Sesungguhnya istri yang salihah adalah seindah-indah nikmat dan seindah-indah anugerah. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah.” ([1])
Jadi dunia ini adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan dari dunia ini adalah istri yang salihah. Maka, seorang lelaki yang paling berbahagia di dunia ini adalah yang memiliki istri yang salihah. Demikian pula dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,
أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ
“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan: wanita salihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.” ([2])
Ini semua adalah sebab kebahagiaan. Memiliki tetangga yang baik tentu kita bahagia, memiliki rumah yang luas juga menyenangkan, dan memiliki kendaraan yang nyaman tentu adalah sebab kebahagiaan. Namun, ini semua masih kalah dengan istri yang salihah. Dia adalah sebab utama kebahagiaan.
Percuma seseorang memiliki rumah yang luas, kendaraan yang mewah, dan tetangga yang baik tapi ternyata istrinya tidak salihah. Ia tidak merasa aman dengan istrinya, malah merasa kesengsaraan. Maka, lelaki paling bahagia adalah yang memiliki istri yang salihah. Sebaliknya, lelaki yang sangat sengsara adalah yang memiliki istri yang tidak salihah. Seorang laki-laki yang memiliki istri yang tidak salihah seakan-akan merasakan azab neraka yang disegerakan. Namun, kalau dia memiliki istri yang salihah, seakan-akan bidadari surga yang disegerakan.
Maka pembahasan ini terkhususkan kepada para muslimat agar mereka berupaya dan berusaha menjadi wanita yang salihah. Karena itu adalah bekal untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia, terlebih lagi kebahagiaan abadi di akhirat kelak.
Wanita yang tidak salihah sengsara hidupnya. Yang menaikkan suara terhadap suaminya, membentak suaminya, tidak menurut kepada suaminya. Lihat apakah dia wanita bahagia? Tidak, dia tidak bahagia, ia sengsara karena tidak taat kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Kebahagiaan itu datang dengan taat kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
Lihat wanita yang bahagia! wanita yang salihah, yang menuruti perkataan suami, yang taat kepadanya, tidak mengangkat suara dan tidak menyelisihi perintah suaminya. Maka itulah wanita yang bahagia, Allah ﷻ segerakan kebahagiaan di dunia, terlebih lagi di akhirat kelak. Maka siapa yang ingin bahagia di dunia dan terlebih lagi di akhirat, berusahalah menjadi istri yang salihah.
Apa itu istri yang salihah? Secara umum seorang yang saleh adalah seorang yang menunaikan hak Allah ﷻ dan hak manusia, khususnya kepada orang-orang terdekatnya. Kapan seorang menunaikan hak Allah ﷻ dan hak manusia, maka dia dikatakan saleh. Begitu juga wanita, kapan ia menunaikan hak Allah ﷻ dan hak manusia –dalam hal ini adalah suaminya— maka ia adalah wanita salihah. Allah ﷻ berfirman,
﴿فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ﴾
“Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (QS. An-Nisa`: 34)
Dalam ayat ini di antara ciri-ciri wanita-wanita yang salihah secara umum adalah yang qanitat, yaitu taat beribadah kepada Allah ﷻ, kuat beribadah kepada Allah ﷻ, tidak buru-buru dalam beribadah, menikmati ibadahnya kepada Allah ﷻ, menikmati salat malamnya dan menikmati bacaan al-Qur`annya serta menikmati salat lima waktunya dan puasanya karena dia taat kepada Allah ﷻ.
Selain taat terkait dengan hak Allah ﷻ, wanita salihah juga menunaikan hak manusia. Di antara manusia yang paling besar haknya terhadap seorang wanita adalah suaminya. Oleh karenanya setelah menyebutkan tentang hak Allah ﷻ, Allah ﷻ menyebutkan tentang hak suami, “kemudian mereka yang menjaga hak suaminya ketika suaminya tidak di rumah”. Jangankan ketika suaminya berada di rumah, bahkan ketika suaminya tidak di dalam rumah, ia juga menjaga hak suaminya, harta dan harga dirinya.
Allah ﷻ mengisyaratkan bahwa wanita salihah tidak akan bisa menjaga dirinya kecuali karena dia bersandar kepada Allah ﷻ . Oleh karena itu, Allah berfirman yang artinya: “dengan penjagaan Allah” sehingga membuat dia bisa menjaga hak-hak suaminya tersebut.
Ini adalah isyarat kepada para wanita salihah bahwa jika ingin menjadi wanita salihah, hendaknya bertawakkallah dan bersandarlah kepada Allah ﷻ. Karena untuk menjadi wanita salihah maka membutuhkan kesabaran yang panjang. Untuk taat kepada suami maka butuh kesabaran yang panjang. Untuk menikmati berkhidmat kepada suami, melayani suami, maka butuh juga taufik dari Allah ﷻ.
Menghadiri kajian saja terkadang tidak mengubah seseorang jika ia tidak meminta kepada Allah ﷻ untuk berubah, tidak bertawakal dan tidak memohon kepada Allah ﷻ. Sekedar mengaji saja terkadang tidak mengubah seseorang jika tidak diniatkan karena Allah ﷻ dan tidak meminta taufik kepada Allah ﷻ dengan tulus maka tidak berubah.
Allah ﷻ telah mengatakan tentang sifat wanita salihah,
﴿فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ﴾
“Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (QS. An-Nisa`: 34)
Yaitu ketika suaminya sedang keluar rumah ia menjaga hak suami, apalagi kalau suaminya di rumah, tentu dia lebih lagi menjaga hak suaminya. Dia bisa menjaga hak suaminya karena Allah ﷻ memberikan penjagaan. Allah ﷻ yang membuatnya bisa bertakwa kepada-Nya.
Allah ﷻ tidak menyebutkan sifat wanita salihah ini berkaitan dengan hak-hak yang lain kecuali kepada suaminya. Padahal diketahui bahwa seorang wanita dikelilingi oleh banyak hak, di antaranya hak orang tuanya, anak-anaknya, saudaranya atau tetangganya. Kenapa Allah ﷻ hanya menyebutkan hak suami? Wallahu a’lam, karena suami adalah orang yang paling punya hak terbesar atas istrinya. Maka dari itu Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” ([3])
Suami memiliki hak terbesar bagi istrinya. Maka hal ini perlu diperhatikan bagi setiap wanita. Oleh karenanya, dalam masalah rumah tangga, maka hak suami harus dikedepankan daripada orang tua. Syariat mengatur demikian karena kenyamanan dalam keluarga ini penting bagi kemajuan Islam. Islam dibangun di atas generasi-generasi. Generasi ini kalau tumbuh dalam keluarga yang nyaman, dalam keluarga yang bertakwa kepada Allah ﷻ, yang mana istri mengetahui hak suami dan suami mengetahui hak istri, maka anak-anak akan tumbuh dengan berkualitas. Ini demi masa depan Islam.
Oleh karena itu, dalam hal urusan rumah tangga, istri harus mengedepankan hak suami daripada hak orang tua. Misalnya, suami mengatakan kepada istrinya, “Kita harus tinggal di Bandung, kita tidak bisa tinggal di Bekasi”. Namun orang tuanya mengatakan, “Nak, kamu putri Ayah satu-satunya, kamu harus tinggal di Bekasi biar tidak jauh dari Ayah”. Saat itu terjadi, maka dia harus menuruti perintah suaminya. Ini terkait dengan hak rumah tangga, karena syariat melihat maslahat yang besar, sehingga rumah tangga berjalan dengan nyaman. Dari lingkungan itulah itu tumbuh generasi-generasi Islam di kemudian hari.
Jika suami istri seringkali berselisih dan cekcok terus, maka kasihan anak-anak dan akan berdampak buruk untuk generasi masa depan Islam. Inilah di antara hikmah hak suami didahulukan daripada hak orang tua dalam urusan rumah tangga. Tentu tidak secara mutlak, tetapi dalam urusan rumah tangga, hak suami lebih didahulukan daripada hak orang tua. Oleh karena itulah Nabi ﷺ mengatakan, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”
Ciri-ciri Wanita Salihah
- Taat kepada Allah ﷻ dan juga kepada suaminya.
Sebagaimana telah disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,
﴿فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ﴾
“Maka perempuan-perempuan yang salihah, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (QS. An-Nisa`: 34)
Taat kepada Allah, rajin beribadah dan taat kepada suaminya. Sebagaimana juga ditekankan oleh sabda Nabi ﷺ:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang wanita melaksanakan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki’.” ([4])
Hadis ini menunjukkan betapa luasnya kemudahan yang Allah ﷻ berikan kepada wanita. Tidak perlu terlalu banyak ibadah, mengangkat pedang untuk berjihad, atau bersusah payah keluar rumah untuk mencari nafkah. Cukup shalat lima waktu, puasa bulan Ramadan, menjaga kemaluan dan taat kepada suaminya, maka diizinkan baginya untuk masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan. Inilah di antara kemudahan yang Allah ﷻ berikan kepada wanita.
Nabi Muhammad ﷺ tidak menyebutkan ciri wanita yang bisa masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya adalah harus mengerjakan dan memperbanyak salat sunah. Justru sebagaimana yang beliau ﷺ sebutkan adalah cukup baginya untuk mengerjakan shalat lima waktu, meskipun tidak salat sunah qabliyah dan ba’diyah, salat tahajud, salat dhuha, kemudian dia hanya menjalankan puasa Ramadan, meskipun tidak puasa sunah Senin Kamis, tidak puasa Daud, puasa Asyura atau puasa Zulhijjah, kemudian dia menjaga kemaluannya dan kehormatannya, tidak membuka relasi dengan lelaki-lelaki yang tidak halal baginya, teman-teman lamanya atau dengan laki-laki manapun, dan taat kepada suaminya. Jika empat hal itu bisa dia kerjakan maka dia adalah Dan dia menjaga kemaluannya menjaga dirinya.
Kebanyakan wanita tidak merasa berat untuk menjaga salat lima waktu, puasa bulan Ramadan atau menjaga kemaluannya. Namun yang berat bagi mereka adalah taat kepada suami. Sejatinya perkara ini mudah untuk diamalkan, hanya saja mungkin berat bagi sebagian wanita. Banyak wanita zaman sekarang yang manja kepada orang tuanya waktu kecilnya. Banyak wanita yang tidak disiapkan orang tuanya untuk menjadi istri yang salihah dan tidak diwasiatkan oleh ayah ibunya agar menjadi istri salihah. Sehingga tumbuh berkembang sekedarnya dan bekal agamanya kurang. Maka dari itu ketika jadi istri ia tidak mampu menjadi istri yang salihah, mudah membantah dan lain sebagainya. Oleh karenanya, wanita mana pun yang taat kepada suaminya maka dia sangat mudah masuk surga, bahkan dari pintu mana saja.
Oleh karena itu, Allah ﷻ menyebutkan dalam al-Qur`an,
﴿ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ﴾
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (An-Nisa`: 34)
Sesungguhnya para laki-laki adalah qawwamun (pemimpin) di dalam keluarga dan di atas kepemimpin para wanita. Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,
يَعْنِي أُمَرَاء
“Maksudnya adalah raja.” ([5])
Suami adalah pemimpin, pengeran, putra mahkota atau raja di rumahnya. Maka wanita mana saja yang bisa membuat suaminya merasa seperti raja atau pemimpin di rumahnya, maka itulah wanita salihah. Oleh karenanya para wanita hendaknya berjuang bagaimana membuat suami merasa dialah pemimpin, kepala keluarga sekaligus raja di rumahnya. Namun jika yang terjadi sebaliknya, maka ini menjadi musibah. Musibah bagi wanita, dia menjadikan suaminya tidak merasa sebagai pemimpin tapi sebagai babu di rumah, dibentak-bentak, dimarah-marahi, diperintah-perintah. Ini musibah bagi para wanita dan ini merupakan ciri-ciri wanita yang masuk neraka Jahanam.
Oleh karena itu, ketika Nabi ﷺ menyebutkan cara mudah bagi wanita masuk surga adalah dengan taat kepada suaminya, maka cara mudah wanita masuk neraka dengan membangkang kepada suaminya. Maka bagi para wanita dua pilihan, mau masuk surga dengan cepat atau masuk neraka dengan cepat.
Begitu juga ketika Nabi Muhammad ﷺ suatu ketika menasihati para wanita tatkala salat Id, yaitu setelah beliau ﷺ berkhotbah di hadapan para laki-laki, kemudian beliau maju menuju barisan wanita khusus untuk menasihati mereka. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallâhu ‘anhu berkata,
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ، إِلَى الْمُصَلَّى، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّار فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ.
“Rasulullah ﷺ pergi pada hari Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat salat, kemudian beliau melewati para wanita dan bersabda, ‘Wahai kaum wanita, bersedekahlah, karena aku diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka’.
Para wanita itu bertanya, ‘Mengapa demikian, wahai Rasulullah?’
Beliau menjawab, ‘Karena kalian banyak melaknat dan kufur terhadap suami’.” ([6])
Kufur terhadap suami maksudnya adalah tidak pandai bersyukur terhadap apa saja yang diberikan kepada suami, tidak tahu terima kasih kepada suami, membangkang kepada suami, mengangkat suara dihadapan suami. Wanita yang seperti ini adalah wanita yang tidak bersyukur kepada suami dan ini adalah ciri wanita penghuni neraka Jahanam. Ada juga wanita yang suka mengeluh. Dia mengeluh dengan kehidupannya, dia mengeluhkan suaminya kepada orang lain, dan suka mengumpat.
Demikianlah, sebagaimana ibadah yang sangat agung bagi seorang istri adalah taat kepada suami, maka maksiat yang sangat besar adalah membangkang kepada suami. Sampai sebagian ulama menyebutkan bahwa dikatakan kufur kepada suami maksudnya adalah Kufur Asghar, yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut merupakan dosa besar.
Oleh karenanya, hendaknya setiap wanita berusaha menjadi istri salihah. Jikalau suami berbicara, maka hendaknya dia mendengarkan dan menunjukkan penghormatan kepada suaminya. Melayani suami. Tidak mengangkat suara di hadapan suami. Diskusi boleh, tidak ada masalah, tetapi keputusan tetap di tangan suami. Kecuali jika suami memerintahkan kepada yang haram, maka tidak boleh ditaati. Selama perkara yang diperintahkan bukan perkara yang haram, hanya perbedaan sudut pandang, maka keputusan di tangan suami. Itulah konsekuensi sebagai istri yang salihah, yaitu mengikuti perintah suami. Adapun tidak taat kepada suami adalah ciri wanita penghuni neraka Jahanam.
Sungguh menyedihkan jika kita mendapati rumah tangga yang isinya perselisihan dan lengkingan suara antara suami-istri. Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا، أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ
“Jika Allah menginginkan sebuah kebaikan pada suatu keluarga, maka Allah akan memasukkan kasih sayang (kelembutan) atas mereka.”([7])
Penulis pernah menghadapi kasus ada seorang wanita kurang ajar dengan memegang dan menarik kerah bajunya dengan kasar. Ketika ditanya kenapa dia biasa melakukan itu? Ternyata dia sudah biasa melihat ibunya melakukan perbuatan yang serupa kepada ayahnya. Sehingga dia sudah terlatih melihat ibunya bersikap kasar kepada bapaknya. Tanpa disadari, ibunya telah mengajarkan dosa jariyah kepada putrinya. Putrinya ini bersikap kurang ajar terhadap suaminya bertahun-tahun, karena meniru perbuatan ibunya.
Maka para wanita hendaknya menjaga akhlak kepada suami. Tunjukkanlah ketaatan kepada suami, agar anak-anak perempuan nanti ketika menikah juga meniru perbuatan orang tuanya, khususnya kepada ibunya. Seorang anak perempuan yang tidak pernah melihat nuansa teriakan-teriakan atau keributan antara ayah dan ibunya, maka tidak akan tergambarkan ada kejadian tersebut. Sehingga ketika dia menikah, dia merasakan ketenteraman dan kelembutan.
Berbeda jika tinggal di rumah yang di dalamnya sang ibu teriak dan mengangkat suara kepada sang ayah, memegang kerah bajunya, atau bahkan memukulnya, pasti psikologi anaknya akan terpengaruh dengan perilaku sang ibu.
Maka hendaknya para wanita sungguh-sungguh mencari pahala sabar. Jika terjadi perselisihan seorang istri bisa mengajak suaminya untuk berdiskusi. Meskipun tetap keputusan ada di tangan suami. Taat kepada suami pahalanya besar. Jangan menyangka bahwa ibadah yang berpahala itu hanya membaca al-Qur`an, salat malam, atau salat sunah lainnya. Taat kepada suami itu justru pahalanya besar. Bahkan sebab utama masuk surga, dan masuk surga dari pintu mana saja adalah dengan taat kepada suami. Kurang apa lagi janji Nabi ﷺ kepada wanita yang taat kepada suaminya.
Semoga Allah ﷻ menguatkan para wanita untuk menjadi istri yang salihah dan memberikan kesabaran. Hidup hanya sebentar. Janganlah mengisi hari-hari dengan dosa. Hendaknya mengisi hari-hari dengan ketaatan kepada Allah ﷻ dengan menerapkannya pada taat kepada suami.
- Memasukkan Rasa Senang ke dalam Hati Suaminya dan Anak-anak
Yang menjadi pikiran utama dari istri salihah adalah bagaimana cara memberikan kesenangan ke dalam hati suaminya, dan berusaha mencari tahu apa saja yang disukai oleh suaminya. Makanya di antara kecerdasan seorang istri salihah adalah dia mengenali apa yang disukai oleh suaminya. Dia berusaha mencatat hal-hal yang disukai oleh suaminya. Selain itu juga berusaha mengenal apa yang tidak disukai oleh suaminya. Maka dia berusaha semaksimal mungkin ikhtiar untuk melakukan apa yang disukai oleh suaminya dan menghindarkan diri dari apa yang tidak disukai oleh suaminya. Dia berusaha beradaptasi dengan apa yang disayangi oleh suaminya. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ bersabda,
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
“Yang paling menyenangkannya jika dilihat suaminya, dan menaatinya jika ia memerintahkannya, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.”([8])
Istri yang salihah selalu berusaha menggunakan dirinya dan hartanya kepada hal yang disukai oleh suaminya. Inilah wanita terbaik di sisi Allah ﷻ. Kesibukannya hanya memikirkan apa yang disukai oleh suaminya. Contohnya seorang istri mengetahui bahwa suaminya suka makan sebelum salat zuhur. Akan tetapi dia tidak mampu menyiapkannya kecuali setelah salat zuhur, dan suaminya justru dipaksa mengikuti kemauannya, maka yang demikian ini bukanlah ciri wanita salihah. Jika dia berusaha sebisa mungkin untuk menyediakannya sebelum waktu salat zuhur, meskipun belum selesai tersedia akan tetapi dia telah berusaha, maka dia telah berusaha untuk menjadi wanita yang salihah untuk suaminya.
Makanya sebagian wanita ada yang cerdas ingin jadi wanita salihah, ada juga yang tidak demikian. Oleh karenanya, para wanita hendaknya selalu berusaha menyenangkan suami.
Di antara ciri-ciri wanita penghuni surga adalah suaminya betah dan tidak bosan melihatnya. Oleh karenanya, seorang wanita berusaha menyenangkan hati suaminya dan berusaha menjadi istri yang tidak bosan dilihat oleh suaminya, dan di antara caranya adalah dengan mempercantik dirinya pada dua hal, yaitu: berusaha mempercantik fisiknya dan mempercantik akhlaknya.
Pertama, dia berusaha mempercantik fisiknya. Artinya dia perhatian terhadap penampilannya dan dia berhias untuk suaminya. Ini penting bagi wanita. Makanya wanita dibolehkan untuk memakai emas dan memakai kain sutera, karena dia dituntut untuk berhias kepada suaminya.
Ini adalah kebiasaan para wanita sahabiyat dahulu. Mereka berhias di rumah untuk suaminya. Ketika Salman al-Farisi radhiyallâhu ‘anhu mengunjungi rumah Abud Darda` radhiyallâhu ‘anhu, beliau mendapati istri Abud Darda`memakai pakaian yang lusuh tidak nyaman dipandang, dan tidak pantas bagi wanita yang sedang menanti kedatangan suaminya. Maka Salman radhiyallâhu ‘anhu menyadari bahwa ini ada masalah.
فَقَالَ لَهَا: مَا شَأْنُكِ؟ قَالَتْ: أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الدُّنْيَا، فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا، فَقَالَ: كُلْ؟ قَالَ: فَإِنِّي صَائِمٌ، قَالَ: مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ، قَالَ: فَأَكَلَ، فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ، قَالَ: نَمْ، فَنَامَ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ فَقَالَ: نَمْ، فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ: سَلْمَانُ قُمِ الآنَ، فَصَلَّيَا فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ: إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَدَقَ سَلْمَانُ
“Maka Salman berkata, kepadanya; ‘Ada apa denganmu?’ Dia menjawab, ‘Saudaramu Abu Darda’, dia tidak memiliki keperluan dengan dunia.’ Kemudian Abu Darda’ datang, lalu ia membuat makanan untuk Salman. Salman berkata kepada Abu Darda’, ‘Makanlah!’ Abu Darda’ menjawab, ‘Aku sedang berpuasa.’ Salman berkata, ‘Aku tidak akan makan hingga engkau makan.’ Lalu Abu Darda’ pun ikut makan. Pada malam, hari Abu Darda’ bangun (untuk shalat malam), lalu Salman berkata, ‘Tidurlah!’ Maka ia pun tidur lalu bangun lagi, lalu Salman kembali berkata, ‘Tidurlah!’ Maka ia pun tidur lagi. Pada akhir malam Salman berkata, ‘Sekarang bangunlah!’ Kemudian mereka berdua shalat malam. Lalu Salman berkata kepada Abu Darda’, ‘Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atasmu, dan jiwamu mempunyai hak atasmu, dan istrimu mempunyai hak atasmu, maka berilah setiap hak kepada yang berhak.’ Kemudian Abu Darda’ menemui Nabi ﷺ lalu ia menceritakan hal itu. Maka Beliau bersabda, ‘Salman benar.’” ([9])
Jawaban Ummud Darda` mengisyaratkan bahwa Abud Darda` tidak butuh dengannya, maka untuk apa dia memakai pakaian yang bagus. Sebagian ulama mengambil kesimpulan bahwa para wanita dari kalangan sahabat jika mereka berada di rumah, maka mereka memakai baju yang bagus untuk menyambut suaminya. Kalau suami mereka tidak ada di rumah, maka mereka memakai pakaian yang biasa-biasa saja. Adapun ketika suaminya datang, maka mereka bersiap untuk suaminya.
Pada zaman dahulu Rasulullah ﷺ juga melarang seseorang yang pulang dari safar untuk masuk rumah di malam hari dengan maksud memberikan kejutan. Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا أَطَالَ أَحَدُكُمُ الغَيْبَةَ فَلاَ يَطْرُقْ أَهْلَهُ لَيْلًا
“Jika salah seorang dari kalian pergi (safar) dalam waktu lama, maka janganlah pulang (secara mendadak) di malam hari.” ([10])
Rasulullah ﷺ melarang seseorang tidak boleh mendatangi istrinya seacara tiba-tiba di malam hari setelah pulang safar, dikhawatirkan istri tidak siap menyambut suaminya pada saat itu pula. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa suatu ketika Nabi Muhammad ﷺ bersama para sahabat kembali ke Madinah dari sebuah peperangan. Ketika hendak masuk Madinah, beliau ﷺ bersabda,
أَمْهِلُوا حَتَّى تدخلوا لَيلًا – يَعْنِي عِشَاءً – لِكَي تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ، وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ
“Tunggulah hingga kalian masuk pada malam hari – yaitu saat waktu Isya – agar wanita yang rambutnya kusut dapat menyisir rambutnya dan wanita (yang ditinggal safar suaminya) dapat mempersiapkan diri’ ([11]).”([12])
Rasulullah ﷺ mengatakan demikian agar para wanita yang rambutnya belum disisir bisa menyisir rambutnya untuk menyambut suaminya dan mereka yang rambut kemaluannya belum dicukur bisa mencukurnya untuk bisa menyambut suaminya.
Demikianlah para wanita dari kalangan sahabat. Kalau mereka tahu suami mereka datang, maka mereka bersiap-siap untuk menyambut suaminya. Inilah kebiasaan wanita salihah. Mereka selalu menyenangkan suaminya dan berhias untuk suaminya.
Masyaallah, sungguh mengagumkan sebagian wanita diberi taufik oleh Allah ﷻ, selalu harum di hadapan suaminya dan tidak tercium darinya bau yang tidak enak, karena dia perhatian sama suaminya dan ingin menyenangkan suaminya.
Justru yang menjadi musibah di zaman sekarang ini adalah wanita berhias kalau keluar rumah. Adapun kalau dalam rumah apa adanya dan memakai pakaian yang tidak menyenangkan suaminya. Kondisi yang demikian ini justru terbalik. Wanita itu dituntut untuk berhias untuk suaminya sendiri, bukan untuk suami orang. Wanita dituntut berhias untuk menyenangkan hati suami, bukan untuk menyenangkan hati suami orang lain. Akibatnya banyak mudarat yang terjadi antara kehidupan suami-istri. Akhirnya Si Suami pergi ke kantor, sedangkan di sana banyak teman-teman perempuan kerjanya yang berhias untuk dia. Begitu pula Si Istri keluar rumah yang berhias untuk suami orang lain.
Maka dari itu perkara ini harus diperhatikan oleh para wanita muslimah. Hendaknya mereka kalau berhias hanya untuk suaminya. Jika perkara ini diniatkan karena Allah ﷻ, maka akan berpahala. Selain itu hendaknya juga selalu menjaga fisik untuk menyenangkan suami. Penampilan diperhatikan, kesehatan pun diperhatikan. Sehingga suami kalau melihatpun merasa senang. Bahkan tidak mengapa jika istri meminta kepada suaminya untuk pergi ke salon agar bisa berpenampilan cantik di hadapan suaminya.
Kedua, mempercantik akhlaknya.
Kecantikan akhlak adalah yang lebih utama. Jika seorang wanita memiliki akhlak yang cantik, maka dia sangat enak dipandang oleh suaminya. Selalu taat kepada perintah suaminya dan tidak pernah mengeluh atau marah-marah. Sehingga suaminya betah melihatnya.
Yang paling utama adalah cantiknya akhlak daripada cantiknya fisik. Cantik fisik itu bisa berubah, karena semakin hari semakin kurang kecantikannya. Wanita jika sudah berada pada masa tuanya, maka kecantikannya mulai pudar. Kecantikan semakin luntur, tidak bisa dipaksa. Adapun kalau akhlak bisa semakin indah dan jika akhlak ini terjaga maka bisa semakin indah.
Kecantikan akhlak adalah yang lebih utama. Kalau seorang wanita hanya mengandalkan cantik fisik, banyak wanita-wanita yang lebih cantik. Akan tetapi kalau seorang wanita mengandalkan kecantikan akhlaknya, maka lelaki akan terpikat dengan kecantikan akhlaknya sebagai seorang istri. Intinya, di antara ciri wanita salihah berusaha menyenangkan suaminya.
- Enak diajak ngobrol oleh suaminya.
Ketika Nabi Adam ‘alaihissalâm diciptakan oleh Allah ﷻ dan surga sudah diciptakan untuk dimasuki oleh Nabi Adam ‘alaihissalâm, ternyata sebelum Allah ﷻ memasukkannya ke dalam surga, Allah ﷻ menciptakan Hawwa` terlebih dahulu. Percuma masuk surga, banyak makanan dan banyak minuman, tetapi tidak ada teman. Seorang laki membutuhkan teman. Allah ﷻ berfirman,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا﴾
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya.” (QS. An-Nisa`: 1)
﴿هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا لِيَسۡكُنَ إِلَيۡهَا﴾
“Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan darinya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raf: 189)
Jadi fungsi istri adalah menenteramkan suami, betah diajak ngobrol membuat suami nyaman mengobrol dengannya. Inilah istri yang salihah. Sehingga suaminya rindu ingin pulang ke rumah kalau di luar rumah, karena dia merasa tenteram dengan istrinya. Maka dikatakan oleh para ulama, ketika Allah ﷻ berfirman,
﴿وَقُلۡنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ﴾
“Dan Kami berfirman: “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga.” (QS. Al-Baqarah: 35)
Di antara hikmah kenapa Allah ﷻ menciptakan Hawwa` sebelum Allah ﷻ memasukkan Adam dan Hawwa` ke dalam surga adalah
الرَّفِيقَ قَبْلَ الطَّرِيق
“Teman (dibutuhkan) sebelum menempuh perjalanan.” ([13])
Kita butuh teman yang dekat, tempat kita ngobrol dan tempat curhat yang paling utama adalah istri kita. Maka wanita yang salihah siap diajak mengobrol oleh suaminya, bahkan memudahkan suaminya untuk mengobrol dengannya. Sehingga suaminya betah untuk pulang ke rumah. Kapan dia di luar rumahnya, ingin segera pulang ke rumah.
Di antara amalan yang disunahkan adalah suami dan istri saling mengobrol sebelum tidur. Diriwayatkan di dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,
بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ،
“Aku menginap di rumah bibiku Maimunah, maka Nabi Muhammad ﷺ berbincang-bincang dengan keluarganya sebentar, kemudian beliau tidur.” ([14])
Yang demikian ini menumbuhkan cinta kasih antara suami istri. Lihatlah pula bagaimana hadis tentang Ummu Zar’. ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bercerita tentang kisah 11 wanita sebagaimana dalam hadis yang panjang dan Nabi ﷺ mendengarkannya, kemudian mengomentarinya, mendengarkannya lagi, kemudian mengomentarinya lagi dan akhirnya beliau bersabda,
كُنْتُ لَكِ كَأَبِي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ إِلاَّ أَنَّ أَبَا زَرْعٍ طَلَّقَ وَأَنَا لاَ أُطَلِّقُ
“Aku bagimu seperti Abu Zar’ seperti Ummu Zar’ hanya saja Abu Zar’ mencerai dan aku tidak mencerai.”([15])
Rasulullah ﷺ mendengar obrolan istrinya yang panjang, kemudian dipahami, kemudian dikomentari oleh beliau ﷺ. Maka istri yang salihah menghidupkan suasana obrolan antara dia dengan suaminya. Hendaknya dia menyisihkan waktunya.
Masalahnya wanita di zaman sekarang disibukkan dengan media sosial. Masing-masing punya dunia sendiri. Suami pulang ke rumah di satu tempat tidur, tapi pikiran keduanya berbeda. Istrinya sibuk dengan gadgetnya dan suaminya juga sibuk dengan gadgetnya. Istrinya tertawa dengan teman-temannya di dalam gadgetnya dan suami tertawa dengan teman-temannya di gadgetnya. Istrinya sibuk menonton film Korea dan suaminya sibuk menonton film India. Bagaimana keduanya bahagia dengan kondisi seperti ini? Kehidupan rumah tangga menjadi kering dan sengsara. Seharusnya di dalam rumah, gadget ditinggalkan dan ditaruh, lalu suami-istri meluangkan waktunya untuk mengobrol dan mencari suasana yang saling memberikan kenyamanan. Itulah fitrah yang mana suami dekat dengan istri dan istri dekat dengan suami. Istri yang salihah berusaha menghidupkan suasana seperti ini sehingga suaminya merasa nyaman. Oleh karenanya, suami yang bahagia itu adalah suami yang sering ingin pulang ke rumah. Kalau tidak ingin pulang, maka berarti dia tidak menemukan kenyamanan dalam mengobrol dengan istrinya. Maka istri yang salihah berusaha untuk menumbuhkan kenyamanan obrolan antara dia dengan suaminya.
Tentunya suami-istri hendaknya memilih topik obrolan yang menyenangkan. Jangan mengobrol dalam hal-hal yang bisa menimbulkan perselisihan antara suami dan istri. Memilih topik yang menarik, seperti: tentang keagamaan, anak-anak atau keluarga dapat memberikan kenyamanan antara suami dan istri. Itu adalah ciri wanita yang salihah.
- Tidak pandai membuat makar terhadap suaminya
Istri yang salihah adalah dia yang tidak pandai membuat makar terhadap suaminya. Ada wanita yang pandai menipu suaminya. Misalnya istri diberi uang seratus ribu untuk belanja kebutuhan rumah/dapur, tetapi dia belanjakan 50 ribu dan sisanya dia sembunyikan atau meminta ijin kepada suaminya untuk mengaji, tetapi ternyata pergi ke tempat perbelanjaan. Ini merupakan perbuatan wanita yang membuat makar terhadap suaminya. Adapun istri yang salihah tidak pandai membuat makar terhadap suami.
Ketika ditanyakan kepada Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, “Siapakah wanita yang paling baik?” Maka beliau berkata,
التي لا تعرف عيب المقال ولا تهتدي لمكر الرجال فارغة القلب إلا من الزينة لبعلها
“Yaitu wanita yang tidak mengenal berucap kata-kata kotor dan tidak pandai berbuat makar kepada suaminya. Hatinya kosong, semuanya kecuali untuk berhias di hadapan suaminya.” ([16])
Wanita yang salihah tidak pandai mengucapkan kata-kata kotor, memaki suaminya, mengejek suaminya dan tidak pandai nyinyir suaminya. Tidak pernah berkata kepada suaminya dengan kata-kata yang menyakitkan. Tidak pandai mengucapkan kata-kata keji kepada suaminya atau membohonginya. Inilah wanita yang salihah menurut Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ.
Sebagian wanita luar biasa cerdiknya menipu dan membohongi suaminya. Adapun wanita salihah tidak pandai mengibuli suaminya.
- Segera mengakhiri permasalahan rumah tangga.
Di antara ciri wanita salihah adalah wanita yang kalau ada masalah dalam rumah tangga maka dia selalu ingin cepat selesai dari masalah tersebut. Dalam kehidupan rumah tangga pasti ada problematika, tapi dia tidak ingin memperpanjang permasalahan, dan ingin segera menuntaskannya.
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُودُ، الْوَلُودُ، الْعَؤُودُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِي إِذَا آذَتْ أَوْ أُوذِيَتْ، جَاءَتْ حَتَّى تَأْخُذَ بِيَدِ زَوْجِهَا، ثُمَّ تَقُولُ وَاللهِ لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى
“Maukah kalian aku beritahu wanita di antara kalian yang menjadi penghuni surga? Yaitu setiap wanita yang penuh kasih (kepada suaminya), banyak keturunannya, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika dia atau suaminya marah atau terganggu, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata, ‘Demi Allah, aku tidak dapat tidur sebelum engkau rida’.” ([17])
Ini wanita penghuni surga. Wanita yang seperti ini ada, tetapi langka. Kebanyakan wanita kalau ada masalah dengan suaminya, maunya suaminya yang minta maaf. Padahal, entah istri yang benar atau salah, maka sudah seharusnya istri yang meminta maaf kepada suami.
Wanita egonya tinggi, tidak mau meminta maaf, maunya justru suaminya meminta maaf kepadanya. Kalau ada masalah, ingin permasalahan diperpanjang, tidak ingin dipercepat atau segera diselesaikan. Begitu suaminya kabur dari rumah, baru istri bersedih. Adapun begitu jika suaminya datang, dia merasa senang tapi karena ego, malah suaminya diusir lagi.
Tentu saja ini adalah ego yang buruk. Apa baiknya hidup rumah tangga diisi dengan keributan- keributan? Hendaknya wanita meninggalkan egonya dan mengedepankan keridaan Allah ﷻ daripada mengedepankan egonya. Kalau ada masalah, dia ingin cepat selesai. Kalau bisa dia menyelesaikan masalah dengan diam, maka dia diam dan taat kepada suaminya. Dia mengambil tangan suaminya dan meminta maaf darinya sampai dia rida.
Rasulullah ﷺ tidak menyebutkan siapa yang benar atau siapa yang salah. Beliau ﷺ menyebutkan segala kemungkinan yang ada. Jika mungkin istri yang marah atau justru suaminya yang salah atau dalam kondisi suami yang benar dan istri salah atau istri benar dan suami salah, maka sifat wanita salihah adalah ingin cepat selesai permasalahan mereka. Dia mengalah, segera datang kepada suaminya dan meminta maaf kepadanya.
Jika para wanita ingin jadi penghuni surga dan ingin bahagia rumah tangganya, maka jangan memperpanjang masalah. Tidak baik seorang istri ribut dengan suaminya. Kalau ribut dengan orang lain yang jauh hubungannya dengan kita maka tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah kalau ribut dengan orang yang dekat kita. Ribut dengan teman kantor yang setiap hari ketemu, jadi menjengkelkan. Ribut dengan tetangga yang setiap hari melihat, jadi menjengkelkan. Paling tidak nyaman adalah jika ribut dengan pasangan kita, dia adalah orang yang paling dekat dengan kita.
Maka jika kita mengetahui tidak nyamannya ribut dengan pasangan, maka hendaknya kita jangan memperpanjang masalah. Hendaknya kita mengalah dan membuang ego karena Allah ﷻ, agar rumah tangga nyaman. Jangan menjadi tidak waras karena mengikuti ego. Tapi yang benar adalah ikuti keridaan Allah ﷻ. Siapa yang mengikuti keridaan Allah ﷻ dan membuang egonya, maka dia akan bahagia di dunia sebelum di akhirat.
- Membantu suaminya dalam bertakwa kepada Allah ﷻ.
Di antara ciri istri yang salihah adalah membantu suaminya dalam bertakwa kepada Allah ﷻ. Orientasinya adalah akhirat, bukan dunia. Betapa banyak wanita sekarang orientasinya adalah dunia. Pikirannya adalah memiliki tas baru, jam baru, mobil baru dan barang-barang baru lainnya atau jalan-jalan. Membuat suaminya pening memikirkannya, karena pikirannya dunia melulu, di luar dari kewajaran. Sekali-sekali ingin jalan-jalan tidak apa-apa, karena semua wanita juga menginginkannya.
Wanita salihah orientasinya adalah akhirat dan mengajak suaminya untuk memikirkan akhirat. Wanita salihah mengajak suaminya untuk taat kepada Allah. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ berkata:
لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً، تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ
“Hendaknya salah seorang dari kalian menjadikan hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri mukminat yang menolong salah seorang dari kalian dalam urusan akhiratnya.”([18])
Seorang istri selalu mempunyai ide untuk mengajak suaminya berbuat baik kepada anak yatim, menolong tetangganya, mengajaknya kepada pengajian, silaturahmi kepada orang tuanya dan juga saudara-saudaranya atau mengingatkannya agar tidak pelit atau sombong. Sungguh luar biasa setiap istri yang selalu mengingatkan suaminya pada akhirat.
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ، نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى، نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
“Semoga Allah akan merahmati seseorang yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan istrinya, apabila istrinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya, dan semoga Allah akan merahmati seorang istri yang bangun malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan suaminya, apabila suaminya enggan, maka istrinya akan memercikkan air ke muka suaminya.”([19])
Betapa suami bahagia ketika melihat istrinya bangun malam untuk mendirikan salat sunah. Kemudian berdoa dengan khusyuk, mendoakan suaminya dan anak-anaknya. Luar biasa kehebatan seorang wanita yang bangun malam untuk salat sunah, tidak dibangunkan, justru dia bangun malam sendiri.
Sebagian suami-istri sulit bangun malam untuk mendirikan salat sunah. Bahkan, sebagian mereka ada yang meninggalkan salah subuh. Kemudian berharap anak-anaknya menjadi anak-anak yang saleh-salihah. Bagaimana anak-anak mau menjadi saleh-salihah kalau ibunya selalu memikirkan dunia atau ayahnya meninggalkan salat? Bagaimana tidak sedih seorang suami ketika melihat istrinya sebelum tidur malah menonton film drama Korea. Suami yang memiliki istri seperti ini adalah sengsara. Maka hendaknya suami menasihati istrinya.
Para wanita jangan sampai menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya. Hidup hanya sebentar, tidak lama. Tidak dilarang memiliki dunia, kita berhak bahagia dengan dunia kita, tetapi orientasi kita harus akhirat. Setiap orang tidak dilarang mempunyai mobil mewah atau rumah yang bagus, dan itu tidak ada masalah, tetapi orientasinya harus akhirat. Jangan sampai dunia terus yang dipikirkannya.
([1]) Shahih Muslim, No. 1467.
([3]) Sunan At-Tirmidzi, no. 1159.
([5]) Tafsir ath-Thabari, (8/290).
([6]) HR. Al-Bukhari, No. 304, Shahih muslim, no.79.
([7]) HR. Ahmad No. 24427, dinyatakan sahih oleh Al-Arnauth.
([8]) HR. An-Nasai No. 3231, dinyatakan hasan sahih oleh Syaikh al-Albani.
([11]) Makna dari adalah agar wanita mencukur bulu kemaluannya. [Lihat: Umdah al-Qari, (20/76)].
([13]) Majma’ al-Amtsal, (1/303).
([15]) HR. Thabrani No. 270, dalam al-Mu’jam al-Kabir.
([16]) Muhadharah al-Udaba`, (2/222).
([17]) HR. An-Nasai No. 9094 dalam Sunan an-Nasai al-Kubra (8/251), Syekh Al-Albani berkata, para perawinya tsiqah standar perawi Imam Muslim, hanya saja ada perawi yang bercampur, akan tetapi hadis ini memiliki beberapa riwayat yang menguatkan. [Lihat: As-Silsilah ash-Shahihah No. 287].
([18]) HR. Ibnu Majah No. 1856, dinyatakan sahih oleh Syekh al-Albani.







