Sejarah Yahudi (Bani Israil) – Bagian 1

Sejarah Yahudi (Bani Israil) – Bagian 1

Sejarah Yahudi (Bani Israil)

Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc, MA

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang sejarah kaum Yahudi. Suatu kaum yang luar biasa pembangkangannya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala, dan terhadap nabi-nabi mereka. Saat ini mereka sedang gencarnya membantai saudara-saduara kita yang ada di Palestina. Akan tetapi ketahuilah bahwa apa yang mereka lakukan dengan pembunuhan dan pembantaian terhadap saudara-saudara kita baik kepada orang tua, anak, dan wanita tanpa pandang bulu adalah hal yang lumrah bagi mereka. Karena orang-orang Yahudi adalah kaum yang sangat bejat dan memiliki sifat yang sangat buruk. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Alquran secara berulang-ulang. Ini menandakan jika mereka sangat bengis.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ (155)

“Dan mereka membunuh nabi-nabi.” (QS. An-Nisa : 155)

تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ (91(

“Kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah.” (QS. Al-Baqarah : 91)

Kalau kita perhatikan sifat mereka yang suka membunuh para nabi, maka sangat mudah bagi mereka untuk membunuh kaum muslimin. Asalnya mereka tahu bahwa nabi tersebut adalah utusan Allah, akan tetapi mereka tetap nekat membunuh nabi tersebut karena tidak sesuai dengan kehendak mereka. Oleh karenanya disebutkan bagaimana mereka berkata dengan bangga bahwa telah membunuh nabi Isa ‘alaihissalam karena tidak sesuai dengan kehendak mereka, di mana kala itu kaum Yahudi ditindas oleh bangsa Romawi dan yang mereka harapkan adalah nabi yang membantu mereka dalam memerengi bangsa Romawi. Akan tetapi nabi yang diutus kepada mereka adalah nabi Isa ‘alaihissalam yang memperbaiki tauhid dan akhlak mereka, dan bukan untuk memberontak kepada bangsa Romawi. Tatkala kaum Yahudi mendapati nabi mereka tidak sesuai dengan kehendak mereka, maka mereka berusaha membunuhnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158)

“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa : 157-158)

Maka sifat kaum Yahudi ini sudah cukup menggambarkan jeleknya sifat mereka. Kalau para nabi pun mereka berani membunuhnya, apalagi hanya kaum muslimin.

Orang-orang Yahudi memiliki banyak nama dalam Alquran. Allah terkadang menyebut mereka dengan sebutan Bani Israil, terkadang dengan sebutan Kaumnya nabi Musa ‘alaihissalam, terkadang dengan Ahli Kitab karena mereka beriman degan Taurat, dan sering pula mereka disebut sebagai Yahudi. Penyebutkan dengan nama-nama “Yahudi” biasanya Allah sebutkan tatkala Allah mencela dan meyebutkan keburukan-keburukan mereka. Contohnya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ (30(

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah“. (QS. At-Taubah : 30)

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ (18)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?“. (QS. Al-Maidah : 18)

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا (64(

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” (QS. Al-Maidah : 64)

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (6)

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwahkan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar“. (QS. Al-Jum’ah : 6)

Allah menyebut orang-orang Yahudi dalam ayat-ayat ini dengan sebutan celaan atas perbuatan dan perkataan mereka. Dari beberapa ayat ini, nama mereka yang paling cocok adalah Yahudi. Kita tidak menyebut mereka dengan sebutan sebagaimana orang-orang saat ini menyebut mereka, karena nama tersebut merupakan sebutan yang mulia yang disandarkan kepada nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang artinya kekasih Allah. Ditakutkan bahwa nantinya akan terjadi kesalah pahaman tatkala menggunakan nama Israil. Maka dari itu kita menggunakan nama yang disepakati yaitu orang-orang Yahudi.

Sejarah Yahudi dimulai dari kehidupan nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang awalnya tinggal di Palestina bersama istri dan anak-anaknya. Yang dikatakan dengan Israil adalah nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Beliau adalah anak dari Ishaq bin Ibrahim. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pertama kali menikah dengan Sarah. Dalam pernikahannya tersebut, beliau tidak dikaruniai anak selama beberapa tahun.

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Sarah adalah wanita yang cantik. Suatu hari dia bersama nabi Ibrahim ‘alaihissalam melewati negeri Mesir. Pada saat itu, raja Mesir merupakan orang dengan mata jelalatan yang senang melihat wanita cantik. Dia memerintahkan anak buahnya yang khusus untuk mencari wanita-wanita yang cantik tersebut. Setiap kali mereka mendapatkan wanita cantik maka akan ditangkap dan dihadapkan kepada raja. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengetahui kondisi negeri Mesir waktu itu, dan menyadari bahwa istrinya adalah wanita yang cantik. Maka nabi Ibrahim berkata kepada istrinya Sarah, “Kalau mereka bertanya, aku akan mengatakan engkau adalah saudariku”. Maksud nabi Ibrahim adalah saudara seiman, karena waktu itu tidak ada yang beriman kecuaali mereka. Artinya semua manusia musyrik kala itu kecuali mereka. Kemudian utusan raja tersebut datang dan bertanya “wanita isi siapa?”, nabi Ibrahim menjawab “dia saudariku”. Kalau sekiranya nabi Ibrahim mengatakan bahwa Sarah adalah istrinya, maka dia akan dibunuh dan diambil istrinya. Akan tetapi beliau menjawab bahwa Sarah adalah saudarinya agar dia bisa selamat. Maka tatkala Sarah dibawa menghadap sang raja di kamarnya, nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun berdoa kepad Allah. Sehingga tatkala sang raja berusaha mendekati Sarah dan hendak menggaulinya, tiba-tiba tangan sang raja terbelenggu dan tidak bisa bergerak. Maka sang raja berkata kepada Sarah, “Wahai Sarah, berdoalah kepada Tuhanmu untuk melepaskan belenggu pada kedua tanganku, dan aku tidak akan menyakitimu.”. Maka Sarah pun berdoa kepada Allah, dan seketika belenggu tangan sang raja terlepas. Ketika belenggu sudah terlepas, sang raja pun menyelisih janji karena saking cantiknya melihat Sarah, dan kembali ingin mendekatinya. Maka kemudian tangan sang raja kembali terbelenggu lebih keras dari sebelumnya. Maka sang raja berkata kepada Sarah, “Wahai Sarah, berdoalah kepada Tuhanmu untuk melepaskan belenggu pada kedua tanganku, dan aku tidak akan menyakitimu lagi”. Maka Sarah pun berdoa kepada Allah, dan seketika belenggu tangan sang raja terlepas. Tatkala telah lepas belenggunya, sang raja tidak sabar lagi untuk mendekati Sarah, dan akhirnya tangannya pun kembali terbelenggu dengan lebih keras dari sebelumnya. Maka sang raja berkata kepada Sarah, “Wahai Sarah, berdoalah kepada Tuhanmu untuk melepaskan belenggu pada kedua tanganku, dan ini terakhir kali aku berjani tidak akan menyakitimu lagi”. Maka Sarah pun berdoa kepada Allah, dan seketika belenggu tangan sang raja terlepas. Kemudia sang raja memanggil anak buahnya dan berkata kepada mereka, “Kalian tidak mendatangkan kepadaku seorang wanita, melainkan kalian mendatangkan kepadaku syaithan perempuan”. Kemudian Sarah dilepas dan diberikan hadiah berupa pembantu yaitu Hajar. Kemudian bertahun-tahun mereka hidup bersama namun belum dikaruniai seorang anak. Maka Sarah mengizinkan nabi Ibrahim menikahi pembantunya yaitu Hajar.

Akhirnya setelah nabi Ibrahim menikah dengan Hajar, barulah mereka dikaruniai seorang anak bernama Ismail. Tatkala Hajar melahirkan, Sarah akhirnya cemburu. Maka dibawalah Hajar dan Ismail oleh nabi Ibrahim ke Mekkah. Tidak lama kemudian, Sarah pun memiliki anak bernama Ishak. Dari Ishak kemudian lahir nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang disebut sebagai Israil. Kemudian nabi Ya’qub memiliki empat orang istri yang masing-masing melahirkan anak dengan jumlah keseluruhan dua belas orang anak. Keterangan ini termaktub pada Perjanjian lama dalam kitab Injil, kitab Kejadian 29-31. Istri Ya’qub yang pertama adalah Lea dan memiliki enam orang anak bernama Ruben, Simon Lawi, Yahudza, Isakhar, dan Zebulon. Istri yang kedua bernama Rahel dan memiliki dua orang anak yaitu Yusuf dan Benyamin. Istri yang ketiga adalah Zilpa yang merupakan ibu dari Gad dan Asyer. Istri yang keempat adalah Bilha yang merupakan ibu dari Dan dan Naftali.

Keterangan di atas menjadi dalil dalam membantah tuduhan orang kafir bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang yang mengikuti hawa nafsu dengan memiliki istri banyak, dan tuduhan terhadap Islam sebagai syariat yang hanya ingin memuaskan syahwat dengan cara berpoligami. Maka bantahannya ada bahwa sesungguhnya syariat poligami telah ada pada zaman sebelum nabi Muhammad ﷺ. Seperti nabi Ya’qub ‘alaihissalam memiliki istri empat yang disebutkan dalam kitab mereka (orang kafir) yaitu Injil. Sebagaimana nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang istrinya juga bukan Cuma dua melainkan ada tambahan sebagaimana yang termaktub dalam Injil Perjanian Lama, kitab Kejadian 25 ayat 1-2. Maka syariat poligami bukanlah sesuatu yang baru melainkan telah ada sejak dahulu.

Kemudian dalam kisah nabi Ya’qub ‘alaihissalam, terjadi kecemburuan antara anak-anak mereka karena nabi Ya’qub ‘alaihissalam lebih mencintai anaknya Yusuf dan Benyamin. Akhirnya anak-anak nabi Ya’qub selain Yusuf dan Benyamin membuat makar sampai akhirnya Yusuf dimasukkan ke dalam sumur, kemudian dijadikan budak, dijual dan dibeli oleh raja mesir. Sampai akhirnya nabi Yusuf ‘alaihissalam diangkat menjadi seorang menteri dan bendaharawan di kerajaan Mesir, dari sinilah awal mulanya sejarah Bani Israil. Tatkala nabi Yusuf ‘alaihissalam telah menjadi orang yang terpandang, dimintalah orang tua dan seluruh saudaranya untuk pindah ke Mesir. Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam surah Yusuf,

وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي (100(

“Dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.” (QS. Yusuf : 100)

Dalam ayat ini diterangkan bahwa nabi Ya’qub beserta istri-istri dan anak-anaknya hidup di Palestina dengan kehidupan البدو. Yaitu kehidupan bercocok tanam dan mengurus hewan ternak. Kemudian mereka pindah ke Mesir yang perdabannya sudah lebih maju dari Palestina dengan kehidupan yang mewah. Inilalah awal mula sejarah Bani Israil.

Bani Israil artinya adalah anak-anak Israil, dan Israil sendiri adalah sebutan untuk nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Sehinggan Bani Israil adalah sebutan untuk kedua belas anak nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Dan seluruh orang-orang Yahudi adalah keturunan dari kedua belas anak nabi Ya’qub ‘alaihissalam, sehingga seluruh jumlah suku Yahudi ada dua belas. Dari sini kemudian menjadi awal mula keturunan Yahudi.

Kemudian mereka Bani Israil hidup dengan damai tatkala nabi Yusuf ‘‘alaihissalam masih hidup dan menjabat sebagai menteri di kerajaan Mesir. Mereka diberikan tempat untuk tinggal beranak pinak di pinggiran kota Mesir karena pihak kerajaan menghormati nabi Yusuf ‘alaihissalam. Kemudian tatkala nabi Yusuf ‘alaihissalam meninggal, orang-orang Mesir kemudian mulai menindas Bani Israil dengan memperbudak mereka. Kejadian ini berlangsung lama dan menjadi ujian yang berat buat mereka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (49)

“Mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (QS. Al-Baqarah : 49)

Penindasan terus terjadi hingga pada akhirnya Allah Subhanahu wa ta’ala mengutus nabi Musa ‘alaihissalam. Sebagaimana kita ketahui bahwa tatkala nabi Musa ‘alaihissalam lahir, diwahyukan kepada ibunya untuk meletakkan nabi Musa ‘alaihissalam dalam keranjang dan dilepaskan di sungai Nil. Karena pada waktu itu Fir’aun akan membunuh setiap anak laki-laki yang lahir dari keturunan Bani Israil. Setelah keranjang nabi Musa ‘alaihissalam dilepaskan, ternyata keranjang tersebut melewati istana Fir’aun. Keranjang tersebut akhirnya ditemukan oleh Istrinya Fir’aun yang kebetulan tidak memiliki anak. Tatkala istri Fir’aun mendapati keranjang tersebut, dia mendapati seorang anak dengan ciri-ciri Bani Israil. Maka jatuh cintalah istri Fir’aun terhadap nabi Musa ‘alaihissalam. Tatkala Fir’aun mengetahui bahwa anak tersebut adalah keturunan Bani Israil, maka seketika dia hendak membunuhnya, akan tetapi istrinya melarang dengan mengatakan,

لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا (9)

“Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak“. (QS. Al-Qashash : 9)

Maka kemudian Fir’aun mengalah terhadap istrinya dan nabi Musa ‘alaihissalam diperlihara di kerajaan sebagai anak angkat dengan kondisi terpandang. Disebutkan bahwa tatkala nabi Musa diberi perhatian oleh Fir’aun dengan mendatangkan wanita-wanita negeri untuk menyusui nabi Musa. Akan tetapi Allah menjadikan nabi Musa tidak menyukai semua susuan dari wanita-wanita tersebut. Sampai akhirnya tatkala ibu nabi Musa ‘alaihissalam datang, maka barulah nabi Musa tenang dan merasa cocok dalam susuannya. Akhirnya ibunya nabi Musa dijadikan pekerja oleh Fir’aun untuk menyusui nabi Musa ‘alaihissalam. Kemudian nabi Musa ‘alaihissalam tumbuh dengan dihormati.

Setelah itu terjadilah apa yang dikhawatirkan oleh Fir’aun. Nabi Musa ‘alaihissalam kemudian diangkat oleh Allah menjadi seorang rasul dan dia pun mendakwahi Fir’aun. Singkat cerita, Fir’aun menentang dakwah nabi Musa ‘alaihissalam, sehingga Allah menurunkan banyak mukjizat kepada nabi Musa. Saya tidak mendapati ada seorang nabi yang diberikan mukjizat paling banyak seperti nabi Musa ‘alaihissalam.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ (101(

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata.” (QS. Al-Isra’ : 101)

Banyak mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada nabi Musa ‘alaihissalam. Contoh-nya adalah tongkatnya yang berubah menjadi ular yang memakan tongkat-tongkat para penyihir yang lain. Dan hal ini dilihat oleh seluruh penduduk mesir dan juga Bani Israil. Mukjizat lain adalah tangannya yang bercahaya tatkala dikeluar dari bawah lengannya yang kala itu belum ada lampu. Kemudian juga ada angin Thufan yang menghancurkan ladang-ladang orang Mesir dari kaum Fir’aun sementara ladang kaum Bani Israil tidak hancur. Kemudian juga ada belalang yang memakan tanaman orang-orang Mesir sementara tanaman kaum Bani Israil tidak dimakan. Juga dikirimkan kepada mereka kutu dan katak, dan menjadikan bagi orang-orang mesir air sungai Nil menjadi merah darah, sementara Bani Israil tidak mengalaminya. Semua ini adalah mukjizat yang dilihat oleh Fir’aun beserta kaumnya dan Bani Israil. Akan tetapi Fir’aun tetap membangkang dengan kesombongannya.

Kemudian Allah memerintahkan nabi Musa ‘alaihissalam untuk membawa kaumnya keluar dari Mesir karena Fir’aun hendak membunuh mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَى (77)

“Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”. (QS. Taha: 77)

Dalam sejarah orang Yahudi menyebutkan bahwa orang yang ikut bersama nabi Musa ‘alaihissalam keluar dari mesir adalah sekitar 700.000 orang. Akan tetapi pendapat ini dibantah oleh ulama, bahwa mereka (orang Yahudi) awalnya menyebutkan tatkala Ya’qub beserta keluarganya pindah ke Mesir dengan jumlah sekitar tujuh puluh orang. Kemudian disebutkan oleh ahli sejarah Yahudi, keturun nabi Ya’qub tinggal di Mesir kurang lebih 450 tahun sampai akhirnya nabi Musa ‘alaihissalam diutus. Sehingga disimpulkan bahwa waktu tersebut setidaknya menghasilkan sekitar lima atau enam generasi. Sehingga para ulama mengatakan bahwa mustahil dengan jumlah 70 orang kemudian berkembang hingga 700.000 orang dalam lima atau enam generasi. Ini semua dikarenakan bahwa orang-orang Yahudi hanya ingin menggambarkan bahwa jumlah mereka itu banyak. Padahal kita dapati saat ini di negara Israil, keturunan asli Yahudi diragukan. Karena kita ketahui bahwa tatkala orang-orang Yahudi tertindas, mereka berpencar-pencar dan dengan terpaksa menikah dengan bangsa lain. Meskipun asalnya mereka tidak mau menikah selain dari bangsa mereka. Ini semua merupakan siasat untuk menunjukkan bahwa jumlah mereka itu banyak.

Kemudian Fir’un mengetahui rencana nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya. Maka dikejarlah nabi Musa dan kaumnya oleh Fir’aun dan pasukannya, sampai kemudian mereka berhasil mengejar nabi Musa dan kaumnya di laut merah dalam keadaan saling melihat satu sama lain. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61)

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. (QS. Asy-Syu’ara : 61)

Mulai dari sini kita akan sebutkan betapa keras kepala dan ngeyelnya Bani Israil. Mereka banyak membantah dan membangkan dari perintah Allah dan nabi-nabi yang diutus kepada mereka. Pada ayat ini diterangkan bahwa, kaum Bani Israil merasa ragu dengan nabi Musa. Karena di depan mereka ada laut merah dan di belakang mereka ada Fir’aun dan pasukannya sehingga mereka tidak bisa lari. Para ulama mengatakan bahwa tatkala itu kaumnya mengejek nabi Musa ‘alaihissalam. Maka kemudian nabi Musa berkata,

قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62)

“Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku“. (QS. Asy-Syu’ara : 62)

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (63)

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy-Syu’ara : 63)

Bani Israil pun melihat mukjizat yang luar biasa tersebut, dimana air laut tetap mengalir ke arah atas dan membentuk gunung dengan bukaan di bawahnya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa air laut terbelah dan membentuk dua belas bukaan. Tidak sebagaimana yang ditayangkan di film-film yang hanya satu bukaan saja. Dua belas bukaan tersebut berbentuk seperti lorong yang dibatasi oleh air yang memiliki lubang-lubang, sehingga mereka bisa saling melihat satu suku dengan yang lainnya. Kemudian Allah menjadikan tanah yang dilalui kering, sehingga mereka Bani Israil berhasil menyebrangi laut merah. Tatkala nabi Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya telah sampai di seberang lautan, dia hendak memukulkan tongkatnya kelautan agar lautan tertutup, akan tetapi Allah menegurnya dengan mengatakan,

وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ (24)

“Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan“. (QS. Ad-Dukhan : 24)

Sehingga tatkala lautan masih terbuka, Fir’aun dan pasukannya merasa bingung untuk menyusul atau tidak. Kemudian Fir’aun pun mengatakan untuk tetap mengejar nabi Musa dan pengikutnya, maka pasukan Fir’aun memerintahkan Fir’aun untuk maju terlebih dahulu. Kata para ulama, karena kesombongan dan tidak ingin dipandang rendah oleh pasukannya, Fir’aun memberanikan diri untuk masuk terlebih dahulu ke dalam lautan yang masih terbelah. Tatkala Fir’aun berada di tengah lautan, ternyata lautan tidak tertutup, kemudian dia berkata kepada kaumnya bahwa lautan tunduk kepadanya. Maka semua pasukannya menyusul Fir’aun masuk ke lautan. Tatkala mereka semua telah masuk, maka dipukullah tongkat nabi Musa ‘alaihissalam ke lautan, maka lautan pun tertutup dan Fir’aun beserta pasukannya terbunuh.

Bersambung insya Allah pada bagian kedua

COMMENTS

WORDPRESS: 1
  • comment-avatar
    Hamba Allah 4 months ago

    Ditunggu kelanjutannya ustadz. Barakallahu fiikum.