Kategori: Adab & Akhlaq
Diterbitkan pada 22 April 2011 Klik: 5802
Print

[dikutip dari buku : "DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA"

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]

Nasehat 4 mata yang sangat berharga

Setelah sarapan sang pemilik hotel ingin berbicara 4 mata dengan syaikh dan aku sebagai penerjemah. Syaikhpun bersedia. Kami bertigapun duduk di pojok lobi, ternyata pemilik hotel ini ingin menyampaikan rasa terima kasih beliau terhadap dakwah syaikh yang penuh barokah. Dan dia sangat terpukau dengan cara syaikh dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk dari para pendengar radiorodja, yang jawaban syaikh penuh dengan kelembutan dan hikmah. Pemilik hotel ini juga mengeluh dengan kondisi sebagian ustadz yang agak keras, bahkan dia bercerita baru saja dia menghadiri walimah dan ia bertemu dengan salah seorang ahlul bid'ah yang sesat akan tetapi ia –dan juga para hadirin- terpukau dengan keramah-tamahannya. Tatkala bertemu dengannya sang ahlul bid'ah ini langsung memeluknya dan menanyakan kabar keluarganya dan yang lain-lain, yang semuanya benar-benar menyentuh hati. Pemilik hotel ini berkata, "Coba kalau para ustadz Ahlus Sunnah juga demikian?". Syaikh lalu mengomentari perkataan pemilik hotel ini seraya berakta, "Sesungguhnya Allah telah berfirman

 
Kategori: Adab & Akhlaq
Diterbitkan pada 16 April 2011 Klik: 6514
Print

[dikutip dari buku : "DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA"

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]

 

Tiba di tempat kelahiranku Surabaya

Surabaya memang penuh kenangan, meskipun aku tidak pernah menetap di Surabaya akan tetapi bagaimanapun ada perasaan cinta terhadap kota ini. Bagaimana tidak… aku dilahirkan di kota besar ini. Ibuku adalah orang Surabaya dan sering bercerita kepadaku tentang kota ini. Meskipun aku dilahirkan di kota ini, namun baru berumur sebulan aku harus meninggalkan kota besar ini menuju kota Sorong di Irian Jaya karena mengikuti orang tua yang mengadu nasib di sana. Dan tidaklah aku berkesempatan untuk menginjak kembali tempat kelahiranku ini kecuali tatkala menginjak umur 20 tahun. Jadilah aku dikenal sebagai dai dari Irian Jaya.

Diantara cerita lucu yang pernah aku alami, tatkala di bulan Ramadhan tahun 2009 aku diminta untuk mengisi pengajian di kota Medan. Tatkala aku tiba di sana untuk menyampaikan kajian, tiba-tiba ada seorang –diantara para hadirin- yang nyeletuk, "Ana kira ustadz posturnya hitam besar berambut kribo seperti pemain bola Ruud Gulit". Rupanya orang ini mengira aku orang asli Irian Jaya yang berkulit hitam dan berambut kriting. Maka akupun menjelaskan kepadanya bahwa ayahku berasal dari suku bugis adapun ibuku dari Surabaya, akan tetapi aku besar di Irian Jaya. Kemudian akupun mencandai orang tadi, "Aku bukan seperti Ruud Gulit, akan tetapi aku seperti Marco van Basten yang berambut lurus". Orang itupun tertawa.

 
Kategori: Adab & Akhlaq
Diterbitkan pada 13 April 2011 Klik: 6410
Print

[dikutip dari buku : "DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA"

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]

 

Naik Saudi Airlines

Tidak berapa lama kemudian, mulailah para penumpang menaiki pesawat maskapai penerbangan Saudi Airlines. Aku ingatkan beliau bahwasanya beliau akan duduk bagian depan pesawat karena beliau di kelas eksekutif, adapun aku duduknya di belakang, karena berada di kelas ekonomi.

Setelah kami di atas pesawat kebetulan aku duduk disamping kiri dua orang TKW yang pulang dari Arab Saudi ke Indonesia. Jadi posisiku no 3 dari jendela pesawat. Namun alhamdulillah setelah pesawat berangkat ada 4 kursi kosong di sebelah kiriku, akhirnya akupun pindah kursi duduk, dan 4 kursi yang kosong itu bisa dijadikan tempat tidur, lumayaan…, karena aku termasuk orang yang sulit untuk tidur di pesawat apalagi dalam kondisi duduk.

 
Kategori: Adab & Akhlaq
Diterbitkan pada 07 April 2011 Klik: 6393
Print

[dikutip dari buku : "DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA"

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]

 

AKU PUN BER-SAFAR BERSAMA BELIAU


Safar adalah Penguak Tabir Akhlak

Safar merupakan penguak tabir hakikat yang sesungguhnya dari akhlak seseorang. Safar pun penuh dengan kesulitan. Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السَّفَرٌ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ

“Safar adalah sepotong adzab.” (HR Al-Bukhari no 1804)

 
Kategori: Adab & Akhlaq
Diterbitkan pada 05 April 2011 Klik: 6647
Print

[dikutip dari buku : "DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA"

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]

 

MENGUNDANG SYAIKH KE INDONESIA


Setelah mengisi ceramah secara rutin di Radiorodja, Syaikh Abdurrozaq dikenal secara luas oleh jamaah di Indonesia. Tak jarang yang merindukan perjumpaan dengan beliau. Begitupun saya, sudah lama memiliki keinginan untuk mengajak beliau mengunjungi Indonesia agar bisa memberikan ceramahnya secara langsung. Akan tetapi, lagi-lagi keraguan memenuhi hati saya menyaksikan kesibukan beliau dari hari ke hari.

Setelah cukup lama mempertimbangkan permintaan saudara-saudara saya di Indonesia, akhirnya saya menyampaikan juga keinginan tersebut kepada Syaikh.  Apalagi setelah beberapa ikhwan mengonfirmasi kesiapan mereka untuk mengatur prosedur dan teknis kedatangan Syaikh di Indonesia.

Saat keinginan tersebut saya sampaikan kepada beliau, sempat terjadi tawar-menawar serta tarik ulur. Di antaranya, saya menawarkan kepada beliau untuk berkunjung ke Indonesia pada liburan musim panas, karena merupakan liburan panjang bagi Universitas Islam Madinah. Biasanya masa liburan mencapai tiga bulan. Akan tetapi, tawaran ini beliau tolak.

 

Page 2 of 8

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>
You are here:   HomeARTIKELAdab & Akhlaq