Bolehkan sa’i dalam kondisi tidak bersuci?

Bekal Haji dan Umroh Tanya Jawab Haji-Umroh Bolehkan sa’i dalam kondisi tidak bersuci?

Bolehkan sa’i dalam kondisi tidak bersuci?

Jawab :

Para ulama telah sepakat bahwa tidak dipersyaratkan bersuci dalam melakukan saí. Maka jika seseorang tatkala saí wudhunya batal maka tidak mengapa ia melanjutkan saí-nya.

Ibnu Qudamah berkata

أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَرَوْنَ أَنْ لَا تُشْتَرَطَ الطَّهَارَةُ لِلسَّعْيِ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ

“Mayoritas ulama memandang bahwa tidak disyaratkannya bersuci ketika saí antara bukit as-shofa dan bukit marwah” (Al-Mughni 3/355)

Bahkan sebagian ulama memandang bahwa hal ini adalah ijmak ulama. Ibnul Mundzir berkata :

وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ إِنْ سَعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ عَلَى غَيْرِ طُهْرٍ أَنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُهُ، وَانْفَرَدَ الْحَسَنُ، فَقَالَ: إِنْ ذَكَرَ قَبْلَ أَنْ يَحِلَّ فَلْيُعِدِ الطَّوَافَ

“Dan para ulama telah bersepakat bahwasanya jika ia melakukan saí antara shofa dan marwah tanpa bersuci maka hal itu sah. Dan al-Hasan al-Bashri berbeda sendiri, ia berkata, “Jika ia ingat bahwa ia tidak bersuci sebelum ia bertahallul maka hendaknya mengulangi saí nya” (al-Ijmaa’ hal 56 no 181)

Adapun dalil akan hal ini adalah perkataan Nabi shallallahu álaihi wasallam kepada Aisyah yang sedang haid :

فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“Maka lakukanlah apa yang dilakukan oleh jamaáh haji, hanya saja janganlah engkau thowaf di Ka’bah hingga engkau suci” (HR Al-Bukhari no 305)

Nabi membolehkan untuk melakukan segala kegiatan haji dan hanya mengecualikan thowaf. Dengan demikian boleh saí meskipun bagi wanita haid. Lagi pula ibadah saí ini tidak berkaitan dengan ka’bah, maka ia mirip dengan wuquf di padang Arofah (yang juga tidak dipersyaratkan suci).(Lihat Al-Mughni 3/356)

Share

ARTIKEL TERHUBUNG

Bolehkah Mentayammumkan Jenazah?

Bolehkah mentayammumkan jenazah? Berkata an-Nawawi: قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ وَالْأَصْحَابُ إذَا تَعَذَّرَ غُسْلُ الْمَيِّتِ لِفَقْدِ الْمَاءِ أَوْ احْتَرَقَ بِحَيْثُ لَوْ غُسِّلَ لَتَهَرَّى لَمْ يُغَسَّلْ بَلْ يُيَمَّمُ...

Hukum dan Tata Cara Tayammum di Pesawat

Hukum bertayammum di pesawat Jika seseorang terhalangi dari menggunakan air dan dia berada di dalam pesawat sedangkan waktu shalat sangatlah sempit maka bolehkah ia bertayammum...

Hukum Tayammum Jika Tidak Ada Air dan Tanah

Hukum jika tidak ada air dan tanah Jika seseorang hendak melaksanakan shalat namun ia tidak mendapati air berwudhu dan tanah untuk bertayammum sebagai pengganti air...

Hukum Memukul Tangan ke Tanah Dua Kali atau Lebih

Hukum memukul tangan ke tanah dua kali atau lebih Terdapat di dalam shohih Muslim bahwa jumlah menepukkan tangan cukup satu kali untuk mengusap wajah dan...

Batasan Tangan yang Diusap Ketika Tayammum

Batasan tangan yang diusap ketika tayammum Disebutkan dalam hadits di atas ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ “Kemudian beliau mengusap dengan kedua tangannya wajahnya dan kedua pergelangan tangannya.” Kemudian...

Bolehkah Tayammum Mendahulukan wajah sebelum kedua tangan?

Mendahulukan wajah sebelum kedua tangan Di dalam hadits Ámmar bin Yaasir yang telah lalu  terdapat penyebutan dua tata cara tayammum: Pertama: Mendahulukan kedua tangan daripada wajah «إِنَّمَا...

Artikel Terkait

Hukum Mengulang-Ngulangi Umroh dalam Satu Safar

Hukum mengulang-ngulangi umroh dalam satu safar Mengulang-ngulangi umroh ada dua kondisi : Kondisi Pertama : Mengulangi-ngulangi...

Kapankah Seorang Boleh Menggauli Istrinya Selama Musim Haji?

Kapankah seorang boleh menggauli istrinya selama musim haji? Diantara hal yang kelihatannya sepele namun ternyata...

Haji Reguler atau ONH Plus Mana yang Lebih Mabrur?

Haji reguler atau ONH plus kah yang lebih mabrur? Sebagian jamaah haji memahami ungkapan "Pahala...

Bolehkan Badal Haji dan Umroh?

Bolehkan Badal Haji dan Umroh? Berikut ini hukum-hukum yang berkaitan dengan Badal Haji dan Umroh Pertama...