Surat Al-An’am: 13

January 10, 2022

Website resmi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Dikelola oleh tim IT resmi Ustadz Firanda Official.

About

  • About Us
  • Site Map
  • Contact Us
  • Career

Policies

  • Help Center
  • Privacy Policy
  • Cookie Setting
  • Term Of Use

Join Our Newsletter

Copyright © 2025 by UFA Official.

Facebook-f Twitter Youtube Instagram

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Support Forum
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2025 Firanda Andirja - Menebarkan cahaya tauhid & sunnah.