Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ‘ala ihsanihi wa syukru lahu ‘ala taufiqihi wa imtinanihi. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalahu ta’ziman lisya’nihi. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu ad-da’i ila ridhwanihi. Allahumma sholli ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashabihi wa ikhwan.
Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada kesempatan kali ini kita akan bahas tentang kebodohan-kebodohan yang sering kita lakukan. Karena memang manusia diciptakan dengan memiliki sifat kejahilan. Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 72:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami menawarkan amanah kepada langit, kepada bumi, dan kepada gunung. Namun mereka enggan untuk memikul amanah tersebut dan mereka khawatir tidak bisa menunaikan amanah tersebut. Adapun manusia menerima amanah tersebut dan memikulnya. Kemudian kata Allah di akhir ayat, sementara manusia suka berbuat zalim. Jahul itu sangat jahil. Jahul itu sering berbuat kejahilan. Ini adalah hukum asal manusia yang sering berbuat kejahilan. Apa saja kebodohan-kebodohan yang sering kita lakukan?
1. Bermaksiat kepada Allah
Yang pertama, bahwasanya seseorang ketika dia bermaksiat, sesungguhnya dia sedang melakukan kejahilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak ayat menyebutkan orang yang berbuat maksiat adalah orang yang jahil. Seperti dalam surat An-Nisa ayat 17 Allah berfirman:
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ
Sesungguhnya tobat Allah berikan kepada orang-orang yang melakukan keburukan atau kemaksiatan dengan kejahilan. Di sini sifatnya wasfun lazim atau wasfun kasyif, maksudnya orang yang melakukan maksiat pasti bodoh.
Kemudian Allah sebutkan dalam surah Al-An’am ayat 54:
كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Yaitu siapa di antara kalian yang melakukan kemaksiatan dengan kejahilan. Jadi orang yang bermaksiat pasti jahil. Demikian juga Allah sebutkan dalam surah An-Nahl ayat 119 bahwasanya pelaku maksiat adalah orang jahil. Ini juga diisyaratkan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihissalam ketika berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari kemaksiatan. Maka dia berkata:
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Kata Nabi Yusuf, “Ya Allah, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi rayuan para wanita tersebut.” Yaitu para wanita di Mesir merayunya untuk berzina. Rayuan yang hebat. Nabi Yusuf takut, maka dia lebih senang dipenjara daripada mendengar rayuan tersebut. “Kalau Engkau tidak palingkan aku dari rayuan mereka, maka suatu saat aku akan condong kepada mereka. Kalau aku sudah condong, maka aku termasuk orang-orang yang jahil.” Yaitu bermaksiat.
Kenapa orang yang bermaksiat disebut orang jahil? Banyak sebabnya. Di antaranya, orang yang bermaksiat mendahulukan kenikmatan yang sedikit dan tidak sempurna dengan mengorbankan atau menumbalkan kenikmatan yang abadi, sempurna, dan beraneka ragam. Saya bacakan perkataan Syekh As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan perkataan Nabi Yusuf, “Kalau engkau tidak palingkan aku dari rayuan wanita tersebut, aku akan terjerumus dan aku akan termasuk orang jahil (bermaksiat).” Apa kata Syekh As-Sa’di? Karena siapa yang bermaksiat berarti dia telah mendahulukan memilih kelezatan yang sedikit dan penuh dengan kekurangan. Kelezatan dunia sudah sedikit, tidak sempurna, penuh dengan kekurangan. Mengorbankan apa? Mengorbankan kelezatan yang terus-menerus tiada hentinya dan kenikmatan syahwat yang beraneka ragam di surga kelak.
Jadi, mendahulukan kenikmatan yang sedikit, sebentar, dan penuh kekurangan daripada kenikmatan yang terus-menerus tiada hentinya, beraneka ragam, dan abadi sempurna; siapa yang lebih jahil daripada orang ini? Maka ketika kita sedang bermaksiat, berarti kita sedang jahil. Kenapa? Kita tidak pungkiri bahwasanya maksiat itu ada lezatnya. Kalau tidak ada lezatnya, tidak ada orang yang bermaksiat. Tetapi ketika kita bermaksiat, berarti kita sedang mengorbankan kelezatan yang beraneka ragam, sempurna, dan abadi. Ini menunjukkan kejahilan.
Kemudian, di antara kejahilan orang yang bermaksiat adalah dia akan menghilangkan kebahagiaan yang ada. Karena dia sudah diberikan yang halal oleh Allah dan ada kenikmatan di situ. Ketika dia berpaling kepada maksiat, maka kelezatannya akan dicabut. Seperti orang yang sering berzina atau melihat yang haram, maka kelezatan yang dia rasakan bersama istrinya akan hilang dicabut oleh Allah. Dia sudah tidak nyaman lagi hidup sama istrinya, tidak berhasrat kepada istrinya. Saya sampai ketemu orang yang cerita dari dokter, betapa banyak orang datang ke dokter karena sudah tidak berhasrat lagi sama istrinya karena sering bermaksiat.
Seorang yang ingin merasakan kelezatan bersama istrinya dengan yang halal, dia harus jaga pandangan. Maka orang yang melakukan maksiat itu jahil. Yang halal dikorbankan, berpindah kepada yang haram, yang tersedia jadi tidak lezat, kemudian mencari kelezatan yang harus dikejar-kejar dan belum tentu didapatkan. Oleh karenanya, di antara doa:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan perkara yang halal agar aku tidak butuh kepada yang haram.” Doanya terkait agar utang lunas, tapi maknanya umum. Buatlah aku bahagia dengan yang halal sehingga aku tidak tertarik kepada yang haram.
Orang bermaksiat juga jahil karena dampak maksiat menimpanya langsung dan tidak tertunda. Dampak maksiat yang pertama langsung menuju hati, hatinya teracuni. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Sesungguhnya seorang hamba ketika bermaksiat hatinya diberi noda hitam.”
Langsung terkena hatinya. Banyak orang menyangka dampak maksiat itu nanti kesehatannya atau ekonominya terganggu. Itu dampak sekunder atau tersier. Dampak primer langsung menimpa hati. Hatinya rusak, dampaknya dia malas beribadah, senang bermaksiat, dan yang dipikirkan selalu maksiat.
Kemarin saya sempat umrah bersama seorang dokter anestesi. Dia cerita, “Ustaz, saya sering menghadapi orang yang koma. Ada yang masih bisa bicara, ada yang tidak. Setiap orang koma yang saya dapati selalu berbicara sesuai kebiasaannya sehari-hari. Yang suka ibadah bicara ibadah, yang suka nonton film berkhayal, terungkap kebiasaan mereka.” Ini dokter langsung berbicara kepada saya.
Seseorang ketika bermaksiat, hatinya langsung terkena dampak dan berakumulasi. Kata Ibnu Qayyim, maksiat itu seperti racun, sedikit-sedikit suatu hari akan meledak. Dia merasa aman bermaksiat, jabatan naik, badannya sehat, barang laris. Dia tidak tahu yang terkena dampak pertama adalah hatinya. Kelezatan ibadah hilang, cintanya hanya pada dunia terus-menerus.
Dia juga jahil karena sering menunda tobat. Dia tidak tahu kematian datang kapan saja, tidak menunggu jadwal tobatnya. Tahu-tahu meninggal sebelum bertobat. Manusia itu suka bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang suka bertobat.
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Kalau kita bermaksiat, segera bertobat. Sungguh indah kalau dipanggil Allah dalam kondisi telah bertobat.
Dia jahil. Seandainya waktu untuk maksiat tadi digunakan beribadah, betapa banyak ganjaran yang akan didapatkan. Bayangkan seorang hobi nonton berjam-jam tiap hari menghabiskan waktu untuk maksiat. Seandainya digunakan untuk baca Qur’an, zikir, berbakti kepada orang tua, berapa banyak pahala yang didapat. Nanti di hari kiamat dibuka catatan amal, tertulis akumulasi maksiat bertahun-tahun. Sungguh bodoh orang yang tertawan oleh syahwat dan maksiatnya sampai puluhan tahun. Orang lain sudah maju menuju akhirat, sementara dia masih berkutat dalam maksiat. Betapa sering kita jahil ketika bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Menerima Kabar Hanya dari Satu Pihak (Tanpa Tabayyun)
Di antara kejahilan yang sering kita lakukan adalah hanya menerima kabar dari satu orang kemudian kita memberi hukum. Di sini Allah sudah menyinggung dalam surat Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Wahai orang yang beriman, jika datang kepada engkau seorang fasik dengan suatu berita, maka cross check terlebih dahulu. Cek dari kedua belah pihak, jangan satu saja. Bisa jadi gara-gara engkau hanya menerima berita dari satu pihak tanpa mengecek, engkau akan menimpakan keburukan pada suatu kaum karena kebodohan. Akhirnya menghukum atau mensikapi orang tanpa mengecek terlebih dahulu.
Di antara kebodohan adalah ada dua orang bersengketa, lalu dia cuma dengar dari salah satu pihak kemudian memberi hukum. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Abu Daud dan An-Nasai, ketika mengutus Ali bin Abi Thalib ke Yaman menjadi hakim, memberi wasiat:
فَإِذَا جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْكَ الْخَصْمَانِ فَلَا تَقْضِيَنَّ حَتَّى تَسْمَعَ مِنَ الْآخَرِ كَمَا سَمِعْتَ مِنَ الْأَوَّلِ؛ فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ الْقَضَاءُ
“Jika duduk di depan engkau dua orang yang saling bertikai, jangan kau keluarkan hukum sampai kau mendengar dari orang kedua sebagaimana kau mendengar dari orang yang pertama. Lakukan hal yang sama terhadap orang yang kedua. Kalau kau melakukan demikian, lebih utama dan jelas hukum yang akan kau putuskan.”
Terkadang kita terpedaya dengan perkataan seseorang yang menjelaskan dengan indah. Allah berfirman tentang orang-orang munafik, di antara manusia ada yang perkataannya membuatmu takjub. Padahal dia adalah musuh bebuyutan. Sebagian ulama mengatakan jangan terpedaya penjelasan satu orang kalau ada sengketa. Terkadang ada suami istri bersengketa. Kalau dengar dari pihak istri, “Suami saya begini, begini.” Kita simpulkan suaminya brengsek dan istrinya sabar. Begitu dengar suaminya, “Istri saya begini, begini.” Ternyata istrinya yang brengsek.
Kadang kita jahil, dengar berita cuma dari satu pihak, sehingga mengambil sikap suuzan tanpa mendengar dari kedua belah pihak. Kalau tidak bisa mendengar dari dua belah pihak, tidak usah masuk di tengah-tengah untuk menjadi hakim. Berita sering disetir, bisa jadi pembuat berita dibayar. Jangan jadi orang bodoh yang memberi hukuman tanpa mendengar dari dua belah pihak. Akhirnya menimpakan perbuatan buruk dengan kebodohan.
3. Memelihara Sifat Hasad (Dengki)
Di antara kebodohan yang dilakukan sebagian kita adalah hasad. Orang yang hasad kepada orang lain adalah orang yang bodoh. Kenapa? Karena ketika dia hasad, yang dia zalimi pertama kali adalah dirinya sendiri. Siapa orang yang mau menzalimi dirinya sendiri? Hanya orang bodoh.
Kezaliman pertama pada dirinya adalah menghapuskan pahalanya. Dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Hati-hatilah kalian dari hasad, karena hasad akan memakan pahala-pahala sebagaimana api membakar kayu bakar.”
Meskipun sebagian mengatakan hadis ini daif, tapi para ulama sepakat maknanya benar. Orang hasad biasanya menjatuhkan orang lain. Ketika dia menzalimi orang, pahalanya hilang sangat cepat. Maka ngapain kita hasad menzalimi diri sendiri?
Kedua, dia menzalimi dirinya sendiri karena dia yang tersiksa. Ketika orang yang dihasadnya tambah kaya, orang itu tambah bahagia, tapi dia yang tambah sakit hati. Hasad tidak merubah orang lain. Kalau dihasad orang itu jadi miskin dan dia jadi kaya, semua orang pasti hasad. Tapi kenyataannya, orang yang dihasad tetap kaya, sedangkan dia menderita. Temannya beli mobil baru, dia hasad. Temannya kawin lagi, dia hasad. (Bercanda).
Maksud saya, orang hasad itu bodoh karena menzalimi diri sendiri. Sama seperti orang gibah. Al-Ghazali mengumpamakan orang gibah seperti orang yang sudah bikin istana besar, lalu membuat ketapel batu. Setiap dia gibah, dia tembakkan batu itu untuk merobohkan istananya sendiri. Setiap gibah, pahalanya hilang. Bodoh atau tidak? Itulah kita.
Apalagi kebodohan orang hasad adalah dia protes atas pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah yang membagi, dia protes. Seakan-akan Allah salah, harusnya bukan dia yang kaya, tapi saya. Ada orang berwajah biasa istrinya cantik, dia hasad. Kenapa kau hasad? Allah berfirman:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang membagi-bagi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32)
Yang membagi rezeki, ketampanan, kecantikan, kepintaran, dan kesehatan adalah Allah. Ada seorang salaf membaca ayat ini lalu berkata, “Ngapain saya protes? Saya rida dengan apa yang Allah berikan.” Orang yang hasad memprotes Allah Yang Maha Berilmu dan Maha Bijak, sementara ilmunya sendiri cetek, bodoh, geblek. Allah yang bagi, dia mau bilang salah. “Harusnya wajah saya tampan istrinya cantik, masa dia hartanya banyak saya tidak.”
Terserah Allah. Allah membagi rezeki dan ujian. Orang yang tampangnya pas-pasan ujiannya sedikit. Yang tampan ujiannya banyak, digoda lawan jenis. Kalau tampang pas-pasan apa yang mau dipamerin? Oleh karenanya, tidak usah hasad. Hasad itu kebodohan, memprotes Yang Maha Berilmu.
4. Meratapi Masa Lalu
Di antara kegoblokan yang sering kita lakukan adalah meratapi masa lalu yang tidak bisa kembali lagi. Allah sering mengatakan jangan bersedih. Rasulullah berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari al-hamm dan al-hazan.” Hamm itu kekhawatiran masa depan. Hazan itu kesedihan masa lalu yang sudah berlalu tapi selalu diingat. Dalam Al-Qur’an dan hadis, sedih yang berlebihan selalu dilarang. Kata Allah kepada Nabi Muhammad untuk Abu Bakar:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Malaikat juga berkata kepada orang beriman yang akan meninggal:
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
“Jangan khawatir dan jangan bersedih.”
Setan suka membuat kita bersedih:
إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya bisik-bisik dari setan untuk membuat orang beriman bersedih.”
Sedih itu boleh kalau ada batasannya, tapi jika berlebihan itu tercela. Imam Syafi’i melarang takziah lebih dari tiga hari, karena hari keempat dan seterusnya hanya memperbarui kesedihan. Seorang mukmin tidak boleh bersedih lama-lama, karena banyak kemaslahatan yang akan terbengkalai. Wanita yang anaknya meninggal terlalu sedih sampai tidak bisa mengurus suami dan belajar. Laki-laki terlalu sedih mencari uang juga susah.
Apa yang telah terjadi tidak bisa kembali lagi. Makanya Rasulullah melarang mengatakan seandainya:
قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ… وَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Katakanlah qadarullah wa ma sya’a fa’al (takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya terjadi). Jangan bilang, coba waktu itu saya begini tentu tidak begini. Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”
Setan akan membuat kita menyesal berlebihan dan memprotes takdir Allah. Kebodohan jika berharap masa lalu kembali. Ada wanita yang anaknya meninggal, lalu ditaruh foto dan bonekanya di kamar. Tiap hari dilihat lalu menangis. Ngapain seperti ini? Menyiksa diri, itu kebodohan. Kalau sampai merobek baju dan memukul wajah, masa lalu tidak akan kembali. Rasulullah bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Bukan dari golongan kami orang yang tatkala terkena musibah menampar pipinya, merobek bajunya, dan menyeru dengan seruan jahiliah.”
Waktu yang berlalu tidak akan kembali. Sedih berlebihan menghalangi kita dari banyak kemaslahatan. Hidup cuma sebentar, jangan rusak dengan kesedihan berlarut-larut. Kuncinya beriman kepada takdir.
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ 〇 لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ
Tidak ada musibah yang menimpa di muka bumi atau pada diri kalian, kecuali sudah tercatat di Lauhul Mahfudz sebelum Allah mewujudkannya. Semua sudah kering dan tidak bisa diubah. Ini mudah bagi Allah agar kalian tidak putus asa atas apa yang telah luput. Di balik musibah ada pahala, angkat derajat, dan pembersihan dosa.
Saya ketemu kawan mau bunuh diri karena musibah. Dia bilang tidak kuat lalu mau minum racun serangga. Kalau tidak mati, malah lebih musibah lagi dan malu. Sampai dia ketemu temannya yang kafir tapi hidupnya nyaman santai. Dia bilang imannya goyang. Kalau kurang beriman kepada takdir, seseorang bisa bunuh diri. Maka jangan bodoh merefresh kembali kesedihan kita. Kalau kesedihan melintas, ucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Saat itu dapat pahala lagi. Kita ini milik Allah, terserah Sang Pemilik mau melakukan apa pada kita, dan kita akan kembali kepada-Nya. Tapi jangan menyengajakan diri mengingat yang buruk-buruk. Ngapain? Bodoh atau tidak menyiksa diri sendiri?
Allah memuji orang-orang yang tidak larut dalam kesedihan:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ 〇 الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ 〇 لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Ketahuilah wali-wali Allah itu orang beriman dan bertakwa, tidak ada kekhawatiran dan mereka tidak bersedih. Ciri orang beriman tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Semua orang diuji, dengan anaknya, orang tuanya, pasangannya, tetangganya. Fokus ke depan, ambil pelajaran, hari baru akan terbit, carilah kebahagiaan.
5. Mengharapkan Semua Orang Mencintaimu
Di antara kebodohan adalah mengharapkan semua orang mencintaimu. Pastikan di dunia ini ada yang mencintaimu dan ada yang membencimu. Tidak mungkin semua orang cinta kepadamu. Allah Subhanahu wa Ta’ala saja tidak selamat dari cacian. Orang Yahudi berkata:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
Mereka berkata tangan Allah terbelenggu (pelit). Padahal kedua tangan Allah terbentang. Mereka juga berkata:
إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ
“Allah fakir, kami yang kaya.” Yahudi juga mengatakan Uzair anak Allah, Nasrani mengatakan Almasih putra Allah, orang musyrikin bilang malaikat putri Allah. Allah berfirman dalam hadis qudsi:
شَتَمَنِي ابْنُ آدَمَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ذَلِكَ… أَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا
“Anak Adam mencaciku padahal tidak boleh baginya mencaciku. Adapun caciannya adalah dia berkata Aku punya anak.” Padahal Allah Maha Esa:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ 〇 اللَّهُ الصَّمَدُ 〇 لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ 〇 وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Allah saja tidak selamat dari gangguan makhluk-Nya, terus antum ingin selamat dari omongan orang lain? Mustahil. Nabi Muhammad yang akhlaknya dan jujurnya luar biasa, paket lengkap, juga tidak selamat dari cacian, dituduh-tuduh oleh orang kafir.
Karena di dunia ini ada pertarungan antara hak dan batil, tidak mungkin bisa membuat rida dua kelompok yang saling kontradiktif. Berharap semua disukai orang adalah kemustahilan. Imam Syafi’i berkata, keridaan seluruh manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai. Adapun rida Allah, itu tujuan yang bisa dicapai. Rasulullah bersabda:
مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ
“Siapa yang mencari rida Allah dengan kemurkaan manusia, Allah akan rida kepadanya.” Terkadang kita harus nekat dikata-katain orang demi mencari rida Allah. Jangan berkhayal disukai semua orang. Bikin konten di internet inginnya semua di-like, mustahil, pasti ada dislike. Ingin semua orang suka sama kita itu kebodohan, maka carilah rida Allah semata.
6. Mengharapkan Kesempurnaan di Dunia
Di antara kebodohan adalah mengharapkan kesempurnaan di dunia. Kesempurnaan hanyalah di akhirat. Dunia berisi kepayahan:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan.”
Sejak di kandungan memayahkan ibunya, bapaknya juga bingung malam-malam disuruh beli makanan. Ada wanita tidak bisa cium keringat suaminya karena mual. Belum lahir merepotkan, setelah lahir repot lagi.
Tidak ada yang sempurna. Fisik, kecerdasan, teman, dan pasangan hidup tidak sempurna. Sempurna cuma di akhirat. Kawan sebaik apapun punya kekurangan, pasangan hidup sesetia apapun mustahil sempurna. Makanya Rasulullah mengatakan:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Kalau ada perangai yang tidak disukai, pasti ada perangai lain yang dia sukai.”
Jangan hanya melihat kekurangan pasangan. Kalau dibilang tidak ada kelebihannya sama sekali, ya paling tidak dia melatih kesabaranmu. Ekspektasi terlalu tinggi itu salah. Kita tidak harus bahagia 100%. Syekh Al-Albani berkata, kalau kau ingin kawan tanpa kekurangan, apa kau ingin kayu gaharu yang wangi tapi tanpa asap? Pasti ada asapnya.
Punya ekspektasi kesempurnaan 100% adalah penyakit. Punya anak nilainya tidak 100 nangis, dia akan susah saat bekerja dan menikah nanti. Manusia hidup penuh dengan kekurangan dan hal yang mengurangi kebahagiaan. Berhasil tidak harus sempurna. Istri kita punya kekurangan, tidak apa-apa, kalau masuk surga nanti baru dia sempurna. Mau cantik bagaimanapun pasti bau saat kentut atau datang bulan, atau saat dia ngomel. Kapan kau berharap kesempurnaan, kau menyiksa dirimu sendiri.
Sengaja Allah menjadikan dunia tidak sempurna agar kau berharap kepada kesempurnaan surga. Kalau dunia sempurna, kita tidak akan ingat akhirat. Turunkan ekspektasi agar kita lebih mudah bahagia. Kalau hidup bersama pasangan dapat bahagia 70%, jalani saja daripada 0%. Ada wanita curhat suaminya marah setahun sekali memaki-makinya, saya bilang sabar saja, anggap setahun sekali dia gila. Ada yang curhat suaminya main game terus tapi salatnya rajin dan tidak main perempuan, alhamdulillah, jalani kebahagiaan sambil dinasihati.
7. Mengumbar Pandangan kepada yang Haram
Kebodohan lainnya adalah melihat yang haram sehingga berhasrat tapi tidak bisa merasakannya. Penglihatan merupakan pintu terbesar yang memberi informasi kepada hati. Kata Al-Qurthubi, pandangan adalah jalan yang paling ramai mengantarkan informasi ke hati dan paling melekat. Oleh karena itu banyak orang terjatuh gara-gara pandangan, dan wajib menundukkannya.
Informasi masuk dari pendengaran, penglihatan, dan rabaan:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Tapi yang paling melekat adalah pandangan. Ibnu Qayyim berkata, pandangan yang haram memberi efek kepada hati seperti panah. Kalau tidak mematikan, ia akan meracuni dan melukai hati. Panah iblis sulit dicabut. Setan mengkhayalkan yang haram itu luar biasa indahnya. Iblis bersumpah:
لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Sungguh aku akan menghiasi maksiat bagi mereka di atas muka bumi.” Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ
“Wanita itu terlihat dari depan dalam bentuk setan, dan membelakangi dalam bentuk setan.”
Maksudnya setan menghiasi wanita yang haram agar menimbulkan hasrat. Melihat film Korea yang cantik-cantik, akhirnya istri sendiri di rumah terlihat seperti donat gosong. Yang halal hilang kelezatannya. Setan menghiasi maksiat agar orang membenci yang halal dan mencintai yang haram. Karena jiwa condong kepada apa yang belum dicoba.
Seorang penyair berkata, betapa banyak pandangan haram yang menghabisi hati pemiliknya seperti anak panah tanpa busur. Ada ulama ahli bahasa sedang tawaf, melihat perempuan cantik. Perempuan itu bertanya, “Apa urusanmu melihat saya?” Ulama itu menjawab, “Saya cuma lihat saja.” Lalu wanita itu bersyair: “Kapan kau melepaskan pandanganmu untuk mencari kenikmatan, suatu hari ia akan menyesakkan dan melelahkan hatimu. Engkau melihat sesuatu yang tidak bisa kau miliki, sementara engkau tidak bisa sabar dan tidak bisa mencicipinya. Yang menderita adalah dirimu sendiri.”
Orang yang mengumbar pandangan, dia menyiksa dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak bisa dia rasakan, sekaligus mengorbankan kelezatan yang halal pada istrinya. Maka ketika sedang melihat media sosial dan lewat wanita vulgar, lewati saja. Jangan diulangi, itu setan. Kalau dilihat terus, istrimu akan jadi hambar dan engkau sendiri yang menderita.
8. Membuang-buang Umur
Kebodohan kedelapan, sesudah berusaha hidup sehat, makan teratur, olahraga agar umur panjang, namun umurnya dibuang-buang. Kita ingin umur panjang agar bisa bertakwa kepada Allah. Rasulullah bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
“Orang terbaik adalah yang panjang umurnya dan amalnya baik.”
Logikanya, orang bertambah umur, kebaikannya dihitung sepuluh kali lipat dan maksiatnya dihitung satu. Jadi panjang umur itu sangat menguntungkan untuk beribadah. Tapi orang yang membuang umurnya untuk hal sia-sia atau maksiat adalah orang bodoh. Ciri orang beriman adalah tidak membuang waktu:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ … وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Sungguh beruntung orang beriman yang khusyuk dalam salatnya dan berpaling dari perkara yang sia-sia.”
Kata Hasan Al-Bashri, “Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika telah pergi sebagian hari, maka sebagian dirimu telah sirna.” Allah berfirman tentang Ibadurrahman:
وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Jika mereka melewati perkara sia-sia, mereka melewatinya dengan menjaga kehormatan.”
Setiap waktu yang lewat adalah nikmat yang akan dihisab.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak orang merugi di dalamnya: sehat dan waktu luang.” Dia sudah sehat dan punya waktu, tapi dibuang untuk maksiat. Ini adalah kebodohan.
9. Sibuk Mengurusi Urusan yang Bukan Urusannya
Mikirin urusan yang bukan urusan kita itu kebodohan. Rasulullah bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan yang bukan urusannya.”
Jika dia sibuk mengurus yang bukan urusannya, privasi dan kepentingan aslinya akan terbengkalai. Sibuk scrolling melihat berita perceraian selebriti atau rumah orang lain yang tidak ada faedahnya. Waktu habis, baca Qur’an tidak sempat, ngobrol dengan istri dan anak tidak sempat. Sampai di rumah masih lihat HP. Ini fitnah medsos yang luar biasa.
Kapan kita tidak sibuk mengurus yang bukan urusan kita, maka Islam, salat, dan urusan keluarga kita akan menjadi jauh lebih baik. Jangan menganalisis yang bukan keahlianmu dan jangan berkomentar pada yang bukan urusanmu.
10. Menyiksa Diri dengan Merenungkan Cacian
Di antara kebodohan adalah menyiksa diri sendiri dengan merenungkan cacian dan makian orang lain kepada kita. Kalau ada yang memaki, jangan dibaca atau digubris. Sejauh mana kita menggubrisnya, sejauh itu pula kita menyiksa diri sendiri. Kalau ada yang mengirimi tangkapan layar cacian tentang kita, hapus saja.
Syekh As-Sa’di mengatakan, gangguan orang lain terkait perkataan buruk tidak akan memberi mudarat kepadamu, justru mereka sendirilah yang menderita saat marah-marah. Kecuali, jika engkau membiarkan perkataan buruk tersebut menguasai hatimu. Manusia memang lemah dan terpengaruh. Nabi saja terpengaruh:
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ
“Sungguh Kami tahu dadamu sempit akibat apa yang mereka ucapkan.”
Nabi diucapkan kata-kata kotor secara langsung di hadapannya. Maka kita jangan menyiksa diri mendengarkan cacian orang. Rasulullah pernah bersabda: “Jangan salah seorang dari kalian menceritakan keburukan orang lain tentangku kepadaku, aku ingin keluar bertemu kalian dengan dada yang bersih.” Jangan bikin susah diri sendiri.
11. Mengumpulkan Harta Tanpa Orientasi Akhirat
Kebodohan terakhir, punya uang banyak tapi tidak digunakan untuk dirinya sendiri, malah dikumpulkan untuk orang lain (ahli waris). Allah berfirman:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ 〇 حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Kalian telah dilalaikan oleh bermegah-megahan, sampai kalian masuk ke alam kubur.”
Baru sadar saat masuk kubur. Saling bangga dengan harta terbanyak dan tidak pernah berhenti. Rasulullah bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ
“Seandainya anak Adam punya dua lembah emas, dia akan mencari lembah ketiga. Dan dia tidak akan berhenti sampai mulutnya disumpal tanah.”
Lalu Rasulullah bersabda:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Anak Adam berkata: ‘Hartaku, hartaku.’ Tidakkah hartamu itu hanyalah apa yang kau makan lalu menjadi kotoran, atau yang kau pakai lalu menjadi lusuh, atau yang kau sedekahkan lalu kekal untukmu?”
Itulah hakikat harta. Sisanya hanya warisan untuk orang lain dan akan menjadi beban hisab yang berat di hari kiamat. Punya 10 mobil yang dipakai cuma satu, sisanya memperberat hisab. Allah mencela orang yang mencari harta dan menyusahkan diri mereka sendiri karena tidak didasari iman:
فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
“Maka janganlah kau takjub dengan harta mereka dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah ingin mengazab mereka dengan harta mereka itu di kehidupan dunia.”
Azab di dunia maksudnya adalah kesusahan dan penderitaan hati serta badan dalam memikirkan harta, saham, dan perusahaan sampai susah tidur, lalu akhirnya lalai dari mengingat Allah. Jadikanlah potensimu untuk sarana mencari akhirat:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia.”
Jangan bodoh mengumpulkan harta susah payah namun akhirnya malah menyiksa diri dan memperberat hisab, tanpa bersedekah untuk istana di akhirat. Wallahu Ta’ala A’lam bish-shawab.
Ini beberapa kebodohan yang mungkin sering kita lakukan. Semoga Allah menjauhkan kita dari kebodohan-kebodohan tersebut. Demikian saja yang bisa disampaikan, kurang lebihnya mohon maaf. Wabillahi taufik wal hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.






