Tabi’in Terbaik “Uwais Al-Qoroni”

4114

Berkata Syaikh Abdulmalik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah”[17]

Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.

Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan : “Ini Ayyub”[18]

Berkata Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”[19]

Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”[20]

Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya’”[21]

Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”[22]

Berkata Hammad: “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya: “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab:”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata :”Ya Allah sesungguhnnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.”[23]

Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr: “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata :”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata :”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak :”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa :” Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata :”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.”[24]

Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. Allahu Akbar..inilah akhlak salaf[25]. Namun banyak orang yang terbalik…mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macam cara.

Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata :”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata :

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”[26]

Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata :”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya :”Apa ini”, lalu dijawab :”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah”

Berkata Ibnu ‘Aisyah :”Ayahku berkata kepadaku :”Saya mendengar penduduk Madinah berkata :”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain””[27]

Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.

Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari :”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata :

وَاللهِ لَرَكْعَةٌ أُصَلِّيهَا فِي جَوْفِ اللَّيْلِ فِي السِّرِّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّي اللَّيْلَ كُلَّهَا ثُمَّ أَقُصُّهُ عَلَى النَّاسِ

“Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku solat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia”[28]

Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhhnya (kecuali yang dirahmati oleh Allah)?? …., Allahu Al-Musta’an, sudah amalannya sedikit, namun diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia mengetahuinya). Ada yang berkata :”Dakwah saya disana…, disini…”, ada juga yang berkata:”Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian..” (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan. Atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia bahwa dia adalah da’i favorit), ada yang berkata: “Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia. Lihatlah….Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang bisa mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang yang bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin sekarang justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau dakwahnya, atau….

6. Berkata Imam An-Nawawi, “Hadits ini menunjukan akan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua”[29]

Uwais di sisi Allah memiliki kedudukan yang tinggi dan hal yang menyebabkan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepada ibunya tersebut. Sikapnya yang berbakti kepada ibunya menjadikannya seorang yang dikabulkan doanya. Nabi tidak menyebutkan amalan lain yang dilakukan oleh Uwais kecuali bahwasanya ia berbakti kepada ibunya. Hal ini menunjukan sikapnya yang berbakti kepada ibunya merupakan salah satu sebab utama yang menjadikannya menjadi tabi’in yang terbaik. Wallahu A’lam.

7. Tidak berarti seorang yang berilmu pasti lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang kurang berilmu. Terkadang manusia tertipu, tatkala ia telah memiliki ilmu syar’i maka dia memandang bahwa dirinya lebih mulia di sisi Allah daripada orang lain yang tidak memiliki ilmu setinggi ilmunya. Dia lupa bahwasanya jalan-jalan untuk memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah bukan hanya ilmu. Bisa jadi seseorang memang kurang memiliki ilmu akan tetapi ia meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah dengan amalan-amalan ibadah yang lain. Bisa jadi orang tersebut lebih baik daripada dia dalam ibadah-ibadah hati. Sebagaimana Uwais Al-Qoroni beliau bukanlah seorang tabi’in yang masyhur dengan ilmu sebagaimana Ibnul Musayyib, akan tetapi lihatlah… baktinya kepada ibunya serta keikhlasannya yang luar biasa dengan menyembunyikan amalan-amalan shalehnya serta benci akan popularitas menjadikan beliau adalah tabi’in yang paling afdhol di sisi Allah. Wallahu A’lam.

Oleh karena itu seseorang yang telah berilmu atau bisa beribadah dengan baik janganlah sampai tertipu dan kagum terhadap dirinya lalu memandang bahwa dirinya lebih afdol dan lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dari pada orang lain yang kurang berilmu. Ini merupakan salah satu bentuk zuhud yang diperintahkan oleh Nabi untuk diamalkan.

Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata, “Dikatakan kepada Al-Hasan (Al-Bashri) atau yang lainnya, “Siapakah orang yang zuhud?”. Maka beliau berkata, هُوَ الَّذِي إِذَا رَأَى غَيْرَهُ ظَنَّ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنْهُ “Dia adalah orang yang melihat orang lain dan menyangka orang tersebut lebih baik daripada dirinya”. Ini merupakan makna yang agung yang dikembangkan oleh Al-Hasan dimana dia berkata, “Orang yang zuhud adalah yang menyatakan orang lain lebih mulia daripada dirinya”. Yaitu jika ia melihat seseorang dari kaum muslimin maka ia memandang orang tersebut lebih mulia daripada dirinya –yaitu di sisi Allah-. Dan hal ini berarti (hatinya) tidak terikat dengan dunia, ia memandang rendah dirinya di sisi Allah, ia tidak merasa tinggi dihadapan orang-orang. Hal ini hanya bisa timbul pada orang yang diberikan karunia oleh Allah lalu memenuhi hatinya dengan harapan terhadap akhirat serta jauh dari keterikatan dengan dunia…”[30]

18 COMMENTS

  1. assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
    afwan mau tanya kalau ebook kok tulisan arabnya kosong? bagai mana cara isinya. jazakumullah

  2. Dlm hadits diceritkan bahwa ummat (sahabat) adalah ummat terbaik. Tp kalau mengkaji sejarah, menelaah alquran dan hadits justru banyak sahabat yg tidak baik (melenceng), hanya sedikit saja yg masih ttp mengikuti ajaran Rasulullah. Dan saya gembira ktk membaca Tabi’in yg terbaik ini, masih ada peluang bg kita menjd ummat terbaik.

    • akhi gun yg dirahmati alloh subhanahu wata ala ,, sesungguhnya alloh tlh mengatakan umat terbaek adl 3 generasi , para sahabat ,taiin n tabiut tabiin , jg tak mgk tabiin melebihi para sahabt ,walaupun tabiin bnyk beramal ,pd saat umar bin abdul aziz mnjd khalifah , bliau sgt byk beramal mamperluas madinah, tp para sahabat ,amalan sahabat bgaikan debu dlm hidung yg berjihad dijalan alloh lbh tinggi /mulia amalnnya , moga qt bs mncontoh / mentauladani para sahabat , dlm beribadah , beramal at dlm akhlaknya .barokallohu fiik

  3. asslmu’alaikum akh gugun, semoga ALlah memberi hidayahNya kepada kita semua. sesungguhnya perkataan antum “Tp kalau mengkaji sejarah, menelaah alquran dan hadits justru banyak sahabat yg tidak baik (melenceng), hanya sedikit saja yg masih ttp mengikuti ajaran Rasulullah” ana rasa perkataan yang perlu dicek kembali. karena kami yang belajar khusus masalah agama dan sering mengkaji al-Qur’an dan hadits2 Nabi malah mendapati bagaimna sikap luar biasa para sahabat yang sangat tinggi iman mereka
    jadi kalau maksud antum bahwa antum telah mengkaji al-qur’an dan hadits-hadits nabi…., maka ana agak heran, maksud antum ayat2 mana dalam al-qur’an yang menunjukan para sahabat melenceng??
    kalau maksud antum hadits-hadits nabi, maka terlalu banyak hadits2 nabi yang menunjukan keutamaan para sahabat. sebgai contoh misalnya dalam shahih Al-Bukahori ada bab khusus tentang keutamaan para sahabat.
    Yang lebih menganehkan lagi perkataan antum bahwa “Hanya sedikit yang tidak melenceng dari para sahabat”
    Ataukah antum adalah orang yang suka menelaah sejarah?, maka alhamdulillah, hanya saja ana mengingatkan bahwa kebanyakan sejarah yang berkaitan dengan para sahabat -terutama yang disampaikan oleh orang-orang syi’ah- maka sejarah tersebut tidak benar adanya. maka riwayat sejarah apapun yang menceritakan tentang kejelekan para sahabat maka harus diteliti terlebih dahulu sanadnya, apakah shahih atau tidak.
    terlebih lagi Allah telah memunji para sahabat dalam Al-Qur’an, apalagi pujian nabi terhadap mereka sangatlah banyak.
    baarokallhu fiik

    • Sebagaimana yang dikatakan ustadz. Uwais Al-Qarni adalah Tabi’in terbaik, tapi bukan manusia terbaik dari umat Muhammad. Karena Nabi sholallahu Alaihi wa sallam pernah berkata bahwa Umat terbaik adalah yang hidup bersama beliau (yakni sahabat), dan sahabat terbaik adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq

  4. @ INA
    wa’alaikumussalam warahmatullahi wa baraakatuh
    Tulisan arab yang tidak tertampil biasanya disebabkan krn perbedaan encoding solusinya gunakan encoding yang standar spt utf-8, utk kasus di atas mungkin bisa dicoba cara ini, tulis karakter arabnya kemudian copy paste ke notepad->save as (beri nama file) -> pada kolom paling bawah pilih utf-8

  5. ustadz mengenai pasukannya bgmn ? ceritanya ada kelanjutannya ngak ? afwan ana penasaran. mengenai sabda rasululah diatas tentan pasukan yang dibawa oleh uwais ra. mohon dilanjut. kalau sudah ada lanjutannya tolong kabari via e-mail

  6. Assalamualaikum Ustadz? benar gak sih kalau negara ini menggunakan UUD itu bisa dikatakan togut? soalnya ana sering baca tulisa2 di facebook mereka banyak yg menghujat pemimpin yg ada dinegara kita ini.

  7. yang ana tahu semua imam dari empat madzhab begitu memuliakan para sahabat, hanya orang syiah rofidoh yang membenci mereka.kalau ada orang muslim indo yang benci para sahabatya paling kelompok mereka. maklum sekarang di indonesia banyak pengikut mereka.

  8. As salamu’alaikum wr, wb

    Baarakallahufikum
    Kepada Ustadz Firanda,

    Alhamdulillah setelah saya mendengarkan syiar2 Ustadz di radio roja dan tulisan2 Ustadz di website, saya sangat tertarik olehnya. maka dari itu dengan segala hormat boleh kiranya saya di bimbing dalam rangka pemenuhan kewajiban saya sebagai hamba Allah SWT ang sedang taraf belajar dalam mendapatkan ilmu2 yang bermanfaat dan tentunnya tidak lain guna menghidupkan kembali sunnah2 Rosululloh SAW.

    Demikian yang dapat saya sampaikan sebelum dan sesudahnya diucapkan terima kasih.

    Jazzaakallahu khairan
    Wassalamu’alaikum wr,wb

    Hormat saya,
    Irawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here