Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr -hafizhahullah- (seri 2)

Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr -hafizhahullah- (seri 2)

(dikutip dari buku : "DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA"(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)Oleh: Abu Abdil Muh

Berbakti Kepada Orang Tua (bag. 5) “Kunci Masuk Surga Serta Merupakan Sebab Ditambahnya Umur dan Rizki”
Jangan Malu Menagih Hutang
Untaian Keajaiban Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (2) Nabi Tidak Pernah Menolak Orang yg Meminta Kepadanya

(dikutip dari buku : “DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA”

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda)

 

Menolak Penulisan Gelar dan Menolak Tersohor

Sangat sedikit orang yang memiliki gelar dan memang layak memiliki gelar tersebut. Dan lebih sedikit lagi jumlahnya, orang-orang yang enggan mencantumkan gelar-gelar yang layak mereka sandang. Syaikh Abdurrozaq adalah satu di antara yang sedikit tersebut. Saat salah seorang ikhwan dari Indonesia meminta izin untuk menerjemahkan buku beliau yang berjudul Fikhul Ad’iyaa wal Adzkar (Fikh Doa dan Dzikir) ke dalam bahasa Indonesia, beliau mengizinkan dengan syarat: tatkala buku tersebut dicetak, nama beliau hanya ditulis ‘Abdurrozaq bin Abdulmuhsin Al-Badr’,  tanpa embel-embel gelaran Profesor Doktor. Begitu pula buku-buku beliau yang dicetak di Arab Saudi maupun di Aljazair (Algeria), semua tanpa embel-embel gelar tersebut. Padahal sudah belasan tahun –bahkan hampir 20 tahun- beliau menyandang gelar professor, mengingat beliau memperoleh gelar tersebut dalam usia yang masih relatif muda. Hal ini dikarenakan karena beliau sangat produktif dalam menelurkan karya-karya ilmiah yang sangat berharga.

Saat Radiorodja ingin menulis undangan kepada beliau untuk datang ke Indonesia, beliau ingatkan untuk tidak perlu mencantumkan dalam undangan tersebut bahwasanya beliau akan menyampaikan kajian di Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar di Indonesia. Beliau katakan cukup dicantumkan bahwa beliau akan mengisi di Radiorodja. Bahkan, tatkala pihak Radiorodja menyampaikan kepada beliau bahwa ada salah satu stasiun televisi yang ingin meliput kajian beliau dan juga ada sebagian wartawan yang ingin mewawancarai beliau maka beliau menolak.

Menyembunyikan Tangis untuk Menjaga Keikhlasan

Sesungguhnya insan yang selalu dekat dengan Tuhannya, niscaya lembutlah hatinya. Hati yang lembut begitu mudah disentuh oleh perasaan khauf (takut kepada Allah) dan raja’ (berharap pada-Nya). Hati yang lembut pun bukan hanya mudah tersentuh, namun juga mudah ‘menyentuh’ hati orang lain.

Saat saya kuliah di semester 1 Fakultas Hadits, Syaikh Abdurrozaq menyampaikan muhadharah tentang iman kepada Hari Kiamat. Beliau dengan sangat menggebu-gebu menyampaikan dahsyatnya hari kiamat sehingga timbul rasa “khauf” yang amat sangat dalam hati kami, para mahasiswa. Namun, tiba-tiba beliau terdiam, bahkan terpaku membisu. Kami pun terkejut, ada apa gerangan…?

Beliau terus membisu hingga sekitar beberapa menit lamanya. Saat itulah saya melihat mata beliau berkaca-kaca. Hati saya pun semakin bertanya-tanya, “Mengapa Syaikh menahan tangisnya? Bukankah jika beliau menangis di hadapan kami maka akan semakin menambah haru suasana dan menambah hidup wejangan-wejangan beliau?”

Belakangan, setelah lama saya belajar, baru saya paham bahwa ternyata keikhlasan memang perkara yang sangat berat lagi sangat mahal harganya. Lebih berat lagi adalah menjaga keikhlasan setelah memperolehnya. Dan, memang merupakan kenyataan, bisa jadi seseorang ditimpa penyakit ujub tatkala dia mampu menangis di hadapan orang banyak. Bisa jadi… meskipun itu tidak lazim.

Pada kesempatan lain, beliau mengisi pengajian di Masjid Nabawi dan menyampaikan materi tentang berbakti kepada kedua orang tua. Saat itu beliau menjelaskan bahwa adanya orang tua di sebuah rumah merupakan hiasan rumah tersebut. Keberadaan orang tua menjadikan kehidupan di dalam sebuah rumah menjadi indah, dan ketiadaan mereka membuat kehidupan di rumah terasa gersang. Tiba-tiba nada suara beliau berubah seperti orang yang hendak menangis. Beliau pun terdiam beberapa menit. Kemudian, beliau memberi isyarat seakan-akan beliau hendak minum. Lantas, tatkala beliau memegang gelas untuk minum, tangan beliau gemetar. Hampir-hampir air yang ada di gelas itu tertumpah.

Subhanallah… beliau berusaha menutupi tangisan dengan minum air agar tidak ketahuan oleh para hadirin. Padahal, saat itu terdapat ratusan hadirin, bahkan merupakan jumlah hadirin terbanyak di majelis-majelis ilmu yang ada di Masjid Nabawi saat itu.

Hal serupa terjadi saat beliau mengisi acara di Radiorodja. Saat itu, beliau menyampaikan kepada Radiorodja akan kerinduan beliau untuk berkunjung ke studio Radiorodja secara langsung, dan beliau mengucapkan terima kasih kepada kru Radiorodja. Saking terharunya, tiba-tiba beliau terdiam. Saya yang sudah siap menerjemahkan perkataan beliau, tersentak kaget. Saya melihat mata beliau berkaca-kaca. Beliau ternyata sedang menahan tangis.

Peristiwa ini sekaligus menunjukkan betapa tawadhuk sikap Syaikh, sehingga beliau yang menyampaikan rasa terima kasih kepada kru Radiorodja secara langsung. Tatkala kru Radiorodja menyampaikan rasa gembira atas kesediaan beliau datang ke Jakarta, beliau langsung menimpali, “Saya yang harus berterima kasih  kepada Radiorodja yang telah memberi saya kesempatan untuk bisa menyampaikan dakwah.”

Subhanallah…! Sungguh sikap tawadhu yang tidak dibuat-buat. Semoga Allah meninggikan derajat beliau.

Sikap lain yang menunjukan ketawadu’an syaikh, tatkala kru radiorodja mengabarkan kepada syaikh bahwa ternyata yang menghadiri tabligh akbar syaikh Abdurrozzaq dengan materi yang berjudul “Sebab-sebab kebahagiaan” berjumlah lebih dari 100 ribu peserta, dan ini merupakan rekor terbaru, karena masjid istiqlal tidak pernah dihadiri oleh jema’ah pengajian seramai ini dalam sejarah Indonesia. Maka syaikh dengan tersenyum berkata, “Mereka para hadirin yang datang bukan karena aku akan tetapi karena si penerjemah Firanda”. Spontan kamipun  tertawa tatkala mendengar hal ini.

Ada juga kejadian lain yang tidak kalah menarik yang menunjukan sikap tawadhu syaikh, yaitu suatu ketika tatkala syaikh mengisi pengajian di radiorodja ada seseorang yang bertanya kepada beliau, dan sebelum bertanya penanya tersebut berkata, “Wahai syaikh, aku setiap mendengar pengajian yang Anda sampaikan hatiku menjadi lembut, dan aku lihat dari tutur kata Anda tatakala menyampaikan pengajian menunjukan bahwa Anda adalah orang yang berhati lembut”. Syaikh berkata mengomentari perkataan si penanya ini, “Adapun perkataan si penanya bahwa aku berhati lembut, maka itu hanyalah persangkaan penanya saja, dan aku berharap dan berdoa agar Allah menjadikan aku berakhlak mulia, dan juga para pendengar radiorodja sekalian“. Subhaanallah, sungguh sikap tawadhu dan tidak terpedaya dengan pujian yang sampai kepada beliau.

Sungguh aku sangat merasa bagaimana beratnya ujian yang dihadapi oleh syaikh, bayangkan saja jika kita menyampaikan pengajian dan ternyata yang hadir sangatlah buaanyaak, tidak usah hinggga seratus ribu orang. Taruhlah yang hadir hanyalah seribu orang… betapa akan timbul berbagai banyak perasaan dalam hati kita, tercampur antara riya dan ujub.

Adapun mengenai upaya Syaikh untuk menyembunyikan tangis di hadapan orang lain, Saya teringat kisah salah seorang salaf ketika menyampaikan sebuah nasihat tiba-tiba dia pun menangis karena terharu dengan nasihat tersebut, lantas untuk menutupinya, beliau berkata, “Sesungguhnya influensa itu berat.” Ulama salaf tersebut adalah Ayyub As-Syikhtiyani, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya Ar-Riqqah wal Buka:

قال حماد بن زيد: ذَكَرَ أَيُّوْبُ يَوْمًا شَيْئًا ، فَرَقَّ ، فَالْتَفَتَ كَأَنَّهُ يَتَمَخَّطُ . ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ: « إِنَّ الزُّكَّامَ شَدِيْدٌ عَلَى الشَّيْخِ »

Hammad bin Zaid berkata, “Suatu hari Ayyub menyebutkan sesuatu kemudian dia pun terenyuh, lantas dia memalingkan wajahnya seakan-akan hendak buang ingus. Kemudian dia kembali menghadap kami dan berkata, ‘Sesungguhnya flu berat bagi Syaikh.’”

Syaikh Ayyub As-Syikhtiyani menggambarkan kepada orang-orang di sekitarnya seakan-akan beliau sakit flu, padahal beliau tidak sakit flu, oleh karena itu beliau tidak berkata, “saya sedang flu,” namun beliau berkata, “Penyakit flu itu berat.”

Subhanallah! Keikhlasan memang sulit. Namun lebih sulit lagi menjaga keikhlasan setelah seseorang meraihnya.

 

 

bersambung …

 

Madinah, 25 04 1432 H / 30 03 2011 M

Abu Abdilmuhsin Firanda

www.firanda.com

COMMENTS

WORDPRESS: 16
  • comment-avatar
    abu ahmad al srageny 7 years ago

    subhanalloh… barakollohu ya syaikh

  • comment-avatar
    abu ibrohim 7 years ago

    Ust Firanda, apa ust bisa memberikan bocoran berupa dokumen otentik sebagai bukti bahwa Syaikh seorang Prof. Dan menjadi bukti juga bahwa Ust berkata benar ttg itu.

  • comment-avatar
    Hasyim.. 7 years ago

    Semoga Allah memberkahi Syaikh Abdurazzaq kemudian Antum,Ustadz Firanda..
    Rahmat Allah Ta’ala atas kalian dan Kaum Muslimin pada umumnya.

  • comment-avatar
    Ahmad Zen 7 years ago

    Semoga Allooh memberkahi ana, beliau, antum dan sgenap kaum muslimin di manapun

  • comment-avatar
    Hisyam 7 years ago

    barakollohu..

    Syaikh Dr. Soleh Al-Fauzaan
    Syaikh Dr. Robi Al-Madkhalee
    Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid

    ketiganya hanya bergelar Doktor, apa ini menandakan bahwa ilmu mereka dibawah jika dibandingkan dgn lulusan yang bergelar Prof. fulan … ?

    • comment-avatar

      @ mas hisyam

      mari kita perhatikan benar perkataan Nabi إنما يبعث الناس على نياتهم

      semoga Alloh selalu meluruskan niat saya dan anda ketika memberi komentar terhadap tulisan dan setiap perbuatan kita

  • comment-avatar
    Hamba Alloh 7 years ago

    kepada Ust. Firanda, mohon hati2 dalam menanggapi komentar orang2 dg nick abu ibrohim dan hisyam spt diatas, lebih baik abaikan saja…..dia bukan bertanya tapi cari perkara..wallohu a’lam…waspadalah…banyak musuh ya ustadz

    • comment-avatar
      Hisyum 7 years ago

      Afwan, antum melempar tuduhan dusta kepada saya sebelum anda bertabayyun langsung kepada saya. Jelas2 ana bertanya malah dituduh cari perkara. Innalillah..

      • comment-avatar
        dennyyapari 7 years ago

        Maaf saudara Hisyam atau Hisyum, saya mungkin tidak begitu pandai, tetapi dari pertanyaan anda tersebut dan setelah saya membaca artikel dari atas koq tidak nyambung ya? kalau pertanyaan tidak nyambung dengan artikel sudah sangat umum di internet, sudah pasti niat yang nanya kemana-mana… Jadi wajarlah Jamba Alloh sudah berpikir sebagaimana diatas, karena saya yang membaca comment anda sudah berpikir sama dengan saudara Hamba Alloh… maaf tidak bertabayyun, tapi saya hanya pake logika sederhana orang biasa…

  • comment-avatar
    Hisyum 7 years ago

    [quote name=”Hamba Alloh”]kepada Ust. Firanda, mohon hati2 dalam menanggapi komentar orang2 dg nick abu ibrohim dan hisyam spt diatas, lebih baik abaikan saja…..dia bukan bertanya tapi cari perkara..wallohu a’lam…waspadalah…banyak musuh ya ustadz[/quote]

    mohon hati2 atau mohon maaf tidak mampu jawab ya Ust?

    • comment-avatar
      firanda 7 years ago

      @Akhi Hasyiim, syukron atas tanggapan antum, tentunya tidak ada kelaziman bahwa yang bergelar leih tinggi maka lebih tinggi ilmunya daripada yang tidak bergelar. atau profesor lebih tinggi ilmunya dari pada doktor. toh gelar-gelar tersebut hanyalah menunjukan tingkat pendidikan seseorang secara akademik, akan tetapi tidak melazimkan tingkata ilmu secara kenyataan. toh syaikh bin baaz , utsaimin, dan Albani rahimahumulloh tidak bergelar sama sekali, demikian juga syaikh Abbad bukanlah seorang doktor, akan tetapi ilmu mereka diakui dan dikenal sebagai ulama. baarokallahu fiik. apakah saya pernah menyatakan bahwa yang profesor pasti lebih pintar dari yang sekedar doktor?, kalau saya pernah mengatakan demikian maka itu merupakan kesalahan. tolong beri tahu saya dimana saya mengucapkan demikian agar saya ralat.

  • comment-avatar
    addien islam 7 years ago

    barakallahufika

  • comment-avatar
    anwar 7 years ago

    [quote name=”abu ibrohim”]Ust Firanda, apa ust bisa memberikan bocoran berupa dokumen otentik sebagai bukti bahwa Syaikh seorang Prof. Dan menjadi bukti juga bahwa Ust berkata benar ttg itu.[/quote]

    ana pengen tau juga nih bocorannya Ustadz.

    • comment-avatar
      abu zahroh 7 years ago

      [quote name=”anwar”][quote name=”abu ibrohim”]Ust Firanda, apa ust bisa memberikan bocoran berupa dokumen otentik sebagai bukti bahwa Syaikh seorang Prof. Dan menjadi bukti juga bahwa Ust berkata benar ttg itu.[/quote]

      ana pengen tau juga nih bocorannya Ustadz.[/quote]
      assalamu’alaikum….
      hanya sedikit menanggapi…jika kita ingin bertanya maka bertanyalah yang bisa memberikan manfaat bagi kita. Kalau umpamanya syaikh seorang prof.. manfaatnya unutk kita apa..? dan kalaupun bukan manfaatnya apa…?
      artikel di atas bukanlah bermaksud untuk menunjukkan bahwa syaikh seorang yang lebih tinggi dari yang lainnya, akan tetapi agar kita bisa mengambil faidah dari sebuah ketawadhuan yang dimiliki oleh syaikh..barokallohufiekum
      wassalamu’alaikum

  • comment-avatar
    abu hanifa 7 years ago

    assalamu’alaikum..
    Alhamdulillah, semoga menjadi ibroh untuk kita semua.. Semoga syaikh dan antum dan pembaca sekalian selalu di atas petunjuk..
    Amiin..
    Wassalam.

  • comment-avatar

    Assalamu’alaikum..Ustd..sungguh benar..Berkata Yusuf bin Al-Husain Ar-Roozi : Betapa sering diriku berijthad (bersungguh-sungguh) untuk menghilangkan riyaa dari hatiku, akan tetapi riyaa’ tersebut muncul lagi di hatiku dalam bentuk yang lain..