Kisah Menakjubkan Tentang Sabar dan Syukur Kepada Allah

796
pantai

Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.          Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.

Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.

 

Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”

 

Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.

Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”, maka nikmat manakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut??, dan kelebihan apakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu hingga engkau menysukurinya??”

 

Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku?, demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya maka tolonglah engkau mencari kabar tentangya –semoga Allah merahmati engkau-“. Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”. Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gudukan pasir, tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan di makan oleh binatang buas, akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Tatkala aku menemui orang tersbut maka akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”. Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihissalam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”, ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, lagsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”. Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun”, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.  Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun”, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[1]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis. Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu  mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”. Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan. Tatkala tiba malam hari akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah

}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ{ (الرعد:24)

“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24)

Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai”

Penulis: Firanda Andirja

Artikel www.firanda.com

 

———————

[1] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a’lam

 

83 COMMENTS

  1. Assalamu’alaikum, semoga Allah merahmati Ustaz. Jazaakallahu khairan atas tulisan yg sgt baik ini…penuh pengajaran hingga dada menjadi sebak. Ingin saya memiliki kesabaran seperti mereka yang telah telah mendahului kita, Nabi Ya’akob ‘alaihissalam, Abu Qilabah, dll
    Semoga Allah memberi kekuatan dan taufiqNya. ameen.

  2. af1 kisah ini sohih? ada kerancuan dalam tulisan tolong di cek diatas dikatakan bahwa abdullah menemui qilabah rodiallohu anhu. dalam keadaan tak bertangan& berkaki tapi di akhir kisah ada 4 orang menciumi kedua tangan qilabah mohon penjelasannya? syukran

  3. asslamu’laikum akhi abi abdillah, untuk mengecek kisah ini shahih atau tidak antum bisa mengecek sanda kisah ini di kitab ats-tsiqoot karya imam Ibnu Hibban, jilid 5 halaman 3.
    mengenai kerancuan kisah ini menurut ana tidak ada kerancuan didalamnya,
    pertama : karena setelah ana cek kembali dalam buku at-Tsiqoot maka ana dapati ternyata muhaqqiq kitab tersebut mengisyaratkan bahwa tidak semua nuskhoh dari makhtutot (manuskrip) mencantumkan kalimat “mencium kedua tangannya”
    yang kedua : kalaupun lafal ini tsabit (benar) maka juga tidak rancu : karena bisa jadi yang dimaksud dengan tangan adalah bagian tangan yang buntung, misalnya sisa lengan bagian atas.
    yang ketiga : setelah ana cek kembali kitab ats-Tsiqoot ana dapati bahasa arabnya demikian : قد ذهب يداه ورجلاه
    yang kalau kita artikan dalam bahasa indonesia secara lafalnya sbb : “(Bahwasanya Abu Qilabah) telah pergi kedua tangannya dan kedua kakinya”
    Yang konteks ini bisa jadi maksudnya kedua tangan dan kedua kakinya untung, dan bisa jadi maksudnya kedua kaki dan kedua tangannya lumpuh. kalau maksudnya kedua tangan dan kedua kakinya lumpuh maka tidak jadi masalah, namun kalau maksudnya kedua tangan dan kedua kakinya buntung maka sebagaimana yang ana jelaskan diatas, bahwasanya yang dicium adalah kedua tangannya yang masih tersisa meskipun buntung. wallahu a’lam. semoga kisah ini bermanfaat bagi ana dan antum. baarokallhu fiik

  4. Assalaamu’alaikum,
    ustadz, dari hati yg paling dalam saya ucapkan syukron, jazaallaahu khair kpd Ustadz. Ana sering dengar kajian Syeikh Abdur Rozaq, hafidzohulah, mellui radio rodja. melalui jasa antum yg menterjemahkan, ana jadi faham apa yg disampaikan syeikh, nasehat2 yg sangat bmanfaat. mohon doanya agar bisa istiqomah.

  5. Assalamu’alaikum, Ustadz, afwan ana sdh share aja di akun ana di fb. krn ana ada lht ikon share di pojok kiri bwh..jd afwan udah di share aja tnp ijin dulu ke antum, syukran, jakallah khairan katsiira..

  6. Subhanalloh, …dimanakah kedudukan kita dalam menghadapi masalah kehidupan yg mungkin jauh lebih ringan dari para pendahulu kita. Sebuah pelajaran yg sangat baik untuk dijadikan ibroh. Semoga keberkahan dari Alloh Azzawajalla untuk ustadz dan tim admin. Izin share semoga manfaatnya lebih luas utnuk ummat. jazakallahu khair

  7. Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarokatuuh, ummi mhn izin share ya ustadz, mdh2an mnjdi ilmu yg brmanfaat bg yg lain. Jazakalloohu khoir… Smg ustadz bsrta kel dsna senantiasa dilindungi Allah dan sehat sll. Amiin ya robbal’alamiin.

  8. Assalaamu’alaikum,
    ustadz, dari hati yg paling dalam saya ucapkan syukron, jazaallaahu khair kpd Ustadz. Ana sering dengar kajian Syeikh Abdur Rozaq, hafidzohulah, dengan mendownload di www radio rodja. melalui jasa antum yg menterjemahkan, ana jadi faham apa yg disampaikan syeikh, nasehat2 yg sangat bmanfaat. Juga kajian siroh nabawiyyah oleh ustadz di radio rodja.

  9. jazakallah khoir ya ustadz, bagiku ujian antum sungguh berat ya’ni banyak org yg memujimu.. dan juga celaan dan tuduhan yg terarah pd ustadz,, semoga allah tetap menjaga keikhlasan antum dan diberikan kesabaran didalam setiap ujian…

  10. Saya mohon berkenan kiranya saudara memberitahu saya sumber kisah di atas, judul kitabnya, juz, hal. berikut penulisnya, makasih

  11. assalamualaikum ustadz minta izin ya buat d copy[quote]assalamualaikum ustadz minta izin copy beberapa kajiannya ya[/quote]

  12. Assalamualaikum warhmatullah wabarakatu.
    Subhanallah, kisah yg sangat bagus sekali dan menyentuh, semakin menyadarkan diri kalau kesabaran saya masih teramat jauuh dr beliau.
    izin share ustad, semoga Allah subhanahu wata’ala membalas kebaikan ustad dgn berlipat ganda di dunia dan akhirat. insha Allah, aamiin.
    Jazakumullah khairan katsira.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here