Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at

Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at

Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at

(Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc, MA.)

Ijma’ Boleh Lebih 11 Rakaat

Para ulama telah ijmak (sepakat) akan bolehnya sholat malam (tarawih) lebih dari 11 raka’at. Bahkan yang menukil ijmak tersebut para ulama dari berbagai madzhab fikih. Berikut ini nukilan tersebut:

1. Madzhab Maliki:

Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata:

وأكثر الآثار على أن صلاته كانت إحدى عشرة ركعة وقد روي ثلاث عشرة ركعة. واحتج العلماء على أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود والصلاة خير موضوع فمن شاء استقل ومن شاء استكثر.

Kebanyakan atsar menunjukkan bahwa shalat beliau adalah 11 rakaat, dan diriwayatkan bahwa 13 rakaat, para ulama berdalil bahwa shalat lail tidak ada batasnya, dan shalat adalah ibadah terbaik, siapa yang berkehendak silahkan menyedikitkan rakaát, dan siapa yang berkehendak maka silahkan memperbanyak rakaát”. (1)

Beliau juga berkata:

وقد أجمع العلماء على أن لا حد ولا شيء مقدرا في صلاة الليل وأنها نافلة فمن شاء أطال فيها القيام وقلت ركعاته ومن شاء أكثر الركوع والسجود

Para ulama sepakat tidak ada batas atau ukuran dalam shalat lail (malam), mereka juga sepakat bahwa shalat lail sunnah, siapun mau boleh memanjangkan berdiri dan sedikit jumlah rakaatnya, dan siapapun mau boleh memperbanyak ruku’ dan sujud”. (2)

Beliau juga berkata:

وَلَيْسَ فِي عَدَدِ الرَّكَعَاتِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ حَدٌّ مَحْدُودٌ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَتَعَدَّى

Tidak ada batas tertentu dalam jumlah rakaat dalam shalat lail yang tidak boleh dilewati menurut satupun ulama”. (3)

Al-Qadhi Iyadh mengatakan:

ولاَ خِلاَفَ أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدٌّ لاَ يُزَادُ عَلَيْهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْهُ، وَأَنَّ صَلاَةَ اللَّيْلِ مِنَ الْفَضَائِلِ وَالرَّغَائِبِ الَّتِي كُلَّمَا زِيْدَ فِيْهَا زِيْدَ فِي الأَجْرِ وَالْفَضْلِ، وَإِنَّمَا الْخِلاَفُ فِي فِعْلِ النَّبِيِّ (صلى الله عليه وسلم) وَمَا اخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ

Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batas yang tidak boleh ditambahi dan dikurangi, dan shalat lail termasuk amalan utama dan dianjurkan, jika ditambahi maka bertambah pula pahala dan keutamaanya, yang diperselisihkan hanya dalam perbuatan Nabi dan jumlah rakaat yang beliau pilih untuk beliau lakukan”. (4)

2. Madzhab Hanbali

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi menyebutkan bahwa yang menjadi pilihan jumhur ulama adalah shalat tarawih 20 rakaat, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar ketika mengumpulkan orang-orang, beliau juga berkata: “Para sahabat bersepakat dalam hal itu di masa mereka”. (5)

Ishaq bin Mansur bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Berapa rakaat shalat qiyam bulan Ramadhan? Beliau berkata: Ada beberapa pendapat, diriwayatkan sekitar 40, tetapi itu adalah shalat tathawwu’. (6)

3. Madzhab Syafi’i

Abul Qasim Ar-Rafi’i: “Sesungguhnya Umar bin Khatthab mengumpulkan orang-orang diimami oleh Ubai bin Ka’ab, dan disepakati oleh para sahabat”. (7)

An-Nawawi menukil ijma’ ini dan mengikrarkannya (8)

Az-Za’farani meriwayatkan dari As-Syafi’I: “Aku lihat orang-orang di Madinah mengerjakan shalat 39 rakaat”, beliau berkata “Yang lebih aku suka adalah 20”, beliau berkata “Begitupula yang dikerjakan di Makkah”. Beliau berkata: “Tidak ada dalam hal ini batas akhirnya, jika mereka perbanyak ruku’ dan sujud maka lebih baik”. (9)

Al-Iraqi mengatakan:

فِيهِ مَشْرُوعِيَّةُ الصَّلَاةِ بِاللَّيْلِ وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ مَحْصُورٌ وَلَكِنْ اخْتَلَفَتْ الرِّوَايَاتُ فِيمَا كَانَ يَفْعَلُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Para ulama sepakat bahwa tidak ada batas tertentu dalam qiyamul-lail, akan tetapi riwayat-riwayat berbeda tentang mana yang dilakukan oleh Nabi”. (10)

4. Ulama Hadits

Ibnu Al-Qatthan Al-Fasi juga menukil ijma’ tersebut dalam kitabnya “Al-Iqna’ fi Masa’il Ijma’”.

At-Tirmidzi dalam Jami’-nya berkata:

Para ulama berselisih pendapat dalam qiyam Ramadhan: Sebagian berpendapat 41 rakaat bersama witir, ini adalah pendapat ahlul Madinah, dan yang diamalkan oleh penduduk Madinah. Kebanyakan ulama adalah mengikuti riwayat Umar, Ali dan lainnya dari kalangan sahabat Rasulullah berpendapat 20 rakaat, ini adalah pendapat At-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak dan As-Syafi’i.

As-Syafi’i berkata: Demikianlah yang aku jumpai di kota kami Makkah, mereka shalat 20 rakaat.

Ahmad mengatakan: Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat dan tidak ada titik penentu.

Ishaq berkata: Tapi kita pilih 41 rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab.”

Kesimpulan:

Di atas adalah pernyataan sejumlah ulama dari berbagai madzhab yang menukilkan ijma’ (konsensus) ulama bahwa tidak ada batas jumlah shalat lail yang di antaranya adalah shalat tarawih, tidak ada seorangpun ulama setelah mereka yang mempermasalahkan hal itu. Lihatlah dalam buku fikih manapun dan dalam madzhab manapun tidak ditemukan seorang ulamapun yang menyatakan tidak boleh sholat malam lebih dari 11 rakaát. Jika ada ulama yang mu’tabar (yang diakui) yang melarang dari kalangan para ulama terdahulu, tentu sudah dinukil dalam kitab-kitab fikih klasik (11).

Adapun hadits Aisyah (yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama kontemporer bahwa sholat malam tidak boleh lebih dari 11 rakaat) :

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ، وَلاَ فِي غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.

Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah ‘Berapa shalat Rasulullah pada bulan Ramadhan?’ ia menjawab: ‘Beliau tidak menambah sebelas rakaat baik di bulan Ramadhan atau di bulan lain, beliau shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat tiga rakaat, lalu aku bertanya : wahai Rasulullah apakah engkau tidur sebelum melakukan witir? Beliau menjawab: wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur tapi hatiku tidak tidur’. (12)

Maka hadits di atas menjelaskan bahwa sholat malam Nabi tidak lebih dari 11 raka’at. Tetapi tidak seorang salafpun yang memahami bahwa maksud Aisyah itu adalah batasan jumlah sholat malam, tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah.

Sementara tatkala kita memahami hadits atau memahami syari’at Islam harus dengan pemahaman para salaf, sebagai konsenkuensi dari bentuk berpegang dengan manhaj salaf dalam beristidlal (berdalil).

Dalil-Dalil bahwa Shalat Tarawih Tidak Ada Batas Rakaat

Pertama: Hadits Ibnu Umar

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلموَأَنَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّائِلِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ قَالَ «مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَصَلِّ رَكْعَةً وَاجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِكَ وِتْرًا». ثُمَّ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ وَأَنَا بِذَلِكَ الْمَكَانِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمفَلاَ أَدْرِى هُوَ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَوْ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.

Seorang bertanya kepada Nabi, ia mengakatan: saat itu aku berada di antara beliau dan penanya. Penyanya mengatakan: Wahai Rasulullah, bagaimana mengerjakan shalat lail? Beliau menjawab: Dua rakaat, dua rakaat, jika kamu khawatir masuk subuh maka shalatlah satu rakaat, dan jadikan akhir shalatmu witir. Kemudian ada lelaki berusia hampir satu abad, dan aku di tempat itu bersama Rasulullah, aku tidak tahu apakah itu orang tadi atau orang lain, ia mengatakan semacam itu pula(13).

Dalam riwayat yang lain (juga dalam shahih Muslim):

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَجُلاً نَادَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلموَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أُوتِرُ صَلاَةَ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم– «مَنْ صَلَّى فَلْيُصَلِّ مَثْنَى مَثْنَى فَإِنْ أَحَسَّ أَنْ يُصْبِحَ سَجَدَ سَجْدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى».

Seorang memanggil Rasulullah sedangkan beliau berada di masjid, lantas bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimana aku melakukan witir pada shalat lail? Rasulullah menjawab : Siapapun yang shalat, hendaklah shalat dua rakaat dua rakaat, jika merasa datang subuh maka hendaklah melakukan satu sujud, makai a telah melukan shalat witir.

Dalam riwayat yang lain :

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda: Shalat lail dua-dua, jika kamu melihat subuh akan tiba maka wtirlah satu rakaat. Lalu ada yang bertnya kepada Ibnu Umar: apa itu dua-dua? Beliau menjawab: hendaklah engkau salam di setiap dua rakaat. (diriwayatkan muslim juga di tempat yang sama).

Segi pendalilan:

Ada dua sisi pendalilan dari hadits Ibnu Umar di atas:

Pertama: Orang yang bertanya tersebut dalam sebagian riwayat adalah الأَعْرَابِيُّ arab badui(14). Dan sebagaimana diketahui bahwa orang arab badui tidaklah tinggal bertetangga dengan Nabi dan para sahabat. Tentu ia tidak tahu tentang jumlah raka’at sholat malam Nabi, terlebih lagi tidak ada seorang sahabatpun yang meriwayatkan tentang jumlah 11 rakaat sholat malam Nabi kecuali Aisyah, karena Nabi mengerjakannya di rumah dan dilihat oleh Aisyah.

Hal ini dikuatkan lagi bahwasanya jika Arab badui tersebut tidak tahu tentang kaifiyyah (tata cara) sholat malam, setiap berapa rakaatkah harus salam? Maka ketidak tahuannya tentang jumlah rakaat lebih utama untuk tidak ia ketahui.

Jika seandainya sholat malam ada batasan jumlah raka’atnya tentu Nabi akan menjelaskan kepada orang arab badui tersebut. Tatkala Nabi tidak menjelaskan sisi ini maka menunjukan bahwa sholat malam tidak terikat dengan jumlah tertentu, karena mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh.

Kedua: Justru Nabi menjawab orang arab badui tersebut dengan mengisyaratkan bahwa sholat malam tidak terbatas jumlah raka’atnya. Karena Nabi menyatakan bahwa sholat malam itu dua-dua rakaat hingga subuh. Artinya arab badui tersebut boleh sholat dengan shalat dua rakaat-dua rakaat dan terus melakukannya seperti itu, sampai jika ia khawatir tiba subuh maka shalat satu rakaat dan menjadi witir bagi shalatnya. Apalagi orang-orang arab badui tidak dikenal dengan sebagai para sahabat yang memiliki hapalan qur’an yang banyak, sehingga kemungkinan ia akan memperbanyak raka’at hingga subuh.

Kedua: Hadits Thalq bin Ali

عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلميَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».

Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (15)

Segi pendalilan:

Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lain. Dan tentu jika digabungkan dua kali sholat tarawih beliau tersebut akan lebih dari 11 raka’at, wallahu A’lam.

Ketiga: Hadits Abu Dzar

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمرَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».

Abu Dzar berkata: Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (16), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (17)

Segi pendalilan:

Ketika sudah lewat tengah malam, Rasulullah selesai shalatnya, tapi para sahabat meminta Rasulullah tambahan shalat lagi, dan beliau tidak mengingkari atau menyalahkan mereka, namun beliau menunjukkan yang afdhal. Para sahabat juga tidak memahami bahwa shalat malam ada batas tertentu dan mereka juga tidak memahami jika shalat selesai maka tidak boleh ditambah. Karena jika mereka memahami bahwa sholat malam tidak boleh ada tambahannya tentu mereka tidak akan minta tambahan kepada Nabi, karena berarti meminta sesuatu yang haram kepada Nabi.

Keempat: Hadits ‘Amr bin ‘Anbasah

عن عَمرو بن عَنْبَسة ــ رضي الله عنه ــ أنَّه قال: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْلَمَ مَعَكَ؟ قَالَ: «حُرٌّ وَعَبْدٌ»، قُلْتُ: هَلْ مِنْ سَاعَةٍ أَقْرَبُ إِلَى اللَّهِ ــ عَزَّ وَجَلَّ ــ مِنْ أُخْرَى؟ قَالَ: “نَعَمْ، جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَصَلِّ مَا بَدَا لَكَ حَتَّى تُصَلِّيَ الصُّبْحَ“.

Aku mendatangi Rasulullah dan bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang masuk islam bersama engkau? Beliau menjawab: orang merdeka dan budak. Aku bertanya: Apakah ada waktu yang lebih dekat kepada Allah Azza wa Jalla daripada selainnya? Beliau menjawab: Ya, pertengahan malam akhir, maka shalatlah yang kamu mau sampai kamu shalat subuh”. (18)

Muhammad Ali Adam Al-Ityubi mengomentari hadits ini, “Shalat malam tidak memiliki jumlah tertentu, berbeda dengan persangkaan sebagian orang bahwa lebih dari 11 rakaat yang terdapat pada shalat Rasulullah adalah bid’ah, sehingga mengingkari orang yang shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat atau kurang atau lebih sesuai semangat orang yang shalat, maka dapat dibantah dengan hadits ini.” (19)

Tarwih para shahabat di masa Umar bin al-Khottob adalah 20 rakaát.

Berikut ini adalah pohon seluruh riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang jumlah rakaát tarwih yang dikerjakan di masa Úmar bin al-Khottob atas perintah Umar bin al-Khottob:

Jika diperhatikan pohon sanad periwayatan tentang jumlah rakaát tarawih yang dikerjakan di masa Umar bin al-Khottob sebagaimana di atas, maka kita dapati yang menyebutkan bahwa Umar memerintahkan untuk sholat 11 rakaát hanyalah 1 jalur saja, yaitu Dari Imam Malik, dari Muhammad bin Yuusuf, dari As-Saaib bin Yaziid, dari Umar bin al-Khottob. (Sebagaimana di kitab al-Muwattho’ karya Imam Malik)

Sementara seluruh jalur yang lain meriwayatkan bahwa sholat yang dikerjakan atas perintah Umar bin al-Khottob lebih dari 11 rakaat, yaitu 20 rakaát. Karenanya Ibnu Ábdil Barr yang bermadzhab Maliki, dan paling paham tentang periwayatan Imam Malik, berkata :

وَهَذَا كُلُّهُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الرِّوَايَةَ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَهْمٌ وَغَلَطٌ وَأَنَّ الصَّحِيْحَ ثَلاَثٌ وَعِشْرُوْنَ وَإِحْدَى وَعِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَاللهُ أَعْلَمُ

Ini semua menunjukkan bahwa riwayat 11 rakaat adalah kesalahan dan kekeliruan, yang shahih adalah 23 dan 21 rakaat, wallahu a’lam”. (20)

Lafadz riwayat 11 Rakaat:

Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwattha’:

عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد رضي الله عنه أنَّه قال: أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ رضي الله عنهم أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ: وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ، حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ، وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْر

Dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Saib bin Yazid beliau mengatakan: Umar bin Khaththab memerintahkan Ubai bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang dengan 11 rakaat, saat itu imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri dan kami tidak bubaran (selesai sholat) kecuali mendekati terbit fajar”. (21)

Ibnu Abdil Barr berkata:

هَكَذَا قَالَ مَالِكٌ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَغَيْرُهُ يَقُوْلُ فِيْهِ إِحْدَى وَعِشْرِيْن

Begitulah yang dikatakan Malik dalam hadits ini, yaitu 11 rakaat, sedangkan selain beliau mengatakan 21 rakaat”. (22)

Di kitab yang sama beliau juga berkata:

وَلاَ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً غَيْرُ مَالِكٍ والله أعلم. إلا أنه يحتمل أن يكون القيام في أول ما عمل به عمر بإحدى عشرة ركعة ثم خفف عليهم طول القيام ونقلهم إلى إحدى وعشرين ركعة يخففون فيها القراءة ويزيدون في الركوع والسجود إِلاَّ أَنَّ الأَغْلَبَ عِنْدِي فِي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً الْوَهْمُ وَاللهُ أَعْلَمُ

aku tidak tahu seorangpun mengatakan dalam hadits ini 11 rakaat kecuali Malik, wallahu a’lam. Hanya saja ada kemungkinan bahwa shalat yang dilakukan Umar pertama kali adalah 11 rakaat, kemudian beliau ringankan panjangnya berdiri dan diganti menjadi 21 rakaat dengan meringankan bacaan dan menambah ruku’ dan sujud. Akan tetapi yang lebih kuat menurutku adalah bahwa 11 rakaat adalah kekeliruan, wallahu a’lam.(23)

Lafadz dari jalur Yazid bin Khushaifah:

عن يزيد بن خُصَيْفَة عن السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَلَكِنْ كَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينَ فِي رَكْعَةٍ حَتَّى كَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عِصِيِّهِمْ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِ

Dari Yazid bin Khushaifah dari As-Saib bin Yazid mengatakan : mereka mengerjakan shalat di masa Umar bin Khatthab pada bulan Ramadhan 20 rakaat, akan tetapi mereka membaca ratusan ayat dalam satu rakaat, sehingga mereka bersandar pada tongkat-tongkat mereka karena lamanya berdiri. (24)

Sanadnya dishahihkan oleh:

  1. Imam Nawawi dalam Al-Khulashah no 1961

  2. Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir 4/350

  3. Ibnul Iraqi dalam Tharh Tatsrib 3/97

  4. Al-‘Aini dalam Al-Binayah Syarh Al-Hidayah 2/660

  5. Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy dalam Tanbih Al-Qari’ li Taqwiyati Ma Dha’afahul Albani hlm. 42 mengatakan: Hadits ini shahih.

Penulis belum mendapatkan ulama mutaqodiimin (terdauhulu) mendoifkan riwayat Umar tentang sholat 20 rakaat di atas karena riwayatnya(25)

Para salaf (sahabat dan tabiín) sholat tarwih lebih dari 11 rakaát

Pendapat bahwa para sahabat sholat tarwih di masa Umar adalah 20 rakaat dikuatkan dengan praktik para salaf yang sholat malam lebih dari 11 rakát. Berikut penukilannya :

  1. Atha’ berkata:

أَدْرَكْت النَّاسَ وَهُمْ يُصَلُّونَ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ

Aku menjumpai orang-orang shalat 23 rakaat dengan witir”. (26)

Atha adalah seorang tabi’in faqih yang wafat pada tahun 114 H, sehingga yang beliau jumpai adalah para sahabat Rasulullah, wallahu a’lam

  1. Dawud bin Qais berkata:

دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ : أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِالْمَدِينَةِ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَأَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يُصَلُّونَ سِتَّة وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.

Aku jumpai di Madinah pada masa Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat.” (27)

Atsar ini menjelaskan bahwa para tabiín mereka sholat bahkan 39 rakaát

  1. Sa’id bin Jubair:

كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي بِنَا عِشْرِينَ لَيْلَةً سِتَّ تَرْوِيحَاتٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ الأَخَرُ اعْتَكَفَ فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى بِنَا سَبْعَ تَرْوِيحَاتٍ.

Dahulu Sa’id bin Jubair adalah imam kita di bulan Ramadhan, beliau shalat mengimami kita 20 malam dengan 6 kali istirahat, jika memasuki 10 malam akhir beliau I’tikaf di masjid dan shalat mengimami kita dengan 7 kali istirahat.” (28)

Dan Saíd bin Jubair adalah seorang tabií yang mulia yang merupakan murid Ibnu Ábbas

Sa’id bin Jubair adalah seorang tabi’in wafat tahun 95 H, ketika 10 hari terakhir beliau shalat menjadi imam dengan 7 kali istirahat berarti 14 rakaat.

  1. Abu Al-Hashib berkata:

كَانَ يَؤُمُّنَا سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي خَمْسَ تَرْوِيْحَاتٍ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً

Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami shalat kita pada bulan Ramadhan dengan 5 kali istirahat dalam 20 rakaat”. (29)

Suwaid bin Ghafalah masuk Islam saat Nabi masih hidup, akan tetapi beliau tidak bertemu dengan Nabi, dan beliau meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ubay bin Kaáb, Bilal, Abu Dzar, Ibnu Masúd, dan sahabat-sahabat yang lain(30).

Beliau shalat 20 rakaat, setiap 4 rakaat salam, sehingga ada 5 kali istirahat.

Imam bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir menyebutkan riwayat Abu Al-Hasib Al-Ju’fi:

كَانَ سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً

Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami kita pada bulan Ramadhan 20 rakaat”. (31)

  1. Ibnu Abi Mulaikah

عن نافع بن عمر، قال: كَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يُصَلِّي بِنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيَقْرَأُ: بِحَمْدِ الْمَلَائِكَةِ فِي رَكْعَةٍ

Nafi’ bin Umar berkata: Dahulu Ibnu Abi Mulaikah shalat mengimami kami 20 rakaat, beliau membaca Hamdu Al-Malaikat (Surat Fathir) dalam satu rakaat. (32)

Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang tabií yang lahir di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib atau sebelumnya. Beliau telah menjumpai 30 sahabat(33).

Atsar-atsar para tabiín ini menunjukan bahwa pelaksanaan shalat tarwih di masa tabiín berlanjut dengan lebih dari 11 rakaát. Dan kemungkinan besar bahwa kebiasaan para tabiín tersebut diwariskan dari kebiasaan para sahabat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

Sesungguhnya qiyam Ramadhan sendiri tidak ditetapkan oleh Nabi dengan jumlah tertentu, bahkan beliau dalam Ramadhan maupun bulan lain tidak lebih dari 13 rakaat, akan tetapi beliau memanjangkan rakaat, ketika Umar mengumpulkan orang-orang untuk shalat diimami oleh Ubai bin Ka’ab shalat bersama mereka 20 rakaat kemudian witir 3 rakaat, pada saat itu beliau meringankan bacaan sesuai dengan tambahan rakaat, karena itu yang paling ringan bagi para makmum daripada memanjangkan satu rakaat.

Kemudian sekelompok salaf mengerjakan shalat 40 rakaat dan witir 3 rakaat, dan sekelompok salaf yang lain mengerjakan shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat, dan ini semua diperbolehkan. Bagaimanapun cara yang dilakukan pada bulan Ramadhan dri tata cara tersebut maka ia telah melakukan hal yang baik.

Dan yang paling utama adalah hal itu berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi jamaah yang shalat; jika mereka mampu tahan berdiri lama maka mengerjakan 10 rakaat dan tiga rakaat setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika shalat sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lain maka ini lebiih baik, namun jika mereka tidak mampu maka mengerjakan 20 rakaat lebih utama, inilah yang dikerjakan kebanyakan kaum muslimin; harena terletak pertengahan antara 10 dan 40 rakaat, dan jika mengerjakan 40 rakaat maka boleh dan sama sekali tidak dibenci. Ini telah disebutkan sejumlah imam, seperti Ahmad dan lainnya.

وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَ

Siapa mengira qiyam Ramadhan ada bilangan tertentu dari Nabi yang tidak boleh ditambah dan dikurangi maka ia terjatuh dalam kesalahan”. (34)

As-Syaukani mengatakan :

والحاصل أن الذي دلت عليه أحاديث الباب وما يشابهها هو مشروعية القيام في رمضان والصلاة فيه جماعة وفرادى فقصر الصلاة المسماة بالتراويح على عدد معين وتخصيصها بقراءة مخصوصة لم يرد به سنة

Kesimpulannya, hadits-hadits dalam bab ini dan hadits yang serupa menunjukkan disyariatkannya qiyam ramadhan, shalat baik dengan jamaah maupun sendiri-sendiri. Adapun membatasi shalat yang dinamai dengan tarawih dengan jumlah tertentu dan mengkhususkan dengan bacaan tertentu maka tidak ada sunnah yang menunjukkah hal itu”. (35)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

والتراويح إن صلاها كمذهب أبي حنيفة، والشافعي، وأحمد: عشرين ركعة أو: كمذهب مالك ستا وثلاثين، أو ثلاث عشرة، أو إحدى عشرة فقد أحسن، كما نص عليه الإمام أحمد لعدم التوقيف فيكون تكثير الركعات وتقليلها بحسب طول القيام وقصره

Shalat tarawih jika dikerjakan sesuai madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad adalah 20 rakaat, atau sesuai madzhab Malik 36 rakaat, atau 13, atau 11 maka itu baik, seperti dikatakan oleh Imam Ahmad, karena tidak ada penentuan batas akhir, sehingga memperbanyak jumlah rakaat dan mempersedikit dilakukan tergantung panjang atau pendeknya berdiri. (36)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

وأُبَىٌّ بن كعب لما قام بهم وهم جماعة واحدة لم يمكن أن يطيل بهم القيام، فكثر الركعات ليكون ذلك عوضا عن طول القيام، وجعلوا ذلك ضعف عدد ركعاته، فإنه كان يقوم بالليل إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة، ثم بعد ذلك كأن الناس بالمدينة ضعفوا عن طول القيام، فكثروا الركعات، حتى بلغت تسعا وثلاثين

Ubai bin Ka’ab tatkala mengimami mereka yang saat itu mereka satu jamaah, tidak memungkinkan untuk memperlama berdiri, maka beliau perbanyak rakaat sebagai ganti berdiri lama, dan mereka menjadikannya dua kali lipat jumlah rakaat, karena sebelum itu ia melakukan qiyamulllail 11 atau 13 rakaat, kemudian setelah itu sepertinya orang-orang penghuni Kota Madinah tidak mampu berdiri lama, maka mereka perbanyak rakaat, hingga sampai 39 rakaat. (37)

Kesimpulan :

Pertama : Telah terjadi Ijma’ (kesepakatan) ulama akan bolehnya shalat lebih dari 11 rakaát

Kedua : Tidak seorang ulamapun yang mu’tabar dari kalangan mutaqoddimin (terdahulu) yang melarang shalat tarawih lebih dari 11 rakaát, apalagi sampai mengatakan bidáh. Yang ada hanyalah ulama belakangan seperti As-Shonáni yang wafat tahun 1182 H

Ketiga : Atsar bahwa para sahabat sholat tarawih di masa Umar 20 rakaát adalah atsar yang shahih, dan tidak diketahui ada seorang ulamapun dari mutaqoddimin yang mendoifkan atsar ini.

Keempat : Para salaf di zaman para tabiín (seperti Áthoo, Saíd bin Jubair, Suwaid bin Ghofalah, Ibnu Abi Mulaikah, dan Daud bin Qois) mereka semuanya sholat tarawih lebih dari 11 rakaát.

Kelima : Hendaknya kita memahami hadits Aisyah tentang sholat malam Nabi 11 rakaát dengan pemahaman para salaf, yaitu bahwa bilangan tersebut bukanlah batasan.

Kamis 4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)

Di Kediaman, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.

Footnote:

1 Al-Istidzkar 2/98

2 Al-Istidzkar 2/102-103

3 At-Tamhid 13/214

4 Ikmalul Mu’lim Syarh Shahih Muslim 3/48

5 At-Mughni 2/123

6 Masail Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih 2/755

7 As-Syarhu Al-Kabir 4/267

8 Lihat Syarh Shahih Muslim 6/19

9 Mukhtashar Qiyamul Lail hlm. 222

10 Tharh At-Tatsrib fi Syarh Taqrib 3/50

11 Adapun tiga ulama (Imam Malik, Ibnul ‘Arobi, dan As-Shonáani) yang dinukil oleh Asy-Syaikh Al-Albani bahwa mereka melarang sholat lebih dari 11 rakaát, maka penukilan tersebut kurang tepat.

Pertama : Al-Imam Malik yang masyhur di madzhab Malik justru menganjurkan lebih dari 11 rakaát. Adapun nukilan Syaikh Al-Albani dari Imam Malik melalui jalur seorang ulama syafiíyah yang bernama al-Juuri, maka beliau (Syaikh Al-Albani) juga tidak bisa memastikan siapakah al-Juuri tersebut, karena banyak ulama yang bernisbahkan kepada al-Juuri. Setelah itu harus diketahui terlebih dahulu bagaimanakah kedudukan al-Juuri dikalangan para ulama. Demikian juga jika tentu penukilan tentang pendapat Imam Malik dari kitab-kitab ulama Malikiyah lebih kuat daripada yang dinukil dari seorang ulama bermadzhab syafií.

Kedua : Ibnul Árobi, justru beliau menyatakan dengan tegas bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaatnya. Beliau berkata :

وَلَيْسَ فِي قَدْرِ رَكْعَتِهَا حَدٌّ مَحْدُوْدٌ

Dan tidak ada batasan tertentu pada jumlah rakaát sholat malam” (Áaridhotul Ahwadzi 4/19)
Adapun pernyataan Ibnul Árobi yang dinukil oleh Asy-Syaikh al-Albani maka maksudnya jika memang sholat malam itu ada batasannya maka ikutlah yang dilakukan oleh Nabi yaitu 11 rakaát. Akan tetapi telah jelas bahwa sebelumnya -di halaman yang sama- Ibnul Árobi telah menegaskan bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaátnya.

Ketiga : As-Shonáani, maka memang jelas beliau memandang bahwa “menganggap jumlah 20 rakaat sebagai sunnah” itulah yang bidáh. As-Shonáni berkata :

نَعَمْ قِيَامُ رَمَضَانَ سُنَّةٌ بِلَا خِلَافٍ، وَالْجَمَاعَةُ فِي نَافِلَتِهِ لَا تُنْكَرُ وَقَدْ ائْتَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَغَيْرُهُ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكِنَّ جَعْلَ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ، وَالْكَمِّيَّةِ سُنَّةً، وَالْمُحَافَظَةَ عَلَيْهَا هُوَ الَّذِي نَقُولُ إنَّهُ بِدْعَةٌ

Memang benar bahwa sholat malam di bulan Ramadhan adalah sunnah tanpa ada khilaf, dan dikerjakan secara berjamaah adalah sunnah tidak diingkari -karena Ibnu Ibaas dan yang lainnya pernah bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam dalam sholat malam-. Akan tetapi menjadikan cara sholat dan jumlah (20 rakaat) sebagai sunnah (Nabi) dan kontinyu dalam malakukannya itulah yang kami katakan sebagai bidáh” (Subulus Salam 1/345)

Yang perlu diperhatikan bahwa di Subulus Salam :

Pertama : As-Shonáni membenarkan riwayat bahwa Umar mengumpulkan orang-orang untuk sholat 23 rakaát.

Kedua : Beliau menekankan bahwa tidak hadits yang marfu’ (dari Nabi) bahwasanya Nabi sholat malam 23 raka’at, semua hadits yang datang tentang hal tersebut adalah dho’if. Ini yang menjadikan beliau menekankan bahwa menganggap sholat 20 rakaat sebagai sunnah adalah anggapan yang bid’ah.

Ketiga : Meskipun beliau menetapkan bahwa 20 rakaat telah datang dari Umar bin Al-Khottob namun beliau memandang bahwa tidak wajib mengikuti Umar, yang wajib adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya 11 raka’at.

Tentu pendapat As-Shon’ani ini kurang tepat, lagi pula beliau termasuk ulama mutaakhirin (belakangan) yang wafat di abad ke 12 Hijriyah.

12 HR. Bukhari no 2031 dan Muslim no 1757

13 HR. Muslim dalam shahihnya no 749

14 Shahih Ibn Khuzaimah no 1110, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh al-A’dzomi

15 HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.

16 Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/349

17 HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.

18 HR. Ahmad no 17026, Nasa’I no 584 dan ini adalah lafadz beliau, Ibnu Majah 1251. Dishahihkan Ibnu Khuzaimah 260 dan Al-Hakim 583, Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 5/21 menshahihkan sanad hadits ini.

19 Dzakhiratul ‘Uqba fi Syarh Al-Mujtaba 7/423

20. Al-Istidzkar 2/69

21 Al-Muwaththa no 251

22 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 8/114

23 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 2/63

24 Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Ja’ad dalam Musnad beliau no 2825, Al-Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496, Al-Firyabi dalam As-Shiyam 176.

25 Adapun anggapan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah bahwa Al-Imam At-Tirmidzi mengisyaratkan akan dhoifnya atsar ini -dengan dalil bahwa At-Tirmidzi mengatakan dengan shighot at-tamriid رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ وَعُمَرَ وَغَيْرِهِمَا– maka anggapan ini kurang tepat. Hal ini karena banyak sekali di kitab Sunan At-Tirmidzi beliau menghikayahkan hadits-hadits yang shahih bahkan yang terdapat di shahihain dengan shighoh at-Tamriidh, dan tentu maksud beliau bukan untuk mengisyaratkan akan lemahnya tetapi hanya sekedar untuk menghikayatkan jalur-jalur periwayatan hadits.

Misalnya At-Tirmidzi berkata :

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ

Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu álaihi wasallam bahwasanya beliau membaca surat at-Thuur di sholat magrib” (Sunan At-Tirimidzi 1/403).

Padahal hadits tentang Nabi membaca surat at-Thuur di sholat maghrib diriwayatkan oleh Al-Bukhari no 4854.

Demikian juga anggapan syaikh Al-Albani bahwasanya Al-Imam Asy-Syafií mendoifkan atsar Umar ini, beliau berdalil dengan perkataan Syafií yang dinukil oleh Al-Muzani di Mukhtashornya bahwasanya Syafií berkata : رُوِيَ عَنْ عُمَرَDiriwayatkan dari Umar”

Maka berikut nukilan perkataan Asy-Syafií selengkapnya :

فَأَمَّا قِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ فَصَلَاةُ الْمُنْفَرِدِ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْهُ وَرَأَيْتهمْ بِالْمَدِينَةِ يَقُومُونَ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِينَ وَأَحَبُّ إلَيَّ عِشْرُونَ؛ لِأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ، وَكَذَلِكَ يَقُومُونَ بِمَكَّةَ وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ

Adapun sholat malam di bulan Ramadhan maka sholat sendirian lebih aku sukai, dan aku melihat di Madinah mereka sholat malam 39 rakaát. Dan yang lebih aku sukai adalah 20 rakaát karena hal itu diriwayatkan dari Umar. Dan demikianlah mereka di Mekah sholat malam 20 rakaát dan mereka witir 3 rakaát”

Maka sangat jelas dalam perkataan Asy-Syafií di atas justru beliau membenarkan atsar Umar, karena pada perkataan di atas beliau sedang berdalil dengan atsar Umar sehingga beliau lebih memilih sholat tarawih dengan 20 rakaát.

Dan ternyata di Mukhtashor Al-Muzani banyak sekali perkataan Asy-Syafií dengan shighoh at-Tamriid akan tetapi riwayat yang beliau bawakan adalah shahih. Beliau menggunakan shighoh at-Tamriid hanya sekedar untuk menghikayatkan saja bukan bermaksud untuk mendhoifkan riwayat. Contohnya beliau berkata :

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُنْقَصَ عَمَّا رُوِيَ «عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ تَوَضَّأَ بِالْمُدِّ وَاغْتَسَلَ بِالصَّاعِ»

Dan aku suka agar air tidak kurang dari yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau berwudu dengan air seukuran mudd, dan beliau mandi dengan air seukuran shoo’”.

Padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya no 325.

26 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7770, Fadhail Ramadhan Ibnu Abi Dunya hlm. 79 no riwayat : 49. Sanad atsar ini sesuai dengan syarat (kriteria) Imam Muslim, dishahihkan Nawawi dalam Al-Majmu’ 4/32 dan Ibnul Iraqi di Tarhu At-Tatsrib 3/97.

27 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7771

28 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7773, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Ismail bin Abdul Malik dalam Mushannaf Abdurrazzaq no 7749, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Musa bin Nafi’ dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/271

29 HR. Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496 no 4803, Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab beliau Ta’sisul Ahkam 2/287 mengatakan : Sanadnya shahih.

30 Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 4/70

31 At-Tarikh Al-Kabir 9/28 tarjamah no 234

32 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7683 dengan sanad shahih.

33 Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata :

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu álaihi wasallam, semuanya takut akan kemunafikan atas dirinya”(Shahih Al-Bukhari 1/18).

Diantara shahabat yang dijumpai oleh beliau adalah ; Aisyah, Asmaa’ binti Abi Bakar, Abu Mahdzuurah, Ibnu Ábbas, Abdullah bin Ámr, Ibnu Umar, Ibnu Az-Zubair, Úqbah bin al-Haarits, Ummu Salamah, Al-Miswar bin Al-Makhromah, dan Abdullah bin Ja’far. (Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 5/89-90)

34 Majmu’ Fatawa 22/272 dan 23/113

35 Nailul Authar 3/66, Dar Al-Hadits

36 Al-Ikhtiyarat hlm. 64

37 Majmu’ Al-Fatawa 23/113

COMMENTS

WORDPRESS: 1
  • comment-avatar
    Elrahman 1 min ago

    Barokallohu fik… Izin copy ustadz, syukron wa jazaakalloh