Idrus Ramli Nekat Berdusta Demi Menuduh Firanda Berdusta

Idrus Ramli Nekat Berdusta Demi Menuduh Firanda Berdusta

Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berd

Tipu Muslihat Abu Salafy (bag. 4), “Siapa yang berdusta Ibnu Taimiyyah atau Abu Salafy?”
Goblok Karena Berjenggot??
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ternyata Melarang Istighatsah Bag III

Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63&notif_t=mentions_comment)
Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!
Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata :
((KRITIKAN DR FIRANDA:
Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini.

PERTAMA: Keabsahan Atsar Ini
Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:
Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.
Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.
TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)

Tanggapan :
    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :
((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:
Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.))
Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.
    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!
Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :
((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:

Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”
Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:

Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.
Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)
Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst))
Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!!

 

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com

 

 

COMMENTS

WORDPRESS: 12
  • comment-avatar
    ibnu Rusdi 5 years ago

    wallohul musta’aan..
    semoga Alloh tunjukan yg haq dan yg bathiil

  • comment-avatar
    gunawan 5 years ago

    sudah mjd rahasia umum di kalangan penuntut ilmu bhw idrus ramli emang tipikal yg ‘berani malu’ di negara kita ini. nggak malu berdusta dan nggak malu menunjukkan kebodohannya di depan publik.
    jadi emang fitnah syubhat dan fitnah syahwat sudah terlihat menjangkiti sgt parah pada diri idrus ramli ini. kebodohan dan penyakit hati (hasad, sombong, dusta) sdh dmkian merasuk ke dlm diri idrus ramli. smg Allah memberikan hidayah taufiq-NYA kpd sdr kita idrus ramli.

  • comment-avatar
    ASal WAni JAwab 5 years ago

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Ya ustadz, tidak heran dengan golongan sarungan, jangankan pada ustadnya, dari syiah kabar fitnah tentang keburukan “Wahabi” saja ditelan mentah-mentah, andai saja Iblis mengarang buku seperti buku syaikh Idahram, para kaum sarungan bin tahlilan juga di telan mentah-mentah. Ingat dakwah Kyai Marzuki Mustamar yang saya dengar berisi fitnah total saja dijadikan rujukan kaum sarungan sebagai kabar kebenaran. Naudzubilahimindzalik. Kaum sarungann itu prinsipna ASal WAni JAwab.

    • comment-avatar
      Muhammad Wakil 5 years ago

      Assalamu’alaikum.. mas ASal WAni JAwab, para kaum sarungan itu maksudnya apa ya… apakah salah mas memakai sarung..?

    • comment-avatar

      weleh, sarungan dibawa-bawa. saya aja ngaji di ust salaf, tapi tetep pake sarung, ust abd at-tamimi stai ali bin abi thalib juga sering sarungan kalo ngajar kajian umum

    • comment-avatar
      Abu Faeyza 5 years ago

      [b]”KAUM SARUNGAN” ???[/b]
      julukan Bid’ah apa lagi ini

      hati2 dengan lidah sampean, perkataan sekecil apapun akan ada tanggung jawabnya

  • comment-avatar
    Abu Hisyam Albarbazy 5 years ago

    JAzakaumullohu khoer artikelnya ustazd, terus bantah perkataan yang menyelisihi sunnah. semoga Alloh Ta’ala memberi kan istiqomah pada kita semua

    barokallohufik

  • comment-avatar
    khairul anwar 5 years ago

    Ada cerita yg diambil dari bukunya Idrus Ramli (Pintar berdebat dengan wahabi) Kisahnya terjadi dialog di Masjidil Haram antara sayyid Alwi dan Syaikh Abdurrahman Nashir As-sa’di. Ceritanya memojokkan Syaikh As-sa’di. Kemudian saya cari info tentang peristiwa ini dengan cara mencari data biografi keduanya. Dan saya dapati bhw Syaikh Abdurrahman As-sa’di wafat sekitar tahun 1347h, sedangkan sayyid Alwi Al-maliki baru lahir tahun 1365h.

  • comment-avatar

    Memperingati Kematian 1-7, 40, 100 setahun, mirip mantan agama saya dulu kristen.

    Islam koq setengah-setengah, setengah kristen setengah islam

    Kalau tidak percaya di kristen ada peringatan kematian, ini link orang kristen >>>>
    albertrumampuk.blogspot.com/2012/03/haruskah-peringatan-empat-puluh-hari.html

  • comment-avatar
    ayah chiara 5 years ago

    ustadz.idrus romli itu kyai kelas jawa timur dan masih takut untuk mendebat senior nya yg beraliran syiah mr.said agil siroj..tapi giliran mendebat ustadz firanda mendebat nya nauzubillah seakan akan dia itu nggak tau malu dan kepede-an yg didebat itu adalah seorang doktor yg jam terbang nya masya allah sudah sekelas ulama international

  • comment-avatar
    Uci Riyana 5 years ago

    Memang akil siroj syiah ya?

  • comment-avatar

    artikel yang bermanfaat