Al-Mizan dan Dzulmah (Kegelapan) – Serial Menuju Akhirat #8

1434
IlustrasiTebing Canada @unsplash

Al-Mizan dan Dzulmah (Kegelapan)

Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.

Setelah seseorang mendapatkan masing-masing buku catatan amalnya, maka setelah itu ada yang namanya al-Mizan, yaitu hari penimbangan. Dalam hadits-hadits disebutkan bahwa yang ditimbang dalam fase ini antara lain catatan amal seseorang. Nabi ﷺ bersabda,

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا، ثُمَّ يَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَلَكَ حَسَنَةٌ؟ فَيُهَابُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، قَالَ: فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ، مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ} سنن ابن ماجه (2/ 1437{(

Pada hari Kiamat akan di teriakan seorang laki-laki dari ummatku di atas kepala seluruh makhluk, maka di sebarkanlah untuknya sembilan puluh sembilan buku catatan, setiap buku catatan yang panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah ‘azza wajalla berfirman: “Apakah kamu mengingkari sesuatu dari catatan ini?” dia menjawab; “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi; “Apakah Malaikat penulis-Ku mendzalimimu?” Kemudian Dia berfirman: “Apakah kamu punya alasan? Apakah kamu punya kebaikan?” Maka dengan rasa takut, laki-laki itu menjawab; “Tidak.” Allah berfirman: “Ya, sesungguhnya kamu memiliki beberapa kebaikan di sisi Kami. Sesungguhnya pada hari ini tidak ada lagi kezhaliman bagi dirimu.” Maka di keluarkanlah untuknya kartu yang bertuliskan; “Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan ‘Abduhu wa rasuuluhu (Tidak ada ilah yang berhak di sembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).” Beliau bersabda: “Lelaki itu berkata; “Wahai Rabbku, apa hubingannya kartu ini dengan buku catatan ini?” Allah menjawab: “Sesungguhnya kamu tidak akan dizhalimi.” Maka di letakkanlah catatan-catatan itu di atas satu bagian (di sisi) timbangan, dan kartu di bagian lain (sisi yang lain) dari timbangan, ternyata catatan-catatan itu lebih ringan dan kartu itu lebih berat.” (HR. Ibnu Majah 2/1437 no. 4300)

Kemudian di antaranya ada yang ditimbang dengan amalannya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ }صحيح البخاري (8/ 139{(

Ada dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan (mizan), dan di sukai oleh Ar-Rahman, (yaitu) Subhanallah wabihamdihi dan Subhanallahil ‘Adzhim.” (HR. Bukhari 8/139 no. 6682)

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ} سنن الترمذي (4/ 362{(

Tidaklah sesuatu lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 2002)

Kemudian di antara yang juga ditimbang pada hari kiamat adalah orangnya. Contohnya adalah hadits yang mengisahkan tatkala Ibnu Mas’ud memanjat sebuah pohon atas perintah Rasulullah. Tiba-tiba angin menyingkap pakaiannya hingga terlihat betisnya. Maka orang-orang yang melihantya pun menertawakannya. Maka Nabi ﷺ berkata,

مِمَّ تَضْحَكُونَ؟ قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، مِنْ دِقَّةِ سَاقَيْهِ، فَقَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ.} مسند أحمد مخرجا (1/ 420{(

Apa yang kalian tertawakan?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami menertawakan betisnya yang kecil”. Maka beliau bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kedua betisnya lebih berat timbangannya dari gunung uhud.” (HR. Ahmad 1/420 no. 3991)

Akan tetapi para ulama mengatakan bahwa hal tersebut tidaklah bertentangan satu sama lain karena pada dasarnya semua yang ditimbang akan kembali kepada amalan seseorang.

Timbangan di sisi Allah memiliki dua sifat;

Yang pertama adalah adil, sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ (47)

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’ : 47)

Yang kedua adalah detail dalam penimbangan. Allah ﷻ berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah : 7-8)

Maka sekecil apapun amalan seseorang di dunia, Allah pasti akan datangkan pada ahri kiamat. Sebagaimana perkatan Lukman kepada anaknya yang Allah abadikan dalam Alquran,

يَابُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16)

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman : 16)

Oleh karenanya meskipun seseorang melakukan amalan yang sangat kecil, tidak diketahui oleh orang lain, dan hanya berasal dari relung hati yang paling dalam, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Tahu dan Allah akan datangkan pada hari kiamat amalan tersebut. begitu pula tatkala seseorang melakukan kemaksiatan, meskipun semua tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya, Allah tetap akan datangkan amalan tersebut pada hari kiamat.

Benarlah sabda nabi ﷺ yang mengatakan,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ}. صحيح مسلم (4/ 2026{(

Janganlah kamu menganggap remeh kebaikan sedikitpun, meskipun kamu hanya bermuka manis (tersenyum) kepada saudaramu ketika bertemu.” (HR. Muslim 4/2026 no. 2626)

Maka ingatlah bahwa timbangan Allah itu adil dan detail, sehingga tidak ada kebaikan atau keburukan sekecil apapun yang terluput.

Setelah ditimbang, para ulama menjelaskan bahwa manusia kemudian dikelompok-kelompokkan. Allah ﷻ berfirman,

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ (59)

Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.” (QS. Yasin : 59)

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ (22)

(Diperintahkan kepada malaikat): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah.” (QS. Ash-Shaffat : 22)

Maka setelah itu datanglah adz-Dzhulmah (kegelapan). Tiba-tiba Allah menjadikan tempat tersebut menjadi gelap gulita. Kemudian Allah memerintahkan mereka untuk melewati sirath.

Wallahu a’lam.

Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here