Sirah Nabi 23 – Mulai Dakwah Secara Terang-terangan

Sirah Nabi 23 – Mulai Dakwah Secara Terang-terangan

DAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN

Rasūlullāh ﷺ berdakwah selama kurang lebih 3 tahun secara diam-diam dan beliau mulai dari orang-orang terdekat Beliau. Sampai akhirnya Allāh memerintahkan Rasūlullāh ﷺ untuk dakwah terang-terangan. Allah berfirman :

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang dekat.” (QS Asy-Syu’arā : 24)

Sebenarnya orang-orang Quraisy sudah mengetahui dakwah Nabi dan ada diantara mereka ada yang mengikuti ajaran Muhammad ﷺ. Mereka pernah melihat Bilāl shalat, akan tetapi orang-orang Quraisy saat itu tidak menganggap masalah. Karena pada zaman itu telah dijumpai beberapa orang yang berada di atas millah hanifiyyah (ajaran yang lurus), ajarannya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām yang tidak menyembah berhala dan tidak melakukan kesyirikan. Di antara orang-orang tersebut adalah Waraqah bin Naufal, Umayyah bin Abi Salt, Zaid bin ‘Amr bin Naufal, ‘Amr bin ‘Abasah as-Sulami, Shirmah bin Abi Anas, Kholid bin Sinan al-‘Abasi dan Quss bin Sa’idah. Mereka ini -para ahnaaf- terkadang berdakwah juga akan tetapi dakwah mereka pada akhirnya hilang. Bisa jadi pada awalnya kaum Quraisy juga menyangka bahwa dakwah Nabi sama seperti dakwah para ahnaaf yang hanya ramai sebentar namun kemudian redup dan sirna. Akan tetapi persangkaan mereka keliru. Mereka -para ahnaaf- bukanlah para Nabi, adapun Muhammad ﷺ, beliau adalah utusan Allah.

Kaum Quraisy semakin menganggap dakwah Muhammad ﷺ ini sebagai masalah ketika Rasūlullāh ﷺ mendakwahkan dan menyeru mereka untuk meninggalkan kesyirikan secara terang-terangan. Mereka mulai terusik dan merasa mulai diatur-atur. Adapun saat dakwah masih sembunyi-sembunyi dan masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, mereka menganggapnya sebagai suatu hal yang tidak mengapa dan tidak masalah. Namun, ketika Rasūlullāh ﷺ mulai berdakwah secara jahriyyah (terang-terangan) maka mulailah dianggap suatu masalah, dan mereka mulai melakukan penentangan.

Disebutkan bahwa di akhir dakwah sirriyah (diam-diam), ada sekitar 50 sampai 60[1] orang yang telah masuk Islam. Namun Nabi ﷺ tidak mau menyebutkan nama-nama mereka, untuk menjaga keamanan dan keselamatan mereka, karena diantara mereka ada orang-orang miskin yang jika ketahuan maka mereka akan dimusuhi.

‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami berkata tentang kisah Islamnya :

كُنْتُ وَأَنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَظُنُّ أَنَّ النَّاسَ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَأَنَّهُمْ لَيْسُوا عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَعْبُدُونَ الْأَوْثَانَ، فَسَمِعْتُ بِرَجُلٍ بِمَكَّةَ يُخْبِرُ أَخْبَارًا، فَقَعَدْتُ عَلَى رَاحِلَتِي، فَقَدِمْتُ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَخْفِيًا جُرَءَاءُ عَلَيْهِ قَوْمُهُ، فَتَلَطَّفْتُ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَيْهِ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ لَهُ: مَا أَنْتَ؟ قَالَ: «أَنَا نَبِيٌّ»، فَقُلْتُ: وَمَا نَبِيٌّ؟ قَالَ: «أَرْسَلَنِي اللهُ»، فَقُلْتُ: وَبِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ، قَالَ: «أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ، وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ»، قُلْتُ لَهُ: فَمَنْ مَعَكَ عَلَى هَذَا؟ قَالَ: «حُرٌّ، وَعَبْدٌ»، قَالَ: وَمَعَهُ يَوْمَئِذٍ أَبُو بَكْرٍ، وَبِلَالٌ مِمَّنْ آمَنَ بِهِ، فَقُلْتُ: إِنِّي مُتَّبِعُكَ، قَالَ: «إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ يَوْمَكَ هَذَا، أَلَا تَرَى حَالِي وَحَالَ النَّاسِ، وَلَكِنِ ارْجِعْ إِلَى أَهْلِكَ فَإِذَا سَمِعْتَ بِي قَدْ ظَهَرْتُ فَأْتِنِي»،

“Pada masa jahiliyah dulu, saya mengira bahwa manusia ketika itu berada dalam kesesatan. Mereka tidaklah berada di atas sesuatu (keyakinan) yang baik, mereka saat itu menyembah berhala. Lalu saya mendengar tentang sosok seorang laki-laki di Makkah yang sedang menyampaikan beberapa kabar berita. Kemudian aku duduk di atas hewan tungganganku. Saya mendatangi Rasulullahﷺ, ternyata beliau sedang bersembunyi karena kaumnya berani (mengganggu)nya. Akupun masuk diam-diam hingga aku menemui beliau di Mekah. Maka aku bertanya kepadanya, “Siapa Anda?” Beliau menjawab: “Seorang Nabi.” Aku bertanya lagi, “Apa itu Nabi?” Beliau menjawab: “Allah telah mengutusku.” Aku bertanya lagi, “Engkau diutus dengan apa?” Beliau menjawab: “Aku diutus untuk menyambung tali silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah ditauhidkan dan tidak dipersekutukan.” Lalu aku bertanya lagi, “Siapakah orang yang menjadi pengikut Anda dalam perkara ini (Din Islam)?” Beliau menjawab: “Seorang yang merdeka dan juga seorang budak”. Dan bersama beliau tatkala itu Abu Bakar dan Bilal radliallahu ‘anhuma dari orang-orang yang telah beriman kepada beliau. Aku berkata kepada beliau, “Aku akan mengikutimu”. Beliau berkata, “Sesungguhnya engkau tidak mampu menjadi pengikutku pada hari sekarang ini. Tidakkah engkau lihat kondisiku dan kondisi orang-orang, akan tetapi pulanglah kamu ke keluargamu, dan jika engkau telah mendengar bahwa aku telah dimenangkan maka datangilah aku!”. (HR Muslim no 832)

Di kisah sini, Nabi ﷺ tidak menyebutkan semua sahabat yang masuk Islam, walaupun akhirnya ketahuan sehingga sebagiannya ada yang dibunuh dan ditangkap. Padahal secara logika, apabila Nabi ﷺ mengatakan “Orang yang sudah masuk Islam sudah 50 atau 60 orang”, maka bisa membuat ‘Amr tertarik. Tetapi Rasūlullāh ﷺ tidak mengenal ‘Amr karena ‘Amr adalah orang di luar Mekah. Ternyata ‘Amr tertarik dengan Islam dan ia masuk Islam lalu ingin menjadi pengikut Nabi ﷺ, tetapi Nabi ﷺ melarangnya dan dia diperintahkan untuk pulang ke kampungnya. Alasan Nabi ﷺ melarang ‘Amr mengikutinya di Mekah adalah karena ‘Amr bin ‘Abasah bukanlah penduduk Mekah. Apabila dia disakiti tidak akan ada yang bisa menolongnya. Sehingga akhirnya dia pulang ke kaumnya dan kaumnya menyambut dakwahnya sehingga banyak yang masuk Islam.

Ketika Allāh memerintahkan Rasūlullāh ﷺ untuk berdakwah secara terang-terangan, ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā mengisahkan,

لَمَّا نَزَلَتْ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ} قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الصَّفَا، فَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، يَا صَفِيَّةُ بِنْتَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، سَلُونِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتُمْ»

“Saat turun ayat wa andzir ‘asyīratakal aqrabīn (Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang dekat), dengan serta merta Rasūlullāh ﷺ langsung berdiri di atas bukit As-Shafa lalu ia berkata:

“Wahai Fāthimah putri Muhammad, wahai Shafiyyah bintu ‘Abdil Muththalib, wahai anak-anak ‘Abdul Muththalib, sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian (di akhirat) sama sekali, jika ingin harta maka mintalah kepadaku apa yang kalian mau.” (HR Muslim no 205)

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu beliau berkata :

لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ}، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا، فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ، فَقَالَ: «يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي هَاشِمٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا»،

“Saat turun ayat wa andzir ‘asyīratakal aqrabīn (Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang dekat), maka Rasūlullāh ﷺ menyeru orang-orang Quraisy, lalu merekapun berkumpul, Nabi pun memanggil mereka secara umum dan secara khusus. Nabi menyeru, “Wahai Bani (anak keturunan) Ka’ab bin Luay, selamatkan diri kalian dari neraka Jahannam! Wahai Bani Murrah bin Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari neraka Jahannam! Wahai Bani ‘Abdu Syamsy, selamatkanlah diri kalian dari neraka Jahannam! Wahai Bani ‘Abdu Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka Jahannam! Wahai Bani Hāsyim, selamatkanlah diri kalian dari Jahannam! Wahai Bani ‘Abdul Muththalib, selamatkanlah diri kalian dari neraka Jahannam! Wahai Fāthimah, selamatkanlah dirimu dari neraka Jahannam! karena sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian, hanya saja kalian punya hubungan kerabat denganku dan aku akan membasahinya (menyambungnya).”  (HR Muslim no 204)

Rasūlullāh ﷺ menyebutkan nama-nama dari yang umum lalu semakin khusus (spesifik)

Dalam riwayat yang lain :

يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ المُطَّلِبِ لاَ أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib, aku tidak bisa membantumu sama sekali dari Allah (jika Allah menghendaki keburukan kepadamu -pen), Wahai Shafiyyah bibinya Rasulullah, aku tidak bisa membantumu sama sekali dari Allah, wahai Fathimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa yang kau sukai dari hartaku, ak tidak bisa membantumu sama sekali dari Allah” (HR Al-Bukhari no 4771)

Juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas beliau berkata :

لَمَّا نَزَلَتْ: {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}، صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الصَّفَا، فَجَعَلَ يُنَادِي: «يَا بَنِي فِهْرٍ، يَا بَنِي عَدِيٍّ» – لِبُطُونِ قُرَيْشٍ – (وفي رواية : يَا صَبَاحَاهْ) حَتَّى اجْتَمَعُوا فَجَعَلَ الرَّجُلُ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَخْرُجَ أَرْسَلَ رَسُولًا لِيَنْظُرَ مَا هُوَ، فَجَاءَ أَبُو لَهَبٍ وَقُرَيْشٌ، (وفي رواية : قَالُوا: مَا لَكَ؟ ) فَقَالَ: «أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟» قَالُوا: نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا (وفي رواية : مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا)، قَالَ: «فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ» فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: تَبًّا لَكَ سَائِرَ اليَوْمِ، أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا؟ فَنَزَلَتْ: {تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ}

Tatkala turun firman Allāh “Berilah peringatan kepada keluarga yang terdekat”, Nabi ﷺ naik di Jabal Shafa kemudian beliau pun menyeru, “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Adiy” (dalam riwayat yang lain: “Yā shabāhāh[2]“). Hingga akhirnya mereka berkumpul, sampai-sampai jika ada seseorang diantara mereka yang tidak bisa hadir maka ia mengirimkan untusan untuk melihat apa yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan kaum Quraisy (dalam riwayat yang lain : mereka berkata, “Ada apa denganmu?”). Kemudian Nabi berkata, “Bagaimana menurut kalian jika kukabarkan kepada kalian ada sekelompok tentara berkuda di lembah hendak menyerang kalian tiba-tiba, apakah kalian mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Iya, kami tidak pernah mengetahui darimu kecuali kejujuran” (dalam riwayat yang lain: “Kami tidak pernah mendapatimu berdusta sama sekali”). Lalu Nabi berkata, “Jika demikian, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian di hadapan siksa yang pedih.” Maka Abu Lahab pun berkata, “Celaka kamu Muhammad sepenuh hari, apakah hanya karena ini kamu mengumpulkan kami?” Lantas turunlah firman Allah: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (QS Al-Masad : 1-2) (HR Al-Bukhari no. 4770, 4801, 4971 dan Muslim no. 208)

Orang-orang kafir Quraisy dahulu ketika bermaksud memperingatkan suatu bahaya, mereka naik ke atas gunung kemudian mereka membuka baju mereka lalu melemparkan pasir ke wajah mereka sambil berteriak Yā sabāhāh. Rasūlullāh ﷺ menggunakan metode tersebut tetapi beliau tidak membuka baju dan tidak juga melempar pasir ke kepalanya, karena ini adalah adat Jahiliyyah dan bertentangan dengan syari’at Islam. Adapun adat yang tidak bertentangan dengan syari’at maka tetap dipertahankan dan dimanfaatkan oleh Nabi (Lihat Fiqh As-Siroh hal 156)

Para ulama menjelaskan tentang bolehnya mengikuti tradisi jika tradisi tersebut benar dan tidak bertentangan dengan syari’at serta ada manfaatnya. Apalagi hukum asal tradisi adalah mubah, hingga ada dalil yang mengharamkannya. Bahkan lebih dari itu, kita boleh mengikuti tradisi orang kafir jika tradisinya tersebut memang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syari’at. Hal ini tidak dikatakan tasyabbuh. Contohnya saat Perang Khandaq, dimana kaum muslimin dikepung oleh 10 ribu pasukan, persekutuan antara orang Arab Badui, suku Quraisy, dan orang-orang munafiq. Saat itu Salmān Al-Fārisi memberi ide untuk membuat khandaq (parit) yang besar (kurang lebih dengan lebar 4 m dan dalam 4 m) agar tidak bisa dilewati oleh kuda. Ini adalah metode dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang Persia saat mereka terdesak dalam perang. Karena ini bermanfaat, maka metode ini diterima oleh Nabi ﷺ.

Demikian pula ketika Rasūlullāh ﷺ mengirim surat kepada Hieraklius (kaisar Romawi) dan Raja Persia. Saat surat tersebut akan dikirim, para sahabat menginformasikan bahwa surat itu tidak akan dibaca oleh raja kecuali apabila diberi tanda cap. Karena itulah Rasūlullāh ﷺ membuat cincin yang pada cincin tersebut tertulis “Muhammad Rasūlullāh”. Rasūlullāh ﷺ mengikuti saran untuk membuat cincin, karena ada maslahatnya, yaitu para raja tersebut tidak mau menerima surat kecuali ada capnya. Ini merupakan tradisi duniawi. Selama bermanfaat maka ini tidaklah dikatakan tasyabbuh. Tetapi kalau tidak bermanfaat dan hanya sekedar berhura-hura maka inilah tasyabbuh.

Anas bin Malik berkata:

لَمَّا أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الرُّومِ، قَالُوا: إِنَّهُمْ لاَ يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلَّا مَخْتُومًا، ” فَاتَّخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى وَبِيصِهِ، وَنَقْشُهُ: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

“Tatkala Nabi ﷺ hendak menulis surat kepada Romawi maka dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya mereka tidak akan membaca surat kecuali jika distempel”. Nabi pun memakai cincin dari perak, maka seakan-akan aku melihat kepada putihnya cincin tersebut di tangannya, dan terpahatkan di situ “Muhammad Rasulullah”.” (HR Al-Bukhari no 2938 dan Muslim no 2092)

Untuk itulah Rasūlullāh ﷺ tidak menolak untuk memakai tradisi Arab jahiliyyah ketika ingin memanggil masyarakat. Yaitu bereseru dengan ucapan “Ya Shabahah”.

Dalam kisah ini turun surat al-Masad dimana Allāh tidak pernah memvonis orang Quraisy masuk neraka kecuali Abū Lahab. Abū Jahal saja tidak disebutkan secara spesifik. Adapun Abū Lahab di awal-awal dakwah sudah divonis akan masuk neraka padahal Abu Lahab masih hidup.

Dan ternyata vonis Allah itu benar, karena Abu Lahab ternyata tidak akan beriman sampai mati. Dan ini merupakan mukjizat Al-Qur’an, karena bisa saja Abu Lahab menyatakan dirinya masuk Islam untuk membuktikan bahwa surat al-Masad salah. Akan tetapi ternyata hal ini tidak terjadi dan ia mati dalam kondisi musyrik. Bahkan Abu Lahab pun tidak berbohong dengan mengaku Islam dalam rangka mendustakan Muhammad. Padahal bisa saja ia berbohong bahwa ia telah masuk Islam, maka hancurlah dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan berbohong masuk Islampun dicegah oleh Allah. Padahal di zaman Nabi ﷺ banyak orang Quraisy yang awalnya memusuhi Nabi namun Allah tidak memvonis mereka masuk neraka karena akhirnya mereka masuk Islam di kemudian hari.

Faedah dan Hikmah Perintah Allah Untuk Mendakwahi Kerabat Dekat

Para ulama menyebutkan hikmahnya Allāh menyuruh Nabi mendakwahi kerabat dekat, diantaranya adalah :

⑴ Seorang manusia secara tabi’at lebih mencintai kerabatnya.

⑵ Umumnya karib kerabat lebih mudah mendengar dan mau menerima dakwah.

⑶ Karib kerabat memiliki hak lebih besar dibanding orang lain untuk kita dakwahi.

⑷ Apabila  karib kerabat menerima dakwah, maka akan membuat dakwah semakin kokoh.

Perhatikanlah kisah Nabi Luth ketika dimusuhi kaumnya:

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ

Luth berkata: “Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).” (QS Hud : 80)

Begitu juga dengan kisah Nabi Syu’aib yang akan dirajam oleh kaumnya lalu mereka berkata,

قَالُوا يَاشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ (91) قَالَ يَاقَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Mereka berkata: “Hai Syu´aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami”. Syu´aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud : 91-92)

Inilah diantara hikmah Nabi ﷺ  berasal dari kabilah yang kuat (Bani Hāsyim), kabilah yang saat itu paling disegani di antara orang-orang Quraisy, sehingga banyak dari Bani Hasyim yang membela Nabi Muhammad bahkan saat mereka masih dalam kekufuran, diantaranya adalah Abū Thālib, yang meninggal dalam keadaan kafir namun tetap membela Rasūlullāh ﷺ.

FOOTNOTE:

[1] Diantaranya adalah  -yaitu selain dari para sahabat yang telah disebutkan di atas- :

  • Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, nama beliau adalah : عَامِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْجَرَّاحِ بْنِ هِلَالِ بْنِ أُهَيْبِ بْنِ ضَبَّةَ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ فِهْرٍ
  • Abu Salamah, nama beliau adalah : عَبْدُ اللَّهِ ابْن عَبْدِ الْأَسَدِ بْنِ هِلَالِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرِ بْنِ مَخْزُومِ بْنِ يَقَظَةَ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْن لُؤَيٍّ
  • Al-Arqam bin Abil Arqam, nama beliau adalah : عَبْدُ مَنَافِ بْنِ أَسَدٍ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ مَخْزُومِ بْنِ يَقَظَةَ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ ابْن لُؤَيٍّ
  • ‘Utsman bin Madz’un, nama beliau adalah : عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ وَهْبِ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ جُمَحَ بْنِ عَمْرِو ابْن هُصَيْصِ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيّ
  • Kedua saudara ‘Utsman bin Madzh’uun, yaitu Qudamah bin Madzh’un dan ‘Abdullah bin Madzh’un
  • عُبَيْدَةُ بْنُ الْحَارِثِ بْنُ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ عَبْدِ اللَّهِابْن قُرْطِ بْنِ رِيَاحِ بْنِ رَزَاحِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • Istri Sa’id bin Zaid yang merupakan saudari perempuan ‘Umar bin al-Khattha Nama beliau : فَاطِمَةُ بِنْتُ الْخَطَّابِ بْنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُرْطِ بْنِ رِيَاحِ بْنِ رَزَاحِ بْنِ عَدِيِّ ابْن كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • Asma’ bintu Abi Bakar
  • ‘Aisyah bintu Abi Bakar dan tatakala itu beliau masih kecil
  • Khabbab bin al-Arat, ia berasal dari kabilah Taim, namun ada yang berpendapat bahwa ia dari kabilah Khuza’ah
  • Umair bin Abi Waqqash, yaitu saudara Sa’ad bin Abi Waqqash
  • عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ شَمْخِ بْنِ مَخْزُومِ بْنِ صَاهِلَةَ بْنِ كَاهِلِبْن الْحَارِثِ بْنِ تَمِيمِ بْنِ سَعْدِ بْنِ هُذَيْلٍ
  • Mas’ud bin Al-Qarry, namanya adalah : مَسْعُودُ بْن رَبِيعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَعْدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ حَمَالَةَ بْنِ غَالِبِ بْنِ مُحَلِّمِ بْنِ عَائِذَةَ ابْن سُبَيْعِ بْنِ الْهُونِ بْنِ خُزَيْمَةَ مِنْ الْقَارَّةِ
  • سَلِيطُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ شَمْسِ بْنِ عَبْدِ وُدِّ بْنِ نَصْرِ ابْن مَالِكِ بْنِ (حِسْلِ بْنِ) عَامِرِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ
  • Saudara Salith bin ‘Amr yaitu حَاطِبُ بْنُ عَمْرٍو
  • عَيَّاشُ بْنُ أَبِي رَبِيعَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرِ ابْن مَخْزُومِ بْنِ يَقَظَةَ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • Istri beliau yang bernama : أَسَمَاءُ ِنْتُ سَلَامَةَ بْن مُخَرَّبَةِ التَّمِيمِيَّةُ
  • خُنَيْسُ بْنُ حُذَافَةَ بْنِ عَدِيِّ بْنِ سَعْدِ بْنِ سَهْمِ بْنِ عَمْرِو ابْن هُصَيْصِ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ
  • عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَحْشِ بْنِ رِئَابِ بْنِ يَعْمُرَ بْنِ صَبِرَةَ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَبِيرِ بْنِ غَنْمِ بْنِ دُودَانَ بْنِ أَسَدِ بْنِ خُزَيْمَةَ
  • Saudara beliau yaitu Abu Ahmad bin Jahsy
  • Ja’far bin Abi Thalib
  • Istri beliau yaitu Asma’ bintu ‘Umais
  • حَاطِبُ بْنُ الْحَارِثِ بْنِ مَعْمَرِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ وَهْبِ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ جُمَحَ بْنِعَمْرِو بْنِ هُصَيْصِ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • Istri Hathib bin al-Harits yang bernama : فَاطِمَةُ بِنْتُ الْمُجَلَّلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسِ بْنِ عَبْدِ وُدِّ بْنِ نَصْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ حِسْلِ بْنِ عَامِرِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ
  • Saudara Hathib bin Al-Harits yang bernama حَطَّابُ بْنُ الْحَارِثِ
  • Istri beliau yang bernama : فُكَيْهَةُ بِنْتُ يَسَارٍ
  • مَعْمَرُ بْنُ الْحَارِثِ ابْن مَعْمَرِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ وَهْبِ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ جُمَحَ بْنِ عَمْرِو بْنِ هُصَيْصِ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • السَّائِبُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ وَهْبٍ
  • الْمُطَّلَبُ بْن أَزْهَرَ بْنِ عَبْدِ عَوْفِ بْنِ عَبْدِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • Istri Al-Muthallab yang bernama :
  • رَمْلَةُ بِنْتُ أَبِي عَوْفِ بْنِ صُبَيْرَةَ بْنِ سَعِيدِ (بْنِ سَعْدِ) بْنِ سَهْمِ بْنِ عَمْرِو بْنِ هُصَيْصِ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • النَّحَّامَ, dan namanya adalah : نُعَيْمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَسِيدٍ، أَخُو بَنِي عَدِيِّ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ, ia adalah seorang budak yang hitam yang dibeli oleh Abu Bakar As-Shiddiq
  • خَالِدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ بْنِ أُمَيَّةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • Istri beliau yang bernama أَمِينَةُ بِنْتُ خَلَفِ بْنِ أَسَعْدَ بْنِ عَامِرِ بْنِ بَيَاضَةَ بْنِ سُبَيْعِ بْنِ جُعْثُمَةَ بْنِ سَعْدِ بْنِ مُلَيْحِ بْنِ عَمْرٍو، مِنْ خُزَاعَةَ
  • حَاطِبُ بْنُ عَمْرِو بن عبد شمس بْنِ عَبْدِ وُدِّ بْنِ نَصْرِ بْن مَالِكِ بْنِ حِسْلِ بْنِ عَامِرِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ
  • Abu Hudzaifah, dan nama beliau adalah : مُهَشَّمٌ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ ابْن قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ
  • وَاقِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بن عبد منَاف ابْن عَرِينَ بْنِ ثَعْلَبَةَ بْنِ يَرْبُوعِ بْنِ حَنْظَلَةَ بْنِ مَالِكِ بْنِ زَيْدِ مَنَاةَ بْنِ تَمِيمٍ
  • Khalid, ‘Amir, ‘Aqil, dan Iyas, yang seluruhnya adalah putra-putra dari الْبَكِيرِ بْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ نَاشِبِ بْنِ غَيْرَةَ بْنِ سَعْدِ بْنِ لَيْثِ بْنِ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ مَنَاةِ بْنِ كِنَانَةِ
  • ‘Ammar bin Yasir
  • Shuhaib bin Sinan, dan beliau juga dikenal dengan Shuhaib maula Abdillah bin Jud’an, dan dikenal juga dengan Shuhaib ar-Ruumi. Beliau dikenal demikian bukan karena beliau orang yang berdarah Romawi, akan tetapi beliau dahulunya adalah tawanan di negeri Romawi lalu beliau dibeli dari kaum Romawi.

Demikianlah nama-nama para sahabat yang pertama kali masuk Islam sebagaimana yang disebutkan dalah Siroh Ibnu Hisyam 1/252-262.

Sengaja penulis menukil seluruh nama-nama sahabat diatas agar kita tidak melupakan jasa mereka sebagai perintis dalam memeluk agama Islam yang mulia ini.

[2] “Yā shabāhāh” adalah kata yang digunakan oleh orang-orang Quraisy sejak zaman Jahiliyah untuk mengumpulkan orang-orang, terutama kalau ada bahaya yang harus diingatkan.

COMMENTS

WORDPRESS: 0