DIALOG ASWAJA – SYIAH vs WAHABI tentang BID’AH HASANAH

416

Aswaja : Hari ini 12 rabiul awwal sungguh aku sangat bahagia loh….

Syiah
: Emang lu kenape?, kemarin-kemarin kurang bahagia?

Aswaja : Kagak gitu bro, hari ini gua ngerayain hari maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gua sangat gembira dengan hari lahirnya nabi

Syi’ah
: Kalau gua …..gua sangat sedih pas hari 10 Muharram lalu….hik hik hik…jadi nangis gua ngingatnya…hik

Aswaja : Emang kenapa lu nangis??!

Syi’ah
: Soalnya hari itu hari terbunuhnya Husain bin Ali bin Abi Tholib, kami kerukunan warga syi’ah memperingati hari tersebut dengan hari ratapan. Bahkan sebagian kami sampai memukulkan pedang di tubuh kami sehingga mengeluarkan darah.

Aswaja : Loh…lu lu kok pada ngeri buanget sih…sampai acara melukai tubuh segala. Emang itu disyari’atkan?, setahu ku aswaja tidak melakukannya

Syi’ah : Jelas sangat disyari’atkan…., bukankah kalian keluarga aswaja juga sangat cinta kepada Husain?, apakah kalian tidak bersedih dengan terbunuhnya Husain secara tragis pada tanggal 10 Muharrom?

Aswaja : Iya ….kami jelas sangat cinta pada Husain…tapikan acara seperti yang kalian lakukan itu tidak ada syari’atnya??

Syi’ah : Justru sangat disyari’atkan sebagai bentuk bela sungkawa dan turut berduka cita atas kematian Husain. Sekali lagi…kalau kalian mengaku cinta kepada Husain mestinya lu lu pade semuanya juga ikut berpartisipasi meramaikan acara kami. Kalau kalian tidak ikut berpartisipasi maka pengakuan kalian mencintai Husain hanyalah OMONG KOSONG BELAKA !!!!

Aswaja : Kok bisa begitu???, Kan Para sahabat tidak pernah melakukannya?, kan Nabi tidak pernah menganjurkannya??, kan tidak pernah dilakukan oleh orang-orang sholeh terdahulu !!!

Syi’ah : Meskipun tidak pernah dicontohkan Nabi tapi kan yang penting baik?? Bisa menambah kecintaan kita kepada cucu Nabi yaitu Husain !!!. Loh kalian juga kenapa ngadain acara mauludan? Wong Nabi juga tidak pernah ngadain mauludan?

Aswaja : Memang sih…tapi kan itu baik sekali?, acara mauludan kan bisa menambahkan kecintaan kepada Nabi?

Syi’ah : Lah sama saja dengan kita-kita dong….wong kita juga ngadain acara ratapan pada 10 Muharrom kan juga menambahkan rasa cinta kepada Husain

Aswaja : Tapi cara kalian buruk, pake acara mukul-mukul badan segala?, sampai darah lagi?

Syi’ah : loh…buruk itu menurut lu…menurut gua sangat baik…justru dengan seperti itu semakin mendalam kecintaan kami kepada Husain…semakin kami merasakan derita yang dirasakan Husain dan keluarganya.

Loh kalian juga merayakan maulud Nabi, kan itu buruk, karena harus mengeluarkan biaya, kadang campur laki-laki perempuan, dll?

Aswaja : loh itu buruk menurut lu pade, tapi menurut kami justru itu sebagai indikasi dan barometer rasa kecintaan kepada kanjeng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syi’ah : Wah kita kagak usah ribut deh…kita ternyata sama loh….

Aswaja : Sama apaan?

Syi’ah : Banyak kesamaan kita :

–         Pertama : Acara mauludan dan acara ratapan 10 Muharam sama-sama tidak ada contohnya dari Nabi.

–         Kedua : Acara perayaan ini sama-sama dibangun karena rasa cinta kepada Nabi atau kepada Husain.

–         Ketiga : acara ini sama-sama mendatangkan kebaikan, meskipun kebaikannya sih bersifat relatif. Yang penting sih baik menurut masing-masing yang merayakannya.

Aswaja : Betul betul betul…tapi….tuh orang-orang wahabi ngatain acara-acara kita ini acara bid’ah??

Syi’ah
: Biarin aja mereka-mereka kaum wahabi…toh bid’ah kita kan bid’ah hasanah

Aswaja : Betul…betul…betul…ternyata kita sepakat dalam perkara yang sangat penting, yaitu semua perkara yang kita anggap baik (meskipun dianggap jelek oleh orang/pihak) lain, serta meskipun tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Nabi maka itu adalah bid’ah hasanah sangat dianjurkan.

WAHABI : Wahai akhi aswaja…tidakkah lu tahu bahwasanya mauludan itu mengakibatkan banyak kemudhorotan??!, diantaranya :

–         Pertama : Tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih diperselisihkan, akan tetapi hampir merupakan kesepakatan para ulama bahwasanya Nabi meninggal pada tanggal 12 Rabi’ul awwal. Oleh karenanya pada hekekatnya perayaan dan bersenang-senang pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal merupakan perayaan dan bersenang-senang dengan kematian Nabi

–         Kedua : Acara perayaan kelahiran Nabi pada hakekatnya tasyabbuh (meniru-niru) perayaan hari kelahiran Nabi Isa yang dilakukan oleh kaum Nashrani. Padahal Nabi bersabda مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”

–         Ketiga : Kelaziman dari diperbolehkannya merayakan hari kelahiran Nabi adalah diperbolehkan pula merayakan hari kelahiran Nabi-Nabi yang lain, diantaranya merayakan hari kelahiran Nabi Isa. Jika perkaranya demikian maka sangat dianjurkan bahkan disunnahkan bagi kaum muslimin untuk turut merayakan hari natal bersama kaum Nashrani

–         Keempat : Bukankah dalam perayaan maulid Nabi terkadang terdapat kemungkaran, seperti ikhtilat antara para wanita dan lelaki?, bahkan di sebagian Negara dilaksanakan acara joget dengan menggunakan music?, bahkan juga dalam sebagian acara maulid ada nilai khurofatnya dimana sebagian orang meyakini bahwa Nabi ikut hadir dalam acara tersebut, sehingga ada acara berdiri menyambut kedatangan Nabi. Bahkan dalam sebagian acara maulid dilantunkan syai’ir-sya’ir pujian kepada Nabi yang terkadang berlebih-lebihan dan mengandung unsur kesyirikan

–         Kelima : Acara perayaan maulid Nabi ini dijadikan sarana oleh para pelaku maksiat untuk menunjukkan kecintaan mereka kepada Nabi. Sehingga tidak jarang acara perayaan maulid Nabi didukung oleh para artis –yang suka membuka aurot mereka-, dan juga dihadiri oleh para pelaku maksiat. Karena mereka menemukan sarana untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada Nabi yang sesuai dengan selera mereka. Akhirnya sunnah-sunnah Nabi yang asli yang prakteknya merupakan bukti kecintaan yang hakiki kepada Nabipun ditinggalkan oleh mereka. Jika diadakan perayaan maulid Nabi di malam hari maka pada pagi harinya tatkala sholat subuh maka mesjidpun sepi. Hal ini mirip dengan perayaan isroo mi’rooj yang dilakukan dalam rangka mengingat kembali hikmah dari isroo mi’rooj Nabi adalah untuk menerima perintah sholat lima waktu. Akan tetapi kenyataannya betapa banyak orang yang melaksanakan perayaan isroo’ mi’rooj yang tidak mengagungkan sholat lima waktu, bahkan tidak sholat sama sekali. Demikian juga perayaan nuzuulul qur’an adalah untuk memperingati hari turunnya Al-Qur’aan akan tetapi kenyataannya betapa banyak orang yang semangat melakukan acara nuzulul qur’an ternyata tidak perhatian dengan Al-Qur’an, tidak berusaha menghapal Al-Qur’an, bahkan yang dihafalkan adalah lagu-lagu dan musik-musik yang merupakan seruling syaitan

–         Keenam : Kelaziman dari dibolehkannya perayaan maulid Nabi maka berarti dibolehkan juga perayaan-perayaan yang lain seperti perayaan isroo’ mi’rooj, perayaan nuzuulul qur’aan dan yang lainnya. Dan hal ini tentu akan membuka peluang untuk merayakan acara-acara yang lain, seperti perayaan hari perang badr, acara memperingati hari perang Uhud, perang Khondaq, acara memperingati Hijrohnya Nabi, acara memperingati hari Fathu Mekah, acara memperingati hari dibangunnya mesjid Quba, dan acara-acara peringatan yang lainnya. Hal ini tentu akan sangat menyibukkan kaum muslimin. (lihat kembali : https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/92-semua-bidah-adalah-kesesatan)

Adapun anda akhi syi’ah tahukah anda bahwa perbuatan anda meratapi hari kematian Husain itu mengandung kemudhorotan, diantaranya :

–         Pertama : Hal ini bertentangan dengan al-quran dan hadits-hadits Nabi yang memerintahkan kita untuk bersabar tatkala menghadapi musibah dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

–         Kedua : Juga bertentangan dengan hadits-hadits yang melarang merobek-robek baju dan menampar-nampar pipi tatkala terjadi musibah

–         Ketiga : Acara seperti ini bertentangan dengan sunnah Nabi yang menganjurkan kita untuk berpuasa pada tanggal 10 muharrom

–         Keempat : Metode seperti ini menjadikan kaum non muslim semakin benci dan antipati kepada Islam jika Islam modelnya seperti ini

Syi’ah & Aswaja (kompak) : Waaah itu buruk menurut kamu wahai bang wahabi…menurut kami kerukunan warga aswaja mauludan itu baik dan menurut syi’ah acara 10 muharrom itu baik

Wahabi : Kalau begitu yang menjadikan patokan untuk menentukan baik buruknya perkara siapa dong?. Bukankah aswaja memandang acara memukul-mukul tubuh pada 10 muharrom itu merupakan perkara yang buruk.

Syi’ah
: Yaaa… masing-masing berjalan menurut perasaannya !!!

Wahabi : Kalau tidak ada yang menjadi patokan untuk menentukan kebaikan maka seluruh kelompok sesat dalam barisan kaum muslimin harus kita terima, karena setiap kelompok memandang baik bid’ah yang mereka ada-adakan. Thoriqoh At-Tijaaniyah, memandang thoriqoh merekalah yang terbaik…, toriqoh As-Syadziliyah Al-Qoodiriyah yang beribadah sambil joget juga memandang bid’ah mereka yang terbaik? (lihat : http://www.youtube.com/watch?v=E0nKMIHA0kA&feature=player_embedded), wihdatul wujud memandang aqidah merekalah yang terbaik…, bahkan Ahmadiah memandang bid’ah mereka di atas kebaikan.

Terus kaum wahabi yang kalian anggap sesat juga memandang apa yang mereka dakwahkan (mengembalikan kaum muslimin kepada pemahaman para sahabat) adalah yang terbaik. Jika masing berhak menentukan penilaian baik maka semua kelompok dan sekte agama adalah baik. Padahal kelompok-kelompok tersebut saling berseteru. Maka membenarkan semua bid’ah hasanah mereka melazimkan berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan…. Seperti berkumpulnya timur dan barat, utara dan selatan !!.

Bukankah Aswaja menganggap sikap syi’ah yang mengkafirkan para sahabat merupakan bid’ah yang buruk??!!

Aswaja : Yaa itu benar…mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat adalah bid’ah yang buruk dan tercela..

Syi’ah
: Tunggu dulu akhi aswaja…itu sih menurutmu, adapun menurut kami kerukunan warga Syi’ah maka mengkafirkan para sahabat merupakan bid’ah hasanah, karena mengkafirkan para sahabat Nabi merupakan bentuk pembelaan dan kecintaan kepada Ahlul Bait, pembelaan kepada Ali bin Abi Tholib dan keturunannya yang berhak memegang tampuk kepemimpinan. Hanya saja Abu Bakar dan Umar tamak dan rakus terhadap kepemimpinan dan telah berkhianat terhadap washiat Rasulullah !!!.

Syi’ah : akhi aswaja…saya harap anda menghormati pendapat dan aqidah kami kerukunan warga syi’ah yang mengkafirkan para sahabat. Bukankah para pimpinan kalian juga toleransi dengan aqidah kami ini??. Jangankan toleransi terhadap kami warga syi’ah…bukankah para pemimpin kalian juga toleransi terhadap kaum nasharani yang merayakan hari kelahiran Tuhan mereka??, jangan lupa ini akhi aswaja !!!

Aswaja : iya..iyaa..betul..betul…hampir-hampir aku terhasut oleh tipuan si bang wahabi !!! salam sejahtera wahai akhi syi’ah.

Wahabi : Akhi aswaja…jangan lupa mereka warga syi’ah juga memiliki perayaan-perayaan yang lain, mereka juga merayakan hari meninggalnya ibu kita Aisyah radhiallahu ‘anhaa dengan menyatakan bahwa Aisyah seorang pezina…Aisyah masuk neraka…?? (lihat : http://www.youtube.com/watch?v=yRyqscRd6aY&feature=related), apakah engkau tidak marah dengan sikap mereka itu??. Jangan lupa juga akhi aswaja…mereka kaum syiah juga merayakan hari meninggalnya Umar bin Al-Khottoob radhiallahu ‘anhu, mereka gembira dengan wafatnya Umar, bahkan mereka memuja-muja Abu Lu’lu’ yang telah membunuh Umar? (lihat : http://www.alserdaab.org/articles.aspx?article_no=732), apakah engkau sebagai anggota kerukunan warga aswaja masih menghormati pendapat syi’ah??

Aswaja : Wah…gua bingung jadinya…

Syi’ah
: Akhi Aswaja…jangan kau terpedaya dengan igauan bang wahabi…, perayaan-perayaan tersebut menurut kami adalah bid’ah hasanah. Ingatlah kesamaan kita banyak…ingat kita harus toleransi…ingat bahwa wahabi adalah musuh kita bersama !!!!

Aswaja : Ya..ya.. akhi syi’ah..bagaimanapun kita sama…dan banyak samanya…terutama dalam masalah bid’ah hasanah…. Syukron atas peringatannya….kita harus bersepakat untuk memusuhi wahabi…sekali lagi kita harus bersepakat. Jangan sampai kita termakan hasutan para wahabi !!!

Wahabi : Yaa sudah kalau begitu….semoga Allah memberi hidayah kepada kalian suatu hari. Aaamiiin

 

58 COMMENTS

  1. He he he
    Ana jadi senyum2 sendiri baca artikel ini. Bid’ah hasanah…hmmm bid’ah yg baik “menurut mereka”, bukan menurut syari’at.

    Syukron ustadz Firanda.

  2. Setiap kebohongan harus ditutupi dengan kebohongan yang lain.

    Begitu pula halnya dengan bid’ah, sekecil apapun setelah dimulai, maka akan diikuti dengan bid’ah-bid’ah yang lain semakin besar hingga muaranya kesyirikan.

    “Ya Allah Tuhan kami, lindungilah kami dari amalan yang berangkat dari kejahilan kami”.

  3. sybhanawllah………… smga yang belum mendapat hidayah. dibukakan mata hatinya, kembali ke jalan ahlul sunnah waljamaaah, mengikuti para sahabat, aamiin, afwan kalo ada huruf2 yang kurang

  4. Alhamdulillah. Sungguh menarik dialognya. Apa Ustad sering dialog dengan orang Syiah. Bagaimana ana yang awam kalo berdialog dengan mereka?

  5. MasyaAllah bagus banget 😀 Tapi sayangnya aswaja dan syiah bisa jadi nggak baca artikel ini, yang baca cuma dari kalangan yang sama.

    • Kata siapa akhi? Coba tengok artikel2nya ustadz Firanda yg lain terutama yg lg membahas mengenai abu salafy dan habib Munzir, niscaya antum akan mengerti bahwa banyak jg yg membaca artikel2 beliau dari kalangan aswaja.

    • subhanallaah..mumtaz yaa ustadz.
      Jazaakallaahu khairan.
      Semoga Allah memberkahi ilmu antum dan menjaga antum sekeluarga..dan semoga Allah memudahkan urusan antum.

    • Bismillah, antum Anto..itu hanya sekedar dialog perumpamaan yg dibuat sekedar untuk mudah dimengerti, kamu hanya perlu mengkaji lebih dalam lagi tentang ilmu pada dirimu, tidak tahu apa kamu syiah? Aswaja? atau wahabi?? sebenarnya yang di namakan aswaja itu adalah wahabi, tetapi aswaja yang benar2 bersih dari BID’AH seperti perkataan ulama LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNA ILAIHI(“Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya”) cam kan itu, assallamu’alaikum

  6. Assalamu’alaiku warohmatullohiwabarokatuh…..he he he..jadi senyum2 ndri neh ustadz,menambah wawasan sya yg minim ilmu ini,sangat bagus semoga bisa menyadarkan yg di maksud,,,he he he,,ijin copas ustadz trim’s wassalam

  7. To Wanto, mengapa Anda benar benar yakin hingga bersumpah dengan nama Alloh bahwa Alloh akan melaknat Ustadz Firanda? Apakah Anda punya hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan atas laknat yang Anda Sampaikan? Semoga Alloh melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua…

  8. memahami agama jgn sebatas otak doang. mnurut agan skalian,
    1. apa yg agan mksud dg bid’ah?
    2. apa sj yg agan maksud dg bid’ah dlm agama?

    Jawab dlu ya gan? Tks

  9. Ustd.Firanda,ana rindu dgn akhi,disini ana merasa terasing dan dikucilkan dengan aswaja sufi,ana jadinya hanya bisa diam dan berdo’a dalam keterasingan ini,sungguh akhi,ana merindukan orang2 macam akhi ini,dan ana ingin memeluk antum serta guru2 antum yg ahlul bait…:’) sungguh ana yg miskin ilmu dan terasing merindukan orang2 shalih seperti akhi….subhanallah…airmata ini tak terbendung,seperti rasanya ana mempunyai saudara kandung nan jauh disana yg sangat ana rindukan…datanglah ke jakarta akhi…:’)

  10. Assalaamu’alaikum,
    ‘afwan ustadz kalo keluar dari tema, ana suka sekali baca artikel2 antum tapi sayangnya sangat lambat loadingnya, mungkin karena banyaknya pengunjung..ana mengusulkan untuk menambahkan bandwith pada hosting web ini.Syukron Jazaakallahu khoiron..

  11. apakah org2 ini (firanda dll) yg disebutkan dlm hadist Nabi SAW ??? sungguh betapa ngerinya aqidah dan pemahaman kalian !!! tanggunglah wahai kafir and dusta (firanda) dosa orang-orang yg telah kau hasud dan membohongi mereka serta kau yg memecah belah umat !!! La’natullah alaik…

    • [quote name=”wahabi”]apakah org2 ini (firanda dll) yg disebutkan dlm hadist Nabi SAW ??? sungguh betapa ngerinya aqidah dan pemahaman kalian !!! tanggunglah wahai kafir and dusta (firanda) dosa orang-orang yg telah kau hasud dan membohongi mereka serta kau yg memecah belah umat !!! La’natullah alaik…[/quote]

      Astaghfirullah…sudah kehabisan hujjah akhirnya ujung2nya melaknat ustad Firanda dan kami. Sungguh ana takut jika sembarangan melaknat, maka laknat itu akan berbalik kepada yg melontarkannya. Allahul Musta’an.

    • Anda tunjukkan dulu dong kecintaan Anda kepada Nabi Muhammad dengan menuliskan shalawat kepada beliau “shallallahu ‘alaihi wasallam” secara lengkap bukannya disingkat begitu. Kan ya lebih sopan…

      Apa Anda berani memastikan Pak Ustaz Firanda -rahimahullah- kafir tanpa dalil? Subhanallah, Imam Syafi’i yang secerdas itu pun tidak bisa sembarangan mengkafirkan orang. Apa Anda merasa lebih cerdas dari ulama-ulama Islam?

      Mana kebohongan Bapak Ustaz Firanda yang Anda maksud? Tunjukkan! Biar Anda sendiri dan kami tahu kalau Anda salah.

      Oke, mana hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang Anda maksudkan? Tunjukkanlah dahulu kepada kami.Benarkah maksud hadits itu adalah orang seperti Bapak Ustaz Firanda? Kalau salah, apa Anda berani ditimpa balik kata-kata laknat dan takfir yang Anda berikan?

      Justru pemahaman seperti dalam kata-kata Anda itu yang memecah belah umat. Mana dalilnya? Kita tidak bisa mengkafirkan orang tanpa dalil. Ada dalil pun tidak bisa sembarangan. Demikian yang saya ketahui.

      Bersabarlah, wahai Saudaraku. Semoga kita diberi hidayah oleh Allah.

  12. Hadis yang mana bos, baru bangun tidur kali ya, cuci muka dulu donk. Daripada kamu ga jelas disini mendingan pasang baliho dan umbul-umbul di jalan sana, nanti saudara yang satunya (syiah) sibuk undang sana undang sini dalam rangka bertaqiyah dengan slogan persatuan ummat tapi nanti ujung2nya berharap dan meminta-minta pengakuan dari ahlussunnah bahwa mereka tidak sesat. Tapi saya berharap apa yang banyak diberitakan di beberapa stasiun televisi maupun media cetak ttg habib cabul tersebut tidak benar adanya, bayangkan kalau benar, mulai dari meminta2 dikuburan, mut’ah (pelacuran) ditambah lagi sodomi atau pencabulan, masya Allah apa ga bencana nanti Indonesia ini…. Bb.

  13. Assalaamu’alaikum

    Artikel yg sangat bagus. Tapi afwan ada sdikit pertanyaan, khusus utk syiah apa perlu antum pake kata “akhi syiah”. Bukankah mrk tlah mngkafirkan sahabat, merubah alquran dsb sehingga sngat jauh dr dinul islam. Shingga ulama2 ahlu sunnah menhukumi mrka dg kafir? Wallahu a’lam..

    Syukran

  14. Kalau ASWAJA palsu bisa toleransi dengan syi’ah walaupun menyakitinya seperti pengkafiran sahabat dan umul mukminin, mestinya meeka juga “TOLERANSI” terhadap aqidah Ahlussunnah walaupun mereka menyebut Wahabi, kalau mereka berkata “Wahabi karena tidak mau toleransi terhadap bid’ah hasanah” bukankah syi’ah juga tidak mau toleransi dengan pengkafirannya para sahabat dan umul mukminin, manakah yang lebih berat dari toeransi tersebut pengkafiran terhadap pembawa kebenaran yang mereka yakini dan ini mengharuskan tidak benarnya keyakinan aswaja selama ini, atau di bid’ahkanya???? karena Ahlussunnah mengajak agar mengikuti pemahaman dari pembawa2 kebenaran yaitu para sahabat.tentulah jika mereka berakal memilih toleransi terhadap Ahlussunah di banding kepada syi’ah yang menyiramkan racun sampai ke akar2nya.

  15. Banyak komen ane gak ditampilkan sm admin firanda.com. Ada apa gerangan?

    Andai kita mau berani bersungguh-sungguh menempuh jalan para Sufi ( banyak sebagian orang menyesatkan golongan Sufi, karena mereka memahami para Sufi hanya dengan akalnya, padahal jalan Sufi adalah jalan ruhaniah, penghayatan) ini yg tertuntun oleh Al Haq, kita akan banyak tau hakikat2, yg akan mencengangkan hati…

    Jangan sampai termasuk kedalam golongan orang2 yg dinubuatkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, bahwa nanti ada segolongan orang yg memahami Al Quran hanya sebatas kerongkongannya. artinya apa? pemahaman tersebut tidak sampai menghujam ke dalam qolbu..qolbu tidak hidup, maka amaliah ibadah hanya berupa ritual penggugur kewajiban & ibarat robot.

    • setuju mas haqi..
      belajar agama ini memang ada ilmunya. salah satunya dalam hal memilih guru.
      guru yang bertanggung jawab akan ilmu yang diajarkannya. mudah-mudahan mereka” yang menghina mampu bertanggung jawab akan apa yang disampaikannya. sy sama sekali tidak meragukan hadist yg disampaikan. tp lebih cara pemahamannya

  16. Asalamualaikum.

    Maaf sebelumnya, ini cuman pendapat saya.

    Bukankah ada Kaidah, ”Menolak kerusakan (kejelekan) lebih utama daripada mengharap mendapatkan maslahat”.
    Jangan sampai Aswaja merasa tidak dirangkul wahabi, sehingga masuk kepada rangkulan Syiah.

  17. Syukron Ustad Firanda,
    Artikelnya sangat mudah dipahami.
    Afwan sekedar masukan, untuk tokoh aswaja diganti saja dengan yang lain misal “awam” atau yg lain. Karena aswaja akan menimbulkan banyak persepsi. Manhaj salaf juga kan aswaja juga dengan pemahaman salafusholeh.

  18. Ha..ha…ha….tertawa saya melihat kalian semua, tapi menangis teriris2 hati saya terasa, Firanda itu Ustad ya ? Ustad orang Muslim apa ustad yahudi ? bukannya mempersatukan ummat malah mecah belah umat, urusin amal ibadah masing2 aja, sekarang ayo bersatu urusin bagaimana caranya ngadepin yahudi nasrani yang lagi bantai umat muslim di palesti sana. pada bahlul nt…sok suci semua….

    • Justru bid’ah-bid’ah inilah yang memecah-belah dan melemahkan kaum muslimin. Solusinya adalah dengan memperingatkan kaum muslimin akan bahaya bid’ah dan meninggalkannya kemudian amalkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Insyaallah umat Islam akan bersatu dan kuat melawan musuh-mushnya. Allahu a’lam

  19. astaghfirullah apakah anda tidak senang dengan lahirnya Nabi Muhammad saw. Apa jadinya kita apabila beliau tidak dilahirkan ke bumi ini. Kita tidak mungkin selamat. Bertaubatlah sekarang sebelum Nabi Muhammad saw, tidak memberikan syafaatnya kepada kalian semua.

    • apa anda pikir Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Ali dan para sahabat yang lain itu tidak senang dengan lahirnya nabi?
      kalo mereka senang dengan kelahiran nabi, kenapa mereka tidak memperingati hari kelahiran nabi?

  20. Menurut saya Muallaf mantan Kristen.
    Maulid (Happy Birthday Nabi Muhammad) itu Ajaran Yahudi, karena Syi’ah Rafidhoh yang pertama melakukannya, mereka sebenarnya meyakini tanggal 17 Rabi’ul Awal hari lahir Nabi Muhammad, dan tanggal 12 Rabi’ul Awal itu Tanggal meninggal dunia Nabi Muhammad, Jadi sebenarnya mereka merayakan kematian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. ITULAH TAQIYAH SYI’AH.

    Nabi Yesus dan Nabi Muhammad tidak memperingati Ulang Tahunnya, dan menyuruh memperingati ulang tahunnya. Ulang Tahun itu dalam alkitab merupakan Ajaran Fir’aun dan Herodes penyembah Berhala.
    Apakah Rasulullah pernah melakukannya ?
    Padahal Herodes sudah hidup pada jaman Nabi Isa. Apakah Rasulullah mengikuti tradisi ini ?
    Rasulullah pernah bersabda:
    “Kamu akan mengkuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk kedalam lobang biawak kamu pasti akan memasukinya juga”. Para sahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Siapa lagi jika bukan mereka?!”

    Rasulullah bersabda : “Man tasabbaha biqaumin fahua minhum”
    (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”( HR. Ahmad)

    dan beliau juga bersabda : “Allah membenci Perbuatan Jahiliyah dalam ajaran Islam (HR Bukhari)

    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak merayakan dan menyuruh memperingati Ulang Tahun Nabi Ibrahim tanggal 10 Muharam. .Jelas ada dalilnya Nabi Ibrahim tanggal kelahirannya.

    WAHAI ORANG YANG BERAKAL, Ingatlah Nasehat Ini :
    “Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi”
    SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, MAKA RASULULLAH, PARA SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN PASTI MEREKA LEBIH DAHULU MENGAMALKANNYA DARIPADA KITA.

  21. amal ibadah tidak boleh menuruti hawa nafsu kita dalam bahasa jawa otak atik matuk atau kata laen menurut kita itu baek lalu dikerjakan akan tetapi amal ibadah harus sesuai dengan syariat yang mana syariat itu sendiri sudah di wahyukan oleh ALLAH kepada rasulnya dan semua syariat telah di ajarkan oleh rasulullah salallahu’alaihiwassalam sampai buang hajatpun diajarkanya, islam ini sudah sempurna dan paripurna maka sebagai seorang muslim yang notabene umat muhammad rasulullah salallahu’alaihi wassalam kewajiban kita adalah itibba kepada ALLAH dan rasulnya bukan malah beramal ibadah sesuai tradisi nenek moyang atau tradisi masyarakat yang mana tradisi itu sendiri tidak sesuai dengan syariat islam dan malah bertentangan janganlah kita mendahulukan akal dan nafsu kita karna ajaran ilslam yang terkandung di dalam alqur’an dan assunah semuanya masuk akal bagi orang2 yang diberi akal, semoga ALLAH selalu menujukan kita jalan yang lurus dan memudahkan kita untuk terus mencari hidayah dan ridho ALLAH ta’ala amin.

Leave a Reply to faisal Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here