Segala puji bagi Allah ﷻ yang masih memberi kita umur, masih membuka pintu untuk saling mengingatkan, saling memperbaiki diri dan hati. Selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, dan seluruh sahabat beliau, tanpa kecuali.
Kali ini, mari kita bahas sepuluh kiat membersihkan hati, hal yang sering kali terlupa.
Perhatian syariat terhadap hati sungguh besar. Lihatlah doa Nabi Ibrâhim ‘alaihissalâm yang Allah ﷻ abadikan dalam al-Qur`an,
﴿وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ٨٧ يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ ولا بَنُونَ ٨٨ إلّا مَن أتى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah ﷻ dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’arâ`: 87-89)
Doa itu menyingkap satu hal, yaitu bahwa timbangan utama pada hari kiamat bukanlah wajah, melainkan hati. Nabi Muhammad ﷺ pun berkali-kali menegaskannya, di antaranya dalam sabda beliau,
((إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ))
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.”([1])
Hadis ini menegaskan, Allah ﷻ tidak memandang rupa dan jasad kita. Yang Dia pandang adalah hati. Bukan berarti amal lahir diabaikan, tidak. Hanya saja, yang utama, yang harus kita dahulukan, adalah hati.
Ada satu hadis yang menakjubkan. Nabi Muhammad ﷺ bercerita tentang seorang wanita berkulit hitam, namun ia penghuni surga. Diriwayatkan Imam al-Bukhari rahimahullâh, dari Atha’ bin Abi Rabah, ia menuturkan, radhiyallâhu ‘anhâ
“Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ pernah berkata kepadaku, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu’. Dia berkata, ‘Dialah wanita yang berkulit hitam, dia pernah menemui Nabi Muhammad ﷺ sambil berkata Sesungguhnya aku menderita shara`([2]) dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah ﷻ untukku’. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ))
‘Jika kamu ingin (pilih) bersabar maka bagimu surga, dan jika kamu ingin maka aku akan berdoa kepada Allah ﷻ agar Allah ﷻ menyembuhkanmu’.
Wanita itu berkata, ‘Aku akan bersabar’. Wanita itu berkata lagi, ‘Akan tetapi auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah ﷻ agar (auratku) tidak tersingkap’. Maka Nabi Muhammad ﷺ kemudian berdoa untuknya.”([3])
Lihatlah wanita itu. Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ menyebutnya penghuni surga.
Padahal, jika kita timbang dengan ukuran manusia, ia tak punya apa-apa. Kulitnya hitam, parasnya biasa, bukan sosialita yang diperebutkan pandangan. Bahkan ia menyimpan penyakit. Tetapi di tengah deritanya, ia tetap menjaga satu hal, yaitu harga dirinya, agar auratnya tak tersingkap.
Di sanalah letak kemuliaannya. Bukan pada wajah, bukan pada tubuh, melainkan pada hati yang memilih bersabar.
Kisah itu menampar lembut kesadaran kita bahwa yang dinilai bukan paras dan rupa. Kita sering silau pada wajah, penampilan, dan ketenaran seseorang. Padahal semua itu tak berharga sedikit pun di sisi Allah ﷻ. Yang berharga di hadapan-Nya hanya dua, yaitu keadaan hati dan amal, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ yang baru saja kita sebut.
Lihatlah keadaan manusia hari ini. Penyakit hati begitu mudah menyusup ke siapa saja. Bagaimana tidak? Hati ibarat bejana, dan yang menuanginya adalah apa yang kita ucap, kita dengar, dan kita lihat. Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu pernah berkata,
((إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ أَوْعِيَةٌ فَاشْغَلُوهَا بِالْقُرْآنِ، وَلَا تَشْغَلُوهَا بِغَيْرِهِ))
“Sesungguhnya hati ini (bagaikan) sebuah wadah, maka sibukkanlah dia dengan al-Qur`an dan jangan sibukkan dengan selainnya.” ([4])
Hari ini, hampir tak ada yang lepas dari media sosial. Lewat genggaman, kita bebas menulis apa saja, melihat apa saja, mendengar apa saja, sepanjang waktu, tanpa henti.
Maka terjadilah banjir informasi yang tak tersaring, bercampur antara yang baik dan yang kotor. Dan yang kotor itu, perlahan, masuk ke hati. Lalu tumbuhlah penyakitnya satu per satu, yaitu syubhat, syahwat, hasad, dengki, dendam, dan prasangka buruk. Kebahagiaan pun terkikis tanpa kita sadari.
Berbicara tentang amalan hati dan pembersihannya, sejatinya kita sedang berbicara tentang perjuangan. Sebab hati yang bersih tak datang gratis. Ia menuntut seseorang menempuh jalan yang berat. Dan tidak semua orang sanggup. Hanya hamba-hamba pilihan yang Allah ﷻ kuatkan, yang mampu menapakinya.
Dalam sebuah hadis, Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu anhu berkata,
“Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, ‘Manusia bagaimana yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Semua (orang) yang hatinya makhmum (dibersihkan) dan lisannya (ucapannya) benar’. Para sahabat berkata, ‘Perkataannya benar telah kami ketahui maksudnya, lantas apakah maksud dari hati yang makhmum?’ Beliau ﷺ bersabda,
((هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ))
‘Hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa dan kezaliman padanya, serta kedengkian dan hasad’.”([5])
Di hadis ini Nabi Muhammad ﷺ mendefinisikan hati yang bersih dengan definisi yang menggetarkan, yaitu hati yang penuh takwa, tanpa dosa, tanpa kezaliman, tanpa dengki, dan tanpa hasad.
Sungguh berat. Sebab tak ada manusia yang tak pernah tergelincir ke salah satu penyakit itu, apalagi manusia zaman ini. Namun beratnya bukan alasan untuk menyerah. Justru beliau ﷺ mengisyaratkan satu kunci, yaitu bahwa siapa yang ingin hatinya bersih, ia harus membersihkannya sesering mungkin.
Hati itu seperti rumah. Setiap hari debu dan kotoran masuk dari luar. Ingin rumah yang bersih? Sapu ia setiap hari, jangan ditunda. Begitu pula hati. Setiap hari ia dihinggapi penyakit. Maka untuk menjaganya tetap bersih, bersihkan ia sesering mungkin. Tanpa jeda.
Hati Wanita Lebih Peka
Pembahasan membersihkan hati terasa lebih mendesak bagi wanita. Sebab, secara umum, hati wanita lebih peka daripada lelaki. Beberapa hal berikut menguatkannya,
Pertama: Wanita bagaikan kaca-kaca
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((ارْفُقْ بِالْقَوَارِيرِ))
“Berlemah lembutlah kepada kaca-kaca.” ([6])
Di hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menyifati wanita dengan الْقَوارِيرِ, “kaca-kaca”. Mengapa kaca? Karena hati wanita lembut, mudah retak oleh sentuhan kata, peka, dan kerap membawa perasaan dalam segala hal.
Ia memang membutuhkan kelembutan dalam banyak hal, saat sabar mengurus anak, juga saat lelah menata rumah tangga. Namun justru karena kepekaan itulah, hatinya lebih mudah dihinggapi penyakit.
Kedua: Wanita diperingatkan secara khusus untuk tidak saling mengejek
Allah ﷻ berfirman,
﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurât: 11)
Di ayat ini Allah ﷻ menyebut wanita secara khusus, padahal sebelumnya Dia telah menyebut kaum muslimin secara umum, yang sudah mencakup lelaki dan perempuan. Penyebutan khusus itu bukan tanpa maksud.
Imam al-Qurthubi rahimahullâh menjelaskan bahwa disebutkannya wanita secara khusus karena perkara saling mengejek sering kali terjadi di kalangan para wanita. ([7]) Hal ini karena sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa hati wanita itu cenderung lebih sensitif, sehingga sangat mudah terjadi perselisihan di antara mereka yang berujung dengan saling mengejek satu sama lainnya. Sebagai contoh, seorang wanita yang bangga dengan apa yang dimilikinya seperti tasnya, produk kosmetiknya, mobilnya, gawainya, majelis taklimnya, dan yang lainnya, seringnya ia cenderung mudah untuk merendahkan wanita lain yang secara kepemilikan di bawahnya. Maka pada ayat ini Allah ﷻ menyebutkan para wanita secara khusus bertujuan agar mereka tidak saling mengejek, karena bisa jadi wanita yang diejek itu lebih baik dari pada wanita yang mengejek.
Ketiga: Allah ﷻ menyebut para penyihir wanita secara khusus
Di antara perkara yang tidak kalah menakjubkan berkaitan dengan hati wanita adalah apa yang disebutkan oleh ar-Razi di dalam tafsirnya Mafâtîh al-Ghaib atau at-Tafsîr al-Kabîr ketika menafsirkan firman Allah ﷻ,
﴿وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ﴾
“Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).” (QS. Al-Falaq: 4)
النَّفَّاثَاتِ merupakan bentuk jamak dari lafal النَّفَّاثَة yang artinya adalah wanita penyihir. Ar-Razi menjelaskan disebutkan penyihir wanita pada ayat ini karena empat sisi, di antaranya adalah karena sihirnya perempuan itu lebih tajam dari pada sihirnya lelaki. Selain karena ilmunya yang sedikit dan lebih besar syahwatnya, untuk membuat sihir menjadi lebih matang, kuat nan kokoh, maka harus disertai dengan hati yang busuk dan pendendam([8]). Sehingga semakin busuk hatinya, maka semakin matang sihirnya dan semakin mudah bagi setan untuk melancarkan sihirnya. Semua ini mudah bagi kalangan wanita. Oleh karenanya, disebutkan sebagai النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ‘Perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul’.
Bukan berarti lelaki tak punya rasa dendam. Tidak begitu. Maksudnya, perasaan wanita lebih dalam, sehingga dendamnya pun lebih membekas. Karena itu, bila pecah perselisihan di antara para wanita, ia mereda dalam waktu yang lama, sangat lama. Padahal boleh jadi, sebelum bertikai, mereka sahabat dekat. Begitulah, perasaan wanita memang lebih tajam daripada lelaki.
Keempat: Pengikut Dajal banyak dari kalangan wanita
Kelak di akhir zaman, ketika Dajal muncul, orang yang paling banyak berduyun keluar dari Madinah untuk menemuinya adalah para wanita. Sampai-sampai para lelaki terpaksa mengikat ibu, bibi, putri, dan kerabat wanitanya, agar mereka tak keluar menemui Dajal. Hal ini berdasarkan hadis dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ, Rasulullah ﷺ bersabda,
((يَنْزِلُ الدَّجَّالُ فِي هَذِهِ السَّبَخَةِ بِمرقَنَاةَ، فَيَكُونُ أَكْثَرَ مَنْ يَخْرُجُ إِلَيْهِ النِّسَاءُ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَرْجِعُ إِلَى حَمِيمِهِ وَإِلَى أُمِّهِ وَابْنَتِهِ وَأُخْتِهِ وَعَمَّتِهِ، فَيُوثِقُهَا رِبَاطًا، مَخَافَةَ أَنْ تَخْرُجَ إِلَيْهِ))
“Dajal akan turun di daerah Mirqanah, mayoritas orang keluar menuju tempatnya adalah para wanita, sehingga seseorang pergi ke tempat istrinya, ibunya, anak perempuannya, saudara perempuannya dan bibinya, lalu mengikatnya, karena khawatir akan keluar menuju Dajal.” ([9])
Semua ini disebabkan karena wanita mudah terprovokasi. Pada zaman sekarang, jika ada satu berita yang baru, maka para wanita yang lebih cepat mengetahuinya. Apalagi, jika saat itu terdengar kabar tentang munculnya Dajal dengan kesaktian-kesaktian yang dimilikinya, seperti menurunkan hujan, menghidupkan orang mati, mengeluarkan harta dari dalam tanah, mampu bergerak dengan cepat, maka tentu saja akan banyak wanita yang terpengaruh. Saking besarnya pengaruh Dajal terhadap kaum wanita, sehingga membuat kaum lelaki berusaha mengikat ibu, bibi, putri dan kerabat-kerabat perempuan mereka supaya tidak keluar menuju Dajal, karena hati wanita sangat lemah([10]).
Kelima: Peringatan kepada wanita yang sering berziarah kubur
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زُوَّارَاتِ الْقُبُور))
“Rasulullah ﷺ melaknat para wanita yang menziarahi kubur.”([11])
Berdasarkan hadis ini, para ulama berselisih tentang hukum ziarah kubur bagi wanita. Sebagian ulama berpendapat hukumnya haram secara mutlak, sebagian ulama lain berpendapat makruh, dan sebagian ulama yang lain lagi berpendapat boleh karena tujuan pelarangan Nabi Muhammad ﷺ adalah agar wanita tidak sering berziarah kubur.([12])
Muncul satu pertanyaan. Mengapa lelaki dan wanita dibedakan dalam soal ziarah kubur? Bukankah keduanya sama-sama butuh mengingat akhirat? Bukankah memang itu fungsi ziarah? Rasulullah ﷺ bersabda,
((زُورُوا الْقُبُورَ؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ))
“Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia mampu mengingatkan hari akhirat.”([13])
Di antara sebab wanita dilarang sering berziarah adalah karena hatinya lembut. Dikhawatirkan, saat berziarah, ia tak mampu menahan diri. Ia menangis, bahkan meratap berlarut-larut, padahal syariat melarangnya.
Bisa jadi pula, sebelumnya ia telah rida dengan ketetapan Allah ﷻ. Lalu ziarah itu mengaduk kembali perasaannya, hingga keridaan itu goyah. Hal seperti ini umumnya tak menimpa lelaki. Ia mungkin sedih, mungkin menangis, tetapi sebentar, lalu berlalu.
Karena hatinya yang cenderung lebih lembut, wanita pun lebih rawan terjangkiti penyakit hati. Maka inilah panggilan bagi para wanita, bersungguh-sungguhlah menjaga hati.
Hati Kita Bermasalah?
Di antara tanda yang menunjukkan hati kita bermasalah (berpenyakit) adalah:
Pertama, susah khusyuk dalam salat.
Hati yang bersih membuat salat terasa khusyuk. Sebaliknya, hati yang sakit membuat khusyuk terasa jauh. Saat salat, pikirannya berkelana ke dunia, memikirkan ini dan itu, ingin segera selesai. Maka, siapa di antara kita yang merasakannya, ketahuilah, hatinya sedang bermasalah.
Kedua, tidak betah berlama-lama dalam membaca al-Qur`an.
‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu anhu pernah berkata,
((لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ))
“Kalau saja hati kalian suci bersih, niscaya kalian tidak akan pernah puas dari kalamullah (al-Qur`an).”([14])
Bila seseorang tak betah membaca al-Qur`an, baru setengah lembar sudah mengantuk dan ingin berhenti, padahal sanggup berlama-lama menatap layar dan berita sambil asyik, maka tak perlu diragukan lagi, hatinya sedang bermasalah.
Ketiga, mudah suuzan (berburuk sangka) terhadap orang lain.
Tentu masih banyak tanda yang lain. Dan diam-diam, kita masing-masing tahu penyakit apa yang bersarang di hati, kotoran yang menumpuk bertahun-tahun karena tak pernah dibersihkan. Kita sibuk merawat wajah. Padahal kelak kita menghadap Allah ﷻ bukan dengan wajah yang cantik atau tampan, melainkan dengan hati. Hati yang bersih.
Kiat-Kiat Membersihkan Hati
- Menjaga Lisan.
Menjaga lisan adalah salah satu jalan menuju hati yang bersih. Nabi Muhammad ﷺ telah mengisyaratkannya dalam sabda beliau,
((لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ))
“Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, dan hati tidak akan lurus hingga lurus lisannya.”([15])
Hadis ini dalil yang amat kuat, bahwa lisan punya pengaruh besar atas hati.
Sebagaimana telah disebut, hati ibarat wadah yang siap diisi apa saja. Dan salurannya ada tiga, yaitu lisan, pandangan, dan pendengaran. Maka jagalah apa yang kau ucap, apa yang kau lihat, dan apa yang kau dengar. Sebab hati hanya menerima, apa pun yang masuk.
Apa yang kita dengar setiap hari, itulah yang mengisi hati. Betapa banyak orang yang akrab dengan musik, lalu ketika hendak mengingat Allah ﷻ justru terasa sulit. Wajar. Hatinya selama ini dipenuhi lagu dan nyanyian. Lebih ironis lagi, ia hafal puluhan lagu, sementara ayat dan hadis tak satu pun melekat. Maka ketika masalah datang, yang terngiang di kepalanya adalah nada-nada lagu.
Mengapa kita harus menjaga apa yang didengar, dilihat, dan diucapkan? Karena semua itu mengisi hati, dan akan menampakkan dirinya di saat yang paling genting, yaitu sakratulmaut.
Saat ajal menjemput, yang terucap adalah apa yang selama ini memenuhi hati. Jika hati selalu mengingat Allah ﷻ dan syariat-Nya, itulah yang akan keluar di ujung napas. Tetapi jika hati dipadati dunia, lagu, dan seribu keinginan, itu pula yang akan terucap.
Ketahuilah, sakratulmaut adalah keadaan paling berat yang akan kita hadapi. Di saat itu, hati bisa berkhianat pada keinginannya sendiri. Bahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullâh menyebutkan, ketika ajal datang, Iblis mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyesatkan seseorang. Maka siapa yang membiasakan hatinya dengan yang buruk, dari yang ia dengar, ia lihat, dan ia ucap, yang buruk itulah yang akan bergulir di hatinya, dan menyusahkannya di saat terakhir.
Bukankah kita sering mendengar kisahnya? Seseorang di ambang ajal, tak sanggup mengucap sepatah kata pun, kecuali penggalan lagu yang dulu ia hafal. Diminta mengucap “Lâ ilâha illallâh”, yang keluar justru lirik. Begitulah, bila hati dihiasi nyanyian. Begitu pula orang yang hati dan pikirannya hanya sibuk dengan dagang, tanpa pernah menyelipkan ingatan kepada Allah ﷻ, itu pula yang akan terucap di akhir hayatnya. Wal-‘iyâdzubillâh.
Sungguh, kita bisa merasakan sendiri betapa kotornya hati ini. Saat ingin khusyuk dalam salat, hati malah berkhianat, melayang ke mana-mana. Penyebabnya? Selama ini ia kita isi dengan yang tak benar. Jika dalam keadaan sadar saja hati sudah berkhianat, lalu bagaimana nanti, saat sakratulmaut?
Maka ingatlah, hati hanyalah wadah. Ia terisi oleh apa yang kita lihat, kita dengar, dan terutama kita ucapkan. Benarlah sabda Nabi Muhammad ﷺ, bahwa tak akan lurus iman seorang hamba sampai lurus hatinya, dan tak akan lurus hatinya sampai lurus lisannya.
Karena itu, waspadalah pada setiap kata yang keluar dari lisan, terutama yang dilarang syariat, yaitu namimah dan gibah. Hendak berbicara? Pilihlah kata yang tepat, jauhi yang berpotensi menyinggung atau merendahkan. Begitu pula tulisan. Para ulama menegaskan, hukum tulisan sama dengan ucapan. Maka berhati-hatilah saat menulis status dan komentar di media sosial. Satu kata bisa menggores hati, baik hati orang lain maupun hati kita sendiri.
Ada satu tolok ukur sederhana. Sebelum mengucapkan sesuatu, arahkan dulu kata itu ke diri sendiri. Rasakan, bagaimana jika kita yang menerimanya? Inilah kaidahnya, yaitu sebelum bertindak, tempatkan diri di posisi orang lain. Dengan begitu, lisan kita akan lebih terjaga.
Ketahuilah suatu ketika Abu Bakar radhiallahu anhu pernah memegang lisannya kemudian berkata,
((هَذَا الَّذِي أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ))
“Inilah yang menyebabkan saya banyak terjebak dalam kehancuran.”([16])
Lihatlah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallâhu ‘anhu. Sahabat termulia, yang telah dijamin surga oleh Nabi Muhammad ﷺ. Namun beliau masih mengkhawatirkan lisannya. Bila orang sekelas beliau saja waspada, lalu bagaimana dengan kita? Sungguh, menjaga lisan adalah perkara besar, sebab lisan begitu kuat memengaruhi seluruh tubuh, terutama hati.
- Memperbanyak Istigfar.
Di antara pembersih hati adalah memperbanyak istigfar. Inilah amalan yang sangat dijaga Nabi Muhammad ﷺ. Bila ada sesuatu yang mengusik hati beliau, beliau pun beristigfar kepada Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ))
“Sesungguhnya ada yang mengganggu hatiku, dan sesungguhnya aku beristigfar kepada Allah ﷻ seratus kali dalam sehari.”([17])
Dalam hadis yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda,
((إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾))
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dicatat dalam hatinya sebuah titik hitam, dan apabila ia meninggalkannya dan beristigfar (meminta ampun) serta bertobat, hatinya dibersihkan. Dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang namanya ‘Ar-Raan’ yang Allah sebutkan, ‘Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka’.” (QS. Al-Muthaffifîn: 14).”([18])
Seseorang yang terlalu sering bermaksiat, hatinya akan kotor, lalu menghitam. Dampaknya nyata pada perangainya. Dosa seperti khamar, zina, dan selainnya, lama-lama terasa biasa di matanya. Hingga untuk menerjangnya, ia tak lagi berpikir panjang.
Karena itu, yakinlah, setiap maksiat pasti membawa mudarat. Dan mudarat terbesarnya menimpa hati, berupa titik hitam yang melekat. Semakin banyak titik itu, semakin sulit kita mengenali kebenaran. Tandanya? Semangat ibadah meredup. Maka, bila kita mendapati diri malas beribadah, boleh jadi itu jejak maksiat yang pernah kita lakukan. Dan itu pertanda, hati sedang bermasalah.
Hati kita benar-benar bermasalah ketika kewajiban kita tinggalkan, namun kita santai saja. Telat salat, biasa saja. Seorang istri abai pada hak suami, biasa saja. Lalai pada hak orang tua, pada hak anak-anak, biasa saja. Jika begitu, ketahuilah, ada yang sakit di dalam hati. Sebab hati yang bersih pasti gelisah, tak tenang, bila terhalang dari kebaikan, sebagaimana kata Ibnul Qayyim rahimahullâh,
((واللهِ لَوْ أنّ القلوبَ سليمةٌ … لتقطعتْ أسفًا مِنَ الحرمانِ))
“Demi Allah, jika hati itu selamat (bersih) niscaya hatinya akan tercabik-cabik sebab terhalang dari kebaikan.”([19])
Hati yang bersih akan gelisah bila terlewat satu kebaikan. Contohnya, salat malam yang sudah menjadi kebiasaan. Lalu suatu malam ia terlewat karena tak terbangun. Hatinya pasti sedih, gelisah. Ia bertanya-tanya pada dirinya, dosa apa gerangan yang telah kuperbuat, hingga Allah ﷻ tak membangunkanku malam ini?
Tetapi bila hati telah dipenuhi titik hitam, sebanyak apa pun kebaikan yang terlewat, tetap terasa biasa. Tak mengapa meninggalkan salat. Tak mengapa menonton apa saja. Tak mengapa bergibah, membentak suami, memarahi anak-anak. Apa pun, ia tak lagi peduli baik dan buruknya. Sampai-sampai ia tak sadar, hatinya sedang sakit.
Maka, penghapus segala kotoran hati itu adalah memperbanyak istigfar. Sedang di perjalanan? Beristigfarlah. Bayangkan, terjebak macet satu jam saja, kita bisa beristigfar ribuan kali. Mendengar pengajian memang baik. Tetapi sesekali, alihkan ke istigfar, sebab di sanalah tersimpan ketenangan tersendiri. Jangan biarkan waktu perjalanan terbuang sia-sia.
Beristigfarlah sebanyak-banyaknya, selama-lamanya. Jadikan dirimu seperti penghafal al-Qur`an yang tak bosan mengulang hafalannya berjam-jam. Tak punya hafalan? Istigfar gantinya. Ingat-ingat dosa kita, dosa kepada orang tua, kepada suami atau istri, dan kepada anak-anak. Kenang semua sambil beristigfar, memohon ampun kepada Allah ﷻ. Sebab di situlah hati dibersihkan.
- Jangan terlalu banyak tahu tentang urusan orang lain.
Di antara pembersih hati adalah menahan diri dari mengurusi urusan orang, dan dari mendengar keburukan mereka. Berat? Memang berat. Siapa di zaman ini yang sanggup menahan diri darinya? Sedikit sekali.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ))
“Janganlah seorang dari sahabatku menyampaikan sesuatu tentang orang lain kepadaku, sesungguhnya aku ingin menemui kalian dengan hati yang bersih.”([20])
Para ulama berselisih tentang kesahihan hadis di atas. Namun maknanya tetap benar, sebagaimana ditegaskan Syekh al-‘Utsaimin rahimahullâh.
Hadis itu menyingkap satu rahasia, yaitu bahwa mengetahui terlalu banyak tentang orang lain berpengaruh pada hati. Bila kita tahu si Fulan begini, akhlaknya begitu, perangainya begini, hati kita ikut kotor oleh tumpukan aib mereka. Akibatnya, saat berjumpa orangnya, yang muncul di benak hanyalah prasangka buruk.
Karena itulah, menjadi seorang dai bukan perkara ringan. Betapa banyak orang datang mengadukan masalahnya, hingga sang ustaz tahu, ternyata si Fulan begini, si Fulan begitu, bermacam-macam. Namun begitulah tugasnya. Sebagian masalah memang harus diselesaikan dengan cara itu. Mereka bukan menikmati keburukan orang, melainkan mencari jalan keluar.
Lalu bagaimana dengan kita, yang bukan dai, bukan pula konselor? Mengapa kita sibuk mencari tahu urusan dan keburukan orang? Bukankah lebih tenang bila kita tidak tahu? Kecuali bila seseorang benar-benar butuh nasihat, dan kita mampu menasihatinya, silakan dengarkan. Tetapi jangan dijadikan kebiasaan, dan jangan dinikmati. Sebab itu merampas ketenanganmu, dan mengotori hatimu.
Karena itu, hendaknya kita berusaha tak mendengar keburukan orang lain. Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullâh berkata,
((أَفْضَلُ الأَعْمَالِ سَلَامَةُ الصَّدْرِ مِنْ أَنْوَاعِ الشَّحْنَاءِ كُلِّهَا))
“Sebaik-baik amal-amalan adalah bersihnya hati dari segala bentuk permusuhan.”([21])
Bila hati bersih, tak tahu keburukan orang, tak tahu masalah mereka, itu jauh lebih baik. Kecuali bila kita diceritakan lalu mampu memberi solusi dan meringankan beban mereka, maka tak mengapa, sebab itu bagian dari berbuat baik. Namun bila tak mampu, lebih baik tak usah didengar. Masih banyak yang lebih layak kita urus, yaitu suami, anak-anak, orang tua, bahkan diri kita sendiri yang sering jalan di tempat.
Maka, di antara penjaga kebersihan hati adalah berhenti gemar mendengar urusan orang, apalagi keburukannya. Bila ada yang datang mulai menggunjing, katakan padanya untuk berhenti, dan nasihati ia agar tak mengulanginya.
Dan bila kita punya teman yang hobinya menggunjing, putuskan pertemanan itu. Jangan sungkan. Sebab bila sungkan, kita sendiri yang celaka, terseret dosa dan tergores hati. Ketahuilah, masih banyak orang baik di luar sana, yang tak gemar membicarakan aib orang, yang bisa menjadi sahabat kita, dan menjaga hati kita tetap bersih.
Oleh karenanya di antara doa yang diajarkan dalam al-Qur`an adalah sebagaimana firman Allah ﷻ,
﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Sungguh, berjumpa dengan seseorang sambil bisa tersenyum tulus, tanpa tahu keburukannya, jauh lebih menenangkan daripada berjumpa sambil menyimpan aibnya. Karena itu, penulis mengingatkan diri sendiri dan kita semua, bahwa waktu kita terbatas. Jangan habiskan dengan mengikuti tren media sosial yang sibuk membongkar aib orang. Sebab itu, perlahan, mengotori hati.
- Berusaha tenteram dan bahagia tatkala sendirian.
Di antara kiat agar hati bersih dan sehat adalah merasa tenteram dan bahagia saat sendirian. Latihlah diri untuk nyaman dalam kesendirian. Memang, kita kerap merasa nyaman saat berkumpul bersama kawan. Tetapi jangan sampai kenyamanan itu hanya ada di tengah keramaian. Sesekali, nikmatilah sepi. Sebab di sanalah hati dibersihkan.
Penulis sendiri, sebagai suami, tentu bahagia bersama istri dan anak-anak. Tetapi saya tetap butuh waktu untuk merasa tenang tanpa mereka. Saat sendiri, entah membaca, entah salat, entah yang lain, saya melatih diri agar nyaman. Sebab saya tahu, waktu yang akan saya lalui dalam kesendirian jauh lebih panjang.
Bersama keluarga, mungkin puluhan tahun di dunia. Tetapi setelah itu, ada alam barzakh, tempat saya sendirian, boleh jadi lebih lama daripada seluruh usia saya di dunia. Kita semua akan melaluinya. Maka latihlah diri, agar di dalam sepi pun kita menemukan kelezatan, ketenteraman, dan kedamaian.
Hal ini telah diisyaratkan Nabi Muhammad ﷺ, tatkala beliau berbicara tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah ﷻ pada hari kiamat. Salah satunya, kata beliau,
((رَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ))
“Seseorang yang berzikir kepada Allah tatkala sendiri hingga meneteskan air matanya.”([22])
Karena itu, bila kita hanya bisa khusyuk di tengah keramaian, sementara saat sendiri tak mampu, itu pertanda hati sedang bermasalah. Maka sisihkanlah waktu untuk menyendiri, dan latih diri agar nyaman di dalamnya.
Jangan biasakan diri selalu berkumpul dan bertemu kawan. Sediakan waktu lebih banyak untuk sendiri. Di saat itu, renungi diri, renungi kesalahan, baca al-Qur`an, dirikan salat. Amalan-amalan itu tak perlu dipamerkan. Biarkan ia menjadi rahasia, antara kita dan Allah ﷻ. Abu Hazim rahimahullâh berkata,
((اكْتُمْ حَسنَاتِكَ كَمَا تَكتُمُ سَيِّئَاتِكَ))
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu, sebagaimana engkau menyembunyikan kesalahan-kesalahanmu.”([23])
Nyaman dalam kesendirian adalah perkara yang harus dilatih. Karena itu ada syariat iktikaf, ada salat malam. Semua itu melatih kita untuk betah dan bahagia saat sendiri. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang amalan yang membuat seseorang dinaungi Allah ﷻ,
((وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ))
“Dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah.”([24])
Bertemu karena Allah ﷻ, misalnya, berjumpa dengan sahabat dalam majelis ilmu, atau berkumpul untuk menyantuni anak yatim, orang miskin, dan para janda. Lalu mereka berpisah karena Allah ﷻ, kembali ke rumah menunaikan kewajiban masing-masing sebagai suami atau istri. Jadi ada pertemuan karena Allah ﷻ, dan ada perpisahan karena Allah ﷻ. Dan justru perpisahan itulah yang perlu dilatih. Sebab bila tidak, kita akan terus menuruti keinginan berlama-lama bersama kawan, hingga banyak kewajiban yang terbengkalai.
Latihlah diri untuk menyendiri, dan temukan kenyamanan di dalamnya, sebab itu membantu membersihkan hati. Bila kita sudah terbiasa nyaman dalam sepi, hidup pun terasa lebih ringan. Kita tak lagi menggantungkan bahagia pada kehadiran orang lain.
- Banyak berzikir kepada Allah ﷻ.
Di antara pembersih hati adalah berzikir kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah ﷻ. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Semakin banyak kita mengingat Allah ﷻ, semakin banyak pula Dia mengingat kita. Allah ﷻ berfirman,
﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Siapa yang ingin selalu diingat Allah ﷻ, bahkan mendapat perhatian khusus dari-Nya, perbanyaklah zikir. Dan zikir terbaik adalah membaca al-Qur`an. Di sanalah ia menemukan kebahagiaan dan ketenteraman yang hakiki. Sebab yang menggenggam hati, dan yang memberi bahagia padanya, hanyalah Allah ﷻ.
Demi Allah ﷻ, lawakan dan lelucon di YouTube, Facebook, dan media sosial tak akan memberi bahagia pada hati. Ada tawa, ya. Tetapi sesaat, dan tak pernah menyentuh ke dalam.
Kalau tawa adalah tanda bahagia, mestinya para pelawak yang paling bahagia. Nyatanya tidak. Betapa banyak dari mereka yang justru terlilit masalah, bahkan terjerat hukum. Maka tawa di mulut tak selalu berarti bahagia di hati. Bisa jadi mulut tertawa, sementara hati menjerit. Sebaliknya, ada yang menangis saat membaca al-Qur`an, padahal saat itu ia di puncak bahagia, karena sedang mengingat Allah ﷻ.
Jika bahagia bersumber dari Allah ﷻ, mintalah kepada Sang pemiliknya. Tetapi bagaimana seseorang hendak bahagia, jika ia tak pernah mengingat Allah ﷻ, dan hari-harinya berlalu tanpa al-Qur`an? Bahkan ada yang menggantungkan bahagianya pada netizen, pada “like” dan komentar manis di setiap unggahan.
Subhânallâh, kebahagiaan kita sejatinya ada di sisi Allah ﷻ. Carilah ia di sana, dengan membaca al-Qur`an dan memperbanyak zikir. Apa sulitnya zikir pagi dan petang? Apa sulitnya beristigfar di dalam kendaraan? Ingatlah, semakin kita mengingat Allah ﷻ, semakin Dia mengingat kita, dengan perhatian yang istimewa.
Maka jelaslah, orang yang sering mengingat Allah ﷻ akan bahagia. Sebaliknya, orang yang jauh dari-Nya, yang sibuk dengan dunia, akan dilupakan oleh-Nya. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَمَنْ أعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا ونَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيامَةِ أَعْمَى١٢٤ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا١٢٥ قَالَ كَذَلِكَ أتَتْكَ آيَاتُنا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى﴾
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan’.” (QS. Thâhâ: 124-126)
Orang yang jauh dari mengingat Allah ﷻ tak akan pernah bahagia. Anda kira orang kafir bahagia? Sama sekali tidak, mereka justru sengsara. Anda kira pemilik harta melimpah pasti bahagia? Tidak, selama ia jauh dari Tuhannya. Kita boleh silau melihat kekayaan dan rumah mewahnya. Tetapi di dalam, mereka kosong. Sebab bahagia hanya Allah ﷻ berikan kepada yang mengingat-Nya. Karena itu, jangan lupa berzikir. Latih lisan untuk terus menyebut nama-Nya. Itulah cara menjaga hati tetap bersih.
Penulis sering mengingatkan, zikir adalah ibadah yang ringan, siapa pun bisa. Siapa yang berat mengucap “Subhânallâh, alhamdulillâh, lâ ilâha illallâh, Allâhu akbar”? Mudah, bahkan sudah kita hafal di luar kepala. Yang berat justru menggerakkan diri untuk mengucapkannya. Sebab di negeri kita, berzikir di tengah keramaian terasa memalukan. Akhirnya kita malas, lalu hanyut dalam obrolan dan tawa yang sia-sia. Kita menunggu waktu yang tepat, tetapi ketika ia datang, kita malah lupa. Padahal zikir itulah yang membersihkan hati.
- Melatih diri untuk ikhlas.
Di antara pembersih hati adalah melatih diri untuk ikhlas. Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullâh berkata dalam tafsirnya,
((فَعنوانُ سعادةِ العبدِ إخلاصُهُ لِلْمعبودِ، وَسَعيُهُ فِيْ نفعِ الخَلْقِ))
“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah ikhlas kepada yang disembah (yaitu Allah), dan dia berusaha memberi manfaat kepada orang lain.”([25])
Orang yang bahagia adalah yang memadukan dua hal, yaitu ikhlas kepada Allah ﷻ dan berusaha memberi manfaat bagi sesama.
Orang yang ikhlas tak mengharap pujian. Yang ia cari hanya wajah Allah ﷻ. Maka latihlah diri memeriksa niat. Salat ini, karena Allah ﷻ atau bukan? Umrah ini, karena Allah ﷻ atau bukan? Datang ke majelis ilmu, karena Allah ﷻ atau bukan? Bakti sosial ini, karena Allah ﷻ atau bukan?
Semakin segalanya karena Allah ﷻ, semakin kita tak peduli kata orang, semakin pula kita bahagia. Seorang ustaz yang ikhlas, baginya sama saja seribu orang atau satu orang di hadapannya. Dicela atau direndahkan, ia tak goyah, sebab yang ia pandang hanya Allah ﷻ. Itulah ciri orang ikhlas.
Karena itu, latihlah diri untuk ikhlas. Dengannya, hati kian bersih dari penyakit, dan hidup kian bahagia. Sebaliknya, begitu seseorang mulai memburu komentar dan pujian, ia akan tersiksa. Lalu bagaimana caranya ikhlas? Pembahasannya panjang. Tetapi intinya, salah satu jalannya adalah menyembunyikan amal saleh. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبِيءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ))
“Barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk memiliki amal saleh yang tersembunyi maka lakukanlah.”([26])
Maka, ketika seseorang ikhlas kepada Allah ﷻ, ia pasti bahagia. Tetapi ketika ia menyandarkan bahagianya pada komentar dan pujian, ia akan menderita. Sebab komentar orang bukan hanya pujian, celaan pun datang silih berganti. Sampai kapan kita mau terbelenggu? Lepaskan, dengan ikhlas karena Allah ﷻ.
- Membantu orang lain.
Telah kita sebut, Syekh as-Si’di rahimahullâh mengatakan bahwa di antara sumber bahagia adalah berusaha memberi manfaat kepada sesama.
Suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ mengeluhkan hatinya yang keras. Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ))
“Jika engkau ingin hatimu menjadi lembut maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”([27])
Sungguh amalan yang luar biasa. Saat melihat orang yang lebih susah, lalu kita masakkan makanan dan kita antarkan, hati kita pun melembut. Saat berjumpa anak yatim, kita usap kepalanya dan kita santuni, kebahagiaan yang sempat hilang darinya kembali, lalu menular kepada kita.
Tentu, itu hanya satu dari sekian cara memperhatikan orang yang kesulitan. Ada yang berkata, tak ada yang berkurang bila dibagi, kecuali ia justru bertambah, dan itulah kebahagiaan. Semakin kita membahagiakan orang, semakin kita bahagia. Punya harta yang tak terlalu kita butuhkan? Sumbangkan kepada fakir miskin. Bukankah kita mati tak membawa harta? Maka yang kita infakkan itulah aset yang menanti kita di akhirat.
Salah satu bentuk yang kini akrab di tengah kita adalah “Jumat berkah”, yaitu bersama-sama mengumpulkan dana, menyiapkan makanan, lalu menghidangkannya bagi jemaah salat Jumat. Ini kebaikan yang indah. Dan tentu, masih banyak kebaikan lain yang bisa kita persembahkan untuk sesama.
- Tidak memasukkan dunia ke dalam hati.
Di antara pembersih hati adalah tidak memasukkan dunia ke dalam hati. Bukan berarti kita dilarang memiliki barang bagus, bahkan mewah, itu hal yang wajar. Yang dilarang adalah memasukkannya ke dalam hati. Lihatlah pemilik mobil mewah. Bila mobil itu telah masuk ke hatinya, satu goresan kecil saja membuatnya sedih, bahkan marah, seakan hatinya sendiri yang tergores. Tetapi orang yang meletakkan dunia di tangannya, bukan di hatinya, ia tetap tenang. Sebab ia tahu, itu hanya perkara dunia.
Memang tak mengapa memiliki sebagian perkara dunia. Tetapi tak perlu memburu yang kelas tinggi, sebab itu merusak hati. Lihatlah orang yang membangun rumah megah nan mewah. Diam-diam terbetik di hatinya rasa enggan meninggalkan dunia, padahal kita semua akan pergi. Belum lagi keangkuhan dan kesombongan yang sulit ia hindari. Simaklah sabda Nabi Muhammad ﷺ,
((وَالفَخْرُ وَالخُيَلاَءُ فِي أَهْلِ الخَيْلِ وَالإِبِلِ))
“Keangkuhan dan kesombongan terletak pada para pemilik kuda dan unta.”([28])
Mengapa Nabi Muhammad ﷺ menyebut kesombongan ada pada pemilik kuda dan unta? Sebab dahulu orang berbangga dengan kuda dan unta mereka, dengan tubuhnya yang gagah dan larinya yang kencang. Artinya, siapa pun yang memiliki barang mewah melampaui orang lain, sukar lepas dari kesombongan, kecuali yang Allah ﷻ selamatkan.
Memiliki barang mewah pada dasarnya tak mengapa, selama kita benar-benar membutuhkannya, dan selama kita siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah ﷻ kelak. Tetapi bagaimanapun, kemewahan berkelas tinggi pasti memberi pengaruh pada hati, suka atau tidak. Lalu untuk apa kita bergaya dengan dunia? Milikilah yang mewah bila memang perlu, tetapi jangan masukkan ke dalam hati. Sebab begitu ia masuk, pikiran kita akan terus terpaut pada dunia.
Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ. Dahulu seorang sahabat mengeluhkan tempat tidur beliau yang hanya tikar, karena membekas di tubuh beliau. Namun beliau bersabda,
((مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا))
“Apa urusanku dengan dunia, aku di dunia tidak lain seperti pengendara yang bernaung di bawah pohon setelah itu pergi dan meninggalkannya.”([29])
Sungguh, kita sedang berada di salah satu fase dari perjalanan panjang ini. Sesudah fase ini, ada alam barzakh, entah berapa ribu tahun kita di sana. Lalu alam akhirat, baru kemudian surga atau neraka. Maka jangan teperdaya oleh fase yang sesingkat ini. Silakan memiliki dunia, tetapi ingat, ia takkan kau bawa ke alam barzakh. Ingat pula, dunia yang kau kumpulkan akan memberatkan hisabmu kelak, bila semuanya bukan karena Allah ﷻ.
- Senantiasa menerima takdir Allah ﷻ.
Di antara pembersih hati adalah senantiasa menerima takdir Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
﴿مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghâbun: 11)
Inilah salah satu kiat terkuat untuk membersihkan hati. Sungguh, tak seorang pun di antara kita yang lepas dari ujian. Tak ada manusia di bumi ini kecuali pasti diuji, lelaki atau perempuan, kaya atau miskin, muda atau tua. Namun ketika kita berbaik sangka kepada Allah ﷻ, dan menerima takdir-Nya, hati menjadi lebih tenang, dan lebih bersih.
Sungguh, segala yang telah dan akan menimpa kita telah tercatat di Lauhul Mahfuz, lima puluh ribu tahun sebelum Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((فَتَعْلَمَ أنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ))
“Ketahuilah, sesungguhnya yang menjadi bagianmu tidak akan lepas darimu, dan sesuatu yang bukan milikmu maka tidak akan menjadi bagianmu.”([30])
Maka saat musibah datang, ingatlah, lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, ia sudah tertulis untuk kita. Sekuat apa pun kita menghindar, bila Allah ﷻ telah menakdirkannya, ia pasti tiba. Tetapi ketika kita menerima dan berbaik sangka kepada-Nya, hati menjadi tenteram. Tenang, karena yakin Allah ﷻ menakdirkan yang terbaik. Tenang, karena yakin Dia tahu kita sanggup memikulnya.
Karena itu, siapa yang diuji Allah ﷻ, hendaknya ia menjalaninya dengan pasrah dan bertawakal kepada-Nya. Sebab di balik musibah itu pasti tersimpan hikmah yang luar biasa. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Dan barang siapa beriman (pasrah) kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghâbun: 11)
Ini menunjukkan, menerima takdir Allah ﷻ adalah salah satu pembersih hati. Maka apa pun musibah yang menimpa, jalanilah sesuai syariat Allah ﷻ. Tak ada jalan lain selain pasrah dan menyerah kepada-Nya. Sebab meronta dan menangis tak mengubah keadaan, ia hanya menambah dosa dan menumbuhkan prasangka buruk kepada Allah ﷻ. Maka latihlah diri untuk pasrah pada ketetapan-Nya.
- Doa.
Di antara pembersih hati adalah doa. Bahkan doa adalah sebab yang paling utama dari sembilan kiat sebelumnya. Salah satu doa yang Nabi Muhammad ﷺ ajarkan untuk membersihkan hati adalah doa yang sering kita dengar,
((اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ))
“Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.”([31])
Berdoalah kepada Allah ﷻ, mohonkan hati yang istikamah dan lurus, hati yang benci pada maksiat, hati yang gelisah saat mendengar gibah dan namimah. Mintalah hati yang sabar saat diuji, dan tawaduk saat diberi nikmat. Inilah di antara makna doa itu. Maka berdoalah, sambil kita resapi maknanya.
Doa berikutnya, sebagaimana telah kita sebut di awal, doa yang ada di dalam al-Qur`an,
﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Doa berikutnya terdapat dalam sebuah hadis yang cukup panjang. Di penghujungnya, Nabi Muhammad ﷺ berdoa,
((رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي))
“Wahai Rabbku, terimalah tobatku, hapuskanlah kesalahanku, terimalah doaku, berilah hatiku petunjuk, kuatkanlah lisanku, tetapkanlah pendirianku dan hilangkanlah rasa dengki dari hatiku.”([32])
Ketika hasad, dengki, atau jengkel menyergap hati kita, berdoalah dengan doa ini kepada Allah ﷻ. Semoga Dia mencabut segala kotoran itu dari diri kita.
Maka, bacalah doa-doa ini dalam sujud kita, dalam salat malam kita. Dengan begitu, hati kita akan kembali bersih, dengan izin Allah ﷻ.
Penutup
Inilah sepuluh hal yang bisa kita lakukan untuk membersihkan hati kita. Akan tetapi penulis katakan bahwa ini hanya sekadar teori, selanjutnya kita harus mempraktikkannya. Sejauh mana kita mempraktikkan teori-teori ini, maka sejauh itu pula hati kita akan bersih. Maka sekali lagi yakinlah terhadap firman Allah ﷻ,
﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مالٌ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah ﷻ dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’arâ`: 88-89)
Harta yang kita kumpulkan, paras kita yang selalu kita rawat, semuanya tidak bermanfaat pada hari kiamat kelak, terkecuali bagi orang yang datang dengan hati yang bersih.
([1]) HR. Muslim, No. 2564. Di dalam riwayat lain disebutkan,
((إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ))
“Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kalian.”
([2]) Shara’ bisa diartikan dengan dua hal, bisa jadi penyakitnya berkaitan dengan gangguan jin sehingga membuatnya jatuh, atau bisa jadi penyakit ayan (gangguan saraf).
([3]) HR. Al-Bukhari, No. 5652.
([4]) HR. Ibnu Abi Syaibah, No. 30011.
([5]) HR. Ibnu Majah, No. 4216.
([6]) HR. Ahmad, No. 12944, dinyatakan sahih oleh al-Arnauth.
([7]) Tafsîr al-Qurthubi (16/326).
([8]) Mafatîh al-Ghaib atau at-Tafsîr al-Kabîr, karya ar-Razi (32/374).
([9]) HR. Ahmad, No. 5353, dinyatakan hasan oleh al-Albani.
([10]) Lihat: Asyrah as-Sa’ah karya Syekh Yusuf al-Wabil (312).
([11]) HR. Ahmad, No. 15657 dan Ibnu Majah, No. 1574, dinyatakan hasan oleh al-Albani.
([12]) Lihat: Al-Minhâj Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim (7/45).
([13]) HR. Ibnu Majah, No. 1569, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([14]) Az-Zuhd li-Ahmad bin Hanbal, No. 680.
([15]) HR. Ahmad No. 13048, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([16]) Diriwayatkan oleh an-Nasa`i dalam Sunan al-Kubra, No. 11842, dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, No. 4596.
([18]) HR. At-Tirmidzi, No. 3334.
([19]) Nûniyah Ibnul Qayyim (1/333).
([20]) HR. Abu Daud, No. 4860, HR. At-Tirmidzi, No. 3896, dan yang lainnya. Dinyatakan hasan oleh Ahmad Syakir namun dinyatakan daif oleh al-Albani.
([21]) Lathâ`if al-Ma’ârif (hlm. 139).
([22]) HR. Al-Bukhari, No. 660.
([23]) Siyar A’lâm an-Nubalâ`, tahkik al-Arnauth (6/100).
([24]) HR. Al-Bukhari, No. 660.
([25]) Tafsîr as-Si’dî (1/400).
([26]) HR. Ibnu Abi Syaibah, No. 35768, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahîhah, No. 2313.
([27]) HR. Ahmad, No. 7576, dinyatakan hasan oleh al-Albani.
([28]) HR. Al-Bukhari, No. 3301.
([29]) HR. At-Tirmidzi, No. 2377, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([30]) HR. Ibnu Majah, No. 62, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([31]) HR. Al-Bukhari, No. 683 dalam Adab al-Mufrad, dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([32]) HR. Ibnu Majah, No. 3103, HR. Abu Daud, No. 1510, dinyatakan sahih oleh al-Albani.





