Sirah Nabi 26 – Dakwah di Dārul Arqām (Rumah al-Arqom)

Sirah Nabi 26 – Dakwah di Dārul Arqām (Rumah al-Arqom)

Dakwah di Dārul Arqām (Rumah al-Arqom)

Pada pasal yang lalu telah dibahas metode-metode yang digunakan orang-orang kafir dalam menghalangi dakwah Nabi ﷺ, yaitu: serangan secara psikis maupun secara mental. Dalam kondisi demikian, Rasūlullāh ﷺ tetap berusaha berdakwah dan pantang mundur. Diantara metode yang diambil oleh Nabi ﷺ untuk melanjutkan dakwah beliau adalah dengan mencari suatu tempat untuk bisa berkumpul agar pembinaan terhadap para sahabat tetap berjalan.

Rasūlullāh ﷺ akhirnya menentukan suatu rumah milik salah seorang shahābat bernama Al-Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumi radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, karena itu rumah beliau dikenal dengan Dārul Arqām. Saat itu para shahābat yang turut di dalam pertemuan kira-kira ada 60 orang, seperti yang disebutkan oleh para ahli sejarah. Yang menakjubkan adalah, orang-orang kafir Quraisy tidak mengetahui tempat ini, padahal kota Mekkah saat itu adalah kota yang kecil, tidak seperti sekarang. Penduduk Mekkah saling mengenal diantara mereka, masing-masing kabilah mengenal anggota kabilahnya. Sementara mereka tidak tahu dimana tempat bertemunya Nabi ﷺ dengan para shahābat beliau. Mereka tahu rumah al-Arqām, yaitu dekat Jabal Shafa, dekat dengan Ka’bah. Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa rumah ini dijadikan tempat pertemuan Nabi ﷺ dan para sahabat beliau. Pintu masuknya dari belakang sehingga banyak orang tidak memperhatikan. Inilah yang membuat rumah tersebut tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy.

Diantara alasan orang-orang kafir Quraisy tidak mengetahui pertemuan Nabi di rumah al-Arqom adalah:

Pertama : Al-Arqām bin Abil Arqām ini umurnya masih muda, sekitar 16 tahun dan dia belumlah dikenal dengan keislamannya. Sedangkan Rasūlullāh ﷺ sendiri tidak pernah menyebutkan siapa saja yang masuk Islam dari bangsa Quraisy. Orang-orang kafir Quraisy menyangka, apabila Rasūlullāh ﷺ bermaksud membuat markaz pertemuan, maka beliau akan menjadikan rumah salah satu pembesar shahābat, ternyata yang digunakan adalah rumah seorang pemuda yang tidak begitu dikenal.

Kedua : Al-Arqām bin Abil Arqām berasal dari Kabilah Bani Makzhum, kabilah yang sama dengan Abu Jahl. Kabilah ini telah diketahui sebagai kabilah yang sering bersaing dengan kabilahnya Rasūlullāh ﷺ (Bani Hāsyim atau Abdi Manaf). Di pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa diantara alasan yang membuat Abu Jahl tidak mau masuk Islam adalah, dia merasa tersaingi oleh Kabilah Abdi Manaf (kabilahnya Nabi. ﷺ) sedangkan kabilahnya paling membenci kabilahnya Nabi ﷺ. Karena itu, tidak pernah terbetik di dalam benak mereka bahwa rumah yang akan digunakan sebagai markas adalah rumah salah seorang dari Bani Makzhum.

Di sisi lain ini adalah resiko besar yang diambil oleh Al-Arqām. Karena apabila ketahuan oleh kabilahnya (Bani Makhzuum), maka dia bisa dibunuh oleh Abu Jahl, dimana saat itu Abu Jahl adalah pembesarnya Bani Makzhum.

Anehnya, selama bertahun-tahun, dari semenjak sekitar tahun 5 sampai 7 atau 8 kenabian, mereka tidak ada yang tahu di mana gerangan tempat Nabi ﷺ berkumpul. Nabi ﷺ berkumpul adalah dalam rangka mendidik para shahābat, memberi wejangan dan nasehat kepada mereka, dan aktivitas ini sangatlah penting. Karena seseorang butuh untuk bisa berkumpul dengan orang-orang Shalih, karena syaithan lebih menyukai bersama dengan orang yang sendirian. Jika seseorang bertemu dengan sahabatnya yang shalih, sedikit banyak akan membantu untuk mengingat akhirat. Teman yang sejati adalah teman yang senantiasa mengingatkan akan akhirat, bukan yang mengingatkan urusan dunia terus. Apalagi, kita perlu ketahui bahwa kita hidup harus penuh dengen perjuangan, dan tujuannya adalah akhirat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

COMMENTS

WORDPRESS: 0