Hukum Shalat Berjamaah Di rumah, Kantor, Mall, Yayasan dll.

3199
hukum shalat jamaah di kantor di rumah atau di mall
Ilustrasi office @unsplash

Hukum Shalat Berjamaah Di rumah, Kantor, Yayasan dll. ? (Serial Tata Cara Sholat)

Apabila di kantor atau yayasan dan semisalnya sudah terdapat masjidnya, maka tidak terdapat masalah di sini. Akan tetapi yang menjadi masalah jika kantor atau yayasan itu tidak memiliki masjid, akan tetapi hanya terdapat musholla?

Pembahasan ini dibangun di atas pembahasan, “Apakah shalat berjamaah bagi lelaki wajib dikerjakan di masjid?, ataukah cukup dikerjakan di mana saja -seperti di rumah, di pasar, di kantor-, dan di masjid hanyalah sunnah?”

Bagi yang berpendapat bahwa bahwa shalat berjamaah memang wajib, hanya saja pelaksanannya tidak harus di masjid, pelaksanaannya di masjid hanyalah sunnah (dan ini adalah pendapat jumhur úlama([1])), maka tidak mengapa shalat berjamaah di musholla kantor.

Namun bagi ulama yang berpendapat bahwa pelaksanaan shalat berjamaah harus di masjid([2]) maka tidak boleh shalat berjamaah di musholla kantor kecuali karena udzur.

Agar keluar dari khilaf maka hendaknya seseorang berusaha untuk shalat berjamaah di Masjid. Ibnu Taimiyyah berkata :

وَمن صلى فِي بَيته جمَاعَة فَهَل يسْقط عَنهُ حُضُور الْمَسْجِد فِيهِ نزاع وَيَنْبَغِي أَلا يتْرك حُضُور الْمَسْجِد إِلَّا لعذر

“Barang siapa yang shalat di rumahnya secara berjamaáh, apakah telah gugur darinya kewajiban untuk hadir berjamaah di masjid?. Ada perselisihan (di kalangan ulama). Dan hendaknya seseorang tidak meninggalkan shalat berjamaah di masjid kecuali karena udzur” ([3])

Ada beberapa kondisi yang mana Allah membolehkan seseorang untuk tidak shalat di masjid, dan semua itu kembali kepada adanya masyaqqoh (keberatan/kesulitan) atau adanya mashalahat yang benar-benar besar. Udzur-udzur tersebut seperti sakit, ([4]) butuh untuk buang air([5]), sudah disuguhkan makanan dan dia membutuhkannya([6]),hujan ([7]) becek, dingin yang menusuk, ngantuk berat, begitu juga yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk keliling dan mengecek rumah satu persatu siapa yang tidak shalat berjamaah (yang otomatis beliau tidak hadir shalat berjama’ah). ([8])

Dari udzur-udzur di atas bisa disimpulkan bahwa semua yang berat untuk ditinggalkan karena menghadiri shalat berjamaah maka bisa menjadi udzur untuk tidak shalat berjamaah. An-Nawawi berkata :

أَنَّ بَابَ الْأَعْذَارِ فِي تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ لَيْسَ مَخْصُوصًا بَلْ كُلُّ مَا لَحِقَ بِهِ مَشَقَّةٌ شَدِيدَةٌ فَهُوَ عُذْرٌ

“Sesungguhnya bab ‘udzur (yang dengannya boleh) meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah tidak terkhusush dengan hal-hal tertentu, akan tetapi semua yang termasuk sangat memberatkan adalah dianggap uzdur”. ([9])

Maka setiap perkantoran dan yayasan kembali ke kaidah ini, jika seandainya pergi shalat berjamaah akan menyebabkan adanya kendala dalam pekerjaan tersebut maka boleh untuk tidak ikut shalat berjama’ah. Contoh: jika pergi shalat ke masjid akan menyebabkan keterlambatan ketika kembali ke kantor, yayasan atau yang lainnya, yang nantinya akan ada ketidakstabilan atau bahkan akan menyebabkan kerugian, maka tatkala itu boleh untuk tidak shalat berjama’ah di masjid.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang shalat di kantor pemerintahan, beliau berkata:

نسأل هذه الدوائر الحكومية: هل يمكن أن تخرجوا إلى المساجد القريبة حولهم أم لا؟ إذا كان يمكن أن تخرج إلى المساجد القريبة حولهم دون أن يعطلوا العمل فإنه يجب عليهم أن يصلوا في المسجد؛ لأن القول الراجح من أقوال أهل العلم أن صلاة الجماعة يجب أن تكون في المساجد، وإن كان بعض العلماء يقول: الواجب الجماعة سواء كان في المسجد أو في البيت أو في المكتب.

“Kita tanya kepada pihak kantor pemerintahan tersebut, apakah memungkinkan bagi kalian untuk berangkat ke masjid terdekat? Jika memungkinkan untuk berjama’ah di masjid terdekat tanpa akan melalaikan pekerjaan, maka wajib untuk shalat di masjid terdekat, karena pendapat yang paling kuat dari perbedaan pendapat para ‘ulama adalah wajibnya shalat berjama’ah di masjid, meskipun ada sebagian ‘ulama yang mengatakan: yang penting berjama’ah, baik di masjid atau di rumah atau di perkantoran.

وإذا كان لا يمكن أن يخرجوا إلى المسجد لبعدها أو يخشى أنهم إذا خرجوا إلى المسجد تفرقوا أو تلاعبوا – كما يوجد من بعضهم إذا خرج ذهب إلى بيته ولم يرجع -، أو إذا خرجوا تعطل العمل لكون العمل كثيفاً يختل إذا خرجوا إلى المسجد؛ فإنهم يصلون في الدائرة في هذه الحال؛ لأن المحافظة على الوظيفة واجب لا يجوز الإخلال به.

Akan tetapi, jika tidak memungkinkan untuk pergi ke masjid, karena jauh atau jika mereka pergi ke masjid dikhawatirkan akan bermain-main atau berpencar -sebagaimana yang terjadi, sebagian dari mereka apabila pergi, maka mereka akan pulang ke rumah dan tidak kembali-, atau jika mereka pergi ke masjid akan menyebabkan masalah pada pekerjaan tersebut karena pekerjaan tersebut banyak, maka dalam keadaan yang seperti ini mereka shalat di kantor, karena menjaga kewajiban pekerjaan itu wajib dan tidak boleh lalai dengannya

وإذا قلنا: إنهم يصلون في الدائرة فالواجب أن يجتمعوا جميعاً على إمام واحد إذا أمكن، فإن لم يمكن صلى كل دور في دوره، يجتمع أهل الدور الواحد في مكان واحد ويصلون.

Dan apabila kita katakan: mereka shalat di kantor, maka wajib bagi mereka untuk berjama’ah di belakang satu imam jika memungkinkan, akan tetapi jika tidak memungkinkan maka setiap lantai shalat di lantainya masing-masing, yaitu penghuni setiap lantai berkumpul lalu merekapun sholat di lantai tersebut” ([10])

Ibnu Abi Haatim meriwayatkan dari Shalih putranya Imam Ahmad, beliau berkata

حضرت عند إبراهيم بن أبي الليث وحضر علي ابن المديني وعباس العنبري وجماعة كثيرة فنودي بصلاة الظهر فقال علي ابن المديني نخرج إلى المسجد أو نصلي ههنا؟ فقال أحمد: نحن جماعة نصلي ههنا، فصَلَّوا

“Aku hadir di sisi Ibrahim bin Abi Al-Laits, dan hadir pula Ali bin Al-Madini, al-Ábbas al-Ánbari, dan juga jamaah yang lain yang banyak. Lalu dikumandangkanlah adzan shalat dzuhur. Maka Ali bin Al-Madini berkata, “Kita keluar menuju masjid ataukah kita shalat di sini?’. Maka Ahmad berkata, “Kita adalah jamaáh, kita shalat di sini”. Maka merekapun shalat”.

Ibnu Abi Hatim berkomentar :

رجوع الجماعة الذين حضروا إلى قول أحمد في ترك الخروج إلى المسجد وجمع الصلاة هناك من جلالة أحمد وموقع كلامه عندهم

“Para ulama yang hadir semuanya kembali mengikuti perkataan Imam Ahmad yaitu tidak perlu keluar ke masjid untuk shalat berjamaáh di masjid, tidak lain karena agungnya Imam Ahmad dan perkataan beliau yang berkesan terhadap mereka” ([11])

Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Anda bisa dapatkan artikel seputar bekal shalat di app store bekalislam atau direktori bekalislam.firanda.com

____________

Footnote:

([1]) Imam Asy-Syafií berkata :

فَلَا أُرَخِّصُ لِمَنْ قَدَرَ عَلَى صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي تَرْكِ إتْيَانِهَا إلَّا مِنْ عُذْرٍ … وَكُلُّ جَمَاعَةٍ صَلَّى فِيهَا رَجُلٌ : فِي بَيْتِهِ ، أَوْ فِي مَسْجِدٍ صَغِيرٍ ، أَوْ كَبِيرٍ، قَلِيلِ الْجَمَاعَةِ أَوْ كَثِيرِهَا أَجْزَأَتْ عَنْهُ

“Maka orang yang mampu untuk shalat berjamaah aku tidak memberi keringanan baginya untuk meninggalkan shalat berjamaah kecuali karena udzur… dan setiap jamaáh seseorang shalat dalam jamaáh tersebut, di rumahnya, atau di masjid kecil, atau masjid besar, jamaáhnya sedikit atau banyak maka sah (mencukupi)” (al-Umm 1/180)

Ibnu Qudamah berkata :

وَيَجُوزُ فِعْلُهَا فِي الْبَيْتِ وَالصَّحْرَاءِ، وَقِيلَ: فِيهِ رِوَايَةٌ أُخْرَى: أَنَّ حُضُورَ الْمَسْجِدِ وَاجِبٌ إذَا كَانَ قَرِيبًا مِنْهُ

“Dan boleh melakukan shalat berjamaáh di rumah dan di padang terbuka. Dan dikatakan : ada rwiayat yang lain (dari imam Ahmad) bahwasanya hadir di masjid itu wajib jika masjidnya dekat” (al-Mughni 2/131)

Pendapat yang mu’tamad (menjadi patokan) dalam madzhab Hanbali bahwasanya shalat berjamaah di masjid hukumnya fardu ‘kifayah (Lihat al-Muharror fi al-Fiqhi ála Madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal. Abdussalam Abul Barokaat Majdduddiin Ibni Taimiyyah 1/91-92). Sehingga jika sudah ditegakan shalat berjamaah di masjid oleh sekelompok orang maka bagi yang lainnya hukumnya adalah sunnah. Ibnu Muflih berkata :

وَفِعْلُهَا فِي الْمَسْجِدِ سُنَّةٌ

“Mengerjakan shalat berjamaáh di masjid hukumnya sunnah” (Al-Furuu’ 2/421)

([2]) Dan ini adalah salah satu pendapat yang diriwayatkan juga dari al-Imam Ahmad, sebagaimana telah lalu penukilannya di footnote sebelumnya (lihat al-Mughni 2/131), juga pendapat dzohiriyah. Bahkan Ibnu Hazm berkata :

وَلَا تُجْزِئُ صَلَاةُ فَرْضٍ أَحَدًا مِنْ الرِّجَالِ -: إذَا كَانَ بِحَيْثُ يَسْمَعُ الْأَذَانَ أَنْ يُصَلِّيَهَا إلَّا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ الْإِمَامِ، فَإِنْ تَعَمَّدَ تَرْكَ ذَلِكَ بِغَيْرِ عُذْرٍ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، فَإِنْ كَانَ بِحَيْثُ لَا يَسْمَعُ الْأَذَانَ فَفَرْضٌ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ فِي جَمَاعَةٍ مَعَ وَاحِدٍ إلَيْهِ فَصَاعِدًا وَلَا بُدَّ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إلَّا أَنْ لَا يَجِدَ أَحَدًا يُصَلِّيهَا مَعَهُ فَيُجْزِئَهُ حِينَئِذٍ

“Dan tidak sah sholat wajib seorang lelakipun jika dia mendengar adzan kecuali jika dia shalat di masjid bersama imam. Jika ia menyengaja untuk meninggalkan hal itu tanpa udzur maka batal shalatnya. Jika ia tidak mendengar adzan maka wajib baginya untuk shalat dalam kondisi berjamaah bersama seseorang yang lain atau lebih, dan harus. Jika ia tidak melakukannya maka tidak ada shalat baginya. Kecuali jika ia tidak menemukan seorangpun yang shalat bersamanya maka sah baginya shalat sendirian”  (al-Muhalla 3/104)

([3]) Mukhtashor al-Fataawa al-Mishriyah 1/59

([4]) Hadits A’isyah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Abu Bakr mengimami para sahabat ketika beliau sakit. (Lihat H.R. Bukhori No.664, Muslim No.418)

([5]) Nabi bersabda :

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika hidangan sudah tersedia, dan jika dia menahan buang air besar maupun buang air kecil” (Muslim No.560)

([6]) Nabi bersabda :

إِذَا وُضِعَ العَشَاءُ وَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ

“Jika telah dihidangkan makan malam sementara telah diiqomatkan untuk shalat maka mulailah dahulu dengan makan malam” (H.R. Bukhori No.5463, Muslim No.560)

([7]) Nafi’ berkata :

أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ، ثُمَّ قَالَ: صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ، فَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ: «أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ» فِي اللَّيْلَةِ البَارِدَةِ، أَوِ المَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ

“Ibnu Umar adzan di malam yang dingin di daerah Dhojnaan. Lalu beliau berkata, “Shalatlah kalian di rumah kalian”. Maka beliau mengabarkan kepada kami bahwasanya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam dahulu menyuruh tukang adzan untuk beradzan lalu setelah itu berkata, “Hendaknya kalain shalat di rumah” di malam yang dingin atau ketika hujan ketika safar” (H.R. Bukhori No.632, Muslim No.697)

([8]) H.R. Bukhori No.644

([9]) Al Majmu’, Annawawi, 4/384

([10]) https://ar.islamway.net/fatwa/76000/ الصلاة-في-المؤسسات-والمكاتب-في-مصليات-وحكم-تعدد-الجماعات-فيها

([11]) Al-Jarh wa at-Ta’diil 1/298-299

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here