Jagalah Pandanganmu

Jagalah Pandanganmu

“Mencuci mata” sudah menjadi kebiasaan dan budaya banyak orang terutama di kalangan para muda. Nongkrong di pinggir jalan untuk “mencuci mata”, menikm

Shalat Shubuh Berjamaah
Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr -hafizhahullah- (seri 1)
Ujian Hakiki

“Mencuci mata” sudah menjadi kebiasaan dan budaya banyak orang terutama di kalangan para muda. Nongkrong di pinggir jalan untuk “mencuci mata”, menikmati pemandangan alam yang indah dan penuh pesona sudah menjadi adat sebagian orang. Namun yang menjadi pertanyaan adalah alam apakah yang sedemikian indahnya sehingga menjadikan para pemuda begitu banyak yang tertarik dan terkadang mereka nongkrong hingga berjam-jam? Ternyata alam tersebut adalah wajah manis para wanita. Apalagi sampai terlontar dari sebagian mereka pemahaman bahwa memandang wajah manis para wanita merupakan ibadah dengan dalih, “Saya tidaklah memandang wajah para wanita karena sesuatu (hawa nafsu), namun jika saya melihat mereka saya berkata, “Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”[1]

Ini jelas merupakan racun syaithan yang telah merasuk dalam jiwa-jiwa sebagian kaum muslimin. Pada hakekatnya istilah yang mereka gunakan (cuci mata) merupakan istilah yang telah dihembuskan syaithan pada mereka. Istilah yang benar adalah “Ngotori mata”.

Kebiasaan yang sudah merebak seantero dunia ini memang sulit untuk ditinggalkan. Bukan cuma orang awam saja yang sulit untuk meninggalkannya bahkan betapa banyak ahli ibadah yang terjerumus ke dalam praktek “ngotori mata” ini. Masalahnya alam yang menjadi fokus pandangan sangatlah indah dan dorongan dari dalam jiwa untuk menikmati pesona alam itupun sangat besar.
Oleh karena itu penulis mencoba untuk memaparkan beberapa perkara yang berkaitan dengan hukum pandangan, semoga bermanfaat bagi penulis khususnya dan juga bagi saudara-saudaraku para pembaca yang budiman.

Fadhilah menjaga pandangan

Menjaga pandangan mata dari memandang hal-hal yang diharamkan oleh Allah merupakan akhlak yang mulia, bahkan Rasulullah r menjamin masuk surga bagi orang-orang yang salah satu dari sifat-sifat mereka dalah menjaga pandangan.
Abu Umamah berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اُكْفُلُوا لِي بِسِتٍ أَكْفُلْ لَكُمْ بِالْجَنَّةِ, إِذَا حَدَّثَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَكْذِبْ, وَ إِذَا اؤْتُمِنَ فَلاَ  يَخُنْ, وَ إِذَا وَعَدَ فَلاَ يُخْلِفْ, غُضُّوْا أَبْصَارَكُمْ, وَكُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ, وَاحْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ
“Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.”[2]

Bahkan orang jahiliyahpun mengetahui bahwa menjaga pandangan adalah akhlak yang mulia. Berkata ‘Antarah bin Syaddad seorang penyair di zaman jahiliyah:
وَأَغُضُّ طَرْفِي مَا بَادَتْ لِي جَارَتِي           حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا
“Dan akupun terus menundukkan pandanganku tatkala tampak istri tetanggaku sampai masuklah dia ke rumahnya”[3]

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin Al-‘Abbad –Hafidzohumulloh- berkata,”Inilah salah satu akhlak mulia yang dipraktekkan oleh orang pada zaman jahiliyah, namun yang sangat memprihatinkan justru kaum muslimin di zaman sekarang meninggalkannya.”

Menjaga pandangan di zaman sekarang ini sangatlah sulit

Menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang memang perkara yang sangat sulit apalagi di zaman sekarang ini. Hal-hal yang diharamkan untuk dipandang hampir ada disetiap tempat, di pasar, di rumah sakit, di pesawat, bahkan di tempat-tempat ibadah. Majalah-majalah, koran-koran, televisi (ditambah lagi dengan adanya parabola), gedung-gedung bioskop penuh dengan gambar-gambar seronok dan porno alias para wanita yang berpenampilan vulgar. Wallahul Musta’an…

Bagaimana para lelaki tidak terjebak dengan para wanita yang aslinya merupakan keindahan kemudian bertambah keindahannya tatkala para wanita tersebut menghiasi diri mereka dengan alat-alat kecantikan, dan lebih bertambah lagi keindahannya jika yang menghiasi adalah syaithan yang memang ahli dalam menghiasi para wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata
المَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita adalah aurat, jika ia keluar maka syaitan memandangnya”[4]

Berkata Al-Mubarokfuuri, “Yaitu syaitan menghiasi wanita pada pandangan para lelaki, dan dikatakan (juga) maksudnya adalah syaitan melihat wanita untuk menyesatkannya dan (kemudian) menyesatkan para lelaki dengan memanfaatkan wanita tersebut sebagai sarana…”[5]

Diantara penyebab terjangkitinya banyak orang dengan penyakit ini, bahkan menimpa para penuntut ilmu, karena sebagian mereka telah dibisiki syaithan bahwasanya memandang wanita tidaklah mengapa jika tidak diiringi syahwat. Atau ada yang sudah mengetahui bahwasanya hal ini adalah dosa namun masih juga menyepelekannya. Yang perlu digaris bawahi adalah banyak sekali orang yang terjangkit penyakit ini dan  mereka terus dan sering melakukannya dengan tanpa merasa berdosa sedikitpun, atau minimalnya mereka tetap meremehkan hal ini, padahal ada sebuah kaedah penting yang telah kita ketahui bersama yaitu

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإصْرَار
Tidak lagi disebut dosa kecil jika (perbuatan maksiat itu) dilakukan terus menerus.[6]

PAGES

1 2 3 4

COMMENTS

WORDPRESS: 10
  • comment-avatar
    kurniawan 8 years ago

    ijin copy, ustadz
    barakallahu fiik

  • comment-avatar
    kautsar 8 years ago

    Assalammu’alaikum

    bagus ustadz artikelnya, sdikit catatan dari saya, di hadits dan perkataan ulama kok hanya ada no ya?sumbernya tidak dicantumkan

    jazakallahu khoir

    majuuuuu terus ahlus sunnah

    • comment-avatar

      [quote name=”kautsar”]Assalammu’alaikum

      bagus ustadz artikelnya, sdikit catatan dari saya, di hadits dan perkataan ulama kok hanya ada no ya?sumbernya tidak dicantumkan

      jazakallahu khoir

      majuuuuu terus ahlus sunnah[/quote]

      Diklik all pages. Keterangan sumber ada di bawah Daftar Pustaka,sesuai dengan nomernya

  • comment-avatar
    wawan 8 years ago

    Sampai-sampai dalam masalah ini, Bani Israil “lebih baik” dari kita. Mereka menganggap memandang wajah pelacur adalah suatu aib yang tercela. Lihatlah kisah Juraij dalam Shahih Muslim, saat ibunya kesal kepadanya lalu berdoa : “Ya Allah! Janganlah Engkau matikan Juraij melainkan setelah dia melihat wajah pelacur”.

    Ironinya, di kalangan umat kita sekarang justru berebut-rebut untuk melihat wajah pelacur.

    Wallahul Musta’an

  • comment-avatar
    Syaiful hanif 8 years ago

    Assalamu’alaykum ustadz…ana izin copas artikel nya ustadz…jazakallahu khairan

  • comment-avatar

    Assalaamu’alaykum,
    afwan, ana izin copy artikelnya

  • comment-avatar

    Assalammu’alaikum..
    Ustadz Firanda, ana izin copi paste artikelnya juga,,
    Jazakumullah Khoir..

  • comment-avatar
    ummu ishaq 7 years ago

    assalamu’alaikum, jazakummullohu khoir artikelnya semoga diamalkan buat yg sudah mengetahuinya, jangan sampai di dunia nyata menundukan pandangan alias GB tapi di dunia maya sebaliknya antara ikhwan dan akhwat yg udah ngaji pun gak malu2 lagi chat untuk hal2 yg bisa menimbulkan fitnah.”pengawasan Alloh tidak pernah luput”

    mahon dimaafkan kalo ada salah2 kata”

  • comment-avatar
    Khairunnas 6 years ago

    Jazakalluhu khoir atas artikelnya ya ustadz, ana izin copas beberapa artikel yg ustadz buat, semoga bisa bermanfaat bagi para akhwat/ikhwan lainnya, aamiin .

  • comment-avatar
    ukhti 5 years ago

    assalamualaikum ustadz..
    sedangkan memandang saja tidak boleh.. apakah boleh istri melarang suami yang sering bertemu dan berjanji bertemu di kereta dengan wanita teman kerjanya dengan alasan hanya pertemanan… dan balik mengatakan bahwa sang istri terlalu mengekang dalam pertemanan sang suami…