Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) Terhadap Ahlul Bid’ah (Seri 6): Tahdziir dan Tabdii’ Berantai Ala MLM (Awas Sururi!!)

2832
dna

Tahdziir BerantaiFatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafidhohullah tentang At-Turoorts

Fatwa yang hilang….

Fenomena yang sangat menyedihkan yang didapati oleh penulis dari sebagian saudara-saudara kita yang hobinya mentahdzir dan menghajr adalah kurang jujur dalam menebarkan fatwa. Padahal sudah berapa banyak ustadz yang telah mereka gelari dengan ‘Al-Kadzdzaab/pendusta”. Akan tetapi sikap kurang jujur ini akhirnya mereka lakukan sendiri. Fenomena yang menyedihkan tersebut adalah fenomena “Menyembunyikan Fatwa”. Jika mereka mau jujur dan gentleman tentunya mereka menampilkan fatwa yang juga berseberang dengan mereka, apalagi yang bertanya adalah mereka sendiri.

Imam Waqii’ pernah berkata :

أَهْلُ الْعِلْمِ يَكْتُبُوْنَ مَا لَهُمْ وَمَا عَلَيْهِمْ وَأَهْلُ الأَهْوَاءِ لاَ يَكْتُبُوْنَ إِلاَّ مَا لَهُمْ

“Para ahli ilmu mereka menuliskan apa yang mendukung mereka dan apa yang bertentangan dengan mereka, adapun ahlul ahwaa (pengikut hawa nafsu) maka mereka tidak menuliskan kecuali yang mendukung mereka” (Sunan Ad-Daaruquthni 1/27 no 36)

Dahulu tatkala musim jihad di Ambon maka sebagian saudara kita ada yang kurang percaya dengan fatwa Syaikh Al-‘Utsaimin yang disebarkan oleh Yayasan As-Sofxxx di Jakarta yang menyatakan bahwa jihad di Ambon bukanlah fardu ‘ain, karena yayasan tersebut adalah yayasan bid’ah (menurut mereka). Maka akhirnya sebagian mereka bertanya langsung kepada syaikh Al-‘Utsaimin dengan pertanyaan yang lengkap dan panjang lebar dan sangat rinci. Namun ternyata jawaban syaikh Al-‘Utsaimin adalah sama, dan akhirnya fatwa tersebut hilang tidak terlihat sama sekali.

Yang penulis bahas di sini bukanlah hukum jihad di Ambon, bisa jadi fatwa syaikh Al-‘Utsaimiin adalah salah dan keliru, akan tetapi sikap saudara-saudara kita yang terlewat batas hingga akhirnya yang tidak menyatakan jihad fardhu ‘ain ditahdziir, bahkan diantara mereka ada yang berani mengecap orang yang tidak berangkat jihad sebagai munafiq!!???. Mereka tidak memandang bahwasanya khilaf tentang hukum jihad di Ambon adalah khilaf yang mu’tabar karena syaikh Robii’ dan syaikh Muqbil telah diselisihi oleh mayoritas ulamaa kibaar, sehingga mereka akhirnya membangun baroo’ bagi orang yang menyelisihi mereka. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang mengikuti pendapat syaikh Al-‘Utsaimiin yang telah mereka tanyakan sendiri..??!!

Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!. lantas apakah orang yang tidak mengambil dana akan tetapi tidak mentahdzir orang yang mengambil dana juga dihukumi dengan hukum yang sama yaitu sururi??!! Inilah permasalahan kita, tahdzir gaya MLM yang telah dilakukan oleh saudara-saudara kita.

Tersebutlah ada seorang ustadz fadhil –hafdzohullah- yang getol membahas dimana-mana tentang sururi, dan menuduh saudara-saudaranya sebagai sururi. Ketika sampai kepada beliau bahwasanya Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad merekomendasi yayasan Ihyaa At-Turoots, maka dengan mudahnya ia berkata, “Kalau syaikh Abdul Muhsin tahu tentang hakekat AT-Turots maka ia akan mentahdzir at-Turots, dan kita tidak tahu bagaimana bentuk pertanyaan yang disampaikan firanda kepada Syaikh Abdul Muhsin”.

Sering penulis (Firanda) berkata, “Aku sangat berharap jika sang ustadz fadhil bertanya langsung kepada Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbaad dan menjelaskan dengan lengkap, agar ia tidak menuduh firanda miskin dengan tuduhan yang tidak-tidak”.

Dan Alhamdulillah sang ustadz fadhil hampir setahun dua kali dimudahkan oleh Allah untuk bisa mengunjungi kota Madinah… akan tetapi ternyata beliau belum berkesempatan untuk bertanya langsung kepada Syaikh Abdul Muhsin.

Akan tetapi Allah tetap memberi kemudahan kepada sang ustadz hafidzohullah untuk bisa bertanya kepada Syaikh Ubaid yang ma’ruuf menyatakan bahwa Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbiyah.

Maka sang ustadz pun bertanya, “Wahai syaikh, sebagian orang menyatakan bahwa Ihyaa At-Turots sudah berubah?”, maka syaikh berkata, “Ihyaa At-Turoots belum berubah, masih menyimpang, akan tetapi jika meminta bantuan dari mereka hendaknya tidak, namun jika mereka yang memberikan maka tidak mengapa”

Demikianlah kira-kira pertanyaan dan jawaban, akan tetapi pertanyaan dan jawaban ini dihadiri oleh beberap ikhwah, dan saya rasa sang ustadz fadhil tetap tidak lupa jawaban syaikh tersebut. Namuuuun… mana fatwa tersebut…??, bukankah rekamannya ada pada sang ustadz, atau pada teman sang ustaadz???, kami ingin mendengar langsung fatwa tersebut…

Penulis sangat berharap sang ustadz setelah mendengar fatwa tersebut akan berubah membaik, akan tetapi ternyata tidak maka beliau semakin mengisi kajian di mana-mana untuk membicarakan dan menuduh saudara-saudaranya sebagai sururi. Fatwa telah disembunyikan…..

Fatwa syaikh Ubaid Al-Jaabiri hafidzohullah

Alhamdulillah dalam kesempatan yang lain ada sebagian ustadz yang lain -dari saudara-saudara kita yang suka mentahdzir- berksempatan untuk bertanya kepada Syaikh Ubaid Al-Jaabiri hafidzohullah. Namun seperti biasa… fatwa tersebut lenyap…disembunyikan…

Namun penulis berhasil mendapatkan rekamannya. Fatwa tersebut sebagai berikut :

(قال السائل) : الشيخ هل يجوز الدراسة في معهد من يأخذون مال إحياء التراث والاستماع إلى إذاعتهم؟

(فأجاب الشيخ بقوله) : أقول : الجمعيات أو الجماعات المنحرفة إذا قدَّمَتْ عوناً في السلفيين فهذا العون له حالتان؛

إحداهما أن يكون مشروطاً بأن ينشروا الأفكار المنحرِفة مثل أفكار سيد قطب والمودودي والبنَّا وغيرهم من دعاة الضلال والانحراف، فهذا العون لا يجوز القبول له

والمدارسُ التي تدرِّس هذه الأفكار وتُلبس الحق بالباطل فلا تجوز الدراسة فيها، يعني نهاية الدارس الضلالُ أو التشويش والحيرة فيصبح مضطرباً لا يميِّز بين حق وباطل والغث والسمين والصحيح والسقيم.

الثاني : أن يقدِّموا عوناً غير مشروط. يبنون مسجداً أو مدرسةً أو معهداً ويأتون بكتب على السنة غير مخلوطة ويطلبون من أهل السنة أن يختاروا الأئمةَ والمؤذنين والمعلِّمين منهم ولا تتدخل هذه الجهة المنحرفةُ من جماعة أو فرد في أمر أهل السنة، إنما تُقدِّم لهم العون المطلق فقط، هذا لا مانع من قبوله. ويدخل تحت هذا المعهدُ الذي ذكرتَ يدخل في نفس التقسيم، وهذا دليلُه قوله صلى الله عليه وسلم ((إن الله لَيُؤَيِّدُ هذا الدين بالرجل الفاجر)).

ولا شك عندنا أن الاستعفاف أفضل والاستغناء لقوله صلى الله عليه وسلم ((من يستغنِ يُغنه الله ومن يستعففْ يُعِفَّه الله ومن يتصبر يصبره الله))، نعم لكن كثير من تجمعات أهل السنة من قرى ومُدُن وأحياء الفقرُ فيهم هو السائد، فهم محتاجون إلى من يبني لهم مسجداً أو مدرسة ويعيِّن لهم إماماً يعلِّمهم دينَ الله ويفَقِّهُهم فيه، فإذا قُدِّم لهم عونٌ غير مشروط من جهة منحرفة فلا مانع من قبوله إن شاء الله تعالى

(قال السائل) : لكن -يا شيخنا- الذي عرفنا من هؤلاء أنهم يمكرون لأهل السنة

(قال الشيخ) : هذا لا شك فيه أن معك في هذا، ولهذا أنا فصّلتُ، وأُضيفُ هنا إذا عرفتم مكرهم فكُفُّوا عن قبول العون، هذا معروف. لكن قَدْ وُجِدَ أيضاً في بعض الأحيان ما يمكرون، إذا وجدوا أهلَ السنة أقوياء، لكن إذا وُجد منهم مكرٌ كُفَّ عن قبول عونهم، فيقال : نحن قبلنا عونكم بدون شروط. إذا وُجد أنهم يبعثون دسائس ويبثون من خلالها أفكارًا تَحْرف المسلمين عن منهج الحق فنحن نكف عنهم، نكف عن ما لديهم. فصلاتنا في الفضاء خيرٌ من صلاتنا في مسجدٍ يُؤسّس على الضلالة، أو يؤسَّس أولَّ مرةٍ على هدى ثم بعد ذلك يغلِب عليه الضلالُ والبدعة والانحراف ويصبح وكراً للأفكار الهدَّامة والمناهج المنحرفة.

Penanya (Ustadz xxxx –hafidzohullah-) berkata :

Syaikh apakah boleh belajar di ma’had (pondok) nya orang-orang yang mengambil harta dari (Yayasan) Ihyaa At-Turoots?

Syaikh menjawab :

“Aku katakan : Yayasan-yayasan atau jama’ah-jama’ah yang menyimpang jika memberi bantuan kepada salafiyin maka bantuan tersebut memiliki dua kondisi :

Pertama : Bantuan tersebut disertai persyaratan agar mereka (para salafiyin yang menerima bantuan-pen) menyebarkan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Sayyid Quthb, Al-Mauduudi, Al-Bannaa, dan selain mereka dari kalangan para dai kesesatan dan penyimpangan, maka bantuan tersebut tidak boleh diterima.

Dan madrosah-madrosah yang mengajarkan pemikiran-pemikiran ini dan mencampur adukan antara kebenaran dan kebatilan maka tidak boleh belajar di madrosah-madrosah tersebut. Yaitu (karena) ujung dari orang yang belajar (di madrosah-madrosah tersebut-pen) adalah kesesatan atau kacaunya pemikiran dan kebingungan, maka jadilah ia orang yang bimbang (goncang) tidak bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara baik dan yang buruk, antara yang sehat dan yang berpenyakit.

Kedua : Mereka memberi bantuan tanpa ada persyaratan. Mereka membangun mesjid atau sekolah atau pondok, dan mereka membawa buku-buku di atas sunnah tanpa tercampur (dengan bid’ah-pen), dan mereka meminta Ahlus Sunnah untuk memilih para imam, para muadzin, dan para guru dari kalangan Ahlus Sunnah. Dan lembaga yang menyimpang ini -baik dalam bentuk jama’ah atau perorangan- tidak ikut campur dalam urusan Ahlus Sunnah. Mereka hanya memberikan bantuan secara mutlak, maka tidak ada larangan untuk menerima bantuan mereka. Dan ma’had yang kau tanyakan termasuk dalam perincian ini. Dan dalil untuk hal ini (bolehnya mengambil dana dari lembaga menyimpang jika tanpa syarat-pen) adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya Allah benar-benar akan menolong agama ini dengan seorang yang fajir”,

Dan tidak diragukan bahwasanya isti’faaf dan istignaa (tidak membutuhkan dan tidak meminta bantuan orang lain-pen) lebih afdhol karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Barang siapa yang berusaha mencukupkan diri maka Allah akan mencukupkan dirinya, dan barang siapa yang berusaha menjaga dirinya maka Allah akan menjaganya, dan barang siapa yang berusaha menyabarkan dirinya maka Allah akan membuatnya sabar”. Akan tetapi, banyak dari kumpulan Ahlus Sunnah dari kampung atau di kota atau di desa yang dimana kefakiranlah yang tersebar pada mereka, maka mereka membutuhkan orang yang membangunkan masjid bagi mereka, atau membangunkan sekolah, dan menunjuk buat mereka seorang imam yang mengajarkan kepada mereka agama Allah dan membuat mereka faqih dalam agama. Maka jika diberikan kepada mereka bantuan tanpa persayaratan dari lembaga yang menyimpang maka tidak ada larangan untuk menerimanya insyaa Allah ta’aalaa”

Sipenanya berkata : “Akan tetapi syaikh, yang kami ketahui dari mereka bahwasanya mereka membuat makar terhadap Ahlus Sunnah”

Syaikh berkata : “Hal ini tidak diragukan, dan aku sependapat denganmu tentang hal ini, oleh karenanya aku rinci (jawabanku-pen). Dan di sini aku tambahkan, jika kalian mengetahui makar mereka maka jangan terima bantuan mereka, hal ini sudah jelas. Akan tetapi sunnguh telah didapatkan juga dalam sebagian waktu mereka tidak berbuat makar, jika mereka mendapati Ahlus Sunnah dalam kondisi kuat. Akan tetapi jika didapati dari mereka adanya makar maka jangan menerima bantuan mereka, dan dikatakan (kepada mereka) : “Kami menerima bantuan kalian tanpa ada persyaratan”. Jika didapati dari mereka bahwasanya mereka mengirim tipu muslihat dan mereka menyelipkan diantara sela-sela tipuan tersebut pemikiran-pemikiran yang menyimpangkan kaum muslimin dari manhaj mereka yang benar maka kami tidak menerima bantuan mereka. Kita sholat di tempat terbuka lebih baik daripada kita sholat di sebuah mesjid yang dibangun di atas kesesatan, atau pertama kalinya dibangun di atas petujuk kemudian setelah itu dikuasai oleh kesesatan, bid’ah, dan penyimpangan dan akhirnya menjadi sarang bagi pemikiran-pemikiran yang menghancurkan dan manhaj-manhaj yang menyimpang”

Demikianlah jawaban syaikh Ubaid Al-Jaabiri.

(Setelah itu sang penanya menerjemahkan jawaban syaikh di atas kepada sebagian para hadirin yang tidak paham bahasa Arab. Ia berkata:)

“Ana tanyakan kepada syaikh tentang belajar di ma’had orang-orang yang mengambil dana dari Ihyaa Aaat-Turrots, tapi khulasohnya (kesimpulannya-pen) kata syaikh bagaimana mereka tidak menyebarkan pemikiran-pemikiran yang batil yang menyesatkan seperti pemikiran golongan ikhwanul muslimin

(Syaikh mendengar sang penanya ini menerjemahkan dengan bahasa melayu –yang tentunya syaikh tidak faham bahasa melayu-, hanya saja tatkala syaikh mendengar sang penanya menyebutkan kalimat ikhwanul muslimin maka syaikh menimpali ) أنا فَصّلْتُ “Aku telah merinci..!!”

(Sang penanya kembali melanjutkan penerjemahannya) :

“Bilamana tidak menyebarkan atau memasukan pemahaman-pemahaman yang merusakan e..ee.. (lalu penanya berkata kepada para hadirin) kalau salah dibetulkan ya, maknanya di sana tidak mengapa kita mengambil ilmu. Dan tentang masalah Ihyaa At-Turrots ini pengambilan dananya kalau tidak dengan bersyarat maka dibolehkan, dan kalau dengan bersayarat seperti hendak dimasukan pemikiran-pemikiran yang merusakan maka hendaklah kita meninggalkannya. Tadi syaikh juga mengingatkan mana kalau kita menjaga kehormatan kita, prinsip kita dengan tidak mengambilnya maka itu adalah lebih baik insyaa Allah. Jadi kalau ada tambahan apa yang ana luput…”

(Berkata salah seorang hadirin yang lain yaitu ustadz xxxx berkata:) :

“Kemudian ustadz xxxx bertanya : Apabila kita mengetahui mereka mempunyai makar terhadap Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan ini kebiasaan mereka, maka syaikh menjawab : Apabila kita tahu mereka memiliki makar terhadap Ahlus Sunnah kita tidak boleh menerima bantuan atau dana dari mereka. Itu tambahan dari pertanyaan yang disampaikan oleh ustadz xxxx dan dijawab oleh syaikh”

Pembaca dapat mendengarkan rekaman fatwa tersebut berikut ini:

Fatwa Syaikh Ubaid al Jaabiriy Tentang Mengambil Dana Dari Ihya At Turrots Tanggal 28 Mei 2009

Atau download dari 4shared.com, klik disini


Catatan :
Terjemahan dari ustadz kedua yang merupakan penyempurnaan dari terjemahan ustadz yang pertama, ternyata juga tidak sempurna. Bukankah tatkala penanya berkata bahwasanya At-Turots berbuat makar kepada Ahlus Sunnah maka syaikh membantah dengan berkata : “Akan tetapi sunnguh telah didapatkan juga dalam sebagian waktu mereka tidak berbuat makar”

Dalam fatwa syaikh di atas ada 3 hal yang menjadi catatan :

– Sayikh membolehkan mengambil dana jika tanpa persyaratan

– Persyaratan yang dimaksud bukanlah persyaratan membuat laporan kerja atau yang sifatnya idaari (administrasi) akan tetapi persyaratan yang bisa merusak manhaj seseorang, seperti syarat untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang.

– Syaikh juga menegaskan bahwa yang lebih utama adalah tidak mengambil, akan tetapi beliau memberi udzur kepada kondisi Ahlus sunnah yang kebanyakannya adalah miskin yang butuh bantuan untuk membangun sekolah, pndok, dan masjid, tentunya ini memiliki kemaslahatan yang besar

Fatwa syaikh Muqbil rahimahullah

Apakah syaikh Muqbil rahimahullah membolehkan menerima dana dari yayasan At–Turoots jika tanpa disertai persyaratan? Beliau berkata (tatkala menjelaskan penyimpangan-penyimpangan At-Turoots):

ثم رحلنا إلى اليمن وبعد أن وصلنا إلى اليمن جاءني أناس من الكويت منهم الأخ عبدالله السبت وقالوا: نحن لا نستطيع أن نساعدك إلا إذا كنت مرتبطا بمؤسسة حكومية؟ فقلت لهم: ونحن لا نبيع دعوتنا لأحد، فإن شئتم أن تساعدوا الدعوة بدون شرط ولا قيد فعلتم، وإن كان هناك شروط فيغنينا الله عز وجل عن مساعدتكم

“Kemudian kemipun berangkat ke Yaman, dan tatkala kami tiba di Yaman beberapa orang dari Kuwait datang menemuiku, diantaranya Al-Akh Abdullah As-Sabt, dan mereka berkata: Kami tidak mampu untuk membantumu kecuali jika engkau terkait dengan yayasan negeri?. Maka aku berkata kepada mereka : “Dan kami tidak menjual dakwah kami kepada seorangpun, jika kalian berkehendak untuk membantu dakwah tanpa syarat dan tanpa ikatan maka silahkan lakukan, dan jika ada persayaratan maka Allah akan mencukupkan kami dari membutuhkan bantuan kalian” (Lihat Tuhfatul Mujiib, tentang jawaban syaikh rahimahullah terhadap pertanyaan para ikhwah dari Britonia, bisa dilihat di http://www.muqbel.net/files.php?file_id=5&item_index=10)

Setelah menampilkan dua fatwa di atas, maka penulis berkata :

– Apakah seorang yang mengambil dana tanpa syarat –sebagaimana kenyataan yang ada- tetap dinyatakan sururi?

– Apakah mereka yang mengambil dana yang tadinya salafy setelah mengambil dana akhirnya menyebarkan pemikiran ikhwaanul muslimin??!!

– Apakah mereka tidak boleh berijtihad dalam memilih fatwa syaikh Muqbil dan syaikh Ubaid?

– Apakah hanya antum saja yang berhak untuk berijtihad???

– Jika saudara-saudara antum memang bukan mujtahid, lantas mereka adalah muqollid, maka apakah mereka boleh bertaqlid kepada syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abaad?, atau taqlid terhadap fatwa syaikh Muqbil dan Syaikh Ubaid di atas??!!

Tanggapan dan Sanggahan…

Menanggapi tulisan seorang ustadz yang disebarkan di beberapa situs salafi, maka saya nukilkan sedikit sanggahan dan masukan. Sebelum saya menyampaikan sanggahan saya maka saya akan menyebutkan penataan logika berpikir saya.

Pertama : Tahriir Mahall an-Nizaa’ (Inti permasalahan) adalah “Apakah orang yang bermu’aamalah dengan yayasan tersebut otomatis menjadi sururi?”, atau yang lebih parah lagi, “Apakah orang yang tidak mentahdzir orang yang bermu’amaalah dengan yayasan menjadi sururi mubtadi’ secara otomatis?”. Dan saya sangat berharap para pembaca sekalian mencamkan hal ini, dan ingat diskusi kita pada intinya adalah permasalahan inti ini. Kenapa demikian?, karena ustadz-ustadz yang dicap sururi yang bermu’amalah dengan yayasan ini sangatlah sedikit, sekitar 5 orang saja. Adapun kebanyakan ustadz yang ditahdzir dan dicap sururi adalah orang-orang yang tidak mentahdzir para ustadz yang lima tersebut. Oleh karenanya permasalahan yang ingin ana angkat adalah Apakah orang yang tidak mentahdzir orang yang bermu’amaalah dengan yayasan menjadi sururi mubtadi’ secara otomatis?”.

Oleh karena itu bukanlah permasalahan inti yang ana bahas dalam artikel ini adalah tentang kesalahan-kesalahan yayasan sosial tersebut. Oleh karena itu buku yang ditulis oleh salah seroang ustadz yang berjudul “men xxxx ukhu xxx…”, menurut hemat saya adalah kurang “nyambung”, karena buku tersebut konsentrasinya pada kesalahan-kesalahan yayasan. Padahal seluruh artikel yang saya tulis ini intinya adalah untuk mengkritik sikap hajr dan tahdziir yang membabi buta terhadap sesama salafy. Apakah orang yang menerima bantuan dari yayasan otomatis menjadi sururi?, atau apakah orang yang tidak mentahdzir orang yang bermu’aamalah dengan yayasan juga merupakan sururi??, inilah pembahasan utama yang ana angkat. Apakah itu pengertian haddaadiyah…??!!. Memang benar dalam buku yang saya tulis “Lerai xxxx” saya menyebtukan kebaikan-kebaikan yayasan tersebut dan beberapa tazkiyah para ulama terhadap yayasan tersebut tidak lain untuk menjelaskan bahwa masalah ini adalah masalah ijtihadiah, dalam mempraktekan muwaaznah dalam menghukumi yayasan tersbut hizbi atau tidak. Akan tetapi bangaimanapun ini bukanlah permasalahan inti.

Sungguh saya sangat berharap untuk bisa berdialog dengan ustadz tersebut secara langsung kalau bisa, dan kalau tidak memungkinkan maka lewat sarana internet juga tidak mengapa. Baarokallahu fiika yaa ustadz. Yang menjadi permasalahan tatkala saya mengajak seorang ustadz untuk berdialog maka sang ustad menjawab : Saya tidak akan berdialog sama Firanda karena Imam Ahmad tidak mau berdialog dengan qodariyah….??!!.

Dalam kesempatan lain dia berkata, “Jika Firanda ingin berdialog maka silahkan berdialog dengan syaikh Robii’??!!”. Subhaanallah apakah ana berkata kepadanya, “Kenapa antum tidak berdialog saja dengan syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad?, atau kenapa antum tidak meminta syaikh Robii’ untuk berdialog dengan syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad???!!

Kedua : Ingatlah bahwasanya mayoritas ustadz yang dituduh sururi seperti Ustadz DR Muhammad Arifin Badri adalah orang yang tidak menyetujui bermu’amalah dengan yayasan, hanya saja ia tidak mentahdzir orang yang bermu’aamalah dengan yayasan At-Turoots. Yang lebih parah lagi beliau dituduh bergelimang dinar Kuwait sebagai pemberian dari yayasan At-Turoots, padahal beliau uang dinar saja tidak pernah melihatnya, jangankan melihat… mimpi mandi dinar saja belum pernah…??!!. Demikianpula ustadz Abdullah Taslim M.A. yang ditahdziir dan dicap sururi, padahal tidak menyetujui bermu’aamalah dengan yayasan, akan tetapi beliau tidak memandang bahwa orang yang menerima bantuan dari yayasan adalah sururi.

Ketiga : Ingatlah bahwasanya ustadz-ustadz 5 orang yang bermu’aamalah dengan yayasan sama sekali tidak sedang membela kesalahan-kesalahan yayasan. Artinya penyimpangan-penyimpangan yayasan tidak dibela dan tidak diikuti oleh para ustadz tersebut, dan tidak ada kelaziman dalam hal ini. Tatkala kita bekerja sama dengan ahlul bid’ah, atau menerima bantuan mereka, atau bahkan menerima bantuan orang kafir, maka tentunya tidak lazim kalau kita membela bid’ah mereka atau membela kekufuran mereka)

Keempat : Inti dari tulisan ana ini adalah ana ingin menjelaskan bahwasanya seseorang tatkala ingin mengecap saudaranya sebagai mubtadi’ sururi maka hendaknya merenungi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1. Apakah yayasan ini adalah yayasan bid’ah (padahal hal inipun masih diperselisihkan para ulama, karena mengingat banyak anggota yayasan yang merupakan salafy)

2. Jika yayasan ini (melalui kaidah muwaazanah) kesimpulannya adalah yayasan bid’ah maka apakah ini bukan perkara ijtihaadiyah?, jika menghukumi yayasan bid’ah atau sunnah ini bukan perkara ijtihadiyah maka manakah nashnya (baik dari Al-Qur’an maupun dari As-Sunnah) yang menunjukan bahwa yayasan ini adalah yayasan bid’ah secara qoth’i?

3. Jika memang bid’ahnya yayasan ini bukan masalah ijtihadiah maka apakah setiap orang yang bermu’aamalah dengan yayasan tersebut otomatis menjadi sururi?, apakah pengertian sururi?, apakah penyimpangan-penyimpangan sururi? Apakah orang tersebut yang dicap sebagai sururi melakukan penyimpangan-penyimpangan tersebut?

4. Apakah vonis secara otomatis sebagai sururi bagi orang yang mengambil bantuan yayasan merupakan perkara khilafiyah?, ataukah ijma?, adakah ulama yang berpendapat demikian?

5. Jika memang para ulama ijmak bahwa yang mengambil dana otomatis adalah sururi maka dimanakah pernyataan ijmak tersebut?, jika tidak ada maka ini merupakan ijtihadiah. Atau bahkan tidak ada ulama yang berpendapat demikian??!!!, Ataukah merupakan metode haddaadiyah yang membid’ahkan hanya karena satu atau dua kesalahan??!!

6. Jika memang ternyata para ulama sepakat bahwa yang menerima bantuan dari yayasan adalah sururi maka apakah digunakan metode MLM, yaitu jika ada yang tidak mentahdzir atau mencapnya sebagai sururi maka juga dihukumi sebagai sururi?.

7. Jika jawabannya adalah : iya, maka apakah vonis ini juga merupakan ijmak? Ataukah perkara ijtihadiyah?, ataukah malah pendapat haddaadiyah??!!

8. Jika memang benar bahwa yang tidak ikut mengecap sururi juga dicap sebagai sururi maka apakah semua orang yang menimba ilmu darinya yang tidak tahu menahu tentang permasalahan ini juga merupakan sururi??!! Sebagai praktek dari tahdzir berantai MLM??!!. Point ke 6 inilah yang merupakan perkara inti, karena tahdzir dan tabdi’ yang berlaku kebanyakannya adalah kepada orang-orang yang tidak bermu’aamalah dengan yayasan.

Maka saya katakan :

Kesalahan yang sering dilakukan oleh sebagian orang adalah menjadikan masalah-masalah ijtihadiyyah sebagai bahan untuk melakukan hajr, meskipun masalah tersebut berkaitan dengan masalah hukum, bukan ‘aqidah.

Contohnya, ketika terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang hukum jihad di Indonesia. Sebagian ulama menyatakan bahwa jihad tersebut hukumnya fardhu ‘ain. Sedangkan mayoritas ulama besar menyatakan bahwa hukumnya bukan fardhu ‘ain. Apa yang terjadi? Orang-orang yang mengambil pendapat sebagian ulama bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain menggelari saudara-saudara mereka yang tidak sejalan dengan mereka dengan hizbi atau ahli bid’ah.

Padahal hampir seluruh ulama kibar (besar) yang ada di Arab Saudi menyatakan bahwa jihad tersebut bukanlah fardhu ‘ain, bahkan ada fatwa khusus dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam masalah ini, yang merupakan jawaban dari pertanyaan seorang da’i –yang justru dari kalangan mereka- dengan pertanyaan yang sangat rinci sebagaimana yang telah saya baca-. Sayangnya, fatwa ini tidak disebarkan. Entah maslahat apa yang dipandang oleh penanya sehingga ia “menyembunyikan” fatwa tersebut. Pada saat itu tidak ada yang ragu dengan kefaqihan syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa dia adalah ulama Ahlus Sunnah yang paling alim -terutama dalam masalah fiqh-, sepeninggal Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah. Lantas apakah orang yang mengambil fatwa beliau dan juga fatwa para ulama kibar dikatakan hizbi?! Bahkan sampai ada yang mengatakan munafik?! Subhanallah. Atau senjata terakhir yang mereka miliki yaitu perkataan mereka, “Para ulama tersebut tertipu dengan pertanyaan yang diberikan oleh penanya, karena si penanya dari kalangan Sururiyyun.” Jika perkaranya seperti yang mereka katakan, maka sungguh malang nasib para ulama kita yang kerap kali ditipu oleh para penanya, apalagi dalam permasalahan besar seperti ini yang menyangkut keselamatan jiwa raga. Konsekuensinya adalah tuduhan bahwa para ulama kita agak “dungu” karena sering ditipu, juga tuduhan bahwa para ulama kita tidak mengerti fiqhul waqi’ sebagaimana perkataan para hizbiyyin. Na’udzu billahi minal hizbiyyah. Mungkinkah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan lainnya sembrono dalam masalah besar yang berkaitan dengan penduduk suatu negara?! Atau apakah fatwa mereka keluar tanpa mengetahui realita sebenarnya yang terjadi di negeri ini, padahal ini adalah permasalahan yang diketahui oleh dunia internasional?! Subhanallah, tuduhan di atas benar-benar mengherankan.

Hal ini bukan berarti kami merendahkan sebagian ulama yang berpendapat bahwa jihad tersebut adalah fardhu ‘ain, atau mencela pendapat ulama yang mereka pilih. Sama sekali tidak demikan. Inti yang kami permasalahkan adalah tuduhan-tuduhan yang mengada-ada dan bagaimana seharusnya menyikapi masalah yang masih diperselisihkan oleh para ulama Ahlus Sunnah.

Hendaknya para saudaraku berfikir dan merenungi kembali apa yang telah mereka lakukan. Renungilah jika mereka berada dihadapan Allah kelak. Bayangkan jika saudara-saudara mereka yang mereka tuduh dan mereka cela secara semena-mena menuntut hak-hak mereka di hadapan Allah.

Begitu juga tatkala sebagian saudara mereka mengambil bantuan dari sebuah yayasan yang diperselilihkan oleh para ulama, apakah yayasan tersebut termasuk Ahlus Sunnah atau hizbi, maka mereka pun mengikuti ulama yang mengatakan bahwa yayasan tersebut adalah yayasan hizbi, kemudian mereka menyatakan bahwa saudara-saudara mereka yang mengambil bantuan dari yayasan tersebut adalah orang-orang hizbi. Bahkan yang lebih parah dari itu adalah menyatakan orang-orang yang bermu’amalah dengan orang-orang yang bermu’amalah dengan yayasan tersebut juga adalah hizbi.

Untuk mengupas lebih lanjut tentang masalah ini, maka kami bagi menjadi dua permasalahan:

Masalah pertama : Apakah yayasan ini yayasan bid’ah? (dan ini bukanlah permasalahan inti):

Yayasan ini mendapat rekomendasi dari para ulama kibar yang jelas lebih senior dan dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan para ulama yang menyatakan bahwa yayasan tersebut adalah yayasan hizbi. Memang pada yayasan tersebut terdapat kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan masalah manhaj. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah kesalahan tersebut mengeluarkannya dari lingkaran Ahlus Sunnah? Tentunya termasuk perkara yang umum diketahui bahwa tidak semua orang yang melakukan kesalahan lantas dikeluarkan dari Ahlus Sunnah.

Mungkin ada yang berkata, “Kita punya kaidah bahwa al-jarh al-mufassar muqaddam ‘alat ta’diil al-‘aam (kritik yang rinci didahulukan daripada rekomendasi yang sifatnya umum). Para ulama yang men-tahdzir yayasan ini telah mengetahui kesalahan-kesalahan yayasan ini secara terperinci.”

Jawabnya: Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh bahwa para ulama kibar tidak mengerti fiqhul waqi’ dan tidak tahu medan dakwah, karena tidak mengetahui kesalahan-kesalahan yayasan ini. Padahal para ulama besar yang memberi rekomendasi terhadap yayasan tersebut antara lain:

1. Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah.

2. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

3. Syaikh Shalih al-Fauzan –hafizhahullaah-. (Dan khsusus Syaikh Sholeh Fauzaan, maka penulis sangat berharap saudara-saudaraku yang meragukan tazkiah beliau agar meminta Al-Ustaadz al-fadhil xxxx hafzohullah yang sempat berguru langsung kepada beliau untuk bertanya langsung kepada beliau, agar penulis tidak disangka mengada-ngada, baarokallahu fiikum)

4. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr –hafizhahullaah-. Ulama paling senior di kota Madinah (lihat http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=6610)

5. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh -hafizhahullaah-, Mufti Arab Saudi saat ini yang menggantikan posisi Syaikh Ibnu Baaz.

6. Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Syaikh -hafizhahullaah-, menteri agama kerajaan Arab Saudi saat ini.

7. Syaikh Abdullah bin Mani’ –hafizhahullaah-, anggota Komite Tetap untuk Urusan Riset dan Fatwa.

8. DR. Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid –hafizhahullaah-, anggota Komite Tetap untuk Urusan Riset dan Fatwa.

9. Prof. DR. ‘Ali bin Muhammad Nashir Faqihi –hafizhahullaah-, dan lain-lain.

Disamping itu, yayasan ini sangat terkenal dan kiprahnya diketahui oleh banyak orang, maka bagaimana mungkin para ulama tersebut menutup mata dari kesalahan-kesalahannya?! Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama kibar dengan tuduhan mereka tidak mengerti fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Na’udzu billah minal hizbiyyah.

Jika ada yang berkata, “Bagaimana pun juga mungkin saja para ulama tersebut tidak tahu.”

Jawabnya: Kemungkinan itu memang ada, tetapi kecil, tidak bisa dijadikan pijakan. Mengapa antum tidak memakai kemungkinan yang lebih besar, yaitu para ulama memang mengetahui kondisi yayasan ini, sebagaimana argumen di atas? Mengapa justru kemungkinan yang kecil yang antum jadikan pijakan? Mungkinkah para ulama mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui realita?!! Alasan berikutnya yang menunjukan bahwa para ulama mengetahui kondisi yayasan ini adalah perseteruan antara Syaikh Rabi’ bih Hadi al-Madkhali –hafizhahullah- dan ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq jelas diketahui oleh para ulama kibar, terutama Syaikh Ibnu Baaz. Karena itu, jelas bahwa para ulama kibar mengetahui kondisi yayasan ini.

Jika ada yang berkata, “Sebagian ulama menyatakan bahwa para Syaikh tersebut ruju’ (meralat) rekomendasi mereka.”

Kita katakan, “Pernyataan tersebut bisa dijawab dari beberapa segi:

1. Rekomendasi terakhir seluruh para Syaikh yang disebut di atas, bahkan setelah perseteruan antara Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali –hafizhahullaah- dengan ‘Abdurrahman Abdul Khaliq, dan rekomendasi mereka masih ada. (Lihat risalah yang berjudul Syahaadaat Muhimmah li ulama’ al-Ummah fi Manhaj wa A’maal wa isdaaraat Jum’iyyah Ihyaa` at-Turats al-Islami) Bahkan sebagian mereka merekomendasi yayasan ini berulang-ulang -terutama Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin-. Padahal syaikh Bin Baaz pernah membantah pemikiran syaikh Abdurrohman Abdul Kholiq dengan bantahan yang sangat gambalang (lihat Lihat Fataawa wa Maqaalaat Ibn Baaz (VIII/240-245), dengan judul Mulaahazhaat ‘ala Ba’dh Kutub asy-Syaikh ‘Abdirrahman ibn ‘Abdil Khaliq, yang bantahan tersebut ditulis pada tahun 1415 H)

2. Rekomendasi Syaikh Ibnu Baaz yang terakhir adalah pada tanggal 6/5/1418 H, yaitu menjelang wafatnya beliau -yaitu tanggal 27/1/1420 H-, (Lihat risalah Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad yang berjudul al-Hatsts ‘ala Ittibaa’ as-Sunnah wat Tahdziir minal Bida’ wa Bayaan Khathariha, hal 60) dan sebelumnya beliau merekomendasi yayasan ini berulang-ulang. Hal ini menunjukkan bahwa pernyataan beliau ruju’ dan meralat rekomendasi beliau terhadap yayasan ini adalah dusta. Maka siapa saja yang menyatakan mereka telah ruju’, hendaklah ia mendatangkan bukti yang nyata. Demikian juga rekomendasi Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah yang terakhir adalah pada tanggal 24/5/1418 H, menjelang wafatnya beliau. Rekomendasi Mufti Kerajaan Arab Saudi, Syaikh Abdulaziz Alu Syaikh –hafizhahullah- yang terakhir adalah tanggal 11/8/1421 H. Rekomendasi Syaikh Shalih Alu Syaikh pada tanggal 24/10/1423 H.

3. Selanjutnya, sulit dapat dibayangkan jika mereka memberi rekomendasi secara terang-terangan dan tertulis -bahkan tersiarkan- kemudian mereka ruju’ secara hanya diam-diam dan hanya diketahui oleh segelintir orang. Apalagi terdapat kebiasaan pada sebagian orang untuk tidak menerima taubat seseorang kecuali jika diumumkan. Mungkinkah mereka malu untuk ruju’ di hadapan umum? Semua indikasi ini menunjukkan bahwa mereka tidaklah mencabut fatwa atau rekomendasi mereka. Sekali lagi siapa saja yang menyatakan mereka telah ruju’ maka hendaklah membawa bukti yang nyata. Alhamdulillah, sebagaian Syaikh tersebut masih hidup dan bisa ditanya secara langsung!

4. Jika para Syaikh tersebut merekomendasi yayasan tersebut pada saat ‘Abdurrahman ‘Abdul khaliq – yang kesalahannya telah terungkap- masih memiliki pengaruh yang besar terhadap yayasan tersebut, maka bagaimana mungkin mereka ruju’ jika pengaruh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq di yayasan tersebut semakin berkurang untuk saat sekarang ini. Kemungkinan mereka justru semakin memperkuat rekomendasi terhadap yayasan tersebut, karena kesalahan-kesalahan yayasan tersebut menjadi semakin sedikit dan kondisinya semakin membaik.

Jika ada yang berkata, “Berarti para Syaikh tersebut menyatakan bahwa yayasan tersebut bersih dari kesalahan?! Hal ini tidak bisa kami terima karena kesalahan yayasan tersebut tampak di depan mata kami!”

Kita katakan: Rekomendasi para Syaikh tersebut tentu saja tidak menunjukkan bahwa yayasan tersebut tidak ada kesalahannya. Dalam sebagian fatwa para Syaikh -yaitu Syaikh Ibnu Baaz-, tampak jelas bahwa beliau mengetahui kesalahan yayasan tersebut, terutama kesalahan ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq. Bahkan Syaikh Ibnu Baaz telah memberikan bantahan khusus kepada ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq sebagai jawaban atas surat yang dikirimkan oleh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq kepada Syaikh Ibnu Baaz pada tanggal 8/3/1415 H. Beliau membantah enam kesalahan ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq yang tercantum di dalam buku-bukunya.( Lihat Fataawa wa Maqaalaat Ibn Baaz (VIII/240-245), dengan judul Mulaahazhaat ‘ala Ba’dh Kutub asy-Syaikh ‘Abdirrahman ibn ‘Abdil Khaliq.)

Meskipun demikian, beliau tetap menganggap bahwa yayasan tersebut masih yayasan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka yang benar adalah sebagaimana penjelasan Syaikh ‘Abdul Malik ar-Ramadhani bahwa pada yayasan tersebut ada kesalahan-kesalahan, sehingga para ulama berbeda pendapat, apakah kesalahan-kesalahan tersebut mengeluarkan yayasan tersebut dari Ahlus Sunnah atau tidak?. Disinilah letak perbedaan ijtihad dikalangan para ulama dalam menerapkan kaidah muwaazanah dalam menghukum.

Jika ada yang berkata, “Pendapat para ulama kibar mungkin saja lemah dan keliru.”

Jawabnya: Jika para ulama kibar yang memberi rekomendasi saja bisa keliru dan salah, padahal mereka lebih senior dan jumlahnya lebih banyak, maka para ulama yang meng-hizbi-kan yayasan tersebut -yang notabene mereka adalah murid-murid para ulama kibar tersebut, dengan jumlah mereka yang lebih sedikit- tentunya kemungkinan untuk salah dan keliru lebih besar lagi.

Jika ada yang berkata, “Bagaimana pun kebenaran itu disertai dengan dalil. Belum tentu para Syaikh kibar tersebut benar, meskipun mereka lebih senior dan jumlahnya lebih banyak.”

Jawabnya: Taruhlah pendapat para Syaikh yang men-tahdzir yayasan tersebut lebih benar, padahal belum tentu demikian. Maka yang menjadi pertanyaan, bagaimana sikap Antum yang mengetahui bahwa para Syaikh berselisih pendapat dalam masalah ini terhadap saudara-saudara antum yang semanhaj dengan antum, se’aqidah dengan antum, buku antum dan mereka sama, ulama antum dan mereka sama, dan… dan… dan…. Antum sama seperti hampir dalam seluruh perkara. Lalu mereka mengamalkan firman Allah:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kalian kepada para ulama jika kalian tidak mengetahui”

Mereka pun bertanya kepada para ulama kibar. Bukankah sangat wajar jika seseorang Salafi memilih para ulama yang lebih senior –juga lebih banyak jumlahnya- untuk dijadikan tempat bertanya dan bersandar dalam masalah ini? Layakkah kemudian Antum tuduh mereka sebagai pengikut hawa nafsu atau mata duitan, sehingga kalian meng-hajr dan men-tahdzir mereka? Bertakwalah kepada Allah. Jagalah lisan-lisan kalian. Apakah kalian mengetahui isi hati mereka? Lihatlah, apakah saudara-saudara kalian yang kalian tuduh tersebut adalah orang-orang kaya?

(catatan : Bukanlah maksud saya bahwa suara terbanyak merupakan penetu kebenaran (sebagaimana yang disalahpahami oleh seorang ustadz)…ini sih demokrasi…, akan tetapi hanya untuk mengingatkan kita agar tidak mudah menuduh saudara kita mengikuti hawa nafsu dalam mencari fatwa-fatwa yang enak-enak !!!)

Lihatlah penjelasan para Syaikh kibar tentang manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi perselisihan di kalangan ulama Ahlus Sunnah. Lihat pula penjelasan Ibnu Taimiyyah. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kami dan kalian.

Jika ada yang berkata, “Kalau begitu, maksudnya kita harus diam dari kesalahan yayasan tersebut dan tidak mengingatkan umat dari kesalahannya?”

Jawabnya: Maksudnya bukan demikian. Nasehat adalah perkara yang sangat dituntut. Namun, bagaimana caranya? Apakah harus dengan melontarkan celaan di podium-podium dan masjid-masjid? Apakah harus menyebutkan nama saudara antum dengan diiringi tahdzir? Jika antum yang diperlakukan demikian, bagaimanakah perasaan antum? Lantas kenapa antum tidak sekalian saja men-tahdzir -atau bahkan meng-hajr- Syaikh Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh, Muftti kerajaan Arab Saudi, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, dan yang lainnya yang telah memberi rekomendasi kepada yayasan tersebut? Bukankah para Syaikh inilah yang menjadi sebab terbukanya pintu untuk bekerjasama dengan yayasan tersebut, yaitu dengan adanya rekomendasi mereka kepada yayasan ini? Adapun orang-orang yang bermu’amalah dengan yayasan tersebut hanyalah merupakan akibat (dampak) dari rekomendasi tersebut. Kenapa kalian begitu gencarnya memerangi akibat dan tidak memerangi sebab sumber “malapetaka”?

Jika ada yang berkata, “Mereka kan para ulama, mereka mujtahid, mereka diberi udzur meski mereka salah.”

Jawabnya: Jika para Syaikh yang lebih memiliki ilmu, lebih mengetahui fiqhul waqi’, dan lebih memperhatikan maslahat umat saja mendapat udzur dari antum, maka saudara-saudara antum yang ilmunya lebih minim dan telah bertanya kepada mereka seharusnya harus lebih mendapat udzur dari antum. Jika antum bisa toleran kepada para Syaikh tersebut, seharusnya antum juga bisa toleran kepada saudara-saudara antum. Apalagi masalah ini adalah masalah khilafiyyah ijtihadiyyah.

Jika ada yang berkata, “Kalau begitu, maksudnya kita bebas memilih salah satu pendapat dari para ulama yang berselisih, atau bahkan kita memilih pendapat yang paling enak dan paling ringan?”

Jawabnya: Tidak demikian. Bahkan yang dituntut adalah mencari pendapat yang paling benar dan menasehati saudara-saudara kita yang menyelisihi. Janganlah kita tuduh saudara-saudara kita mencari-cari pendapat yang paling ringan, karena bisa jadi pendapat yang paling ringan itulah yang menurut mereka paling benar. Belum tentu pendapat yang paling keras (kenceng) adalah pendapat yang paling benar, sebagaimana halnya pendapat yang paling ringan belum tentu menjadi pendapat yang paling benar. Namun, yang harus menjadi perhatian Antum adalah bagaimana sikap seorang Ahlus Sunnah (Salafi) dalam menyikapi saudaranya yang menyelisihinya dalam masalah ijtihadiyyah yang masih debatable di kalangan ulama Ahlus Sunnah? Haruskah dengan tahdzir dan hajr?! Wallaahul musta’aan.

Masalah Kedua : Apakah yang menerima dana dari yayasan ini otomatis menjadi sururi? (Yang ini merupakan permasalah inti):

Masalah pertama adalah mengenai kedudukan yayasan tersebut, adapun permasalahan kedua adalah mengenai hukum mu’amalah dengan yayasan tersebut. masalah kedua ini lebih ringan dibandingkan yang pertama.

Dan perlu diperhatikan bahwasanya inilah permasalahan utama yang sedang kita hadapi. Bagi mereka yang berpendapat bahwa yayasan tersebut masih termasuk yayasan Ahlus Sunnah maka tidak ada lagi keraguan akan bolehnya bermua’amalah dengan yayasan tersebut. Siapa lagi yang lebih pantas untuk bermu’amalah dengan Ahlus Sunnah, kalau bukan Ahlus Sunnah itu sendiri. Bahkan sebagian Syaikh yang men-tahdzir yayasan ini juga membolehkan mu’amalah dengan yayasan ini -mengambil bantuan darinya-, dengan catatan tanpa ada persyaratan dari yayasan tersebut ketika memberi bantuan, yaitu syarat-syarat yang menggiring ke arah hizbiyyah (sebagaimana telah lalu fatwa syaikh Muqbil dan fatwa Syaikh Ubaid Al-Jaabiri).

Fatwa ini menunjukkan bahwa mereka memahami bahwa meskipun mereka beranggapan yayasan tersebut adalah hizbi, namun seseorang yang bermu’amalah dengan yayasan tersebut tidaklah otomatis menjadi hizbi. Ini juga menunjukkan bahwa mereka khawatir jika orang yang bermu’amalah dengan yayasan tersebut akan terpengaruh dengan kesalahan yayasan tersebut dengan syarat-syarat khusus yang mereka ajukan.

Karena itu, menjadi jelas kekeliruan sebagian orang yang menyatakan bahwa saudara-saudaranya otomatis menjadi hizbi jika bermu’amalah dengan yayasan tersebut.

Barangsiapa yang menyatakan bantuan yang diberikan olah yayasan tersebut adalah syubhat maka ia harus mendatangkan dalil. Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh para dermawan dari kalangan kaum muslimin yang menyalurkan uang mereka kepada yayasan ini, bahwa uang mereka adalah uang syubhat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja pernah bermu’amalah dengan kaum Yahudi, bahkan beliau pernah diberi hadiah kambing dari seorang wanita Yahudi. Padahal kita tahu bahwa kaum Yahudi adalah orang-orang yang bermu’amalah dengan riba dan menghalalkan perkara-perkara yang haram. Maka bagaimana lagi jika bantuan tersebut datangnya dari kaum mukminin?!

Sekali lagi kami tekankan, bahwa dana yang dimiliki oleh yayasan tersebut bersumber dari kaum muslimin yang dermawan, pihak yayasan hanya bertindak sebagai pengelola saja. Seandainya dana tersebut dikatakan sebagai “dana syubhat” –semoga saja tidak ada yang mengatakan seperti ini- maka bagaimanakah dengan tindakan mereka yang “minta-minta” di jalanan untuk “dana jihad”(?!) Dari mana dana tersebut berasal? Bukankah sangat tidak jelas siapa pemberinya dan apa profesinya? Manakah yang lebih utama untuk dikatakan sebagai “dana syubhat”?

Jika ada yang berkata, “Barangsiapa yang menerima bantuan dari yayasan tersebut, maka akhirnya ia akan seperti mereka, berjabat tangan dengan orang-orang sufi.”

Kita katakan: Ini adalah menerka perkara yang ghaib. Dari mana ia bisa mengetahui masa depan? Kenyataan yang terjadi adalah saudara-saudara kita yang bermu’amalah dengan yayasan ini selama bertahun-tahun, bahkan ada yang lebih dari sepuluh tahun, namun tidak terjadi hal-hal yang mereka tuduhkan. Mungkin terjadi sejumlah kesalahan, tetapi tidak sampai seperti yang dituduhkan. Karena itu, mereka yang menuduh dengan tuduhan yang bermacam-macam hendaknya mengecek langsung keadaan saudara-saudara mereka yang bermu’amalah dengan yayasan tersebut, apakah mereka melakukan bid’ah seperti yang dituduhkan?! Yang tampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikhawatirkan saat bermua’amalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi, alhamdulillah. Bahkan sebaliknya, justru banyak kemaslahatan yang didapat dengan mu’amalah dengan yayasan ini. Diantaranya:

– Dana tersebut akhirnya tidak tersalurkan kepada ahli bid’ah. Jika dana ini tidak segera diambil dan dimanfaatkan oleh Ahlus Sunnah, sementara para dermawan terus menyalurkan kelebihan harta yang mereka miliki, bisa jadi akhirnya yang memanfaatkan dana tersebut adalah ahli bid’ah, sehingga bid’ah pun semakin berkembang.

– Banyak masjid yang dibangun dan dimanfaatkan untuk pengembangan dakwah Salafiyyah, meskipun bisa jadi ada sebagian masjid yang dikuasai oleh ahli bid’ah, namun ini kembali kepada pelaksananya, dan yayasan mensyaratkan bahwa masjid yang dibangun harus dimakmurkan oleh Ahlus Sunnah.

– Mengurangi tingkat kristenisasi di daerah-daerah yang gencar terkena program kristenisasi, sedangkan kaum muslimin yang ada di Indonesia masih sulit untuk memberi bantuan kepada kaum muslimin yang hidup di daerah-daerah tersebut.

– Banyak sekolah-sekolah yang bisa dibangun untuk mendidik anak-anak kaum mukminin yang menginginkan sekolah yang sesuai dengan al-Qur-an dan Sunnah. Apalagi melihat dakwah Salafiyyah yang semakin berkembang dan jumlah anak yang membutuhkan pendidikan yang benar semakin banyak, sedangkan sekolah yang ada masih sangat terbatas. Saat ini saja masih banyak anak belum bisa ditampung oleh sekolah-sekolah yang dibangun di atas manhaj yang benar, karena ruang sekolah yang terbatas.

– Banyak anak-anak yang kurang mampu akhirnya bisa sekolah di sekolah-sekolah yang dibangun atas bantuan yayasan tersebut, karena memanfaatkan bantuan dari yayasan tersebut.

– Banyak anak-anak yang yatim yang bisa dibantu.

– Beberapa da’i bisa memperoleh kafalah (bantuan) dari yayasan tersebut. Ini lebih baik dibandingkan da’i yang mengharapkan bantuan dari murid-muridnya. Padahal murid-murid tersebut terkadang dalam keadaan membutuhkan. Hal ini juga dapat membantu keikhlasan seorang da’i. Sebab, dengan adanya kafalah tersebut, ia bisa berdakwah tanpa mengharapkan pemberian dari murid-muridnya. Meskipun demikian, tentunya da’i yang terbaik adalah da’i yang bisa mencari nafkah sendiri. Tidak mendapat nafkah dari dakwah, tetapi menafkahi dakwah. Sayangnya, perkara ini tidak semudah yang dikatakan, karena tidak semua da’i mampu melakukannya.

– Adanya majalah yang tegak di atas sunnah dan bisa dijadikan sarana untuk membantah para ahli bid’ah. Manfaat majalah ini sangatlah banyak.

– Adanya radio yang bisa menyalurkan suara Ahlus Sunnah untuk sampai ke rumah-rumah orang-orang yang mungkin enggan untuk ikut pengajian

Mengenai mudharat yang dikhawatirkan mungkin saja terjadi, atau memang terjadi. Namun, kalaupun memang ada maka harus dibandingkan dengan maslahat. Sebagian orang salah paham tentang kaidah “mencegah kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan”, dimana kaidah ini berlaku untuk maslahat dan mudharat yang seimbang (sama-sama kuat). Jika maslahat yang diraih lebih banyak maka jelas didahulukan mengambil kemaslahatan tersebut.

Jika ada yang berkata, “Telah terbukti bahwa ada sekelompok orang yang mengambil dana dari yayasan tersebut kemudian memiliki pemikiran bid’ah.” (yang perlu diingat pembahasan kita di sini adalah seorang salafi yang mengambil dana atau bermu’amalah dengan yayasan kemudian berubah menjadi ahlul bid’ah. Bukanlah pembahasan kita seorang yang sejak awalnya sudah berpemikiran bid’ah kemudian menerima dana dari yayasan!!)

Kita katakan: Pernyataan ini perlu bukti yang kuat. Berapa banyak tuduhan yang sudah dilontarkan namun ternyata tidak benar. Contohnya tuduhan terhadap sebagian pondok pesantren yang ada di Jogjakarta dan Solo. Sebagian orang menuduh bahwa pada dua pondok tersebut ada Jama’ah Tabligh, al-Ikhwanul Muslimun, atau ada yang membela-bela Usamah bin Laden, Sururiyyun, Salman al-‘Audah, Safar al-Hawali, dan ‘A-idh al-Qarni, atau ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, ternyata semua ini adalah tuduhan dusta. Kenyataannya orang-orang tersebut justru mendapat sanggahan.

Jika ada yang mengatakan, “Mana bantahan-bantahan kepada orang-orang tersebut?”

Jawabnya: Ada, baik tertulis, maupun dalam bentuk ceramah. Namun perlu diingat bahwa tahdzir atau bantahan bukanlah pekerjaan mereka sehari-hari, sehingga setiap pengajian membahas orang-orang di atas, karena masalah ini kembali kepada maslahat dan mudharat. Terkadang orang awam sebaiknya tidak selalu disibukkan dengan membahas perkara-perkara ini sehingga meninggalkan perkara-perkara yang lebih wajib untuk mereka ketahui, seperti tauhid yang benar, dan sebagainya. Karena itu, barangsiapa yang tinggal di Arab Saudi niscaya ia akan melihat bagaimana pengamalan para ulama kibar dan bagaimana ceramah-ceramah mereka, dimana mereka jarang membahas permasalahan-permasalahan seperti ini. Padahal di sanalah tempat timbulnya fitnah-fitnah. Bukan tidak membahasnya. Mereka tetap membahasnya, hanya saja bukan menjadi menu kajian mereka sehari-hari. Barangsiapa yang ingin mengecek hal ini, maka silahkan membaca buku-buku Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh al-Albani, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, atau mendengarkan ceramah-ceramah mereka dalam bentuk kaset dan CD, niscaya ia akan jumpai bahwa cara dakwah mereka tidak sama dengan apa yang diterapkan oleh sebagian orang di negeri kita ini.

Kalau ada yang berkata, “Minimal keberadaan yayasan ini membuat perpecahan di kalangan Salafiyyun? Bukankah ini merupakan kemudharatan?”

Jawabnya: Perpecahan tersebut tidak terjadi kalau saja kita bersikap benar dalam menghadapi perbedaan pendapat yang ada dikalangan ulama Ahlus Sunnah. Salaf memiliki manhaj dalam menyikapi orang-orang yang berselisih dengan mereka dalam permasalahan khilafiyyah ijtihadiyyah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah, yaitu tidak boleh ada pengingkaran sampai tahap tahdzir, apalagi hajr, terlebih lagi tabdi’, yang seperti ini bukanlah manhaj Salaf. Dalam menghadapi masalah khilafiyyah ijtihadiyyah sikap yang benar adalah saling diskusi untuk menjelaskan pendapat yang paling benar tanpa sikap memaksakan pendapat.

Selanjutnya kita balik pernyataan kalian. Keadaan kalian yang melakukan tahdzir dan hajr tanpa mengikuti aturan yang benar itulah yang menimbulkan perpecahan di kalangan Salafiyyun. Karena Antum menyelisihi manhaj Salaf dalam menyikapi masalah khilafiyyah ijthadiyyah. Apakah maslahat yang antum dapatkan dari tahdzir yang Antum lakukan selain fitnah di kalangan Ahlus Sunnah? Lihatlah mudharat yang justru semakin berlipat-lipat akibat sikap kalian, di antaranya:

1. Dakwah tauhid semakin terhambat

2. Masyarakat menjadi semakin takut mengenal manhaj Salaf, karena melihat keributan dalam barisan Salafiyyin.

3. Para ahli bid’ah menertawakan Ahlus Sunnah yang “ribut” sendiri. Lalu menjadikan hal ini sebagai sarana untuk menjauhkan umat dari dakwah salafiyyah. Bahkan mereka mendapatkan sarana untuk membantah Ahlus Sunnah dengan memanfaatkan bantahan-bantahan yang ditulis oleh sebagian Ahlus Sunnah terhadap sebagian yang lain.

4. Lihatlah sekililing kita yang penuh dengan syirik dan bid’ah. Akhir-akhir ini bid’ah semakin berkembang pesat. Bid’ah-bid’ah yang dahulu terselubung, sekarang menampakkan dirinya secara terang-terangan dan semakin banyak pengikutnya, seperti Ahmadiyyah, JIL, Islam Jama’ah, JI -yang melariskan faham Quthbiyyah-, Asyaairoh yang semakin menyebarkan syubhat di sana sini, dan lain-lain.

5. Berapa banyak waktu terbuang karena sibuk dengan qiil wa qaal -katanya dan katanya-. Para pemuda sibuk dengan hal ini sehingga terlalaikan dari menuntut ilmu.

6. Berapa banyak orang yang futur karena bingung menghadapi fenomena tahdzir dan hajr, bahkan banyak yang akhirnya kembali berbuat maksiat. Kalau kita di Indonesia perkaranya masih lebih ringan, jika ada seorang Ahlus Sunnah futur maka paling parah ia akan kembali melakukan kemaksiatan atau bid’ah. Namun yang terjadi di sebagian negara-negara barat yang kaum musliminnya minoritas, di mana banyak orang yang masuk Islam dengan mengenal manhaj Salaf, sebagian mereka ada yang tatkala futur karena tidak tahan menghadapi fenomena tahdzir akhirnya murtad dan kembali kepada kekufuran; dan lain-lain.

Sungguh, terlalu banyak mudharat yang timbul. Renungkanlah wahai saudaraku, pertimbangkanlah antara maslahat dan mudharat.

Jika ada yang berkata, “Kalian juga tidak bisa menyalahkan kami, karena kami mengikuti sebagian Syaikh -yang juga merupakan ulama Ahlus Sunnah-, dimana dari ucapannya dapat dipahami bahwa beliau men-tahdzir yayasan tersebut berikut orang-orang yang bermu’amalah dengannya.”

Jawabnya: Kami menganggap bahwa kalian melakukan kesalahan, karena kalian menerapkan tahdzir dan hajr sedangkan kalian mengetahui bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Ahlus Sunnah dalam masalah ini, sehingga merupakan masalah khilafiyyah ijtihadiyyah di kalangan Ahlus Sunnah yang tidak boleh disikapi dengan tahdzir, hajr, apalagi tabdi’.

Kalau kalian mengatakan tidak mengetahui perselisihan ulama Ahlus Sunnah dalam masalah ini, berarti kalian telah memutuskan suatu perkara dengan tergesa-gesa, tanpa mencari kejelasan dan mengilmuinya secara baik terlebih dahulu, dan ini juga merupakan kesalahan.

Saudaraku, jika kita tidak bersikap secara benar dalam menghadapi masalah khilafiyyah ijtihadiyyah, maka mungkin Ahlus Sunnah di negeri ini tidak akan pernah bersatu, karena masalah mungkin akan terus ada. Jika kita selamat dari masalah Ihya’ at-Turats maka boleh jadi kita akan dihadapkan dengan masalah-masalah yang lain. Karena itu, satu-satunya benteng yang tepat dalam menghadapi masalah-masalah yang terus berdatangan adalah kita kembali kepada manhaj Salaf dalam menghadapi permasalahan khilafiyyah ijtihadiyyah, sebagaimana yang sudah dipaparkan oleh Ibnu Taimiyyah.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Jika khilaf yang timbul adalah khilaf ijtihadiyyah yang diperbolehkan maka yang wajib adalah jangan sampai hati-hati menjadi terpecah belah, jangan sampai hati-hati menjadi berselisih karena hal itu. Sesungguhnya para sahabat yang mulia berselisih ijtihad mereka di masa Nabi dan sesudah wafat Nabi, akan tetapi tidaklah hati-hati mereka berselisih atau berpecah belah. Maka hendaknya kita meneladani mereka, karena akhir umat ini tidak akan baik kecuali dengan apa yang memperbaiki awal umat ini” (Kitaabul ‘Ilmi hal 204-205)

Peringatan I:

Sebagian orang menyadari bahwa perkara ini diperselisihkan oleh para ulama Salafiyyun, sehingga merupakan masalah khilafiyyah ijtihadiyyah yang tidak boleh disikapi dengan tahdzir dan hajr. Untuk mengatasi hal ini, sebagian mereka terpaksa berdusta secara terang-terangan, kedustaan yang sangat jelas, seperti halnya matahari di siang bolong. Kedustaan tersebut tampak sekali bagi orang-orang yang mengenal para ulama kibar dan mengenal fatwa-fatwa mereka. Apakah kedustaan itu? Mereka mengatakan bahwa para ulama ijma’ bahwa yayasan ini adalah yayasan hizbi. Wahai saudara-saudaraku, tahukah kalian perkataan Imam Ahmad:

مَنِ ادَّعَى الإِجْمَاعَ فَقَدْ كَذَبَ وَمَا يُدْرِيْهِ وَالنَّاسُ قَدِ اخْتَلَفُوْا

“Barangsiapa yang mengklaim ijma’ maka ia telah berdusta, bagaimana dia mengetahui hal itu, padahal bisa saja orang-orang berbeda pendapat.” (al-Muhalla (III/246)

Ibnu Hazm berkata, “Sungguh benar perkataan Imam Ahmad –semoga Allah meridhainya- barangsiapa yang mengklaim ijma’ pada perkara yang ia tidak yakin bahwa itu adalah pendapat seluruh umat Islam -tanpa ada keraguan pada seorang pun di antara mereka- maka ia telah berbuat kedustaan atas nama umat seluruhnya, dan dan dia meyakini (hanya) dengan persangkaannya (belaka), padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Persangkaan adalah perkataan yang paling dusta.” (al-Muhalla (III/246)

Dalam hal ini kita katakan sebagaimana perkataan Ibnu Hazm: Barangsiapa yang menyerukan bahwa para ulama Salafiyyun ijma’ bahwa yayasan tersebut adalah yayasan hizbi maka ia telah berdusta atas nama seluruh para ulama tersebut, dan ia telah meyakini sesuatu hanya dengan persangkaan belaka, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Persangkaan adalah perkataan yang paling dusta.”

Tidakkah mereka tahu bahwa mayoritas ulama kibar menyelisihi apa yang mereka yakini? Kalau mereka tidak tahu maka hal itu adalah musibah, namun jika mereka tahu –tetapi pura-pura tidak tahu- maka musibahnya jauh lebih parah.

Ataukah pendapat para ulama kibar tersebut tidak dianggap sama sekali? Apakah para ulama kibar itu hanya diambil fatwanya jika berkaitan dengan permasalahan fiqh saja, sedangkan permasalahan manhaj ada Syaikh khusus yang menangani?

Sebagian mereka menyadari kedustaan ini, lantas berkata, “Memang para ulama berselisih tentang hizbiyyah-nya yayasan yang ada di Kuwait tersebut, tetapi mereka ijma’ bahwa harus men-tahdzir yayasan tersebut”.

Kita katakan: Ini adalah kedustaan yang lebih parah dibandingkan kedustaan pertama. Bagaimana mungkin ada ulama yang menyatakan bahwa yayasan tersebut merupakan salah satu yayasan Ahlus Sunnah lantas mereka semua sepakat untuk men-tahdzir dan meng-hajr yayasan tersebut? Bagaimana mungkin bisa bersatu dua dzat yang bertolak belakang? Kapankah bisa bersatu antara utara dan selatan? Kapankah bisa bersatu antara rekomendasi dan tahdzir?

Bahkan sekiranya kita hendak membalikkan perkara justru bisa kita katakan bahwa para ulama kibar sepakat bahwa yayasan tersebut adalah yayasan Ahlus Sunnah.

Bagaimana pun, kedua permasalahan tersebut –yaitu masalah hukum jihad di tanah air dan hukum mu’amalah dengan yayasan Ihya` at-Turats- jelas bukan termasuk permasalahan ‘aqidah, namun ia merupakan permasalahan hukum.

Peringatan II:

Sebagian orang licik tatkala ingin mentahdzir saudara-saudaranya. Caranya mereka sebelum mentahdzir saudara-saudaranya maka mereka menampakan kesalahan-kesalahan Abdurrahman Abdul Kholiq dan sikap-sikap ulama yang keras terhadap beliau. Setelah itu mereka menyebutkan nama-nama saudara mereka yang bermu’amalah dengan Yayasan ini, mereka mengesankan bahwa saudara-saudara mereka tersebut membela pemikiran Abdurrahman Abdul Kholiq dengan dalih bahwa mereka bermu’amalah dengan Yayasan ini. Hal ini jelas merupakan sifat licik, semoga Allah menjauhkan kita dari sifat seperti ini.

Jika memang perihalnya demikian maka kenapa mereka tidak menyatakan bahwa para ulama yang merekomendasi ini juga membela pemikiran Abdurrahman Abdul Kholiq??.

Peringatan III

Sebagian orang berkutat membantah perkataan bahwa para ulama khilaf tentang kedudukan yayasan (hizbi atau bukan) merupakan khilaf yang mu’tabar (diperhitungkan). Akibatnya ia bersikeras menyatakan bahwa siapapun orangnya (bahkan meskipun orang tersebut termasuk deretan baris depan ulama kibar) yang mengatakan bahwa yayasan tersebut yayasan ahlus sunnah maka tidak diterima perkataannya???. Setelah itu ia berkutat dalam permasalahan ini dengan mendatangkan dalih-dalih yang sebenarnya telah penulis singgung sebelumnya dan tidak perlu diulang lagi (karena bukanlah ini permasalahan yang paling inti). Kemudian setelah membicarakan permasalahan ini dengan liciknya berusaha menyatakan bahwa orang-orang yang mengambil dana dari yayasan telah menyimpang manhajnya, dan dipahami dari perkataannya bahwa ia setuju dengan sikap teman-temannya yang mentahdzir dan menghajr saudara-saudaranya yang mengambil dana dari yayasan.

Oleh karena itu penulis mengingatkan para pembaca yang budiman bahwa permasalahan yang sedang kita hadapi ada dua sebagaimana telah lalu dan yang menjadi inti permasalahan adalah permasalahan yang kedua yaitu

“Apakah seorang salafi yang mengambil dana dari yayasan itu harus ditahdzir, dihajr, atau ditabdi’ dan dimasukkan dalam daftar ustadz-ustadz berbahaya??!!”Atau “Sebaliknya yaitu didekati dan digandeng agar tidak semakin jauh kesalahannya (kalau tindakkannya itu memang sebagai kesalahan) dan agar tumbuh dihatinya rasa simpati dan terbuka hatinya untuk menerima nasehat?”

Anggaplah kita sepakat dengan orang yang memandang bahwa khilaf para ulama tentang kedudukan Yayasan ini memang benar bukan merupakan khilaf yang mu’tabar diantara para ulama salafiyyin. Anggaplah bahwa yayasan tersebut memang merupakan yayasan hizbi, namun yang tidak diragukan lagi bahwasanya permasalahan bermu’amalah dengan ahlul bid’ah -secara umum- di zaman ini merupakan permasalahan ijtihadiah yang kembali pada kaedah “menimbang antara kemaslahatan dan kemudhorotan” yang diperoleh dari mu’amalah tersebut. Jika perkaranya demikian maka khilaf para ulama tentang boleh atau tidaknya bermu’amalah dengan yayasan ini jelas merupakan perkara ijtihadiah dan bukan perkara yang qoth’i. Oleh karena itu khilaf tersebut merupakan khilaf yang mu’tabar (akan datang penjelasannya).

Sebagian orang tatkala mengetahui bahwa khilaf yang mu’tabar tidak bisa diterapkan al-wala’ dan al baro’ maka serta merta dengan beraninya mengisyaratkan seakan-akan bahwa khilaf tentang permasalahan ini bukanlah khilaf yang mu’tabar. Dengan demikian mereka –secara tidak langsung- telah membenarkan bahkan mendukung sikap mereka selama ini yang mentahdzir atau menghajr atau mentabdi’ saudara-saudara mereka yang bermu’amalah dengan yayasan.

Mereka berkata bahwasanya khilaf dalam permasalahan ini sebagaimana halnya khilaf yang terjadi antara para sahabat dalam permasalahan nikah mut’ah dimana Ibnu Abbas membolehkan nikah mut’ah dan menyelisihi para sahabat yang lain. Sama juga halnya dengan permasalahan haramnya musik (yang dihalalkan oleh Ibnu Hazm), haramnya nikah tahlil (yang diriwayatkan dibolehkan oleh Abu Hanifah), jama’ah tablig yang direkomendasi oleh Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi, dan permasalahan-permasalahan yang lainnya.

Mereka berkata bahwa para ulama yang merekomendasi Yayasan itu dikarenakan ketidaktahuan mereka terhadap hizbiahnya yayasan sehingga mereka terpedaya dan merekomendasi Yayasan tersebut. Jika mereka tahu niscaya mereka akan segera metahdzir Yayasan tersebut dan tidak membolehkan mengambil dana dari yayasan tersebut.

Perkataan ini perlu kita cermati dengan baik. Sebelum kita menjawab lontaran ini marilah kita renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut?

1. Apakah para masyayikh tersebut tidak mengetahui kesalahan-kesalahan manhaj yayasan?.

2. Apakah pendapat-pendapat para masyayikh yang merekomendasi Yayasan tidak dianggap??

3. Juga seandainya jika memang permasalahan mengambil dana (bermu’amalah) dengan yayasan memang khilaf yang tidak mu’tabar apakah lantas dengan serta merta orang yang mengambil dana dari yayasan tersebut dihajr??, dibaro??, dikeluarkan dari ahlus sunnah??, dikatakan sururi??, dimasukkan kedalam daftar ustadz-ustadz yang berbahaya??.

4. Bahkan tidak cuma yang bermu’amalah dengan yayasan tersebut, bahkan apakah juga melazimkan pihak ketiga yaitu yang tidak bermua’malah dengan yayasan akan tetapi bermu’amalah dengan orang yang bermu’amalah dengan yayasan atau diam dan tidak mentahdzir yayasan, atau tidak membaro’ orang-orang yang bermu’amalah dengan yayasan, apakah pihak ketiga ini juga harus ditahdzir dan mendapatkan tempat yang sama dengan pihak kedua??, ditahdzir, dihajr, diboikot, diungkapkan aib-aibnya di podium-podium, dimasukan dalam daftar ustadz-ustadz yang berbahaya????????!!!!!

Jawaban pertanyaan pertama

Maka kita katakan bahwa asalnya para ulama salafiyin tatkala berfatwa mereka berfatwa dengan ilmu. Maka jika ada tuduhan bahwa mereka berfatwa tanpa ilmu maka para penuduh itulah yang dituntut untuk mendatangkan dalil bahwa para ulama tidak mengetahui.

Kemudian para masyayikh yang merekomendasi sebagian diantara mereka sudah ada yang meninggal dunia, sehingga untuk mengecek apakah mereka tahu atau tidak tentang kesalahan-kesalahan yayasan merupakan perkara yang sulit. Namun kita bisa melihat indikasi-indikasi yang menunjukan akan hal ini meskipun tidak bisa kita pastikan.

Adapun Syaikh Bin Baaz maka telah lalu bahwasanya beliau mengerti betul dengan detail akan kesalahan-kesalahan Abdurrahman Abdul Kholiq –yang beliau ini dikatakan sebagai sumber kerusakan manhaj Yayasan -, bahkan beliau membantah khusus penyimpangan-penyimpangannya (sebagaimana telah lalu nukilannya).

Dan pernyataan bahwa Syaikh Bin Baaz tidak mengetahui, melazimkan bahwa Syaikh Bin Baaz telah berfatwa dengan kejahilan. Tatkala penulis bertanya kepada Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad –hafidzohulloh- akan hal ini –yaitu bahwa para masyayikh (Syaikh Bin Baaz dan yang lainnya) telah meninggal dunia tidak mengetahui kondisi yayasan- maka Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata,

عَلَى كُلٍّ، عَلَى كُلٍّ (هَؤُلاَء) قَدْ تَكَلَّمُوْا بِالْعِلْمِ وَمَا تَكَلَّمُوْا بِالْجَهْلِ

“Bagaimanapun juga, bagaimanapun juga sesungguhnya mereka (para ulama yang membolehkan bermu’amalah dengan yayasan) telah berbicara di atas ilmu dan tidaklah mereka berbicara di atas kejahilan”

Adapun Syaikh-syaikh yang masih hidup maka alhamdulillah masih bisa kita temui langsung dan bisa kita tanyakan langsung sejauh mana pengetahuan mereka tentang kesalahan-kesalahan yayasan tersebut. Apakah mereka merekomendasi dengan kejahilan ataukah mereka merekomendasi dengan ilmu??. Maka penulis sangat berharap mereka (yang menyatakan harus mentahdzir orang-orang yang bermu’amalah dengan yayasan) agar mereka bertanya langsung kepada para masyayikh yang masih hidup (yang membolehkan bermu’amalah dengan yayasan), yaitu dengan pertanyaan yang detail dengan penuh kejelasan akan kesalahan-kesalahan yayasan (Sebagaimana yang telah mereka lakukan tatkala bertanya kepada Syaikh Ibnu Utsaimin tentang hukum jihad di Indonesia dengan pertanyaan yang detail. Sayangnya tatkala jawaban Syaikh tidak sesuai dengan keinginan mereka maka lenyaplah fatwa Syaikh Utsaimin tersebut….!!!). Dengan demikian mereka akan tahu benar atau batilnya persangakaan mereka bahwa para masyayikh berfatwa di atas kejahilan (atas kesalahan-kesalahan yayasan). Wallahul musta’aan

Adapun pertanyaan apakah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad –hafidzohulloh- mengetahui kesalahan-kesalahan yayasan?, maka cukuplah pekataan Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili sebagai jawabannya. Penulis telah bertanya langsung tentang lontaran perkataan bahwasanya para masyayikh tidak mengetahui penyimpangan-penyimpangan yayasan Ihya At-Turots maka beliau serentak kaget dan berkata, “Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad tidak mengetahui???!!!, ini merupakan tho’en (celaaan) terhadap Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad”. (Perkataan Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili ini disaksikan oleh penulis sendiri, Abu Bakar Anas Burhannuddin Lc, dan Ahmad Zainuddin Lc pada tanggal 18 juni 2006 selepas sholat Isya di masjid Nabawi)

Jawaban Pertanyaan Kedua, Apakah Khilaf Yang Terjadi Bukanlah Khilaf Yang Mu’tabar??

Adapun perkataan mereka bahwa khilaf yang terjadi diantara para ulama bukanlah khilaf yang mu’tabar maka ini adalah syubhat klasik yang dijadikan dalih –bukan dalil- tatkala mereka sudah tidak menemukan jawabannya. Demikanlah lagu lama yang telah mereka kumandangkan sejak dahulu. Tatkala para ulama khilaf tentang masalah jihad di Ambon, dengan mudahnya mereka tidak menganggap pendapat mayoritas ulama Ahlus sunnah yang menyelisihi mereka. Dengan mudahnya mereka berkata, “Para masyayikh telah ditipu oleh kaum sururiyun di Madinah, dan seterusnya tuduhan-tuduhan keji yang mereka lancarkan”. Setiap orang yang menyelisihi mereka maka dianggap penyelisihan mereka tidaklah mu’tabar.

Adapun khilaf para ulama tentang boleh atau tidaknya mengambil dana dari yayasan merupakan khilaf yang mu’tabar karena hal ini kembali pada memandang masalahat dan mudhorot. Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili berkata, “Aku tidak membicarakan tentang hukum bermu’amalah dengan yayasan tersebut namun perlu diingat, ahlus sunnah siapakah yang tidak lepas dari kesalahan. Kemudian para masyayikh tatkala membolehkan bermu’amalah atau melarang bermu’amalah dengan yayasan Ihya At-Turots mereka memandang kepada mudhorot dan maslahat, yang hal ini merupakan permasalahan ijtihadiah.”. (Perkataan Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili ini disaksikan oleh penulis sendiri, Abu Bakar Anas Burhannudiin Lc, dan Ahmad Zainuddin Lc pada tanggal 18 juni 2006 selepas sholat Isya di masjid Nabawi) Sebagaimana telah penulis katakan bahwa hukum bermu’amalah dengan ahlul bid’ah secara umum di zaman ini merupakan perkara ijtihadiah yang kembalinya pada menimbang antara masalahat dan mudhorot.

Adapun perkataan mereka bahwa khilaf dalam permasalahan ini adalah seperti khilaf para ulama dalam permasalahan nikah mut’ah, permasalahan musik, nikah dengan cara tahlil, dan lain-lain (silahkan merujuk kepada contoh-contoh khilaf yang tidak mu’tabar yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam risalahnya “Rof’ul Malam ‘anil a’immatil a’laam”), maka ini adalah qiyas ma’al faariq (penyamaan antara dua perkara yang pada keduanya terdapat perbedaan).

Perbedaan-perbedaannya adalah sebagai berikut:

Secara umum kita katakan bahwasanya permasalahan-permasalahan tersebut memiliki ciri-ciri yang sama

1. Para ulama yang membolehkan nikah mut’ah, atau musik, nikah dengan cara tahlil, atau membela jama’ah tabligh atau Sayyid Quthb, pada dasarnya jumlah mereka bisa jadi perorangan atau hanya segelintir orang yang tidak bisa dibandingkan dengan jumlah para ulama yang mengharamkan. Oleh karena itu para ulama menyebutkan bahwa khilaf mereka adalah pendapat yang syadz. Hal ini berbeda dengan permasalahan bermu’amalah dengan yayasan Ihya At-Turots, para ulama yang membolehkan jumlahnya lebih banyak dan lebih senior, maka bagaimana bisa dikatakan bahwa pendapat mereka syadz (nyleneh) atau tidak dianggap. Jika perkaranya demikian maka siapa saja orangnya –meskipun hanya satu orang- tatkala menyelisihi jumhur akan dengan mudahnya menyatakan bahwa pendapat jumhur tidaklah mu’tabar.

2. Sebagian ulama yang berpendapat dengan pendapat-pendapat menyimpang tersebut sebabnya adalah karena tidak sampainya ilmu kepada mereka. Contohnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berpendapat akan bolehnya nikah mut’ah karena tidak sampai kepada beliau pengharaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap nikah mut’ah. Demikian juga Ibnu Hazm -rahimahullah- tatkala menghalalkan musik, beliau berpendapat demikian karena beliau melemahkan hadits yang menujukan akan haramnya musik meskipun hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. Demikan juga halnya dengan segelintir ulama yang membolehkan nikah secara tahlil, tidaklah sampai kepada mereka hadits yang merupakan nash akan haramnya nikah tersebut (Majmu’ Fatawa XX/260). Hal ini jelas berbeda dengan permasalahan bermua’amalah (mengambil dana) dari yayasan. Para ulama yang membolehkan bermu’amalah dengan yayasan tersebut telah mengetahui penyimpangan-penyimpangan yayasan tersebut sebagaimana telah lalu penjelasannya

3. Sebagian permasalahan-permasalahan ini kaitannya dengan permasalahan hukum yang ada nashnya (dalil yang tegas) baik dari Al-Qur’an, hadits, ataupun ijmak. Hal ini berbeda dengan permasalahan mu’amalah dengan yayasan, karena tidak ada dalil yang tegas dari Al-Qur’an atau hadits atau ijmak yang menunjukan akan penghalalan dan pengharaman. Bahkan kaidah ushul fikih menjelaskan bahwa hukum asal dana dari bantuan tersebut adalah halal. Maka jika ada yang mengatakan bahwa hukum dana tersebut adalah haram maka dialah yang dituntut untuk mendatangkan dalil.

الأَصْلُ فِي الأُمُوْرِ الْمُنْتَفِعَةِ الإِبَاحَةُ

“Kaedah dasar/hukum asal setiap hal yang berguna adalah mubah.”( Raudhatun Nazhir wa Junnatul Munazhir, oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisy AL Hambaly I/97)

Dan penulis sangat yakin bahwasanya para masyaikh yang mengharamkan bermu’amalah dengan Yayasan juga meyakini bahwa dana tersebut hukum asalnya adalah halal karena ia merupakan dana para muhsinin. Jika perkaranya demikian, lantas mereka mengharamkan bermu’amalah dengan yayasan tersebut???, tentunya karena hal yang lain, yaitu karena mereka kawatir orang-orang yang bermu’amalah dengan yayasan tersebut akan turut serta melariskan kegiatan penyimpangan manhaj yang dilakukan oleh yayasan tersebut. Nah, disinilah ijtihad para masyayikh berbeda-beda. Demikianlah yang telah dijelaskan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili bahwasanya khilaf yang timbul diantara para ulama tentang bermu’amalah dengan yayasan Ihya’ At-Turots kembali kepada ijtihad masing-masing dalam memandang sejauh mana manfaat dan mudhorot mengambil dana tersebut.( Perkataan Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili ini disaksikan oleh penulis sendiri, Abu Bakar Anas Burhannudiin Lc, dan Ahmad Zainuddin Lc pada tanggal 18 juni 2006 selepas sholat Isya di mesjid Nabawi)

Orang yang menqiyaskan khilaf yang sedang kita bicarakan dengan khilaf-khilaf (tentang hukum musik, nikah mut’ah, dll) tidak mengetahui kaidah untuk mengetahui kapan sebuah khilaf dikatakan mu’tabar atau tidak mu’tabar. Oleh karena itu jika orang yang mengatakan boleh bermu’amalah dengan yayasan Ihya’ At-Turots balik menyatakan bahwa khilaf para masyayikh yang melarang adalah khilaf yang tidak mu’tabar dengan menggunakan dalil-dalil yang disebutkan oleh orang tersebut (yaitu dalil qiyas terhadap nikah mut’ah, musik, dll) maka orang tersebut akan kerepotan menjawabnya. Karena masing-masing dari mereka sama-sama menyatakan bahwa khilaf yang bertentangan dengan pendapat mereka adalah khilaf yang tidak mu’tabar tanpa dhowabit/kriteria yang jelas dan tegas.

Perlu dijelaskan bahwa permasalahan interaksi (mu’amalah) dengan suatu organisasi atau yayasan tertentu atau orang tertentu termasuk salah satu bentuk ijtihad, dan bukan termasuk permasalahan yang telah ditetapkan dalam nash (dalil). Oleh karena itu para ulama’ ahli ushul fiqih menyatakan bahwa ijitihad ulama’ terbagi menjadi tiga macam:

1. Ijtihad dalam memahami nash (dalil), apakah dalil tersebut bersifat terbatas hanya pada kasus yang menyertai datangnya dalil tersebut ataukah berlaku pula pada kasus lain yang serupa dengannya.

Sebagaimana yang telah diketahui sendiri, bahwa dalil-dalil dalam Al Qur’an dan As Sunnah atau lainnya tidaklah pernah menjabarkan dirinya sendiri kepada umat. Yang menjabarkan maksud dan menggubah kandungan dalil adalah para ulama’ ahlul ijtihad. Dan dalam menjalankan amanah menggubah kandungan dalil, sering terjadi perselisihan dan perbedaan. Sebagai salah satu contohnya ialah, hadits berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: (الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ، سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ، فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ). رواه مسلم

Dari sahabat Ubadah bin Shamith, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, korma dijual dengan korma, dan garam dijual dengan garam, harus serupa dan sama dan kontan. Bila jenis barang-barang ini berbeda, maka juallah sesuka hatimu, selama jual-belinya dengan cara kontan”. (HR Muslim).

Para ulama’ berbeda pendapat apakah hal-hal yang dikategorikan ke dalam barang-barang riba riba fadhel hanya keenam hal yang disebut dalam hadits ini saja, sebagaimana yang dinyatakan oleh ulama’ dzhahiriyyah ataukah mencakup hal lain yang serupa dengannya, sebagaimana yang dinyatakan oleh jumhur/kebanyakan ulama’. Ijitihad semacam ini dalam ilmu ushul fiqih disebut dengan ijtihad dengan takhrij al manath.