Tafsir Surat Al Muthaffifin – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al Muthaffifin – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al Muthafiffin

Ditulis oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc, MA

Jika diperhatikan urutan serta isinya, Surat Al-Muthaffifin yang diletakkan setelah Surat At-Takwir dan Al-Infithar merupakan keindahan tersendiri dari rangkaian-rangkaian surat-surat yang terdapat dalam Al-Quran. Surat At-Takwir berbicara tentang dahsyatnya hari kiamat secara detail, mulai dari keadaan langit pada hari kiamat kelak, keadaan bumi, keadaan lautan, dan lain sebagainya, Allah sebutkan secara detail tentang kedahsyatannya. Kemudian selanjutnya surat Al-Infithar Allah menyebutkan sebagian saja dari dahsyatnya hari kiamat lalu menyebutkan tentang celaan Allah terhadap orang yang kafir dan lupa akan nikmat Allah subhanallahu wata’ala, serta tidak terhadap hari kiamat. Di dalam Surat Al-Infithar juga disebutkan tentang dua golongan manusia yaitu Al-Abrar (orang-orang baik yang mendapatkan kenikmatan) dan Al-Fujjar (orang-orang fajir yang mendapatkan kesengsaraan).

Sedangkan pada surat Al-Muthaffifin, Allah menyebutkan bagaimana keadaan golongan Al-Abrar dan Al-Fujjar secara detail pada hari akhirat kelak. Sehingga apabila kita merenungi tentang urutan dari surat At-Takwir kemudian Al-Infithar lalu Al-Muthaffifin akan kita dapati pengaturan yang sangat indah dari rangkaian–rangkaian surat-surat tersebut.

Surat Al-Muthaffifin diperselisihkan oleh para ulama tentang statusnya apakah dia merupakan surat makiyyah atau surat madaniyyah. Kebanyakan ulama berpendapat bahwasanya surat Al– Muthaffifin adalah surat madaniyyah. Seperti salah seorang ulama ahli tafsir dari madzhab Syafi’i Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya Tafsir Al-Quranul ‘Adzhim, beliau menjelaskan asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam berhijrah dari kota Mekah ke Madinah beliau mendapati penduduk madinah sangat buruk dalam menakar dan menimbang. Jika mereka yang membeli barang, mereka ingin agar takarannya sempurna, namun ketika menjual barang, mereka mengurangi takarannya. Praktek semacam ini sering dilakukan oleh para penduduk kota Madinah sebelum Nabi datang ke kota Madinah. Sehingga turunlah Surat Al-Muthaffifin setelah itu sebagai teguran bagi mereka. Ini adalah pendapat sebagian ulama mengapa surat Al-Muthaffifin adalah Surat madaniyyah.

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwasanya surat Al-Muthaffifin adalah surat makiyyah. Karena jika dicermati lebih lanjut tentang isi dari surat Al-Muthaffifin akan didapati konteks pembicaraannya masih ditujukan untuk orang-orang kafir Mekah yang mengingkari hari kebangkitan. Diantara ayat yang menunjukkan bahwasanya Al-Muthaffifin adalah surat makiyyah seperti dalam firman Allah :

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, ‘Itu adalah dongeng-dongeng orang terdahulu’.” (QS Al-Muthaffifin : 13)

Ungkapan seperti ini adalah salah satu contoh ungkapan yang sering dikeluarkan oleh orang-orang kafir Quraisy di Mekkah. Demikian juga firman-Nya di akhir-akhir surat:

وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ

“Dan apabila mereka (orang-orang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS Al-Muthaffifin : 30)

Ejekan-ejekan seperti ini tidak akan terdengar di kota Madinah karena Madinah adalah negara Islam, dan tidak ada oran orang-orang munafik yang mengejek dengan ejekan-ejekan seperti itu. Sehingga ejekan seperti itu hanya terjadi di Mekkah. Oleh karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa surat Al-Muthaffifin adalah surat makiyyah.

Ada pula sebagian ulama yang berusaha mengambil jalan tengah. Mereka mengatakan bahwasanya surat Al-Muthaffifin turun di antara Mekkah dan Madinah yaitu ketika Nabi hendak berhijrah. Sebagaimana pendapat Thahir bin ‘Asyur dalam tafsirnya untuk surat Al-Muthaffifin bahwasanya surat Al-Muthaffifin turun diantara kota Mekkah dan Madinah (Lihat At-Thrir wa At-Tanwiir 30/187), yaitu ketika Rasulullah shallallahu’ alaihi wassallam sedang melakukan perjalanan hijrah turunlah surat Al-Muthaffifin sebagai pengingat akan adanya keburukan di kota Madinah, yaitu praktek sebagian orang-orang yang menimbang dengan tidak benar. Hal ini dimaksudkan agar ketika Nabi tiba di kota Madinah, penyakit kebiasaan tersebut sudah hilang. Sehingga disambut dengan kondisi yang baik oleh penduduk kota madinah. Terlepas apakah surat Al-Muthaffifin makiyyah atau madaniyyah, perbedaan-perbedaan pendapat ulama akan hal tersebut hanya sekedar wawasan dan tidak mempengaruhi isi dari ayat-ayat tersebut serta tidak pula berkaitan dengan nasikh dan mansukh.

Di awal surat Al-Muthaffifin Allah menyinggung salah satu keburukan yang di sepelekan oleh sebagian orang dan dianggap sebagai perkara ringan yaitu mengurangi timbangan dari yang seharusnya. Ketahuilah bahwasanya, meskipun kebanyakan manusia menganggap hal tersebut adalah perkara ringan, tetapi ini bukanlah perkara yang ringan di sisi Allah subhanallahu wata’ala karena berkaitan dengan hak orang lain. Karenanya dalam Al-Quran tidak ada surat yang di buka dengan kata وَيْلٌ yang artinya “celakalah” kecuali 2 surat, yaitu surat Al-Muthaffifin dan surat Al-Humazah.

Surat Al-Muthaffifin berkaitan dengan melanggar hak milik orang lain dari sisi harta dengan melakukan kecurangan di dalam menimbang dengan cara menguranginya. Sedangkan Al-Humazah berisi tentang orang-orang yang suka mengumpat dan mencela serta merendahkan harga diri orang lain. Dan kedua surat ini punya kesamaan, yaitu berkaitan dengan hak orang lain, yang satu berkaitan dengan harta orang lain yang satu berkaitan dengan harga diri orang lain. Ini menunjukkan bahwasanya perkara ini berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda dalam khutbahnya ketika Haji Wada’:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini di negeri kalian ini.“ (HR. Muslim).

Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak menggampangkan dosa terutama yang berkaitan dengan hak orang lain. Meskipun sama-sama berat tetapi dosa yang berkaitan antara dia dengan Allah subhanallahu wata’ala itu masih lebih ringan dibanding dosa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain. Karena Allah subhanallahu wata’ala itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Berbeda jika itu berkaitan dengan hak orang lain karena pada dasarnya orang lain di akhirat kelak ingin menuntut kita, agar dia bisa mendapatkan tambahan amalan yang diambil kita. Itulah sebabnya mengapa dosa yang berkaitan dengan hak orang lain itu lebih berbahaya.

Oleh karenanya, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh pernah berkata :

إِنْ لَقِيتَ اللَّهَ تَعَالَى بِسَبْعِينَ ذَنْبًا فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى أَهْوَنُ عَلَيْكَ مِنْ أَنْ تَلْقَاهُ بِذَنْبٍ وَاحِدٍ فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِبَادِ

“Jika engkau bertemu Allāh (meninggal dunia) dengan membawa 72 dosa antara engkau dan Allāh masih lebih ringan bagimu, daripada engkau bertemu Allāh dengan membawa satu dosa antara engkau dengan hamba-Nya.” (Tanbiihul Goofiliin bi Ahaadiit Sayyidil Anbiyaa’ wal Mursaliin, As-Samarqondi hal 380)

Allah subhanallahu wata’ala berfirman dalam surat Al-Muthaffifin:

1. وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ

“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)”

Terkait dengan kata وَيْلٌ , ada dua pendapat di kalangan para ahli tafsir. Pendapat yang pertama mengatakan bahwaوَيْلٌ adalah nama sebuah lembah di neraka jahannam. Ada riwayat yang menunjukkan hal ini tetapi sebagian ulama melemahkan riwayat tentang hal ini. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa kata وَيْلٌ di kembalikan kepada ushlub bahasa arab, sehingga artinya adalah kecelakaan dan kebinasaan. Sehingga pendapat yang kedua lebih kuat jika ditinjau dari sisi bahasa. Selain itu, ancaman ini akan menimbulkan kesan yang lebih mengerikan karena dia tidak mengetahui kecelakaan dan kebinasaan apa yang akan menimpanya, yang tahu hanyalah Allah kecelakaan apa yang pantas dia dapatkan.

Adapun firman Allah لِّلْمُطَفِّفِينَ, maka kata التَّطْفِيْفُ diambil dari kata الطُّفَافُ yang maknanya adalah ukuran kurang dari segenggam tangan sehingga makna الطُّفَافُ adalah sedikit tambahan (Lihat At-Thrir wa At-Tanwiir 30/189). Ibnu Jarir juga berkata :

وَأَصْلُ ذَلِكَ مِنَ الشَّيْءِ الطَّفِيفِ، وَهُوَ الْقَلِيلُ

“Dan asal hal ini dari sesuatu yang at-Thofiif yaitu sesuatu yang sedikit” (Tafsir At-Thobari 24/185)

Jadi maksudnya Allah mencela orang-orang yang malakukan pengurangan timbangan dan takaran meskipun pengurangan tersebut hanyalah sedikit. Dan memang yang biasa dilakukan oleh para pedagang adalah mengurangi hanya sedikit timbangan dan takaran, karena itulah yang samar bagi penjual. Kalau mereka mengurangi banyak timbangan maka pasti akan ketahuan.

Kemudian Allah berfirman:

2. الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan”

3. وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

“dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi”

Para ulama menyebutkan bahwasanya perbuatan curang seperti ini adalah salah satu contoh perkara yang dianggap sepele oleh sebagian orang. Tetapi ternyata masalah mengurangi timbangan bukanlah perkara yang ringan, bahkan perkara ini pernah menjadi sebab dihancurkannya sebuah umat, yaitu kaum Madyan, umatnya Nabi Syu’aib ‘alaihissallam. Allah subhanallahu wata’ala berfirman :

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُم بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيطٍ

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak engkau sembah selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (Kiamat).” (QS Hud : 84)

Perkara yang sebagian dari kita anggap sepele tersebut ternyata pernah menjadi sebab diturunkannya adzab pada suatu kaum karena pembangkangan kaum Madyan tidak mau mengikuti perintah Allah. Hendaknya setiap orang dalam menakar dan menimbang harus sempurna tidak boleh dikurangi dari ukuran seharusnya. Allah subhanallahu wata’ala berfirman:

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS Al-Isra’ : 35)

Kebanyakan penduduk Madinah menggunakan takaran karena mayoritas pekerjaan mereka adalah pengepul. Apabila mereka menjual kurma mereka akan menggunakan ukuran so’ dimana ukuran tersebut adalah ukuran voume. Adapun penduduk kota Mekkah kebanyakan mereka menggunakan timbangan karena kebanyakan mereka adalah para pedagang, seperti menjual emas dan perak yaitu dengan cara ditimbang. Dan kedua-duanya baik takaran maupun timbangan harus disempurnakan.

Suatu hal yang sangat disayangkan, karena ternyata praktik seperti ini adalah praktik yang masih sering dijumpai sampai sekarang. Terutama para syarikat-syarikat, perusahaan-perusahaan besar, atau penjual-penjual yang menjual dalam jumlah besar. Terkadang orang miskin terpaksa membelinya padahal mereka tahu bahwa timbangannya kurang. Kadang tertulis 50kg di suatu kantong beras tetapi setelah ditimbang kurang dari 50kg. Bisa jadi kekurangan 1kg ini dianggap sepele oleh penjualnya, tetapi disisi Allah ini adalah masalah yang besar. Praktek seperti ini berbahaya dan diancam oleh Allah dengan kebinasaan dan kehancuran.

Para ulama menyebutkan bahwasanya apa yang disebutkan oleh Allah subhanallahu wata’ala tentang mengurangi takaran dan timbangan ini adalah sekedar contoh dan bukan merupakan batasan. Artinya ini bisa diqiyaskan kepada permasalahan lainnya. Seperti ketika menilai orang lain, ketika seseorang membenci orang lain maka dia hanya menyebutkan keburukan-keburukannya tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Orang yang seperti ini takarannya tidak benar. Padahal ini juga berkaitan dengan harga diri orang lain dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah subhanallahu wata’ala.

Sebagian ulama juga mengaitkannya dengan orang yang hanya bisa menuntut tetapi tidak mau dituntut. Dalam ayat ini Allah mencela orang jika membeli dia ingin timbangannya sempurna, tetapi jika menjual dia mengurangi timbangannya. Jadi apa yang berkaitan dengan hak dia, dia tuntut. Tetapi kalau berkaitan dengan hak orang lain dia anggap remeh. Sehingga setiap orang yang hanya ingin haknya dipenuhi sementara hak orang lain tidak diperdulikannya maka dia termasuk dalam ayat ini.

Sampaipun dalam permasalahan keluarga, seorang suami yang selalu menuntut istrinya agar menjadi istri yang shalihah, taat kepadanya, tidak boleh membantah. Tetapi berkaitan dengan hak istri dia lalai. Dia tidak pernah membantu istrinya mengurus rumah, tidak pernah membantu istrinya mencuci pakaian dan memasak, tidak ada waktu untuk istrinya, istrinya butuh belaian dan sentuhan suaminya tetapi tidak pernah diperdulikannya. Sesungguhnya ini termasuk perbuatan yang dicela sebagaimana ayat ini, hak dia ingin dipenuhi tetapi hak orang lain tidak dia penuhi.

Termasuk pula dalam hal ini yatu hubungan antara rakyat dengan pemimpin, terkadang atau malah banyak dijumpai rakyat yang selalu menuntut haknya agar dipenuhi pemerintah, tetapi kewajibannya sebagai rakyat tidak diperhatikan, dengan cara selalu melanggar peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah. Demikian juga sebaliknya bisa jadi pemerintah selalu menuntut hak kepada rakyat dengan mewajibkan mereka untuk membayar ini dan itu, akan tetapi hak-hak dan kesejahteraan rakyat tidak mereka penuhi.

Demikian juga para pekerja yang mencuri-curi waktu kerjaan, mereka datang terlambat dalam pekerjaan atau mereka keluar lebih dahulu sebelum waktu kerja berakhir, namun tatkala menuntut gaji maka mereke menuntut agar gaji mereka dipenuhi 100 persen.

Kemudian Allah berfirman :

4. أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ

“Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan”

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Allah mencela perilaku tidak adil dalam menimbang dan menakar itu. Namun setelah itu, Allah tidak menjelaskan mengapa praktik-praktik seperti itu bisa berdosa sehingga berdampak pada celaan Allah terhadapnya. Hal ini disebabkan karena mengurangi takaran dan timbangan itu adalah suatu keburukan menurut fitrah manusia, semua menganggapnya itu adalah hal yang buruk. Sehingga Allah tidak perlu menyebutkan dalil, mengapa praktik seperti ini bisa mendatangkan dosa, tetapi Allah langsung menyampaikan mauidzhah (nasehat) tentang hari kiamat/hari pembalasan. Dengan menanyakan apakah mereka tidak mengetahui bahwa akan adanya kebangkitan di hari akhir nanti.

Kemudian Allah berfirman:

5. لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

“Pada suatu hari yang dahsyat”

6. يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“(yaitu) pada hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam”

Hari kiamat memiliki nama-nama lain yang banyak, diantaranya yaumul qiyamah. Dinamakan yaumul qiyamah diambil dari mashdar dari قَامَ يَقُوْمُ قِيَامًا yang artinya adalah “berdiri”. Adapun al-qiyamah yaitu diambil dari القِّيَامُ yang ditambahkan dengan ة di akhirnya sebagai bentuk mubaalaghoh (hiperbola), sehingga maknanya adalah benar-benar berdiri. Hal ini dikarenakan manusia pada hari kiamat kelak akan berdiri dalam waktu yang sangat lama untuk menanti kedatangan Allah untuk menyidang mereka (Lihat Tafsir At-Thobari 24/188-192)

Hari tersebut adalah hari yang sangat mengerikan. Allah menurunkan matahari sampai berjarak 1 mil, sehingga manusia dalam keadaan yang sangat parah dan sangat kepanasan. Ditambah manusia pada hari itu dibangkitkan dalam keadaan telanjang bulat, tidak memakai alas kaki, belum disunat, dan tidak membawa apa-apa. ‘Aisyah menggambarkan peristiwa ini yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ

“Manusia akan digiring pada hari kiamat (di Padang Mahsyar) dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan”. Lalu ‘Aisyah berkata, ”Wahai Rasulullah, perempuan dan laki-laki semuanya? Sebagian mereka melihat sebagian lainnya?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Keadaannya lebih mengerikan dari membuat mereka berpikir demikian”. (HR Muslim no. 2859)

Bagaimana tidak, manusia dikumpulkan di atas suatu dataran yang rata, tidak ada gunung dan tidak ada lembah yang disebut dengan padang mahsyar. Ditambah matahari didekatkan hingga jarak 1 mil. Semua manusia sejak nabi Adam ‘alaihissallam sampai manusia yang terakhir hidup di bumi dikumpulkan di padang mahsyar tersebut. Mereka berdiri menunggu kehadiran Allah subhanallahu wata’ala dalam keadaan penuh ketakutan. Keringat mereka bercucuran, sampai-sampai disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasanya keringat seseorang sesuai dengan imannya. Orang yang imannya tinggi maka keringatnya akan sedikit. Sebaliknya semakin buruk imannya maka semakin tinggi keringatnya. Ada yang keringatnya sampai betisnya, ada yang sampai pahanya, pinggangnya, mulutnya, kepalanya, wajahnya. Inilah bukti dahsyatnya hari kiamat.

Nabi bersabda :

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ، فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا» قَالَ: وَأَشَارَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ

“Matahari pada hari kiamat didekatkan kepada manusia, hingga jaraknya dari mereka hanya satu mil. Maka orang-orang berdasarkan amalannya dalam hal keringat. Ada diantara mereka yang keringatnya hingga dua mata kakinya, diantaranya ada yang keringatnya hingga kedua lututnya, ada yang keringatnya hingga kedua pinggangnya, dan ada yang keringatnya samapi ke mulutnya menahan mulutnya” (HR Muslim No. 2864)

Pada hari itu Allah membangkitkan manusia dengan bentuk yang lain. Allah membuat manusia kuat untuk menahan panasnya matahari dalam kepayahan, dan meskipun tidak ada makanan dan minuman. Oleh karena itu, meskipun manusia dalam kondisi yang sangat sulit dan kepanasan, namun mereka kuat dan tidak bisa mati. Adapun sekarang, seandainya matahari diturunkan sedikit saja, mungkin manusia sudah binasa.

Pada hari itu semua manusia menanti kapan Allah akan memulai persidangannya. Ada yang mengatakan manusia menunggu sampai 40.000 tahun, ada pula yang mengatakan 50.000 tahun, intinya manusia menunggu dalam waktu yang sangat lama.

Adapun orang-orang beriman maka mereka merasa menunggu hanya dalam waktu yang singkat. Abu Sa’id al-Khudri berkata :

قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَوْمًا كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، مَا أَطْوَلَ هَذَا الْيَوْمَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهُ لَيُخَفَّفُ عَلَى الْمُؤْمِنِ، حَتَّى يَكُونَ أَخَفَّ عَلَيْهِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ يُصَلِّيهَا فِي الدُّنْيَا

“Dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Suatu hari yang ukurannya 50 ribu tahun, sungguh betapa panjang hari tersebut?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Demi Yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh diringankan bagi seorang mukmin, hingga lebih ringan dari sholat fardu yang ia kerjakan di dunia” (HR Ahmad no 11717) 1

Kemudian Allah subhanallahu wata’ala berfirman :

7. كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjin.”

Dalam Al-Quran sering dijumpai kalimatكَلَّا . Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya, bahwa كَلَّاterkadang sebagai kalimat yang mengingkari perkataan sebelumnya. Terkadang pula maknanya adalah حَقًّا yaitu untuk penekanan, untuk membenarkan perkataan sebelumnya2. Dan Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa كَلَّاpada ayat ini bermakna حَقًّا yaitu “sungguh benar-benar”.

Ada dua penafsiran para ulama dalam hal ini :

Pertama : Allah menyampaikan bahwa nama-nama orang fajir semuanya telah tercatat dalam sebuah kitab atau dalam sebuah batu, yang catatan tersebut tercatat di batu hitam yang terletak di lapisan bumi yang ketujuh yang paling bawah. Namun hanya Allah yang mengetahui bagaimana hakikatnya

Maksudnya yaitu orang yang beriman kepada takdir meyakini bahwasanya seluruh orang-orang yang masuk neraka jahannam sudah dicatat dalam catatan Allah subhanallahu wata’ala. Tiada satu orang pun yang akan lepas dari catatan tersebut. Mereka yang melakukan kemaksiatan, kefajiran, dan kekufuran, telah tercatat dalam sebuah catatan

Kedua : Maksud dari كِتَابَ الْفُجَّارِ yaitu -sebagaimana perkataan Ibnu Katsir- إِنَّ مَصِيرَهُمْ وَمَأْوَاهُمْ لَفِي سِجِّينٍ “Kesudahan mereka dan tempat mereka adalah tempat yang sempit” (Tafsir Ibnu Katsir 8/345) Dan سِجِّينٍ secara bahasa diambil dari السِّجْنُ yang artinya الضِّيِقُ “sempit”, penjara yang sempit. Dan dalam hal ini سِجِّينٍ diartikan dengan neraka Jahannam sebagai tempat orang-orang fajir kafir. Dan ini yang dirajihkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah. Beliau condong kepada pendapat bahwa سِجِّينٍ adalah tempat yang menyesakan yang terletak di lapisan bumi yang ketujuh yang paling bawah dan itulah tempat neraka Jahannam. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/346)

Kemudian Allah berfirman:

8. وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ

“Dan tahukah engkau apakah sijjin itu?”

Allah mengulangi penyebutan sijjin dalam bentuk pertanyaan. Ini adalah bentuk uslub/metode dalam Al-Quran untuk menunjukkan bahwa سِجِّينٌ adalah tempat yang mendatangkan penderitaan dan merupakan tempat yang sangat sempit. Allah berfirman dalam Al-Quran :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5)

“(4) Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya; (5) Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (QS At-Tin : 4-5)

Para ulama ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tempat yang serendah-rendahnya adalah lapisan bumi yang paling bawah. Ini menguatkan tafsir dari ayat sebelumnya.

Kemudian Allah berfirman :

9. كِتَابٌ مَّرْقُومٌ

“(yaitu) kitab yang telah terpahatkan”

Catatan amal tersebut seakan-akan telah dipahat oleh Allah subhanallahu wata’ala dan tidak akan ada lagi perubahan. Jadi كِتَابٌ مَرْقُوْمٌ bukanlah tafsir dari سِجِّينٌ akan tetapi tafsir dari كِتَابَ الْفُجَّارِ (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/346). Dan orang yang beriman kepada takdir, meyakini bahwa ketika Allah menciptakan alam semesta, Allah juga mencatat siapa yang akan menjadi penghuni surga dan siapa penghuni neraka jahannam. Tidak akan ada perubahan sama sekali dalam catatan tersebut, hanya saja tidak ada seorang pun yang mengetahui dia akan menjadi penghuni neraka atau penghuni surga. Oleh karena itu jika ada yang mempertanyakan mengapa harus beramal jika kita tahu kita akan menjadi penghuni neraka, maka jawabannya adalah karena kita tidak tahu kita akan menjadi penghuni neraka atau surga, maka hendaklah kita senantiasa beramal. Rasulullah bersabda:

اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ

“Hendaklah kalian beramal! Setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan tujuan dia diciptakan. Barangsiapa yang tergolong orang-orang yang berbahagia (penghuni surga) maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang berbahagia tersebut. Barangsiapa yang yang tergolong orang-orang yang sengsara (penghuni neraka) maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang sengsara itu.” (HR Bukhari no. 4949)

Kemudian Allah subhanallahu wata’ala berfirman:

10. وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ

“Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan”

Yaitu kecelakaan bagi mereka jika tiba hari kiamat, dimana Allah telah menyiapkan bagi mereka سِجِّينٌ dan adzab yang pedih

11. الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan”

Yaitu orang-orang yang tidak membenarkan akan terjadinya hari kiamat dan mereka merasa aneh dan tidak mungkin ada yang namanya hari pembalasan.

Allah berfirman:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang kamu kerjakan.’ Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS At-Taghabun : 7)

Kemudian Allah berfirman:

12. وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

“Dan tidak ada yang mendustakannya (hari pembalasan) kecuali setiap orang yang melampaui batas dan berdosa.”

Terkait makna مُعْتَدٍ dan أَثِيمٌ, para ulama semisal Al-Hafidz Ibnu Katsir berpendapat bahwa مُعْتَدٍ adalah orang yang melakukan perbuatan dosa yang berkaitan dengan perbuatannnya. Seperti meminum khamr, berzina, atau membunuh orang lain, dan lain sebagainya. Sedangkan أَثِيمٌ adalah dosa yang berkaitan dengan perkataannnya, seperti berdusta. (Tafsir Ibnu Katsir 8/346)

Pendapat yang lain mengatakan bahwa مُعْتَدٍ adalah dosa yang berkaitan dengan mendzalimi orang lain. Sedangkan أَثِيمٌ adalah dosa yang berkaitan dengan mendzalimi diri sendiri. (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/259). Diantara dosa yang berkaitan dengan orang lain yaitu dengan mendzalimi orang lain, mengambil harta orang lain tanpa hak, menipu orang lain, menjatuhkan harkat dan martabat orang lain, menuduh orang lain dengan tuduhan yang tidak-tidak. Bayangkanlah, jika mengurangi timbangan sedikit saja yang berkaitan dengan hak orang lain Allah ancam dengan kebinasaan dan kesengsaraan, maka bagaimana pula orang yang mengambil harta rakyat dengan cara mengkorupsinya. Betapa banyak rakyat yang terdzalimi yang akan menuntutnya pada hari kiamat kelak.

Sedangkan mendzalimi diri sendiri adalah bermaksiat berkaitan dengan dirinya sendiri. Dia tidak ragu melakukan yang haram, tidak ragu memandang yang haram, tidak ragu memakan yang haram. Hal ini semua terjadi karena dia tidak beriman kepada hari akhirat. Bisa jadi dia tidak merasa akan dibangkitkan di hari kiamat dan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah subhanallahu wata’ala. Ketahuilah bahwa keimanan pada hari kiamat merupakan perkara yang paling membuat orang tidak bermaksiat. Jika ada orang yang berani melakukan kemaksiatan, maka menunjukkan bahwa imannya terhadap hari akhirat itu kurang. Apabila dia beriman bahwa dia akan dibangkitkan oleh Allah dengan keimanan yang kuat dan yang kokoh, dia akan takut melakukan kemaksiatan atau ketika dia terjerumus ke dalam kemaksiatan dia akan segera bertaubat kepada Allah subhanallahu wata’ala.

Kemudian Allah subhanallahu wata’ala berfirman:

13. إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, ‘Itu adalah dongeng orang-orang dahulu’.”

Perkataan semacam inilah yang sering dilontarkan oleh kaum kafir Quraisy terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam. Mereka menganggap bahwa ayat-ayat yang disampaikan oleh Nabi adalah bukan dari Allah subhanallahu wata’ala melainkan hanyalah cerita-cerita yang disusun oleh Muhammad atau dongeng-dongeng yang didiktekan kepada beliau. Atau Nabi hanya mengumpulkannya dari buku-buku terdahulu lalu disusun kembali.

Allah berfirman :

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang” (QS Al-Furqon : 5)

Demikianlah tuduhan-tuduhan dusta yang ditujukan kepada Rasulullah. Namun semua tuduhan itu tidak benar.

Padahal Nabi tidak bisa baca dan tidak bisa tulis, lantas bagaimana Nabi menelaah kitab-kitab terdahulu?.

Allah berfirman

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS Al-‘Ankabuut : 48)

Lagi pula isi Al-Quran bukanlah dongeng-dongeng, tetapi peringatan. Kisah-kisah yang dibawakan tersebut itupun kisah-kisah nayata untuk memberi pelajaran dan peringatan, bukan hanya sekedar cerita kosong pengantar tidur. Perhatikanlah isi Al-Quran, akan dijumpai berbagai macam pembahasan baik itu tentang hukum, kisah-kisah umat terdahulu, ataupun peringatan-peringatan tentang hari akhirat, tentang hari kiamat, bahkan tentang muamalah, tentang akhlak, dan lain sebagainya. Sungguh jauh apa yang dituduhkan oleh mereka.

Kemudian Allah berfirman:

14. كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka”

كَلَّا dalam ayat ini bermakna “sekali-kali tidak” yaitu mengingkari. Hal ini karena ada kalimat sebelumnya yang ingin dibantah oleh Allah. Yaitu tidak benar persangkaan mereka bahwa al-Qur’an adalah dongeng orang terdahulu.

Yang benar yaitu al-Qur’an adalah firman Allah, hanya saja kaum musyrikin tidak beriman kepada al-Qur’an yang begitu indah dikarenan hati mereka yang telah tertutup dikarenakan banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan.

Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar–raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dalam hadist di atas disebutkan bahwa seorang hamba apabila melakukan dosa, maka akan di catatkan di hatinya titik hitam. Semakin melakukan kemaksiatan maka semakin banyak titik hitam dicatatkan di hatinya, sehingga hatinya bisa tertutup dengan warna hitam. Pada saat itu itu dia sudah tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dia melihat kemungkaran seperti kebaikan dan dia tidak mempunyai rasa malu melakukan kemungkaran, karena hatinya telah tertutup. Oleh karena itu, seseorang apabila melakukan kemaksiatan hendaklah segera bertaubat dan beristigfar kepada Allah subhanallahu wata’ala agar titik hitam yang dicatatkan tadi dihapus kembali oleh Allah subhanallahu wata’ala. Adapun orang-orang kafir maka hati mereka telah tertutup kelam, sehingga mereka tidak lagi mengetahui mana yang baik dan mana yang baik, dan tidak lagi memperdulikan jika mereka melakukan kemungkaran. Karena hati mereka telah ditutup oleh Allah, akibat ulah perbuatan mereka sendiri.

Kemudian Allah subhanallahu wata’ala berfirman:

15. كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya”

Yakni mereka tidak bisa melihat Allah subhanallahu wata’ala di hari kiamat kelak. Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahulah dalam tafsirnya mengatakan bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan ayat ini bahwasanya kaum mukminin kelak akan melihat wajah Allah pada hari kiamat. Imam As-Syaf’’i berkata :

وفي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَئِذٍ

“Pada ayat ini ada dalil yang menunjukan bahwa kaum mukminin melihat Allah ‘Azza wa Jalla pada hari itu”.

Yaitu Al-Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan mafhum ayat ini (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/347)

Melihat wajah Allah merupakan kenikmatan yang paling lezat yang akan dirasakan oleh orang-orang beriman di surga kelak. Kenikmatan tersebut merupakan tambahan dari nikmat yang telah mereka rasakan di dalam surga. Oleh karena itu, dalam ayat yang lain Allah berfirman

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ (22) إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)

“(22) Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri ; (23) Melihat kepada Tuhannya.” (QS Al-Qiyamah : 22-23)

Ini juga merupakan dalil bahwasanya Allah subhanallahu wata’ala memiliki wajah dan sifat-sifat lainnya, namun tidak kita tahu akan hakikatnya. Allah memiliki wajah yang berbeda dengan wajah manusia. Pendengaran Allah juga berbeda dengan pendengaran manusia yang penuh dengan keterbatasan. Jika ada dua orang yang berbicara bersamaan, maka pendengaran manusia tidak akan bisa menangkapnya dengan baik kedua pembicaraan tersebut. Adapun pendengaran Allah tidak demikian, tatkala jutaan manusia berkumpul di padang arafah padang musim haji dan semua berdoa kepada Allah subhanallahu wata’ala dalam satu waktu dengan doa yang berbeda-beda maka semuanya didengar oleh Allah. Demikian juga penglihatan Allah berbeda dengan penglihatan manusia, manusia penglihatannya terbatas namun penglihatan Allah melingkupi segala sesuatu. Begitupun kekuatan Allah berbeda dengan kekuatan manusia, dan seluruh sifat-sifat lainnya. Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS As-Syura : 11)

Dan diantara keyakinan Imam Asy-Syafii rahimahullah berikut seluruh Ahlussunnah wal Jamaah bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah pada hari kiamat. Rasulullah juga mengajarkan supaya berdoa kepada Allah agar kelak di hari kiamat diberikan kesempatan melihat wajah Allah dalam kenikmatan. Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam:

أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ

“Aku memohon kenikmatan memandang wajah-Mu.” (HR. An-Nasai, Ahmad)

Adapun Ibnu Jarir At-Thobari maka beliau berpendapat bahwa ayat ini umum mencakup terhalanginya kaum kafir dari melihat wajah Allah dan juga terhalangi dari karomah/kemuliaan Allah, yaitu Allah tidak akan melihat mereka, tidak akan mensucikan merekan dan bagi mereka adzab yang pedih (lihat Tafsir At-Thobari 24/206)

Kemudian Allah subhanallahu wata’ala berfirman:

16. ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ

“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masukkan ke dalam neraka”

17. ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تُكَذِّبُونَ

“Kemudian, dikatakan (kepada mereka), ‘Inilah (adzab) yang dahulu kamu dustakan’”

Maka kelak di hari kiamat akan dikatakan kepada mereka kalimat demikian sebagai bentuk penghinaan dan perendahan kepada mereka, karena dahulu di dunia orang-orang musyrikin mendustakan adzab neraka Jahannam, hingga akhirnya mereka merasakan sendiri apa yang mereka dustakan.

Setelah Allah menyampaikan keadaan golongan al-fujjar beserta adzab yang akan mereka dapatkan di hari kiamat, kemudian Allah menyebutkan keadaan al-abrar beserta kenikmatan yang disediakan untuk mereka di hari kiamat kelak.

Allah berfirman:

18. كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya catatan orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘illiyyin.”

Terkait makna عِلِّيِّينَ maka ada yang mengatakan yaitu tempat yang tinggi di langit yang ke tujuh, ada pula yang mengatakan di surga. Bahwasanya Allah sudah mencatat nama-nama orang yang akan masuk surga dalam suatu catatan yang tidak akan diubah lagi oleh Allah subhanallahu wata’ala.
Pada ayat ini juga ada dua pendapat, pertama yaitu “Sesungguhnya kesudahan dan tempat menetap orang-orang yang baik adalah di surga” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/348). Pendapat kedua : yaitu bahwasanya nama-nama para orang-orang baik sudah tercatat di tempat yang tinggi di langit yang ketujuh. Dan ini berkaitan dengan taqdir.

19. وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ

“Dan tahukah engkau apakah ‘illiyyin itu?”

20. كِتَابٌ مَّرْقُومٌ

“(yaitu) kitab yang berisi catatan (amal)”

21. يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

“yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah)”

Para ahli tafsir mengatakan bahwa ini adalah bentuk kemulian yang akan didapatkan oleh para penghuni surga. Adapun catatan nama-nama mereka akan dibuka oleh Allah subhanallahu wata’ala dan dihadiri oleh malaikat yang ada di langit sembari menyaksikan penyebutan nama-nama mereka dalam kitab tersebut. Dan ini merupakan bentuk kemuliaan bagi seseorang. Sebagaimana seseorang yang mendapatkan penghargaan, kadar kemuliaan bisa dilihat dari banyaknya manusia yang menghadiri penyerahan penghargaan tersebut. Demikianlah kemuliaan yang didapatkan oleh para al-abrar yang kitab amalnya disaksikan oleh para malaikat yang ada di langit. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/348)

Kemudian Allah berfirman:

22. إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan”

الْأَبْرَارَ adalah jamak dari البَرُّ atau الْبَارُّ dan maknanya adalah ‘’kelapangan/keluasan’’ sebagaimana yang telah dijelaskan pada tafsir surat Al-Infithar. Artinya orang yang disebut الْبَارُّ berbuat kebaikan yang sangat banyak. Jika bersilaturrahmi, dia tidak hanya bersilaturrahmi kepada ayahnya dan ibunya, tetapi dia juga bersilaturrahmi kepada pamannya, bibinya, kakaknya, adik-adiknya, yaitu apabila dia menjalanlan suatu amalan maka dikerjakannya dengan sangat baik. Jika dia shalat, dia tidak hanya shalat 5 waktu saja tetapi dia shalat 5 waktu di masjid ditambah shalat-shalat Sunnah lainnya. Jika dia mengeluarkan zakat maka dia tidak mencukupkan dengan yang wajib saja tetapi dia juga bersedekah kepada para fakir miskin, kepada para penuntut ilmu, dan semua itu dia berikan dalam keadaan lapang dada dan ikhlas. Dia tidak hanya mengerjakan yang wajib-wajib saja akan tetapi disempurnakan dengan amalan dan kebaikan-kebaikan lain yang banyak. Inilah yang dinamakan denganالْأَبْرَارَ .

Mereka benar-benar dalam kenikmatan yaitu kenikmatan surga. Allah menyiapkan kenikmatan-kenikmatan yang luar biasa untuk para penghuni surga. Sebagaimana dalam sebuah hadist qudsi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ )

“Allah berfirman: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholeh surga yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.” Bacalah firman Allah Ta’ala, “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 17) (HR. Bukhari no. 3244 dan Muslim no. 2824)

Sehingga apa saja kenikmatan yang pernah kita khayalkan atau pernah terbersit di dalam hati, belum ada apa-apanya dengan apa yang nyata di dalam surga. Bidadari yang disediakan bagi para penghuni surga akan lebih cantik dari secant-cantik perempuan yang pernah dilihat oleh mata manusia, bahkan ketika ia membayangkan bentuk sempurna dari seorang wanita, niscaya bidadari melebihi khayalan dan angan-angannya.

Allah berfirman

23. عَلَى الْأَرَائِكِ يَنظُرُونَ

“mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan”

الْأَرَائِكُ adalah jamak dari الأَرِيْكَةُ dan dia bukan hanya sekedar dipan, tetapi dipan khusus yang dihiasi -seperti tempat tidur yang disiapkan untuk pengantin baru-. Tempat tidur yang terdapat padanya tirai-tirai yang menutup, kemudian diberikan perhiasan-perhiasan, diberikan wewangian yang semerbak3. Demikianlah penghuni surga, mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dalam keadaan santai dan mata memandang.

Para ahli tafsir menyebutkan tentang apa yang dipandang oleh mereka diatas dipan-dipannya. Sebagian mengatakan bahwa mereka memandang nikmat-nikmat yang mereka rasakan. Mereka takjub dengan nikmat-nikmat yang disediakan untuk mereka. Bahkan diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُعَانِقُ الْحَوْرَاءَ سَبْعِيْنَ سَنَةً ، لاَ يَمَلُّهَا وَلاَ تَمَلُّهُ ، كُلَّمَا أَتَاهَا وَجَدَهَا بِكْرًا ، وَكُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهَا عَادَتْ إِلَيْهِ شَهْوَتُهُ ؛ فَيُجَامِعُهَا بِقُوَّةِ سَبْعِيْنَ رَجُلاَ ، لاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُمَا مَنِيٌّ ؛ يَأْتِي مِنْ غَيِرْ مَنِيٍّ مِنْهُ وَلاَ مِنْهَا

“Sesungguhnya seorang penghuni surga sungguh akan memeluk bidadari selama 70 tahun, ia tidak bosan dengan bidadari tersebut dan sang bidadari juga tidak bosan dengannya, setiap kali ia menjimaknya ia mendapati sang bidadari kembai perawan, dan setiap kali ia kembali kepada sang bidadari maka syahwatnya akan kembali. Maka iapun menjimak bidadari tersebut dengan kekuatan 70 lelaki, tidak ada mani yang keluar dari keduanya, ia menjimak bidadari tanpa keluar mani, dan sang bidadari juga tidak keluar mani.” (Tafsiir Al-Qurthubi 15/45)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa mereka memandang diantara mereka satu sama lain. Ketika di dunia mereka adalah sahabat dekat, dan tatkala di surga mereka dipertemukan kembali. Dan ini adalah kenikmatan tersendiri. Sebagaimana apabila kita lama tidak berjumpa dengan kawan di dunia tetapi dalam suatu waktu dipertemukan, pasti kita akan merasakan kebahagiaan.

Ada pula yang mengatakan bahwa mereka memandang kepada penghuni neraka Jahannam. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Shaff dan Al-A’raf tentang dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka Jahannam. Para penghuni surga melihat bagaimana penghuni neraka jahannam disiksa, sehingga mereka bersyukur bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa dan menyelamatkan mereka dari siksaan pedih yang dialami oleh para penghuni neraka jahannam.

Dan sebagian ulama berpendapat bahwa semua itu bisa benar. Karena diantara kaidah ilmu tafsir, apabila maf’ul bihnya (objek) dihapus maka akan memberi faidah keumuman. Sehingga mereka memandang suatu kelezatan yang membahagiakan mereka, apakah itu memandang wajah Allah subhanallahu wata’ala, atau memandang saudara-saudara mereka di dunia yang kemudian dipertemukan di surga, atau memandang nikmat-nikmat yang mereka rasakan, atau memandang adzab neraka jahannam yang membuat mereka bersyukur kepada Allah karena telah diselamatkan dari adzab tersebut. Maka ayat ini bisa mencakup semua pendapat-pendapat sebelumnya.

Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah maka beliau berpendapat bahwa ayat ini khusus mengenai pandangan penghuni surga melihat wajah Allah. Karena pada ayat sebelumnya Allah menyebutkan orang-orang kafir yang terhalangi dari melihat wajah Allah maka sebaliknya para penghuni surga mendapatkan kemuliaan dengan memandang wajah Allah (lihat Ighootsatul Lahfaan hal 32)

Kemudian Allah berfirman:

24. تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan”

Sesungguhnya orang yang sedang bergembira akan nampak dari wajahnya. Dan wajah dari penghuni surga akan nampak berseri-seri karena kegembiraan yang mereka rasakan. Kemudian Allah berfirman:

25. يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ

“Mereka diberi minum dari khamr yang murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih ditutup (disegel)”

رَّحِيقٌ adalah salah satu jenis khamr, sebagaimana perkataan para salaf. Kita di dunia diharamkan meminum khamr, tetapi di akhirat nanti kita akan diberikan khamr oleh Allah subhanallahu wata’ala. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam pernah bersabda:

مَنْ شَرِبَ الخَمْرَ فِي الدُّنْيَا، ثُمَّ لَمْ يَتُبْ مِنْهَا، حُرِمَهَا فِي الآخِرَةِ

“Barangsiapa minum khamr semasa di dunia dan belum sempat bertaubat maka diharamkan untuknya minum di akhirat kelak,” (HR Bukhari no. 5575 dan Muslim no. 2003)

Terdapat sebuah kaidah, “Barang siapa yang ingin bersegera mendapatkan hal-hal yang tidak dibolehkan di dunia maka dia akan diharamkan untuk mendapatkannya di akherat kelak.” Contoh lain penerapan kaidah ini adalah larangan lelaki memakai pakaian sutra karena sutra adalah pakaian di akhirat. Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى الآخِرَةِ

“Janganlah kalian memakai sutera karena siapa yang mengenakannya di dunia, maka ia tidak mengenakannya di akhirat.” (HR Bukhari no. 5633 dan Muslim no. 2069).

Juga terdapat riwayat dari Hudzaifah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلاَ الدِّيبَاجَ وَلاَ تَشْرَبُوا فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَلاَ تَأْكُلُوا فِى صِحَافِهَا ، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِى الدُّنْيَا وَلَنَا فِى الآخِرَةِ

“Janganlah kalian mengenakan pakaian sutera dan juga dibaaj (sejenis sutera). Janganlah kalian minum di bejana dari emas dan perak. Jangan pula makan di mangkoknya. Karena wadah semacam itu adalah untuk orang kafir di dunia, sedangkan bagi kita nanti di akhirat.” (HR. Bukhari no. 5426 dan Muslim no. 2067).

Dan khamr di dunia itu tidak sama dengan khamr di akhirat. Khamr di akhirat tidak menimbulkan mabuk dan pusing, tidak pula menimbulkan sakit perut, baunya harum. Tidak seperti khamr di dunia yang baunya tidak enak dan menimbulkan kemabukan dan pusing. Oleh karena itu, Allah menyiapkan khamr dengan berbagai macam jenisnya untuk para penghuni surga. Allah berfirman :

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ

“Perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya.” (QS Muhammad : 15)

Kemudian Allah berfirman:

26. خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Penutupnya dari kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”

Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama. Sebagian berpendapat sesuai dengan makna dzahir ayat yaitu penutupnya dari kasturi, di akhir dia meminumnya akan keluar aroma yang sangat wangi. Sebagian menyebutkan bahwa yang dimaksudkan adalah bermakna مِزَاجُهُ مِسْكٌ yaitu khamr tersebut dicampurkan dengan minyak wangi misk. Diantara pendapat yang lain mengatakan bahwa maknanya adalah رَيْحَتُهُ رَيْحَةُ الْمِسْكِ yaitu aromanya adalah aroma minyak kasturi.

Ini menunjukkan perbedaan antara khamr dunia dan khamr akhirat. Khamr dunia apabila diminum akan membuat kepala menjadi pusing, membuat sakit perut, dan membuat lupa ingatan dan tidak sadarkan diri, berbicara dan berbuat sesuatu di luar kesadarannya. Orang yang terpengaruh khamr maka bicaranya tidak akan terkontrol, demikian juga perbuatannya seakan-akan orang gila yang berbuat sesukanya. Padahal Allah telah memberikan karunia akal kepadanya tetapi dia menghilangkannya dengan berani melanggar larangan Allah yaitu meminum khamr. Berbeda halnya jika khamrnya adalah khamr akhirat, tidak membuat sakit kepala dan pusing, tidak membuat sakit perut, khar tersebut sangat lezat, ditambah khamr tersebut sangat lezat, dan juga mengeluarkan bau yang sangat harum, yaitu aroma minyak kasturi. Sehingga, jangan sampai terbayangkan bahwa khamr dunia sama seperti khamr akhirat.

Oleh karena itu Allah mengatakan bahwa penutupnya adalah minyak kasturi. Setelah diminum oleh para penghuni surga, mereka akan mengeluarkan bau yang sangat harum. Para penghuni surga juga setiap meminum khamr, maka mereka akan meminta tambahan terus-menerus. Setiap gelas yang mereka ambil dari khamr tersebut akan memberikan rasa yang berbeda-beda. Allah memberikan kenikmatan yang beraneka ragam. Allah berfirman:

وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا

“Mereka diberi kenikmatan yang serupa.” (QS Al-Baqarah : 25)

Khamr ada bukan dengan satu rasa saja tetapi dengan berbagi macam rasa. Dan kesemuanya adalah kelezatan dan kenikmatan. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin meminum khamr di akhirat kelak dengan segala kenikmatannya maka hendaknya dia menahan hawa nafsunya agar tidak meminum khamr di dunia ini.

Kemudian firman Allah dalam ayat yang sama memotivasi kita agar hendaknya orang-orang berlomba-lomba. Allah mengajarkan kita agar memiliki himmah ‘aliyah yakni semangat yang tinggi dalam beramal shalih. Jika dia melihat ada orang lain yang beramal shalih maka dia tidak ingin kalah seakan-akan mengejar ketertinggalan, itulah hakikatnya perlombaan. Hendaknya tidak merasa cukup dalam masalah agama, tetapi dia selalu haus untuk meraup sebanyak-banyaknya amal shalih. Berbeda dalam masalah dunia, kita dianjurkan untuk memiliki sifat qana’ah yaitu merasa cukup. Karena bersikap qana’ah dalam masalah dunia adalah sifat yang mulia. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,

إِذَا مَا كُنْـتَ ذَا قَلْبٍ قَنُـوعٍ فَأَنْـتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَـوَاءُ

“Jika engkau memiliki hati yang selalu qana‘ah maka sesungguhnya engkau sama seperti raja dunia.” (Diwan Imam Syafi’i hal. 15)

Seseorang yang memiliki hati yang qana’ah dan menerima nikmat yang Allah berikan maka seakan-akan keadaannya seperti raja dunia yaitu sama-sama bahagia. Dalam masalah dunia hendaknya kita menerima apa yang Allah berikan. Tetapi dalam masalah akhirat kata Allah hendaknya berlomba-lomba. Jangan membandingkannya dengan orang yang tidak pernah shalat sama sekali kemudian mencukupkan bagi dirinya shalat dua kali sehari. Tetapi hendaknya dia menjadi orang yang berlomba. Jika ada orang yang di depannya dalam masalah agama, maka dia pun berusaha mengejar orang tersebut. Inilah sikap yang benar yang seharusnya dimiliki, karena orang-orang yang beriman terhadap akhirat meyakini bahwa para penghuni surga juga bertingkat-tingkat. Allah berfirman

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-An’am : 132)

Benar bahwasanya semua orang yang masuk ke dalam surga tidak akan ada yang merasakan kesedihan. Tetapi surga itu bertingkat-tingkat, masing-masing diberikan derajat sesuai dengan amalan perbuatan mereka. Semakin kita banyak beramal shalih di dunia ini maka surga yang akan kita raih semakin tinggi.

Kemudian Allah berfirman:

27. وَمِزَاجُهُ مِن تَسْنِيمٍ

“Dan campurannya dari tasnim”

Tasnim adalah mata air yang merupakan puncak terlezat dari minuman yang ada di surga kelak. Sebagaimana penjelasan sebagian ulama, tasnim diambil dari kata sanam yang dalam bahasa Arab artinya tinggi. Seperti jika disebutkan sanam onta, maka maksudnya adalah punuknya, itulah ketinggian. Oleh karena itu, tasnim adalah minuman terlezat di akhirat. Dan kelak akan dicampur dengan khamr.

28. عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ

“(yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah)”

Para penghuni surga kelak akan meminum khamr yang dicampur dengan tasnim. Namun yang meminum tasnim yang murni hanyalah al-muqarrabun yaitu yang didekatkan oleh Allah. Ini dalil bahwasanya penghuni surga bertingkat-tingkat. Diantaranya al-abrar yang akan mendapatkan limpahan kenikmatan, namun di atas itu ada yang lebih tinggi lagi yaitu al-muqarrabun. Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11)

“(10) Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga); (11) Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah).” (QS. Al-Waqi’ah : 10-11)

Al-Muqarrabun adalah orang-orang yang mendapatkan posisi sangat tinggi di surga kelak, merekalah yang berhak meminum tasnim dengan murni, tidak dicampur sama sekali dengan yang lainnya. Adapun penghuni surga yang lain yaitu al-abrar mereka tidak minum tasnim secara murni melainkan telah dicampur dengan khamr.

Dalam ayat ini Allah tidak menggunakan huruf مِنْ (dari) sehingga maknanya akan menjadi “mata air yang para al-muqarrabun minum darinya” tetapi menggunakan huruf الْبَاءُ (dengan) sehingga maknanya menjadi “mata air yang para al-muqarrabun minum dengannya”. Secara makna, kalimat yang lebih cocok adalah yang pertama, yaitu minum dari mata air bukan minum dengan mata air. Namun para ulama mengatakan bahwa ini merupakan salah satu uslub dalam bahasa arab yaitu uslub tadmiin التَّضْمِيْنُ. Karenanya, mereka menafsirkan ayat ini dengan عَيْنًا يَلْتَذُّ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ artinya “mata air yang para al-muqarrabun berlezat-lezat dengan mata air tersebut”. Sehingga mereka tidak hanya sekedar minum tetapi berlezat-lezat. Demikianlah para penghuni surga, mereka makan dan minum bukan dengan tujuan untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga tetapi dalam rangka berlezat-lezat.

Kemudian pada pembahasan selanjutnya, Allah berbicara tentang kebiasaan orang-orang musyrikin dan orang-orang kafir yang suka mengolok-olok orang-orang shalih, yang mana ini akan terus berlajut hingga kiamat kelak bahwasanya orang-orang yang shalih dan bertaqwa akan sering mejadi olok-olokan orang-orang kafir atau orang-orang munafik. Allah berfirman:

29. إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu mentertawakan orang-orang yang beriman”

30. وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ

“Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya”

Orang-orang kafir atau orang-orang munafik dahulu jika mereka melihat orang shalih lewat maka mereka akan saling melirikkan pandangan dan mengedipkan mata dalam rangka untuk mengejek orang-orang beriman.

Namun yang menjadi masalah adalah jika yang mengolok-olok adalah sesama kaum muslimin. Apabila ada sejumlah kaum muslimin yang berusaha mengamalkan Sunnah Nabi, maka sebagian lainnya justru mengejek dan mengolok-oloknya. Orang yang berjenggot dikatakan seperti jenggot kambing, orang yang berusaha menaikkan celananya agar tidak isbal dikatakan kebanjiran, padahal demikianlah pakaian Nabi. Jika shalat ke masjid dikatakan pura-pura shalih, jika dahinya menghitam karena bekas sujudnya dikatakan sujud dengan menggosok-gosokkan kepalanya. Sungguh sangat disayangkan, perkataan-perkataan semacam ini sering keluar dari mulut kaum muslimin sendiri

Kemudian Allah berfirman:

31. وَإِذَا انقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَكِهِينَ

“Dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria”

Padahal mereka sudah mengejek kaum muslimin di hadapan mereka langsung, namun setelah kembali ke rumahnya masing-masing dan bertemu keluarganya, mereka tidak bosan dan tetap saja mengejek kaum muslimin dengan cara menggunjingnya di belakangnya.

Kemudian Allah berfirman:

32. وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

“Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat’”

Padahal merekalah yang sesat. Mereka berada di atas kesyirikan, mereka menyembah selain Pencipta alam semesta, mereka menyembah Nabi, wali, malaikat, sapi, dewa-dewa, atau menyembah patung. Sesungguhnya tidak ada yang menyembah pencipta alam semesta ini secara murni dan Esa kecuali orang-orang Islam semata.

33. وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ

“Padahal (orang-orang yang berdosa itu) mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin)”

Mereka tidak pernah diutus untuk mengurusi amalan-amalan orang shalih, tetapi mereka tidak pernah luput dari mengomentari keadaan orang-orang shalih. Begitupun sesama kaum muslimin seharusnya masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, dan tidak banyak mengomentari amalan-amalan saudaranya.

Kemudian Allah berfirman :

34. فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir”

Itulah yang akan terjadi di akhirat kelak, giliran orang-orang beriman yang akan menertawakan orang-orang kafir.

Abu Sholih :

وَذَلِكَ أَنَّهُ يُفْتَحُ لِلْكُفَّارِ فِي النَّارِ أَبْوَابُهَا، وَيُقَالُ لَهُمُ: اخْرُجُوا، فَإِذَا رَأَوْهَا مَفْتُوحَةً أَقْبَلُوا إِلَيْهَا لِيَخْرُجُوا، وَالْمُؤْمِنُونَ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِمْ فَإِذَا انْتَهَوْا إِلَى أَبْوَابِهَا غُلِّقَتْ دُونَهُمْ، يُفْعَلُ ذَلِكَ بِهِمْ مِرَارًا وَالْمُؤْمِنُونَ يَضْحَكُونَ

“Yaitu pintu-pintu neraka dibukakan untuk orang-orang kafir, lalu dikatakan kepada mereka, “Keluarlah dari neraka !”. Jika mereka melihat pintu-pintu terbuka maka mereka segera menuju ke pintu-pintu tersebut untuk keluar, sementara kaum mukminin melihat mereka. Jika mereka sampai di pintu-pintu tersebut maka ditutuplah pintu-pintu tersebut, dan hal ini dilakukan kepada mereka berulang-ulang, sementara kaum mukminin mentertawakan mereka” (Tafsiir Al-Baghowi 8/369)

Allah berfirman:

35. عَلَى الْأَرَائِكِ يَنظُرُونَ

“Mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan”

Orang-orang beriman berada di atas dipan-dipan yang dihias, merasakan kenikmatan bersama para bidadari kemudian menertawakan orang-orang kafir yang sedang diazab di neraka jahannam.

36. هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Apakah orang-orang kafir itu diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang telah mereka perbuat?”

Maka jawabannya adalah jelas bahwasanya orang-orang kafir akan diberi ganjaran terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Ini disebut dengan الاِسْتِفْهَامُ التَّقْرِيْرِي pertanyaan untuk penetapan.

Footnote:

  1. Namun hadits ini lemah karena dari periwayatan Ibnu Lahi’ah dari Darooj Abu As-Samh dari Abul Haitsam dari Abu Sa’id al-Khudri. Dan Ibnu Lahi’ah dan Darroj keduanya adalah perawi yang dho’if. Hadits ini didho’ifkan oleh Al-Albani (dalam Al-Misykaah no 5564 dan para pentahqiq Musnad Al-Imam Ahmad)
  2. Lihat penjelasan Al-Qurthubi dalam tafsirnya 11/147 ketika mentafsirkan ayat 79 dari surat Maryam
  3. Lihat Tahdziib Al-Lughoh 10/193 dan Taajul ‘Aruus 27/39

COMMENTS

WORDPRESS: 0