Kesabaran Ikhtiyari (pilihan) Lebih Utama daripada Kesabaran Idhtirori (terpaksa).

Kesabaran ikhtiyari (pilihan) lebih utama daripada kesabaran idhtirori (terpaksa). Karenanya kesabaran Nabi Yusuf ‘alaihis salam tatkala dirayu oleh permaisuri raja lebih tinggi nilainya daripada tatkala kesabaran tatkala dilemparkan di dalam sumur, karena seseorang yg dirayu oleh seorang wanita jelita dihadapannya ada 2 pilihan, pilihan bermaksiat atau pilihan bersabar. Adapun seseorang yg terkena musibah maka ia harus terpaksa bersabar, tdk ada pilihan lain baginya kecuali bersabar. Ujian menghadapi rayuan permaisuri raja jauh lebih berat drpd ujian menunggu di dalam sumur.

Status di atas kami ambil dari perkataan Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim rahimahullah. Tentunya semakin berat ujian semakin besar pahala, kaidah dalam status di atas tentunya kaidah umum atau hukum asal, yaitu jika ditinjau dari jenis kesabaran. akan tetapi pada bentuk2 tertentu bisa jadi kesabaran idtirori lebih besar dan tinggi nilainya jika memang ujiannya sangatlah berat. contoh seseorang yg kehilangan istri dan seluruh anak2nya pada saat yg sama lantas ia bersabar tentu lebih tinggi nilainya drpd seseorang yg diberi pilihan untuk menundukan pandangannya atau melihat wajah seorang wanita yg cantik jelita yg tdk halal baginya.

Hal ini sbgmn jenis bid’ah lebih buruk drpd jenis maksiat, krn pelaku bid’ah sulit diharapkan ia bertaubat karena ia merasa benar, akan tetapi hal ini tidaklah secara mutlak. Tentunya kemaksiatan seperti berzina lebih berat di sisi Allah drpd sebagian bid’ah ibadah seperti bid’ah sholat rogoib yg dianggap bid’ah oleh imam Nawawi. Wallahu A’lam

COMMENTS

WORDPRESS: 0