Link Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=bJAT0Vk0U00
Sesungguhnya istiqomah adalah ibadah yang sangat mulia dan ibadah yang sangat sulit. Terlebih kita semua sadar bahwa iman kita naik dan turun, dan terlebih lagi kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah, yaitu fitnah syubhat, syahwat, dan fitnah dunia. Terlalu banyak perkara-perkara yang memalingkan kita dari jalan yang lurus. Oleh karenanya, untuk bisa istiqomah di zaman sekarang ini adalah perkara yang sangat berat, karena istiqomah pada zaman sekarang ini adalah tujuan yang sangat berat dan tujuan yang sangat mulia. Oleh karenanya, Allah ﷻ memberikan ganjaran yang luar biasa bagi orang yang istiqomah, di antaranya:
Pertama: Allah ﷻ akan memberikannya husnul khatimah yaitu kebahagiaan ketika akan meninggal dunia.
Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fusshilat: 30)
Di dalam ayat ini disebutkan bahwa banyak para malaikat yang turun memberikan kabar gembira. Sebagian ahli tafsir menafsirkan ini terjadi ketika sakaratul maut([1]). Oleh karenanya, para malaikat datang memberi kabar kepada mereka: jangan kalian takut terhadap apa yang ada di hadapan kalian dan janganlah kalian bersedih terhadap apa yang telah lalu dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian. Jadi, orang yang istiqomah dia akan meraih husnul khatimah. Oleh karenanya, sering kita dapati orang yang tersenyum ketika meninggal dunia, bisa jadi para malaikat turun kepada dia memberikan kabar gembira kepadanya. Dan itulah cita-cita orang yang saleh bisa meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah -semoga Allah ﷻ menganugerahkan kita semua husnul khatimah-. Dan inilah salah satu ganjaran bagi orang yang istiqomah tatkala dia akan meninggal dunia.
Kedua: mendapatkan kebahagiaan di dunia dan surga di akhirat.
Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14)
فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون yaitu kekhawatiran yang berkaitan dengan sesuatu yang akan datang dan khawatir terhadap apa yang telah lalu([2]). Jadi, mereka menjalani kehidupan dunia mereka penuh dengan kebahagiaan tidak seperti orang yang jauh dari Allah ﷻ yang tidak istiqomah dan penuh dengan dosa, maka mereka gelisah dengan kehidupan ini walaupun mereka memiliki harta yang sangat banyak mereka tetap gelisah.
Ada orang yang tidak memiliki harta yang banyak dan hidupnya apa adanya, namun mereka selalu tersenyum, tidak terlalu khawatir, dan tidak terlalu bersedih dengan apa yang telah lalu. Ada orang yang sebaliknya, memiliki harta yang sangat banyak, namun dia selalu khawatir dengan bisnisnya, khawatir akan hancur, khawatir akan ada saingannya, dan banyak kekhawatiran yang dia rasakan padahal harta ada di tangannya. Kemudian, banyak perkara-perkara yang telah berlalu yang membawa kesedihan kepadanya, dan ini bukan ciri-ciri orang yang istiqomah. Dan bagi orang yang istiqomah maka Allah ﷻ akan menghilangkan itu semua, sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون “maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”. Seseorang jika telah mencapai derajat istiqomah maka dia akan bahagia. Dan ini adalah ganjaran yang sangat luar biasa bagi orang yang hidup dengan istiqomah yaitu dijanjikan dengan surga di akhirat, bahagia ketika sakaratul maut, dan juga bergembira di kehidupan dunia.
Namun seperti yang penulis katakan bahwa ini adalah perkara yang sangat berat oleh karenanya Rasulullah ﷺ mengatakan di antara 7 golongan yang Allah ﷻ naungi pada hari kiamat kelak tatkala jarak matahari Cuma satu mil beliau bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabb-nya, laki-laki yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah bertemu dan berpisah karena Allah, laki-laki yang diminta oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia berkata: aku takut kepada Allah, laki-laki yang bersedekah ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan laki-laki yang mengingat Allah dikala sendirian lalu kedua matanya berurai air mata.”([3])
Disebutkan dalam hadits ini di antara 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah ﷻ pada hari kiamat adalah وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ “, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabb-nya” yaitu pemuda yang istiqomah. Mampukah kita istiqomah di tengah-tengah fitnah yang luar biasa sekarang ini yang dipenuhi gejolak syahwat yang luar biasa, ketertarikan dunia yang sangat luar biasa, dan yang lainnya yang ini adalah ujian kehidupan yang sangat luar biasa? Barang siapa yang istiqomah, maka yakinlah dia akan hidup bahagia di dunia dan akhirat.
Bagaimana cara agar bisa istiqomah?
Pertama: berdoa kepada Allah ﷻ.
Ini adalah senjata orang yang beriman dan ini bukanlah senjata yang terakhir. Doa adalah senjata yang pertama seorang mukmin. Banyak orang menjadikan doa sebagai senjata terakhir dan ini adalah salah. Maka hendaknya seseorang senantiasa menjadikan doanya sebagai senjata utamanya dalam kehidupan sehari-harinya dan di antara doa yang paling agung dalam meminta keistiqomahan adalah sebagaimana yang Allah ﷻ ajarkan dalam firman-Nya,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 5-6)
Maka penulis menganjurkan kepada pribadi yang sering lalai dan juga kepada kaum muslimin ketika kita membaca ayat ini إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” dan ini kita bertawasul dengan amalan kita bahwasanya kita hanya beribadah kepada Allah ﷻ dan tidak beribadah kepada berhala, malaikat, wali, atau yang lainnya dan hanya beribadah kepada Allah dan selalu berusaha untuk ikhlas dan berusaha untuk tidak mengharapkan pujian manusia dan hanya kepada Allah ﷻ kita meminta pertolongan kemudian kita meminta اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.
Sering seseorang bertanya-tanya apakah ketika dia meminta kepada Allah ﷻ “Tunjukilah kami jalan yang lurus” menunjukkan bahwasanya dirinya tidak berada di jalan yang lurus? Maka, jawabannya bukan demikian, karena bisa jadi kita belum lurus maka perlu diluruskan dan seandainya kita telah berada di jalan yang lurus maka masih banyak pintu-pintu kebaikan yang perlu ditunjukkan kepada kita dan masih banyak pintu-pintu kebaikan yang tidak kita ketahui dan tegakkanlah kami di atas jalan kebaikan yang sedang kami tempuh. Alhamdulillah sekarang kita semua di atas keimanan dan kita mengerjakan shalat 5 waktu, shalat berjamaah di masjid, sering ikut pengajian, dan lainnya maka dengan doa ini kita meminta agar kita ditegakkan di atas jalan ini. Dan ini adalah di antara makna “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Dan kita hadirkan dalam benak kita bahwa istiqomah adalah perkara yang berat.
Kita katakan di zaman sekarang ini telepon genggam bisa membuat kita rusak, hidayah dan kesesatan ada di dalamnya. Orang-orang di zaman dahulu jika mereka ingin selamat, maka mereka menutup pintu dan dia di dalam rumahnya sehingga mereka tidak akan terkena fitnah. Adapun zaman sekarang orang-orang menutup pintu, malah terkena fitnah karena fitnah dia bawa ke mana-mana di dalam sakunya. Oleh karenanya, penulis katakan fitnah di zaman sekarang begitu dahsyat untuk menggoda manusia. Betapa banyak orang yang hancur karena telepon genggamnya.
Oleh karenanya, ketika kita berdoa اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ maka benar-benar kita hadirkan bahwasanya kita sangat butuh bimbingan Allah ﷻ, tunjukkanlah aku jalan yang lurus, dan ingatkanlah aku berada di jalan yang salah, dan bukakanlah bagiku pintu-pintu kebaikan yang belum aku ketahui. Dan ini adalah doa yang paling agung yang kita baca tatkala kita berada di dalam shalat.
Kemudian di antara doa yang paling banyak baca oleh Nabi ﷺ dalam sujudnya:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ: «يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: «نَعَمْ، إِنَّ القُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
“Adalah Rasulullah ﷺ terbiasa membaca doa “YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Zat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu).” Kemudian aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?” beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.”([4])
Ini adalah Nabi ﷺ lalu bagaimana lagi dengan kita yang jauh dari keimanan Nabi ﷺ. Maka, hendaknya seseorang meminta dengan serius dengan doa ini kepada Allah ﷻ. Dan penulis berharap agar kaum muslimin menghafalkan doa ini.
Kemudian, di antara doa yang perlu diperhatikan adalah doa zikir pagi petang. Maka hendaknya seorang muslim membiasakan dirinya dengan zikir pagi dan petang. Dan ketika dia membaca zikir pagi petang hendaknya dia merenungkan makna-maknanya karena dalam zikir pagi petang tersebut banyak doa-doa/permintaan-permintaan agar kita terhindar dari godaan setan. Dan hampir banyak dari zikir pagi petang isinya meminta agar terhindar daro godaan setan contohnya,
اللهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, sehatkanlah badanku, Ya Allah sehatkanlah pendengaranku, Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tiada Tuhan selain Engkau.” ([5]) dibaca 3 kali
Karena kita tahu bahwa di hadapan kita banyak fitnah-fitnah berupa berita-berita yang kita dengar dan banyak hal-hal yang haram yang kita lihat maka kita berdoa kepada Allah ﷻ dengan benar-benar memohon kepada Allah ﷻ agar Allah ﷻ membimbing kita.
Kedua: memilih teman yang benar.
Carilah komunitas. Dan seseorang janganlah bersendirian, karena dengan bersendiri, maka setan akan sangat mudah untuk menggodanya. Dan carilah teman-teman yang saleh dan bergaullah dengan mereka karena Rasulullah ﷺ memerintahkan demikian,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تبتاعَ مِنْهُ وإِمَّا أَن تجدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يَحْرِقَ ثيابَكَ وإِمَّا أنْ تجدَ مِنْهُ ريحًا خَبِيْثَةً
“Perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan menciumi baunya yang tidak sedap.”([6])
Jika kita menemukan teman yang saleh di zaman sekarang ini peganglah ia erat-erat dan jangan biarkan dia sendiri. Nabi ﷺ bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.”([7])
Secara umum, maka kita boleh berkawan dengan siapa saja. Adapun sahabat baik dan sahabat dekat, maka jangan sembarang orang kita mengambil, karena Nabi ﷺ yang memerintahkan dan agama seseorang terpengaruh dengan temannya. Dan kita jika bersahabat dengan seseorang maka kemungkinan dia yang terpengaruh atau kita yang terpengaruh, kita mengikutinya atau dia yang mengikuti kita karena dalam persahabatan harus ada sinkronisasi, jika tidak ada maka persahabatan tersebut pasti hancur. Maka, jangan sampai kita salam dalam memilih teman, hendaknya kita memilih teman yang kita bisa memberi manfaat kepadanya dengan kita mengajak dia kepada kebaikan atau dia yang memberi manfaat kepada kita dengan mengajak kita kepada kebaikan. Adapun jika kita bergaul dengan seorang teman yang tidak ada manfaatnya dengan mengajak kita kepada keburukan maka hendaknya kita tinggalkan teman tersebut karena keselamatan agama kita lebih penting. Maka hendaknya kita mencari teman yang baik yang bisa mengingatkan kita ketika kita salah dan tidak malu menegur kita ketika kita salah dan ini adalah teman yang luar biasa.
Banyak kita dapati seorang teman ketika mendapati temannya salah dia tidak menegur, dan ini adalah teman pengkhianat karena bagaimana mungkin ketika temannya salah dia tidak menegur. Ketika ada teman yang salah maka tegur dengan cara yang baik karena yang diperlukan ketika salah adalah teman-teman yang menegur kita dan inilah teman yang baik. Maka hendaknya kita mencari teman yang baik agar kita bisa masuk dalam komunitas yang baik dan hal ini sangat membantu kita dalam isitiqomah. Dan jika kita salah dalam bergaul maka kita akan sangat mudah untuk menyimpang dari jalan Allah ﷻ.
Ketiga: sering beristighfar kepada Allah ﷻ.
Bukan maksud istiqomah adalah tidak pernah salah. Jangan sampai kita salah memahami istiqomah dengan tidak pernah salah ketika menjalaninya. Ini adalah perkara yang mustahil, karena jika dipahami demikian maka yang bisa istiqomah hanya Nabi ﷺ. Istiqomah yang benar adalah kita berusaha untuk berada di jalan yang lurus, jika kita sesekali melenceng atau menyimpang maka kita berusaha untuk segera kembali. Kita pasti akan melenceng dan menyimpang dan tidak mungkin kita tidak akan melenceng dan menyimpang. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,
اسْتَقِيمُوا، وَلَنْ تُحْصُوا
“Istiqomahlah dan kalian tidak akan mampu.”([8])
Dan juga Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، وَيَسِّرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ، وَشَيْءٍ مِنَ الدَّلْجَةِ
“Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada seorang pun yang memberatkan diri dalam agama ini kecuali sikapnya tersebut akan mengalahkan dia. Maka bersikap luruslah, mendekatlah kepada kesempurnaan, berilah kabar gembira, dan manfaatkanlah kesempatan pada pagi hari, sore hari dan sebagian waktu malam.” ([9])
Yang dituntut dari kita adalah tasdid yaitu tepat dan inilah istiqomah yang benar, akan tetapi tidak semua orang bisa mencapai pada kesempurnaan. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengatakan وَقَارِبُوا “mendekatlah kepada kesempurnaan”, dan jika kita sudah berusaha untuk mendekati kepada kebenaran, maka ini sudah tepat. Ada orang yang shalat lima waktunya, ketika azan belum dikumandangkan dia sudah berada di dalam masjid, dan ada yang ketika akan dikumandangkan iqomat, dia baru datang, maka ini tidak mengapa karena yang penting dia berusaha menuju kepada kebaikan. Insya Allah yang tepat waktu mendapatkan kabar gembira begitu juga yang berusaha mendekati kepada ketepatan. Dan jika kita telah berusaha untuk mendapat keduanya yaitu berusaha tepat dan berusaha untuk mendekati kepada ketepatan namun kita tetap tergelincir pada penyimpangan maka hendaknya kita berusaha untuk segera kembali kepada Allah ﷻ. Karena tidak mungkin seseorang bisa selalu berada di jalan yang lurus siapa pun dia suatu saat pasti dia akan melenceng, oleh karenanya Allah ﷻ dalam Al-Quran berfirman,
فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ
“Maka tetaplah kalian pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fusshilat: 6)
Karena Allah ﷻ tahu bahwasanya seseorang dalam istiqomahnya ada kekurangan, maka kekurangannya ditambal dengan istighfar. Demikian juga, Nabi ﷺ mewasiatkan kepada Muadz bin Jabal, Nabi ﷺ bersabda,
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan dosa maka ikut sertakanlah dengan kebaikan niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan dosamu. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.”([10])
Jadi seseorang ketika istiqomah pasti dia akan melakukan kesalahan di suatu saat. Dan ketika dia melakukan kesalahan, maka ada 2 hal yang bisa dia lakukan. Yang pertama, dia istighfar, dan yang kedua, dia melakukan kebaikan-kebaikan yang lain agar kebaikan-kebaikan yang lain bisa menghapus keburukan yang dia lakukan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyamakan kebaikan seperti air yang bersih dan dosa seperti najis. Jika seseorang terkena najis, maka dia mencari air yang banyak, agar najis tersebut bisa hilang. Seperti seorang Arab Badui yang pernah kencing di masjid, kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan seseorang untuk mendatangkan seember air dan tatkala ditumpahkan maka hilanglah najis tersebut([11]). Nah, jika kita bermaksiat dengan melakukan perkara yang haram, maka hati kita ternajisi dan najis ini bisa hilang dengan beristighfar kemudian dengan perbanyak melakukan amal saleh. Jika kita memperbanyak melakukan amalan saleh, maka kita semakin banyak memiliki air. Jika air kita semakin banyak, maka jika ada najis sedikit tidak akan dianggap oleh Allah ﷻ. Karena Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ
“Apabila kadar air mencapai dua kulah, tidak ada sesuatu pun yang dapat membuatnya najis.” ([12])
Dosa-dosa kecil yang kita lakukan akan dileburkan dalam kebaikan kita yang begitu banyak. Maka, seseorang hendaknya memperbanyak amalan saleh dalam kehidupannya. Jadi, penulis ingatkan kembali bahwasanya istiqomah bukan berarti selalu taat dan tidak pernah salah karena kita semua pasti berbuat salah. Oleh karenanya para ulama mengatakan tanda kebahagiaan pada seseorang ada tiga,
إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَ أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ
“Jika diberi kenikmatan oleh Allah ﷻ dia bersyukur, jika diuji dia bersabar, dan jika berdosa dia memohon ampun.”([13])
Selama kita berada pada lingkup 3 perkara ini maka kita orang yang bahagia.
Keempat: biasa melakukan hal-hal yang sunah.
Perkara yang wajib, janganlah kita tinggalkan, karena ini adalah suatu yang harus kita kerjakan. Adapun jika kita sedang malas, maka mungkin kita meninggalkan perkara yang sunah, namun jangan sampai kita meninggalkan perkara yang wajib. Jika kita meninggalkan perkara yang wajib, maka agama kita akan hancur. Jadi untuk membentengi yang wajib maka kita bentengi yang sunah sehingga setan semakin sulit untuk menggoda karena sebelum dia menggoda yang wajib yang sunah sudah menghalanginya terlebih dahulu.
Oleh karenanya seseorang jika telah selesai berpuasa di bulan Ramadhan maka jangan lupa mengisi hari-hari dengan berpuasa sunah entah itu dengan berpuasa Ayyamul bidh (yaitu hari ke 13, 14, dan 15 di bulan Hijriyah), puasa pada hari Senin dan Kamis, atau jika dia memiliki semangat lebih maka bisa dengan berpuasa Dawud (yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka). Dan ini adalah di antara yang menjaga puasa kita dan ini juga yang membantu kita untuk tetap istiqomah karena kita menjaga perkara yang wajib kita dengan perkara yang sunah.
Shalat pun demikian jangan sampai kita mencukupkan dengan yang 5 waktu saja, kalau bisa kita tambah dengan shalat rawatib qabliyah dan ba’diyah dan ini adalah benteng bagi shalat kita. Jika kita telah mampu melaksanakan shalat rawatib, maka jangan lupa untuk mengerjakan shalat witir. Dan jika memiliki kemampuan lebih, maka ditambah dengan mengerjakan shalat malam. Dan jika memiliki kemampuan lebih bisa ditambah dengan mengerjakan shalat dhuha.
Begitulah kita mengerjakannya di keseharian kita dan ini adalah jalan istiqomah. Kemudian, jika ada waktu untuk jangan lupa untuk membaca Al-Quran setiap hari entah itu 1 juz, setengah juz, atau jika tidak mampu kita baca satu halaman. Bagaimana mungkin seseorang ingin istiqomah sedangkan ada hari-hari yang ia lalui tanpa membaca Alquran. Kita tidak perlu memiliki banyak teori, jika ingin istiqomah maka lakukan perkara-perkara yang sunah. Dan inilah yang membuat hati kita kokoh yaitu dengan mengisi hati kita dengan sentuhan-sentuhan rohani sehingga hati kita kuat.
Kelima: kita tidak mungkin istiqomah, kecuali hati dan lisan kita istiqomah.
Dalam hadits Rasulullah ﷺ bersabda,
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ، وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Iman seorang hamba tidak bakalan lurus hingga lurus hatinya dan hati tidak bakalan lurus hingga lurus lisannya dan seseorang tidak bakalan masuk surga jika tetangganya terganggu oleh keburukannya.”([14])
Dan ini adalah dalil yang sangat jelas bahwasanya istiqomah berkaitan dengan lisan. Di zaman sekarang ini yang menunjukkan lisan selain lisan adalah tulisan. Dan kita sekarang berada di zaman media sosial, maka hendaknya kita hati-hati dalam berbicara dan mengungkapkan baik dengan lisan maupun tulisan. Dan hendaknya juga kita berhati-hati dalam berkomentar dan jangan kita sampai sembarangan dalam berkomentar, memberi analisa, mencaci, atau mencela karena itu semua akan berpengaruh dalam istiqomah kita. Dan jika ada teman yang kalimatnya kotor maka tinggalkan orang tersebut. jika ada orang yang menghadang kita dengan komentar yang kotor jangan dibalas dan tinggalkan orang seperti itu. Betapa banyak orang terpancing dalam komentar, maka sesungguhnya ini tidak perlu karena kita tidak mengetahui siapa lawan komentar kita, betapa banyak orang sudah mengeluarkan banyak tenaganya untuk membantah ternyata yang dilawan hanyalah banci. Maka penulis katakan untuk kita tetap menjaga lisan kita, Allah ﷻ berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Barang siapa yang tidak menjaga lisannya dan tidak menahan dirinya pada zaman orang suka berkomentar, suka menulis, mengungkapkan, dan menganalisa bukan pada bidangnya maka berhati-hatilah. Bahkan, terkadang analisanya salah dan dibangun di atas data-data yang tidak valid, siapa yang bisa menjamin bahwa data yang masuk adalah dengan data yang valid? Betapa banyak orang berkomentar ternyata datanya tidak valid. Oleh karenanya, hendaknya kita berhati-hati dan hendaknya kita memperbanyak diam di zaman sekarang ini.
Jika Anda memiliki kompeten dalam bidang tersebut, maka silahkan Anda berbicara. Jika Anda tidak memiliki kompeten dalam bidang tersebut, maka hendaknya Anda diam, karena ini mempengaruhi istiqomah dan agama Anda. Percuma seseorang rajin, namun dia membuat analisa dengan analisa yang salah, sehingga membuat orang lain ketakutan. Percuma seseorang rajin shalat namun dia mencaci maki orang lain atau menyebarkan kedustaan sehingga kedustaan tersebut tersebar di Indonesia bahkan dunia. Maka, seseorang sebaiknya banyak diam dan menyibukkan dengan perkara-perkara privasinya. Nabi ﷺ bersabda ketika di zaman fitnah,
الْزَمْ بَيْتَكَ، وَامْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَخُذْ بِمَا تَعْرِفُ، وَدَعْ مَا تُنْكِرُ، وَعَلَيْكَ بِأَمْرِ خَاصَّةِ نَفْسِكَ، وَدَعْ عَنْكَ أَمْرَ الْعَامَّةِ
“Tetaplah engkau berdiam di dalam rumahmu, kuasailah lisanmu, ambillah (lakukan) apa saja yang kamu ketahui dan tinggalkan apa saja yang kamu pungkiri (tidak ketahui), urusilah perkaramu sendiri dan jauhilah urusan orang banyak, ” ([15])
Jika kita memiliki pekerjaan, maka kita fokus di pekerjaan kita. Kita perhatikan anak-anak kita dan istri-istri kita, maka inilah kebahagiaan. Sebagian orang terlalu sibuk dengan perkara yang bukan bidangnya, berbicara sana-sini sehingga istri dan anak-anaknya menjadi tumbal, karena tidak ada waktu untuk mereka sehingga mereka tidak bahagia, maka bagaimana bisa dia mau istiqomah. Maka hendaknya kita berhati-hati karena Nabi ﷺ bersabda “Iman seorang hamba tidak bakalan lurus hingga lurus hatinya dan hati tidak bakalan lurus hingga lurus lisannya”.

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 15/358
([2]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 7/279
([4]) HR. At-Tirmizi no. 2140 dan disahihkan oleh Al-Albani
([5]) HR. Ahmad no. 20430 dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini hasan
([6]) HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628
([7]) HR. Ahmad no. 8417 dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth bahwa hadits ini sanadnya jayyid
([9]) HR. An-Nasa’i no. 5034 dan disahihkan oleh Al-Albani
([10]) HR. Ahmad 21354, Tirmizi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’. Dan Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hadits ini hasan lighairih.
([11]) Lihat: Az-Zuhd Wal Wara’ Wal ‘Ibadah hal: 87
([12]) HR. Ad-Darimi no. 758 dan dikatakan oleh Husain Salim Asad Ad-Darani sanadnya lemah namun hadits ini sahih
([13]) Lihat: Ushulud Din Al-Islami Ma’a Al-Qawa’id Al-Arba’ hal,26
([14]) HR. Ahmad no. 13048 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shohiihah 6/822







