Ikhlas dan Bahaya Riya’

Ikhlas dan Bahaya Riya’

“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya a

Keutamaan Ikhlas (bag. 3)
YESUS SEORANG TUHAN ?? (bag 1)
Bersedekah Agar Ditambahkan Rizkinya Di Dunia Syirik?

“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).

Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).

Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:

Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).

Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “Lafal ‘amalan’ disini adalah nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga mencakup seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).

PAGES

1 2 3 4 5
Newer Post

COMMENTS

WORDPRESS: 17
  • comment-avatar

    assalamu’alaikum ustadz,
    ‘afwan ana mohon idzin mengcopy artikel ini, mudah-mudahan bermanfaat buat ana,
    syukran jazakallahu khairan, semoga antum tetap semangat dalam dakwah, barakallahu fik

    • comment-avatar
      abu ihsan 6 years ago

      Assalamu’alaikum ust.klo memberi ‘uang bensin’ pd ust/guru yang telah mengajarkan ilmu pd kita,maka disebut infak/shodaqoh

    • comment-avatar

      assalamualaikum ustadz
      ana ijin copy dan sharen jazakallah khoir

  • comment-avatar
    admin 8 years ago

    Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
    aamiin, syukron atas doanya. silahkan dicopy dan disebarkan semua artikel yang ada di website ini. karena tujuannya memang untuk disebarkan. baarokallhu fiik.
    akhukum : firanda

  • comment-avatar

    Assalamu’alaikum,
    ana mohon idzin share mengcopy artikel ini, mudah-mudahan bermanfaat buat ana,dan rekan=-rekan yang lain.
    jazakallahu khairan, semoga antum tetap semangat dalam dakwah,
    barakallahu fik
    wassalam

  • comment-avatar
    Fadhlan 8 years ago

    Assalamu’alaikum ustad… ana mau nanya,,,

    bagaimana saat kita pertama kali melaksanakan suatu amalan itu niatnya ikhlas karena Allah dan dikerjakan sesuai dg tuntunan Nabi, akan tetapi saat kita tengah mengerjakannya maka terlintas di hati ana penyakit Riya ataw summ’ah.

    apakah amalan ana itu di terima Allah? juga apakah lintasan di hati ana berupa riya tadi itu dari bisikan syaitan? karena dlm hati sanubari ana tidak bermaksud seperti itu? ana takut ibadah ana tertolak karena Riya ini. mohon jawabannya ustad. Jazakallahu Khairon.

    • comment-avatar

      wlakumslam, afwan akhi terlamabat menjawab pertanyaan antum.
      Sulit memang seseorang terhindar dari penyakit ini. akan tetapi para ulama sepakat jika seseorang dasar amalannya ikhlas lantas kemudian datang riya di tengah amalannya, kemudian dia berusaha menolak riyaa tersebut dan berahasil maka amalannya diterima.
      para ulama khilaf jika dia tdk berhasil menolak riyaa tersebut dari tengah amal hingga akhir amalan. Akan tetapi jika seseorang sudah berusaha menolak riyaa, dan beci dengan riyaa tersebut maka Insyaa Allah amalannya tetap diterima karena Allah tidak membebani kecuali sesuai kemampuan hambaNya. Wallahu A’lam

  • comment-avatar

    Ana juga izin Copy pastenya ya Ustadz..

    Jazakallah khoir wa barqakallah fiyk

  • comment-avatar

    Ana izin copy pastenya ya ustadz…

    Jazakallah khaoir

  • comment-avatar
    Ummu Adam 8 years ago

    assalamualaikum ust.
    insyaAlloh kami tiap tahun korba sapi, tapi saya takut di anggap riya.sedangkan di kampung saya sedang ada renovasi masjid.tapi masjid itu banyak bid’ahnya.apakah dana untuk korban saya alihkan ke masjid karena saya takut dianggap riya ustad?jazakumulloh

    • comment-avatar

      walaikum salam, umm coba baca kembali tulisan nasehat Ibnu Taimiyyah tentang tidak meninggalkan amalan karena takut riyaa. ummu harus tetap berusaha beramala yang terbaik menurut ummu, adapun riyaa tetap harus dilawan. jika ada suatu amalan yang baik dan bermanfaat maka janganlah ditinggalkan hanya karena takut riyaa, akan tetapi lawanlah riyaa tersebut semampu mungkin. coba lihat juga jawaban ana diatas terhadap akh Fadhlan. baarokallhu fiiki

      • comment-avatar
        Ummu Adam 8 years ago

        Assalamu’alaikum ustad.
        afwan nasehat ibnu Taimiyyah yang di maksud dalam kitab apa?
        Jazakallah khoir wa barqakallah fiyk

  • comment-avatar
  • comment-avatar
    ummu abdillah 8 years ago

    Assalamu’alaikum. Pa ustadz, jika saya beramal karena mengarap balasan dari Allah tapi saya juga ingin agar amal tersebut bermanfaat untuk saya dan keluarga di akhirat. Apakah diperbolehkan?

  • comment-avatar

    Assalamu’alaikum
    Ana juga ijin share ya Ustadz..

  • comment-avatar
    masbemby 8 years ago

    Assalamu’laykum, Bagaimana bersedekah Hanya Untuk Memperlancar Rizki?

  • comment-avatar

    Asaaalamualaikaum
    Ana ijin share jg ya ustadz