Pembahasan tema ini termasuk dalam pembahasan salah satu dari rukun iman yang keenam, yaitu al-Iman bil-Yaumil Âkhir, beriman kepada hari kiamat tentang kenikmatan surga. Tentunya kita perlu untuk sering mengingat hari akhirat, agar kita tidak lupa dan tidak tenggelam dengan kesibukan dunia yang membuat lalai dari mengingat akhirat.
Allah ﷻ memuji hamba-hamba-Nya yang suka mengingatkan orang lain tentang akhirat:
﴿وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ. إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ. وَإِنَّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ﴾
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Sad: 45-47)
Allah ﷻ mengistimewakan mereka dengan suatu perangai. Perangai yang mulia, yaitu mengingatkan manusia akan hari akhirat. Oleh karenanya kenapa para dai adalah orang-orang yang mulia? Sebagaimana firman Allah ﷻ,
﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ﴾
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fussilat: 33)
Karena di antara tugas para dai adalah menyambung apa yang disampaikan oleh para rasul, yaitu mengingatkan manusia akan adanya hari akhirat. Bahwasanya dunia hanyalah sementara dan hanya tempat menyeberang. Setelah itu manusia akan menuju pada tempat tinggal yang sesungguhnya. Sebagaimana kata Nabi Muhammad ﷺ,
((اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الآخِرَهْ))
“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akhirat.”([1])
Di antara pembahasan tentang mengingat akhirat adalah tentang nikmat-nikmat surga. Tentu saja ini sangat penting bagi kita untuk menghayatinya. Karena dengan mengingat nikmat surga, kita tidak teperdaya dengan nikmat dunia. Dengan mengingat nikmat surga kita bisa menahan diri dari banyak kemaksiatan, dan karena kita tidak ingin menumbalkan nikmat surga gara-gara ingin mendapatkan nikmat yang sedikit. Oleh karenanya seluruh pelaku maksiat disebut jahil. Sebagaimana perkataan Nabi Yusuf ‘alaihissalâm ketika dia dirayu oleh para wanita untuk berzina. Beliau berkata,
﴿رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ﴾
“Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Yûsuf: 33)
Nabi Yusuf ‘alaihissalâm takut jika beliau termasuk orang-orang yang jahil, yaitu orang-orang yang condong ke dalam kemaksiatan. Allah ﷻ juga berfirman,
﴿إِنَّمَا ٱلتَّوْبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا﴾
“Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa`: 17)
Di dalam ayat ini, pelaku maksiat disebut orang jahil. Kenapa disebut orang jahil? Di antara sebab orang pelaku maksiat disebut orang jahil dikarenakan kebodohannya mendahulukan nikmat dunia dengan mengorbankan nikmat akhirat. Seseorang mungkin berzina hanya sebentar, akan tetapi dia telah mengorbankan nikmat bidadari. Tentu ini adalah bentuk kejahilan yang nyata dan betapa sering manusia terjerumus dalam kejahilan. Oleh karenanya di antara hal yang membuat seseorang tertahan untuk tidak melakukan kemaksiatan atau tidak jadi orang jahil adalah dengan mengingat nikmat-nikmat surga.
Demikian salah satu metode Allah ﷻ dengan melakukan komparasi antara nikmat surga dengan nikmat dunia. Demikian juga metode Nabi Muhammad ﷺ dengan mengadakan komparasi perbandingan antara nikmat dunia dengan nikmat surga. Di antaranya Allah ﷻ berfirman dalam Surat An-Nisâ` ayat 77 yang berbunyi:
﴿قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar (sedikit) dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.’” (QS. An-Nisâ`: 77)
Di dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan tentang perbandingan kehidupan dunia hanya sebentar dan sedikit. Adapun akhirat lebih baik bagi yang bertakwa. Demikian juga Allah ﷻ berfirman,
﴿بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ﴾
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’lâ: 16-17)
Allah ﷻ juga menasihati Nabi Muhammad ﷺ,
﴿وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ﴾
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thâhâ: 131)
Allah ﷻ menamakan dunia dengan zahrah, زَهْرَةَ ‘bunga’ karena saking cepat layunya. Demikianlah kehidupan dunia yang memang indah, berwarna-warni ibarat bunga mawar yang berwarna-warni. Tetapi jika bunga itu dipetik maka akan cepat layu. Maka kenikmatan surga lebih baik dan lebih kekal. Tampak sekali perbedaan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Dalam banyak ayat Allah ﷻ membuat studi banding antara nikmat dunia dengan nikmat akhirat. Demikian juga Nabi Muhammad ﷺ dalam satu hadis bersabda,
((وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَا تَرْجِعُ))
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian masukkan jarinya di laut kemudian dia angkat jarinya tersebut, dia lihat apa yang tersisa di tangannya.” ([2])
Yang tersisa di tangan itulah ibarat kenikmatan dunia. Adapun air laut itulah ibarat kenikmatan akhirat. Laut dunia ini mungkin dua pertiganya isinya lautan atau air. Jika seseorang memasukkan tangannya atau jarinya ke laut, lalu diangkat, maka mungkin tidak ada satu tetes. Sungguh perbedaan yang sangat besar antara satu tetes yang tersisa di jari dengan lautan yang berlimpah ruah. Maka dunia ini sangat sedikit. Inilah perumpamaan pendekatan agar setiap hamba bisa paham bahwasanya dunia yang manusia saling mengejar dan bersaing, saling berbangga-bangga, saling mengolok-olok dan saling sombong, ternyata hanyalah sangat sedikit dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.
Dalam satu hadis Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((وَلَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا))
“Sungguh tempat cambuk salah satu di antara kalian di surga itu lebih baik dari pada dunia segala isinya.”([3])
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ mengadakan komparasi antara dunia dan surga. Tujuannya adalah agar manusia tidak teperdaya dengan kenikmatan dunia dan tidak lalai dengan kehidupan akhirat. Mereka boleh saja menikmati dunia. Tapi hendaknya dunia tersebut dijadikan sebagai sarana untuk meraih akhirat. Sebagaimana nasehat orang-orang saleh kepada Qarun yang diberikan kekayaan yang diabadikan di dalam firman Allah ﷻ:
﴿وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ﴾
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Gunakanlah potensi yang Allah ﷻ berikan kepadamu di dunia ini untuk mencari akhirat. Gunakanlah harta dan kekayaanmu untuk mencari kehidupan akhirat. Sebagaimana Rasulullah ﷺ ketika mengutus Amru bin al-Ash radhiyallâhu ‘anhu sebagai panglima perang. Pada saat itu beliau mengabarkan bahwa ia akan mendapatkan ganimah dan bersabda,
((يَا عَمرو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرءِ الصَّالِحِ))
“Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah milik orang yang saleh.”([4])
Sabda Nabi Muhammad ﷺ mengisyaratkan jika seseorang mendapatkan ganimah, maka hendaknya bisa memanfaatkannya untuk meraih akhirat. Barang siapa yang diberikan potensi dunia, maka janganlah tenggelam dengan dunianya tersebut. Justru hendaknya ia ingat bahwa dunia adalah sarana untuk meraih akhirat. Jika ia tetap tenggelam dengan kesenangan dunia, maka ia akan merugi, karena dunia hanya sedikit jika dibandingkan dengan akhirat.
10 Poin penting Komparasi antara kenikmatan dunia dan akhirat
Ada 10 poin penting tentang komparasi antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat. Disebutkan bahwa ada nama-nama kenikmatan di dalam surga yang semisal dengan di dunia. Seperti di dunia ada buah-buahan, di surga juga ada buah-buahan. Di dunia ada pohon, di surga juga ada pohon. Di dunia ada sungai, di surga juga ada sungai. Di dunia ada wanita, di surga juga ada wanita. Di dunia ada pembantu, di surga juga ada pembantu. Di dunia ada emas, di surga juga ada emas. Di dunia ada perak, di surga juga ada perak. Di dunia ada mutiara, di surga juga ada mutiara. Di dunia ada burung yang bisa dimakan, di surga juga ada burung yang bisa dimakan. Di dunia ada khamar, di surga juga ada khamar.
Ada banyak hal yang Allah ﷻ sebutkan di dunia, ada juga di surga. Tetapi kaidahnya hanya sekedar nama yang sama. Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ,
لَيْسَ فِي الْجَنَّةِ شَيْءٌ، مِمَّا فِي الدُّنْيَا إِلَّا الْأَسْمَاءُ
“Tidak ada suatu pun di dunia yang dibandingkan dengan apa yang di surga, kecuali hanya sekedar nama.” ([5])
Hanya sama dalam segi nama saja, namun hakikatnya jauh berbeda. Contoh sederhana saja jika berbicara tentang pohon. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((مَا فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ، إِلَّا وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ))
“Tidak ada pohon di surga, kecuali batangnya dari emas.” ([6])
Demikian juga dengan rumah atau bangunan di surga. Nabi Muhammad ﷺ memberikan sifat bangunan di surga dengan bersabda,
((لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، وَمِلاَطُهَا الْمِسْكُ الأَذْفَرُ، وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَاليَاقُوتُ، وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ))
“Batu batanya terbuat dari emas dan perak, semennya terbuat dari minyak Kasturi, kerikilnya dari mutiara dan intan berlian, tanahnya terbuat dari za’faran.” ([7])
Demikian juga dengan wanita yang ada di surga. Namanya saja sama, namun hakikatnya jauh berbeda. Nabi Muhammad ﷺ tentang wanita surga,
((وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا، وَلَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا، وَلَنَصِيفُهَا – يَعْنِي الخِمَارَ – خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا))
“Andai seorang wanita dari penghuni surga muncul di bumi ini, niscaya akan memberi penerangan antara langit dan bumi, akan keluar wangi yang semerbak dan harum mengisi bumi dan langit, kerudungnya sungguh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” ([8])
Yang digambarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ itu baru kerudungnya, yang lebih baik daripada dunia dan seisinya. Maka manusia tidak akan bisa membayangkan gambaran wanita di surga. Demikianlah gambaran wanita surga. Sama-sama namanya wanita tapi hakikatnya berbeda.
- Kenikmatan dunia akan sirna, sedangkan kenikmatan akhirat kekal abadi
Poin yang pertama adalah bahwasanya kenikmatan dunia akan sirna, sementara kenikmatan akhirat kekal abadi. Allah ﷻ berfirman,
﴿مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ﴾
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)
Ini menunjukkan bahwasanya semua kenikmatan dunia akan sirna, tidak ada yang abadi. Adapun kenikmatan akhirat lebih baik dan kekal selamanya. Oleh karenanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ([9]) أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللهَ بَاطِلُ وَكَادَ أُمَيَّةُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ أَنْ يُسْلِمَ))
“Sejujurnya perkataan penyair adalah perkataan Labid bin Rabi’ah, ‘Sesungguhnya semua selain Allah adalah sirna’.”([10])
Dalam suatu riwayat, seorang sahabat mulia yang bernama Utsman bin Mazh’un radhiyallâhu ‘anhu berada di Makkah usai pulang dari hijrah yang pertama dari Habasyah di bawah perlindungan al-Walid bin al-Mughirah. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy pada puncaknya mengganggu dan menyakiti kaum Muslimin. Melihat kondisi ini, akhirnya Utsman bin Mazh’un radhiyallâhu ‘anhu mengembalikan jaminan perlindungannya kepada al-Walid bin al-Mughirah.
Suatu ketika Utsman bin Mazh’un radhiyallâhu ‘anhu duduk di salah satu majelis orang-orang Quraisy. Tiba-tiba datanglah sang penyair Labid bin Rabi’ah sembari bersenandung,
أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللهَ بَاطِلُ
“Sesungguhnya semua selain Allah adalah sirna.”
Lantas Utsman bin Mazh’un menimpalinya, “Engkau benar.”
Labid bin Rabi’ah berkata lagi,
وَكُلّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلُ
“Seluruh kenikmatan pasti akan sirna.”
Namun, Utsman bin Mazh’un menimpali, “Engkau dusta. Nikmat surga tidak sirna.”
Labid bin Rabi’ah pun berkata, “Wahai kaum Quraisy! Demi Allah, dahulu orang yang duduk bersama kalian tidak pernah disakiti. Sejak kapan hal seperti ini terjadi pada kalian?”
Tiba-tiba ada seorang dari Quraisy berkata, “Sesungguhnya orang ini (Utsman bin Mazh’un) adalah salah seorang dungu di tengah orang-orang dungu yang sedang bersamanya. Mereka telah meninggalkan agama kita, maka janganlah engkau merasa terganggu oleh ucapannya.”
Lalu Utsman membalasnya hingga urusan terjadi perdebatan sengit antara keduanya. Orang Quraisy itu pun berdiri, lalu menampar wajah Utsman bin Mazh’un sampai biru matanya. Al-Walid bin al-Mughirah yang berada di dekat dan melihat kejadian tersebut, berkata kepada Utsman bin Mazh’un, “Demi Allah, wahai keponakanku! Jika matamu enggan melihat apa yang aku lihat. Sungguh engkau berada di dalam perlindunganku yang kuat.”
Utsman bin Mazh’un berkata, “Demi Allah, bahkan sesungguhnya mataku yang masih sehat ini benar-benar ingin seperti yang terjadi pada mataku yang sakit ini. Sungguh aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih mulia dan lebih berkuasa darimu, wahai Abu ‘Abd Syams.”
Maka al-Walid berkata kepadanya, “Kemarilah, wahai keponakanku. Jika engkau mau, kembalilah ke dalam perlindunganmu.”
Namun Ustman bin Mazh’un menolaknya dan setelah sekian lama kejadian tersebut Labid bin Rabi’ah pun memeluk Islam. ([11])
Labid bin Rabi’ah adalah seorang kesatria yang pemberani. Seorang penyair yang dermawan. Ia telah lama menggubah syair pada masa Jahiliah, kemudian ia memeluk agama Islam. Ketika Umar radhiyallâhu ‘anhu menulis surat kepada gubernurnya di Kufah, “Tanyakan kepada Labid dan al-Aghlab al-‘Ajli, syair apa yang mereka buat setelah memeluk Islam?”
Maka Labid menjawab, “Allah telah menggantikannya bagiku dengan Surah al-Baqarah dan Ali ‘Imran.” ([12])
Allah ﷻ menyebut kenikmatan dunia dengan مَتَاعُ. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾
“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. Al-Qashash: 60)
Kata مَتَاعُ berasal dari bahasa Arab, yaitu sesuatu atau barang yang digunakan atau dimanfaatkan. Sehingga seluruh barang dan sesuatu yang bisa digunakan dan dimanfaatkan di dunia ini disebut dengan مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا. Semua kenikmatan yang memiliki batas waktu pemanfaatannya dan sedikit disebut dengan مَتَاعُ. Sementara kenikmatan akhirat sangatlah banyak. Allah ﷻ berfirman,
﴿قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa’.” (QS. An-Nisa: 77)
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((الدُّنْيَا مَتَاعٌ. وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ))
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.”([13])
Istri adalah di antara kenikmatan dunia. Seindah-indahnya istri ada batas waktunya. Demikian juga kehidupan kita di dunia. Ini untuk mengingatkan kita bahwa kenikmatan dunia hanya sementara. Allah ﷻ berfirman,
﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadîd: 20)
Dengan demikian, kita bisa mengomparasikan bahwa kenikmatan kehidupan dunia adalah sementara, sedangkan kenikmatan akhirat adalah abadi. Sesuatu yang sementara tidak akan bisa dibandingkan dengan kenikmatan abadi. Kenikmatan dunia memiliki kekurangan dan hanya sebentar, sedangkan kenikmatan akhirat sempurna dan abadi. Tentu orang yang pintar akan memilih yang sempurna dan abadi. Janganlah memilih sesuatu yang rendah dan memiliki batas waktu, kemudian meninggalkan sesuatu yang sempurna dan abadi.
- Kenikmatan dunia tidak ada yang sempurna, sedangkan kenikmatan surga pasti sempurna
Poin yang kedua, semua kenikmatan dunia tidak ada yang sempurna. Adapun nikmat surga pasti sempurna. Allah ﷻ berfirman tentang sungai,
﴿مَّثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ﴾
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (QS. Muhammad: 15)
Allah ﷻ berfirman tentang bidadari yang sempurna di surga,
﴿فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ﴾
“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar-Rahmân: 56)
Mereka menundukkan pandangan mereka. Tidak pernah memandang laki-laki lainnya. Sehingga kecintaan mereka sepenuhnya kepada suaminya. Mereka tidak membandingkan suaminya dengan lelaki lainnya. Ada dua tafsiran yang disebutkan oleh para ulama tentang ayat ini. Yang pertama maksudnya menundukkan pandangan suaminya karena kecantikannya. Tafsir yang kedua para bidadari menundukkan pandangan mereka sehingga tidak pernah melihat lelaki yang lain dan hanya fokus kepada suami mereka. Kecintaannya fokus kepada suaminya, karena dia memang diciptakan untuk melayani sang suami, sehingga pandangannya fokus hanya kepada suaminya. Maka dari itu, jadilah suaminya yang tertampan dalam pandangannya. (([14]))
Allah ﷻ berfirman,
﴿كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ﴾
“Laksana mutiara yang tersimpan baik dalam cangkangnya.” (QS. Al-Wâqi’ah: 23)
Di dalam ayat ini Allah ﷻ menyifatkan putihnya kulit bidadari diumpamakan dengan mutiara yang indah, tidak terkontaminasi dengan apa pun dan murni. Allah ﷻ juga berfirman,
﴿كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ﴾
“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar-Rahmân: 58)
Para ulama menjelaskan bahwa kulit bidadari itu putih seperti mutiara dan bening seperti permata(([15])). Saking beningnya, Nabi Muhammad ﷺ bersabda
((كَبِدُهَا مِرْآتُهُ))
“Hatinya bidadari adalah cermin bagi suaminya.”(([16]))
Semua kenikmatan surga adalah sempurna. Nikmat dunia tidak ada yang sempurna. Tidak ada sahabat yang sempurna. Tidak ada pasangan sempurna. Seperti dikatakan oleh penyair,
أَتَطْلُبُ صَاحِبًا لا عَيْبَ فِيهِ … وَأَيُّ النَّاسِ لَيْسَ لَهُ عُيُوبُ
“Apakah kau mencari sahabat yang tidak memiliki aib? Siapa manusia yang tidak memiliki aib?”([17])
Kenikmatan dunia itu akan sirna, sementara kenikmatan akhirat itu sempurna dan kekal abadi. Sungguh indah nikmat akhirat. Kenikmatan yang sempurna lagi abadi. Dan sungguh rendah kenikmatan dunia. Kenikmatan yang serba banyak kekurangan lagi sementara dan tidak abadi.
- Kenikmatan dunia memiliki efek samping, sedangkan kenikmatan akhirat tanpa efek samping
Poin yang ketiga, kenikmatan dunia memiliki efek samping, sedangkan kenikmatan akhirat tanpa efek samping. Contoh sederhananya ketika seseorang di dunia makan salah satu makanan yang lezat secara berlebihan, maka terkadang membuatnya sakit atau mudarat. Khamar adalah minuman yang lezat, tetapi memiliki efek samping yang membahayakan. Semakin lezat makanan atau minuman di dunia, maka semakin banyak pula efek sampingnya bagi tubuh. Demikianlah kenikmatan dunia, semakin lezat semakin menimbulkan efek sampingnya.
Adapun kenikmatan akhirat tidak memiliki efek samping. Penghuni makan makanan di surga tanpa efek samping. Mereka minum khamar juga tanpa efek samping. Allah ﷻ berfirman,
﴿يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَّا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ﴾
“Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa.” (QS. Ath-Thûr: 23)
Para penghuni surga meminum khamar yang lezat, namun tidak membuat kepala pening atau berbicara nglantur sehingga menyakiti orang lain. Sehingga khamar di surga tidak memiliki efek samping. Mereka juga bisa makan sepuas-puasnya tanpa ada efek samping sama sekali. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ، لَا يَبُولُونَ، وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَتْفُلُونَ، وَلَا يَمْتَخِطُونَ، طَعَامُهُمْ جُشَاءٌ، وَرَشْحٌ كَرَشْحِ الْمِسْكِ))
“Sesungguhnya penghuni surga makan dan minum di dalamnya. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak mengeluarkan ingus. Makanan mereka (dicerna) menjadi sendawa, dan (yang keluar dari tubuh mereka hanyalah) keringat seperti keringat misk.”([18])
Demikianlah kenikmatan surga. Makanan dan minumannya tidak ada efek sampingnya.
- Kenikmatan dunia semakin nikmat maka semakin menimbulkan risiko yang berat
Poin yang keempat, kenikmatan dunia semakin nikmat akan menimbulkan risiko dengan takutnya berpisah dari kenikmatan tersebut. Suatu ketika malaikat Jibril ‘alaihissalâm datang kepada Nabi Muhammad ﷺ lalu berkata,
يَا محَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
“Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemuliaan seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk salat malam), dan keperkasaannya adalah tidak butuhnya terhadap manusia.”([19])
Hadis di atas sangat jelas menerangkan bahwa seseorang akan berpisah dengan apa dan siapa pun yang dicintainya. Siapa pun yang dicintai, maka ia akan berpisah darinya. Semakin cinta maka semakin berat pula perpisahan. Cinta kepada seseorang adalah kebahagiaan. Semakin cinta maka akan semakin nikmat, tetapi risikonya semakin berat ketika berpisah.
Demikianlah ujian yang paling berat dihadapi oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah meninggalnya dua orang yang sangat beliau cintai, yaitu Abu Thalib dan Khadijah radhiyallâhu ‘anhâ. Abu Thalib, sang paman yang sudah dianggap seperti ayah sendiri karena dia telah merawat beliau seperti anaknya sendiri. Bahkan ia lebih cinta kepada beliau dari pada anak-anaknya sendiri. Ia adalah orang yang paling berani dan selalu membela Nabi Muhammad ﷺ. Sehingga beliau ﷺ pun mengasihinya, selalu mendakwahinya dan ingin agar ia beriman, tetapi akhirnya tidak beriman. Begitu juga dengan Khadijah radhiyallâhu ‘anhâ, seorang istri yang mulia yang sangat beliau cintai. Selalu setia dan banyak mendukung beliau dalam berdakwah. Hidup berumah tangga dengan beliau selama 25 tahun tanpa mengangkat suara. Sehingga beliau merasa bangga memiliki seorang istri Khadijah radhiyallâhu ‘anhâ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا))
“Sesungguhnya aku diberikan anugerah untuk mencintai Khadijah.”([20])
‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ pernah bertutur:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ ((مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ))
“Nabi Muhammad ﷺ jika menyebut tentang Khadijah maka ia memujinya dengan pujian yang sangat indah. Pada suatu hari aku pun cemburu, kemudian aku berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya”. Maka Nabi berkata, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanitapun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.”([21])
Khadijah radhiyallâhu ‘anhâ adalah cinta pertama Nabi Muhammad ﷺ. Penyair berkata,
نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى مَا الْحُبُّ إِلَّا لِلْحَبِيبِ الْأَوَّلِ
كَمْ مَنْزِلٍ فِي الْأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَتَى وَحَنِينُهُ أَبَدًا لِأَوَّلِ مَنْزِلِ
“Pindahkanlah hatimu kepada siapa saja yang engkau cintai. Tidaklah cinta itu kecuali kepada cinta yang pertama.”
“Betapa banyak tempat tinggal di bumi dirindukan oleh sang pemuda. Tetapi kerinduannya selalu kepada tempat tinggal yang pertama.”([22])
Namun wafatnya Khadijah radhiyallâhu ‘anhâ menjadi ujian paling berat bagi Nabi Muhammad ﷺ. Beliau sangat sedih karena orang yang paling beliau cintai meninggal dunia. Sampai para ulama menamakan tahun tersebut dengan (عَامُ الْحُزن)‘Amul-Huzni’ Tahun Kesedihan, karena dua orang yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad ﷺ meninggal dunia di waktu yang berdekatan.
Demikian yang berlaku di dalam kehidupan dunia ini, semakin seseorang mencintai dan menikmati, maka semakin besar pula risikonya. Pasangan suami-istri yang saling mencintai dengan cinta yang sangat besar, maka ketika salah satu dari keduanya meninggal dunia tentu akan sengsara. Ketika seseorang mencintai orang lain dengan cinta yang kuat, lalu ketika yang dicintainya meninggal dunia, maka pasti ia akan merasakan kesedihan yang dalam. Perasaan cinta adalah kenikmatan dan kebahagiaan, tetapi perpisahan adalah sesuatu yang sangat berat. Demikianlah kehidupan dunia. Semua kenikmatan dunia berisiko. Semakin dicintai maka akan semakin penuh risiko.
- Kenikmatan dunia terbatas musim dan waktu
Poin yang kelima, kenikmatan dunia itu terbatas oleh musim dan waktu. Kenikmatan dunia ada musimnya, sedangkan kenikmatan akhirat tidak bermusim. Di dalam kehidupan dunia sebagian buah-buahan akan berbuah pada musimnya. Masing-masing buah akan bermunculan pada musimnya sendiri. Demikian juga dengan benda-benda yang ada di sekitar kita, bila tiba waktunya pasti akan mengalami penyusutan dan rusak. Sehingga manusia tidak mampu menikmatinya kapan saja.
Adapun kehidupan akhirat selalu bisa dinikmati tanpa kenal musim. Allah ﷻ berfirman tentang buah-buahan di surga,
﴿مَّثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا ۚ تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوا ۖ وَّعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ﴾
“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” (QS. Ar-Ra’d: 35)
Allah ﷻ juga berfirman tentang kekekalan kenikmatan di dalam surga,
﴿وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ﴾
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Hud: 108)
Allah ﷻ juga berfirman tentang bidadari di surga,
﴿حُورٌ مَّقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ﴾
“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.” (QS. Ar-Rahmân: 72)
﴿وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ﴾
“Dan bagi mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)
Para bidadari di surga adalah wanita-wanita yang bersih. Tidak ada cacat dan kekurangan sama sekali. Adapun wanita di dunia mengalami haid dan nifas.
- Orang yang menikmati kenikmatan dunia akan melemah
Poin yang keenam adalah orang yang menikmati kenikmatan dunia akan melemah dan berkurang. Di antara yang mengurangi kenikmatan di dunia adalah ketika seseorang semakin tua, maka ia semakin sulit untuk menikmati kenikmatan dunia tersebut. Ia akan mengalami kelemahan dan berkurang kemampuannya. Allah ﷻ berfirman,
﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ﴾
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rûm: 54)
Ketika manusia semakin lemah, maka semakin sulit untuk menikmati. Padahal banyak kenikmatan di depan mata, tetapi ia tidak mampu untuk menikmatinya. Terlebih jika ia sampai pada tahap (أَرْذَلِ الْعُمُرِ), umur yang paling lemah. Kondisi seseorang yang sudah pikun, tidak mengerti apa yang ia bicarakan dan tidak mengenali lagi siapa orang yang ada di depannya. Ia berada pada usia yang penuh dengan kepayahan. Semakin tua renta kehidupan seseorang, maka semakin sulit baginya untuk merasakan kenikmatan. Untuk mengharapkan usia yang lebih lama juga semakin sulit. Kenikmatan tersebut tidak bisa dinikmati dengan sempurna, karena semakin tua dan semakin membutuhkan pertolongan. Oleh karenanya Nabi Muhammad ﷺ berdoa meminta perlindungan dari (أَرْذَلِ الْعُمُرِ). Beliau ﷺ berdoa di penghujung salat beliau,
((اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا – يَعْنِي فِتْنَةَ الدَّجَّالِ – وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ))
“Ya Allah aku berlindung kepadamu dari sifat pelit, dan aku berlindung kepadamu dari rasa takut, dan aku berlindung kepadamu dikembalikan kepada umur yang paling lemah, dan aku berlindung kepadamu dari fitnah dunia/dajal dan aku berlindung kepadamu dari azab kubur.”([23])
Adapun di surga kondisi penghuni surga selalu energik. Selalu muda dan selalu dalam kondisi sempurna dalam menikmati kenikmatan. Kenikmatan bisa dinikmati dari sisi wujud kenikmatan dan sisi pengguna kenikmatannya tersebut. Di surga wujud kenikmatannya sempurna dan pengguna kenikmatan tersebut juga sempurna. Oleh karenanya, penghuni surga akan dibangkitkan masuk surga dalam usia 30 tahun. Di masa puncak energiknya seseorang. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يُنَادِيْ مُنَادٍ: إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا، فَلَا تَمُوتُوْا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوْا، فَلاَ تَسْقَمُوْا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوْا فَلَا تهْرَمُوْا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَن تَنْعَمُوْا، فَلَا تَبْأَسُوْا أَبَدًا))
“Jika penghuni surga masuk ke dalam surga maka ada penyeru yang berseru, ‘Sesungguhnya kalian akan hidup dan tidak akan mati selamanya. Sesungguhnya kalian akan sehat dan tidak akan sakit selamanya. Sesungguhnya kalian akan muda dan tidak akan tua selamanya. Sesungguhnya kalian akan bahagia dan tidak sengsara selamanya.”([24])
Saking begitu bahagianya penghuni surga menikmati berbagai macam kenikmatan yang ada di surga, sampai-sampai tidak pernah letih.
﴿لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ﴾
“Di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.” (QS. Fâthir: 35)
Maksud dari نَصَبٌ adalah keletihan di dalam beraktivitas. Sedangkan لُغُوبٌ adalah keletihan setelah beraktivitas([25]). Tidak ada keletihan di dalam surga, baik ketika beraktivitas maupun setelahnya. Demikianlah kenikmatan yang diraih oleh para penghuni surga. Oleh karenanya tidak ada penghuni surga yang tidur. Ketika Nabi Muhammad ﷺ ditanya, “Apakah penghuni surga tidur?” Maka beliau bersabda,
((النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ، وَلَا يَمُوتُ أَهْلُ الْجَنَّةِ))
“Tidur adalah saudaranya kematian. Penghuni surga tidak mati.”([26])
Oleh karenanya Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan dzikir ketika bangun dari tidur dengan mengucapkan,
((اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ))
“Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dikumpulkan.” (([27]))
Jika penghuni surga tidur, maka sejatinya itu menandakan berhenti dari kenikmatan. Padahal penghuni surga tidak berhenti dari kenikmatan surga. Berdasarkan firman Allah ﷻ,
﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ﴾
“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifîn: 22)
Ayat ini menunjukkan bahwa para penghuni surga benar-benar tenggelam di dalam kenikmatan. Mereka tidak berhenti dari satu kenikmatan kepada kenikmatan lainnya dan mereka tidak pernah letih merasakan berbagai kenikmatan di dalam surga.
Adapun di dunia, ketika manusia menikmati berbagai macam kenikmatan dunia, maka akan merasakan kebosanan. Demikianlah sifat kenikmatan dunia. Tidak bisa terus menerus merasakan kenikmatan. Akan tiba masanya merasa bosan pada kenikmatan tersebut. Nikmat surga tidak membosankan dan selalu menakjubkan. Sangat berbeda ketika ia merasakan kenikmatan tersebut pertama kali. Kebosanan akan dirasakannya ketika ia terus menerus merasakannya.
Di surga para penghuni surga benar-benar sibuk dengan kenikmatannya. Allah ﷻ berfirman,
﴿إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ﴾
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yâsîn: 55)
Para penghuni surga selalu takjub dengan kenikmatan yang mereka rasakan. Setiap kali mendapatkan kenikmatan maka mereka selalu takjub dengan nikmat tersebut. Mereka tidak bakal pernah bosan, karena nikmat tersebut selalu membuat takjub. Berbeda dengan kenikmatan dunia, semakin dinikmati lama kelamaan akan membuat bosan.
﴿أَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ﴾
“Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?” (QS. Al-Wâqi’ah: 64)
﴿لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ﴾
“Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang.” (QS. Al-Wâqi’ah: 65)
- Kenikmatan dunia membutuhkan proses dan usaha keras
Poin yang ketujuh, kenikmatan di dunia membutuhkan proses dan usaha keras. Jika seseorang menginginkan kenikmatan maka ia harus berjuang untuk mendapatkan kenikmatan tersebut. Sebagaimana jika ia ingin kaya, maka ia harus berusaha dan bekerja keras untuk meraih kekayaan dan kesuksesan tersebut. Semua kenikmatan dunia bisa diperolah dengan usaha. Di dunia seseorang semakin bekerja keras, maka ia akan semakin merasakan kenikmatan dari hasil kerja kerasnya tersebut.
Adapun di surga tidak ada kerja keras ataupun usaha maupun proses. Semua kenikmatan langsung ada tanpa harus menunggu. Allah ﷻ berfirman,
﴿فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ﴾
“Dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat.” (QS. Al-Hâqqah: 22-23)
Penghuni surga yang ingin makan buah-buahan, maka buah tersebut mendekat tanpa ada usaha sama sekali. Allah ﷻ juga berfirman,
﴿مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ ۚ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ﴾
“Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS. Ar-Rahmân: 54)
﴿وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ﴾
“Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Wâqi’ah: 21)
Para ulama menjelaskan bahwa di surga jika ada burung yang terbang melewati penghuni surga, lalu ia menginginkan burung tersebut, maka burung tersebut datang kepadanya dalam keadaan sudah siap untuk disantap tanpa menunggu. ([28])
Menunggu adalah penderitaan. Adapun di dalam surga tidak ada penderitaan. Kenikmatan di surga seluruhnya instan tanpa menunggu. Apa pun hobi kita, jika kita menginginkannya di surga, maka Allah ﷻ akan mengabulkannya. Nabi Muhammad ﷺ berkisah,
((أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اسْتَأْذَنَ رَبَّهُ فِي الزَّرْعِ، فَقَالَ لَهُ: أَوَلَسْتَ فِيمَا شِئْتَ؟ قَالَ: بَلَى، وَلَكِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَزْرَعَ، فَأَسْرَعَ وَبَذَرَ، فَتَبَادَرَ الطَّرْفَ نَبَاتُهُ وَاسْتِوَاؤُهُ وَاسْتِحْصَادُهُ وَتَكْوِيرُهُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، فَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى: دُونَكَ يَا ابْنَ آدَمَ، فَإِنَّهُ لَا يُشْبِعُكَ شَيْءٌ. فَقَالَ الْأَعْرَابِيُّ: وَاللهِ لَا تَجِدُهُ إِلَّا قُرَشِيًّا أَوْ أَنْصَارِيًّا، فَإِنَّهُمْ أَصْحَابُ زَرْعٍ، وَأَمَّا نَحْنُ فَلَسْنَا بِأَصْحَابِ زَرْعٍ، فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ))
“Sesungguhnya ada salah seorang penghuni surga meminta ijin Rabb-nya untuk bercocok tanam. Maka Rabb bertanya kepadanya, ‘Bukankah engkau telah mendapatkan semua yang engkau inginkan?’ Ia menjawab, ‘Benar, akan tetapi aku suka bercocok tanam’. Maka ia pun bersegera dan menaburkan benih. Sebelum ia mengedipkan mata tiba-tiba tanamannya tumbuh tinggi, siap dipanen dan berkembang menyerupai gunung. Maka Allah ﷻ berfirman, ‘Ambillah wahai anak Adam! Sesungguhnya tidak ada yang mengenyangkanmu’. Lalu seorang Arab berkata, ‘Demi Allah, Engkau tidak menemukannya kecuali seorang penduduk Quraisy atau penduduk Anshar. Mereka adalah orang yang suka bercocok tanam. Adapun kita bukanlah orang yang suka bercocok tanam’. Maka Nabi Muhammad ﷺ tertawa.”([29])
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,
((الْمُؤمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِيْ سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِيْ))
“Seorang mukmin jika menginginkan seorang anak di dalam surga, maka anak tersebut di dalam kandungan, lahirnya dan tumbuh usianya dalam satu waktu sesuai dengan yang ia inginkan.”([30])
Sebagaimana hadis ini menunjukkan bahwa penghuni surga jika menginginkan memiliki keturunan maka anak tersebut akan langsung muncul sesuai dengan yang ia inginkan. Jika ia menginginkan anak yang berusia 5 tahun, maka akan muncul seorang anak yang berusia 5 tahun. Jika ia menginginkan anak yang berusia 17 tahun, maka akan muncul secara tiba-tiba seorang anak yang berusia 17 tahun. Ini menunjukkan di dalam surga penghuni surga memperoleh segala yang diinginkannya. Berdasarkan firman Allah ﷻ,
﴿نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ﴾
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS. Fussilat: 31)
Dalam kehidupan dunia setiap orang yang ingin mengaku-ngaku sesuatu yang ada di dunia ini, maka ia kan kesulitan. Jika ia ingin mengakui bawah sebidang tanah di suatu tempat itu adalah miliknya—misalnya, maka akan kesulitan. Jika ia ingin mengakui suatu rumah itu miliknya—misalnya, maka akan kesulitan. Namun, di dalam surga jika ia berhasrat dengan apa pun atau ingin mengakui apa pun maka Allah ﷻ akan mengabulkannya. Tanpa menanti, tanpa menunggu dan pada saat itu juga keinginan penghuni surga langsung dikabulkan oleh Allah ﷻ.
Inilah perbandingan antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan surga. Maka hendaknya seseorang selalu ingat dengan kenikmatan surga. Ketika tergerak hatinya untuk membangkang dan melanggar perintah Allah ﷻ, maka bersegeralah mengingat nikmat surga. Jangan sampai ia menjadi orang yang jahil, sehingga ia mengorbankan kenikmatan surga dan meninggalkannya hanya untuk merasakan kenikmatan yang sementara. Janganlah ia terlalu tenggelam dengan dunia, sehingga lupa untuk mengingat Allah ﷻ. Silakan saja untuk mencari harta sebanyak-banyaknya, tetapi yang terpenting harta tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Bukan memberatkannya pada saat tiba hari pembalasan, tetapi justru membuatnya semakin dekat dengan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾
“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash: 77)
Semakin seseorang diberikan kenikmatan, maka semakin besar kewajibannya untuk bersyukur kepada Allah ﷻ. Hendaknya ia berjuang di dalam hidup ini agar meraih nikmat surga. Di dalam surga ada nikmat-nikmat yang belum bisa dibayangkan. Di dalam hadis qudsi Allah ﷻ berfirman,
((أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ، مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ علَى قَلْبِ بَشَرٍ))
“Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh, kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata mereka, tidak pernah didengar oleh telinga mereka, dan tidak pernah terbetik di benak manusia.”(([31]))
Di surga ada kenikmatan yang tidak pernah terbetik sama sekali. Contoh sederhananya tentang perbandingan nikmat dunia sekarang, bukankah jika kita kembali atau hidup pada 1000 tahun yang lalu, kita pasti tidak pernah membayangkan suatu saat akan ada pesawat terbang di masa yang akan datang. Tidak terbayang akan ada AC. Begitu juga dengan bermacam-macam makanan atau minuman yang 1000 tahun lalu tidak ada, namun sekarang ada, dan itu tidak pernah terbetik sedikit ratusan tahun yang lalu. Banyak kenikmatan yang tidak dibayangkan oleh mereka pada saat itu, dan ternyata sekarang ada. Andai kenikmatan yang sekarang dikabarkan kepada nenek moyang kita pada ratusan tahun lalu, bisa jadi mereka akan berkata, ‘Ini adalah surga’.
Dahulu mereka tidak mendapati mobil, motor, pesawat, rumah yang megah, alat-alat elektronik dan perangkat teknologi yang serba canggih. Akal mereka pada saat itu belum menjangkau hal tersebut. Namun pada masa sekarang ini semua benda itu ada di hadapan kita. Begitu juga dengan kita pada saat ini, banyak kenikmatan dunia yang belum kita rasakan, yang dikatakan penikmatnya sangat lezat namun itu diharamkan dalam Islam. Misalnya khamar, bagi para penikmatnya minuman itu semakin lama maka akan semakin lezat. Kita tidak mengetahuinya, tapi mereka pernah merasakannya kenikmatannya yang luar biasa. Begitu juga halnya dengan seorang jomblo yang belum mengetahui bagaimana nikmatnya menikah.
Ini semuanya menunjukkan bahwa ada kenikmatan yang tidak pernah dibayangkan seperti apa nikmatnya. Demikianlah kenikmatan di akhirat, akan ada nikmat-nikmat yang Allah ﷻ siapkan yang tidak pernah dibayangkan oleh manusia dan tidak ada semisalnya di dunia. Di antara penafsiran para ulama dalam firman Allah ﷻ,
﴿لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ﴾
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yûnus: 26)
Maksud dari زِيَادَةٌ ‘tambahan nikmat’ tersebut adalah melihat wajah Allah ﷻ. (([32])) Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ. … ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٞ﴾))
“Bila penduduk surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman: ‘Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Beliau bersabda: ‘Lalu Allah membukakan hijab pembatas, lalu tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugerah (dapat) memandang Rabb mereka.’ … ‘Kemudian beliau ﷺ membaca Firman Allah: (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya).’ (QS.Yûnus: 26)(([33]))
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata:
لَوْ لَمْ يُوقِنْ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ أَنَّهُ يَرَى اللَّهَ لَمَا عَبْدَ اللَّهَ تَعَالَى
“Kalau Muhammad bin Idris tidak yakin bahwa ia akan melihat Allah tentu ia tidak beribadah kepada Allah ﷻ.”(([34]))
Pernyataan al-Imam Asy-Syafi’i ini menunjukkan bahwa beliau meyakini bahwa melihat Allah adalah puncak kenikmatan dan puncak kebahagiaan di surga, dan tidaklah beliau beribadah kepada Allah tidak lain kecuali untuk melihat wajah Allah di surga. Jangankan orang saleh seperti al-Imam Asy-Syafi’i bahkan para Nabi dan Rasul pun mengimpikan untuk melihat wajah Allah. Nabi ﷺ berdoa,
وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ
“Dan aku meminta kelezatan memandang wajah-Mu serta kerinduan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan hidayah.”(([35]))
Tentu saja ini adalah kenikmatan tambahan yang didapatkan oleh para penghuni surga. Ada yang menafsikan bahwa maksudnya adalah nikmat yang tidak ada semisalnya di dunia. Nikmat memandang wajah Allah ﷻ adalah puncak kenikmatan yang tidak ada semisalnya di dunia. Demikianlah perbandingan sekaligus contoh bahwa di surga akan ada banyak kenikmatan yang tidak pernah terbetik di dalam hati manusia.
([1]) HR. Al-Bukhari, No. 2834 dan Muslim, No. 1805.
([4]) HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, No. 15.
([5]) Al-Ba’tsu Wa-an-Nusyûr, al-Baihaqi, No. 332.
([6]) Shahîh al-Jâmi’, No. 5648.
([7]) HR. At-Tirmidzi, No. 2526.
([8]) HR. Al-Bukhari No. 6568.
([9]) Ia adalah Labid bin Rabi’ah. Salah satu tokoh yang syairnya dijadikan kebanggaan orang-orang Jahiliah.
([10]) HR. Al-Bukhari, No. 6147.
([11]) Lihat: Ar-Raudh al-Unuf, (3/334).
([12]) Lihat: Al-Ishâbah Fî Tamyîz ash-Shahâbah, (5/500).
([14]) Lihat: Tafsîr al-Qurthubî, (17/180) dan Tafsîr Ibnu Katsîr, (7/504).
([15]) Lihat: Tafsir al-Qurthubî, (17/182).
([16]) HR. Ath-Thabrani No. 9763.
([17]) Mawârid azh-Zham`ân Li Durûs az-Zamân, (4/212).
([18]) HR. Ahmad, No. 14921, hadis sahih.
([19]) HR. Al-Hakim, No. 8158 di dalam al-Mustadrak.
([21]) HR. Ahmad, No. 24864 dan disahihkan oleh para pentahkik Musnad Ahmad.
([22]) Ash-Shinâ’atain, Abu Hilal al-‘Askari, (1/418).
([23]) HR. Al-Bukhari, No. 6004.
([25]) Lihat: Tafsîr al-Qurthubî, (14/351).
([26]) HR. Al-Baihaqi, No. 677 di dalam al-Adâb.
([27]) HR. Al-Bukhari, No. 6312.
An-Nawawi berkata: yang dimaksud dengan kematian dalam doa ini adalah tidur, dan yang dimaksud dengan kebangkitan yaitu kebangkitan pada hari kiamat, maka dalam doa ini Nabi Muhammad ﷺ menyamakan sadarnya seseorang dari tidurnya yang tidurnya itu seperti kematian yang kemudian dibangkitkan setelahnya. Syarh An-Nawawi ‘Alâ Muslim, (17/35).
([28]) Lihat: Tafsîr Ibnu Katsîr, (4/466).
([29]) HR. Al-Bukhari, No. 2221.
([30]) HR. At-Tirmidzi, No. 2742 dengan sanad hasan.
([31]) HR. Al-Bukhari, No. 4779.
([32]) Lihat: Tafsîr Ibnu Katsîr, (4/229).
([34]) Diriwayatkan oleh Al-Lalakai di Syarh Ushûl I’tiqâd Ahli as-Sunnah (3/560) No. 883 dengan sanadnya hingga ar-Rabi’ bin Sulaiman dari al-Imam Asy-Syafi’i.







