Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=eJ55V9pAYv4
Pentingnya Beramal dan Derajat di Akhirat
Setiap manusia diciptakan untuk beribadah dan beramal saleh kepada Allah ﷻ. Maka, segala aktivitas yang tidak bernilai ibadah akan menjadi kerugian di akhirat kelak. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk mengoptimalkan hidupnya menjadi amal saleh. Karena di akhirat, Allah ﷻ menentukan tingkatan-tingkatan para penghuni surga di dalam surga. Jadi, tingkatan-tingkatan di surga ditentukan oleh amalan yang dilakukan di dunia. Sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh:
النَّجَاةُ مِنَ النَّارِ بِعَفْوِ اللَّهِ، وَدُخُولُ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِهِ، وَاقْتِسَامُ الْمَنَازِلِ وَالدَّرَجَاتِ بِالْأَعْمَالِ
“Selamat dari neraka karena ampunan Allah dan masuk surga dengan rahmat-Nya. Adapun derajat-derajat dan level-level di surga berdasarkan amalan-amalan.”([1])
Allah ﷻ berfirman,
﴿وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا﴾
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Al-An’âm: 132)
Derajat di akhirat jauh lebih besar dan lebih detail pembagiannya daripada perbedaan level kehidupan di dunia, sesuai dengan keadilan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
﴿ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا﴾
“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isrâ`: 21)
Sebagaimana level manusia di dunia bertingkat-tingkat, maka tingkatan di akhirat lebih banyak lagi, karena perhitungan Allah ﷻ sangat detail. Inilah konsekuensi dari keadilan Allah ﷻ. Allah ﷻ tidak akan menyamakan yang satu dengan yang lainnya. Tidak mungkin seorang hamba yang salat malam disamakan dengan hamba lainnya yang tidak salat. Tidak mungkin seorang hamba yang salat malam selama satu jam disamakan dengan hamba lainnya yang salat malam hanya sebentar. Sangat mustahil, karena Allah ﷻ maha adil dalam memberi ganjaran. Di dalam salat saja pahala dibedakan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا
“Sesungguhnya ada seorang yang tidak selesai dari salatnya melainkan dicatat baginya sepersepuluh dari salatnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.”([2])
Bahkan sebagaimana dijelaskan pada hadis di atas, dalam satu ibadah seperti salat, pahala yang dicatat bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Sungguh Allah ﷻ maha detail dalam menghitung amal setiap hamba. Oleh karenanya hendaknya setiap hamba berusaha membuat segala aktivitasnya bernilai pahala di sisi Allah ﷻ.
Tentu saja yang demikian ini memerlukan perjuangan. Apalagi pada zaman sekarang ini, banyak diperlukan perjuangan amal saleh karena sering kali disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang tidak bermanfaat. Godaan menggunakan gadget, sering kali ingin tahu kegiatan orang lain, dan sibuk dengan makanan yang lezat yang berlebihan. Sehingga waktu untuk beribadah dan beramal saleh semakin berkurang. Maka untuk beribadah dan beramal saleh sangat dibutuhkan perjuangan yang besar, terlebih lagi beribadah di zaman fitnah. Sampai Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,
((الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ))
“Beribadah di musim fitnah seperti hijrah kepadaku.”([3])
Nabi Muhammad ﷺ menyamakan ibadah di musim fitnah seperti orang yang sedang berhijrah kepada beliau ﷺ, karena begitu banyaknya orang sibuk dengan fitnah di musim tersebut. Mereka lebih menyibukkan diri mereka dengan fitnah tersebut. Hanya sedikit orang yang sibuk dengan ibadah. Maka jika telah tiba musim fitnah tersebut, janganlah seorang muslim ikut kepo dan ingin lebih banyak tahu tentang hal tersebut. Hendaknya ia sibuk beribadah karena seperti sedang berhijrah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Pada zaman ini setiap muslim lebih butuh kepada bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menasihati untuk beramal saleh dan menasihati dalam kebaikan dan kebenaran. Selama masih hidup, maka hendaknya banyak melakukan amal saleh. Pada saat ini kita semua masih diberikan kemudahan untuk beramal saleh, membaca Al-Qur`an, mendirikan salat, bersedekah, bersilaturahmi, berbagi kebahagiaan dengan sesama. Karena jika sudah meninggal dunia, maka seseorang tidak akan mampu lagi melakukan amal saleh.
Peringatan ini begitu penting bagi setiap muslim, terutama kepada mereka yang telah berusia senja. Ketika seseorang berada pada usianya yang dekat dengan ajalnya, maka waktu untuk beramal saleh semakin sempit dan semakin sedikit. Meskipun memang ajal setiap hamba hanya Allah ﷻ yang mengetahuinya, maka alangkah baiknya untuk selalu mempersiapkan amal saleh sebanyak-banyaknya sebelum waktu untuk beramal saleh semakin sedikit.
Janganlah seseorang yang semakin menua usianya, justru semakin berfoya-foya dengan perkara duniawi layaknya anak muda. Janganlah semakin menua tapi semakin jauh dengan amal saleh. Ini adalah perkara yang tidak diinginkan oleh setiap hamba yang saleh. Seharusnya seseorang yang semakin menua usianya, maka ia semakin progresif dan semakin baik ibadahnya. Semakin dekat waktu pertemuannya dengan Allah ﷻ, maka ia semakin baik iman dan amalnya. Tentu saja semua ini memerlukan perjuangan.
Perjuangan Menjaga Amal Lebih Sulit daripada Beramal
Ketika seorang hamba telah melakukan amal saleh, maka ada pahala yang harus ia jaga. Perjuangan ini lebih sulit, karena menjaga amal saleh yang sudah dilakukan agar pahalanya tidak gugur. Oleh karenanya, Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, dalam kitabnya Al-Wabil ash-Shayyib:
وَمُحْبِطَاتُ الْأَعْمَالِ وَمُفْسِدَاتُهَا أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ، وَلَيْسَ الشَّأْنُ فِي الْعَمَلِ، إِنَّمَا الشَّأْنُ فِي حِفْظِ الْعَمَلِ مِمَّا يُفْسِدُهُ وَيُحْبِطُهُ.
“Penghalang dan perusak amal itu lebih banyak. Persoalan (yang penting) bukanlah sekadar melakukan amal, tetapi bagaimana menjaga amal tersebut dari hal-hal yang dapat merusak dan menghapus pahalanya.”([4])
Banyak dalil yang menunjukkan bahwasanya sebagaimana ada yang disebut dengan Al-Hasanât al-Mâhiyah (amal saleh yang menghapus dosa), di antaranya adalah seperti ibadah salat, puasa Ramadan, dan haji mabrur. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ السَّيِّئَاتِ﴾
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)
Berdasarkan ayat ini, segala pahala kebaikan-kebaikan dan amal saleh menghancurkan dosa-dosa. Puasa di bulan Ramadan, haji yang mabrur, umrah dan sedekah menggugurkan dosa-dosa. Begitu pula dengan ibadah dan amal saleh yang lainnya.
Sebaliknya juga ada As-Sayyi`ât al-Muhbithah (dosa-dosa yang menggugurkan pahala). Sebagian orang hanya mengenali amalan-amalan yang menghapuskan dosa-dosa, tetapi tidak mengetahui amalan-amalan yang menggugurkan pahala amal. Makanya Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata,
وَأَكْثَرُ النَّاسِ مَا عِنْدَهُمْ خَبَرٌ مِنَ السَّيِّئَاتِ الَّتِي تُحْبِطُ الْحَسَنَاتِ.
“Dan kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan tentang dosa-dosa yang dapat menghapuskan (pahala) amal-amal kebaikan.” ([5])
Percuma seseorang melakukan banyak amal saleh, akan tetapi pahala amalnya gugur. Mayoritas manusia tidak memiliki ilmu tentang dosa-dosa yang bisa menggugurkan pahala. Sangat merugi orang yang beramal banyak namun pahalanya gugur. Siapakah yang lebih menderita, orang yang telah banyak beramal saleh kemudian pahalanya berguguran? Atau dari awal ia tidak melakukan amal saleh sama sekali? Jawabannya adalah lebih menderita orang yang telah banyak beramal, tetapi pahalanya berguguran. Gambaran sederhananya adalah seperti orang yang telah banyak mengumpulkan harta, tiba-tiba hartanya hilang. Maka kondisi yang demikian lebih menderita dari pada orang yang sejak awal memang tidak memiliki harta sama sekali.
Allah ﷻ menggambarkan kerugian orang-orang yang merasa telah beramal saleh dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, padahal amalnya sesat (tidak diterima). Allah ﷻ berfirman,
﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ١٠٣ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾
“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Demikianlah gambaran orang yang paling merugi terhadap amal saleh yang dikumpulkannya selama di dunia. Ternyata di akhirat ia tidak menemukan pahalanya sama sekali. Pada hari kiamat kelak, Allah ﷻ akan menghancurkan amal orang-orang yang merugi seperti debu yang berterbangan. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا﴾
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqân: 23)
Pada hari kiamat Allah ﷻ memperlihatkan pahala amal saleh mereka. Namun akhirnya Allah ﷻ menjadikannya layaknya debu yang beterbangan. Sungguh ini sangat mengenaskan.
Allah ﷻ juga telah memperingatkan orang-orang yang beramal saleh dengan niat untuk mendapatkan perkara duniawi. Allah ﷻ berfirman,
﴿مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ ١٥ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ﴾
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hûd: 15-16)
Pada saat para sahabat pergi untuk berperang pada peristiwa perang Uhud, ternyata di antara mereka ada yang melanggar perintah Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ berfirman menggambarkan,
﴿مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنۡيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنۡيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَ﴾
“Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (QS. Âli-‘Imrân: 152)
Di antara mereka ada yang berjihad untuk mencari dunia dan ada yang mencari akhirat. Namun Allah ﷻ telah mengampuni mereka. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَلَقَدۡ عَفَا عَنكُمۡۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ﴾
“Dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Âli-‘Imrân: 152)
Apa yang menimpa kepada para sahabat sangat mungkin untuk menimpa kita. Beramal akhirat tapi untuk mencari dunia. Menyangka akan mendapatkan pahala akan tetapi tidak mendapatinya sama sekali. Para ulama menjelaskan bahwa barang siapa yang beribadah dan beramal dengan ria, maka ia akan diberikan oleh Allah ﷻ dengan niat rianya tersebut.
Barang siapa yang ingin beribadah agar populer atau dikenal banyak orang, maka Allah ﷻ akan memberikan ketenaran tersebut kepadanya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
((إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ))
“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan dengan pahalanya, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?’, dia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. (Orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal) Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya -pen), maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat padanya?’, dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, ‘Dia adalah qari`’, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. (Yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta, lalu dia didatangkan, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya-pen), lalu dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat padanya?’ dia menjawab, ‘Aku tidak menyisakan satu jalan pun yang Engkau senangi kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang dermawan,’ dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.”([6])
Allah ﷻ memenuhi keinginan pada amalan mereka di dunia dan tidak dikurangi. Orang yang populer memiliki banyak follower belum tentu dia akan selamat di akhirat kelak. Bisa jadi ketenarannya dan hartanya adalah niat dunia yang Allah ﷻ berikan kepadanya ketika di dunia. Setiap orang yang beribadah dengan niat untuk dipuji, disanjung, dihormati dan populer, maka Allah ﷻ akan memberikan kepadanya dan bisa jadi Allah ﷻ tidak memberinya, karena di bawah kehendak Allah ﷻ. Namun di akhirat tidak mendapatkan apa pun kecuali neraka. Justru semua pahala dari amal yang mereka kerjakan selama di dunia berguguran dan sia-sia ketika di akhirat. Sungguh ini sangat mengenaskan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِه))
“Barang siapa yang memperdengarkan (amalannya), maka Allah memperdengarkan tentangnya. Barang siapa yang memperlihatkan (amalannya), maka Allah akan memperlihatkannya. ”([7])
Barang siapa yang memamerkan ibadahnya di dunia, maka Allah ﷻ akan mempermalukannya di akhirat kelak. Para ulama menjelaskan orang yang salat, yang umrah atau haji, berdakwah, menuntut ilmu, membaca Al-Qur`an, bersedekah dan berjihad karena ria`, maka pada hari kiamat Allah ﷻ akan menampakkan pahala-pahalanya. Mereka merasa senang ketika melihat pahala mereka. Ketika mereka merasa senang, tiba-tiba Allah ﷻ mempermalukan mereka dengan menghancurkan pahala-pahala mereka seperti debu yang beterbangan([8]). Tentu ini lebih mengenaskan dari pada sejak awal seseorang mengetahui tidak memiliki amal saleh sama sekali. Oleh karenanya, benar bahwa untuk beramal saleh itu membutuhkan perjuangan, terlebih lagi perjuangan dalam menjaga pahala amal saleh tidak gugur.
Dosa-Dosa Penggugur Amal Saleh
Setiap muslim sangat perlu untuk mengetahui perkara apa saja yang dapat menggugurkan pahala amal saleh. Tujuannya adalah agar mampu berhati-hati dalam beramal saleh dan pahala amal saleh terjaga serta bisa melihat hasilnya pada hari kiamat kelak. Perkara-perkara yang mampu menggugurkan amal saleh ditinjau dari dua sisi, yaitu: penggugur seluruh amal dan penggugur sebagian amal.
- Penggugur Amal Secara Total
Perkara yang mampu menggugurkan amal saleh seluruhnya adalah syirik akbar/besar dan kekufuran. Syirik besar atau kekufuran adalah dosa yang dapat menggugurkan seluruh amal saleh, meskipun amal tersebut sudah dilakukan selama puluhan tahun. Barang siapa yang telah melakukan syirik besar maka pahala amal salehnya gugur. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’âm: 88)
﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Barang siapa melakukan syirik besar, seperti: meminta kepada mayat, meminta kepada wali, meminta kepada Syekh Abdul Qadir al-Jaelani, percaya kepada dukun, tukang sihir, menyembelih untuk jin, dan segala bentuk kesyirikan lainnya, maka semua praktik ini membatalkan seluruh amal saleh.
Demikian juga kekufuran, seperti: mencela dan merendahkan Nabi Muhammad ﷺ atau membunuhnya, menghina Al-Qur`an dan membenci syariat Allah ﷻ dan lain sebagainya. Barang siapa melakukan perbuatan kekufuran, maka terhapuslah amalan kebaikannya. Berdasarkan firman Allah ﷻ,
﴿وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُهُۥ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ﴾
“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al-Mâ`idah: 5)
Termasuk perbuatan kekufuran adalah mencaci maki Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ, mengejek syariat Islam, mengolok-olok syariat hijab, berjenggot, atau membenci syariat yang diturunkan Allah ﷻ. Orang-orang liberal banyak yang melakukan hal yang demikian ini. Mereka mempertanyakan apa itu hukum had, hukum waris. Mereka tidak suka dengan syariat Allah ﷻ. Barang siapa yang mengolok-olok syariat Allah ﷻ, maka ia telah terjatuh ke dalam kekufuran dan amalnya akan gugur. Allah ﷻ berfirman,
﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ﴾
“Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur`an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9)
Amal saleh yang telah dikerjakannya selama bertahun-tahun berguguran seluruhnya hanya karena kekufuran yang ia lakukan. Karenanya, hendaknya setiap dari kita hati-hati dan waspada.
Para ulama berselisih pendapat, apakah amalnya tersebut gugur ketika beramal saleh atau ketika meninggal dunia. Al-Imam Malik rahimahullâh berpendapat bahwa kapan saja seseorang melakukan kesyirikan maka amalnya akan gugur saat itu juga. Misalnya seseorang yang telah beribadah 60 tahun, lalu pada usianya yang ke-61 ia mendatangi dukun dan mempercayai ucapannya, maka seluruh amalannya gugur saat itu juga. Ibadah haji, umrah, salat, sedekah, berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada keluarga dan anak-anaknya, silaturahmi yang telah ia lakukan selama puluhan tahun seluruhnya gugur. Seandainya ia bertobat dari kekufurannya tersebut maka ia harus berhaji lagi, karena ibadah haji yang ia lakukan sebelumnya tidak bernilai.
- Penggugur Sebagian Amal
- Syirik Kecil
Perkara yang mampu menggugurkan sebagian amal saleh adalah semua perbuatan selain syirik besar dan kekufuran. Di antaranya adalah syirik kecil, yaitu ria`. Ria` adalah menampakkan amal supaya diakui oleh orang lain. Jika dia menampakkan amalnya pada permulaan amalnya, maka pahalanya bisa gugur di awal dan apabila menampakkannya belakangan, maka bisa gugur belakangan. Penyakit ria` ini adalah penyakit yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Beliau ﷺ bersabda,
((إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ))
“‘Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.’ Mereka bertanya, ‘Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ria’ (pamer)’.”([9])
Rasulullah ﷺ pula pernah mengabarkan dalam sabda beliau:
((أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟» قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: «الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ))
“‘Maukah kalian aku kabarkan kepada kalian perkara yang paling lebih aku takutkan daripada fitnah Dajjal?’ Kami (para sahabat) berkata, ‘Mau wahai Rasulullah’ Maka beliau ﷺ berkata, ‘Syirik yang samar. Seseorang berdiri salat, lalu memperindah salatnya karena ia tahu ada orang yang melihatnya’.”([10])
Nabi Muhammad ﷺ sangat khawatir dengan penyakit ria` dan sum’ah yang menimpa kaumnya dari pada Dajal, karena Dajal hanya muncul di akhir zaman. Adapun ria` dan sum’ah muncul kapan saja. Seseorang bisa tergoda untuk ria` dan sum’ah kapan saja. Jika demikian maka ada baiknya jika kita sebagai orang tua untuk tidak banyak bercerita tentang amal kita di waktu muda kepada anak keturunan kita, meskipun tujuannya baik untuk menumbuhkan semangat dalam beribadah. Tidak semua yang diceritakan menandakan ria` atau sum’ah, akan tetapi potensi itu sangat rawan terjatuh ke dalam ria` dan sum’ah. Namun jika disembunyikan maka itu lebih baik. Oleh karenanya para sahabat dahulu menyembunyikan amal saleh mereka.
Di tinjau dari waktu sebab yang merusak amal terjadi, maka ada beberapa model, yaitu:
- Penggugur amal yang gugur sejak awal.
Sebagian amal tidak diterima karena bercampur dengan ria`. Jika seseorang melakukan amal saleh karena ria` sejak awal, maka sejak itu juga ia tidak mendapatkan pahala. Misalnya seseorang yang mendirikan salat karena ria`, maka sejak awal ia tidak mendapatkan pahala. Orang yang membangun masjid karena ria, agar orang-orang mengetahui dan memuji bahwa ia membangun masjid, maka dia tidak mendapatkan pahala atas amalnya tersebut sejak awal.
- Penggugur amal yang gugur setelah selesai beramal
Sebagian amal tidak diterima akibat ria` yang muncul belakangan. Apabila seseorang beramal yang awalnya ikhlas, kemudian pahala telah tercatat baginya, namun kemudian diceritakan (sum’ah) atau mengungkit-ungkitnya agar diakui dan diketahui oleh banyak orang, maka pahalanya akan gugur. Namun jika setelah ia beramal kemudian melakukan kekufuran atau syirik besar, maka seluruh amalnya akan berguguran.
Pahala amal saleh yang disembunyikan lebih afdal dari pada yang diceritakan. Allah ﷻ berfirman,
﴿إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ﴾
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)
Amalan saleh yang disembunyikan lebih baik dari pada amal saleh yang ditampakkan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبِيٌّ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ، فَلْيَفْعَلْ))
“Barang siapa yang mampu memiliki amalan saleh yang disembunyikan, maka lakukanlah.”([11])
Hendaknya setiap muslim berusaha untuk beramal saleh dan tidak ada yang mengetahui amal yang dikerjakannya tersebut kecuali Allah ﷻ. Ada seorang yang 30 tahun silam telah melakukan amal saleh, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah ﷻ. Namun pada satu kesempatan ia bercerita bahwa ia dahulu melakukan amal saleh tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan bahwa ketika orang tersebut bercerita tentang amal salehnya tersebut, maka amalnya pun berubah. Amalnya dahulu yang tersembunyi telah menjadi pahala yang tinggi, namun setelah ia bercerita maka amalnya tersebut menjadi lebih sedikit karena amalnya telah diketahui. Jika semakin sering ia bercerita, maka pahalanya akan menjadi hilang. Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata menyebutkan tentang hal ini:
وَقَدْ جَاءَ فِيْ أَثَرٍ مَعْرُوْفٍ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْعَمَلَ سِرًّا لِلَّهِ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ أَحَدٌ إِلَّا اللهُ تَعَالَى، فَيَتَحَدَّثُ بِهِ، فَيَنْتَقِلُ مِنْ دِيْوَانِ السِّرِّ إِلَى دِيْوَانِ الْعَلَانِيَّةِ، ثُمَّ يَصِيْرُ فِيْ ذَلِكَ الدِّيْوَانِ عَلَى حَسَبِ الْعَلَانِيَّةِ» فَإِنْ تَحَدَّثَ بِهِ لِلسُّمْعَةِ وَطَلَبِ الْجَاهِ وَالْمَنْزِلَةِ عِنْدَ غَيْرِ اللهِ تَعَالَى أَبْطَلَهُ، كَمَا لَوْ فَعَلَهُ لِذَلِكَ.
Disebutkan dalam sebuah atsar:“Sesungguhnya ada seorang hamba yang benar-benar melakukan suatu amalan secara sembunyi-sembunyi karena Allah. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain Allah Ta‘ala. Lalu ia menceritakannya, maka berpindahlah amalan itu dari diwan (catatan) amal rahasia ke diwan amal yang tampak (terang-terangan). Kemudian dalam catatan itu amalan tersebut menjadi sesuai dengan kadar tampak (terang-terangan).” Apabila ia menceritakannya karena ingin dipuji (sum‘ah) dan mencari kemuliaan serta kedudukan di hadapan selain Allah Ta‘ala, maka ia telah membatalkan (pahalanya), sebagaimana jika ia melakukan amalan itu memang dengan tujuan tersebut sejak awal.([12])
Ada amal yang gugur sejak awal, karena niatnya yang tidak lurus. Ada amal yang berkurang pahalanya. Ada amal yang pahalanya gugur belakangan. Semuanya harus diwaspadai jangan sampai pahala amal gugur dan hilang sia-sia. Amal saleh yang diiringi dengan mencari pengakuan manusia tidak ada manfaatnya sama sekali. Manfaat dan faedah sebenarnya adalah jika diakui oleh Allah ﷻ. Jika satu dunia mengakui dan memuji kita, tetapi kalau kita buruk di hadapan Allah ﷻ, maka tidak ada faedahnya sama sekali. Maka dari itu, hendaknya setiap orang mencari rida Allah ﷻ.
- Dosa pada saat bersendirian (Dzunubul Khalawat)
Ini adalah dosa-dosa yang dilakukan saat seseorang bersendirian, di mana ia berlagak saleh di hadapan manusia tetapi bermaksiat saat tidak ada orang. Hal ini menunjukkan ketidakpedulian terhadap pengawasan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda,
((لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا، فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ هَبَاءً مَنْثُورًا، قَالَ ثَوْبَانُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ، وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ، قَالَ: أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا))
“‘Sungguh aku benar-benar mengetahui suatu kaum dari umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sebesar pegunungan Tihamah. Lalu Allah menjadikan pahala tersebut seperti debu yang beterbangan.’ Tsauban berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskan sifat mereka kepada kami. Jelaskan kepada kami agar kami bukan termasuk dari mereka, sementara kami tidak mengetahuinya.’ Beliau ﷺ bersabda, ‘Mereka itu adalah saudara-saudara kalian, dari saudara kalian, mereka beribadah di malam hari seperti kalian, akan tetapi mereka itu jika bersendirian dengan kemaksiatan, maka mereka melanggarnya.” ([13])
Para ulama menyebutnya dengan dosa kala bersendirian. Tentu saja ini sangat mengerikan. Siapa yang bisa selamat dari dosa seperti ini? Setiap orang bisa melakukan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksudkan di dalam hadis ini adalah orang-orang munafik. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah ﷻ yang berbunyi:
﴿يَسۡتَخۡفُونَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَلَا يَسۡتَخۡفُونَ مِنَ ٱللَّهِ﴾
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah.” (QS. An-Nisa`: 108)
Mereka berlagak saleh di hadapan manusia. Namun, di hadapan Allah ﷻ mereka bebas melakukan kemaksiatan.([14])
Sebagian ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah orang-orang yang ria`. Mereka selalu menampakkan amal salehnya di hadapan banyak orang. Namun ketika bersendirian selalu melakukan kemaksiatan.([15]) Ada juga yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang ketika berzina mereka melakukannya dengan keberanian, tanpa ada rasa menyesal dan takut. Sebagaimana yang disifatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabda beliau:
((وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا))
“Akan tetapi mereka itu jika bersendirian dengan kemaksiatan, maka mereka melanggarnya.”([16])
Yang sangat mengerikan adalah ini sudah menjadi kebiasaan mereka. Tidak ada rasa takut ketika melakukannya dan tidak ada penyesalan atau tobat dari kebiasaannya tersebut. Jika seseorang telah mencapai derajat yang sedemikian ini, maka pahala amal yang dilakukannya gugur. Berbeda dengan seseorang yang sesekali hawa nafsu menguasai dirinya. Maka seseorang ketika terjerumus di dalam kemaksiatan kala bersendirian hendaknya selalu segera bertobat kepada Allah ﷻ. Sebagian ulama berkata,
أَجْمَعَ العَارِفُونَ بِاللَّهِ أَنَّ ذُنُوبَ الخَلَوَاتِ هِيَ أَصْلُ الِانْتِكَاسَاتِ، وَأَنَّ عِبَادَاتِ الخَفَاءِ هِيَ أَعْظَمُ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ
“Para ahli makrifat bersepakat bahwa dosa-dosa saat sendirian adalah akar dari berbagai perubahan keterbalikan di kemudian hari dan bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan secara tersembunyi adalah sebab terbesar untuk meraih keteguhan (istikamah).”
Inilah di antara sebab-sebab Allah ﷻ memberikan penjagaan-Nya kepada seorang hamba. Maka hendaknya seorang hamba selalu berusaha untuk terbiasa melakukan amal saleh yang orang lain tidak mengetahuinya. Ini menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh cari muka di hadapan Allah ﷻ. Bukan mencari muka di depan manusia. Ia senantiasa istikamah mendirikan salat malam sendirian, membaca Al-Qur`an atau sedekah secara sembunyi-sembunyi, tidak ada orang yang mengetahuinya. Silaturahmi tidak dipamerkan kepada banyak orang. Berbuat baik kepada anak dan istri juga tidak perlu dipamerkan kepada orang lain.
Boleh saja sesekali amal saleh ditampakkan sekadar untuk memberikan contoh atau teladan. Tidak perlu bercerita tentang kebaikan dan kesalehan pribadinya. Jika ia ingin bercerita, maka bisa bercerita tentang kebaikan dan kesalehan orang lain. Potensi ria` sangat besar. Tidak ada yang bisa menjaga hati. Hati bisa berubah-ubah setiap waktu. Sekarang bisa ikhlas, 5 menit kemudian bisa saja timbul ria` sesuai situasi dan kondisi. Maka ketika seseorang beramal saleh dalam kesendirian, maka itu menjadi sebab istikamah. Suhnun rahimahullâh berkata,
إِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ عَدُوًّا لِإِبْلِيسَ فِي العَلَانِيَةِ صَدِيقًا لَهُ فِي السِّرِّ
“Jangan sekali-kali engkau menjadi musuh Iblis di hadapan manusia, tetapi menjadi sahabatnya ketika sedang sendirian.”
- Praktik Riba
Di antara penggugur sebagian amal adalah perbuatan riba. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ pernah menegur Zaid bin al-Arqam ketika melakukan praktik riba dengan berkata,
أَبْلِغِي زَيْدًا أَنَّهُ قَدْ أَبْطَلَ جِهَادَهُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِنْ لَمْ يَتُبْ
“Sampaikanlah kepada Zaid bahwa dia telah menggugurkan pahala jihadnya bersama Nabi Muhammad ﷺ kecuali jika dia bertobat.”([17])
Tidak semua amal saleh bisa gugur, tetapi karena praktik riba amalan jihad gugur. Pahala jihad sangat besar. Akan tetapi hanya disebabkan praktik riba, pahala amal jihadnya berguguran.
- Kezaliman
Kezaliman terhadap orang lain, baik terkait darah, harta, atau harga diri, akan dibayar dengan amal saleh di akhirat. Jangan sampai seseorang menzalimi orang lain. Karena kezaliman tersebut akan dibayar dengan amal saleh di akhirat kelak. Maka pastikan jika terjadi suatu permasalahan kita yang dalam kondisi terzalimi. Karena jika kita dalam kondisi terzalimi dan meskipun hak kita tidak kembali di dunia, maka hak kita akan kembali kelak di hari kiamat dan itu lebih baik.
Contoh sederhananya saja ketika seseorang telah tercuri hartanya sebesar 100 juta rupiah oleh orang lain. Ketika pencuri telah tertangkap ternyata korban meminta hak uangnya tercuri tersebut tidak juga dikembalikan. Secara hasrat tentu ia ingin agar hartanya tersebut dikembalikan di dunia saat itu juga. Akan tetapi pada hakikatnya lebih baik haknya itu dikembalikan di akhirat kelak. Karena jika haknya dikembalikan di dunia, maka akan habis untuk perkara-perkara duniawi. Namun jika hak itu dikembalikan di akhirat kelak, maka akan menjadi pahala yang luar biasa, atau dosanya yang justru diberikan kepada orang yang telah menzaliminya.
Memang benar bahwa orang yang terzalimi itu sengsara, menyedihkan dan mengenaskan. Tetapi secara perhitungan lebih baik haknya dikembalikan di akhirat kelak. Karena pada hari kiamat kelak, semua hamba membutuhkan banyak pahala dan syafaat dari Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلمَةٌ لأَخِيهِ، مِنْ عِرضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ قبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ؛ إنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلمَتِهِ، وَإنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيهِ))
“Barang siapa yang mempunyai kezhaliman (pernah zhalim) terhadap saudaranya, terhadap harga dirinya atau sesuatu apa pun, maka hendaknya dia minta dihalalkan hari ini, sebelum datang hari tidak ada dinar dan dirham lagi([18]). Jika ia memiliki amal saleh, maka diambil untuk dibayarkan sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambilkan dosa saudaranya dan dibebankan kepadanya.”([19])
Sebagaimana disebutkan pada hadis Nabi Muhammad ﷺ bahwa kezaliman berkaitan dengan 3 hal, yaitu: darah, harta dan harga diri. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,
((إنَّ دِماءكُمْ، وَأمْوَالَكُمْ، وأعْرَاضَكُمْ، حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، في شَهْرِكُمْ هَذَا، في بَلَدِكُمْ هَذَا))
“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini.”([20])
Kezaliman yang berkaitan dengan darah atau harta, maka seseorang akan sadar jika ia terzalimi dalam dua perkara tersebut. Akan tetapi terkadang seseorang tidak sadar jika ia terzalimi berkaitan dengan kehormatan. Di antara perbuatan yang mengantarkan seseorang berbuat kezaliman kepada orang lain tanpa disadari adalah gibah. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullâh berkata,
“Jika seseorang pernah bergibah tentang orang lain, maka hendaknya ia mendatanginya, lalu memberitahukannya dan meminta maaf kepadanya dan minta untuk dihalalkan. Bahkan jika ia minta dengan syarat diberikan sejumlah harta, maka hendaknya ia memberikan harta yang diminta tersebut. Tindakan ini lebih baik dari pada perkara itu akan membuat repot di akhirat kelak. Jangan sampai seluruh pahala ibadah yang dikumpulkannya gugur diberikan kepada orang yang digibahinya.” ([21])
Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata,
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ الْجِبَالِ، فَيَجِدُ لِسَانَهُ قَدْ هَدَمَهَا عَلَيْهِ كُلَّهَا؛ وَيَأْتِي بِسَيِّئَاتٍ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، فَيَجِدُ لِسَانَهُ قَدْ هَدَمَهَا مِنْ كَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَا اتَّصَلَ بِهِ.
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar akan datang pada hari Kiamat dengan kebaikan-kebaikan sebesar gunung-gunung, lalu ia mendapati bahwa lisannya telah menghancurkan semuanya; dan ia datang dengan keburukan-keburukan sebesar gunung-gunung, lalu ia mendapati bahwa lisannya telah menghancurkannya karena banyaknya zikir kepada Allah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.”([22])
Al-Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa orang yang bergibah ibarat orang yang telah membangun istana yang besar, lalu ia menghancurkan sendiri istana tersebut([23]). Oleh karenanya, janganlah seseorang menggugurkan pahalanya dengan berbuat zalim kepada orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda,
((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ، وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ))
“‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham dan barang perdagangan.’ Beliau bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Tetapi, ia juga datang telah mencaci maki ini, menuduh itu, memakan harta ini, menumpahkan darah ini dan memukul itu. Maka pahala kebaikannya diberikan kepada si ini dan si itu. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum terbayar semua kezalimannya, diambillah dosa-dosa mereka yang terzalimi itu, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.’” ([24])
Berhati-hatilah dengan lisan! Jagalah lisan! Jangan asal berbicara seenaknya sendiri. Yang termasuk di dalam kategori lisan adalah berkomentar di media sosial. Maka hendaknya setiap orang berhati-hati jangan sampai pahala salat, puasa, zakat dan amal saleh lainnya hilang dikarenakan berbuat kezaliman. Janganlah seorang pemimpin berbuat zalim kepada pegawai atau karyawannya. Janganlah suami berbuat zalim kepada istrinya. Janganlah istri berbuat zalim kepada suaminya. Janganlah seorang anggota keluarga berbuat zalim kepada pembantunya. Janganlah seseorang berbuat zalim kepada teman dekatnya atau tetangganya. Karena kezaliman mampu menggugurkan pahala amal saleh setiap hamba.
Kenyataan yang sangat mengenaskan bahwa orang yang digibahi biasanya adalah orang yang tidak disukai dan dibenci. Sehingga ketika orang yang dibenci ini menjadi topik utama dalam majelis gibah, maka ternyata dialah yang nantinya akan menyedot pahala orang-orang yang menggibahinya.
- Hasad (Iri Hati)
Hasad adalah iri hati terhadap nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada orang lain dan berharap nikmat itu hilang. Hakikatnya, hasad adalah protes terhadap keputusan Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda,
((إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ))
“Waspadalah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan pahala-pahala, sebagaimana api memakan kayu bakar.”([25])
Api yang membakar kayu yang kering bisa melahap dengan cepat. Demikian juga hasad mampu menghilangkan pahala amal saleh seperti api yang membakar kayu dengan cepat. Maka jika timbul hasad di dalam diri kita, hendaknya kita melawannya. Jika kita hasad kepada orang lain, maka hendaknya kita memujinya agar terhindar penyakit ini. Karena ketika ada orang yang hasad terhadap orang lain, maka itu menunjukkan bahwa ia protes terhadap keputusan Allah ﷻ. Maka janganlah kita protes terhadap keputusan Allah ﷻ. Janganlah kita hasad kepada nikmat Allah ﷻ yang diberikan kepada orang lain. Bisa saja kita tidak mampu mensyukuri jika Allah ﷻ berikan kenikmatan itu kepada kita.
Mensyukuri nikmat bukanlah perkara yang mudah. Contoh sederhananya ketika seseorang memiliki rumah yang kecil dan orang lain memiliki rumah yang besar. Belum tentu orang yang memiliki rumah yang kecil bisa mensyukuri nikmat tersebut. Masing-masing mempertanggung jawabkan urusannya dengan Allah ﷻ. Jangan sampai ia hasad terhadap orang yang memiliki rumah yang besar tersebut. Misalnya juga ada dai yang audiencenya hanya sedikit dan ada dai lainnya yang audiencenya ribuan banyak orang. Janganlah dai tersebut hasad terhadap dai yang memiliki banyak audience, karena hatinya belum tentu bisa ikhlas dan berat dalam menghadapi fitnah dunia, popularitas, dan wanita. Bisa saja orang lain jika dalam posisinya tidak akan mampu bersyukur kepada Allah ﷻ.
Pada hakikatnya hasad adalah bentuk protes terhadap keputusan Allah ﷻ. Orang yang hasad sejatinya telah menzalimi dirinya sendiri. Ia menyakiti hatinya sendiri. Maka bagaimana pun keadaan kita hendaknya kita mensyukuri kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepada kita. Kita belum bisa mensyukuri nikmat Allah ﷻ yang sekarang diberikan kepada kita. Apalagi jika nikmat itu lebih dari pada yang sekarang ini. Setiap kali Allah ﷻ memberikan tambahan nikmat maka kita mensyukurinya.
- Meninggalkan Salat Asar
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ))
“Barang siapa yang meninggalkan salat Asar maka telah gugur amalnya.”([26])
- Bersumpah mendahului Allah ﷻ
Bersumpah atas nama Allah ﷻ tanpa ilmu termasuk dosa yang dapat menggugurkan sebagian amal. Di dalam hadis disebutkan tentang dua orang dari kalangan Bani Israil. Orang pertama adalah orang yang suka melakukan kemaksiatan. Orang kedua adalah orang yang saleh dan taat beribadah. Sebagaimana dikisahkan oleh Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَآخِيَيْنِ، فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ، وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ، فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ، فَيَقُولُ: أَقْصِرْ. فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ، فَقَالَ لَهُ: أَقْصِرْ. فَقَالَ: خَلِّنِي وَرَبِّي، أَبَعَثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا؟ فَقَالَ: وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ، أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ! فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا، فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ: أَكُنْتَ بِي عَالِمًا، أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا؟ وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي. وَقَالَ لِلْآخَرِ: اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ))
“Dahulu ada dua orang dari Bani Israil yang saling bersaudara. Salah seorang dari keduanya sering berbuat dosa, sedangkan yang lainnya sungguh-sungguh dalam beribadah. Setiap kali orang yang rajin beribadah itu melihat saudaranya berbuat dosa, ia berkata: “Berhentilah!” Suatu hari ia kembali mendapati saudaranya sedang melakukan dosa, lalu ia berkata:“Berhentilah!” Orang itu menjawab: “Biarkan aku bersama Tuhanku. Apakah engkau diutus sebagai pengawas atasku?” Maka orang yang rajin beribadah itu berkata:“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu — atau Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga!” Lalu Allah mencabut ruh keduanya, dan keduanya dikumpulkan di hadapan Rabb semesta alam. Allah berfirman kepada orang yang rajin beribadah itu:“Apakah engkau lebih mengetahui tentang Aku? Ataukah engkau berkuasa atas apa yang ada di tangan-Ku?” Dan Allah berfirman kepada orang yang berdosa: “Pergilah, masuklah ke dalam surga dengan rahmat-Ku.” Dan Allah berfirman tentang yang lainnya:“Bawalah dia ke dalam neraka.”([27])
Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu berkata,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ. يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ، لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا وَلَا يُبَالِي.
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh seseorang dapat mengucapkan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya. (Allah berfirman): “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya dan Dia tidak mempermasalahkannya.”([28])
Di antara faedah dari hadis ini adalah janganlah seseorang berbicara sembarangan seenaknya sendiri. Meskipun ketika berkumpul bersama keluarga, saudara, atau kerabat, maka hendaknya tetap menjaga lisannya. Janganlah sekali-kali ia berkata, “Kamu tidak bakal mendapat hidayah” atau“Kamu tidak akan masuk surga.” Ucapan ini termasuk ucapan yang mengerikan karena bisa mendahului Allah ﷻ. Sehingga ucapan ini mampu menggugurkan pahala, karena lancang atas nama Allah ﷻ.
- Mengungkit-ungkit sedekah dan Menyakiti orang yang diberi sedekah (Al-Mann wa-al-Adzâ)
Mengungkit-ungkit pemberian atau sedekah (الْمَنّ) dan menyakiti perasaan orang yang diberi (الْأَذَىٰ) dapat menggugurkan pahala sedekah. Allah ﷻ berfirman,
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)
Contoh sederhana dari mengungkit-ungkit pemberian atau sedekah (الْمَنّ) adalah seperti orang yang berkata, “Aku telah bersedekah kepadamu” atau “Aku sudah memberikanmu ini dan itu.” Mengungkit-ungkit sedekah akan menyakiti hati orang yang telah diberikan sedekah. Orang yang bersedekah dengan ikhlas, tetapi dia mengungkit-ungkit sedekahnya dan menyakiti orang yang telah ia beri sedekah, maka ia seperti orang yang ria`. Pahala amalnya gugur.
Orang yang mengungkit-ungkit sedekah bisa jadi terjadi belakangan, setelah ia melakukan sedekah itu. Ia bisa saja mengungkit-ungkit sedekah di depan orang yang telah ia beri sedekah secara langsung atau bisa saja pada saat mengobrol dan bercerita di depan khalayak ia mengungkit sedekahnya tersebut. Tentu hal ini jika terdengar kepada orang yang disedekahi akan merasa terhina. Maka hendaknya setiap muslim menjaga keikhlasan dalam bersedekah dan berhati-hati dari mengungkit-ungkit sedekahnya.
Terkadang Allah ﷻ menguji kita dengan orang yang telah kita berikan bantuan dan pertolongan, tetapi justru ia berbuat buruk kepada kita. Maka dari itu hendaknya kita menjaga lisan kita, menjaga keikhlasan dalam bersedekah dan jangan sampai mengungkit-ungkitnya. Meskipun disebutkan bahwa sebagian ulama membolehkan jika dalam rangka memberikan nasihat kepada orang yang disedekahi, mengingatkannya atau menepis tuduhan yang tidak baik kepada orang yang bersedekah([29]), bukan dalam rangka untuk menampakkan diri, menyakiti hatinya atau mencari pengakuan. Akan tetapi penulis tidak menganjurkan hal ini. Jangan mengungkit-ungkit pemberian kita kepada orang lain. Jika terpaksa untuk mengungkit dalam rangka menasihati dan bukan dalam rangka untuk menyakiti hati, maka dibolehkan. Namun lebih baik untuk tidak mengungkit-ungkit.
Jika seseorang pernah berbuat baik kepada orang lain. Selalu memberikan hadiah. Memberikan sedekah dan banyak pemberian lainnya. Namun bertahun-tahun kemudian ternyata ia mengkhianatinya, maka hendaknya ia tidak mengungkit-ungkitnya. Jika ia mengungkit-ungkitnya, maka dikhawatirkan pahala amalnya akan gugur. Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullâh di dalam tafsirnya menyebutkan tentang pahala sedekah yang berlipat ganda sebagaimana disebutkan di dalam hadis,
لَا يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، إِلَّا أَخَذَهَا اللهُ بِيَمِينِهِ، فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، أَوْ قَلُوصَهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ، أَوْ أَعْظَمَ
“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebiji kurma dari harta yang halal, kecuali Allah akan menerima dengan tangan kananNya, lalu Dia mengembangkan pahalanya seperti gunung atau lebih besar lagi sebagaimana seorang di antara kalian merawat kudanya.”([30])
Seseorang yang bersedekah maka Allah ﷻ akan kembangkan pahalanya hingga sebesar gunung atau lebih besar lagi. Namun, jika ia mengungkit-ungkit dan menyakiti hati orang yang disedekahi, maka tidak lagi dipelihara oleh Allah ﷻ.
Adapun contoh sederhana dari menyakiti perasaan orang yang diberi (الْأَذَىٰ) adalah seperti perkataan, “Aku bersedekah kepadamu, makanya jangan bodoh!” atau “Aku memberikanmu ini kepadamu lagi. Jangan minta-minta lagi!” dan yang semisalnya. Alangkah baiknya ketika seseorang berkata yang baik meskipun tidak mampu memberikan apa pun dari pada memberi tetapi berkata buruk dan menyakiti hati orang yang diberi. Allah ﷻ berfirman,
﴿قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى﴾
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 263)
Hendaknya setiap muslim menghindarkan diri dari semua perkara yang mampu menggugurkan amal salehnya agar kelak di hari kiamat mendapati pahala amalnya yang sempurna di sisi Allah ﷻ.
([1]) Hâdi al-Arwâh, Ibnul Qayyim, (1/176).
([2]) HR. Abu Dawud, No. 796 dan dinyatakan hasan oleh al-Albani.
([4]) Al-Wâbil ash-Shayyib, Ibnul Qayyim, (1/18).
([5]) Al-Wâbil ash-Shayyib, Ibnul Qayyim, (1/18).
([7]) HR. Al-Bukhari, No. 6499.
([8]) Lihat: Tafsîr Ibnu Katsîr, (6/103).
([10]) HR. Ibnu Majah, No. 4204.
([11]) HR. An-Nasa`i, No. 11834, di dalam as-Sunan al-Kubrâ.
([12])Al-Wâbil ash-Shayyib, Ibnul Qayyim, (1/22).
([13]) HR. Ibnu Majah, No. 4245. Dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([14]) Lihat: Tafsîr Ibnu Katsîr, (2/407).
([15]) Lihat: Tafsîr al-Qurthubî, (5/379).
([16]) HR. Ibnu Majah, No. 4245. Dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([17]) HR. Al-Baihaqi, (5/330) di dalam as-Sunan al-Kubrâ.
([18]) Pada hari kiamat tidak ada dinar maupun dirham. Seluruh manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak berpakaian, tidak memakai alas kaki dan tidak berkhitan serta tidak membawa sesuatu apa pun. Sebagaimana setiap manusia lahir tidak membawa apa pun, meninggal dunia dan dikumpulkan di akhirat dalam kondisi yang sama.
([19]) HR. Al-Bukhari, No. 2449.
([20]) HR. Al-Bukhari, No. 105
([21]) Lihat: Fatâwâ Nûr ‘Alâ ad-Darb, (2/24).
([22]) Ad-Dâ`u wa-ad-Dawâ`, Ibnul Qayyim, (1/375).
([23]) Lihat: Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, (143-145).
([25]) HR. Abu Dawud, No. 4903.
([26]) HR. Al-Bukhari, No. 553.
([27]) HR. Abu Dawud, No. 4901 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([28]) Takhrîj Syarh as-Sunnah, No. 4188.
([29]) Bahkan sebagian ulama menyebutkan dibolehkan jika antara suami dan istri, karena istri sering lupa. Bukan dalam rangka menyakiti hatinya tetapi untuk mengingatkannya. Demikian juga sebagaimana antara orang tua kepada anak. Bahkan Allah ﷻ sendiri yang mengungkitnya di dalam Al-Qur`an bagaimana peran ibu yang sering dilupakan anak-anaknya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,
﴿وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ﴾
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” (QS. Luqmân: 14)
Namun lebih baik jika tidak diungkit.






