Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
  • HOME
  • AL QURAN
  • TEMATIK
  • FIQIH
  • AQIDAH
  • KHUTBAH
  • SIROH NABI
  • BANTAHAN
No Result
View All Result
Ustadz Firanda Andirja
Home ADAB DAN AKHLAK

Bahaya Namimah (Adu Domba)

Admin UFA by Admin UFA
April 9, 2026
in ADAB DAN AKHLAK, DOSA BESAR
Reading Time: 16 mins read
0
Bahaya Namimah (Adu Domba)

Namimah: Dosa Besar yang Menghancurkan Persaudaraan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Related Post

Kebodohan-Kebodohan yang Sering Kita Lakukan

Anjuran Mendamaikan yang Bersengketa

Dikira Niat Beramalnya Tidak Ikhlas, Padahal Syariat Membolehkan

Ujub dan Riya’ Jadi Senjata Setan Untuk Menjerat Orang Shalih

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas sebuah dosa besar yang sangat berbahaya, yaitu tentang namimah — mengadu domba.

Kita tahu dosa ini sangat berbahaya karena ia memisahkan dua orang yang saling mencintai, bahkan antara suami dan istri. Betapa banyak rumah tangga hancur gara-gara namimah. Betapa banyak hubungan kakak dan adik menjadi hancur gara-gara namimah. Betapa banyak dua sahabat yang sangat erat kemudian hancur gara-gara namimah. Bahkan pertumpahan darah pun terjadi disebabkan karena namimah. Betapa banyak orang terzalimi karena namimah.

Oleh karenanya, ia adalah dosa yang sangat-sangat besar.

Dan seorang nammam — orang yang mengadu domba — dia telah menjalankan tugas setan. Ya, dia adalah rasulnya setan. Karena setan memang tugasnya ingin memecah belah di antara kaum muslimin.


Apa Itu Namimah?

Namimah secara istilah maknanya: menukil perkataan dari suatu kaum ke kaum yang lainnya ‘alā wajhil ifsād — dalam rangka untuk merusak di antara mereka, mengadu domba di antara mereka. Ia adalah nukilan kalam untuk menumbuhkan permusuhan di antara dua kelompok, sehingga yang tadinya dua orang saling bersahabat bisa saling bermusuhan.

Oleh karenanya, ini termasuk di antara akhlak yang paling buruk.


Namimah Bertentangan dengan Tujuan Islam

Kalau kita perhatikan syariat, seluruh perkara yang bisa menyatukan hati kaum muslimin disyariatkan, bahkan diberi ganjaran yang besar.

Senyum di antara saudara dapat pahala. Kenapa? Karena senyum bisa menumbuhkan saling menyayangi. Mengucapkan salam juga dapat pahala. Kata Nabi, “Afsyus salāma bainakum” — Tebarkanlah salam di antara kalian. Kenapa? Karena mengucapkan salam menumbuhkan kasih sayang. Saling memberi hadiah juga sunah Nabi ﷺ: “Tahādū tahābū” — Saling beri hadiah maka kalian saling mencintai. Saling menolong: “Ta’āwanū ‘alal birri wat taqwā” — Saling tolong-menolong di antara kalian. Saling menutup aib: “Man satara musliman satarahullāhu yaumal qiyāmah” — Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.

Demikian pula shalat berjamaah. Kalau kita mau pikir, lebih enak shalat sendiri-sendiri di rumah — lebih gampang, lebih hemat waktu, tidak terusik dan terganggu dengan orang sebelah, mau panjang mau pendek terserah kita. Tapi ternyata shalat berjamaah disyariatkan. Kenapa? Agar saling mengenal, agar saling dekat di antara hati-hati kaum muslimin.

Maka terlalu banyak syiar-syiar Islam yang tujuannya adalah persatuan.

Sebaliknya, semua perkara yang bisa mengantarkan kepada pertikaian semuanya dilarang. Gibah dilarang, namimah dilarang. Bahkan berbisik-bisik antara dua orang sementara yang ketiga tidak diajak pun dilarang:

“إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ”

“Jika kalian bertiga maka janganlah dua orang berbisik-bisik yang orang ketiga tidak diajak bicara.” Kenapa? Karena itu bisa menyedihkan orang yang ketiga, membuatnya minder, membuatnya berburuk sangka. Ini saja dilarang, karena bisa menimbulkan pertikaian.

Rasulullah ﷺ juga bersabda: jangan seseorang menjual di atas penjualan saudaranya, jangan dia melamar di atas lamaran saudaranya. Terlalu banyak adab yang tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya pertikaian.

Bahkan dusta pun ada yang dibolehkan jika mendamaikan dua orang yang bersengketa. Rasulullah ﷺ mengatakan:

“لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ”

Bahwasanya dusta haram kecuali pada tiga perkara: sebagai strategi perang (“al-harbu khid’ah”), seorang suami atau istri berdusta kepada pasangannya agar saling mencintai, dan ishlāh dzātil bain — mendamaikan dua orang yang saling bersengketa.

Suami bilang, “Istriku, kau wanita tercantik di dunia.” Jelas itu bohong. Tapi istrinya senyam-senyum. Istrinya juga bilang, “Kamu lelaki terganteng di dunia.” Sama-sama bohong. Ini tidak masalah karena menimbulkan saling mencintai. Bahkan bohong pun boleh jika menimbulkan saling mengasihi dan saling mencintai.

Sebaliknya, jujur pun bisa dilarang kalau menimbulkan pertikaian. Gibah itu jujur, tapi dilarang. Namimah pun jujur — namimah tidak disyaratkan dusta. Jika menimbulkan pertikaian di antara kaum muslimin, meskipun jujur, tetap dilarang.

Oleh karena itu, seorang ketika menukil berita atau perkataan, dia harus melihat situasi dan kondisi. Jangan sampai nukilan itu menimbulkan pertikaian di antara dua kaum muslimin, di antara dua ustaz, di antara dua tetangga, di antara suami dan istri. Dia jujur, tapi kejujuran itu menimbulkan malapetaka karena itulah mengadu domba di antara dua kaum muslimin yang saling mencintai.


Namimah Menghantam Pokok Kedua Islam

Namimah adalah dosa yang sangat besar karena ia bertentangan dengan salah satu tujuan Islam. Di antara tujuan Islam setelah tauhid adalah persatuan.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya Al-Ushūlus Sittah menyebutkan: pertama adalah tauhid, yang kedua adalah persatuan. Maka ayat-ayat dalam Al-Qur’an tentang persatuan sangat-sangat banyak:

“إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ”

“Sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara. Maka damaikanlah di antara saudara kalian yang saling bertikai, dan bertakwalah agar kalian dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dan di antara ibadah yang paling mulia adalah ishlāh dzātil bain — mendamaikan dua orang yang bertikai — bahkan lebih afdal daripada shalat dan puasa.

Maka namimah bertentangan dengan salah satu pokok Islam: tauhid kemudian persatuan. Dia menghancurkan landasan tersebut. Kadar dosanya tergambarkan dari situ. Sebagaimana syirik besar dosanya karena bertentangan dengan tujuan utama Islam yaitu tauhid, maka namimah pun besar dosanya karena bertentangan dengan pokok kedua yaitu persatuan.


Namimah: Program Utama Setan

Ini adalah tujuan utama setan — jika tidak bisa menjerumuskan seseorang dalam kesyirikan, maka setan mengadu domba.

Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ”

“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah Arab, tetapi dia tidak pernah putus asa untuk mengadu domba di antara mereka.”

Setan pernah sempat terbetik dalam hatinya: “Orang-orang di Jazirah Arab shalat, sulit saya jerumuskan mereka dalam kesyirikan.” Tapi dia tidak pernah putus asa untuk mengadu domba. Kalau tidak bisa mengajak syirik, diadu domba saja.

Sebagaimana setan ketika tidak berhasil menjerumuskan anak keturunan Adam dalam syirik, maka dia mengadu domba antara Qabil dan Habil, sehingga akhirnya Qabil membunuh Habil. Syirik baru terjadi di zaman Nabi Nuh, sepuluh generasi setelah itu. Tapi sebelum berhasil menjerumuskan dalam kesyirikan, apa yang dilakukan setan? Mengadu domba. Seperti yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an:

“وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ”

Ketika keduanya memberikan kurban kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, satu diterima dan satu tidak. Akhirnya timbul hasad, maka Qabil pun membunuh Habil.

Setan pun mengadu domba antara Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan kakak-kakaknya. Maka ketika Nabi Yusuf bermimpi dengan mimpi yang indah, ayahnya berkata: jangan kau ceritakan mimpimu kepada kakak-kakakmu karena mereka nanti cemburu dan hasad. Ingat, di balik mereka ada setan yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Allah berfirman:

“وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ”

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku untuk memilih kata-kata yang terbaik. Karena sesungguhnya setan mengadu domba di antara mereka.”

Setan suka sekali mengadu domba — antara kakak dan adik, antara suami dan istri. Ada celah sedikit yang bisa dipakai untuk mengadu domba, setan langsung manfaatkan. Itu memang kerjaan setan. Dia tidak pernah capek. Dalam hadis disebutkan: “Qīlū fa’innahu lā yaqīl” — Tidurlah siang kalian, karena setan tidak tidur siang. Setan tidak tidur siang untuk menggoda kita, di antaranya untuk mengadu domba.

Yang paling disukai setan adalah ketika ia berhasil menceraikan suami dan istri. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ”

Iblis meletakkan singgasananya di atas laut, kemudian mengirim anak buahnya untuk membuat fitnah. Anak buah yang paling dekat dengan iblis dan paling tinggi jabatannya adalah yang paling besar fitnahnya. Setelah mereka menggoda manusia, mereka melapor. Iblis berkata “belum” kepada yang hanya berhasil ini dan itu — sampai ada satu yang datang dan berkata: “Lā ziltuhū hattā farraqtu baynahū wa bayna imra’atih” — “Saya terus menggodanya sampai saya ceraikan dia dari istrinya.” Maka kata iblis: “Kamu yang terbaik!”

Inilah yang paling disenangi setan — memisahkan suami dan istri. Allah pun menyebutkan tentang para penyihir:

“فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ”

“Dengan sihir tersebut mereka bisa memisahkan antara suami dan istri.” Suami lihat istri selalu jengkel. Istri lihat suami selalu jengkel. Setiap yang satu bicara, disalah artikan oleh yang lain. Bawaannya curiga terus. Ternyata ada sihir yang mengenai mereka.

Maka seorang nammām — tukang namimah — adalah rasul setan, utusan iblis. Kalau Nabi Muhammad adalah Rasulullah, maka seorang nammām adalah rasul siapa? Rasul iblis. Utusan setan untuk memisahkan di antara kaum muslimin.

Oleh karena itu, di antara hal yang menarik, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu Ta’ala dalam kitab At-Tauhīd menyebutkan bahwasanya namimah termasuk bagian dari sihir. Beliau menyebutkan dalam bab bayānu syai’in min anwā’is sihr — penjelasan tentang sebagian model-model sihir. Dalam Shahih Muslim, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِالْعَضْهِ؟ هِيَ النَّمِيمَةُ الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ”

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sihir? Di antaranya adalah namimah — menukil perkataan untuk mengadu di antara manusia.”

Rasulullah ﷺ menamai namimah sebagai sihir secara bahasa. Kenapa? Karena sebagaimana sihir tidak kelihatan tapi memberi efek, namimah pun begitu — seakan-akan tidak kelihatan, ternyata memberikan efek yang luar biasa. Bahkan Yahya bin Abi Katsir Al-Yamami rahimahullah pernah berkata:

“يُفْسِدُ النَّمَّامُ فِي سَاعَةٍ مَا لَا يُفْسِدُهُ السَّاحِرُ فِي سَنَةٍ”

Tukang namimah bisa merusak di antara dua orang yang saling mencinta dalam sekejap yang tidak bisa dilakukan oleh penyihir kecuali dalam setahun. Untuk menceraikan suami istri, mungkin setan kerja setahun — membangun narasi, membisikkan ke kepala suami, ke kepala istri, sampai akhirnya cerai. Tapi kalau nammām, mungkin 1-2 jam sudah cerai, dengan membuat isu dan fitnah sehingga timbul kebencian di antara keduanya. Buyar sudah dua sahabat yang saling mencintai.


Kisah-Kisah tentang Bahaya Namimah

Kisah Budak Tukang Namimah

Kisah ini disampaikan oleh Hammad bin Salamah. Ada seorang menjual budaknya, dan dia menjelaskan aib budak tersebut: “Ini budakku, semuanya baik kecuali satu kekurangannya — dia suka mengadu domba.”

Maka si pembeli berkata, “Aman, cuma ngadu domba? Cuma bahaya lisan. Yang penting rajin dan ngerti kerjaan.” Akhirnya dia membelinya.

Sang budak pun tinggal berhari-hari bersama majikan barunya. Karena dia tukang namimah — rasulnya iblis — dia pun menjalankan kebiasaannya. Dia berkata kepada istri majikannya, “Sungguh majikanku sudah tidak cinta kamu lagi. Dia ingin nikah lagi atau mengambil budak perempuan lain sebagai penggantimu. Saya ingin bantu kamu. Ambillah sedikit rambut dari leher atau jenggotnya ketika dia tidur, nanti kita gunakan untuk membuat dia kembali mencintaimu.”

Namanya perempuan kalau sudah cemburu, akalnya tidak berjalan dengan baik. Ketika diprovokasi dan sudah cemburu, dia pun nurut dan mengambil pisau atau gunting untuk mengambil rambut sang suami.

Lalu sang budak mendatangi majikannya. “Wahai majikan, sesungguhnya istrimu punya pacar dan dia ingin membunuhmu. Kalau kau tidak percaya, pura-pura tidurlah dan kau akan melihat sendiri.”

Akhirnya majikannya pura-pura tidur. Benar — datanglah istrinya membawa pisau atau gunting, hendak mengambil rambut untuk dibuat jimat. Suaminya mengira istrinya hendak membunuhnya. Maka dia pun mengambil pedang dan membunuh istrinya.

Keluarga istri pun datang membalas. Kerabat majikan datang membalas. Akhirnya terjadilah perang antara dua keluarga — gara-gara satu budak tukang namimah.

Itulah betapa ngerinya efek namimah. Suami istri sampai bunuh-bunuhan.


Bahaya Namimah di Akhirat

Pertama: Nammām adalah Manusia Terburuk

Dalam hadis Abdurrahman bin Ghunam radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“خِيَارُ عِبَادِ اللهِ الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللهُ”

“Sebaik-baik hamba Allah adalah yang jika mereka dilihat, orang teringat kepada Allah.”

Ada orang kalau kita lihat kita ingat sedekah karena dia rajin sedekah. Ada orang kalau kita lihat kita ingat puasa. Ada orang kalau kita lihat kita ingat takwanya. Orang yang terbaik adalah jika dilihat membuat orang lain ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian siapa yang terburuk?

“وَشِرَارُ عِبَادِ اللهِ الْمَشَّاؤُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ لِلْبُرَآءِ الْعَنَتَ”

“Adapun hamba Allah yang terburuk adalah yang suka jalan ke sana kemari untuk mengadu domba, yang memisahkan di antara orang-orang yang saling mencintai, yang menginginkan kesulitan bagi orang-orang yang tidak berdosa.”

Kedua: Nammām Memiliki Dua Wajah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“تَجِدُونَ شِرَارَ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ذَا الْوَجْهَيْنِ”

“Kalian dapati orang yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah pemilik dua wajah — yang mendatangi satu kaum dengan satu wajah dan mendatangi kaum yang lain dengan wajah yang lain.”

Itu untuk mengadu domba. Seakan-akan dekat dan akrab ke sini, seakan-akan dekat dan akrab ke sana, padahal ingin mengadu domba di antara si A dan si B.

Rasulullah ﷺ juga mengatakan: siapa yang memiliki dua wajah seperti ini, “lahū lisānāni minannnār yaumal qiyāmah” — dia akan punya dua lisan dari api neraka pada hari kiamat.

Ketiga: Tidak Masuk Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ”

Orang yang tukang namimah tidak masuk surga.

Keempat: Diazab di Alam Kubur

Bahkan sebelum diazab di neraka, diberikan mukadimah dulu berupa azab di alam kubur. Dalam hadis Ibnu Abbas, Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan dan bersabda:

“إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ”

“Sesungguhnya mereka berdua sedang diazab, dan mereka diazab bukan karena perkara yang mereka anggap besar.”

Yang pertama diazab karena tidak bersih ketika kencing. Yang kedua:

“وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ”

“Adapun yang satunya, dia suka berjalan ke sana kemari untuk mengadu domba.”

Ini adalah dalil bahwasanya orang yang namimah dosa besar dan diazab dalam alam barzakh. Sebagian ulama menyebutkan alasannya: yang pertama dihisab terkait hak Allah pada hari kiamat adalah shalat, sedangkan yang pertama diselesaikan di antara persengketaan manusia adalah urusan darah. Maka tidak bersih ketika kencing menyebabkan shalatnya tidak diterima — diazab di alam kubur sebagai mukadimah untuk diazab di akhirat karena shalatnya bermasalah. Dan namimah adalah mukadimah untuk pertumpahan darah, sehingga dia pun diazab di alam kubur sebagai mukadimah untuk disidang oleh Allah karena banyak namimah yang menyebabkan pertumpahan darah.

Wal ‘iyādzu billāh.


Di Antara Bentuk-Bentuk Namimah

Namimah Datang Berkedok Nasihat

Di antara hal yang berbahaya, seorang nammām sering datang dalam bentuk pemberi nasihat. “Saya kasih tahu kau saja biar kau waspada…” padahal sebenarnya ingin mengadu domba. Datang kepada seorang wanita: “Suamimu begini-begini. Sebenarnya saya tidak mau cerita, saya takut gibah. Tapi kau harus tahu…”

Dan ini pun dilakukan oleh iblis. Ketika menggoda Adam, kata Allah:

“وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ”

Iblis bersumpah kepada Adam dan Hawa: “Demi Allah, sungguh-sungguh aku ini benar-benar ingin memberikan kebaikan bagi kalian berdua.” Sampai menggunakan lam taukid berlapis-lapis. Wajar jika orang tua kita Adam akhirnya tergoda — baru pertama kali digoda, dan yang pertama kali menggoda langsung iblis sendiri, langsung bersumpah habis-habisan.

Namimah kepada Penguasa

Di antara bentuk namimah yang berbahaya adalah al-wusyāh — seseorang yang datang kepada penguasa dan melaporkan yang tidak-tidak tentang seseorang sehingga penguasa menjadi jengkel. “Dia ingin menjelek-jelekkan engkau, dia ingin mengambil tahtamu…” Akhirnya dicari-carilah kesalahan orang tersebut, ditangkap. Semua yang menimpa orang tersebut akibat laporan yang tidak benar itu akan ditanggung si pelapor pada hari kiamat kelak.

Ini terkadang dialami oleh para dai, seperti yang dialami oleh Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala. Penguasa didatangi dan Ibnu Taimiyah dituduh macam-macam hingga akhirnya beliau dipenjara.

Ada sebuah kisah menarik yang disebutkan dalam buku Badā’i’ As-Silk fī Thabā’i’ Al-Mulk karya Abu Abdillah Muhammad bin Arzuq Al-Andalusi.

Dahulu ada seorang yang sering bertemu dengan seorang raja dan selalu menasihatinya: “Wahai sang raja, berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat baik. Adapun orang yang berbuat buruk, biarkan saja — keburukannya akan menimpanya sendiri.” Raja pun senang dengan nasihat-nasihat orang ini.

Maka ada orang yang hasad kepadanya. Orang yang hasad ini pun datang ke raja: “Wahai raja, orang yang sering memuji-mujimu itu sebenarnya berkata di belakangmu bahwa engkau bau mulut.”

Kata raja, “Dari mana kau tahu?” Kata orang hasad itu, “Panggil saja dia. Kalau dia datang, suruh dia mendekat. Nanti kau lihat sendiri — dia pasti menutup mulutnya.”

Raja pun memanggil orang tersebut. Sebelumnya, orang yang hasad itu keluar dan mengundang si orang baik ke rumahnya. Dia memberikan makan banyak-banyak — dengan bawang putih — agar mulutnya bau. Orang itu makan tanpa curiga, karena memang dia orang baik.

Setelah makan, tiba-tiba datang panggilan dari raja. Dia pun datang menghadap. Ketika raja menyuruhnya mendekat, dia menutup mulutnya — khawatir raja mencium bau bawang putih dari mulutnya. Maka raja pun berkesimpulan: “Benar ternyata laporan tadi.”

Raja lalu menulis surat — biasanya berisi hadiah — dan menyuruh orang itu mengantarkannya ke anak buahnya. Isi surat itu ternyata: “Jika ada yang datang membawa surat ini, sembelih dia, kuliti, isi kulitnya dengan tanah, dan bawa kemari.”

Di tengah jalan, orang hasad tadi bertemu dengannya. “Kau bawa apa itu?” “Surat dari raja.” “Kasih buat saya saja.” Orang baik itu pun memberikannya dengan senang hati.

Akhirnya orang hasad itulah yang menyerahkan surat kepada anak buah raja. Dan dialah yang disembelih, dikuliti, diisi dengan tanah.

Si orang baik pun kembali menghadap raja seperti biasa. Raja heran. “Mana suratku?” “Saya kasikan kepada orang lain — teman saya yang bertemu di jalan.” “Siapa itu?” Setelah mendengar ciri-cirinya, raja sadar. Lalu raja bertanya, “Kenapa tadi kau menutup mulut saat aku minta kau mendekat?” “Karena saya baru makan bawang di rumahnya. Mulut saya bau. Saya tidak mau raja mencium bau mulut saya.”

Maka raja pun berkata, “Sungguh benar engkau. Adapun orang yang berbuat buruk, keburukannya akan menimpanya sendiri.”


Bagaimana Bersikap terhadap Namimah?

Pertama, jika ada orang datang dengan namimah, jangan langsung dibenarkan. Orang nammām adalah orang fasik. Allah berfirman:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا”

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang orang fasik membawa berita maka cross check lah.” Kalau kau langsung membenarkan informasinya, bisa-bisa kau membenci kakakmu, membenci adikmu, menceraikan istrimu, meminta cerai dari suamimu, memutuskan hubungan dengan kawan lamamu — semua karena berita yang belum tentu benar.

Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi seseorang yang menjelek-jelekkan orang lain. Maka Umar berkata, “Kalau kau jujur, maka kau termasuk orang yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an: hammāzin masyā’in binamīm — yang suka mencela dan berjalan ke sana kemari mengadu domba. Tapi kalau kau berdusta, maka kau termasuk dalam ayat tentang orang fasik. Pilih yang mana?” Tidak ada pilihan ketiga. Akhirnya orang itu berkata, “Maafkan aku, wahai Amirul Mukminin.”

Datang pula seorang kepada Wahab bin Munabbih: “Si fulan telah menceritakan engkau begini-begini.” Kata Wahab bin Munabbih: “Wajada barīdan ghayrak” — “Apakah setan tidak mendapati utusan selain kamu? Kok kamu yang jadi kurir setan?”

Dan Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Man namma ilaika namma ‘alaik” — Siapa yang bernamimah kepadamu dengan menceritakan keburukan orang lain, dia juga akan menceritakan keburukanmu kepada orang lain. Kebiasaan adalah kebiasaan. Maka jangan merasa nyaman jika ada orang menggibahi orang lain di hadapanmu — kemungkinan besar dia akan menggibahimu di hadapan orang lain.

Kedua, jangan berburuk sangka kepada saudara kita. Allah berfirman:

“اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ”

“Jauhilah banyak prasangka.”

Ketiga, jika ada berita dari seorang nammām, jangan kita ikuti dengan tajassus — mencari-cari tahu. Anggap saja seolah tidak pernah ada yang datang. Kita tidak boleh membenarkannya, bahkan kita berusaha mengingkarinya agar dia tidak terbiasa melakukan namimah.


Maka, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, waspadalah jangan sampai kita melakukan namimah, dan jangan cepat terpancing dengan perkataan orang. Banyak orang tidak suka dengan kebahagiaan kita, banyak orang tidak nyaman melihat kita berhasil. Ada saja orang jahat selama iblis masih hidup — dia akan terus mengirim utusan-utusannya. Maka seorang muslim waspada: jangan sampai melakukan namimah, dan jangan terpancing oleh orang yang melakukannya.

وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ

Share214Tweet134Send

Related Posts

Kebodohan-Kebodohan yang Sering Kita Lakukan
ADAB DAN AKHLAK

Kebodohan-Kebodohan yang Sering Kita Lakukan

Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi 'ala ihsanihi wa syukru lahu 'ala taufiqihi wa imtinanihi. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la...

by Admin UFA
April 1, 2026
mendamaikan sengketa
ADAB DAN AKHLAK

Anjuran Mendamaikan yang Bersengketa

Diantara akhlak yang mulia dan sangat dianjurkan oleh syariát adalah mendamaikan dua orang yang bersengketa. Berikut ini penulis lampirkan pembahasan...

by admin
January 14, 2022

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Bahaya Namimah (Adu Domba)

Bahaya Namimah (Adu Domba)

April 9, 2026
Kebodohan-Kebodohan yang Sering Kita Lakukan

Kebodohan-Kebodohan yang Sering Kita Lakukan

April 1, 2026
Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

March 2, 2026
Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

SIFAT-SIFAT ISTRI SALIHAH

March 2, 2026

Website resmi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Dikelola oleh tim IT resmi Ustadz Firanda Official.

About

  • About Us
  • Site Map
  • Contact Us
  • Career

Policies

  • Help Center
  • Privacy Policy
  • Cookie Setting
  • Term Of Use

Join Our Newsletter

Copyright © 2025 by UFA Official.

Facebook-f Twitter Youtube Instagram

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Support Forum
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2025 Firanda Andirja - Menebarkan cahaya tauhid & sunnah.