Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • AQIDAH
  • BANTAHAN
  • FIQIH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • AQIDAH
  • BANTAHAN
  • FIQIH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
Home TEMATIK

KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

Admin UFA by Admin UFA
February 13, 2026
in TEMATIK
Reading Time: 28 mins read
0
KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

Pembahasan tentang “Membangun Istana di Surga” adalah salah satu dari pembahasan tentang al-Imân bil Yaumil-Âkhir, beriman kepada hari kiamat. Di antara orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat akhirat. Oleh karenanya Rasulullah ﷺ menyuruh kita untuk sering mengingat kematian agar kita lebih mempersiapkan diri untuk bertemu dengan hari akhirat. Tentunya kita tidak ingin masuk pada alam berikutnya dengan kerugian, tetapi dengan kebahagiaan yang abadi.

Kita tahu hidup dunia ini cuma sebentar. Paling panjang mungkin seratus tahun, dan mungkin kurang. Setelah itu kita akan masuk pada alam berikutnya. Kita sudah melewati alam janin, sekarang kita sedang di alam dunia, selanjutnya kita masuk alam barzakh, selanjutnya kita akan dibangkitkan di padang mahsyar, dan setelah itu adalah surga atau neraka.

Sekarang destinasi kita masih di alam dunia. Di alam dunia kita semua bisa melihat di depan mata kita bagaimana status kita, status orang lain, atau status manusia dengan kemewahan yang masing-masing dimiliki oleh mereka. Allah ﷻ menyebutkan ini dalam Al-Qur`an. Sebagaimana di dalam surat Al-Isrâ`, Allah ﷻ berfirman,

Related Post

Sulitnya Menjaga Pahala Amal

Studi Banding Antara Nikmat Dunia & Nikmat Akhirat

Bekal Seorang Muslim

﴿كُلًّا نُّمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا. انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا﴾

“Kepada masing-masing (golongan), baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu itu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.”  (QS. Al-Isrâ`: 20-21)

Demikianlah level manusia di dunia. Ada yang rumahnya kecil, ada rumahnya besar. Ada yang mobilnya biasa, ada yang mobilnya mewah. Status ekonomi pun demikian. Ada yang sangat kaya, ada yang kaya, ada yang kaya biasa, ada yang sok kaya, ada yang baru mau kaya, ada yang miskin, dan ada yang sangat miskin. Kita sendiri pun tahu posisi level kita berada di mana dalam urusan dunia. Kita juga mampu menilai dan mengetahui posisi level tetangga dan juga kawan kita.

Sebagaimana kita bisa menilai dan melihat tingkatan-tingkatan manusia di dunia, maka di akhirat lebih banyak lagi levelnya daripada itu. Maka kalau kita sudah nyaman di dunia dengan level tertentu, jangan sampai level kita di akhirat justru berada di bawah. Sungguh sangat merugikan jika kita mendapati level kita di akhirat ternyata di bawah. Meskipun demikian, semua itu sangat mungkin terjadi. Makanya Allah ﷻ berfirman dalam surat Al-Wâqi‘ah,

﴿إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ. لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ. خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ﴾

“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorang pun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).” (QS. Al-Wâqi‘ah: 1-3)

Pada hari kiamat Allah ﷻ akan merendahkan atau mengangkat suatu golongan. Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa خَافِضَةٌ merendahkan orang yang disangka tinggi ketika di dunia dan رَّافِعَةٌ mengangkat orang yang disangka rendah ketika di dunia([2]). Segalanya di hari akhirat semua akan terungkap. Ada orang di dunia mungkin tinggi jabatannya, kaya raya, terkenal, tapi di akhirat ternyata levelnya sangat rendah. Pun sebaliknya, ada orang yang mungkin kita remehkan, sekadar tukang sapu atau asisten rumah tangga atau seseorang yang tidak terpandang, tapi ternyata di akhirat levelnya sangat tinggi. Yang demikian ini sangat mungkin terjadi.

Contoh sederhananya misalnya Penulis memiliki asisten rumah tangga. Dia bekerja berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Setiap dia dapat gaji, dia mengirim gajinya tersebut kepada orang tuanya. Mungkin kita tidak bisa seperti dia. Kita memandang pekerjaannya rendah, akan tetapi yang menakjubkan seratus persen penghasilannya diberikan kepada orang tua. Pandangan kita mungkin dia rendah, tapi ternyata mungkin di akhirat dia punya istana yang hebat karena amalannya tersebut. Oleh karenanya kita harus mempersiapkan diri selama kita berada di dunia.

Di dunia kita sangat perlu untuk mempersiapkan bekal akhirat. Silakan kita menikmati rezeki Allah ﷻ, tetapi jangan lupa persiapan lebih matang untuk destinasi berikutnya, yaitu alam barzakh. Makanya Allah ﷻ berfirman dalam surat Ar-Rûm ayat 44 yang berbunyi:

﴿مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ﴾

“Barang siapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung akibat kekafirannya itu; dan barang siapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (QS. Ar-Rûm: 44)

Banyak salaf yang mengatakan bahwa يَمْهَدُونَ maksudnya adalah kuburan, karena berasal dari kata مَهْدٌ maksudnya tempat tidur yang nyaman untuk bayi. Sebagaimana bayi disiapkan tempat tidur yang nyaman, maka amal saleh kita adalah persiapan tempat istirahat kita di alam barzakh. Karena di alam barzakh inilah manusia akan tinggal lebih lama. Destinasi yang akan dilalui semua manusia sebelum ke akhirat. ([3])

Inilah yang seharusnya menjadi renungan bagi setiap muslim. Kehidupan kita hanya sebentar. Mungkin antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun. Yang lebih dari itu pun tidak banyak. Walaupun ternyata ia hidup lebih lama, maka sering kali penuh keterbatasan, seperti: pikun, lupa, atau menyulitkan orang yang di sekitarnya, karena ia berada dalam أَرْذَلِ الْعُمُر ‘usia yang paling lemah’. Hidup semakin lama, justru semakin sulit dan menyulitkan orang sekitarnya. Dunia memang seperti itu. Oleh karena itu, pembahasan ini adalah tentang bagaimana menyiapkan istana di surga. Istana dunia mungkin bisa kita bangun atau mungkin tidak. Tapi istana di surga, semua bisa membangunnya. Kita tidak akan susah membangunnya asalkan ada kemauan. Silakan berbahagia di dunia, tetapi jangan lupa menyiapkan diri untuk meraih kebahagiaan di akhirat.

Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang surga,

الْجَنَّةُ مَا بِنَاؤُهَا؟ قَالَ: ((لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ، وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَاليَاقُوتُ، وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ مَنْ دَخَلَهَا يَنْعَمُ وَلَا يَبْأَسُ، وَيَخْلُدُ وَلَا يَمُوتُ، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ))

“Wahai Rasulullah! Surga itu bagaimana bangunannya? Maka beliau bersabda, ‘Surga itu bangunannya, batanya dari perak, batanya dari emas, semennya dari minyak kesturi([4]), kerikilnya dari mutiara dan berlian dan tanahnya dari za’faran([5]). Barang siapa yang memasukinya maka ia akan bahagia dan tidak akan sengsara sama sekali. Ia kekal dan tidak mati. Pakaiannya tidak akan usang dan masa mudanya tidak akan sirna.” ([6])

Inilah gambaran kenikmatan surga sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas.

Adapun rumah dunia, seindah apa pun itu, maka kita tidak akan menikmatinya selamanya. Raja-raja membangun istana megah, namun akhirnya mereka mati, meninggalkannya dan tidak mampu menikmatinya selamanya. Kita pun demikian, perhatian kita terhadap rumah dunia sangat besar. Jika kita berpikir mempunyai uang, maka kita pasti memilih tempat yang bagus dan nyaman, lalu akan membangun rumah yang seindah-indahnya. Padahal kita tinggal di dunia hanya sebentar. Walaupun kita sudah semakin tua, maka kita pun tidak akan merasa nyaman, karena nikmat dunia akan semakin sulit untuk dirasakan.

Berbicara tentang istana surga yang abadi, maka hendaknya kita mempersiapkan diri untuk membangun istana di surga yang abadi itu. Ada beberapa amalan yang bisa kita lakukan sesuai kemampuan kita agar kita mampu memiliki istana di surga. Amalan ini pun diperlukan kerja sama antara suami dan istri. Kita semua ingin bahagia bukan hanya di dunia, tetapi juga bahagia di akhirat. Di antara amalan-amalan agar mempunyai istana di surga adalah:

  1. Membangun Masjid

Amalan pertama yang sangat masyhur agar Allah ﷻ membangunkan kita istana di surga adalah dengan membangun masjid. Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Utsman bin Affan radhiyallâhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

((مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ))

“Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan baginya yang semisalnya di surga.”[7]

Ketika perawi dari kalangan sahabat ini sangat banyak, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sering sekali menyampaikan hadis tersebut. Juga menunjukkan bahwa beliau sering kali memberikan motivasi untuk membangun masjid karena Allah ﷻ. Barang siapa yang memiliki rezeki yang melimpah, kemudian membangun masjid karena Allah ﷻ, maka ia akan mendapatkan istana di surga.

Pada saat Nabi Muhammad ﷺ berhijrah dan ketika sampai pada kota Madinah, hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid. Beliau ﷺ berjalan hingga unta yang beliau e tunggangi tersebut melewati kediaman Bani Malik bin an-Najjar dan akhirnya menderum pada tempat pengeringan kurma yang kelak akan dibangun Masjid Nabawi. Nabi e-pun bertanya mengenai siapa pemilik tempat tersebut, maka Mu’adz bin Afra’ mengatakan kepada beliau bahwa ia milik Sahl dan Suhail dua anak yatim bersaudara dari bani an-Najjar.([8])

Kemudian Nabi e meminta untuk bertemu dengan keduanya dan menawarkan kepada mereka untuk menjual tanah milik mereka ini kepada beliau e untuk dibangun sebuah masjid. Hanya saja keduanya menolak untuk menjualnya kepada Nabi e dan lebih memilih untuk menjadikan tanah tersebut sebagai hibah. Akan tetapi beliau e menolak dan tetap meminta agar tanah tersebut dijual kepadanya, hingga akhirnya mereka menyetujui untuk menjualnya kepada beliau e dan beliau pun mulai membangun masjid di tanah tersebut.([9])

Membangun masjid harus karena Allah ﷻ. Jika membangun masjid bukan karena Allah ﷻ maka tidak ada faedahnya. Oleh karenanya di antara hal rawan yang diingatkan oleh Ibnu Hajar rahimahullâh adalah orang yang membangun masjid, lalu mencantumkannya atas namanya pribadi. Yang dikhawatirkan adalah akan rawan orang tersebut dijauhkan dari ikhlas([10]). Perbuatan itu membuat orang-orang menyangka bahwa masjid tersebut yang membangunnya adalah dirinya sendiri. Perkara ini bukanlah larangan akan tetapi lebih kepada kewaspadaan. Karena masjid itu sejatinya milik Allah ﷻ.

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn: 8)

Pada zaman dahulu banyak masjid yang tanpa nama. Justru nama masjid tersebut dinisbahkan pada lokasi masjid itu dibangun. Contohnya adalah Masjid Quba` karena dibangun di daerah Quba` atau Masjid Zuraiq karena dibangun di pemukiman bani Zuraiq atau Masjid Nabawi karena Nabi Muhammad ﷺ yang membangun dan menanganinya secara langsung. Sehingga tujuannya adalah untuk membedakan antara satu masjid dengan masjid lainnya.

            Seseorang yang membangun masjid, maka sejatinya ia membutuhkan biaya yang sangat banyak. Jika dia membangun dengan niat yang tidak ikhlas, maka ia mendapatkan kerugian yang besar. Seorang yang niatnya ria kemudian balasannya tidak mendapatkan pahala sama sekali –meskipun kerugiannya besar-, namun itu lebih ringan dari pada ia termasuk orang yang diancam dengan siksa neraka Jahanam. Maka, hendaknya seseorang ketika membangun masjid benar-benar meluruskan niatnya karena Allah ﷻ. Balasan bagi orang yang membangun masjid karena Allah ﷻ adalah dibangunkan istana di surga. Tentu saja istana di surga sangat jauh berbeda dengan istana di dunia. Istana di surga tidak bisa dibayangkan dengan masjid di dunia, karena keindahan surga jauh lebih luar biasa daripada di dunia.

            Bagaimana Allah ﷻ tidak peduli dengan hamba-Nya tersebut, karena ia telah membangun rumah-Nya di dunia. Lihatlah kisah tentang wanita berkulit hitam yang gemar membersihkan masjid. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu berkata,     

أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ، أَوْ شَابًّا فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَسَأَلَ عَنْهَا، أَوْ عَنْهُ، فَقَالُوا: مَاتَ قَالَ: أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي، قَالَ: فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا، أَوْ أَمْرَهُ فَقَالَ: ))دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ(( فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ: ))إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا، وَإِنَّ اللهَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ((

“Sesungguhnya ada seorang perempuan berkulit hitam atau seorang pemuda yang suka menyapu masjid, lalu Rasulullah ﷺ kehilangan sosoknya, lalu beliau ﷺ pun menanyakan keberadaannya. Para sahabat berkata, ‘Dia telah meninggal dunia’. Maka beliau ﷺ bertanya, ‘Mengapa kalian tidak memberitahuku?’ Seakan-akan mereka menganggap rendah perkara tersebut. Beliau ﷺ berkata lagi, ‘Tunjukkan kepadaku di mana kuburannya’. Mereka menunjukkannya kepada beliau, lalu beliau menyalatkannya. Kemudian beliau ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya penghuni kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan, dan sungguh Allah meneranginya dengan salatku kepadanya’.” ([11])

            Jika orang tersebut ada di zaman kita saat ini, tentu banyak orang yang tidak menaruh perhatian kepadanya. Seorang yang berkulit hitam dan hanya menyapu masjid. Namun bagi Nabi Muhammad ﷺ sosok tersebut bukanlah orang yang patut untuk diremehkan, justru ia adalah orang yang spesial, karena ia mengurus rumah Allah ﷻ.

Membangun masjid tidak harus menjadi orang kaya terlebih dahulu. Orang yang hendak membangun masjid tidak harus mempunyai uang miliaran rupiah. Subhanallah, agama Islam ini mudah. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

))مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ((

“Barang siapa membangun masjid karena Allah meski hanya seukuran lubang tempat burung bertelur atau lebih kecil dari itu, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” ([12])

            Ada dua penafsiran maksud dari كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ. Penafsiran pertama, ungkapan tersebut merupakan bentuk mubalaghah/hiperbola dari Nabi Muhammad ﷺ([13]). Maksudnya membangun masjid dengan apa pun itu bentuknya. Yang penting itu adalah masjid. Andai ada masjid dengan ukuran kecil dan bisa digunakan untuk salat, maka orang yang membangunnya akan dibangunkan istana di surga. Kalo di tanah air mungkin bisa juga dinamakan dengan mushalla, tempatnya kecil namun mampu menampung beberapa orang untuk mendirikan salat. Meskipun tidak digunakan untuk mendirikan salat Jumat, tetapi sering digunakan untuk mendirikan salat 5 waktu. Barang siapa yang mampu membangun masjid meskipun kecil maka Allah ﷻ tetap akan membangunkan baginya istana di surga. Selagi seseorang mampu membangun masjid meskipun dengan ukuran yang kecil dan sederhana, kemudian memberikan perhatian padanya, maka sejatinya ia juga sedang membangun dan memberikan perhatian pada istananya di surga.

            Penafsiran kedua, adalah barang siapa yang ikut andil dalam pembangunan masjid meskipun sedikit, maka ia akan mendapat bagian istana di surga([14]). Tentunya istana yang satu berbeda dengan istana yang lain. Yang paling penting adalah ia sudah memiliki andil dan saham dalam membangun masjid. Jika seseorang memiliki harta yang banyak, maka membangun masjid dengan hartanya sendiri itu lebih baik, namun jika tidak mampu maka cukup baginya dengan turut andil dalam pembangunan.

            Inilah salah satu amalan saleh yang luar biasa dan membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, dikarenakan membangun masjid sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi di zaman sekarang, nilai tanah yang semakin mahal dan harga bangunan yang juga semakin tinggi.      Jadi di antara infak dan sedekah terbaik adalah dengan membangun masjid.

  • Membaca surah Al-Ikhlas 10 kali

Amalan ini sangat mudah, bahkan bisa dilakukan sambil duduk, berjalan, atau sambil menunggu jemputan sekalipun. Yaitu membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak sepuluh kali. Hadisnya hasan, dari Mu’adz bin Anas al-Juhani radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

((مَنْ قَرَأَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ، بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ))

“Barang siapa yang membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ sampai selesai sebanyak sepuluh kali, maka Allah akan bangunkan baginya sebuah istana di surga.” ([15])

            Jika seseorang tidak mampu meraih ganjaran membangun istana di surga dengan amalan membangun masjid, maka ia bisa meraihnya dengan membaca surah Al-Ikhlâs sepuluh kali dan berusaha memahaminya dengan baik. Oleh karenanya, surah Al-Ikhlâs disebut dengan sepertiga Al-Qur`an. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

((قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ))

“Qul Huwallahu Ahad sebanding dengan sepertiga Al-Qur`an.”([16])

            Disebut dengan surah Al-Ikhlâs, sementara di dalamnya tidak ada lafal Al-Ikhlâs. Dinamakan dengan Al-Ikhlâs, karena surah tersebut dimurnikan untuk berbicara tentang sifat-sifat Allah ﷻ. Para ahli tafsir menyebutkan tentang sebab turunnya ayat ini adalah ketika orang-orang musyrikin datang kepada Nabi Muhammad ﷺ dan berkata,

انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ

“Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?”

Maka turunlah firman Allah ﷻ surah Al-Ikhlâs kepada Nabi untuk menjawab pertanyaan kaum musyrikin.([17])

            Surah ini benar-benar menjelaskan tentang Allah ﷻ. Jika kita sederhanakan surah ini menjelaskan tentang syarat Tuhan. Hakikat Tuhan yang sebenarnya adalah sebagaimana dijelaskan di dalam surah Al-Ikhlâs. Tuhan harus Esa. Tuhan tidak butuh kepada apa pun dan segala apa pun butuh kepada-Nya. Tuhan tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Tidak ada sesuatu apa pun yang setara dengan Tuhan. Inilah syarat-syarat menjadi Tuhan. Jika ada Tuhan tapi tidak memenuhi syarat yang dicantumkan dalam ayat tersebut, maka sejatinya ia bukan Tuhan.

            Ketika Nabi Muhammad ﷺ berdiskusi dengan kaum Nasrani Najran karena menganggap Nabi Isa alaihissalâm sebagai Tuhan. Dalam sebagian riwayat menjelaskan di antara logika yang digunakan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah jika memang Nabi Isa alaihissalâm adalah Tuhan, maka harus mirip dengan ayahnya, karena dari sisi nasab keturunan seorang anak akan mirip dengan ayah. Disebutkan di dalam Al-Qur`an surah az-Zukhruf ayat 81 berbunyi:

﴿قُلْ إِن كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ﴾

“Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).”  (QS. Az-Zukhruf: 81)

Realitasnya Nabi Isa ‘alaihissalâm makan, tidur, takut, sakit, dan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri ketika dikejar-kejar kaum Romawi atau Yahudi. Akhirnya Allah ﷻ menyelamatkan beliau. Bantahan Allah ﷻ kepada orang-orang Nasrani ketika menganggap Nabi Isa ‘alaihissalâm sebagai Tuhan adalah firman Allah ﷻ yang berbunyi:

﴿إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴾

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Âli-‘Imrân: 59)

Allah ﷻ menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalâm tanpa ayah dan ibu. Sedangkan Nabi Isa ‘alaihissalâm diciptakan melalui seorang ibu. Tentu saja penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalâm lebih dahsyat dan menakjubkan dari pada penciptaan Nabi Isa ‘alaihissalâm. Secara logika setiap orang akan memahami ini dan pasti akan menerima argumen ini.

Allah ﷻ berfirman,

﴿مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ﴾

“Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS. Al-Ma`idah: 75)

Jika Nabi Isa ‘alaihissalâm adalah Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan makan? Tuhan yang memasukkan sesuatu ke dalam zatnya, maka sejatinya tidak pantas menjadi Tuhan.

Maka ketika kita membaca Surah Al-Ikhlâs, hendaknya kita membacaya dengan penuh penghayatan bahwasanya Islam adalah agama tauhid. Yang kita sembah adalah Rabb yang sebenarnya, yaitu Allah ﷻ. Adapun selain Allah ﷻ tidak pantas untuk menjadi Tuhan. Dialah Allah ﷻ, Yang Maha Esa. Tidak boleh berbilang. Semua makhluk butuh kepada Allah ﷻ dan Dia tidak butuh kepada siapa pun.

Adapun yang dianggap Tuhan tetapi dia butuh makan, istirahat, teman atau perlindungan, maka sejatinya ia bukan Tuhan. Allah ﷻ tidak melahirkan. Jika Tuhan melahirkan, maka Tuhan tidak esa karena kehadiran anaknya yang mirip dengan ayahnya sebagai Tuhan.

Adapun Allah ﷻ tidak dilahirkan dan tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan-Nya. Barang siapa yang membacanya sebanyak sepuluh kali sekaligus menghayatinya, maka Allah ﷻ akan membangunkan istana baginya di surga.

  • Memuji Allah ﷻ dan beristirja’ ketika ditimpa musibah meninggalnya anak.

Setiap manusia tidak menginginkan jika buah hatinya jauh darinya atau mungkin meninggal dunia. Namun ia tidak mampu menahannya jika itu sudah menjadi keputusan Allah ﷻ. Tentu saja ini merupakan ujian yang sangat berat. Namun bagi orang tua yang bersabar dan tetap memuji Allah ﷻ, maka Allah akan sediakan tempat istimewa baginya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang percakapan antara Allah ﷻ dan malaikat yang mencabut nyawa anak seorang hamba,

((إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ، فَيَقُولُ اللَّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ))

“Jika anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Apakah kalian telah mencabut anak hambaku?’ Mereka menjawab: ‘Ya’. Allah berfirman: ‘Apakah kalian telah mencabut buah hatinya?’ Mereka menjawab: ‘Ya’. Allah bertanya: ‘Apa yang dikatakan hambaku?’ Mereka menjawab: ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’. Allah berkata, ‘Bangunkanlah untuk hambaku satu rumah di surga, dan berilah nama dengan Baitul Hamdi’.”([18])

Baitul Hamdi maksudnya adalah rumah pujian. Disebut Baitul Hamdi, karena di saat paling sedih, dia masih bisa mengucapkan alhamdulillah ‘ala kulli hal. Dia rida dengan takdir Allah ﷻ dan memujiNya. Ini adalah salah satu amalan yang luar biasa. Nas hadis menyebutkan tentang anak yang meninggal dunia. Ini tentu menjadi ujian yang sangat barat. Anak yang merupakan buah hati dari kedua orang tuanya, namun ternyata meninggal dunia.

Nabi ﷺ pun pernah diuji dengan cobaan ini. Beliau ﷺ memiliki tujuh anak, tetapi semuanya meninggal dunia. Mereka adalah Abdullah, al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Ibrahim dan Fathimah. Enam di antara mereka meninggal dunia pada zaman Nabi Muhammad ﷺ. Adapun Fathimah meninggal dunia setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Anak beliau yang bernama Ibrahim meninggal dunia di pangkuan beliau ﷺ, hingga berlinang air mata beliau dan bersabda,

((إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ ))

“Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridai oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim.”([19])

Kehilangan seorang buah hati adalah ujian yang sangat berat. Perkara tersebut semakin berat setelah itu ia memuji Allah ﷻ atas ujian yang diberikan kepadanya. Demikianlah dunia, semakin seseorang mencintai sesuatu, maka semakin berat berpisah darinya. Jika tidak cinta maka tidak memberikan masalah yang besar. Oleh karenanya, suatu ketika Jibril ‘alaihissalâm datang kepada Nabi Muhammad ﷺ lalu berkata,

يَا محَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemuliaan seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk salat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.” ([20])

Semakin kita mencintai seseorang, maka akan semakin berat ketika kita berpisah darinya. Jika ia berpisah dari orang yang kita cintai maka pahalanya sangat besar jika dia bersabar dan berserah diri kepada Allah ﷻ. Makanya ketika seseorang diuji dengan kehilangan seseorang yang dicintainya, hendaknya ia mengucapkan ‘Alhamdulillah ‘ala kulli hal’  (Segala puji bagi Allah atas segala keadaan). Mengucapkan kalimat itu untuk merenungkan bahwasanya di balik ujian tersebut pasti ada hikmah yang kita tidak tahu. Allah ﷻ Maha mengetahui segala keadaan yang terjadi. Allah ﷻ lebih sayang hamba-Nya dari pada kita sendiri.

Selain mengucapkan kalimat pujian kepada Allah ﷻ, hendaknya orang yang mengalami musibah juga mengucapkan kalimat istirja’, yaitu:

إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Kisah menakjubkan dari kalimat ini adalah sebagaimana kisah Ummu Sulaim radhiyallâhu ‘anhâ yang telah menikah dengan Abu Thalhah. Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya. Maka jadilah Abu Thalhah sebagai bapak tiri Anas bin Malik radhiallahu anhu. Dari pernikahan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, lahirlah seorang anak yang sangat dicintainya. Anak tersebut adalah Abu Umair yang Nabi ﷺ pernah bercanda kepadanya dengan menanyakan burung peliharaannya yang telah mati. Nabi ﷺ waktu itu berkata kepadanya,

((يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ))

“Wahai Aba Umair, apa yang terjadi dengan burung kecilmu itu?” ([21])

Abu Umair inilah anak Abu Thalhah dari pernikahannya dengan Ummu Sulaim. Kemudian Anas bin Malik radhiallahu anhu bercerita dalam Musnad Imam Ahmad,

اشْتَكَى ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَتُوُفِّيَ الْغُلَامُ، فَهَيَّأَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ الْمَيِّتَ. وَقَالَتْ لِأَهْلِهَا: لَا يُخْبِرَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ أَبَا طَلْحَةَ بِوَفَاةِ ابْنِهِ، فَرَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ، وَمَعَهُ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْمَسْجِدِ مِنْ أَصْحَابِهِ. قَالَ: مَا فَعَلَ الْغُلَامُ؟ قَالَتْ: خَيْرُ مَا كَانَ، فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِمْ عَشَاءَهُمْ، فَتَعَشَّوْا وَخَرَجَ الْقَوْمُ، وَقَامَتِ الْمَرْأَةُ إِلَى مَا تَقُومُ إِلَيْهِ الْمَرْأَةُ، (وفي رواية أخرى: ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ، فَوَقَعَ بِهَا) فَلَمَّا كَانَ آخِرُ اللَّيْلِ، قَالَتْ: يَا أَبَا طَلْحَةَ، أَلَمْ تَرَ إِلَى آلِ فُلَانٍ اسْتَعَارُوا عَارِيَةً فَتَمَتَّعُوا بِهَا، فَلَمَّا طُلِبَتْ كَأَنَّهُمْ كَرِهُوا ذَاكَ. قَالَ: مَا أَنْصَفُوا، قَالَتْ: فَإِنَّ ابْنَكَ كَانَ عَارِيَةً مِنَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَإِنَّ اللَّهَ قَبَضَهُ فَاسْتَرْجَعَ وَحَمِدَ اللَّهَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، (وفي رواية أخرى: فَقَالَ: أَعْرَسْتُمَا اللَّيْلَةَ، قَالَ: نَعَمْ) فَقَالَ: ((بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا)) ، فَحَمَلَتْ بِعَبْدِ اللَّهِ فَوَلَدَتْهُ لَيْلًا، وَكَرِهَتْ أَنْ تُحَنِّكَهُ حَتَّى يُحَنِّكَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَحَمَلْتُهُ غُدْوَةً، وَمَعِي تَمَرَاتُ عَجْوَةٍ، فَوَجَدْتُهُ يَهْنَأُ أَبَاعِرَ لَهُ، أَوْ يَسِمُهَا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ وَلَدَتِ اللَّيْلَةَ، فَكَرِهَتْ أَنْ تُحَنِّكَهُ حَتَّى يُحَنِّكَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: ((أَمَعَكَ شَيْءٌ؟)) قُلْتُ: تَمَرَاتُ عَجْوَةٍ، فَأَخَذَ بَعْضَهُنَّ فَمَضَغَهُنَّ، ثُمَّ جَمَعَ بُزَاقَهُ فَأَوْجَرَهُ إِيَّاهُ، فَجَعَلَ يَتَلَمَّظُ، فَقَالَ: ((حُبُّ الْأَنْصَارِ التَّمْرَ)) قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ سَمِّهِ، قَالَ: ((هُوَ عَبْدُ اللَّهِ))

“Anak Abu Thalhah menderita sakit. Sementara Abu Thalhah pergi ke masjid, anak tersebut meninggal. Lalu Ummu Sulaim mengurus jenazah anaknya dan berpesan kepada keluarganya, ‘Jangan salah seorang pun dari kalian mengabarkan kepada Abu Thalhah tentang kematian putranya’. Kemudian Abu Thalhah pulang kepada keluarganya, bersama teman-temannya dari masjid. Dia berkata, ‘Bagaimana kondisi anak kita?’. Ummu Sulaim berkata, ‘Lebih baik dari sebelumnya’. Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makanan kepada suami dan tamunya dan mereka pun makan, setelah itu mereka pulang. Dan Ummu Sulaim menyiapkan diri sebagaimana harusnya seorang istri (dalam riwayat yang lain, Ummu Sulaim berhias lebih cantik daripada hari biasanya hingga Abu Thalhah menggaulinya). Di akhir malam Ummu Sulaim berkata, ‘Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu terhadap suatu keluarga, mereka meminjam suatu barang, dan mereka betul-betul dapat menikmati barang tersebut, lalu ketika yang punya barang memintanya, mereka enggan mengembalikannya?’ Abu Thalhah menjawab, ‘Mereka tidak adil’. Lalu Ummu Sulaim melanjutkan perkataannya, ‘Sesungguhnya anakmu adalah titipan Allah dan Dia sudah mengambilnya’. Maka Abu Thalhah mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan memuji Allah. Ketika pagi sudah tiba Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah ﷺ (menceritakan kejadian yang dialaminya). (Dalam riwayat lain Rasulullah berkata, ‘Apakah semalam kalian berhubungan?’ Abu Thalhal berkata, ‘Iya’). Maka Rasulullah berkata, ‘Semoga Allah ﷻ memberkahi malam kalian berdua’. Maka Ummu Sulaim hamil dan melahirkan di malam hari. Ummu Sulaim tidak mau mentahnik putranya sampai Nabi ﷺ yang mentahniknya. Maka aku pun membawanya (putra Abu Thalhah) pada pagi hari dengan membawa kurma ajwa kepada Rasulullah ﷺ. Lalu aku mendapati beliau sedang memberi tanda bagi unta-untanya. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya semalam Ummu Sulaim telah melahirkan seorang anak, dan dia tidak mau mentahniknya sebelum engkau melakukannya’. Kemudian Rasulullah berkata, ‘Apakah engkau membawa sesuatu?’ Aku berkata, ‘Beberapa kurma Ajwa’. Maka beliau mengambil beberapa biji kurma dan mengunyahnya, lalu beliau mengumpulkannya seraya memasukkannya ke dalam mulut bayi tersebut, maka bayi tersebut menghisap-hisap jari Nabi. Kemudian Nabi berkata, ‘Kurma adalah sesuatu yang paling disukai oleh orang Anshar’. Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, berikanlah nama kepada bayi ini’. Beliau bersabda: ‘Namanya Abdullah’.”([22])

Hadis ini menunjukkan tentang wanita yang luar biasa sabar dan mampu untuk membuat sabar suaminya. Jika seseorang mengalami musibah maka hendaknya ia segera memuji Allah ﷻ dan mengucapkan kalimat istirja’. Agar kita tahu bahwa kita benar-benar hamba Allah dan bisa mengambilnya kapan saja. Setelah mengucapkan kalimat itu, maka Allah ﷻ akan memberikan takdir yang terbaik bagi kita. Kalimat ini diucapkan pada saat tertimpa segala musibah apa pun.

Di dalam hidup ini tidak ada satu manusia pun yang tidak tertimpa musibah. Semua orang pernah mengalami musibah. Semakin dicintai oleh Allah ﷻ, maka akan semakin banyak musibahnya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

((إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ))

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang rida terhadap ujian itu, maka baginya ridha Allah dan barang siapa yang murka terhadap ujian itu, maka baginya murka Allah.”([23])

Maka orang yang paling banyak mengalami musibah adalah para nabi dan orang-orang saleh. Namun Nabi Muhammad ﷺ pernah ditanya siapa manusia yang paling berat ujiannya, maka beliau ﷺ menjawab,

((الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ، فَالْأَمْثَلُ مِنَ النَّاسِ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلابَةٌ زِيدَ فِي بَلائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ، وَمَا يَزَالُ الْبَلاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ لَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ))

“Para Nabi, lalu orang-orang saleh, kemudian orang yang paling mulia dan yang paling mulia dari manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka akan ditambah ujiannya, dan jika agamanya lemah maka akan diringankan ujiannya. Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa dosa.”([24])

Para nabi dan orang-orang saleh ketika diuji oleh Allah ﷻ tidak banyak mengeluh. Manusia tidak mengetahui bahwa ternyata mereka ini telah banyak mengalami ujian dari Allah ﷻ. Namun mereka hanya mengeluhkan penderitaannya hanya kepada Allah ﷻ. Mereka tahu bahwa inilah konsekuensi cinta Allah kepada hamba-Nya. Jadi orang-orang yang dicintai oleh Allah ﷻ pasti diuji.

  • Membaca doa ketika memasuki pasar

Amalan membaca doa ketika masuk pasar adalah salah satu kiat seseorang memiliki istana di surga. Pasar adalah tempat yang banyak kelalaian, dan di sanalah tempat bersarangnya para setan. Namun jika seseorang mengingat Allah ﷻ di sana, maka pahalanya besar. Doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah:

((لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ))

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan, bagiNya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tanganNya kebaikan. Dia-lah Yang Maha kuasa atas segala sesuatu.”([25])

Barang siapa yang membaca doa tersebut ketika masuk pasar, maka sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

((كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ))

“Maka Allah akan mencatat baginya sejuta kebaikan dan menghapus sejuta keburukan dan membangunkan baginya istana di surga.”([26])

  • Menutup celah saf salat

Amalan kelima adalah menutup celah saf dalam salat berjamaah. Nabi ﷺ bersabda,

((مَنْ سَدَّ فُرْجَةً في صَفٍّ رَفَعَهُ الله بهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَه بَيتًا الْجَنَّةِ))

“Barang siapa menutup celah saf, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan membangunkan baginya istana di surga.” ([27])

Surga sangat luas. Allah ﷻ mampu membangun istana yang besar atau kecil, semuanya di bawah kehendak-Nya. Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan petunjuk amalan yang kecil namun pahala sangat besar, maka sudah selayaknya kita mengamalkan petunjuk ini. Kapan pun kita mendapati celah kosong di dalam saf maka hendaknya kita menutup celah tersebut dengan salat di tempat itu. Sebelum salat Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan kepada para sahabat,

((وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ))

“Lembutlah di tangan-tangan saudara kalian. Jangan biarkan celah-celah untuk setan.” ([28])

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ﴾

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.” (QS. Al-Mujâdilah: 11)

  • Menjaga salah sunah rawatib

Ummu Habibah radhiyallâhu ‘anhâ meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

((مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ))،  وَفِي رِوَايَةٍ: ((تَطَوُّعاً))

“Barang siapa melakukan Salat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” ([29])Dalam suatu riwayat disebut, “Salat tathawwu’, salat sunnah.”

Salat sunah dua belas rakaat yang didirikan usai salat fardu adalah:

  • Empat rakaat sebelum zuhur
  • Dua rakaat sesudah zuhur
  • Dua rakaat sesudah magrib
  • Dua rakaat sesudah isya
  • Dua rakaat sebelum subuh

Ummu Habibah radhiyallâhu ‘anhâ berkata,

فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ

“Maka aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.”([30])

Masalah salat sunah rawatib ini yang lebih meninggalkannya adalah kaum wanita. Berbeda dengan kaum pria, mereka mendirikan salat fardu di masjid. Sehingga sebelum mendirikan salat fardu, mereka terkondisikan untuk mendirikan salat sunah rawatib. Padahal perawi hadis ini adalah seorang wanita, sahabiyah yang mulia. Lalu yang meriwayatkan dari Ummu Habibah adalah ‘Anbasah, ia berkata:

فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ أُمِّ حَبِيبَةَ

“Maka aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Ummu Habibah.”([31])

Amru bin Aus yang meriwayatkan dari ‘Anbasah juga berkata,

مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَنْبَسَةَ

An-Nu’man bin Salim yang meriwayatkan dari Amru bin Aus juga berkata,

مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ

“Maka aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Amru bin Aus.”([32])

Para perawi yang meriwayatkan hadis ini tidak pernah meninggalkan amalan tersebut sejak mendengarnya. Tentu saja kondisi kita saat ini sangat jauh tertinggal dengan mereka. Alasan utama jika kita ditanya kenapa tidak mampu mengamalkan hadis ini, mungkin jawabannya adalah waktu yang sempit atau sibuk. Padahal sering kali kita menghabiskan waktu kita untuk nonton atau mengobrol. Salat sunah dua rakaat berasa sempit waktunya untuk melakukannya, tetapi jika membaca berita seolah dia memiliki waktu yang sangat longgar. Maka kunci utamanya ada pada tekad dan kemauan kita untuk mengamalkan hadis ini.

Apakah Allah ﷻ akan membangunkan istana setiap kali seorang hamba menunaikan salat rawatib 12 rakaat atau ia akan dibangunkan istana jika menunaikannya secara kontinu? Terdapat khilaf dari para ulama dalam masalah ini. Pendapat pertama, secara lahir hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Habibah, seseorang yang menunaikannya sehari semalam sebanyak 12 rakaat maka akan dibangunkan istana di surga, tanpa ada syarat harus dikerjakan secara berkesinambungan. Jadi setiap kali ia menunaikannya sebanyak 12 rakaat selama sehari semalam, maka ia akan mendapatkan istana baru dari Allah ﷻ.

Pendapat kedua, sebagian ulama berpendapat seseorang harus kontinu menunaikan hadis ini agar meraih istana di surga([33]). Hal ini diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

 ((مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ))

“Barang siapa yang bersabar dan kontinu menjaga dua belas rakaat sunah, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga.” ([34])

Penulis mendorong kepada setiap pembaca untuk memberikan perhatian yang besar pada amalan salat sunah. Dikarenakan Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

((أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ))

“Amalan pertama seorang hamba yang dihisab adalah salat.” ([35])

Jika salatnya baik, maka ia akan selamat. Adapun jika salatnya rusak, maka akan merugi. Dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

((أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ))

“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah Salat. Apabila Salatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila Salatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk.” ([36])

Sehingga hadis ini menunjukkan bahwa barometer amalan hamba adalah salat. Tidak ada salat fardu yang sempurna dari salatnya para hamba. Maka cara untuk menambal tidak sempurnanya salat fardu tersebut. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

((إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ))

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah salatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses. Bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila ada kekurangan sedikit dari salat wajibnya maka Allah ﷻ berfirman, “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki salat tathawwu’ (sunnah)?” Lalu salat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian.” ([37])

Maka seorang muslim jangan pernah menyepelekan salat sunah. Hendaknya ia menjaga salat rawatib ini semampunya. Meskipun terkadang sulit baginya untuk mendapatkan kekhusyukan dalam salat, maka tetap jangan malas untuk mendirikan salat. Selama kita masih hidup dan mampu berdiri untuk menunaikan salat, maka hendaknya kita tidak meninggalkannya.


[1] Untuk membuat catatan tepi menggunakan komentar di Microsoft Word, Anda cukup memblok kata atau kalimat yang ingin diberi catatan, lalu membuka tab Review dan memilih New Comment, kemudian mengetikkan catatan Anda di panel komentar yang muncul di sisi kanan.

([2]) Lihat: Tafsîr al-Qurthubî, (17/196).

([3]) Lihat: Tafsîr al-Qurthubî, (14/42).

([4]) Minyak kesturi (الْمِسْكُ) adalah minyak yang diambil dari rusa. Minyak kesturi alami terbentuk dari hasil sekresi kelenjar bintil atau kantong yang terletak di antara pusar dan alat kelamin rusa jantan. Cairan ini awalnya dihasilkan untuk menarik perhatian lawan jenis, yang kemudian mengental, mengeras, dan menghitam seiring berjalannya waktu hingga menjadi butiran padat beraroma tajam. Butiran tersebut lalu diolah melalui proses pengeringan dan perendaman yang lama untuk menghasilkan minyak wangi dengan aroma lembut dan sangat harum yang dikenal secara luas sebagai standar keharuman tertinggi.

([5]) Za’faran atau saffron adalah rempah berbentuk benang halus kemerahan yang berasal dari putik bunga Crocus Sativus. Rempah ini dikenal sebagai yang termahal karena proses panennya yang sangat sulit.

([6]) HR. At-Tirmidzi, No. 2526.

[7] HR. Al-Bukhari, No. 450 dan Muslim, No. 533.

Hadis ini merupakan di antara salah satu hadis yang mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan lebih dari 10 sahabat. At-Tawudi berkata,

مِمَّا تَوَاتَرَ حَدِيثُ: ((مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»، وَ«مَنْ بَنَى لِلَّهِ بَيْتًا وَاحْتَسَبَ))

Di antara hadis yang mutawatir adalah hadis “Barang siapa yang berdusta atas namaku maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di neraka” dan hadis “Barang siapa yang membangun masjid karena Allah dan mengharap pahala…”[Lihat: Nazhm al-Mutanâtsir, (1/18).

([8]) Lihat: Sîrah Ibnu Hisyâm (1/ 496) dari perkataan Ibnu Ishaq namun tanpa sanad.

([9]) Lihat: Shahîh al-Bukhârî, No. 3906, dari sahabat Urwah bin az-Zubair radhiyallâhu ‘anhu.

([10]) Lihat: Fath al-Bâri, Ibnu Hajar, (1/548).

([11]) HR. Muslim, No. 956.

([12]) HR. Ibnu Majah, No. 738, hadis sahih.

([13]) Lihat: Syarh Sunan Ibnu Mâjah, (5/215).

([14]) Lihat: Syarh Sunan Ibnu Mâjah, (5/215).

([15]) HR. Ahmad, No. 15610. Terdapat perselisihan di kalangan para ulama tentang status hadis. Ada yang mengatakan hadisnya hasan, dan ada yang mengatakan daif. Tetapi karunia Allah ﷻ luas. Allah ﷻ memberikan karunia yang luas. Dia ﷻ memberikan ganjaran yang sangat banyak karena amalan yang sepele.

([16]) HR. Ibnu Majah, No. 3788, hadis sahih.

([17]) HR. At-Tirmidzi, No. 3287.

([18]) HR. At-Tirmidzi No. 1021, dinyatakan hasan oleh al-Albani.

([19]) HR. Al-Bukhari No. 1303.

([20]) HR. Al-Bukhari No. 8158 di dalam al-Mustadrak.

([21]) HR. Al-Bukhari No. 6129.

([22]) HR. Ahmad, No. 12047.

([23]) HR. Ibnu Majah No. 4031, dinyatakan hasan oleh al-Albani.

([24]) HR. Ahmad No. 1481, sanadnya hasan sebagaimana dinyatakan oleh al-Arnauth.

([25]) HR. At-Tirmidzi No. 3429, hadis hasan dan disahihkan oleh al-Albani.

([26]) HR. At-Tirmidzi No. 3429, hadis hasan dan disahihkan oleh al-Albani.

([27]) HR. Ath-Thabrani, (6/61) di dalam al-Mu’jam al-Ausath.

([28]) HR. Abu Dawud, No. 6661, sanadnya sahih.

([29]) HR. Muslim, No. 728.

([30]) HR. Muslim, No. 728.

([31]) HR. Muslim, No. 728.

([32]) HR. Muslim, No. 728.

([33]) Lihat: Fatâwa Nûr ‘Alâ ad-Darb, Ibnu Utsaimin, (2/8).

([34]) HR. At-Tirmidzi, No. 414.

([35]) HR. An-Nasa`i, No. 3991.

([36])  HR. Ath-Thabrani no.1859 disahihkan oleh al-Albani no.2573 di Shahîh al-Jâmi’.

([37])  HR. At-Tirmidzi, No. 438.

Share214Tweet134Send

Related Posts

Sulitnya Menjaga Pahala Amal
TEMATIK

Sulitnya Menjaga Pahala Amal

Youtube :  https://www.youtube.com/watch?v=eJ55V9pAYv4 Pentingnya Beramal dan Derajat di Akhirat Setiap manusia diciptakan untuk beribadah dan beramal saleh kepada Allah ﷻ....

by Admin UFA
February 13, 2026
Studi Banding Antara Nikmat Dunia & Nikmat Akhirat
TEMATIK

Studi Banding Antara Nikmat Dunia & Nikmat Akhirat

Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=_aj6SYlW_F4 Pembahasan tema ini termasuk dalam pembahasan salah satu dari rukun iman yang keenam, yaitu al-Iman bil-Yaumil Âkhir,...

by Admin UFA
February 13, 2026
Next Post
Studi Banding Antara Nikmat Dunia & Nikmat Akhirat

Studi Banding Antara Nikmat Dunia & Nikmat Akhirat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Sulitnya Menjaga Pahala Amal

Sulitnya Menjaga Pahala Amal

February 13, 2026
Studi Banding Antara Nikmat Dunia & Nikmat Akhirat

Studi Banding Antara Nikmat Dunia & Nikmat Akhirat

February 13, 2026
KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

KIAT-KIAT MEMBANGUN ISTANA DI SURGA

February 13, 2026

Bekal Seorang Muslim

February 13, 2026

Website resmi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Dikelola oleh tim IT resmi Ustadz Firanda Official.

About

  • About Us
  • Site Map
  • Contact Us
  • Career

Policies

  • Help Center
  • Privacy Policy
  • Cookie Setting
  • Term Of Use

Join Our Newsletter

Copyright © 2025 by UFA Official.

Facebook-f Twitter Youtube Instagram

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Support Forum
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2025 Firanda Andirja - Menebarkan cahaya tauhid & sunnah.